Cuplikan episode sebelumnya...
"Itu milikku tapi kenapa kau juga bisa menggunakannya dengan begitu mudah."
Pernyataan itu mau tak mau menghentikan tingkat kerusuhan Sehun yang berkali merapalkan mantera kesana-kemari dan membuat lapangan quiditch sedikit berantakan.
"Iya –ya, kata Cho-ssaem. Setiap tongkat sihir diciptakan hanya untuk satu orang dan orang lain yang memegang milik penyihir lain akan langsung terluka, kecuali mereka adalah sepasang mate atau –"
Jongin dan Sehun saling berpandangan.
"TIDAK MUNGKIN!"
Untuk kemudian berteriak dalam kengerian secara bersamaan.
.
.
.
Chapter 3 : Dunia mereka dan kita!
.
Dalam satu ruangan dengan aroma obat-obatan menguar terdapat 2 orang yang kini tengah saling berinteraksi dalam suasana menekan.
"Bawa dia tanpa terluka."
"Aku tidak yakin bisa semudah itu. Hubungan kami sangat buruk."
"Tidak. Aku yakin dia akan menurut padamu, seburuk apapun hubungan kalian."
"Kenapa Anda begitu yakin. Tidak ingatkah Anda, sejak kejadian mengenaskan itu. Ia benar-benar berubah 180o?"
"Meskipun dia awalanya menolak, aku yakin pada akhirnya dia akan tetap datang. Secara sukarela ataupun tidak."
"Apa maksud Anda, saya harus membawanya dengan keadaan tak sadarkan diri?"
"Kau mengerti dengan baik maksudku."
.
.
.
Judul : Imperio
Pairing
Kim Jongin x Oh (Xiu) Sehun
Slight Pair
Temukan dan Klaim detik itu juga.
.
Desclaimer : Mereka punya SM Ent. But, this is story is mine. Yeah, punya Moonie. Author lebay yang akan kesel ketika dipanggil THOR.
.
Rate : T aja ya. Kalo M, gak kuat ntar Moonie. Kalo kumat –mesumnya- bisa bikin yang ekhem-ekhem ntar. Eheueheu.
Well, Langsung Baca aja sebelum Moonie kebanyakan ngobral.
.
3
2
1
Ada kalanya dua manusia kelebihan stok emosi ini akan akur juga. Karena, setelah berteriak tidak jelas, kedua pria berbeda kulit dan fisik tapi sama-sama memiliki tinggi sejajar itu mendadak terdiam seperti patung usang.
Sehun tampak memasang wajah ingin muntah. Entah apa yang ada dipikirkan pemuda tampan menjurus cantik itu. Dia lebih pendiam semenjak Jongin bilang mereka bisa saja sepasang Mate, karena Sehun sangat mudah memakai tongkat sihir milik Kim Jongin tadi.
Berbeda dengan Jongin yang seperti biasa memasang ekspresi datar. Dingin dan tak terbaca.
Tidak mungkin.
Mana mungkin sitengil albino ini adalah Mateku.
Takdir terkadang memang menggelikan. Lebih baik kawin dengan unta jejadian saja daripada kawin dengan pemuda albino kelebihan susu ini. Ini omong kosong, pasti ada kesalahan. Nyatanya didalam innernya Jongin lebih berisik dari Sehun sendiri.
"Keju."Jongin yang selesai dengan konflik batinnya itu segera memecahkan keheningan. Panggilan baru yang diutarakan oleh Kim Jongin tidak langsung digubris oleh pemuda yang terduduk disebelah kiri tak jauh dari Jongin terbaring.
"HOI!"panggil Jongin sekali lagi.
Sehun menoleh dengan wajah malas, "Apa?"jawabnya.
Jongin terdiam sebentar. Dia juga bingung mau bilang apa. "Tidak jadi."kata Jongin akhirnya.
"Sialan."Sehun mendelik lalu kembali memandang kejauhan dengan wajah menggalaunya.
"Kau yang sialan."balas Jongin.
Keduanya saling berpandangan lalu sama-sama mendelik. "APA LIHAT-LIHAT!"teriak mereka bersamaan.
"Ish."Sehun menggaruk pipinya.
Jongin hanya mendengus.
Lalu hening lagi.
Siapa ya, kira-kira orang yang bisa menjawab keanehan ini. Pokoknya aku tidak akan langsung menerima hal menggelikan ini sebelum melihat buktinya dengan mata kepalaku sendiri. Pikir Jongin.
Tapi siapa yang mengetahui hal-hal seperti ini?
Cho-ssaem. Dia pintar sih, tapi belum juga bertanya, dia pasti langsung meninggalkanku. Pikir Jongin. Ia menghela nafas, buku-buku yang selama ini dibaca oleh Jonginpun jauh dari berbau hal semacam ini. Dia hanya tertarik dengan buku-buku yang berisi mantera-mantera kuno bukannya tentang ikatan semacam ini.
"Dementor!"
Jongin langsung terbangun dari tidurnya kala mendengar kata Dementor keluar dari mulut Sehun. Ia berdiri dan menatap sekeliling dengan waspada, alisnya menukik tajam ketika Sehun malah terpingkal-pingkal dibawah sana.
"Apa yang kau tertawakan, Keju!"tanya Jongin galak.
"Ahahaha, Aku tadi memanggilmu. Siapa yang mengatakan ada Dementor, huh?"perjelas Sehun, menjelaskan maksud dari teriakan cemprengnya barusan.
Jongin mendelik gemas, "Namaku Kim Jongin dari lahir, jangan seenaknya mengubah namaku!"protes Jongin, tidak sadar diri. Dia duduk lagi, matanya menyipit kesal.
Sehun mencibir, "Kau juga memanggilku, Keju."tandasnya, tak kalah kesal. "Mengenai hal tadi, sebaiknya kita tanyakan pada siapa, ya?"tanya Sehun, memilih untuk menyudahi pembicaraan mereka yang mulai memasuki jalur tidak penting. "Kau tahu tidak, Kutil."kata Sehun yang hanya dibalas tatapan tidak mengerti oleh Jongin. "Rasanya aneh ketika aku tidak merapalkan mantera-mantera kepadamu selama lebih dari 5 jam, sejak kita sampai disini. Ah, kalau tongkat sihir milikku sudah ditangan. Aku bersumpah akan merapalkan puluhan mantera pada wajah bulukanmu itu."
"Terserahmu saja, ya syukur-syukur kau menemukannya di tong sampah Asrama dan bukannya diHutan Kematian."
"HEI, KOK KAU BEGITU!"Pekik Sehun tak terima.
Jongin hanya tersenyum kalem. Matanya mendadak terpejam. "Sepertinya, aku tahu satu orang."kata Jongin tiba-tiba. Ingatannya tentang satu sosok yang sekiranya bisa menjawab kebingungan mereka ini muncul begitu saja. Juga setelah mendengar kata 'Aneh' yang Ia dengar dari bibir Sehun tadi.
Mata terpejam Jongin terbuka lagi, Ia menatap langit yang mulai dihiasi warna orange kemerahan. Gila, berapa jam mereka disini, kenapa langit sudah akan berganti malam saja. Ia melirik sejenak jam raksasa yang tinggi menjulang disudut kiri lapangan Quiditch. Sudah jam 5 sore. Niatnya ingin mengajari Sehun mantera Petronus, eh mereka malah berakhir melamun hal tidak penting begini.
Well, sudahlah. Itu bisa besok saja. Pokoknya masalah baru ini harus selesai dulu.
Mendengar Jongin berkata seperti itu, segera saja Sehun mendekati Jongin dengan menggeser pantatnya, kakinya bersila, kedua tangannya saling tergenggam, ekspresinya berubah bahagia dan antusias.
Wajah mereka sekarang hanya terpaut jarak 10 cm.
Terlalu dekat.
Dan itu membuat Jongin agak memundurkan wajahnya disertai raut risih. Satu telunjuknya teracung, mendorong semena-mena kening Sehun agar anak albino itu agak jauh dari mata hitam legamnya.
Sehun nyata saja menanggapi dengan dengusan ketika kepalanya didorong dengan kurang ajar begitu.
Ctak!
"Apa-apaan sih!"pekik Sehun sembari menggosok permukaan keningnya yang berdenyut nyeri saat Jongin tidak hanya mendorong keningnya menjauh tapi juga menyentil dengan sepenuh hati.
Jongin hanya menanggapi dengan wajah tak peduli. "Aku ragu kau mau pergi kesana."kata Jongin berkata tidak yakin.
Seolah meremehkan Sehun.
Hei, hei Sehun itu sudah biasa mendekati kematian. Jadi untuk apa ditakut. "Kau meremehkanku?"tanya Sehun sinis.
1 minggu lalu saja, Sehun bertarung dengan 3 beruang ganas ketika diberi tugas untuk mencari ramuan paling langka, dan meskipun itu misi solo toh dia bisa melewati itu bahkan masih mengacaukan dapur Madam Sooyoung setelah kepulangannya menyelesaikan misi.
Intinya, Sehun itu bukanlah anak lemah yang patut dikasihani ataupun diremehkan oleh Kim Jongin. Pemuda yang notabene adalah musuh sejatinya ini.
Jongin mengangguk kalem, wajahnya polos sepantat panci. Tak merasa berdosa karena meremehkan kejantanan seorang Sehun.
"Aku saja berani menghadapi kemarahan Kepala Sekolah, yang jelas pria paling menyeramkan dan berkuasa. Tidak ada yang membuat Seorang Sehun ketakutan. Jangan remehkan aku, KOPI LUWAK!"
Jongin berdecak. "Tempat tinggal orang itu ada didalam Hutan Penderitaan, di bagian Utara."papar Jongin, kelewat santai. Dia sukses menahan tawanya kala melihat ekspresi menggebu Sehun berganti raut ngeri yang berusaha ditutupi oleh pemuda bermarga –Xiu tersebut.
"Bagaimana?"tanya Jongin, geli.
Sehun menunduk, dia menggaruk lehernya dengan canggung. Jongin jadi dibuat gemas akan tingkah Sehun yang seperti ini. Sok berani padahal butuh perlindungan begitu. Ah, berhenti memikirkan Sehun, Kim Jongin. Ingatlah tujuan utamamu tadi.
Sekitar 5 menit Sehun diam dalam posisinya, ketika mendongak, matanya berganti tegas. "Aku tidak takut. Kita berangkat setelah makan malam, OK!"putus Sehun, dia sudah berdiri dan berlari kencang. Meninggalkan Jongin dengan wajah melongo bodohnya.
"Dasar tidak jelas."gumam Jongin. Dia menyusul Sehun beberapa menit kemudian.
.
.
.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Sehun kini sudah terduduk bersama teman-teman Asramanya. Ada Tao, Luhan-gegenya serta –hei, Dimana Do Kyungsoo.
"Kyungsoo, ada urusan kecil dengan Kim Suho."papar Tao, menjelaskan sorot heran yang ditunjukan oleh Sehun kala tak menemukan pemuda berpundak sempit itu dimanapun.
"Ah, pantas saja dia tidak ada didekatmu. Si mulut pisau itukan tidak pernah lepas darimu."kata Sehun acuh tak acuh, yang ditanggapi dengusan kasar oleh Tao.
Pemuda berwajah tampan namun nampak seram itu mengarahkan pisau kecil yang Ia gunakan untuk mengiris steak itu kepada Sehun, mata coklat pekatnya menajam. "Dia teman terbaikku. Dan Aku juga Kyungsoopun sama-sama tidak meminta situasi sialan ini terjadi pada kami berdua."
Sehun memundurkan wajah dengan keringat dingin, "Woah, woah santai saja Zitao. Apa yang salah dari perkataanku, sampai kau emosi begitu? Ingat ya, aku tidak punya nyawa cadangan untuk kau habisi begitu saja."
Tao menghela nafas. Ia menjauhkan pisau itu dari hadapan Sehun, "Kalau aku pergi darinya, itu akan berbahaya untuk hidupnya."tandas Tao, dingin namun terdengar sedih juga.
Sehun merasa tak enak jadinya apalagi dia tahu alasan kedua teman terbaiknya ini nampak terbebani. "Sorry, buddy."
"Hm."
"Apa kau belum menemukan jalan keluarnya, Tao?"tanya Luhan, pemuda itu diam saja sejak tadi. Mendengarkan suara Tao yang akan dingin dan lemah dalam satu waktu ketika membicarakan seorang Do Kyungsoo.
Tao menggeleng, Ia meletakan alat makannya dan berjalan pergi. "Aku pergi ke kamar duluan. Kyungsoo sudah menungguku diluar Aula Makan."pamitnya.
Sehun dan Luhan saling bertukar pandangan ketika Tao sudah mengilang dibalik pintu besar Aula, "Aku terkadang merasa jahat sekali."papar Sehun lesu. Dia mengabaikan steak daging setengah matang dengan rasa pedas manis itu. Hatinya jadi diterkam kesedihan saat melihat Tao yang nampak tertekan begitu.
Luhan juga sama lesunya. "Mau bagaimana lagi, kita memang tidak bisa berbuat banyak. Yang pasti, kita jangan sampai meninggalkan Tao ataupun Kyungsoo. Tunjukan kita bisa berguna diwaktu yang tepat atau disaat mereka membutuhkan kita berdua."ujar Luhan, lembut. Aura hangat itu memancar dari sorot mata coklat terangnya yang menyejukan. Disaat kondisi begini Luhan memang tahu caranya menarik orang lain agar tidak terpuruk lebih dalam kesedihannya.
"Ya, kau benar Lu-gege."
.
.
.
Jarum jam sudah mengarah keangka 8. Dan Sehun sudah berdiri diluar Asramanya. Menunggu Jongin digerbang Asrama mereka. Tubuhnya sudah mulai diserang dingin, Ia hanya memakai kaos longgar serta celana training berwarna hitam. Hanya syal yang mengalung dilehernyalah membuat Sehun sedikit merasa hangat. "Dimana si cocktail itu."gerutu Sehun, mulai tak sabaran.
"Kalau ku hitung sampai 100 si Cocktail itu tidak datang, aku akan kembali ke Asrama saja."gumam Sehun. "1...2...3"Ia mulai menghitung sambil menatap kearah lapangan Asrama. "4...5..6"
.
.
.
Sudah 30 menit. Dan Sehun sudah 3 kali lebih menghitung dari angka 1 hingga 100. Dia memasang wajah muak, ketika hitungannya yang ke-4 kali Jongin tidak datang juga.
"99..100! AH BODO AMAT, AKU KEMBALI KEASRAMA SEKARANG!"Pekik Sehun sarat akan kefrustasian. Kesal setengah mampus saat Jongin tak juga menampakan batang hidungnya, "Awas saja kau besok, Kim-Sialan-Jongin."selesai mengumpat, pemuda tampan kelebihan takaran itu berbalik pergi memasuki beranda Asramanya dan segera melangkah cepat untuk masuk kedalam kamar Asramanya yang menjadi satu ruangan bersama Tao Juga Kyungsoo.
.
.
.
Asrama Slytherin.
Kamar 21
Xiu Sehun, Huang Zitao dan Do Kyungsoo.
.
Begitu sampai didepan pintu kamarnya, Sehun langsung membuka dan masuk kedalam kamarnya tanpa lupa dikunci dengan mantera pengunci. Agar tak ada maling atau segala macam hal mengerikan lainnya mengganggu ketenangan mereka bertiga.
Didalam kamar Ia menemukan Kyungsoo masih didepan meja belajarnya, membaca buku seperti biasa. Sedangkan Tao sudah terlelap disamping Kyungsoo. Ya, mereka berdua memang berbagi ranjang. Bukan keinginan mereka tetapi itu permintaan dari Do Kyungsoo. Ketika ditanya alasannya, pemuda itu hanya bilang 'Aku takut sendirian'dan setelah itu Sehun tak ingin bertanya lagi, karena setelah Sehun mengajukan pertanyaan tadi. Kyungsoo membuatnya pulang-pergi kamar mandi selama seminggu.
"Sudah kembali, ku pikir kalian akan lama berkencan."
Sehun menoleh kearah pemuda berwajah anak 5 SD itu dengan ekspresi gemas. "Kami tidak berkencan, Dio."ralat Sehun. Ia melepaskan sneakernya dan meletakan sepasang sepatu berwarna hitam itu dirak sepatu. Ia langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya. "Ada Apa, kenapa kau terus saja menatapku?"tanya Sehun. Ia menarik selimutnya hingga kebatas dada, lalu memiringkan tubuh kearah Kyungsoo, tepatnya disebelah kiri.
Kyungsoo menutup bukunya. Ia membaringkan tubuh, matanya menatap langit-langit kamar mereka yang begitu tinggi. Keheningan melanda dan meski begitu Sehun tetap sabar menunggu apa yang akan dikatakan Kyungsoo.
"Aku tadi bertemu orang itu."
Sehun sengaja mengunci mulutnya, Ia benar-benar mendengarkan apapun yang akan diceritakan oleh Kyungsoo.
"Ia benar-benar sehat."alis mata Kyungsoo bertaut dalam. "Dia bahkan sampai mengirimkan Suho agar aku mau datang. Tidak bisakah dia memberiku waktu sebentar saja, aku hanya perlu 2 tahun lagi untuk memperbaiki segalanya."suara dalam Kyungsoo semakin memelan.
Dalam temaram lampu hias dimeja nakas Kyungsoo, mata Sehun bisa dengan jelas melihat sorot sendu dimata beningnya. "Kesalahan sebesar itu bukanlah hal mudah untuk dibenahi."
Sehun masih bungkam.
"Kalau dia terus mendesakku untuk kembali akan lebih baik aku disini saja sampai mati."tandas Kyungsoo. Matanya kini menyorot kecewa juga benci. "Aku benar-benar benci dengan caranya. Ck, sialan sekali. Tidak tahu, lupakan saja Sehun. Lebih baik kita tidur."dengan ucapan yang jelas akhirnya itu, Kyungsoo membelakangi tubuh Sehun.
Meninggalkan Sehun dengan seribu kebingungan.
'...Ini semakin buruk, ya Do Kyungsoo. Maafkan aku, karena tidak bisa melakukan apapun untukmu...'lamat-lamat keheningan didalam ruangan itu menarik Sehun untuk terjun kedalam mimpi.
.
.
.
A/N :
Hai, apa masih ada yang inget sama 'Imperio?'
Point urgent! : Ku harap kalian masih review. Aku bukannya nggak mau meneruskan apalagi mengabaikan tapi aku sempat lupa password akun ku ini. Hee hee. Insya Allah aku akan update secepat yang ku bisa.
Point utama! : Yah, Asalkan kalian masih bersedia mereview dan ingin Fanfiction ini tetap dilanjutkan. Sebagai seorang Author, aku selalu menunggu para readers untuk memberi pendapat tentang apa yang kutulis.
So, well. Sampai jumpa dichap berikutnya.
