Judul : Imperio
Author : AriaMoonie
Cast : OT12
Desclaimer : Sihir-sihir didalam ini punya JK. ROWLING, mereka OT12 (EXO) bukan punya saya tapi cerita ini punya saya.
.
.
Lelah. Kata serupa mantera yang berulang kali dirapalkan. Sakit hatipun sudah terlalu sering ku ucapkan, sialan sudah menjadi trademark bagai umpatan.
.
Sehun atau kerap kali dipanggil Sehun-gila, Sehun-nakal, dan Sehun-lain-lain itu bukan hal paling menyakitkan yang Sehun rasakan, tapi ini tentang hatinya kawan-kawan. Iya, hati Xiu Sehun atau lebih dikenal anaknya Flowerboy alias Xiu Luhan, itu sibuk menopang dagunya dengan kerutan wajah minta ditertawai karena saking nelangsanya wajah tirus yang sebenarnya gemesin sekali tapi amit-amit karena kalau sudah berbuat rusuh, wajah tirus itu bisa ngundang minta ditampar berkali-kali bukan pake tangan tapi nampan punya ibu kantin.
"Adikku yang unyu ngalahin boneka chukky ini, lagi kenapa?"
Sehun malah merengut nggak suka, menurut Sehun, Xiu Luhan itu bisa sebaik malaikat tapi bisa menghororkan kalau dia lagi mau.
"nggak usah kepo, deh!"dia jawab kasar, merasa jengkel juga disamain sama boneka chuky yang jelas jauh dari kata imut itu, Luhan itu ganteng banget, cantiknya bahkan ngalahin primadona sekolahan ini, tapi dia itu aneh dan agak gimana ya...yang pasti Sehun sayang sesayangnya sama orang yang paling inget kalau Sehun itu masih hidup dan masih ada didunia ini, bukan makhluk kasat mata yang dicueki.
"idih, kasar amat lo. Muka Abstrak!"Tao ikut komentar juga, nggak suka kali sama sikap Sehun yang memang tergolong kasar apalagi Luhan kan lebih tua 2 tahun dari Sehun.
"diem aja lo, Zi-nyebelin-panda."sewot Sehun, wajahnya makin berlipat-lipat kusutnya.
Tao juga ikutan ngambek, "gue lebih tua 1 tahun dari elo, chubby. Hargain gue dong, Sehun-attitude!"
"kembaran panda tuh diem aja, jangan ikut nanya juga, nggak tau masalah tuh jangan asal ngambek aja!"
O-oh, oke... Tao mingkem sekarang. Niatnya kan mau ngajak cowok chubby itu buat diajak debat, terus ketawa diakhirnya, namun untuk kali ini sepertinya Tao salah cara, dan berakhir nggak bagus karena wajah tirus yang 100% unyu itu malah mengundang untuk dicakari.
"Mau gue beli'in es krim kiko 1 pack, nggak? Biar seger dikit itu muka!"sosok ganteng menjulang, bergigi rapi yang charming muncul gitu aja dari arah depan, memandang Sehun dengan sorot mata jahanam yang sialan sekali bikin jantung Sehun berdetak nggak karuan.
"eh, hai Kris!"sapa Luhan ramah, emang dasarnya Luhan itu ramah banget sih, pedagang asongan aja dia sapa, apalagi si coker (cowok keren) sejenis Wu Yifan aka Kris, udah ganteng, kalau ngerapp nyaingin Drake, beduit pula ah pokoknya pacar idaman banget dah.
Kris menatap Luhan agak lama, flirting sih kalau orang yang matanya cuma sekali tangkap aja kalau kata lainnya tuh asal (tebak aja), mereka nggak tau kalau Kris itu takut sama Luhan -usut-punya usut, Kris pernah jadi korban salah tampar dari Luhan, dan membekas sampai sekarang.
"hai, juga Luhan-sshi!"tuh baca deh dia aja manggil Luhan dengan sapaan supeer formal gitu, Luhan kan masih muda cuma beda 2 tahun aja dari Kris tapi kenapa disapa mirip om-om kepala 5, Luhan masang ekspresi agak nggak suka gitu dan Kris lumayan peka jadi seorang pemuda, dia garuk-garuk kepala nggak enak.
"Luhan-gege, nggak ikut kumpul sama osis lain, bukannya 1 bulan lagi ada classmeetingkan?"
Diralatlah oleh Kris dengan sapaan lebih sesuai maka dari itu Luhan kembali memasang wajah cerah.
Saat Luhan sudah berlalu pergi sambil melambai dan Kris membalas dengan senyuman sopan, Ia berniat kembali berinteraksi dengan si lucu Sehun –adik dari Xiu Luhan, "Loh?"
Namun sosok albino berwajah unyu ngalahin pororonya Kim Jongin itu sudah tidak ada disana, ketika menggeser kepalanya kearah kiri, ditemukanlah sosok Sehun yang berlari terbirit sambil menutup muka, "ahahaha, dia segugup itu ya. Manis sekali."gumam Kris, lalu dia kembali melanjutkan berlatih quiditch bersama satu Tim –kebetulan si ketua tim lawan sudah sejak tadi memperhatikan Kris dengan begitu tajam.
"Ada yang salah denganku, Tuan Jongin?"tanya Kris dengan nada menyindir. Dia mengambil sapu terbang miliknya dan mulai mengudara, dan berhadapan dengan Jongin yang menatapnya sangat intens.
"Kau mengenali si kerempeng itu?"tanya Jongin dengan nada datarnya.
"Ah, diakan murid pindahan dari sekolah Sihir di China yang baru masuk tahun ini. Aku mengenalnya karena dia adik Xiu Luhan, senior kita."jawab Kris santai.
"Kau menyukainya?"
Kris menoleh dengan pundak terangkat, "Mungkin malah dia. Hahaha, entahlah dia terlalu polos. Bukan tipeku sekali"Kris menjawab cuek, Ia melajukan sapu terbangnya bergabung bersama timnya yang lain, tak menyadari betapa tajamnya tatapan Jongin teruntuknya.
"Baguslah."Kim Jongin tak pernah merasa begitu lega.
.
Jongin melirik pemuda kelebihan putih disebelah kirinya, berjongkok dengan wajah memelas, ini di luar dugaan Kim Jongin.
"Kau tadi siang hampir menghanguskan seluruh rambutku tapi sekarang kau memintaku menjadi mentormu untuk menghadapi ujian yang diadakan oleh Cho-ssaem?"Jongin berkata dingin dan mengingatkan kejadian beberapa jam lalu.
Sehun menunduk sebentar dia mengingat hal itu. "Ah, yang itu."
Bagaimana aku bisa lupa, itukan penyebab jika kau bertemu denganku pasti menebarkan aura membunuh'Inner Sehun membatin ngeri.
Saat mengingat seharian ini Jongin selalu memberinya tatapan membunuh, di kantin tadi –berakhir dengan Sehun yang dimantrai Aguamenti-, di kelas ramuan Mr. Heechul –Sehun yang salah ramuan itu karena sihir Kim-Kampretos-Jongin- bahkan ketika mereka tak sengaja bertemu muka didalam Toilet. Ih, dasar syaiton –menebarkan ketakutan dimana-mana, gara-gara dia tuh salah satu temannya pingsan karena tidak tahan menahan aura membunuh Jongin yang sebelas-dua belas dengan Si Voldemort -eh itu kejauhan, miriplah sama Si Sasuke Cuma beda warna kulit saja, iya kulit. Kenapa jadi ngomongin siganteng itu?
"Iya, yang itu."kata Jongin masih betah dalam mode datarnya itu.
"Aku harus bagaimana?"tanya Sehun, serius deh kalau bukan Sehun yang menghentikan terror si kembaran Sasuke tapi beda kulit ini –siapa lagi, Sehunkan sadar dia salah.
"Mati saja."
Sehun memberengutkan wajahnya dengan sebal."Kau saja sana."
"Apa?"
Sehun menunduk dengan wajah ngeri, "Tidak, tadi ada lalat lewat."elak Sehun tak ingin dimantrai oleh Kim Jongin sebagai bentuk balas dendam.
.
Flasback...
Sehun asyik dalam lamunannya sendiri –eum, lebih tepatnya dia sedang berusaha untuk tidak tertidur ditengah-tengah pelajaran, apalagi sekarang adalah pelajaran dari salah satu guru killer yang doyan menghukum muridnya –namanya Cho Kyuhyun.
"Hei, Sehun-saeng."
"Hm."sahut Sehun agak tidak niat ketika suara seorang temannya menyapa dari arah samping kiri.
"Jangan sampai ketiduran."kata temannya itu memperingati.
Sehun mengangguk dengan wajah luar biasa ngantuknya. "Enghuoaam.."dan suara menguap serta ujung mata berairlah yang menjawab teguran dari Baekhyun, si penegur hanya menggeleng saja, dia kembali melihat kearah depan –dimana guru paling killer sendiri itu tengah memandang kearah mereka-, eh tunggu..."Shit, Hun-saeng. Si Cho-setan-Kyuhyun sedang memperhatikanmu."bisik Baekhyun tersenyum sok disopan-sopani ketika Cho kyuhyun masih saja menatap kearahnya juga Sehun secara bergantian.
"Kalau kalian masih berbicara akan lebih baik kalian keluar dan tolong bersihkan toilet digedung barat."itu dikatakan dengan suara pelan tapi menusuk, Sehun seketika membuka mata –sadar diri bahwa dirinya lah yang sedang ditegur. Baekhyun menunduk takut, dia termasuk murid bengal bersama dengan Sehun tapi kenakalannya itu akan terkunci rapat jauh begitu dalam, saat mata kepala serta batinnya berada disekitar Cho Kyuhyun.
"Bisa praktekan ulang, mantera yang ku ajarkan baru saja."
Sehun mengangguk taku-takut, walau dia seperti tidak mendengarkan dan tidak peduli sekitarnya tapi dia tetap tahu apa yang mereka bicarakan maka dari itu dia maju tanpa keraguan.
Cho—ssaem menaikan alis, lalu tersenyum merendahkan. "Sepertinya kau percaya diri sekali."komentarnya.
Sehun mengangguk saja tak ingin berbicara, dia cari aman –bung. Terakhir kali dia berbicara sepatah kata pada Cho-ssaem...–tubuhnya bergelantungan terbalik dan sensasinya masih membekas sampai sekarang kalau kalian mau tahu.
"Hmm, baiklah diam berarti Iya. Jadi, nah Kim Jongin –sebagai murid terbaik ditahun kedua, bisakah kau beradu sihir dengan juniormu ini."katanya.
Sehun mendengus, dia mulai mengeluarkan tongkat sihirnya dari saku jubah hijaunya –ya dia memang salah satu murid di Slytherin. Sementara senior yang baru saja dipanggil guru paling killer sendiri itu berasal dari Asrama Singa –Gryffindor.
Langkah tegap itu jelas menarik para siswi yang menggilai Kim Jongin –si dingin yang bertalenta, ketua Chaser, dan sebagainya –Sehun terlalu malas menyusun kata-kata untuk seniornya yang satu ini, bisa menghabiskan lembaran kertas jika dijelaskan, baiknya nikmati saja dan kalian akan menemukan bagaimana bentuknya Kim Jongin itu.
"Oke, mulai perang manteranya. Pertama dimulai darimu Kim Jongin."perintah Cho-ssaem.
Jongin mengangguk dengan raut datarnya yang bernilai -mahal, kalau kata para siswi sih –ekspresi Cool, hnh tinggalkan tambahkan kata 'Ice' didepannya, maka jadi Ice Cool dan –Jadilah es batu Jongin, ada yang aneh...sudahlah lupakan pemikiran Sehun barusan.
Mari fokus pada perang mantera yang akan dimulai oleh Jongin.
"Expelliarmus –"Jongin merapalkan mantera yang baru saja diajarkan Cho—ssaem dan berhasil dalam sekali coba, -sihir itu menerbangkan tongkat Sehun dan jatuh tepat dihadapan Kim Jongin. Mau tak mau dengan wajah super malas, Sehun melangkah mendekati Jongin berniat mengambil tongkat sihirnya.
Takk!
Belum kaki Sehun melangkah, tongkatnya sudah ditendang semena-mena hingga mengenai jidat mulusnya, Sehun beusaha keras untuk tidak berteriak meski emosinya sudah berada diujung mulut seksinya. "Nah, kali ini giliranmu Sehun."kata Cho-ssaem.
Sehun mengangguk dengan senyuman sinis, tatapannya menusuk sebal ketika dengan jelas Kim Jongin tengah memberi senyuman penuh ejekan kepada Sehun –menyebalkan, kalau bisa Sehun ingin menendang wajah tampan –bastard itu.
Tanpa disadari siapapun Sehun sudah merencanakan sesuatu diotak –kirinya, tempat dimana hal-hal keji berada, balas dendam ceritanya. "Expellimellius!"
Jongin jelas melotot, "AAAGH RAMBUT BERHARGAKU!"pekiknya saat api kecil membaka rambut hitamnya bagian keningnya.
Sehun tertawa puas, dia kembali merapalkan mantera lainnya. "AGUAMENTI!"dan berakhir dengan tubuh Jongin yang basah kuyup dari atas kepala hingga kebawah kakinya
Par a murid meneguk ludah bersamaan bahkan Cho-ssaempun mundur tiga langkah seolah tak ingin ikut campur akan apa yang Sehun lakukan.
"Kau cari mati ya."
Tawa Sehun langsung terhenti, matanya menyipit lucu –eye smile menggemaskan itu menggantung pada matanya, bibirnya tersenyum manis. "Ini perang mantera seperti Cho—ssaem bilang."Sehun mengelak dan melampiaskan kelakuannya pada Cho-ssaem.
"HEI, BOCAH!"Cho-ssaem berseru tidak terima.
"Kau belum pernah mengenalku kan."Jongin menekan setiap katanya.
Sehun menggeleng dramatis. "Untuk apa juga mengenalmu, memangnya kau artis?"sarkas Sehun meremehkan. "Jangan merasa jadi selebritis sementarng fansmu banyak disini."Sehun memang suka berkomentar selama dia ingin dan itu tengah Ia lakukan kepada orang yang salah.
"KAU GILA!"seorang siswa berteriak.
"SAMPAIKAN SALAMKU PADA NENEK DISURGA!"Sehun kenal itu, karena itu suara Park Chanyeol.
"SEHUN AKU TADI MENCURI BEKALMU, MAAFKAN AKU YA!"
Sehun terheran, ada apa sih. Sehunkan hanya mengerjai Kim Jongin dan bukannya sedang sekarat. "KALIAN BERLEBIHAN!"jerit Sehun marah-marah.
"Hei, Xiu-kerempeng-Sehun."sapaan yang bernada dingin dan sarat akan ancaman itu berhasil menarik rasa ngeri disudut hati Sehun.
Aku akan mati, mati –hati kanannya berulang-ulang merapalkan kata mati.
Tendang dia –tendang alat 'itunya' –hati kirinya membatin jahat dan Sehun lebih setuju yang kiri maka dari itu dia melayangkan kakinya dan tepat mengenai anu Jongin –kemudian tubuhnya berbalik dan lari dari sana –"XIU-KEREMPENG-SEHUN!"disusul dengan teriakan murka dari Kim Jongin.
.
"Enyalah sekarang, Xiu Sehun."usir Jongin untuk ke-5 kalinya, dengan wajah lempengnya yang minta digaplok.
Sehun masih bertahan dan beralasan. "Ini perintah dari Cho-ssaem, dia memberiku pilihan dilatih oleh Senior Kris atau Kau, yah aku dengan senang hati memilih dirimu."tegas Sehun.
"Meskipun –aku tetap tidak mau."
"Ayolah."
"Tidak."
"Kau memang –ck, Jongin-sshi?"
Jongin mendengus saat anak ini masih saja berusaha bahkan merayunya dengan memanggil lebih formal, maaf ya Jongin bukan anak kecil yang gampang luluh hanya karena dipanggil lebih sopan.
."Jongin-sshi."
"Hm?"
"Jongin-sshi."
"Enyahlah, Sehun."
Si cowok bernama Sehun merengut sebal. Tapi, dia tidak boleh menyerah hanya karena di usir ratusan kalipun, karena dia sudah membulatkan tekad untuk menjadikan Jongin –si cowok yang terkenal galak dan cuek akut ini menjadi tutornya selama 1 bulanan ini. "Please, aku minta waktumu..."Sehun menarik nafas dan mengeluarkannya pelan sekali hanya untuk menghitung waktu yang cukup dan sekiranya disetujui oleh Jongin."–5 menit saja."dan itu adalah keputusannya.
Terdengar helaan nafas tidak suka dari cowok bermata hitam itu. "Baiklah."
Hanya satu kata dan bagi Sehun itu sudah anugerah sekali. Dia mengambil kursi di sebelah Jongin dan mulai mengatakan apa keperluannya tanpa berbelit-belit. "Jadi, aku ingin kau menjadi tutorku selama 1 bulan. Untuk mengajari mantera -Petronus"singkat padat dan to the point.
Sehun menggaruk pipinya tidak sabar menunggu jawaban dari bibir kissable itu. "Bagaimana?"ada rasa takut, berharap, memohon di sorot mata Sehun dan Jongin cukup sadar untuk mengetahui arti sorot mata itu.
Jujur saja, rasanya aneh, Jongin tak pernah menduga ada saja adik kelas gila yang memintanya menjadi tutor untuk mengajari teknik melindungi diri dari para –dementor, pelatihan ini bahkan tidak hanya sehari atau 2 hari, ini lebih dari 2 hari alias-1 bulan lamanya.
Padahal deretan -senior yang lebih mampu, pintar dan berpengalaman banyak sekali dan tinggal pilih saja dari 300 pelatih yang disediakan tapi kenapa bocah beriris coklat hazel ini malah memilihnya.
"Berikan satu alasan, kenapa kau memilihku menjadi tutormu?"ini murni karena rasa penasaran dan tidak ada maksud lain.
Sehun mengerjap kaget, dia tidak menduga Jongin akan mengajukan pertanyaan semacam itu. Tapi, dia hanya menjawab spontan juga jujur. "Karena aku ingin."pendek tapi Jongin sudah merasa cukup untuk itu. Setidaknya, dia tahu bahwa tidak ada niatan lain dari pemuda itu. Setidaknya, untuk sekarang.
"Oke, aku setuju. Malam ini temui aku di lapangan Quiditch, jam 7 malam."tanpa menunggu Sehun berkata 'setuju' atau 'tidak setuju', Jongin sudah melangkah pergi dengan buku-buku tebalnya yang berserakan diatas meja.
"HEI –BUKU-BU –"Sehun memutus teriakannya sendiri saat dilihatnya Jongin telah menghilang dari ambang pintu perpustakaan.
"Jangan membuat keributan disini."dan harus rela telinganya panas karena mendengar teguran dari si penjaga perpustakaan. "Lalu, bereskan buku-bukumu."titahnya lagi tegas dan jelas tak ingin dibantah. Sehun hanya mengangguk, jemarinya bergerak malas untuk menumpuk satu-persatu buku-buku yang dilihat dari luar saja sudah membosankan dan beraksra huruf kuno. "Wow, buku apa ini rusia atau perancis. Aku tidak pernah mempelajari huruf-huruf aneh ini."gumam Sehun kagum. Seumur-umur yang dihafalnya hanya bahasa indonesia saja juga tahu sedikit berbahasa jawa.
Setelah menumpuk buku-buku tebal itu, dia tak sengaja membaca sampul buku paling atas dan kebetulan dalam bahasa Indonesia. "Pangeran Kegelapan. Aku tidak tahu dia suka membaca buku dongeng seperti ini."Sehun segera mengangkat buku itu dan menyimpannya sesuai abjad yang ada dipinggiran buku-buku itu. "Astaga! Mentang-mentang tubuhnya besar dan berotot, dia membopong buku sebanyak ini."Sehun itu tipe pengeluh dan Tao serta Kyungsoo terlalu hafal akan kekurangan Sehun yang satu ini.
"SEHUN!"
Sehun tidak perlu menoleh atau menyahut karena dia tahu itu adalah suara Tao, "Kenapa kau ada disini?"heran Tao saat tubuhnya sudah cukup dekat dengan Sehun. Sehun itu terkenal murid-baru-bengal sejak awal peresmian murid dan pembagian Asrama, dan jelas sekali murid setipe Sehun nggak banget deh mau-maunya menginjakan kaki diperpustakaan. "Kerasukan hantu perpus."jawab Sehun cuek.
Tapi, Kyungsoo secara sengaja menggeplak kepala Sehun dengan satu buku yang diambilnya dari salah satu lemari terdekat. Mata bulatnya mendelik. "Kalau ngomong jangan asal, nanti beneran dirasukin aku nggak akan mau nolongin."katanya dingin, Kyungsoo itu punya suara lembut dan kuat tapi sayangnya selalu dipakai dengan nada suara lurus dan nggak berintonasi, kalau semisal pemuda berwajah imut ini punya kembaran maka yang sesuai adalah Jongin.
Keduanya punya kepribadian yang nggak beda jauh, sama-sama cuek parah.
Yang membedakan mereka adalah jenis kelamin juga Kyungsoo itu sahabat sejak TK sedangkan Jongin baru dikenalnya sejak Ia menjadi murid di sekolah berasrama ini.
"Kalian ngapain kesini?"tanya balik Sehun, nggak pengen tahu sih tapi cuma ingin basa-basi saja.
"Mencari dirimu."jawab Tao, alis matanya terangkat ingin tahu dan Sehun dengan sinis berkata keras. "APA!?"
Tao mencibir sebal. Tidak jadi bertanya tapi dengan sengaja menyenggol 3 tumpuk buku yang tersisa dipelukan Sehun dan sialnya lagi terjatuh tepat mengenai kaki Sehun dan menghasilkan teriakan marah dari pihak Sehun juga seruan murka dari penjaga perpustakan.
"TAO!"
"KALIAN!"
Sehun, Tao serta Kyungsoo menoleh serentak kearah sumber suara, disana tepat 3 langkah disamping kanan mereka berdiri Ryewook-ssaem, pria penjaga perpustakan yang tertibnya nggak bisa ditoleransi, berisik sedikit seperti sekarang pastilah mereka berakhir membersihkan buku berantakan atau parahnya membersihkan perpustakaan lantai 5, dimana debu dan buku yang rapinya 1 -2pun masih untung, disana adalah perpustakaan khusus kelas XII dan jelaslah kerapian tidak terlalu ditertibkan ini karena kepentingan belajar lebih utama.
Apanya? Teori darimana itu, meski kelihatannya enak didengar toh nyatanya itu tidak begitu karena yang bertugas merapikan buku-buku berantakan itu adalah anak-anak angkatan bawah alias kelas X dan mereka tidak beruntungnya adalah kelas X.
"Saya sudah memperingati kalian, dan astaga –bukankah kalian yang kemarin membuat keributan diperpustakaan yang saya jaga juga."kata beliau terlihat sekali ada nada kesal disuaranya.
Sehun menggaruk lehernya, "Benar, Sir."akunya, dua temannya ikut mengangguk menyetejui perkataan Sehun.
"Ck, hukumannya sama. Bersihkan perpustakaan dilantai 5...SEKARANG!"
.
Drrt Drrt!
"Halo?"
"Ini Sehun?"
"Iya, Anda siapa?"
"Jongin."
"Eh, Jongin-hyung. Dapar nomorku darimana, -hyung?"
"Itu tidak penting, kau sekarang berada dimana. 1 jam lagi, ke lapangan Quiditch."Sehun melirik jam tangan dipergelangan kirinya, "bukannya jam 7 malam, sekarang masih jam 4 sore."kata Sehun.
"Eh, Apa aku berkata seperti itu tadi?"
Sehun merasa heran.
"Em, iya -hyung"
"Jadi, secara tidak langsung kau berpikir aku ini mengidap kepikunan?"
Sehun dibuat gelagapan mendadak. "Bukannya begitu –hyung, aduh begini –chk, itu...—"
"Sudahlah, cepat datang atau aku tidak akan bersedia menjadikanmu muridku lagi"
"eh –"
Tuuut! Tuuth!
"kok, diputus. Heh, sudah kenyang mengupingnya?"sinis Sehun, dia sadar sekali kalau 2 temannya itu menguping dan sekarang berpura-pura merapikan buku padahal bukannya rapi buku-buku itu malah makin berantakan.
"itu lain abjadnya, Tao. Sebelah sini harusnya"omel Sehun, dia menoleh kearah Kyungsoo.
Si cuek itu juga sama salahnya. "Kau juga salah taruh, aduh kalau begini kapan selesainya!"Sehun pasti merasa frustasi kalau 2 temannya itu ikut kena masalah, "sudahlah pakai mantera saja."gumam Sehun.
"Heh!"
Ketiga menoleh dan Sehun ternganga kaget. "K-au K –"
.
.
.
Eyaaaa. Aku datang. Moonie datang... ayo reviewnya... aku bakal ngeramein KAIHUN Kalo kalian juga ngeramein lapak ku.. heuheu..
To be continued...
*big smile* *deep bow*
*saranghae* ^_^
