Cuplikan chapter sebelumnya...
"aku mau menanyakan sesuatu padamu."kata Suho sengaja memotong ucapannya guna melihat apa yang ditunjukan Kyungsoo. Mendengarkan atau tidak.
"silahkan."
Senyum tampan tulus itu terpampang. "terimakasih."
"hmm."
"apa kau masih sering bermimpi buruk?"
Pertanyaan itu memaku tubuh Kyungsoo. Manik hitamnya memendar kaku. Dia tidak suka ini. Suho selalu menyebalkan, pemuda itu kelemahannya. Sialannya lagi air mata itu menggenang, mengeluarkan bulir-bulir bening yang membasahi pipi ranumnya.
Suho tidaklah buta, jelas Ia melihat Kyungsoo menangis didepan sana, tak jauh dari Tempatnya berjongkok. Ingin sekali. Sungguh. Kim Suho benci melihat Kyungsoo menangis. Tapi, dia juga sadar dirinya lah penyebab airmata itu keluar.
Memeluknya. Pikiran itu terlintas, Suho memutuskan untuk mendekat namun pergerakannya terhenti, semuanya tak bergerak bak manekin.
Tak lama si pengendali waktu datang, berbisik teduh teruntuk Kyungsoo, satu-satunya sosok yang tak beralih menjadi manekin hidup. "Kau okay, dude?"bisik Tao pada Kyungsoo yang balik menatapnya sendu.
"Aku merindukannya tapi aku takut melukainya. Hiks. Tao, aku harus bagaimana?"
Tao tak berkata apapun, sesak yang Ia rasakan melihat kondisi Kyungsoo.
.
Judul : 6 Imperio
Author : Manggil 'Thor' juga boleh tapi harus rela kepalanya benjol, loh! Hee hee.
Main Pair
Kim Jongin x Xiu (Oh) Sehun
Kim Suho (Junmyeon) x Do Kyungsoo
And other slight pair*nggak yakin sih*
Imperio adalah salah satu sihir tak termaafkan. Kutukan (sihir) ini membuat korban menjadi sepenuhnya dibawah pengaruh perapal mantera, dan melakukan apapun yang di inginkan oleh sang pemantera. (Sumber : Wikipedia)
Warning : bahasa yg terkadang nyeleneh dan terkadang non baku. Chara-chara yg bisa saja OOC dsb. Apapun yang TERTULIS disini adalah hasil imajinasi MOONIE tapi untuk MANTERA-MANTERA DISINI PEMILIKNYA ADALAH J.K ROWLING. Okay, stop here.
Ayo langsung kuy. *semoga masih seru buat dibaca*
.
.
.
Tau kisah Rapunsel?
Kalian tahu...ih keren.
Ya udah ganti cerita kalau begitu.
.
Nah, kalo ini, kalian kenal Xiu Sehun?
APA?! Kalian tahu juga...
Aaargh...langsung mulai saja, Sehun memang paling payah kalau main tebak-tebakan.
.
.
.
Dikoridor Lantai 3
Kelas Ramuan dan Kelas Pertahanan Ilmu Hitam
"Apa yang kau lakukan disitu, Hunnie?"
Sehun berjengit, dia berniat kabur detik itu juga... alasannya karena dia sedang bersembunyi dari Kim-keparat-Jongin, reflek saja Sehun menaruh telunjuk didepan bibir. "Diamlah, aku sedang sembunyi."
"Oh."Luhan mendekati dan menepuk bahu Sehun, "Kau kena sekarang keluar sana!"Luhan sengaja berbicara agak lantang agar Jongin yang dilihatnya tengah celingukan tidak perlu susah-susah mencari lagi seperti orang dungu.
"Eh?"
"Ehehe."
"Pergilah, Luhan-ge.. atau aku akan mati ditangan dementor!"
"Heh, keju!"
Sehun melotot sekarang, begitu merasakan seseorang menepuk bahunya dari arah belakang, dan itu Kim-Keparat-Jongin yang sekarang telah berdiri dibelakang tubuhnya "AAARKH! PARK CHANYEOL SIALAN!"
"Ehehe."Kekeh Luhan.
Sehun mencibir kesal pada Luhan. "Ini gara-gara kau sih. Gege durhaka."Omelnya kesal. "Coba, kalau kau tidak berbicara denganku pasti aku tidak akan ketahuan."Dia masih betah mengomel sampai akhirnya si Kim Jongin yang merasa dianggap tembok pun menegur datar.
"Kau sudah ketauan, mau kabur kemana lagi, hm?"
Sehun merengut lucu, "Iya -iya, Kim-Dementor-Jongin."Katanya mendumel tidak terima, bahkan sesekali matanya melirik sebal pada Luhan.
Si pemuda bermata coklat segar itu hanya tertawa saja lalu pergi dan meninggalkan Sehun yang memasang wajah sembelit. "Apa?"tanyanya sinis pada Jongin yang terus saja menatapnya.
"Kau itu kenapa malah kabur dan bersembunyi disini, sih?"
"Aku masih mau hidup!"
"Siapa juga yang mau membunuhmu, huh?"tanyaJongin tak mengerti.
"Si Kim Jongin."jawab Sehun cuek.
"Ya ampun, aku tidak sejahat itu cocktail. Yah... walaupun ada sedikit pikiran untuk melakukan hal itu padamu sih."
"APA!?"Jerit Sehun mendadak diserang ketakutan. "sebaiknya aku pergi saja kalau begitu."gumamnya dan Jongin mendengarnya langsung saja menahan tubuh Sehun yang siap kabur.
Jongin segera memiting leher Sehun dengan tawa bak kakek sihir. "Ngehahaha, mau kemana kau kutil badak!"tandas Jongin riang.
"Lepaskan aku pak guru, please!"mohon Sehun.
Jongin tertawa lepas mendengar itu, baginya melihat wajah Sehun yang ketakutan seperti ini teramat menyenangkan, gelenyar aneh itu menyejukan hati Jongin. Abstrak tapi dia suka sensasi ini. "Hahaha, kau ketakutan ya. Cupcup, maaf ya aku tidak punya permen untuk anak kecil!"hinaJongin kurang ajar.
Sehun merutuk, lehernya tidak sakit sama sekali tapi tangan Jongin yang melingkari lehernya sungguh membuat Ia risih. Jengah sekali.
"Lepaskan tanganmu, sialan!"paksa Sehun.
"Tidak akan."tolak Jongin dengan wajah menyebalkan.
"Ketiakmu bau!"bohongSehun.
"Maklumi aku lupa pakai re*ona."elak Jongin santai.
"Ih, jorok!"ledekSehun.
"Masalah!"bentakJongin, pura-pura marah. "Itu artinya aku manly daripada kau, bau mu seperti susu!"
"Ya tentu saja, upil teripang daripada bau kopi begini!"
"Itu artinya aku gentlemen, kutil ayam!"
"Dementor!"
"Siput ngondek!"
"Kepala bunglon!"
Jongin menarik nafas dan berkali-kali menjitak kening Sehun alhasil Sehun yang tidak terima memberontak heboh dalam kukungannya.
"KEPARAT KAU, JONGIN!"teriakSehun karena kepalanya terasa ngilu-ngilu akibat jitakanJongin yang tidak main-main kerasnya.
"KAU LEBIH KEPARAT, SEHUN!"
Tatap. Tatap. Tatapan itu berakhir ketika mereka saling mendelik lalu membuang muka bersamaan. Masih dalam posisi yang sama. Dengan tangan Jongin yang masih melingkar di leher Sehun dan tangan si Albino itu masih memeluk pinggang Jongin.
"Ehem!"
Gelagapan mereka saling melepaskan saat mendengar suara deheman lembut terdengar tak jauh dari keduanya.
"Aku sepertinya mengganggu."tandas sosok itu.
Sehun mendengus kesal, "Apanya yang mengganggu, aku malah bersyukur kau disini. Ayo kita pergi saja."ajak Sehun pada sosok yang lebih pendek darinya.
"Hei, hei aku sedang mencari Chanyeol bukan mencarimu."
"Diamlah, Byun Baekhyun."
"Kau selalu saja tidak sopan denganku, Sehunna."
"Lalu?"
"Ck, sudahlah kau tetap disini saja. Aku masih mau hidup!"
Sehun menggeleng cepat, "Aku ikut membantumu mencari Park Chanyeol saja."
Baekhyun dengan cepat menolak, bukannya tidak mau mengajak Sehun tapi ituloh, masalahnya adalah pada Jongin. Si tampan berkulit coklat hot itu sudah memandangnya penuh ancaman semenjak Ia datang, dengan sorot mata seolah terganggu akan kedatangannya. Cih, dasar dementor posesif'batin Baekhyun.
Baekhyun menghela nafas, "Diam disini saja, oke. Selesaikan masalahmu dulu dengan partner in cinta mu itu!"
Mata bulat sipit Sehun melotot kaget saat mendengar kata 'cinta' dari bibir tipis Baekhyun, "Apa-apaan kau sipit!"teriak Sehun.
Baekhyun yang sudah lari dari sana sempat memeletkan lidah kepada Sehun dan setelahnya benar-benar menghilang dibalik koridor.
Sehun merengut, dia mengintip takut-takut kearah Jongin yang sialnya sedang menatapnya juga.
"Aku serius, akan membeli ramuan itu, Keju!"
"Sudah habis."
"Apa kau bilang?"
"Iya, ramuannya sudah habis."
"Jangan berbohong ya?"
"Tidak!"usai puas menjawab memekik, si albino itu sudah berlari lagi.
"Oh, demi kolor Cho-ssaem! Jangan lari lagi, apa kau tidak capek?!"jerit Jongin tak habis pikir, berapa banyak tenaga yang Sehun punya. Kalau mengingat satu fakta, tidak aneh sih manusia berotak standar memang mempunyai asupan energi berlebih dibandingkan manusia dengan kapasitas otak diatas cerdas.
Jangan menyumpahi Jongin dulu, ya…ini hanya sekedar teori yang Jongin ingat dari buku tanpa sampul dengan coretan sketsa hitam putih. Oh, jangan terlalu memikirkan pemikiran Jongin barusan. Karena Jongin sedang membicarakan isi komik buatan tangan si Kim Jongdae yang Ia baca tempo hari. Berarti teori itu adalah hasil karya teman sejawatnya itu. Iya, benar sekali.
"Demi nyawaku yang cuma satu tentu saja tak ada kata lelah bagiku, makanya berhenti berlaku anarkis pada tubuh mulusku! Cocktail!"seru Sehun dengan semangat menggebu.
Sementara Jongin, dia sudah bernafas satu-satu. Kedua tangannya terangkat yang menandakan dia telah menyerah meski kakinya masih berlari dibelakang Sehun.
"Please, Keju."mohon Jongin.
Suara memohonnya itu lebih mengarah agar Sehun menghentikan aksi kekanakannya itu atau mereka akan berakhir dengan antrian detensi menanti jika diteruskan.
Sehun spontan menghentikan kakinya lalu berbalik tiba-tiba dan hasilnya adalah hampir saja tubuh Jongin menubruknya jika saja si tampan itu tak punya reflek bagus.
"Kenapa berhenti tiba-tiba, keju!"protes Jongin.
Sehun merapatkan tubuhnya pada dinding, menyandar dan menarik nafas dalam-dalam, mengacuhkan umpatan Jongin sepenuhnya.
"Ah, aku lelah."gumamSehun.
Berlanjut merubah posisinya dalam posidi duduk sekaligus bersilang kaki di salah satu sudut koridor dengan Jongin yang berdiri menyandar disamping kanannya. Ya, kali ini mereka berlarian dikoridor yang mulai diramaikan oleh murid-murid lainnya.
"Sama saja."sahutJongin masih mendengar suara Sehun yang begitu pelan.
Alis mata Sehun terangkat kaget, "Kupingmu super sekali."katanya dengan wajah tak jelas, entah memuji atau mengejek, Jongin tak bisa membedakan mana ekspresi yang benar.
"Bukannya hari ini kau ada kelas Transfigurasi?"tanya Jongin.
Tubuh Sehun langsung berdiri tegap, wajahnya berubah panik seketika. "Eh, kok?"tak lama berubah tenang lagi, kali ini mimiknya beralih penasaran. "Bagaimana kau tahu?"tanyaSehun curiga, matanya memicing penuh keingintahuan.
Jongin meneguk ludah gugup, mana mungkin dia menjawab /aku punya list jadwal pelajaranmu sejak awal tahun/. Tidak mungkinlah mau ditaruh mana muka tampan Jongin jika dia mengatakan hal itu secara frontal.
"Baekhyun satu jadwal denganmu, bodoh!"
Sehun bergumam 'oh', menelan mentah-mentah kebohongan Si Kim Jongin itu. "Ya sudah! aku pergi, kalau kau benar-benar menginginkan ramuan Do Kyungsoo langsung minta saja dengannya. Biasanya kalau jam segini Ia akan menghabiskan waktu di perpustakaan bersama Zitao."kata Sehun lalu berjalan pergi meninggalkan Jongin yang ingin menahannya untuk tetap tinggal tapi tidak jadi karena Jongin ada urusan yang belum terselesaikan tadi malam dan Ia baru ingat bahwa pagi ini adalah puncak dari masalah 'itu'.
.
.
.
Jam 08.00 Pagi
Diruangan terpuncak jam Raksasa
Tak butuh hitungan panjang untuk sampai pada tujuannya jika mengingat bahwa Kim Jongin memiliki kemampuan untuk 'berpindah tepat' atau bahas kerennya 'teleportasi' dalam kurun waktu kurang sedetik.
Dan untuk saat ini Ia menuju ke jam raksasa dengan salah satu sahabatnya menunggu disana.
Stap!
"Hei, Chanyeol."sapa Jongin tak tahu diri. Bukankah dia harusnya meminta maaf karena kedatangannya yang tiba-tiba itu, seorang Chanyeol harus merelakan jantungnya memompa lebih cepat karena dilanda keterkejutkan sekian sekon.
Selaku sahabat yang kenal baik, Park Chanyeol memang telah terbiasa akan kedatangan Jongin yang bisa kapan saja muncul dimanapun sesuka hati Pemuda berkulit tan itu inginkan. Tetapi, hei dia hanyalah pemuda biasa dengan kekurangannya sendiri.
"kenapa kau lama sekali, dude?"tanya seorang pemuda tinggi dengan nametag Park Chanyeol. 2 telapak tangannya tengah menggegam 2 sapu terbang dan langsung mengulurkan salah satu benda itu kepada Jongin.
"sorry, tadi adalah masalah kecil."jawab Jongin asal sembari menerima sapu terbang yang diberikan Chanyeol.
"ku rasa masalah kecil ini berkaitan tentang pria cantik-berisik menyebalkan itu, huh?"
Kalau ada hal yang membuat seorang Jongin uring-uringan selain Xiu Sehun maka orang yang pantas adalah Park Chanyeol dan garis bawahi, dalam artian berbeda. Si tinggi dengan warna kulit putih kekuningan itu terkadang adalah pemuda yang cukup mengesalkan, cara bicaranya selalu menyulut emosi Jongin.
"Lalu, apa kita berniat membahas si Xiu itu atau menyelesaikan masalah kita, Tuan Park?"nafsu membunuh Jongin sedikit menguar ketika mengajak Chanyeol bicara pada saat itu.
Chanyeol cukup peka untuk tidak melanjutkan pembicaraan tak penting ini sedetik kemudian. "well, unicorn-unicorn itu memang tak bisa menunggu lebih lama. Berapa lagi kita membutuhkan tanduk mereka, dude?"
Jongin mulai menaiki sapu terbangnya untuk mengudara lalu disusul oleh Chanyeol. "kita lihat saja dulu kondisinya"jawab Jongin setengah malas untuk menjawab. Ia rapatkan jubah Gryffindornya begitu angin mulai menghembus kencang karena Ia membawa sapu terbang lebih keatas bahkan melampaui tinggi Jam raksasa yang memililki ketinggian berkisar 20 meter.
"dimana Baekhyun?"tanya Jongin.
Chanyeol mengernyit, "kau menunggunya?"tanya pemuda berlesung pipi itu kaget.
"ku pikir dia ada kelas tranfigurasi hari ini?"sambungnya Chanyeol lagi.
Terkesiap. "ah, begitu. Ku pikir dia nekad membolos seperti hari-hari sebelumnya."
Chanyeol terkekeh,"dia sudah terkena detensi beberapa kali dan ku rasa itu membuatnya jera. Satu lagi, yang membuatnya tidak nekad membolos. Kau kenal Huang Zitao?"
"hell, yeah..."
"dia tengah mengawasi pemuda dingin bertampang preman itu."
"jika mengawasi dalam kamusmu adalah mencari perhatian dengan bumbu cinta, well aku paham rasanya."
Entah mengapa Chanyeol tertawa, rasa geli itu mengusik perutnya, pemuda itu perlu waktu lama untuk menghentikan tawanya. "—pffft, haha... ini sungguh menggelikan, Kai."
Cibiran kesal yang diberikan Jongin. "kau pikir aku sedang mengatakan lelucon. Selera humormu aneh sekali."
"5 tahun."
"maksudmu?"
"kita berteman, ku rasa itu waktu yang cukup untuk kita mengetahui satu sama lain atau jangan-jangan kau lupa tentang kami, maksudku aku, Baekhyun dan Chen. Kurasa wajar saja jika isi kepalamu sekarang hanya di isi oleh, Xiu-Kejumu-manismu itu, huh?"cara bicara Chanyeol terbilang ringan.
But, hei bagi Jongin itu lebih menyebalkan dari suara cempreng milik Sehun. Oh, Gosh si keju itu lagi.
"okay, sesukamu saja dan kemana Chen si china palsu pecinta gadis 2D itu berada?"
Chanyeol mengendikan bahu, "entahlah, mungkin menghabiskan waktu didalam kamar asrama atau mengganggu pria manis bermata bulat dari asrama Hufflepuff."jawabnya mengambang tak yakin.
"ah sejak kapan kita diracuni kisah kasmaran seperti sekarang."ucap Jongin gusar.
Chanyeol menanggapi kegusaran Jongin dengan suara beratnya yang ringan, "jangan terlalu menghakimi, Kai. Apalagi kaupun termasuk didalamnya."papar Chanyeol yang langsung saja dihadiahi delikan ganas dari Jongin.
Chanyeol melanjutkan perkataanya tadi, "Dan lagi Mr. Kai yang terhormat. Byun Baekhyun punya penciuman serta penglihatan yang jeli. Kau salah besar apabila menduga Ia mengawasi Huang Zitao hanya untuk mencari perhatian dalam bentuk ingin dicintai, tetapi ku beritahu saja karena kurasa kaupun hampir tak ingat bahwa Baekhyun adalah animangus yang rasnya sudah hampir punah. "
Jongin. Ekspresinya sempat mengeruh malu. Ia dengan baik juga menekan rasa bersalahnya. Oleh karenanya Ia sengaja mengacuhkan itu dan mengumpat pelan, bukan untuk Park Chanyeol, atau Byun Baekhyun tetapi teruntuk dirinya sendiri. "Shit, dude. Lupakan saja, kita harus bergegas sebelum sore menjelang."
"Hm, ok."sahut Chanyeol acuh tak acuh. "Kembali ke pembahasan bumbu cinta tadi, apakah dugaanku benar kalau Kim-dementor-Jongin sedang jatuh cinta!"
F*ck.
.
.
.
Lantai 5
-Didalam Kelas Tranfigurasi-
Kelas Tranfigurasi. Berisik. Itu adalah kesan pertama yang kalian ambil. Tertib, jika seorang profesor dengan panggil –ssaem sudah berdiri didepan kelas, berbicara perkalimat dan memberikan perintah. Itu tidak berisik lagi tapi kacau balau.
Sehun sangat mencintai kelas ini, terlalu terobsesi. Karena profesor yang mengajar adalah sosok tampan, jenius dan yang pasti sudah mapan. Idaman para wanita dan ekhem –cowok bermental ukepun juga merasa tertarik. Tapi, Sehun sih sampai mati (kalau belum diperuke oleh Kim Jongin, eh?) merasa dirinya wajib berada diposisi atap eh atas (Seme). Tetapi...ada tapinya nih.
Itu dulu, obsesi seorang Xiu-merasa seme-Sehun langsung jatuh ketitik terendah ketika kelas Tranfigurasi diambil alih oleh pria berstatus profesor lainnya yah meski tetap tampan, meski tetap single, bahkan jenius. Lain cerita pokoknya, kalau profesor yang dulu tidak berulah, alias tingkahnya cool, kalem dan manis. Beda lagi dengan guru ini...mungkin jika dijuluki dalam kamus seorang Sehun –ganjen, ambigay dan penggoda itulah penjabaran ala Xiu-merasa seme-Sehun untuk profesor yang baru menjabat selama 3 bulanan ini.
Namanya?
perlu dikasih tau?
Baiklah, baiklah...inisialnya –LED- bukan lampu LED dan lengkapnya...Lee Donghae. Shit, Sehun bersumpah setelah keluar dari kelas Tranfigurasi Ia akan kumur-kumur dengan kembang tujuh rupa karena menyebut nama Pria penggoda itu. Pasti.
Dan, oh lord. Sejak kapan profesor satu ini sudah ada didekat mejanya, dengan pandangan ingin menelanjangi. Pantas saja Byun Baekhyun gelisah sejak tadi dan berkali-kali menyikut pinggangnya tanpa henti.
"Ku harap kau tidak membuat kekacauan hari ini, Sehunnie."
Sabar, Sehun. Bukan hanya pria ini saja yang memanggilmu dengan nama aneh, atau menjuruskan menggelikan. Ingatlah si Kim-Kampretos-Jongin bahkan menjulukimu –Keju. Demi dewa keong, keju tidak bisa bicara maupun berjalan. Apa motif si cocktail itu menambahi embel-embel Keju pada namanya. Jongin dan otak ambigunya. Ehei, kenapa Jongin mendadak muncul di pikiran Sehun sih.
Kembali kedunia nyata dulu. anggukan saja yang Sehun berikan. Dia memilih mengunci mulut atau obrolannya dengan si Lee Donghae akan berakhir perdebatan tak jelas dan berakhir dengan hukuman aka detensi yang pasti menyiksa batinnya tak tanggung-tanggung.
Setelah berbicara datar tak bernada, profesor itu mulai berkeliling dan menggerakan tongkatnya guna mengendalikan spidol yang telah terbuka tutupnya itu kewhiteboard, seperkian menit berlalu dan kalimat-kalimat yang saling berkesinambungan sudah tercetak apik diwhiteboard tersebut.
Sehun mulai membaca hati-hati karena tulisan profesor ini tak lebih baik dari goresan bocah SD. Hajar saja Sehun sesuka kalian, mana dia pedulikan. Hell, dia lebih memperdulikan matanya yang harus menyipit sesipit-sipitnya untuk bisa membaca kata-perkata disana.
Setelah berhasil membaca keseluruhannya tak sedikit gadis-gadis cekikikan girang membaca kalimat panjang tak bermakna itu. Dan Sehun sebagai lelaki yang masuk dalam komunitas pembenci LED, rasa horrorlah yang Ia dapat karena bunyi dari tulisan itu adalah...'Aku cinta kalian, sekarang berubahlah menjadi bentuk half-animangus sesuka kalian dan berhati-hatilah.'
Ehei, Sehun lelaki dan meski mau jadi –gay, tentu saja dia pilih dari bibit terunggul bukan semacam Lee Donghae ini. Ya, walaupun dia akui profesor ini memang tampan.
"hei, Hunna."bisik Baekhyun pelan tapi masih bisa didengar oleh Sehun.
"hngh."sahut Sehun malas. Dia mulai memantrai dirinya ngomong-ngomong. Percobaan pertama gagal, "ish, sulit sekali."dia sudah mengeluh beberapa detik kemudian.
Baekhyun bersimpati, "jangan cepat mengeluh, Hun. Sedikit berkerja keraslah."semangat Baekhyun, karena well si mata sipit imut itu sudah mengubah telinganya menjadi telinga kelinci dengan warna pink serta bulu-bulu halus yang menggemaskan.
"aku berusaha, Baek."
"aku yakin masih belum 100 persen."tebak Baekhyun tepat sasaran. STRIKE ONE.
Mata coklat Sehun memutar jengah, sudah diberitahu obsesi Sehun akan kelas Tranfigurasi sudah berkurang drastis sejak 3 bulan lalu. Maka jangan heran jika Sehun tak benar-benar mengeluarkan kemampuan otak yang Ia miliki secara penuh. "apa yang ku dapat jika berhasil merubah diriku, Baek. Syukur-syukur pipiku saja yang dinistai."gerutu Sehun sebal bukan main. "—nah, bayangkalah jika saja bibir atau bagian tubuhku yang akan di nodai. Aku lebih baik mati di Avada Kedavra oleh Kim-Kampretos-Jongin saja. Serius."
Alis tipis rapi milik Baekhyun bertaut dalam, bukankah mereka tengah membahas perubahan diri menjadi half-animangus tetapi kenapa ujung-ujungnya berakhir pada nama Kim Jongin.
"kau pasti bertengkar lagi dengannya, ya?"strike lagi. STRIKE TWO.
"shut up."perintah Sehun sinis.
"well, dari reaksimu sepertinya aku benar."kikik Baekhyun senang.
"Ya, ya sesukamu saja."Baekhyun terkikik manis. "Jujur saja Hunnna, saat aku memergokimu bersama Kai tadi, ada sedikit pengharapan yah setidaknya saling bercumbu dan itu muncul begitu saja dari dalam sudut hati—"
Sehun merengut mendengar perkataan Baekhyun yang menurutnya sangat menjatuhkan harga diri Sehun, "—sudut hati ternista maksudmu?"potong Sehun seenak jidatnya.
"Tidak, tidak. Kau salah!"sergah Baekhyun tidak setuju. "ini murni dari hati tersuciku dan –"
"—terdosamu!"imbuh Sehun berdesis. Dia mulai tidak suka arah pembicaraan ini.
Baekhyun merengut sekarang, bibir tipisnya mengerucut satu centi dan itu lucu sekali. Sehun mencibir, "Makanya jangan membicarakan dia lagi atau kau ku jadikan objek eksperimen mantera –confringo yang sejak lama ingin ku gunakan."
Baekhyun meneguk ludah ngeri, "Kejam sekali, okelah oke maafkan aku ya?"
"Hm."sahut Sehun pelan, dia tidak benar-benar mendengarkan permintaan maaf Sehun karena matanya sudah terambil sepenuhnya untuk memperhatikan interaksi 2 profesor didepan sana. "By the way Baek?"putus Sehun secara sengaja.
Baekhyun menoleh dan Ia menemukan Sehun tidak sedang menatap kepadanya melainkan kedepan sana, dan Ia yang sejak tadi sibuk menahan diri untuk tidak kebablasan dalam tranformasinyapun kini ikut menatap kearah depan kelas. "Ada apa, Hun?"tanya Baekhyun karena tak juga mendapati hal yang aneh.
"Ini hanya aku yang menyadari atau wajah Lee Donghae dan Cho-ssaem tampak lebih tegang dan menyeramkan dari yang biasanya?"
Begitu mendengar kalimat panjang itu, Baekhyun yang lumayan rempong itu jadi memperhatikan ekspresi Lee-ssaem juga Cho-ssaem lebih teliti dan Ia langsung mengangguk begitu selesai meneliti 2 wajah tampan itu.
"Eum, kau benar."
"Apa ada sesuatu yang terjadi, biasanya mereka akan berekspresi seperti itu ketika aku berulahkan?"tanya Sehun mengingat dosa-dosanya sendiri.
Baekhyun merasa geli tapi hanya mengangguk setuju. "Pasti masalah ini sama besarnya saat mereka menghadapi kenakalanmu."
"Terserah."
"Baiklah anak-anak, ada sedikit masalah dilapangan Quiditch. Para prefek akan datang untuk menjemput kalian, jadi sebisa mungkin jangan buat keributan sekecil apapun."ucap Cho-ssaem lebih tegas.
Sehun dan Baekhyun saling berpandangan, "Ternyata ada yang tidak benar, dan Baek –masalah ini bahkan lebih besar dari kenakalanku."
"Pastinya."
"Maaf Sir, bisakah kami tahu apa masalah itu?"salah satu murid memberanikan diri untuk bertanya dan Sehun merasa salut karena anak itu berani berbicara pada Cho-ssaem yang jahatnya 11-12 dengan si Kim Jo –duh, si cocktail itu lagi.
"Terjadi penyerangan disana, dan tenang saja para profesor juga para prefek maupun Chaser sudah bertindak. Kalian aman untuk sekarang?"
Was wes wos!
Bisik-bisik setara dengungan lebah itu menyeruak berisik saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Cho-ssaem.
Tegang. Cemas dan khawatir.
Chaser?...ulang Sehun. Tidak salahkah Ia memikirkan nama Kim Jongin ketika mendengar satu kosakata itu?
Mendadak waktu yang tak terhitung belasan menit itu berganti dingin, suasana hangat tadi benar-benar hampir menghilang dan satu pemikiran rumit terlintas di benak Sehun.
Apakah Jongin akan baik-baik saja?'inner Sehun membatin penuh pertanyaan.
.
.
.
Jam 8.30 pagi
-Hutan Perdamaian, Perbukitan Unicorn-
"Kemana kawanan itu?"
"Entahlah."jawab Jongin sama bingungnya.
Sekarang mereka berdua ada didaratan dengan rumput yang terhampar bak permadani hijau. Pepohonan rindang tak ketinggalan menghiasi padang rumput setinggi tumit kaki itu. Sejauh mata melihat hanya ada rerumputan liar segar yang biasanya akan disantap oleh kawanan Unicorn bertanduk 3. "Apakah kali ini Jongdae salah memperhitungkan jadwal pemotongan tanduk-tanduk untuk persediaan didalam kelas Ramuan?"
Chanyeol memandang Jongin heran, "Hello, Jongdae mengerjakan ini bersama Prof. Sungmin dan ku rasa kesalahan sekecil ini tidak akan terjadi, apabila mengingat Prof. Sungmin ikut andil didalamnya."
Jongin menghela nafas, "Beliau juga manusia, ku rasa tak aneh jika sesekali orang jeniuspun melakukan kesalahan baik itu besar maupun kecil."kata Jongin.
"Sudahlah, daripada kita mengobrol tentang hal yang akhirnya sudah jelas begini akan lebih baik kita mencari lebih jauh. Siapa tahu kawanan itu berpindah tempat?"saran Chanyeol tidak benar-benar memaksa ataupun memerintah. Dia cukup sadar diri untuk tetap ada dalam bimbingan Kim Jongin, si Pangeran dingin itu tahu apa yang akan dia lakukan. Jadi Chanyeol hanya perlu menunggu barang sejenak, terpenting dia sudah mengusulkan isi kepalanya.
"Baiklah, ayo kita cari kearah barat saja. Jika aku tidak salah ingat selain disini, rerumputan disana jauh lebih subur dibandingkan tempat lainnya."
Ok, Chanyeol mengangguk ringan. "Ayo, jangan menunggu lama atau detensi menanti kita."
"eum, yeah."
Perlu waktu sekitar 10 menit untuk menempuh tempat itu, setiap pada rumput dipisahkan sungai kecil dan mereka tadi menyusuri lokasi itu dan begitu sampai disana. Kedua remaja dengan kepribadian berbeda itu saling bertatapan. "Sejak kapan Ras Feene dan Ras Unicorn berkumpul?"tanya Jongin lebih dahulu.
"whoop, menghindar KAI!"Jerit Chanyeol dan reflek saja Kai membawa sapu terbangnya miring ke kiri guna menghindari lesatan sihir berwarna hitam keunguan.
Rasa amarah langsung menguasai Jongin, matanya mencari-cari siapa pelaku sialan yang hampir saja melukainya dengan sihir yang orang idiotpun tahu itu adalah sihir penyihir hitam. "Damn, siapa yang melakukannya."geram Jongin.
"Tenanglah Kai, ku rasa sihir tadi tidak diarahkan kepadamu."ucap Chanyeol menenangkan Jongin.
Paham bahwa sahabatnya itu mudah sekali terpancing amarahnya jika ada yang berani menantangnya.
Jongin mendengus kasar, Ia memicingkan mata hitamnya, meluaskan pandangannya dan bahunya menegang saat Ia melihat ke sudut lain. ditemukannya 5 penyihir hitam berdiri disalah satu batu yang terletak didataran yang lebih tinggi. Bagaimana Jongin tahu mereka penyihir dari jenis ras hitam...simple, mata ungu 5 penyihir itu sudah menjelaskan siapa mereka sebenarnya.
Ia memandang Chanyeol lekat-lekat. "Ku rasa tadi bukan semacam fatamorgana. Sihir itu pasti dirapalkan oleh penyihir pria berjubah hitam itu."tandas Jongin tajam. Matanya melirik hati-hati, bersyukur para penyihir itu tidak mengetahui keberadaan mereka berdua. "Lebih baik kita pergi dan kabari situasi ini kepada Principal Choi."
Chanyeol menurut saja. Dia sudah dilanda rasa cemas.
"Sebaiknya kita berapparate saja agar cepat sampai."tutur Jongin.
Namun Chanyeol dengan cepat menolak, "tidak Kai. Itu berbahaya."
"Kau tidak mempercayaiku?"tanya Jongin terkejut.
"Bukan begitu, akan lebih aman jika menggunakan teleportmu saja."saran Chanyeol hati-hati. Dan Ia merasa lega saat Jongin tidak terlihat menolak.
"Baiklah, Baiklah. Pegang tanganku."kata Jongin sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Memangnya harus?"tanya Chanyeol dengan raut risih.
Jongin berkata gemas, "Iya dan cepatlah, Prince Warmy!"
"oke."
Begitu mereka saling berpegangan, Jongin memejamkan mata untuk berkonsentrasi penuh. Jarak Hutan perdamaian dan Sekolah cukup jauh maka Ia harus hati-hati untuk melakukan ini. Saat matanya terbuka, dimoment itu juga tubuh mereka menghilang dari eksistensi.
.
Jongin dan Chanyeol hanya tidak tahu, ke 5 penyihir hitam itu sudah mengetahui keberadaan mereka. "Tidak akan menarik jika kalian tak punya persiapan, bukan?"gumam salah seorang penyihir yang memandang pada posisi Jongin dan Chanyeol tadi mengintip.
"Apa yang kau gumamkan, Mr. Jung?"
"Diamlah, bocah."
.
.
.
Cuap-cuap Moonie.
Confringo adalah mantera yang dapat menyebabkan sesuatu yang terkena manteran ini akan terbakar ( Sumber : Wikipedia.)
Akhirnya selesai juga Chapter 6. Peregangan badan, menguap dan sambil makan... 6 jam didepan laptop oey...mumet..
Point 1 : Alur ngambang lagi nggak saling bersangkutan antar chapter. Jadi jangan kaget kalau semisal, dichapter ini 'isinya chapter 5' dan chapter berikutnya 'sudah lain lagi' dan selanjutnya 'lanjutan chapter 5'...loncat-loncatan gitu dah. Tapi, aku sebisa mungkin dah memunculkan moment dari pair utama ( r ; kaihun and suhodo dan kalau inget ada pemanis pair lain)
Point urgent! : aku senengloh kalian masih mau review, *mansae_mansae*... review kalian membuat hatiku berbunga-bunga *senyum2...hariku terasa indah, *Moonie mulai alay*...jangan bosan review ya...pikirkan pahalanya jangan pikirkan authornya yang ngeselin dan agak alay menjurus ambigu/?
Sudahlah...itu aja sih point-point sekarang. (ayo..ayo temukan hal misterius didalamnya, ya kalopun ada yang bikin kalian penasaran juga sih?)
Point paling utama : udah diupload dan ku tunggu respon kalian. *kedip2 ganjen *ditimpukin...review...review...review...!
