REMAKE STORY By Anggur
Original Story :
Fallen Too Far - Too Far Series #1
Rosemary Beach Series #1
By Abbi Glines
Meskipun tidak ada jendela di kamar ini yang memberitahuku bahwa matahari telah terbit, aku tahu aku telah kesiangan. Aku kelelahan selama delapan jam menyetir dan derap kaki di tangga selama berjam-jam. Meregangkan badan, aku duduk dan menyalakan saklar lampu di dinding. Bola lampu kecil menerangi kamar dan aku meraih ke bawah ranjang untuk menarik koperku.
Aku perlu mandi dan aku perlu memakai kamar kecil. Mungkin semua orang masih tertidur dan aku bisa menyelinap ke kamar mandi tanpa ada seseorang yang mengetahuinya. Kai tidak menunjukkan padaku di mana kamar mandinya kemarin malam. Semua inilah yang harus aku terima. Berharap mandi dengan cepat, itu tidak akan melampaui batas.
Aku meraih celana dalam bersih dan sebuah celana pendek hitam dan tank top putih. Jika aku beruntung, aku bisa cepat-cepat keluar dari kamar mandi sebelum Chanyeol turun ke lantai bawah. Aku membuka pintu yang menuju ke pantry, kemudian berjalan melewati deretan rak yang menyimpan banyak makanan lebih dari yang dibutuhkan semua orang. Aku dengan perlahan memutar kenop pintu dan dengan mudah itu terbuka. Lampu dapur mati dan satu-satunya cahaya berasal dari sinar matahari yang masuk melalui jendela besar yang menjorok ke lautan. Jika aku tidak begitu ingin buang air kecil aku akan menikmati pemandangan itu beberapa saat. Tetapi kebutuhan alam sudah memanggil dan aku harus pergi. Rumah ini sunyi. Botol minuman mengotori rumah, bersama dengan sisa makanan dan beberapa potong pakaian. Aku akan membersihkannya. Jika aku ternyata lebih berguna mungkin aku diijinkan tinggal hingga aku dapat kerja dan gaji pertama atau kedua.
Aku perlahan membuka pintu pertama yang kudatangi, khawatir bisa saja itu adalah kamar tidur. Ternyata itu hanya tempat menyimpan baju. Menutup pintu, aku kembali menuju ke ruangan yang menuju ke tangga. Jika hanya satu-satunya kamar mandi di sini gabung dengan kamar tidur maka aku pasti sial. Kecuali… mungkin di luar sana ada satu kamar mandi yang digunakan orang-orang setelah seharian di pantai. Henrietta pasti mandi dan memakai kamar kecil juga.
Berbalik aku menuju ke dapur dan dua pintu kaca yang terbuka tadi malam. Menatap sekeliling, aku melihat ada tangga turun dan menuju bawah rumah. Aku mengikutinya.
Di bawah rumah ada dua pintu. Aku membuka salah satunya dan ada jaket keselamatan, papan seluncur dan pelampung menutupi dinding. Aku meninggalkannya dan membuka pintu yang lain. Bingo.
Sebuah toilet di satu sisi dan shower kecil ada di sisi lain ruangan itu. Shampo, kondisioner dan sabun berjajar dengan lap badan bersih dan handuk di tempat duduk kecil di sampingnya. Keren.
Setelah aku selesai mandi dan berpakaian aku menggantung handuk dan lap badan di ujung shower. Kamar mandi ini jarang digunakan. Aku bisa memakai handuk dan lap badan yang sama sepanjang minggu dan mencucinya di akhir pekan. Jika aku tinggal di sini untuk waktu yang lama.
Aku menutup pintu di belakangku dan berjalan menuju lantai atas. Bau air laut begitu mengagumkan. Saat aku sampai di atas, aku berdiri di depan pagar dan menatap air. Ombak memecah pantai pasir putih. Ini adalah pemandangan paling indah yang pernah kulihat.
Ibu dan aku pernah berbicara tentang pergi ke pantai bersama-sama suatu hari nanti. Ibu melihat pantai saat masih kecil dan ingatannya tidak begitu bagus tetapi dia menceritakan cerita tentang pantai itu sepanjang hidupku. Setiap musim dingin yang begitu dingin, kami duduk di dalam rumah dengan perapian dan merencanakan liburan musim panas kami ke pantai. Kami tidak pernah bisa melakukannya. Pertama Ibu tidak mampu melakukannya dan kemudian dia sakit. Kami tetap merencanakannya. Itu membantu untuk mimpi besar kami.
Sekarang, aku berdiri di sini menatap ombak yang hanya bisa kami bayangkan. Ini bukanlah liburan dongeng yang telah kami rencanakan tapi aku disini melihatnya untuk kami berdua.
"Pemandangan itu tidak akan pernah membosankan." Suara dalam Chanyeol mengejutkanku. Aku berbalik untuk melihat Chanyeol yang bersandar di pintu. Telanjang dada. Oh. My.
Aku tidak bisa berkata-kata. Satu-satunya dada telanjang seorang pria yang pernah kulihat adalah Kris. Dan itu terjadi sebelum ibuku sakit ketika aku punya waktu untuk berkencan dan bersenang-senang. Dada Kris yang berusia enam belas tahun tidak ada apa-apanya dibanding dengan dada bidang, berotot di depanku. Dia bahkan punya lekukan six pack di perutnya.
"Kau sedang menikmati pemandangan?" Nada gelinya membuat lamunanku buyar. Aku mengerjap dan mengalihkan tatapanku untuk melihat seringai di bibirnya. Sialan. Dia menangkapku sedang mengaguminya.
"Jangan biarkan aku mengganggumu. Aku juga sedang menikmatinya," jawabnya, kemudian menyesap secangkir kopi di tangannya.
Wajahku memanas dan aku tahu wajahku memerah. Berbalik, aku menatap keluar pada lautan. Sungguh memalukan. Aku mencoba agar pria ini membiarkan aku tinggal sedikit lebih lama. Meneteskan air liur bukanlah hal yang baik.
Tawa kecil dibelakangku hanya membuat segalanya lebih buruk. Dia menertawakan aku. Fantastis.
"Di sini kau rupanya. Aku merindukanmu di ranjang pagi ini." Suara lembut seorang wanita datang dari belakangku. Ingin tahu lebih yang terjadi di belakangku dan aku pun berbalik. Seorang gadis yang hanya memakai bra dan celana dalam merapatkan dirinya pada tubuh Chanyeol dan menjalankan kuku panjang merah mudanya di dada Chanyeol. Aku tidak menyalahkannya karena menyentuh dadanya. Aku pun sangat tergoda.
"Waktunya kau pergi," jawabnya sambil mengangkat tangan gadis itu dari dadanya dan menjauh darinya. Aku melihat saat dia menunjuk kearah pintu depan.
"Apa?" Jawab gadis itu. Ekspresi kebingungan di wajahnya seolah mengatakan dia tidak mengharapkan ini.
"Kau sudah dapat apa yang kau inginkan, sayang. Kau ingin aku berada di antara pahamu. Kau mendapatkannya. Sekarang aku sudah selesai."
Nada dingin dalam suaranya mengejutkanku. Apa dia serius?
"Kau bercanda!" Gadis itu membentak dan menghentakkan kakinya.
Chanyeol menggelengkan kepalanya dan menyesap lagi kopi dari cangkirnya.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Semalam begitu mengagumkan. Kau tahu itu." Gadis itu meraih lengannya dan dia dengan cepat menghempaskannya.
"Aku sudah memperingatkanmu semalam ketika kau memohon padaku dan melepas pakaianmu bahwa ini hanya akan menjadi seks satu malam saja. Tidak lebih."
Aku mengalihkan perhatianku pada gadis itu. Wajahnya marah dan dia membuka mulutnya untuk berdebat tapi menutupnya lagi. Dengan hentakan lain kakinya dia berjalan keluar rumah.
Aku tidak percaya apa yang baru saja kulihat. Apa seperti ini cara orang-orang ini bersikap? Satu-satunya pengalaman pacaran yang kumiliki hanyalah bersama Cain. Meskipun kami tidak pernah tidur bersama dia selalu berhati-hati dan bersikap manis padaku. Ini sangat kasar dan kejam.
"Jadi, bagaimana tidurmu semalam?" Tanya Chanyeol seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku mengalihkan tatapanku dari pintu dimana gadis itu pergi dan mengamatinya. Apa yang mempengaruhi gadis itu untuk tidur dengan seseorang yang mengatakan padanya bahwa tidak akan ada hal lain selain seks? Tentu saja, Chanyeol punya tubuh yang akan membuat model pakaian dalam iri dan matanya itu bisa membuat seorang gadis menjadi gila. Tapi tetap saja. Dia begitu kejam.
"Apa kau sering melakukannya?" Tanyaku sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri.
Chanyeol mengangkat alisnya. "Apa? Bertanya apakah seseorang tidur nyenyak?"
Dia tahu apa yang aku tanyakan. Dia menghindarinya. Ini bukanlah urusanku. Aku harus menjauh, jadi dia tetap membiarkanku tinggal di tempatnya. Membuka mulutku untuk memarahinya bukanlah ide yang bagus.
"Berhubungan seks dengan seorang gadis dan membuangnya seperti sampah?" Tanyaku ketus. Aku menutup mulutku, terkejut akan kata-kata yang baru saja kuucapkan bergema di kepalaku. Apa yang telah aku lakukan? Mencoba untuk mendapatkan penjelasan?
Rush meletakkan cangkirnya pada meja disampingnya dan duduk. Dia bersandar sambil meregangkan kaki panjangnya. Kemudian menatapku. "Apakah kau selalu ikut campur hal yang bukan urusanmu?" Jawabnya.
Aku ingin marah padanya. Tapi aku tidak bisa. Siapa yang bisa aku salahkan? Aku tidak mengenal pria ini.
"Tidak pernah, tidak. Aku minta maaf," kataku dan buru-buru masuk ke dalam. Aku tidak ingin memberinya kesempatan untuk mengusirku keluar juga. Aku butuh kamar di bawah tangga itu paling tidak selama dua minggu.
~ TF #1 ~
Aku menyibukkan diri dengan membersihkan gelas kotor dan botol bir. Tempat ini perlu dibersihkan dan aku bisa melakukannya sebelum aku mendapatkan pekerjaan. Aku hanya berharap dia tidak mengadakan pesta seperti ini setiap malam. Jika dia melakukannya, aku tidak akan mengeluh dan siapa tahu, setelah beberapa malam aku bisa tidur nyenyak.
"Kau tidak perlu melakukannya. Henrietta akan datang besok."
Aku memasukkan botol yang kukumpulkan ke dalam tempat sampah dan kemudian menatapnya. Dia berdiri di depan pintu lagi sedang menatapku.
"Aku pikir aku bisa membantu."
Chanyeol menyeringai. "Aku sudah punya asisten rumah tangga. Aku tidak akan menambah satu lagi jika itu yang kau pikirkan."
Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tahu. Aku hanya ingin membantu. Kau mengijinkanku tidur di rumahmu semalam."
Chanyeol berjalan mendekat dan berdiri di depan lemari menyilangkan tangan di depan dadanya. "Tentang itu. Kita harus bicara."
Oh, sial. Ini dia. Satu malam sudah kulalui.
"Oke," jawabku
Chanyeol mengerutkan dahi padaku dan detak jantungku bertambah cepat. Dia tidak akan memberikan berita yang menyenangkan.
"Aku tidak suka Ayahmu. Dia adalah parasit. Ibuku selalu saja bersama pria seperti dia. Itu adalah bakatnya. Tapi kupikir kau sudah tahu hal ini. Yang membuatku curiga, kenapa kau datang minta tolong padanya padahal kau tahu dia seperti apa?"
Aku ingin mengatakan padanya bahwa ini bukanlah urusannya. Kecuali pada kenyataan bahwa aku membutuhkan bantuannya membuat hal ini menjadi urusannya. Aku tidak mengharapkan dia membiarkanku tidur di rumahnya dan tidak menjelaskan apa pun padanya. Dia layak tahu mengapa dia membantuku. Aku tidak ingin dia berpikir aku juga parasit.
"Ibuku baru saja meninggal. Dia sakit kanker. Ditambah tiga tahun perawatan. Satu-satunya yang kami miliki hanya rumah nenek yang diwariskan untuk kami. Aku harus menjual rumah dan semuanya untuk membayar biaya perawatan Ibu. Aku tidak pernah bertemu Ayahku sejak dia meninggalkan kami lima tahun yang lalu. Tapi hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku tidak punya keluarga lain untuk dimintai tolong. Aku butuh tempat tinggal sampai aku punya pekerjaan dan mendapat beberapa gaji. Kemudian aku bisa pindah. Aku tidak pernah berniat untuk tinggal lama. Aku tahu Ayahku tidak ingin aku ada di sini." Aku mengeluarkan tawa miris yang tidak aku kenal. "Meskipun aku tidak pernah berharap dia akan pergi sebelum aku datang."
Tatapan Chanyeol tetap kuat kearahku. Aku lebih suka informasi ini tidak diketahui siapa pun. Aku bercerita pada Kris tentang kepergian Ayahku yang begitu menyakitkan. Kehilangan saudari dan Ayahku menjadi hal terberat bagiku dan Ibu. Lalu Kris ingin lebih dan aku tidak bisa menjadi orang yang dia butuhkan. Aku harus menjaga ibuku yang sakit. Aku melepaskan Kris agar dia bisa berkencan dengan gadis lain dan bersenang-senang. Aku hanya menambah beban beratnya. Persahabatan kami tetap berjalan tapi aku tahu kalau pria yang aku cintai itu hanya akan menjadi kenangan masa kecil.
"Aku turut berduka tentang Ibumu." Chanyeol akhirnya menjawab. "Itu buruk sekali. Kau bilang dia sakit selama tiga tahun, jadi sejak kau berusia enam belas tahun?"
Aku mengangguk, tidak yakin apa lagi yang harus kukatakan. Aku tidak menginginkan belas kasihannya. Aku hanya butuh tempat untuk tidur.
"Kau berencana mencari kerja dan tempat tinggal untukmu." Dia tidak bertanya. Dia memperhatikan apa yang aku katakan. Jadi aku tidak menjawab.
"Kamar di bawah tangga itu milikmu selama sebulan. Kau bisa mencari kerja dan mendapat cukup gaji untuk mendapat sebuah apartemen. Destin tidak terlalu jauh dari sini dan biaya hidup di sana terjangkau. Jika orang tua kita kembali sebelum waktu yang kuperkirakan aku harap Ayahmu bisa membantumu untuk keluar."
Menghembuskan nafas lega aku menelan gumpalan di tenggorokanku. "Terima kasih."
Chanyeol menatap pada belakang pantry yang mengarah ke tempatku tidur. Kemudian dia kembali menatapku. "Aku harus melakukan sesuatu. Semoga beruntung dalam pencarian kerjamu," jawab Chanyeol. Dia meninggalkan meja dan pergi.
Aku tidak punya bensin di trukku tapi aku punya kamar. Aku juga masih punya dua puluh dolar. Aku bergegas ke kamarku untuk mengambil dompet dan kunci. Aku harus mencari kerja secepat mungkin.
~ TF #1 ~
Ada catatan yang terjepit dibawah wiper kaca depan truk. Aku menariknya keluar dan membaca,
.
*Bensin sudah penuh. Kai.
.
Kai sudah mengisi bensinku. Dadaku tiba-tiba terasa hangat. Dia sangat baik. Kata-kata Chanyeol tentang "menjadi benalu" terngiang di telingaku dan aku menyadari aku perlu membayar Kai secepat mungkin. Aku tidak mau dianggap sebagai benalu seperti ayahku.
Masuk ke truk, aku memutarnya dengan mudah dan mundur dari jalan masuk. Beberapa mobil masih diluar, meskipun tidak sebanyak tadi malam. Aku bertanya-tanya siapa yang menginap semalam. Apakah mereka selalu berada disini? Aku tidak melihat siapapun pagi ini selain Chanyeol dan perempuan yang dia buat marah tadi.
Chanyeol bukanlah orang yang baik tapi dia adil. Itu yang ku simpulkan darinya. Dia juga seksi. Aku hanya harus belajar untuk mengabaikannya. Ini seharus nya cukup mudah. Aku tidak mengharapkan Chanyeol akan sering berada disekitarku. Dia tampaknya juga tidak ingin berada disekitarku.
Aku memutuskan bahwa aku akan mendapatkan pekerjaan di Rosemary untuk menghemat bensin. Lalu aku bisa pindah dari rumah Chanyeol lebih cepat. Aku telah menemukan sebuah koran lokal dan aku akan melingkari beberapa pekerjaan yang berbeda. Dua diantaranya adalah menjadi pelayan di restoran lokal dan aku berhenti untuk melamar. Aku yakin aku akan mendapatkan panggilan kembali dari salah satu atau keduanya tetapi aku tidak yakin ingin bekerja di sana. Aku mau jika hanya itu semua yang tersedia sekalipun. Itu hanya tidak terlihat seperti ada tips yang akan lebih baik tentunya dan dengan pekerjaan seperti itu yang kubutuhkan adalah tips. Aku juga berhenti di apotek setempat untuk melamar posisi pendaftaran didepan tapi mereka sudah mengisinya. Lalu aku pergi ke dokter anak setempat untuk melamar pekerjaan resepsionis tapi mereka butuh yang berpengalaman dan aku tidak punya.
Ada satu pekerjaan terakhir yang kulingkari dan aku telah menundanya karena aku pikir itu akan menjadi pekerjaan yang sulit untuk ditangkap, posisi melayani di klub lokal. Gajinya tujuh dolar lebih per jam ditambah tips akan jauh lebih baik. Aku bisa keluar mendapatkan tempat sendiri lebih cepat. Plus adanya keuntungan. Asuransi kesehatan yang juga lebih bagus.
Iklan yang membutuhkan pekerjaan mengatakan untuk datang ke kantor utama dibelakang lapangan golf clubhouse untuk melamar pekerjaan. Aku mengikuti arah dan memarkir trukku disamping Volvo mewah. Aku menyesuaikan kaca spion untuk memeriksa wajahku. Aku telah mengambil tabung mascara kecil saat aku berada di apotek. Hanya sedikit mascara membantu wajahku terlihat lebih tua. Aku mengusap rambut pirang pucatku dan mengucapkan doa singkat bahwa aku mampu untuk mendapatkan pekerjaan ini.
Aku telah berganti dari celana pendek dan atasan tanpa lenganku ketika aku pergi untuk mengambil tasku. Aku pikir gaun lebih membantuku mendapatkan pekerjaan. Chanyeol bilang aku tampak seperti anak kecil. Aku ingin terlihat lebih tua. Mascara dan pakaian kelihatannya membantu.
Aku tidak repot-repot mengunci truk. Mobilku tidak dalam bahaya untuk dicuri disini. Tidak ketika sebagian besar mobil yang diparkir didekatnya biayanya lebih dari enam puluh ribu dolar. Langkah menuju kepintu kantor sangat dekat. Mengambil napas dalam-dalam di saat terakhir aku membuka pintu dan melangkah masuk.
Seorang wanita mungil dengan rambut bob pendek coklat dan sepasang kacamata berbingkai kawat sedang berjalan melintasi ruang tamu saat aku melangkah masuk. Dia menatapku sambil berjalan ke salah satu kantor tetapi berhenti ketika dia melihatku. Dia memandangku sekilas diseluruh tubuhku dan kemudian menganggukkan kepalanya ke arahku.
"Anda disini untuk pekerjaan?" Pertanyaannya memerintah.
Aku mengangguk. "Ya Maam. Aku disini untuk melamar pekerjaan."
Dia memberiku senyum yang erat. "Bagus. Anda memiliki daya tarik. Para anggota akan mengabaikan kesalahan dengan wajah seperti itu. Dapatkah anda mengendarai mobil golf dan dapatkah anda membuka botol bir dengan pembuka botol?"
Aku mengangguk.
"Anda diterima. Aku membutuhkan seseorang di lapangan sekarang. Ikuti saya, kami akan mengganti seragam anda."
Aku tidak membantah, ketika ia berputar kembali dan mulai berjalan menuju ruangan yang lain aku mengikuti di belakangnya. Dia adalah seorang wanita yang punya misi. Dia membuka pintu dan melangkah masuk.
"Anda memakai ukuran tiga untuk celana pendek? Atasan anda akan menjadi lebih kecil dari apa yang anda kenakan. Para pria akan menyukai nya. Mereka menyukai ukuran dada yang lebih besar. Mari kita lihat…" Dia berbicara tentang payudaraku. Ini memalukan. Dia meraih sepasang celana pendek putih dari rak dan menyodorkan padaku. Lalu ia meraih kaus polo biru pucat dari rak dan menyodorkan nya kearahku. "Atasannya kecil. Butuh yang ketat. Kami adalah perusahaan berkelas disini tapi para pria suka seseorang yang menarik juga. Oleh karena itu kami menawarkan sepasang celana pendek putih dan baju ketat polos. Jangan khawatir tentang laporan. Aku akan memilikinya, anda akan mengisi semuanya setelah selesai bekerja. Anda melakukan ini selama seminggu dan kerjakanlah dengan baik, dan kami akan memikirkan kepindahanmu ke bagian ruang makan. Kami kekurangan staf disana juga. Wajah seperti anda tidak mudah untuk ditemukan. Sekarang bergantilah dan aku akan menunggu untuk membawa anda ke kereta minuman".
~ TF #1 ~
Dua jam kemudian aku berhenti disemua delapan belas lubang, di lapangan golf dua kali dan semua minuman terjual habis. Semua para pegolf bertanya padaku apakah aku masih baru dan mengomentari pelayananku yang sangat baik. Aku bukanlah orang bodoh. Aku melihat cara pria yang lebih dewasa melirik padaku. Untungnya mereka semua tampak berhati-hati untuk tidak melampaui batas.
Wanita yang mempekerjakanku akhirnya memberitahu namanya saat dia mendorongku naik keatas kereta dan mengirimku pergi. Namanya Sunny Lowry. Dia bertanggung jawab dalam mempekerjakan staf. Dia juga cepat seperti angin puyuh. Dia mengatakan kepadaku bahwa aku harus kembali dalam waktu empat jam atau ketika aku kehabisan minuman, mana yang lebih dulu. Aku kehabisan minuman dalam dua jam.
Aku berjalan ke dalam kantor dan Sunny melongokkan kepalanya keluar di salah satu ruangan. "Kau sudah kembali?" Dia bertanya, sambil berjalan keluar dengan tangan berada dipinggang nya.
"Ya mam aku kehabisan minuman."
Alisnya terangkat, "Semuanya?"
Aku mengangguk. "Ya. Semuanya."
Senyum tampak diwajahnya yang kaku dan dia tertawa. "Yah, tentu saja. Aku tau mereka menginginkanmu, tapi para pria yang bernafsu itu bersedia untuk membeli apapun yang kau punya hanya untuk membuatmu tinggal lebih lama."
Aku tidak yakin itu terjadi. Di luar sana sangat panas. Setiap kali aku berhenti disebuah lubang pegolf tampak lega.
"Ayo, aku akan menunjukkan tempat untuk mengisi kembali. Kau harus tetap melayani sampai matahari terbenam. Kemudian kembali kesini dan kita akan mendapat dokumen yang sudah terisi."
~ TF #1 ~
Hari sudah gelap saat aku kembali ke rumah Chanyeol. Aku sudah pergi sepanjang hari. Mobil-mobil lain di jalan masuk sudah hilang. Ketiga garasi mobil ditutup dan satu mobil merah yang mahal terparkir di luar. Aku memastikan untuk memarkir truk ku keluar dari jalur jalan. Chanyeol mungkin masih memiliki teman-teman yang akan datang dan aku tidak mau truk ku menjadi masalah. Aku sangat lelah. Aku hanya ingin pergi tidur.
Aku berhenti di pintu dan bertanya tanya apakah aku harus mengetuk atau langsung masuk ke dalam. Chanyeol mengatakan aku bisa tinggal disini selama satu bulan. Tentunya itu berarti aku tidak harus mengetuk setiap kali aku datang kembali.
Aku memutar kenop dan berjalan kedalam. Di jalan masuk lorong sepi dan mengejutkan tampak bersih. Seseorang telah membereskan kekacauan disini. Lantai marmer bahkan tampak mengkilap. Aku mendengar suara tv datang dari ruangan tamu besar yang terbuka. Tidak ada banyak suara lainnya. Aku berjalan ke dapur. Aku punya kasur yang sudah menungguku. Aku benar-benar ingin mandi tapi aku belum bicara dengan Chanyeol tentang kamar mandi mana yang harus ku gunakan dan aku sedang tidak ingin menganggunya malam ini. Aku akan menyelinap keluar besok dan aku akan memakai sama dengan yang ku gunakan pagi ini ketika aku bangun besok.
Bau bawang putih dan keju tercium di hidungku saat aku melangkah kedapur. Perut ku keroncongan meresponnya. Aku punya satu kotak kraker kacang mentega di tasku dan sekotak kecil susu yang kubeli di swalayan dalam perjalanan pulang. Aku mendapat uang tips hari ini tapi aku tidak bisa membuang-buang uangku untuk makanan. Aku perlu menyimpan semua yang aku bisa.
Ada panci tertutup diatas kompor dan botol anggur terbuka diatas dimeja. Dua piring dengan sisa-sisa hidangan pasta yang menggoda juga ada di meja. Chanyeol masih punya tamu.
Sebuah erangan datang dari luar di ikuti dengan suara keras. Aku berjalan ke jendela tetapi ketika sinar bulan menyinari bagian belakang tubuh telanjang Chanyeol, aku membeku. Itu adalah pantat yang sangat bagus. Sangat, sangat bagus. Meskipun aku tidak pernah benar-benar melihat bagian belakang pria yang telanjang sebelumnya. Aku membiarkan mataku menelusuri sampai ke punggungnya dan tato yang tertutupi itu mengejutkanku. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan. Cahaya bulan itu tidak cukup terang dan ia bergerak.
Pinggulnya bergerak maju mundur dan aku melihat dua kaki panjang yang menekannya ke sisi tubuhnya. Suara erangan yang keras muncul kembali saat ia bergerak lebih cepat. Aku menutup mulutku dan melangkah mundur. Chanyeol sedang berhubungan seks. Di luar. Di beranda rumahnya. Aku tidak bisa berpaling darinya. Tangannya meraih kaki di kedua sisi dan ia mendorongnya membuka agar lebih lebar. Teriakan keras menyebabkan aku melompat. Dua tangan muncul di sekitar punggung dan kuku panjang mencakar tato yang menutupi kulit kecoklatan itu.
Aku tidak seharusnya menonton ini. Menggelengkan kepalaku untuk menjernihkan pikiranku aku berbalik dan bergegas kedapur dan kamar tidurku yang tersembunyi. Aku tidak boleh berpikir tentang Chanyeol seperti itu. Dia sangat seksi. Melihat dia sedang berhubungan seks membuaku berpikiran konyol. Bukan berarti aku ingin menjadi salah satu dari gadis-gadis yang berhubungan seks dengannya dan kemudian di campakkan. Melihat tubuhnya seperti itu dan mendengar bagaimana ia membuat gadis itu puas membuatku merasa sedikit cemburu. Aku tidak pernah tahu itu. Berusia sembilan belas tahun dan masih perawan adalah menyedihkan. Kris mengatakan ia mencintaiku tapi ketika aku sedang membutuhkannya dia menginginkan seorang kekasih yang menyelinap keluar dan berhubungan seks tanpa harus mengkhawatirkan ibunya yang sakit. Dia ingin pengalaman anak remaja yang normal. Aku terhalang oleh hal itu jadi aku membiarkannya pergi.
Ketika aku pergi kemarin pagi untuk datang kesini dia telah memintaku untuk tetap tinggal. Dia mengaku dia mencintaiku. Bahwa ia tidak pernah melupakanku. Bahwa setiap gadis yang pernah menjadi kekasihnya hanyalah pengganti yang buruk. Aku tidak percaya semua itu. Aku menangis sampai tertidur sendirian dan ketakutan sepanjang malam. Aku membutuhkan seseorang untuk memeluk ku. Dia tidak ada disana saat itu. Dia tidak mengerti cinta.
Aku menutup pintu kamarku dan ambruk di tempat tidur. Aku bahkan tidak menarik selimut. Aku butuh tidur. Aku harus berada di tempat kerja pukul sembilan pagi. Aku tersenyum sendiri karena rasa bersyukur. Aku sudah punya tempat tidur dan pekerjaan.
~ TF #1 ~
Matahari sangat panas. Sunny tidak ingin aku mengikat rambutku menjadi ekor kuda. Dia berpikir bahwa para pria menyukai rambut yang tergerai. Sayangnya bagiku hari ini sangat panas. Aku merogoh pendingin dan mengambil es batu menggosoknya ke leherku membiarkannya menyelinap ke dalam baju ku. Aku hampir berada di lubang lima belas untuk ketiga kalinya hari ini.
Tidak ada yang bangun pagi ini ketika aku keluar dari kamarku. Piring-piring yang kosong masih ada di meja. Aku membersihkannya dan melempar keluar makanan dipanci yang dia tinggalkan sepanjang malam. Itu membuatku sedih melihat makanan itu dibuang. Baunya sangat enak semalam saat aku pulang.
Lalu aku membuang botol anggur kosong dan menemukan gelas-gelas diluar disamping meja tempat aku menyaksikan Chanyeol melakukan hal itu dengan wanita yang tidak diketahui. Setelah meletakkan piring kotor di mesin cuci piring aku menyalakannya dan mengelap meja konter dan kompor.
Aku meragukan Chanyeol memperhatikan tapi itu membuatku merasa lebih baik tentang tidur gratis disini. Aku berhenti disamping kelompok pegolf di lubang kelima belas. Mereka masih muda. Aku pernah melihat mereka ketika mereka berada dilubang ketiga. Mereka membeli banyak dan mereka benar-benar pemberi tips yang baik. Jadi aku melakukan tindakan yang menggoda. Itu tidak seperti salah satu dari mereka benar-benar akan berkencan dengan gadis kereta di lapangan golf. Aku bukan idiot.
"Itu dia." Salah satu orang berteriak saat aku berhenti di samping mereka dan tersenyum.
"Ah, gadis favoritku kembali. Disini sangat panas dari pada neraka. Aku butuh yang dingin satu, mungkin dua."
Aku memarkir kereta dan keluar untuk pergi memutar kebelakang dan mengambil pesanan mereka.
"Kau ingin yang lain, Mark?" Aku bertanya kepadanya bangga pada diriku sendiri untuk mengingat pesanannya yang terakhir.
"Ya, sayang aku mau." Dia mengedipkan mata dan menutup jarak antara kami membuatku sedikit tidak nyaman.
"Hei aku juga ingin sesuatu Mingyu. Mundur lebih baik," kata pria lain dan aku terus tersenyum di wajahku saat aku menyerahkan bir dan ia menyodorkan uang dua puluh dollar. "Simpan saja kembaliannya."
"Terima kasih," jawabku menyelipkan uang ke sakuku. Aku melihat pada cowok lain nya. "Siapa lagi?"
"Aku." Seorang pria dengan rambut pirang pendek keriting dan mata biru yang cantik berkata melambaikan tagihan.
"Kau ingin corona kan?" Tanyaku meraih ke pendingin dan menarik keluar minuman yang dipesannya saat terakhir kali.
"Kurasa aku jatuh cinta. Dia cantik dan dia ingat bir apa yang kuminum. Lalu ia membuka nya untukku." Aku tau dia hanya menggoda sambil menyodorkan tagihan ditanganku dan mengambil bir dariku. "Kembaliannya untukmu cantik."
Aku melihat uang lima puluh dollar saat kumasukkan didalam sakuku. Pria-pria ini benar-benar tidak keberatan membuang-buang uang. Itu tip yang konyol. Aku merasa seperti mengatakan kepadanya untuk tidak memberiku begitu banyak tapi aku memutuskan untuk tidak melakukannya. Mereka mungkin suka memberi tip setiap saat.
"Siapa namamu?" Seseorang bertanya dan aku berpaling untuk melihat seseorang berambut gelap dengan kulit zaitun menunggu untuk menyerahkan pesanannya dan mendengar jawabanku.
"Kyungsoo." Jawabku meraih ke pendingin untuk bir yang dia pesan. Aku membuka tutupnya dan menyerahkan kepadanya.
"Kau punya pacar, Kyungsoo?" Tanyanya mengambil minuman dariku saat menjalankan jarinya membelai di sepanjang sisi tanganku.
"Um, tidak." jawabku, tidak yakin apakah mungkin lebih baik berbohong dalam situasi seperti ini.
Pria itu mendekat kearahku dan mengulurkan tangannya membayar dengan tip di dalamnya, "Aku Sehun," jawabnya.
"Ini, eh senang bertemu denganmu, Sehun." Aku tergagap menjawabnya. Pandangan yang intens dalam matanya yang gelap membuatku gugup. Dia bisa berbahaya dan beraroma cologne yang mahal. Cologne yang berkualitas tinggi. Dia salah satu dari orang orang yang tampan dan dia tau itu. Apa dia sedang menggodaku?
"Tidak adil, Sehun. Mundur bro. Kau harus berusaha maksimal dengan yang satu ini. Hanya karena ayahmu pemilik klub ini tidak berarti kau yang pertama." Canda si ikal pirang. Aku pikir dia sedang bercanda.
Sehun mengabaikan temannya dan tetap fokus padaku "Jam berapa kau selesai bekerja?"
Uh-oh. Jika aku mengerti dengan benar kalau ayah Sehun adalah bos utamaku. Aku tidak perlu menghabiskan waktu ku dengan putra pemilik klub glof ini. Akan menjadi hal yang sangat buruk.
"Aku bekerja sampai tutup." Aku menjelaskan dan menyerahkan empat bir terakhir dan mengambil uangnya.
"Kenapa kau tidak membiarkan aku menjemputmu dan membawamu untuk makan sesuatu?" Kata Sehun berdiri sangat dekat denganku sekarang. Jika aku berbalik dia hanya akan berupa bisikan.
"Di sini panas dan aku sudah kelelahan. Yang aku ingin lakukan adalah mandi dan beristirahat,"
Napas hangat menggelitik telingaku dan aku menggigil saat butir-butir keringat mengalir kepunggungku. "Apakah kau takut padaku? Jangan. Aku tidak berbahaya."
Aku tidak yakin apa yang harus kulakukan pada nya. Aku tidak pintar menggoda dan aku cukup yakin itu yang dia lakukan. Tidak ada seorang pun yang menggodaku dalam setahun. Setelah aku putus dari Kris, hariku telah di dihabiskan dengan sekolah dan kemudian ibuku. Aku tidak punya waktu untuk hal lain. Pria-pria tidak menghiraukan ku.
"Kau tidak menakutiku. Aku hanya tidak terbiasa untuk hal semacam ini," jawabku meminta maaf aku tidak tahu bagaimana untuk merespon dengan benar.
"Hal apa itu?" Dia bertanya penasaran. Aku akhirnya berbalik untuk menghadapinya.
"Pria. Dan rayuan. Setidaknya aku pikir itulah yang terjadi." Aku terdengar seperti orang bodoh. Senyum perlahan-lahan membentang di wajah Sehun membuatku ingin merangkak dibawah mobil golf dan bersembunyi. Aku tidak pantas untuk komunitasnya.
"Ya, tentu saja ini merayu. Dan bagaimana bisa seorang yang luar biasa seksi sepertimu tidak terbiasa dengan hal semacam ini?"
Aku menegang mendengar kata-kata nya dan menggeleng. Aku harus pergi ke lubang enam belas. "Aku sibuk beberapa tahun terakhir. Jika eh, kau tidak perlu apa-apa lagi pegolf di lubang enam belas mungkin marah denganku sekarang."
Sehun mengangguk dan mengambil langkah mundur "Aku belum selesai denganmu bukan karena sesuatu hal yang penting, tapi untuk sekarang aku akan membiarkanmu kembali bekerja."
Aku bergegas kembali kesisi pengemudi kereta dan menaikinya. Lubang berikutnya adalah sekelompok pria pensiunan. Aku tidak pernah mencari perhatian untuk dilirik pria-pria tua dalam hidupku tapi setidaknya mereka tidak menggoda.
Sehun datang~ makin memanas bung wkwk chansoo kaisoo atau hunsoo? :v
Thanks buat review, fav dan follow nya. Tetap pantengin terus ya muehehe.
TTtd
Anggur
