Cuplikan chapter sebelumnya...
Mata bulat Luhan mengerjap lucu, Iya linglung. Makanya jangan melamun dengan wajah mupeng begitu, rusa cantik.
"Ah, itu anu. Apa yang kau lakukan disini?"
Minseok tersenyum maklum. "Kenapa kau malah balik bertanya, Luhan-sshi?"
Wajah Luhan sudah abstrak antara ingin marah dan tidak. "Anu, kitakan seumuran. Jadi, emm panggil aku Luhan saja."
Luhan-sayang juga boleh. Heuheu,...'batin Luhan, maklumi terkadang Luhan memang centil. Tapi, dia begini didepan orang-orang yang dia kenal saja kok. Apalagi kalo dia ada rasa.
"Luhan, jadi apa yang kau lakukan disini bahkan matahari belum juga muncul?"
"Aku habis mau jogging."jawab Luhan sekenanya. 'Aku sedang menggalau...'batin Luhan, Dia terpaksa berbohong daripada Minseok bertanya lagi.
"Oh, mau ku temani?"
'mau peluk juga, boleh..'batin Luhan. 'ih, kok aku sassy boy sekali'...batin Luhan lagi, terheran akan tingkahnya sendiri. Dasar absurd.
"hah?"koor Luhan berpura-pura kaget padahal sebenarnya dia senang sekali."bo-boleh kok."gagap Luhan.
Cinta atau suka, masa bodoh. Dia hanya ingin menuruti hatinya saja. Diluar kata Luhan cowok dan Minseok juga cowok, kalau hatinya memang bilang 'maju' untuk apa Luhan bermunafik diri, ya kan?
.
Judul : 5 Imperio
Author : Panggil sesuka kalian saja *vasrah*
Kim Jongin x Oh (Xiu) Sehun
Kim Suho x Do Kyungsoo
Other Cast : OT8
Desclaimer : Sihir-sihir didalam ini punya JK. ROWLING, mereka OT12 (EXO) bukan punya saya tapi cerita ini punya saya.
.
.
.
Ini menggelikan. Aneh rasanya. Jongin bahkan tak bergerak sama sekali dari posisinya saat ini. Dengan posisi duduk disalah satu kursi dikelas ramuan. Terpaku dengan satu tangan Sehun tengah menyentuh kulit wajahnya. Jangan berpikir macam-macam dulu. Si albino itu cuma sedang memeriksa apakah lebam biru yang menghiasi wajah Jongin memang asli atau palsu.
"Ku pikir ini make up tadi."
Jongin berdecak sebal sekarang. "Kau pikir aku ini cowok setengah jadi, hah?"desis Jongin sebal. "Lagipula maksudmu apasih, memegangi wajahku seperti itu setelah mengejarku tadi. Melelahkan tahu."omel Jongin selayaknya wanita PMS. tumben sekali, biasanya yang dalam posisi mengeluh itu ya Sehun. Tapi ini.
"Lagi PMS ya, Kim?"tanya Sehun.
"Hahaha, Lucu sekali."sarkas Jongin menanggapi sindiran ambigu si Xiu Sehun itu.
Sehun mencueki Jongin dan ikut duduk juga dikursi kosong tepat disebelah Jongin. Membaringkan kepalanya diatas meja lalu terpejam.
Menuai kerutan alis heran dari Jongin. "Kau mau tidur disini?"
"Tidaklah."sahut Sehun dengan suara pelan. "Aku menunggu, Lu-ge."
Jongin geleng-geleng. "Untuk apa menunggu padahal kalian 1 Asrama. Kamarnya hanya 1 lantai diatasmu, bodoh!"
Si cowok albino menggerutu tak jelas, "Sudah. Aku mengetuk pintunya berkali-kali dan yang membukanya adalah Senior Yuta."jawab Sehun lesu.
"Untuk apa menunggunya?"
Sehun memasang wajah melongo sekarang, "Sejak kapan kau jadi kepo begini. Menyebalkan."rutuk Sehun. Tak habis pikir akan sikap Jongin. Inikah sosok pemuda yang sering dielu-elukan para gadis. Yang katanya Jongin itu cool, tajir dan charming.
Gigimu ompong. Charming apanya. Sejauh ini Sehun telah menemukan kalau ternyata sifat Jongin itu lebih abstrak dari yang terlihat. Apa jangan-jangan si Cocktail ini punya kepribadian ganda. Yang mana salah satunya bisa saja membenci Sehun dan sudah menyiapkan rencana paling menyakitkan untuk dirinya. Well, Xiu Sehun berhak takut karena dia sadar, kalau dirinya memang punya dosa pada Jongin. Ingat insiden salah mantera itukan? Yang rambut Jongin terbakar. Uuh, Sehun belum siap disiksa oleh cowok tukang marah seperti Kim Jongin sebagai bentuk balas dendam akan perilakunya yang waktu itu.
Dia juga agak merasa bersalah saat rambut Jongin terlihat lebih pendek walau rambut hitamnya sekarang lebih cocok daripada warna pirang.
Ehei, kenapa Sehun malah memikirkan kesalahan yang pernah dilakukannya. Ckck, biasanya saja dia sudah lupa dosanya meski baru Ia lakukan satu jam yang lalu.
Ada apa denganmu, Sehun?
Otakmu sudah rusak kalau kau merasa bersalah seperti itu.
Sehun itu selalu benar dan yang lainnya salah. Itu mutlak bagi Sehun. Karena, otak Sehun ya punya Sehun bukan punya orang lain, Ok!
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"tanya Jongin memicing curiga. "Wajahmu benar-benar tak enak dipandang jadinya, White?"hina Jongin.
Dia spontan memundurkan wajahnya saat melihat tangan Sehun sudah bersiap menyiksa tubuhnya.
"Ah, dimana sih Lu-ge."dua tangan itu ditarik lagi oleh pemiliknya. Digantikan dengan suara keluhan putus asanya.
"Dicarilah."ucap Jongin.
Mata dan dua tangannya kini memeriksa apakah ramuannya sudah siap atau belum. Kalau tak salah ya berarti benar, ramuan ini bisa digunakan jika warna hijaunya telah berganti warna menjadi orang kemerahan.
Dia menghela nafas sabar begitu mendapati ramuannya masih hijau gelap semenjak 30 menit berlalu. "Ini aneh."gumam Jongin.
"Apanya?"yang langsung ditanyakan oleh Sehun.
Jongin menoleh dengan raut bingung, "seharusnya ramuan ini berubah dalam waktu 10 menit tapi ini. Ck, apa yang salah dari racikanku"
Simpati. Itulah yang muncul dihati Sehun. Dari aromanya sudah Sehun duga ada yang kurang tapi dia sih malas memberitahu. "Yakin sudah semua bahan-bahannya?"tanya Sehun cuek.
Jemarinya sibuk bermain dengan tongkat sihirnya, merapalkan mantera Wingardium laviosa pada bulu burung elang putih, digerakan kesana-kemari dan sengaja dijatuhkan tepat dihadapan Jongin. Lalu si albino itu kembali membaringkan wajah dengan mata terpejam diatas meja.
Si alis tegas itu menaikan alisnya, "untuk apa kau meletakan bulu burung tiruan ini kehadapanku, kuker sekali!"ledek Jongin sembari mencomot ujung bulu burung itu dan mengarahkan ujung lainnya ke wajah berbaring Sehun yang kini tengah terpejam. Menggelitiki wajah halus Sehun dengan gerakan mengusili. Menusuk hidung Sehun, memutarkan ujung bulu itu berkali-kali dipipi kiri Sehun.
10 detik Sehun menahan diri untuk tidak kesal. Akhirnya albino itu membuka mata dengan delikan yang kentara gemas akan kejahilan Jongin yang tidak keren sama sekali.
"ck, apaan sih!"sentak Sehun. "ramuanmu kurang bulu elang, creepy!"
Jongin berpikir sebentar, "ah, aku yakin bulu elang tidak ada didalam daftarnya kok. Kau mau meracuniku ya?"curiga Jongin.
Kesal. Tidak terima. Sehun mendengus lalu beranjak pergi. Dia mendadak merasa idiot karena bertindak baik. Rasanya Sehun memang ditakdirkan untuk jadi anak nakal yang menyebalkan. Berbuat baik malah dianggap salah.
"Cih, kalau tidak percaya ya sudah. Aku pergi!"
Tangan besar Jongin menahan jubah bagian belakang Sehun dan menarik paksa Sehun untuk kembali duduk disebelah Jongin. "Mau kemana kau?"tanya Jongin.
"tamasya ke bulan."sewot Sehun setelah akhirnya duduk lagi karena paksaan Jongin.
"Eum, Hun."panggil Jongin.
"hm?"
"darimana kau mendapatkan bulu elang ini?"ucap Jongin.
Dia hanya merasa aneh saja, sejak Sehun memberikan bulu elang putih ini tak hentinya Jongin mencari ke sekeliling mencari letak bulu elang ini tapi tak ada dimanapun.
Mata coklat terang Sehun mengerjap tak mengerti, "bulu elang apa?"
Sekarang Jongin yang dilanda kebingungan. Dia mendekatkan bulu elang itu pada wajah Sehun. "Ini loh, bulu ini?"
Dengan reaksi bak orang dungu, diambilnya bulu elang itu dari tangan Jongin. Lalu membuang bulu itu kewajah Jongin lagi. "mana ku tahu!"ucap Sehun. Tubuh semampainya diregangkan lalu dilanjutkan menguap lebar-lebar.
Jongin menatap gerakan Sehun risih. Tapi, dia abaikan hal itu karena jawaban Sehun tadi lebih membuatnya tertarik untuk mencari tahu.
Praduga Jongin, ini antara Sehun yang berpura-pura lupa atau Sehun yang memang sedang mempermainkannya. Dia mengajukan pertanyaan yang sama. "Apa menurutmu ramuanku masih ada yang kurang?"Jongin menanyakan hal yang serupa untuk memastikan sesuatu.
"bukannya kau lebih pintar dariku."
Jongin menggeram, "aku memang cerdas tapi aku juga bisa lupa. Cepat periksa ramuanku!"
"ish."keluh Sehun. Dengan wajah terpaksa Ia memeriksa ramuan Jongin dan alis matanya terangkat heran. "kenapa warnanya jadi hijau pekat begini?"
Jongin menggaruk pipinya, "aku cuma perlu jawaban ada yang kurang atau tidak, jangan malah mengajukan pertanyaan lagi. Bagaimana sih!"
Sehun hari ini mempelajari satu hal tentang Jongin. Tidak sabaran. Pemaksa dan tukang ngomel juga. Mulutnya suka menghina. Ehei, itu lebih dari satu hal ya? Tapi, kalau disimpulkan jadi satu kata maka yang pas adalah 'Menyebalkan'.
"Menyebalkan."dan Sehun merealisasikan kesimpulan sepihaknya.
"apa katamu?"pekik Jongin. Mulai tersulut emosi. "berkacalah, freak. Kau itu jauh lebih menyebalkan kemana-mana."Jongin mengatakan hal itu dengan wajah mengundang untuk di kuliti.
"creepy."Sehun itu tipe pendendam. Jadi, jangan heran kalau dia balas mengatai.
Apa kata Jongin tadi?
Freak. Sehun di juluki Freak. Terlalu bagus. Julukan yang sesuai untuk remaja tengil paket lengkap seperti Sehun itu tak lain dan tak bukan adalah Si Setan. Ya, semacam itulah. Bukannya sakit hati, Sehun malah merasa bangga.
Karena, berkat julukan itu. Setidaknya Sehun dianggap ada, oleh dua orang paling dicintainya. Ayah dan Ibunya. 2 orang dewasa yang amat Sehun rindukan setiap malam, dikala kantuk menjelang dengan rinai gelap dalam tidurnya.
'...oemma, appa..bogoshiepo...'
Tes! Tes!
Jongin bersumpah sebelum ini dirinya dan juga si albino itu sudah pernah bertengkar mulut atau bahkan adu mantera dengan bekas perkara disana-sini tetapi baru kali ini. Dengar, ini pertama kalinya. Seorang Kim Jongin melihat Xiu-kerempeng-Sehun menangis. Ditambah hanya karena perdebatan kecil. Terlalu kecil untuk ditangisi.
'...ada yang tidak beres.. '
"Keju, ka-kau menangis?"gagap.
Jongin merutuki dirinya sendiri ketika mendengar suaranya, atau lebih aneh lagi saat tubuhnya berusaha memaksa untuk memeluk tubuh si tengil itu.
"hiks."
Hanya segukan menyayat hati yang menjawab pertanyaan gagap Jongin.
"em, Xiu."
Lirikan sadis itu tertangkap mata tajam Jongin. Alarm waspada berbunyi keras disekeliling kepalanya. Dengan bunyi 'bahaya'terus-menerus tanpa jeda. Makanya Jongin sudah dalam posisi berdiri. Sudah mengeluarkan tongkat sihir juga tapi yang dilihatnya sekarang jauh dari prediksi.
Sehun. Semakin. Menangis. Keras. Dengan. Ingus meleleh. Iuuh.
"ada apa ini, jawab aku?"
"hiks."
"Oh, ghost."
"kau, hiks."
"iya, aku kenapa?"
"kau melupakan janjimu."ucap Sehun.
Ia sibuk mengelap ingusnya dengan lengan jubahnya lalu kembali berbicara setelah selesai membersihkan ingusnya, "Kau sudah bersedia melatihku."
Melatih?
"melatih, maksudmu berlatih memakai mantera petronus?"
Sehun mengangguk pelan, "Iya, yang itu."
'...untung saja aku cepat mencari alasan kalau tidak si Kim-sialan-Jongin ini akan bertanya hal-hal aneh padaku,...'batin Sehun lega.
"tapi, kau sendiri yang malah berkhianat. Bodoh!"rutuk Jongin, matanya menyorot kesal.
'...Mau mengelak, huh. Baiklah aku tidak akan mendorongmu sampai kau sendiri yang mengatakannya...'batin Jongin sengaja menekan keingintahuannya tentang penyebab Sehun menangis rapuh seperti tadi.
Maka dari itu Ia menjelaskan betapa menderitanya ketika dihari pertama mereka akan berlatih tapi si tengil Sehun ini malah memilih tuk bersama Kris.
"Dengar ya, dihari pertama kau malah memilih berkencan dengan pangeran Wu mu itu dan membuatku menunggu 3 jam dengan tubuh mengigil kedinginan."
Sekarang Sehun nyengir polos, "maaf."katanya pelan dengan raut malu-malu.
Jongin mendecih geli, "ish, jangan berpose seperti itu."
Mata coklat terang itu memohon, "tapi, tapi kau masih mau melatihku kan? Aku tidak mau mencari pelatih lain. Mereka semua menakutkan."
"termasuk Pangeran Wu itu?"
"benar, benar."mata Sehun tampak menerawang. "Kami waktu itu tidaklah berkencan, tapi aku cuma diajak keliling ke hutan perdamaian saja."
"hutan?"
"perdamaian"sambung Sehun melanjutkan ucapan tertunda Jongin. "dia mencari benda ini."kata Sehun sambil menunjuk kalung berliontin berlian berbentuk prisma biru bening yang melingkar di leher putihnya.
Tertegun. Setahu Jongin hanya makhluk sihir saja yang memiliki benda Prisma itu. Dan mendapatkan benda kecil berukuran 5 cm itu harus dengan mengancam atau membunuhnya. Kengerian menguasai imajinasinya, "jangan katakan si Wu itu membunuh makhluk itu?"tanya Jongin tajam.
Kalau memang benar dengan cara itu maka Jongin tidak bisa tinggal diam. Karena penyihir pelajar yang sudah mampu membunuh diusia semuda ini perlu untuk ditindaklanjuti.
Sehun menggeleng cepat, "tidak kok, makhluk sihir itu sendiri yang memberikan kalung itu padaku bahkan dia tampak bahagia sekali saat aku menerima kalungnya ini."
Alis Jongin bertaut, "apa kau tau?"
Sehun menggeleng cuek, "tidak?"
"dengarkan dulu bodoh!"
"iya deh iya."jawab Sehun memutar matanya malas.
"makhluk sihir yang memiliki -"
Sehun memotong cepat, "kalung ini milikku sekarang!"
Sabar, Jongin. Sehun memang berotak bocah. Jadi jelaskan ini perlahan saja. "iya bodoh iya, maksudku sebelum dimiliki olehmu."ralat Jongin malas setengah mampus.
Usia pemuda dihadapannya ini hanya beda 2 bulan saja loh tapi kenapa rasanya seperti berbicara dengan balita 5 tahun. Polos-polos bego begitulah.
"memangnya kau tau apa nama makhluk sihir itu?"
"Feene."sahut Jongin pendek. "dan mereka makhluk kegelapan."suara jongin berubah berat dan tegas. "Dan perlu sihir yang kuat untuk mengendalikan mereka."katanya lagi.
Tertarik. Sehun mengunci mulutnya. Tak ingin ketinggalan penjelasan Jongin sedetikpun.
"aku pernah membaca pada salah satu buku diperpustakaan lantai 5. Tempat buku-buku kuno berada. Feene memiliki wujud kucing bermata hijau, mereka mampu berbicara, berjalan dengan 2 kaki, ukuran tubuh terbesar mereka hanya setinggi 1 meter, menggunakan sihir tanpa tongkat, kekuatan sihir terbesar mereka adalah membunuh."
"lalu?"kali Sehun bertanya antusias, dia sungguh tertarik akan obrolan ini.
"ini tidak biasa, Feene membenci penyihir dari ras kita. Mereka makhluk abadi yang bertugas menjaga hutan perdamaian. Yang ku pertanyakan bagaimana Wu Yi Fan bisa begitu mudah meminta benda suci milik Feene tersebut."
"Seingatku Kris tidak merasa terancam karena dia sangat mudah menarikku kedalam tempat tinggal si Feene ini."
'...menarik,..'
"maksudmu kau digandeng olehnya?"
Sehun mengangguk polos, "berarti kalian berjalan kaki untuk sampai kesana?'
"tidaklah, cocktail. Kami berkendara dengan sapu terbang, berjalan kaki sama saja bunuh diri."tanggap Sehun dengan wajah tak habis pikir. "medan menuju tempat tinggal para Feene itu cukup terjal jadi dia menuntunku agar aku tidak jatuh."
"dan kau mau-mau saja, aku jadi ragu apa gendermu!"
Wajah merengut Sehunlah yang tergambar, dia tersinggung. Sebal. Dongkol juga. Agak khawatir juga saat melihat wajah Jongin yang berubah masam. "aku sudah menolak tapi dia memaksa ya aku percaya saja, Karena aku takut ketinggian."
Jongin menunjuk dahi Sehun, "kau hanya beralasan, keju!"
"enak saja!"
"huh, dasar penipu!"
"aku bukan penipu!"pekik Sehun.
"hm. Bukankah kau mengatakan makhluk sihir itu yang memberikannya padamu?"
"memang."
"ada dua kemungkinan."ucap Jongin ketika selesai menyimpulkan.
"apa, apa?"
Senyuman iseng terpampang, "aku lupa, kau bisa cari tahu di perpustakaan lantai 5 diabjad Z, dengan judul buku Winter Feene."
Gelengan keras diberikan. Sehun sangat anti dengan yang namanya buku. Melihatnya saja membuat matanya mendadak alergi.
"aku alergi."tandas Sehun ngeri.
"kau payah sekali. Sudahlah, aku pergi dulu"kekeh Jongin.
Jongin sudah melangkah 3 kali dan seruan Sehun langsung menghentikannya. "JONGIN-HYUNG KAU MASIH MAU MELATIHKU KAN?!"
rasa geli mengusik pikiran Jongin, dia punya ide untuk itu. "boleh saja, tapi ada syaratnya."
"katakan saja, aku pasti akan melakukannya demi nilaiku, masa depanku."
"kau harus menamatkan buku Winter Feene itu dalam 1 hari."
Ingin menolak tapi dia tidak mau mendapat nilai D- lagi. Jadi, dengan sangat terpaksa Sehun menyanggupi. "baiklah, tapi janji ya jangan ingkar janji?"
"aku selalu menepati janjiku, keju."
Cibiran itu terlihat, "lalu malam kemarin itu apa?"tekan Sehun mengingatkan.
"kau tidak paham ya!?"Jongin berbalik dan menatap Sehun intens sekali.
"apanya?"
"aku balas dendam."papar Jongin.
"untuk?"tanya Sehun berpura-pura tidak tahu.
"kau tau dengan pasti, keju."
"hee hee."
"ck, datang saja ke Asramaku kalau sekiranya mental payahmu sudah bisa kau atasi dan kau sudah memahami isi buku Winter Feene itu. ok!"
"iya, iya. Ngomong-ngomong aku punya ramuan penghilang memar, apa kau mau?"
Curiga. "buatanmu sendiri?"
"Bukan, tapi punya Do Kyungsoo."
"oh, boleh, boleh!"jawab Jongin nampak semangat.
Sehun tidak suka reaksi Jongin, huh jangan bilang Jongin punya rasa buat sahabat terbaiknya itu. Bukan apa ya, Jongin itu brengsek dan Psycho mana rela dia sahabat unyu-unyunya itu jadi incaran si cocktail ini. Membayangkan saja Sehun sudah takut sekali.
"tidak jadi."
"kok begitu!"protes Jongin. Memarnya ini mengganggu. Dia sudah merasa bersyukur akan tawaran Sehun. Bahkan ramuan itu dibuat oleh Do kyungsoo, sosok pemuda yang selalu mendapat nilai A+, tidak aneh lagikan kalau Jongin merasa senang.
"aku akan membelinya."paksa Jongin, dia sekarang mendekati Sehun dan memegang bahu pemuda albino itu erat sekali.
"tidak akan."
"ternyata aku benar, kau itu penipu. Cih!"
Jongin masih meremat pelan bahu Sehun, mata hitamnya menyorot penuh tuntutan. Menusuk kedalam mata coklat terang Sehun yang kini mulai berkaca-kaca.
Eh? Berkaca-kaca. "kenapa kau mau menangis lagi, kau cengeng sekali!"ledek Jongin.
"BUKAN SIALAN, KAKIKU KAU INJAK! SAKIT TAU!"
"hah?"
Dan lagi-lagi keduanya kejar-kejaran. Karena, masalah sepele.
.
.
.
Perpustakaan.
.
"kau, kau temannya Xiu Sehunkan?"
"yes, sir."
"lalu kau, Kim Suho. Aku baru kali ini mendapatimu berperilaku rusuh seperti ini."
"maafkan saya, sir."
Kim Ryeowook menghela nafas sabar. Selama menjadi penjaga perpustakaan selama 5 tahun. Baru tahun ini saja dia dibuat lelah karena setelah Xiu Sehun menjadi murid disini hidupnya tak pernah tenang.
"kalian lihat kekacauan yang kalian lakukan?"
Keduanya mengangguk kompak, menyadari kesalahan mereka. "astaga perpustakaan rapiku."koor Kim Ryeowook nelangsa. Mata bulatnya menajam, "aku tidak mau tahu, sebelum makan malam kekacauan ini harus dalam posisi sebelumnya. Rapi. Kalian mengerti?"tegasnya.
"tapi, Kim-ssaem."sela Suho.
"tak ada tapi-tapian, Suho."tolak Kim Ryeowook lebih tegas.
Suho meringkuk ngeri, walau tubuh Kim Ryeowook lebih mungil tapi aura yang dimiliki beliau begitu berat. Ah, tentu saja Kim Suho, meski statusnya penjaga perpus toh fakta dia seorang profesor tak bisa kau singkirkan.
"baik, Kim-ssaem."
"bagus, lakukan hukuman kalian sekarang juga."ultimatum pria dewasa itu.
Begitu kaki jenjang itu telah melangkah jauh dan tak terdengar lagi.
Dua orang pemuda dengan asal asrama berbeda itu saling melemparkan tatapan amarah. "ini salahmu, nerd!"Suho memulai perdebatan lagi, ya tentu saja sambil merapikan buku-buku yang berserakan akibat dari adu mantera yang mereka lakukan selama kurang lebih 10 menit lamanya.
Kyungsoo mulai beranjak dari posisi berjongkoknya mulai menyibukan diri memunguti buku-buku sama seperti yang Suho lakukan.
"kau yang menyulut emosi ku lebih dahulu, bastard!"sahut Kyungsoo.
"siapa, aku tidak melakukan itu. Salahkan dirimu yang gampang emosian."
"ck."
"aku mau menanyakan sesuatu padamu."kata Suho sengaja memotong ucapannya guna melihat apa yang ditunjukan Kyungsoo. Mendengarkan atau tidak.
"silahkan."
Senyum tampan tulus itu terpampang. "terimakasih."
"hmm."
"apa kau masih sering bermimpi buruk?"
Pertanyaan itu memaku tubuh Kyungsoo. Manik hitamnya memendar kaku. Dia tidak suka ini. Suho selalu menyebalkan, pemuda itu kelemahannya. Sialannya lagi air mata itu menggenang, mengeluarkan bulir-bulir bening yang membasahi pipi ranumnya.
Suho tidaklah buta, jelas Ia melihat Kyungsoo menangis didepan sana, tak jauh dari Tempatnya berjongkok. Ingin sekali. Sungguh. Kim Suho benci melihat Kyungsoo menangis. Tapi, dia juga sadar dirinya lah penyebab airmata itu keluar.
Memeluknya. Pikiran itu terlintas, Suho memutuskan untuk mendekat namun pergerakannya terhenti, semuanya tak bergerak bak manekin.
Tak lama si pengendali waktu datang, berbisik teduh teruntuk Kyungsoo, satu-satunya sosok yang tak beralih menjadi manekin hidup. "Kau okay, dude?"bisik Tao pada Kyungsoo yang balik menatapnya sendu.
"Aku merindukannya tapi aku takut melukainya. Hiks. Tao, aku harus bagaimana?"
Tao tak berkata apapun, sesak yang Ia rasakan melihat kondisi Kyungsoo.
.
.
.
.
A/N : ahay... I am back. *wink *ditampol
Point 1 : gak ada yg pengin tau knp Jongin babak belur ya
Point 2 : gak ada yg pengin tau knp Sehun bisa munculin bulu elang padahl gk ada bulu elang didalam kelas ramuan?
Point 3 : gak ada yg penasaran kmna aja Tao slama ini dan tiba2 muncul dhadapn Kyungsoo?
Point terakhir : Kyungsoo nangis, gak ada yg pengin meluk gtu?
.
Heee. Hee. See ya dichapter depan. Jangan lupa review loh
