chapter 3prkjmins, 2017


Masih di hari yang sama. Ketika Jimin dan Yoongi memutuskan untuk mengisi waktu kosong mereka dengan menonton film di ruang tengah, telepon genggam Jimin berbunyi. Pria itu sempat terusik—ia benci acaranya diganggu, akan tetapi Yoongi menyuruhnya untuk mengangkat panggilan tersebut. Park Jimin sekarang adalah orang penting, jadi mungkin saja panggilannya darurat. Dengan terpaksa, ia menjawab panggilan masuk itu.

"Halo?"

"Selamat siang, Dokter Park."

Matanya agak melebar, terkejut mendengar suara dari seberang teleponnya. Ia kemudian beranjak dari sofa dan pergi menuju jendela dekat pintu kamar yang ia tempati semalam, meninggalkan Yoongi yang masih asyik menonton tayangan tanpa ada kecurigaan sedikit pun.

Jimin menarik napasnya lalu menghembuskannya kasar, tangannya berada di pinggang—menunjukkan bahwa ia sedang serius.

"Mayat agen Jung Hoseok baru saja datang hari ini pada pukul sepuluh. Aku bertanya apakah mayat sudah diotopsi atau belum. Ternyata Dokter Jeon telah mengotopsinya di Inggris, jadi Anda tidak perlu melakukan otopsi hari ini."

"Bagaimana hasil otopsinya?"

"Masih berupa draf. Tapi sejauh yang kutangkap, terdapat dua tembakan yang mengenai tulang kering, sayatan lebar pada telapak tangan, dan sebuah tembakan yang mengenai jantung. Mungkin penyebab kematiannya adalah peluru yang menghujam jantungnya."

Jimin mengerutkan keningnya, ia tampak tidak tenang. Kedua matanya bergerak-gerak, membayangkan bagaimana keadaan Hoseok sesuai dengan hasil otopsi yang dihasilkan oleh Dokter Jeon. Wajahnya tampak gusar, dalam hati ia menyumpahi orang yang membuat Hoseok meninggal. Siapa pun itu, perbuatannya tersebut sangat lah tidak berperi kemanusiaan.

"Sekarang dimana posisi jenazah? Aku akan memeriksanya sebentar nanti malam."

"Awalnya ketua divisi ingin langsung mengembumikannya, tapi dia membawanya terlebih dahulu ke rumah sakit rahasia. Ketua Kang tidak bertanggung jawab atas ini, melainkan Anda lah yang memegang hak."

"Baiklah, terima kasih untuk informasinya, Asisten Jung. Sampai bertemu malam nanti."

Panggilan mendadak tadi terputus, Jimin mengakhirinya. Pria itu kemudian membenturkan kepalanya pada kaca jendela, wajahnya menunduk.

Mendengar hasil otopsi sahabatnya sendiri membuat hatinya perih. Ia sama seperti Yoongi—sama-sama kehilangan—, sehingga ia kurang lebih ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Yoongi. Tapi ada sesuatu yang membuat perasaan keduanya berbeda.

Oke, mereka memang sama dengan satu konteks kehilangan. Tapi di sini, pihak yang paling merasakan kehilangan adalah Yoongi. Wanita itu adalah keluarga Hoseok, istri Hoseok, sehingga kehilangan sosoknya bagaikan kehilangan setengah dunianya. Berbeda dengan Jimin yang hanya berstatus sebagai sahabat dekatnya.

Yoongi, kamu harus kuat. Itulah kalimat yang terus Jimin ucapkan dalam hati.

Tanpa Jimin sadari, wanita yang ia khawatirkan saat ini tengah bersembunyi di balik dinding. Yoongi membiarkan filmnya berjalan tanpa penonton, ia lebih penasaran dengan panggilan yang diterima oleh Jimin. Ia menguping, dan ia mendengar percakapan antara Jimin dengan asistennya. Mereka tengah membicarakan suaminya, Hoseok.

Yoongi tidak mendengarnya secara lengkap, namun hanya satu hal yang bisa ia tangkap. Ia tidak salah dengar ketika Jimin bertanya dimana jenazahnya sekarang dan ingin memeriksanya nanti malam.

Mendengar kata jenazah, hatinya kembali tertusuk.

Lagi-lagi ia harus menerima sebuah realita, bahwa suaminya sekarang sudah tiada.

.

.

Dulu, Hoseok kecil merupakan seorang anak lelaki yang penakut.

Ia takut dengan berbagai macam hal. Takut ketinggian, takut gelap, takut sendirian, takut melihat wajah mengerikan, dan masih banyak lagi. Tapi Yoongi tidak menghiraukannya, ia tetap mengajak adik kecil yang menjadi tetangganya tersebut untuk menemaninya menonton kaset film horor milik kakaknya.

Sepulangnya dari sekolah, Min Yoongi langsung berlari menuju sebuah rumah berdominan kuning sebelah tempat tinggalnya. Di sana ia melihat Jung Hoseok tengah asyik memainkan mobil pemadam kebakaran, tidak menyangka kalau noona kesayangannya akan menemuinya. Tanpa basa-basi, Yoongi langsung menyeret anak itu ke rumahnya—tentu dengan ijin orang tua Hoseok.

"Noona, kita akan bermain apa?" Yoongi menolehkan kepalanya ke arah Hoseok setelah ia memasukkan sebuah kaset film ke dalam pemutar video, ia menyunggingkan senyum bahagia.

"Hoseok, kau suka menonton film kan?"

"Suka sekali! Sudah lama Hoseok tidak nonton kartun!"

"Noona memutar film untuk kita. Bukan film kartun sih, tapi bagus kok. Hoseok mau kan menemani noona?"

Hoseok lantas menganggukkan kepalanya. Apa yang tidak untuk Yoongi.

Mereka duduk di sofa, menatap penuh antusias televisi yang masih menunjukkan layar gelap. Beberapa kemudian, mulai muncul gambar bergerak—tanda kalau filmnya sudah dimulai. Yoongi memekik, senang karena akhirnya ia bisa memutar film sendiri tanpa menunggu persetujuan kakaknya yang pelit itu. Di sisi lain, air muka Hoseok perlahan berubah. Gambar-gambar yang ada di film tersebut semuanya gelap, dan Hoseok takut akan itu.

"Noona."

"Iya?"

"Hoseok takut."

"Apa yang kau takutkan? Filmnya baru saja dimulai."

"Gambarnya gelap, Hoseok takut."

Sedetik setelah Hoseok merengek, layar televisi kembali gelap. Keduanya tercengang, tidak punya petunjuk apapun tentang hal tersebut. Tiba-tiba layar bergerak, menampilkan sesosok dengan wajah yang penuh darah. Tatapan sosok itu begitu mengerikan, membuat Yoongi dan Hoseok sontak menjerit. Hoseok yang memang benar-benar ketakutan, sedangkan Yoongi berteriak karena tertantang.

"Noona, Hoseok tidak mau lihat!"

"Jangan menangis, Hoseok!"

"Hoseok takut, filmnya ada hantu!"

Waktu itu Yoongi terlihat kewalahan—tidak tahu cara menghadapi Hoseok yang mulai menangis. Ia kemudian menghela napas lalu membawa tubuh mungil anak lelaki yang lebih muda darinya itu ke dalam dekapannya. Hoseok otomatis meringkuk di dalam pelukan Yoongi, ia begitu ketakutan dengan film horor yang sedang diputar.

"Kau itu laki-laki, tapi kenapa takut dengan banyak hal? Lihat Sehun. Meskipun dia cadel tapi setidaknya ia berani, tidak sepertimu," tukas Yoongi, tangannya mengelus surai lembut Hoseok.

"Aku berbeda dengannya, Noona! Dia itu tidak punya perasaan, aku kan punya." sahut Hoseok setengah bergumam.

"Apanya yang berbeda? Kalian berdua sama-sama lelaki. Laki-laki harus kuat, biar nanti bisa jadi punggung keluarga yang kokoh," cercah Yoongi. Di dalam pelukannya, Hoseok terdiam. Ia mengangkat kepalanya lalu menatap kakak perempuan yang disukainya dengan polos.

"Jadi Hoseok harus kuat, ya?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu Hoseok akan ikut menonton. Hoseok tidak akan menangis, biar nanti Hoseok bisa menikah dengan Yoongi noona."

Yoongi memiringkan kepalanya, memperhatikan Hoseok yang tiba-tiba berubah pikiran. Ia tersenyum kecil, ternyata anak itu benar-benar suka dengannya. Padahal Hoseok baru saja berumur enam tahun, lucu sekali.

Selama mereka menonton film, Yoongi tak jarang mencuri pandang—melihat bagaimana keadaan Hoseok di sampingnya. Anak itu tengah berjuang keras untuk menahan tangisnya, kedua tangan kecilnya meremas kain bantal sofa. Begitu menggemaskan, membuat Yoongi terkekeh pelan. Hoseok yang mendengar kekehan Yoongi lantas memandang kakak perempuannya tersebut dengan wajah tidak suka.

"Noona tega menertawakan aku,"

.

.

"Sayang, tahu tidak film The Conjuring?"

Yang tadi bertanya adalah Jung Hoseok yang sudah berumur 20 tahun, berstatus sebagai kekasih Min Yoongi. Ia sedang melakukan video call dengan kekasih tercintanya. Yoongi mengerutkan keningnya, mengingat-ingat judul film yang baru saja diucapkan Hoseok.

"Film horor yang baru saja dirilis itu kan?"

"Yup."

"Kenapa?"

"Mau tidak menontonnya denganku Sabtu besok? Kencan mingguan, hehe."

Yoongi menaikkan sebelah alisnya, kemudian tertawa. Ia sedang menertawakan kekasihnya.

"Kenapa kamu tertawa?"

"Bukannya kamu takut dengan sesuatu yang menyeramkan?"

Hoseok bergumam panjang, wajahnya seperti menantang Yoongi. Ia tidak terima dikatai penakut secara tidak langsung oleh kekasih sendiri.

"Maaf ya, Jung Hoseok yang dulu bukanlah yang sekarang. Aku sudah menjadi seorang pria, tidak takut dengan apapun."

"Masa sih? Aku tidak percaya, pfft."

Yoongi kembali tertawa, dan Hoseok kembali merasa diremehkan.

"Lihat saja besok. Aku akan menjemputmu jam sepuluh, jadi berdandanlah yang cantik—"

"—dan bersiap-siaplah untuk berteriak di dalam pelukanku, hahaha."

Tanpa menunggu jawaban dari Yoongi, lelaki yang baru saja menjadi seorang pria tersebut mematikan panggilannya. Yoongi berdecak pelan. Di dalam hati ia masih meragukan kata-kata kekasihnya tadi—kalau ia tidak akan takut, melainkan Yoongi yang nantinya akan meringkuk ketakutan.

Yang benar saja.

.

.

Esoknya, mereka sudah berada di dalam sebuah ruangan yang biasa orang sebut bioskop. Mereka duduk berdekatan, Hoseok di sisi kiri dan Yoongi di samping kanannya. Yoongi tampak sedang kesusahan meletakkan camilan-camilan yang baru saja mereka beli. Demi apa kekasihnya itu membeli banyak sekali snack, sampai-sampai orang tak jarang melihat mereka akibat banyaknya barang yang mereka bawa.

"Membeli banyak camilan untuk menghilangkan rasa takutmu, hm?" Yoongi tersenyum miring, menyolek dagu kekasihnya—kembali menggoda Hoseok. Jung Hoseok hanya diam, bibirnya melengkung kecil, membuat Yoongi tidak habis pikir. Ada apa dengan kekasihnya ini?

"Aku ingin kita taruhan. Siapa yang nanti ketakutan akan menuruti permintaan pemenang. Mau tidak?" Hoseok tiba-tiba berucap sedemikian rupa. Yoongi mendesah pelan, jiwa kompetisinya mulai membuncah kala mendengar kalimat Hoseok tadi.

"Tentu saja aku mau. Aku ingin kamu memakai dressku dan menari seperti saat pentas kelulusanmu di kamarku."

"Bagus. Jika aku yang menang, kita pergi ke festival malam lalu berfoto dengan badut sapi."

"Kamu tidak akan bisa mendapatkannya, sayang."

"Tidak, aku akan mendapatkannya. Aku seratus persen yakin nanti malam kekasihku yang manis ini akan menangis dalam pelukan badut sapi."

Yoongi mencubit pinggang Hoseok, menghasilkan bunyi kesakitan yang pada kenyataannya hanya dibuat-buat. Beberapa saat kemudian, lampu bioskop mulai dimatikan. Film sebentar lagi akan dimulai.

Dan tahu apa yang terjadi saat filmnya tengah diputar?

.

.

.

"Jung Hoseok sialan!"

"Astaga astaga astaga!"

"Hoseok, aku seperti ingin menangis—"

"Berhenti muncul di layar, hantu sialan!"

"Hoseok berhenti tertawa!"

"Hoseok, biarkan aku pergi. Aku ingin kencing!"

"Tidak boleh. Lagipula filmnya sebentar lagi selesai—"

"Kau ingin aku kencing di sini, begitu?!"

.

.

.

.

.

Yoongi sudah kalah, dan Hoseok menang. Benar katanya kemarin, lelaki itu benar-benar sudah menjadi seorang pria.

.

"Bagaimana bisa kamu tidak takut? Jangan-jangan kamu sudah kencing di celana." ujar Yoongi usai keluar dari gedung bioskop. Hoseok menautkan tangannya dengan jemari lentik milik kekasihnya, bibirnya melengkung tampan.

"Aku kan sudah bilang, Jung Hoseok yang sekarang sudah berbeda—

.

.

aku sudah berani. Sudah siap menjadi punggung untuk keluarga kita nanti."

Hoseok kemudian membawa bibirnya menuju kening Yoongi, mengecupnya lama dengan penuh perasaan.

Di sana, hati Yoongi terasa hangat. Jung Hoseok telah mengajarkannya sebuah rasa, dimana ia bisa merasakan bagaimana dicintai oleh orang lain. Dan orang lain tersebut bukan lain adalah Jung Hoseok sendiri.

"Baiklah, siap untuk menemui Tuan Sapi?"

.

.

Siang telah berganti malam. Fajar telah tenggelam, memberi giliran Bulan dan bintang untuk menyinari langit malam. Malam ini ada banyak sekali bintang yang terlihat, kerlip-kerlipnya begitu indahmomen ini tidak bisa untuk dilewatkan barang sedetik pun. Tapi Jimin melewatkannya. Ia terlalu sibuk memeriksa segala keperluannya malam ini.

Ia akan kembali. Kamarnya sudah ia bereskan, sehingga Yoongi tak perlu lagi susah-susah merapikannya. Jimin menggenggam tasnya lalu berjalan keluar dari kamar. Pria itu berniat untuk pergi ke kamar Yoongi terlebih dahulu sebelum ia pergi, sekedar mengucap terima kasih dan memberitahu tujuannya setelah ini. Namun sepertinya ia tak perlu melakukan hal itu, karena Yoongi sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.

"Kupikir kau sudah tidur"

"Kau mau kemana?" tanya Yoongi. Singkat dan jelas.

"Aku ingin pergi ke rumah sakit, ada pekerjaan yang harus aku tuntaskan malam ini. Terima kasih untuk tumpangan semalam, malam ini aku akan tidur di rumah sakit. Selamat malam, Yoon."

Setelah puas mengelus surai pekat Yoongi, pria berpostur ramping itu segera bergegas menuju pintu keluar. Ia harus bergerak cepat karena hari akan semakin larut. Tapi tak lama, tangannya ditahan. Jimin sontak menoleh ke belakang, mendapati sosok Yoongi yang tengah menahan tangannya untuk meraih kenop pintu.

"Ada apa, Yoongi?"

"Kau ingin memeriksa Hoseok. Aku benar kan?"

"Apa"

.

.

.

"Bawa aku bersamamu, Park."


to be continued.


pojokers:

waktu aku ngetik ini, sedikit geli sih. boong banget hoseok gatakut sama film horor, wkwkwk.

don't forget to leave your review!