REMAKE STORY By Anggur

Original Story :

Fallen Too Far - Too Far Series #1

Rosemary Beach Series #1

By Abbi Glines

•••


Ketika aku berjalan ke trukku malam itu, aku merasa lega melihat tidak ada tanda-tanda Sehun. Seharusnya aku tau dia hanya menggoda. Aku telah mendapat tips beberapa ratus dolar hari ini dan aku memutuskan untuk memperlakukan diri dengan makanan yang benar-benar enak. Aku menuju ke drive-thru. Di Mc Donalds dan memesan sebuah cheeseburger dan kentang goreng. Aku makan dengan senang dalam perjalanan kembali ke rumah Chanyeol. Tidak ada mobil diluar malam ini.

Aku tidak ingin masuk saat dia berhubungan seks malam ini. Atau, dia mungkin telah membawa seseorang kesini dengan mobilnya. Aku berjalan ke dalam dan berhenti di ruang depan. Tidak suara ada televisi yang menyala. Tidak ada suara sama sekali, tetapi pintu telah dibuka. Aku tidak harus menggunakan kunci tersembunyi yang sudah dia berikan padaku.

Aku berkeringat terlalu banyak hari ini. Aku harus mandi sebelum aku pergi tidur. Aku melangkah ke dapur dan memeriksa teras depan untuk memastikan bebas dari petualangan seksual. Mandi akan terasa nyaman.

Aku masuk ke kamarku dan meraih boxer lama milik Kris dan tank top yang kupakai di malam hari. Kris telah memberikannya kepadaku ketika kami masih muda dan konyol. Dia ingin aku tidur memakai sesuatu yang dimiliknya. Aku sudah tidur sembari memakai boxer nya setiap saat. Meskipun sekarang jauh lebih ketat daripada dulu. Lekukanku berkembang sejak usia lima belas.

~ TF #1 ~

Aku menarik napas dalam-dalam dari udara di laut saat aku melangkah keluar. Ini adalah malam ketiga ku disini dan aku benar-benar belum pernah turun ke air. Aku pulang sangat lelah sehingga aku tidak punya tenaga untuk pergi kesana. Aku menuruni tangga dan meletakkan piyamaku dikamar mandi sebelum melepas sepatu tenisku.

Pasirnya masih hangat dari sinar matahari. Aku berjalan didalam kegelapan di tepi pantai sehingga air mengenai kakiku. Rasa dinginnya mengejutkanku dan aku menarik napas tetapi membiarkan air garam itu menutupi kakiku.

Ibuku yang tersenyum saat dia bercerita tentang bermain di laut berkelebat dalam memoriku dan tersenyum. Aku akhirnya disini. Aku disini untuk kita berdua. Aku dan ibu.

Sebuah suara disisi kiri membuyarkan lamunanku. Aku berbalik untuk memandang ke arah itu. Sepertinya cahaya bulan sudah mulai menampakkan dirinya dari balik awan dan terlihat Chanyeol dalam kegelapan. Ia berlari.

Sekali lagi, ia bertelanjang dada. Celana pendek yang ia kenakan menggantung rendah dipinggul seksinya dan aku terpesona oleh tubuhnya yang terlihat saat ia berlari kearahku. Aku tidak yakin apakah aku harus bergerak mendekatinya atau membiarkan hanya ia yang berlari mendekatiku. Kakinya melambat, kemudian ia datang dan berhenti disampingku. Keringat di dadanya berkilau dalam cahaya yang remang-remang. Anehnya aku ingin meraih dan menyentuhnya. Sepertinya, tubuhnya itu tidak mungkin nyata. Itu tidak mungkin.

"Kau kembali," katanya sambil mengambil napas dalam-dalam.

"Aku baru saja pulang kerja," jawabku, berusaha keras untuk menjaga mataku padanya dan tidak pada dadanya.

"Jadi, kau mendapat pekerjaan?"

"Ya. Kemarin."

"Di mana itu?"

Aku tidak yakin tentang bagaimana perasaanku memberitahunya terlalu banyak. Dia bukan lah teman. Dan jelas aku tidak pernah dianggap sebagai keluarganya. Orang tua kita mungkin menikah tetapi ia tampaknya tidak ingin berhubungan dengan Ayahku atau aku.

"Kerrington Country Club," jawabku.

Alis Chanyeol terangkat dan ia mengambil langkah untuk mendekatiku lebih dekat lagi. Ia menyelipkan tangannya dibawah daguku dan memiringkan wajahku.

"Kau memakai mascara," katanya, sambil mengamati ku.

"Ya." Aku menarik daguku dari genggamannya. Dia mungkin membiarkanku tidur dirumahnya, tetapi aku tidak suka ketika dia menyentuhku. Atau mungkin aku menyukainya saat dia menyentuhku dan itulah masalahnya. Aku tidak ingin menyukai sentuhannya.

"Itu membuatmu terlihat lebih tua." Dia melangkah mundur dan melakukan penilaian perlahan pada pakaianku.

"Kau gadis kereta dilapangan golf," jawabnya singkat dan menatapku kembali.

"Bagaimana kau tau?" Tanyaku.

Dia melambaikan tangannya padaku. "Pakaian itu. Celana pendek putih kecil dan kaus polo. Ini seragam."

Aku sangat senang karena saat ini gelap. Aku yakin bahwa wajahku sudah memerah.

"Kau membuat keuntungan besar, benar kan?" Tanyanya dengan nada geli.

Aku menghasilkan lebih dari lima ratus dolar tips dalam dua hari. Itu bukan keuntungan besar untuknya, tetapi bagiku iya.

Aku mengangkat bahu. "Kau akan lega mengetahui bahwa aku akan keluar dari sini dalam waktu kurang dari sebulan."

Dia tidak segera menanggapi. Aku mungkin harus meninggalkannya dan pergi untuk mandi. Aku hendak mengatakan sesuatu ketika ia mengambil langkah mendekatiku. "Aku mungkin seharusnya, lega. Benar-benar lega, sialan. Tapi, aku tidak. Aku tidak lega, Kyungsoo." Ia berhenti dan membungkuk untuk berbisik ditelingaku, "Kenapa begitu?"

Aku ingin meraih dan memegang tangannya untuk menjaganya agar aku tidak limbung ke tanah karena geli dengan bisikannya. Tetapi aku menahan diri.

"Jaga jarak dariku, Kyungsoo. Kau tidak ingin terlalu dekat. Semalam." Dia berusaha menelan ludahnya dengan berat. "Semalam kau menghantuiku. Mengetahui kau sedang menonton kegiatanku. Ini membuatku gila. Jadi, menjauhlah. Aku melakukan yang terbaik untuk menjauh darimu." Dia berbalik dan berlari kembali kerumah, sedangkan aku masih berdiri disana mencoba untuk tidak meleleh di genangan pasir.

Apa maksudnya? Bagaimana dia tahu aku melihat mereka? Pintu rumah tertutup. Lalu aku masuk kedalam dan mandi. Kata-kata nya terus membuatku terjaga sepanjang malam.

Menjauh dari Chanyeol tidaklah mudah, apalagi kami tinggal di bawah atap yang sama. Walaupun dia berusaha menjaga jarak, kami tetap saling bertemu. Dia juga selalu menghindari bertatap mata denganku, namun itu malah membuatku makin terpesona padanya.

~ TF #1 ~

Dua hari setelah percakapan kami di pantai, aku melangkah memasuki dapur setelah menyantap roti isi mentega kacangku dan kembali disambut oleh gadis setengah telanjang lainnya lagi. Rambutnya berantakan. Meskipun tidak disisir, ia masih terlihat menarik. Aku benci gadis-gadis seperti itu.

Si gadis berbalik untuk memandangku. Ekspresi terkejutnya dengan cepat berubah menjadi tidak suka. Dia mengerjapkan kedua mata cokelatnya dan kemudian berkacak pinggang. "Apakah kau baru saja keluar dari pantry?"

"Ya. Apakah kau baru saja turun dari tempat tidur Chanyeol?" Tukasku. Itu terlontar dari mulutku dengan spontan. Padahal Chanyeol sendiri telah menegaskan bahwa kehidupan seksnya sama sekali bukan urusanku. Aku seharus nya harus menutup mulut ku.

Si gadis menaikkan kedua alis matanya yang berbentuk sempurna kemudian seringai geli tersungging di bibirnya. "Tidak. Bukan berarti aku menolak naik ke tempat tidurnya jika dia mengijinkan, tetapi jangan pernah mengadu pada Kai." Dia mengibaskan tangannya seperti menghalau pergi seekor lalat. "Lupakanlah. Kai juga sepertinya sudah tahu."

Aku jadi bingung. "Jadi, kau baru turun dari tempat tidurnya Kai?" Tanyaku sambil menyadari sekali lagi bahwa itu juga bukan urusanku. Namun Kai tidak tinggal disini, jadi aku penasaran.

Si gadis menyapukan jemarinya ke rambut ikalnya yang berantakan dan menghela napas. "Yep. Atau lebih tepatnya tempat tidur lamanya."

"Tempat tidur lamanya?" Aku mengulang.

Pergerakan di lorong membuat perhatianku teralihkan dan mataku langsung berhadapan dengan mata Chanyeol. Dia memperhatikanku dengan sebuah seringai yang menghiasi bibirnya. Bagus. Dia telah mendengarkanku mengorek keterangan. Aku ingin membuang pandanganku dan berpura-pura tidak pernah bertanya kepada gadis itu apakah dia dari tempat tidur Chanyeol. Kilatan di matanya memberitahuku bahwa itu tidak ada gunanya.

"Kumohon jangan biarkan aku jadi penghalang, Kyungsoo. Silahkan lanjutkan menginterogasi tamu Kai. Aku yakin dia tidak keberatan," ujar Chanyeol dengan perkataan yang sengaja dilambatkan. Dia menyilangkan lengannya di dada dan bersandar pada kusen pintu seakan dengan nyaman.

Kutundukkan kepalaku dan berjalan ke arah tempat sampah untuk menyingkirkan remah roti dari jemariku sembadi mengumpulkan pikiranku. Aku tidak mau melanjutkan obrolan ini apabila Chanyeol masih mendengarkan. Itu membuatku terlihat amat tertarik padanya. Sesuatu yang tidak dia inginkan.

"Selamat pagi, Chanyeol. Terimakasih telah mengizinkan kami menginap disini semalam. Kai minum terlalu banyak sehingga tidak bisa mengemudi kembali ke rumahnya," ujar gadis itu.

Oh. Jadi begitu ceritanya. Sial. Kenapa aku membiarkan rasa ingin tahu menguasaiku?

"Kai tahu dia punya kamar kalau dia ingin tinggal di sini," timpal Chanyeol. Aku bisa melihat dengan menggunakan sudut mataku dia berjalan menjauh dari kusen pintu menuju meja dapur. Perhatiannya tercurah padaku. Kenapa dia tidak melupakan hal ini? Aku akan pergi dalam diam.

"Well, uh, kalau begitu kurasa aku akan kembali ke lantai atas." Suara gadis itu terdengar tidak yakin. Chanyeol tidak menjawab dan aku tidak menoleh untuk memandang salah satu dari mereka. Si gadis menganggap itu merupakan suatu pertanda bahwa dia harus segera pergi dan aku menunggu langkah kaki gadis itu menaiki tangga sebelum aku berbalik memandang Chanyeol.

"Rasa ingin tahu bisa membuat seekor kucing kecil terbunuh, Kyungsoo yang manis," bisik Chanyeol ketika dia berjalan kearahku. "Apakah tadi kau berpikir aku punya teman tidur yang lain? Hmmm? Berusaha memutuskan apakah dia telah berada di tempat tidurku semalaman?"

Aku menelan dengan susah payah namun tidak berkata apapun.

"Dengan siapa aku tidur bukan urusanmu. Bukankah kita pernah membicarakan ini sebelumnya?"

Aku mengangguk. Jika dia membiarkanku pergi aku tidak akan pernah berbicara lagi dengan gadis manapun yang datang ke rumah ini.

Chanyeol mengulurkan tangannya dan memilintir rambutku dengan jarinya. "Kau tidak mau mengenalku. Kau mungkin berpikir sebaliknya tetapi sebenarnya tidak. Aku bersumpah."

Jika dia tidak sangat mempesona dan berada tepat di depanku maka itu akan lebih mudah mempercayainya. Tapi semakin dia menolakku, semakin aku tertarik padanya.

"Kau bukan seperti yang kuperkirakan. Walau aku berharap sebaliknya. Itu akan mempermudah segalanya," ujarnya dengan suara rendah sambil melepaskan rambutku lalu berbalik dan berjalan menjauh. Ketika pintu yang mengarah ke teras belakang tertutup kulepaskan napas yang sedari tadi kutahan.

Apa maksudnya? Apa yang telah dia harapkan?

Malam itu ketika aku pulang kerja, Chanyeol tidak ada di rumah.

~ TF #1 ~

Kubuka mataku dan melihat kearah jam alarm kecil diatas nakas. Sudah lewat dari pukul sembilan pagi. Tidurku nyenyak. Setelah meregangkan tubuhku, aku meraih tombol saklar untuk menyalakan lampu. Aku telah mandi semalam jadi, sekarang tubuhku bersih. Aku telah menghasilkan lebih dari seribu dollar minggu ini. Kuputuskan untuk memulai mencari apartemen hari ini. Pada waktu yang sama minggu depan seharusnya aku telah mendapatkan tempat untuk kutinggali.

Kujalarkan tangan pada rambutku dan mencoba untuk merapikannya sebelum aku bangkit. Aku ingin berjemur sebentar di pantai pagi ini. Aku belum sempat melakukannya hingga sekarang. Hari ini aku akan menikmati laut dan sinar matahari.

Kutarik keluar koperku dari bawah tempat tidur dan mencari bikini putih dan pinkku. Itu satu-satunya yang kumiliki. Jujur saja, sangat jarang kukenakan. Pola renda putihnya dengan pinggiran pink terlihat bagus pada kulit ku.

Ketika kukenakan, kusadari bahwa bikininya telah mengecil. Atau tubuhku telah berubah semenjak terakhir aku memakainya. Kukeluarkan sehelai tank top dari koper untuk menutupi bikini yang kukenakan dan menyambar tabir suryaku. Aku telah membelinya setelah hari pertamaku bekerja. Tabir surya adalah suatu kewajiban untuk pekerjaanku.

Kumatikan lampu dan memasuki pantry dan kemudian dapur. "Sial. Siapakah dia?" Seorang pria muda bertanya dengan terkejut kearahku saat aku melangkah kearah cahaya. Aku menatap sekilas pada orang asing yang terperangah itu, dia sedang duduk di bar. Lalu aku mengalihkan pandangan kearah kulkas dimana Kai sedang berdiri sembari tersenyum.

"Apakah kau keluar dari kamar dengan berpakaian seperti itu setiap hari?" Kai bertanya.

Aku tidak mengira akan bertemu siapapun disini. "Um, tidak. Biasanya aku berpakaian dengan seragam kerja," jawabku ketika siulan pelan datang dari pria muda di bar. Dia tidak mungkin berusia lebih dari enam belas tahun.

"Jangan pedulikan hormon yang sedang menguasai idiot yang ada di bar itu. Dia Jeno. Ibunya dan Georgianna adalah kakak beradik. Jadi dia adalah adik sepupuku. Dia datang kemari tadi malam setelah kabur untuk ratusan kalinya dan Chanyeol menghubungiku untuk datang menjemputnya dan menyeret bokongnya pulang."

Chanyeol. Kenapa dengan mendengar namanya membuat jantungku berdegup lebih kencang? Karena dia secara tidak adilnya, sempurna. Itulah alasannya. Kugelengkan kepalaku untuk menyingkirkan pemikiran mengenai Chanyeol. "Senang bertemu denganmu, Jeno. Aku Kyungsoo. Chanyeol mengasihaniku dan mengizinkanku tinggal hingga aku mampu mencari tempat tinggalku sendiri."

"Hey, kau bisa ikut pulang bersamaku. Aku tidak akan membiarkanmu tidur dibawah tangga." Jeno menawarkan.

Aku tersenyum. Ini adalah rayuan polos yang bisa kupahami.

"Terima kasih tapi aku kira ibumu tidak akan mengizinkannya. Aku tidak masalah dengan kamar dibawah tangga. Tempat tidurnya nyaman dan aku tidak perlu tidur dengan pistolku."

Kai terbahak dan mata Jeno melotot. "Kau punya pistol?" Jeno bertanya dengan nada kagum.

"Sekarang, kau telah mengatakannya. Sebaiknya aku membawanya pergi sebelum dia jatuh cinta lagi," jawab Kai, sembari membawa cangkir yang telah dia isi dengan kopi. Dia mendahului berjalan kearah pintu sambil berkata "Ayo Jeno, sebelum aku membangunkan Chanyeol dan kau harus menghadapi bokong pemarahnya."

Jeno menatap sekilas pada Kai lalu kembali menatapku dengan tatapan terluka. Itu menggemaskan.

"SEKARANG, Jeno." Kai berkata dengan nada yang lebih menuntut.

"Hey, Kai." Aku memanggilnya sebelum dia melewati pintu.

Dia berbalik untuk memandangku, "Yeah?"

"Terima kasih untuk bensinnya. Akan kubayar secepatnya setelah aku mendapatkan gajiku."

Kai menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak perlu. Aku akan merasa tersinggung. Tapi, terima kasih kembali." Dia berkedip padaku kemudian mengirimkan tatapan memperingatkan kepada Kai sebelum meninggalkan dapur.

Aku melambaikan tangan sebagai tanda selamat tinggal pada Jeno. Aku nanti akan mencari cara membayar Kai tanpa membuatnya tersinggung. Pasti ada suatu cara. Sekarang, aku punya rencana lain. Aku melangkahkan kaki ke pintu yang mengarah keluar. Inilah waktunya aku menikmati hari pertama yang sebenarnya di pantai.

Kubentangkan handuk yang kupinjam dari kamar mandi. Aku harus mencucinya nanti malam. Ini satu-satunya yang kupakai untuk mengeringkan tubuh dan sekarang kugunakan sebagai alas diatas pasir. Itu sangat sepadan.

Pantainya sepi. Kami tidak dekat dengan rumah lainnya jadi pantainya kosong. Merasa berani, kulepaskan tank top yang kupakai dan ku lepaskan lewat kepalaku. Lalu kupejamkan mataku dan membiarkan suara ombak di lautan yang menghantam tepi pantai menyeretku untuk kembali tidur.

"Kumohon katakan padaku kalau kau memakai tabir surya." Sebuah suara berat menyapuku dan aku mencondongkan tubuhku ke depan. Aroma bersih maskulinnya sangat menggiurkan. Aku harus lebih dekat.

Kubuka mataku, aku berkedip akibat sinar matahari yang menyilaukan dan kunaungi mataku untuk melihat Chanyeol yang sedang duduk disampingku. Matanya mengamati ku. Kehangatan atau humor dalam suaranya yang tadi kubayangkan telah lenyap.

"Kau memakai tabir surya, ya kan?"

Aku hanya mengangguk dan bangkit ke posisi duduk.

"Bagus. Aku tidak suka melihat kulit mulusmu yang lembut berubah menjadi pink."

Dia pikir kulitku mulus dan lembut. Itu terdengar seperti sebuah pujian tapi aku tidak yakin mengucapkan terima kasih itu pantas.

"Aku, uh, mengoleskannya sebelum kemari."

Dia terus menatapku. Aku melawan keinginanku untuk meraih tank topku dan mengenakannya diatas bikiniku. Aku tidak memiliki bentuk tubuh seperti gadis-gadis yang kulihat selalu menemaninya. Aku tidak menyukai perasaan seakan dia sedang membanding-bandingkanku.

"Kau tidak bekerja hari ini?" Akhirnya dia bertanya.

Aku menggelengkan kepalaku. "Ini adalah hari liburku."

"Bagaimana pekerjaanmu?"

Dia sedang bersikap baik, semacamnya. Setidaknya dia tidak menghindariku. Sekonyol apapun kelihatannya tapi aku menginginkan perhatiannya. Ada suatu daya tarik yang menyeretku kepadanya yang tidak bisa kujelaskan. Semakin dia menjaga jarak semakin aku ingin mendekat. Dia memiringkan kepalanya dan menaikkan salah satu alisnya seperti sedang menantiku untuk mengatakan sesuatu.

Oh tunggu dulu. Dia telah bertanya padaku. Sial, mata keperakan itu. Membuatku sulit berkonsentrasi. "Uh, apa?" Aku bertanya merasakan wajahku memanas.

Dia berdecak, "Bagaimana pekerjaanmu?" Tanyanya perlahan.

Aku harus berhenti bersikap seperti idiot kalau dia sedang berada di sekitarku. Kuluruskan bahuku. "Berjalan dengan baik. Aku menyukainya."

Chanyeol menyeringai dan memandang ke air. "Aku yakin kau menikmatinya."

Aku terdiam sejenak dan memikirkan komentar itu lalu bertanya, "Apa maksud perkataanmu itu?"

Tatapan Chanyeol turun menjelajahi tubuhku kemudian naik lagi. Aku amat menyesal tidak mengenakan kembali tank topku. "Kau tahu bagaimana wajahmu, Kyungsoo? Apalagi dengan senyum sialanmu yang manis itu. Para pegolf pria pasti membayarmu dengan baik."

Dia benar mengenai uang tipnya. Dia juga membuatku bernapas secara konyol dengan memandangku seperti itu. Aku menginginkan dia menyukai apa yang dia lihat namun kemudian aku takut dengan apa yang akan terjadi. Bagaimana jika dia mengubah keputusannya mengenai saling menjaga jarak? Bisakah aku mengikutinya?

Kami duduk dalam diam selama beberapa saat ketika dia memandang lurus kedepan. Aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu. Rahangnya menegang dan ada garis kerutan terbentuk di dahinya. Aku jadi memikirkan lagi semua yang telah kukatakan. Aku tidak dapat menemukan satupun yang dapat membuatnya kesal.

"Sudah berapa lama ibumu meninggal?" Tanyanya sambil menatapku lagi.

Aku tidak ingin membicarakan mengenai ibuku. Tidak padanya. Namun mengabaikan pertanyaannya tidaklah sopan. "Tiga puluh enam hari yang lalu."

Rahangnya bergerak seakan dia gusar pada terhadap sesuatu dan kerutan di dahinya semakin dalam. "Apakah ayahmu tahu bahwa sebelumnya beliau sakit?"

Pertanyaan lain yang tidak ingin aku jawab. "Ya, ayahku tahu. Aku juga menghubunginya di hari ibuku meninggal dunia. Dia tidak mengangkat teleponnya. Aku hanya meninggalkan sebuah pesan." Kenyataan bahwa ayahku tidak pernah membalas teleponku terlalu sakit untuk kuakui.

"Apa kau membencinya?" Tanya Chanyeol.

Aku ingin membencinya. Dia telah menyebabkan duka dalam hidupku sejak hari dimana kakak perempuanku meninggal. Itu sulit. Tapi ayahku satu-satunya keluarga yang masih kumiliki. "Kadang-kadang," sahutku jujur.

Chanyeol mengangguk dan menjulurkan tangannya kemudian mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku. Dia tidak berkata apapun namun pada saat itu memang tidak perlu. Satu koneksi kecil itu sudah cukup mengatakan semuanya. Mungkin aku tidak terlalu mengenal Chanyeol namun dia telah mempengaruhiku.

"Aku mengadakan sebuah pesta malam ini. Adikku Tao, berulang tahun. Aku selalu menyelenggarakan pesta untuknya. Mungkin kau tidak terlalu dapat berbaur namun kau diundang jika kau mau hadir."

Adiknya? Dia memiliki seorang adik perempuan? Kupikir dia anak tunggal. Bukankah Tao adalah gadis yang sangat kasar di malam kedatanganku?

"Kau memiliki adik perempuan?"

Chanyeol mengendikkan bahunya, "Yeah."

Kenapa Kai bilang dia anak tunggal? Kutunggu dia untuk menjelaskan tapi dia diam saja. Lalu kuputuskan untuk bertanya.

"Kai bilang kau anak tunggal."

Chanyeol menegang. Kemudian menggelengkan kepalanya saat dia melepaskan jarinya dan berpaling untuk memandang ke laut. "Kai tidak punya hak untuk menceritakan hal-hal mengenai diriku. Meskipun dia sangat menginginkan masuk kedalam celana dalammu." Chanyeol berdiri dan tidak memandangku lagi ketika dia berjalan kearah rumah.

Sesuatu mengenai Tao melewati batasan. Aku tidak tahu apa tapi benar-benar melewati batasan. Aku seharusnya tidak menjadi orang yang mau tahu urusan orang lain. Aku berdiri dan berjalan menuju air. Cuaca mulai panas dan aku membutuhkan sesuatu untuk menyingkirkan Chanyeol dari benakku. Pria itu aneh. Seksi, tampan, dan menggiurkan namun aneh.

~ TF #1 ~

Aku duduk di atas tempat tidurku mendengarkan tawa dan musik yang berasal dari dalam rumah. Aku seharian menimbang-nimbang keputusan mengenai menghadiri pesta. Terakhir kalinya aku mengambil keputusan untuk datang, aku mengenakan satu-satunya gaun bagus yang masih kumiliki. Itu adalah gaun berwarna merah yang melekat erat di dada dan pinggulku kemudian tergantung di sekitar tengah pahaku dengan model baby doll mini. Aku membeli gaun ini ketika Kris mengundangku ke pesta prom senior.

Kemudian dia dinominasikan sebagai raja prom dan Jessica yang dinominasikan sebagai ratunya. Jessica ingin menghadiri prom bersama dengan Kris, kemudian Kris meneleponku untuk bertanya apakah boleh dia pergi bersama Jessica saja. Semua orang berkata mereka akan menang dan akan terlihat keren kalau mereka menghadirinya sebagai pasangan. Aku menyetujuinya lalu menggantung kembali gaunku. Lalu malam itu aku menyewa dua judul film dan membuat brownies. Mom dan aku menonton film komedi romantis dan memakan brownies hingga kami kekenyangan. Itu merupakan salah satu kenangan yang bisa kuingat ketika ibuku tidak merasakan sakit setelah menjalani kemoterapi sehingga dia bisa memakan makanan manis seperti brownies.

Malam ini aku telah mengeluarkan gaun tersebut dari tasku. Gaunnya tidak semahal standard orang-orang di luar. Malah cukup sederhana. Bahannya terbuat dari sifon lembut. Aku melihat sekilas pada sepatu hak tinggi berwarna perak milik ibuku yang aku simpan. Ini adalah sepatu yang ia kenakan di hari pernikahannya. Aku selalu menyukainya. Ibuku tidak pernah memakainya lagi namun sepatu itu tersimpan rapat dalam sebuah kotak.

Aku mengambil resiko besar dengan keluar menghadiri pesta dan dipermalukan. Aku tidak cocok dengan mereka. Aku pun tidak pernah bisa menyesuaikan diri di sekolah. Hidupku adalah satu momen yang canggung. Aku harus belajar menyesuaikan diri. Untuk meninggalkan si gadis canggung yang harus keluar dari sekolah karena dia memiliki masalah yang jauh lebih besar.

Berdiri, kugerakkan tanganku ke gaunku untuk merapikan setiap kerutan yang ada karena duduk di ranjang. Lalu aku menimbang apakah menghadiri pesta merupakan suatu keputusan yang bijak. Aku akan berjalan keluar kesana. Mungkin mengambil segelas minuman dan melihat adakah seseorang yang mau berbicara denganku. Jika ternyata menjadi bencana, aku selalu bisa lari kembali kemari, memakai piyamaku dan meringkuk di tempat tidur. Itu adalah rencana kecil yang baik untukku.

Membuka pintu pantry, aku melangkah memasuki dapur sangat bersyukur bahwa tidak ada seorang pun disana. Berjalan keluar dari pantry akan sulit dijelaskan. Aku dapat mendengar suara tawa Kai yang kencang dan berbicara dengan seseorang di ruang keluarga. Dia mungkin mau mengobrol denganku. Aku bisa melalui hal ini dengan mudah bersama Kai. Menarik napas panjang, aku berjalan keluar dari dapur dan menuruni lorong yang mengarah ke foyer. Mawar putih dan pita perak ada dimana-mana. Ini mengingatkanku pada pernikahan daripada pesta ulang tahun. Pintu depan yang terbuka mengejutkanku. Langkahku terhenti dan tatapanku terpaku pada mata gelap smokey yang familiar membalas menatap mataku. Wajahku menghangat ketika mata Sehun menilaiku dengan intens.

"Kyungsoo," ujarnya saat matanya kembali menatap wajahku. "Aku tidak pernah mengira kau bisa terlihat lebih seksi lagi. Ternyata aku salah."

"Hell, yeah, nona. Kau terlihat menakjubkan." Pria dengan rambut ikal berwarna pirang dan bermata biru tersenyum padaku. Aku tidak bisa mengingat namanya. Apakah dia pernah memberitahuku sebelumnya?

"Terima kasih." Gumamku. Aku bersikap canggung lagi. Ini adalah kesempatanku untuk menyesuaikan diri. Aku harus mengusahakannya.

"Aku tidak tahu kalau Chanyeol mulai main golf lagi. Atau kau disini bersama seseorang?" Karena bingung, aku terdiam sejenak untuk meresapi maksud perkataan Sehun. Ketika kusadari dia mengira aku disini dengan seseorang yang kutemui di tempat kerja, aku menyeringai. Itu bukan masalah sama sekali.

"Aku kemari tidak dengan siapapun. Chanyeol adalah um… well, ibu Chanyeol menikah dengan ayahku." Itulah penjelasanku.

Seringai Sehun yang pelan dan santai semakin melebar ketika dia berjalan kearahku. "Benarkah? Dia membiarkan adik tirinya bekerja di country club? Ck, ck. Pria itu tidak punya sopan santun. Jika aku memiliki adik perempuan dengan wajah seperti kau, aku akan menyekapnya… sepanjang waktu," Dia berhenti sebentar dan menyapu pipiku dengan ibu jarinya. "Aku akan menemanimu tentu saja. Aku tidak ingin kau merasa kesepian."

Sudah pasti dia sedang merayuku. Dengan gencar. Dia berada di luar jangkauanku. Dia terlalu berpengalaman. Aku membutuhkan sedikit ruang.

"Sepasang kakimu seharusnya dipasangi peringatan. Tidak mungkin tidak disentuh." Dia merendahkan suaranya dan aku sekilas melihat melewati bahunya, bahwa si pirang telah meninggalkan kami.

"Apakah kau… apakah kau berteman dengan Chanyeol atau uh, Tao?" Tanyaku mengingat nama yang Kai gunakan ketika memperkenalkan kami pada malam pertama.

Sehun mengangkat bahu, "Tao dan aku memiliki hubungan pertemanan yang rumit. Sedangkan Chanyeol dan aku telah saling mengenal seumur hidup." Tangan Sehun meluncur di punggungku. "Aku berani bertaruh, Tao pasti membencimu."

Aku tidak begitu yakin. Kami tidak pernah berinteraksi semenjak malam itu. "Kami tidak terlalu saling mengenal."

Sehun memberengut. "Benarkah? Itu aneh."

"Sehun! Kau di sini." Seorang wanita berseru saat dia memasuki ruangan. Dia menolehkan kepalanya untuk melihat gadis berambut merah dengan rambut panjang ikal yang tebal yang memiliki tubuh berlekuk yang dibalut oleh gaun satin hitam. Ini mungkin yang akan mengalihkan perhatiannya. Aku mulai melangkah dan kembali kearah dapur. Momen keberanianku telah hilang.

Tetapi tiba-tiba tangan Sehun mencengkeram pinggulku, dengan erat memegangku agar diam di tempat. "Seolhyun." Hanya itu jawaban yang Sehun berikan. Mata cokelat besar gadis itu beralih dari Sehun kepadaku. Aku merasa tidak berdaya ketika dia melihat tangan Sehun yang diletakkan di pinggulku. Bukan ini yang kuinginkan. Aku butuh berbaur.

"Siapakah dia?" Si gadis memusatkan matanya dan memandang sepenuhnya padaku.

"Ini Kyungsoo. Adik barunya Chanyeol." Sehun menjawab dengan nada bosan.

Si gadis menyipitkan matanya dan kemudian dia tertawa. "Tidak, pasti bukan. Dia mengenakan gaun murahan dan sepatu yang lebih murah lagi. Gadis ini, siapapun katanya, sedang berdusta padamu. Tapi kau memang selalu lemah jika berhubungan dengan wajah cantik, ya kan, Sehun?"

Astaga. Seharusnya aku tetap tinggal di kamarku.

"Kenapa kau tidak kembali ke pesta dan menemukan beberapa pria bodoh untuk mempertajam kukumu, Seolhyun?" Sehun berjalan menuju pintu dimana sebagian besar pesta berada dengan tangannya masih berada kokoh dipinggulku, memaksaku untuk pergi bersamanya.

"Kupikir aku hanya ingin pergi kekamarku. Seharusnya aku tidak datang kesini malam ini," kataku, berusaha menghentikan kami masuk ke dalam pesta. Aku tidak perlu berjalan kesana dengan Sehun. Sesuatu mengatakan kepadaku itu adalah ide yang buruk.

"Kenapa kau tidak menunjukkan kamarmu? Aku ingin melarikan diri juga."

Aku menggeleng. "Tidak cukup ruang untuk kita berdua."

Sehun tertawa dan menunduk untuk mengatakan sesuatu ditelingaku disaat mataku terkunci dengan tatapan mata perak Chanyeol. Dia menatapku lekat. Dia terlihat tidak senang. Undangannya hari ini hanyalah sopan santun yang keluar dan sesungguhnya tidak diharapkan? Aku salah mengerti?

"Aku harus pergi. Aku tidak berpikir bahwa Chanyeol menginginkanku disini." Aku berbalik untuk menatap Sehun dan melangkah keluar dari pelukannya.

"Omong kosong. Aku yakin dia terlalu sibuk untuk khawatir tentang apa yang kau lakukan. Selain itu mengapa dia tidak ingin melihatmu di pesta adik perempuannya yang lain?"

Ada adik perempuan lagi. Mengapa Kai mengatakan kepadaku bahwa Chanyeol tidak punya saudara kandung? Tao jelas adiknya.

"Aku, uh, baiklah, dia tidak benar-benar menyatakanku sebagai keluarga. Aku hanya saudara yang tidak diinginkan dari suami baru ibunya. Aku sebenar nya hanya disini untuk beberapa minggu lagi sampai aku bisa pindah sendiri. Aku bukan penghuni tetap dirumah ini." Aku memaksakan senyum, berharap Sehun akan mendapatkan gambaran dan membiarkanku pergi.

"Tak ada tentangmu yang tidak diinginkan. Bahkan Chanyeol tidaklah sebuta itu, sialan," kata Sehun mendekatiku kembali karena aku menjauh.

"Kemarilah, Kyungsoo." Suara menuntut Chanyeol datang dari belakangku tangan besarnya menyelinap dilenganku menarikku padanya. "Aku tidak menduga kau datang malam ini." Peringatan dalam nadanya mengatakan bahwa aku salah mengerti tentang undangannya. Dia benar-benar tidak serius.

"Maafkan aku. Kukira kau bilang aku bisa datang." Aku berbisik, memalukan kalau Sehun bisa mendengarnya dan yang lainnya sedang menonton. Saat ini aku memutuskan untuk menjadi berani dan keluar dari rasa malu dari kejadian ini.

"Aku tidak menduga kau muncul dengan pakaian seperti itu," jawabnya dengan tenang namun mematikan. Matanya masih diarahkan pada Sehun. Apa salahnya dengan pakaianku? Ibuku telah berkorban untuk ku agar memiliki gaun ini dan aku tidak pernah sempat untuk memakainya. Enam puluh dolar adalah uang yang banyak bagi kami ketika dia membelinya. Aku sudah muak dengan sekelompok orang bodoh manja berakting seperti aku mengenakan sesuatu yang menjijikkan. Aku mencintai gaun ini. Aku mencintai sepatu ini. Orang tuaku bahagia dan sudah pernah saling jatuh cinta. Sepatu ini adalah bagian dari itu. Sialan mereka semua.

Aku menghentak pergi dari Chanyeol dan kembali ke dapur. Jika dia tidak ingin aku disini karena teman-temannya menertawakannya, maka dia harus mengatakannya. Sebaliknya, dia membuatku merasa seperti orang bodoh.

"Apa masalahmu bung? Sialan." Tanya Sehun marah. Aku tidak melihat kebelakang. Aku berharap mereka berkelahi. Aku berharap Sehun mematahkan hidung sempurna Chanyeol yang menjengkelkan. Aku meragukan karena meskipun Chanyeol salah satu dari mereka, dia terlihat lebih kasar.

"Kyungsoo, tunggu." Kai memanggil dan aku ingin mengabaikannya tapi sekarang dia adalah teman terdekat ku disini. Aku melambat ketika aku mencapai lorong dari semua penonton dan membiarkan Kai mengejarku.

"Itu tidak seperti yang kau pikirkan," kata Kai, muncul dibelakangku. Aku ingin tertawa. Dia sangat dibutakan oleh saudaranya yang bersangkutan.

"Tidak masalah. Seharusnya aku tidak datang. Seharusnya aku tahu ajakannya tidak serius. Aku berharap dia mengatakan kepadaku untuk tinggal dikamarku seperti yang di inginkannya. Aku tidak mengerti dengan permainan kata-kata." Aku menghentak dan berjalan melalui dapur langsung menuju pantry.

"Dia memiliki masalah. Aku akan berbicara dengannya. Tetapi apa yang dia lakukan adalah berusaha melindungimu dengan caranya aneh yang mengacaukan," kata Kai saat tanganku bertemu pegangan kuningan dingin dipintu pantry.

"Tetaplah percaya pada nya, Kai. Itulah hal terbaik yang dilakukan saudara," jawabku dan menyentak pintu terbuka dan menutupnya dibelakangku. Setelah mengambil beberapa napas dalam untuk meringankan sakit di dadaku aku pergi ke kamarku dan tenggelam ke tempat tidur.

Pesta bukanlah untuk ku. Itu kedua kali nya kualami dan yang pertama tidak jauh lebih baik. Sebenarnya itu mungkin lebih buruk. Aku pergi untuk mengejutkan Kris dan malah aku yang menjadi terkejut. Dia ada di kamar Jessica dengan payudara telanjang nya ada di mulut Kris. Mereka belum berhubungan seks, tapi tentu saja mereka akan segera melakukannya. Aku menutup pintu diam-diam dibelakangku dan keluar melalui pintu belakang. Beberapa orang melihatku dan tahu apa yang sudah kualami. Kris muncul di rumahku satu jam kemudian memintaku untuk memaafkannya dan menangis sambil berlutut.

Aku mencintainya sejak aku berusia tiga belas tahun dan dia memberi ciuman pertamaku. Aku tidak bisa membencinya. Aku hanya membiarkannya pergi. Itu adalah akhir dari hubungan kami. Aku menenangkan hati nuraninya dan kita tetap berteman. Terkadang dia dalam kondisi buruk dan mengatakan bahwa dia mencintaiku dan ingin aku kembali tetapi dari semua itu dia memiliki seorang gadis berbeda di belakang mustangnya disetiap akhir pekan. Aku hanyalah kenangan masa kecilnya.

Malam ini tidak ada yang menghianatiku. Aku baru saja dipermalukan. Meraih kebawah aku melepaskan sepatu ibuku dan menempatkan mereka kembali dengan aman dikotaknya penyimpanan nya. Lalu aku menempatkannya kembali ke dalam koperku. Aku seharusnya tidak mengenakannya malam ini. Lain kali aku mengenakan sepatunya akan menjadi saat istimewa. Pasti untuk seseorang yang istimewa.

Aku melakukan hal yang sama pada gaun ini. Aku menaruh kembali ketempatnya dan akan memakainya untuk seseorang yang mencintaiku dan berpikir aku cantik. Label harga pada gaunku tidak masalah. Aku mengulurkan tangan untuk membuka risleting ketika pintu terbuka dan ruangan kecil ini sekarang terisi Chanyeol. Chanyeol tampak sangat marah.

Dia tidak mengatakan apa-apa dan aku membiarkan tanganku jatuh kembali kesisiku. Aku tidak akan mengambil pakaianku yang baru saja terlepas. Dia melangkah masuk dan menutup pintu dibelakangnya. Dia terlalu besar untuk ruangan kecil ini. Aku harus mundur dan duduk ditempat tidur sehingga dia bisa menyesuaikan tanpa kita bersentuhan.

"Bagaimana kau mengenal Sehun?" Dia menggertak.

Aku menatapnya dengan bingung dan bertanya-tanya mengapa dia tidak suka aku mengenal Sehun. Bukankah mereka berteman? Apa itu? Dia tidak ingin aku berada disekitar teman temannya. "Ayahnya adalah pemilik Country Club. Dia bermain golf. Aku melayani minumannya."

"Kenapa kau memakai itu?" Tanyanya dengan suara keras yang dingin.

Ini adalah keadaan tersudut yang tidak menyenangkan. Aku kembali berdiri kemudian berjinjit pada ujung jari kakiku, agar aku berhadapan dengannya. "Karena ibuku membelikannya untuk kukenakan. Aku mempertahankannya dan tidak pernah mendapat kesempatan. Malam ini kau mengundangku dan aku ingin menyesuaikan diri jadi aku memakai yang terbaik yang ku punya, aku minta maaf kalau tidak cukup baik. Kau tahu bagaimanapun aku tidak peduli. Kau dan semua teman-teman mu yang sombong dan manja bersikap terlalu berlebihan."

Aku mendorong dadanya dengan jariku dan melotot menantangnya untuk mengatakan sekali lagi tentang pakaianku.

Chanyeol membuka mulutnya kemudian memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya. "Sial!" Geramnya. Kemudian matanya terbuka lebar dan tangannya tiba-tiba dirambutku dan bibirnya mendarat dibibirku. Aku tidak tahu bagaimana untuk bereaksi. Bibirnya lembut tapi menuntut saat dia menjilat dan menggigit bibir bawahku. Lalu dia menarik bibir atasku kemulutnya dan menghisapnya lembut. "Aku sudah lama ingin mencicipi bibir penuh yang manis ini sejak kau berjalan kedalam ruang tamuku," gumamnya sebelum menggelincirkan lidahnya kedalam mulutku saat aku tersentak mendengar kata-katanya. Dia terasa seperti mint. Lututku lemas dan aku mengulurkan tangan meraih bahunya untuk menahan kestabilan ku. Kemudian lidahnya membelaiku seakan memintaku untuk bergabung dengannya. Aku melakukan usapan kecil dimulutnya dan kemudian menggigit lembut bibir bawahnya. Sebuah erangan kecil keluar dari tenggorokannya dan hal berikut yang kutahu aku sedang direbahkan ketempat tidur di belakangku.

Tubuh Chanyeol menimpa tubuhku dan aku merasakan ereksinya yang keras itu menekan kedua kakiku. Mata ku berputar dan kepalaku pening. Lalu aku mendengar erangan tak berdaya datang dari bibirku.

"Manis, terlalu manis." Chanyeol berbisik dibibirku sebelum mulutnya tiba-tiba menjauh dan melompat kebelakang. Matanya memusatkan perhatian pada gaunku. Aku menyadari sekarang gaunku sudah ada di sekeliling pinggangku dan celana dalamku terlihat. "Sialan," dia mengutuk kemudian memukul tangannya kedinding sebelum menyentak pintu terbuka dan keluar seperti sedang dikejar.

Dinding bergetar dari tenaga yang dikeluarkan saat menutup pintu. Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa. Jantungku berdebar-debar dan ada sakit yang kukenal diantara kedua kakiku. Aku sudah pernah terangsang sebelumnya melihat adegan seks di TV tetapi tidak pernah seintens ini. Aku merasa sangat dekat. Dia tidak mengiginkannya tetapi dia sedang terangsang. Aku merasakannya tetapi kemudian aku juga melihat dia berhubungan seks dengan seorang gadis. Selain itu, aku tahu semalam dia berhubungan seks dengan gadis lain dan kemudian mengirimnya pergi. Mendapatkan Chanyeol sedang ereksi bukanlah sebuah prestasi besar. Aku tidak benar-benar mencapai apapun. Dia hanya marah karena miliknya sudah kurangsang.

Itu menyakitkan. Mengetahui dia sangat tidak menyukaiku dan bahwa dia tidak ingin berpikir aku menarik untuknya. Denyutan di antara kedua kakiku perlahan-lahan memudar karena kenyataan yang ada. Chanyeol tidak ingin menyentuhku. Dia sangat marah karena itulah dia. Meskipun terangsang dia masih bisa menjauh dari ku. Aku sadar aku berasal dari kelompok kecil. Kebanyakan gadis-gadis yang diinginkan bukanlah dari kelompok kecil sepertiku. Aku adalah orang miskin yang terjebak dengannya sampai aku punya cukup uang untuk pindah.

Aku berguling dan meringkuk menjadi bola. Mungkin aku tidak akan mengenakan gaun ini lagi. Hanya akan menjadi kenangan menyedihkan. Sudah waktunya aku mengemasnya pergi demi kebaikan. Meskipun malam ini aku akan tidur dengan memakainya. Ini akan menjadi perpisahan di dalam mimpiku. Yang mana aku cukup diinginkan bagi beberapa pria.

•••


udah foreplay /? nih ea :v seperti biasa, Kyungsoo direbutin cogan :p cogan mana favoritemu? Wkwk

Thanks bgt yg udah review, follow dan favorite saranghae :* /plak/ :'v hayuk jgn bosen ya, pantengin terus ceritanya ㅋㅋㅋ ^^


Ttd

Anggur