chapter 2—prkjmins, 2017
Hari itu hari dimana Hoseok secara tiba-tiba mengajaknya ke taman malam. Yoongi yang awalnya akan beranjak tidur terpaksa bangun dari ranjangnya untuk berdandan—bersiap sebelum kekasihnya itu menjemputnya. Dan setelah mereka sampai di sebuah taman dekat kampus, Hoseok meninggalkan Yoongi sebentar dengan alasan ingin ke toilet—katanya sudah tidak bisa ditahan. Yoongi hanya mengiyakan, padahal sebenarnya ia benci ditinggal sendirian.
Yoongi pun menunggu, awalnya ia mengira tidak akan lama—mengingat Hoseok hanya buang air kecil dan jarak tempat mereka duduk dengan toilet tidak begitu jauh—, tapi demi dewa Neptunus, kekasihnya itu lama sekali meninggalkannya! Sudah tiga puluh menit ia duduk sendirian.
Dan tahu apa yang Hoseok katakan ketika ia kembali?
"Hai, aku kembali. Aku tidak lama 'kan?"
"Astaga, kamu tidak memakai jam, ya? Ini sudah tiga puluh menit sejak kita barusan datang!"
Waktu itu, Hoseok membiarkan Yoongi mengomelinya. Sampai kemudian pemuda itu membungkam mulut kecil kekasihnya dengan bibirnya, Yoongi berhenti berkata-kata. Hoseok mengecupnya lama kemudian mulai mengubahnya menjadi ciuman panas dengan lumatan dan gigitan-gigitan kecil, membuat Yoongi merasakan sebuah sensasi menggelitik. Jung Hoseok pandai berciuman, namun meski begitu, satu-satunya wanita yang ingin ia ajak cium hanyalah Min Yoongi seorang. Bibirnya hanya milik Yoongi, tidak untuk perempuan lain.
Hoseok melepaskan tautan bibir mereka tepat saat Yoongi ingin memukul dadanya akibat kehabisan napas. Ia tersenyum lebar lalu mengambil sesuatu dari bawah kursi taman. Sebuket bunga mawar berada dalam genggamannya, Hoseok menunjukkannya di hadapan sang kekasih.
"Hah, inilah alasan kenapa aku mengajakmu ke taman malam-malam. Mencari sebuket mawar di sekitar rumahku itu tidak mudah," ucap Hoseok enteng, di samping itu jantung Yoongi sudah berdetak tak karuan.
"Ambillah, dan carilah sesuatu yang menarik di dalamnya." Hoseok memberikan buket mawar itu kepada Yoongi sambil mengedipkan matanya. Dahi Yoongi mengerut tak mengerti, kedua matanya sibuk memperhatikan buket mawar tadi, mencari 'sesuatu' yang Hoseok maksud.
Dan Yoongi menemukannya. Di tengah kesebelas bunga mawar dalam buket tersebut, ada setangkai mawar yang terbuat dari plastik. Tak jauh dari tempatnya, terselip sebuah kartu berwarna merah muda. Penasaran, Yoongi mengambilnya dan membaca rangkaian kalimat yang tertulis rapi pada permukaannya.
.
.
.
.
.
.
Min Yoongi.
Aku akan selalu mencintaimu sampai mawar terakhir di dalam buket ini layu.
.
.
.
"Sudah menemukannya, Tuan Putri?" Yoongi reflek menoleh ke arah Hoseok. Wajahnya yang sudah semerah tomat lupa ia tutupi, mengundang tawa geli dari kekasihnya. Ia tidak menduga Yoongi tersipu hanya dengan membaca kartunya. Di sana ia sengaja menuliskan sedikit kalimat, karena sisanya akan ia utarakan sendiri secara langsung.
"Kamu berguru kepada siapa sehingga bisa menulis kata-kata seperti ini?"
"Aku menulisnya sendiri, Noona! Dengan sepenuh hati dan jiwaku."
"Berlebihan."
"Iya, seperti cintaku kepadamu."
Yoongi menyentuh pipinya, terasa panas sekali. Kekasihnya sudah berlebihan—ya meski pun dalam hati ia menyukainya. Pemuda yang lebih muda setahun darinya itu senang sekali membuat wajahnya memerah dengan kalimat-kalimatnya yang cheesy. Lihat lah tampangnya sekarang, tersenyum begitu lebar bak puas dengan hasil yang ia peroleh.
Tangan kirinya bergerak menuju tangan lentik Yoongi lalu menggenggamnya erat, sementara tangan kanannya merogoh saku celananya, seperti ingin mengeluarkan sesuatu.
Dan lagi-lagi Yoongi terkejut dengan 'sesuatu' yang dimiliki Hoseok.
Dari saku celananya, Hoseok mengambil sebuah kotak beludru merah. Pria itu membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah cincin berbahan perak yang membuat Yoongi mengalami serangan jantung sejenak.
.
Min Yoongi bodoh, ia baru sadar kalau sedang dilamar oleh Hoseok.
.
.
.
.
.
.
"Aku memang termasuk orang yang terburu-buru. Dan untuk hal ini, aku melakukannya terburu-buru karena aku tidak sabar untuk mencintaimu, menyayangimu, dan menjagamu setiap saat—,"
"I will make you become the happiest women in this world, I promise."
.
.
.
.
.
"Jadi, Min Yoongi, maukah kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku?"
Tak butuh waktu lama, Yoongi mengangguk kecil.
.
.
"Yoongi, ini sudah pagi. Bangun lah."
Yoongi lamat-lamat mendengar suara pria yang halus dan menenangkan, membangunkannya dari mimpi berisi kenangannya bersama Hoseok dua tahun silam. Baru saja ia membuka matanya, kedua jendela dunianya tersebut langsung bertubrukan dengan iris kelam milik Jimin.
"Umm, mungkin aku mengganggu istirahatmu. Tapi, kau dan anakmu harus punya jadwal makan yang teratur—maaf," pria bersurai kelam itu kembali berucap, kini sambil menundukkan kepalanya. Yoongi terkikik pelan, ia berusaha untuk bangun dari posisi tidurnya. Kalau boleh jujur, Yoongi sudah mulai kesusahan untuk bergerak sejak kandungannya menginjak bulan ketujuh, semua itu karena tubuhnya yang mungil. Seokjin—temannya, bahkan menertawakannya ketika ia mengutarakan masalahnya ini.
Jimin tentu menyadari kesulitan yang dialami Yoongi. Kedua tangan pria itu reflek menggenggam tangan milik wanita di hadapannya lalu menariknya pelan-pelan, sehingga Yoongi dapat terbantu untuk duduk.
"Terima kasih, sepertinya bayiku tumbuh sangat sehat di dalam sehingga membuat ibunya sulit berjalan." Jimin menyunggingkan senyumnya, hatinya begitu lega kala melihat segaris lengkungan tulus di bibir Yoongi, sedang tangan lentiknya mengelus lembut perutnya yang berisi—menyalurkan kasih sayangnya kepada sang calon buah hati. Ingin sekali ia ikut mengulurkan tangannya, mengelus perut Yoongi dengan sayang, dan merasakan tendangan-tendangan kecil milik si kecil. Namun sayangnya, dia bukan lah siapa-siapa bagi anak itu. Jimin bukan ayahnya, ia tidak berhak untuk mengelusnya secara sembarangan.
Rahangnya mengeras, kedua alis kecokelatannya menegas tanpa ia sadari. Emosinya membuncah kala menyadari kalau ia tidak bisa memiliki Yoongi—lebih mudahnya dia bukan lah siapa-siapa di mata Yoongi. Hanya sekedar teman suami yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.
"Aku sudah menyiapkan sup ayam, pergi lah ke ruang makan kalau kau sudah berbenah," sahutnya berjalan keluar dari kamar Yoongi setelah memberi senyuman kecil, disambut dengan anggukan wanita itu. Yoongi tidak boleh melihat perubahan wajahnya yang sangat kentara, karena jika ia melihat, mungkin saja Yoongi berpikiran yang berbeda dari maksud sebenarnya ia mengeluarkan ekspresi tersebut.
.
.
"Hai, apakah aku terlalu lama?"
Jimin mengalihkan pandangannya kala telinganya merangsang suara merdu milik pujaan hatinya. Tak jauh dari tempatnya, terlihat Yoongi yang tengah sibuk mengusak-usakkan rambutnya dengan handuk. Sepertinya ia baru saja berendam—karena selain rambutnya basah, tercium samar aroma citrus yang menyegarkan dari tubuh Yoongi.
"Dua puluh menit, kau membuat ayamnya kecewa karena terlalu lama menunggu pemiliknya," Jimin melipat koran pagi yang dibacanya selama ia menunggu Yoongi lalu mengangkat teko yang berisi teh susu hangat, berniat untuk menyeduhnya ke gelas kosong yang sudah ditatanya untuk Yoongi. Tapi perempuan itu buru-buru mencegat tangannya.
"Tidak, tidak. Aku tidak minum teh di pagi hari, Tuan Park. Sajikan aku air mineral saja, tolong ya?"
"Harusnya kau bilang sejak tadi, sehingga aku tidak perlu susah-susah mencampurkan teh ini dengan susu ibu hamilmu."
"Kau tidak bertanya kepadaku, mana aku tahu."
Yoongi memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Ia bergumam panjang, puas dengan rasa kaldu dari kuah sup yang sedang disantapnya. Potongan kecil ayam rebus tadi serasa melebur di mulutnya. Rasanya memang agak manis, namun masih bisa terbilang gurih.
"Ini sesuai dengan seleraku, hanya saja kelebihan sedikit pemanis."
"Tidak, kok. Aku memasukkan gula sesuai dengan takaran—,"
"—mungkin karena wajahmu yang kelewat manis, makanya menular pada sup ayam yang kau makan."
Keduanya tertawa bersamaan, menghasilkan sebuah atmosfir yang menyenangkan di pagi hari—lebih tepatnya di ruang makan kediaman Jung.
Jimin tetap setia menemani Yoongi yang begitu menikmati sarapannya hari ini. Saat ia menyantapnya, perempuan itu bercerita bahwa sebelum Jimin datang ke rumahnya, Yoongi kehilangan selera makan. Jadwal makannya hanya ia isi dengan nasi goreng, atau roti selai, dan ia bahkan pernah tidak pernah memakan apa pun. Hanya susu ibu hamil, yang herannya bisa membuat perutnya kenyang.
"Jimin, sebenarnya aku tidak mau tahu sekarang. Tapi aku sudah terlanjur penasaran,"
"Ada apa?"
"Kau kan dokter—"
"—apa kau bisa memberitahuku apa jenis kelamin anakku?" Yoongi mengucapkannya setengah bergumam, karena ia sendiri tidak begitu yakin akan menanyakan hal tersebut kepada Jimin. Namun, Jimin tetap dapat mendengarnya.
"Kau yakin tidak ingin menunggu dia lahir saja?"
"Aku ingin—tapi itu masih satu bulan lagi. Aku sudah tidak sabar." Yoongi tanpa sadar memajukan bibirnya ketika jari-jarinya bermain di permukaan perutnya yang buncit. Jimin terkekeh pelan, gemas akan sikap ibu hamil di depannya yang kelewat lucu.
"Baiklah." mendengar satu kata yang menggambarkan kesanggupan Jimin untuk memenuhi permintaannya, Yoongi menatap dokter muda tersebut dengan mata penuh semangat. Terlihat sedikit binar pada irisnya, menunjukkan bahwa ia sangat berminat dengan hal ini. Jimin memperhatikan posisi perut Yoongi dengan hati-hati. Tatapan tajamnya membuat Yoongi sempat melewatkan beberapa detak jantungnya.
"Posisi perutmu belum terlihat secara gamblang, tapi sepertinya anakmu laki-laki. Aku berani mengatakannya karena bentuk perutmu cenderung oval seperti telur, bukan bundar bak semangka," tukas Jimin. Yoongi menutup mulutnya, entah perasaan apa yang sedang menyelimuti dirinya. Yang ia rasakan sekarang hanyalah—bahagia. Bahwa bayinya adalah seorang anak lelaki, sama sepertinya apa yang diinginkan suaminya, Hoseok.
"Jimin."
"Ya?"
"Aku—tidak bisa berkata-kata," Jimin melihat Yoongi mulai membelai perutnya, jari-jarinya sedikit gemetaran. Pria itu terkejut kala wanita itu mulai menitikkan air mata.
.
.
.
.
.
"Jika Hoseok masih ada di sini, ia pasti akan sangat bahagia mengetahui ini. Ia ingin anaknya laki-laki."
Untuk kesekian kalinya, Jimin menghela napas pelan—sangat pelan.
Yoongi sudah terlalu menumpukan dunianya kepada seorang Jung Hoseok, sehingga menghapus satu kata rindu saja begitu sulit.
"Tenang saja, dia pasti tahu."
Yoongi tampak mengangkat kepalanya, memasang atensinya kepada pria di depannya. Pria itu tersenyum kalem namun masih terlihat ada sebuah pemaksaan di dalamnya. Yoongi menyambutnya dengan senyuman kecil, cepat-cepat ia menyeka air matanya. Ia tidak ingin Jimin melihatnya sebagai wanita cengeng, karena ia benci dengan sebutan itu.
"Terima kasih untuk sarapannya, Jimin."
.
.
(Selagi Jimin membereskan piring kotor mereka, Yoongi berjalan ke suatu sudut rumahnya. Di sana terdapat sebuah laci tua yang permukaannya penuh dengan figura-figura miliknya dan Hoseok, tapi kebanyakan adalah foto masa kecil miliknya. Ibunya dulu sering memotret dirinya, dari jaman Yoongi masih suka bergelung sampai ia sudah bisa menggunakan kedua kakinya untuk berjalan. Yoongi membuka salah satu laci di sisi kanan paling atas, sebuah buket mawar berada di dalamnya. Bunga-bunga tersebut terangkai sangat indah di dalam buket, namun sayangnya sebagian besar bunganya telah layu. Wanita itu menggenggamnya lalu mengambil setangkai mawar plastik yang terdapat di tengah-tengah rangkaian—mawar itu tidak layu.
.
.
"Kau masih mencintaiku, tapi kenapa kamu pergi meninggalkanku?")
to be continued.
pojokers:
nah, di chapter ini kayak lebih menuju ke hopega ya. sebelumnya aku lupa ngomong kalau di sequel ini ngga aku buat full minyoon, masi ada hopega-nya hehe.
terima kasih untuk para pembaca yang sudah me-review di chapter sebelumnya. jangan lupa tinggalkan jejak sebelum beralih, thank you:)
