A fanfiction
By AriaMoonie
Warning : Ini akan jadi Zona Kaihun juga Suhodo sampai akhir. Bahasa tidak baku (kadang-kadang juga super formal), Bahasa frontal. Typo parah. Moment yang minim. Dan banyak lagi.
IF YOU HATE KAIHUN OR SUHODOCOUPLE, DON'TBASH OR READ, JUST CLICK BACK!
.
.
.
"2 malam lalu, sebelum penyerangan para Penyihir 'hitam'...
Dingin. Mata Jongin, lengkapnya; Kim Jongin, sudah semenjak tadi terpejam lalu terbuka. Terus seperti itu. Sudah 30 menit dia berdiri disana, terpaku menatap bangunan tinggi dihadapannya yang hanya berjarak 1 meter. Tinggal mengetuk pagar besar itu maka masalah beres. Tapi, urung...Ia teringat masa lalu jadi keraguan menggelayutinya lagi-lagi.
Ia rapatkan coat panjangnya. "Shit, kenapa malam ini begitu dingin."gerutu Jongin. "Ah, pasti si keju juga sedang kedinginan."pikiran Jongin mengawang. Dia memikirkan pemuda berkulit creamy itu sekarang. "Jongin, bulatkan tekadmu atau kau akan menyesal."
Ia tarik nafasnya dan dihembuskan cepat, mengingat Sehun seolah memberi keberanian kasat mata untuknya. "Ada untungnya juga mengingat si keju itu."gumam Jongin disertai kekeh aneh. "Berhenti berbicara sendiri dan mulai bertindaklah sekarang, Jongin."
Langkah pertama adalah menekan bel yang ada di pinggir pagar, 3 kali Jongin tekan. 5 menit Ia menunggu, Ia hampir mundur tetapi tak jadi saat pagar itu terbuka pelan menampakan satu pria berpakaian security dihadapannya. Tidak bergerak. Mungkin shock karena kemunculan Jongin.
"Apa kabar, Ahjussi Seo."sapa Jongin tenang.
Mata tua itu mengerjap, "Ah, astaga. Selamat datang Tuan muda. "sambutnya sembari mempersilahkan Jongin untuk masuk kedalam.
Sementara Jongin. Dia tercenung. Matanya membelalak. Saat 2 mata hitamnya menangkap 1 siluet familier yang kini tengah memandangnya penuh ketidakpercayaan. Baju sosok itu tampak rapi dengan pakaian tebal, jelas ingin berpergian. Tetapi, langkah anggunnya terhenti, tas mahalnya yang tadi digenggam terjatuh lepas keatas tanah berlapis marmer. Jemari lentik itu menutup mulut yang tadi terbuka. Dengan satu nama yang sempat terurai. "Jo-Jongin."begitulah yang Jongin tangkap dari gerakan bibir tanpa suara itu.
"Mama."bibir kissable Jongin juga bergerak kaku. Seolah tak pernah menyebut nama -panggilan, itu dalam waktu lama.
"Nyonya Kim."security menunduk hormat lalu memundurkan tubuhnya untuk menjauh, memberikan waktu keduanya untuk berinteraksi. Ya, dua orang. Berstatus Ibu dan Anak. Kim Hyoyeon dan Kim Jongin.
"How are you, Mama?"Jongin berinisiatif menghapus keheningan. Hatinya didera rindu hanya dengan melihat Ibunya, wanita yang telah lama Ia tinggalkan karena satu alasan tertentu.
Kim Hyoyeon sejatinya adalah seorang wanita rapuh dibalik sifat tegas yang menggambarkan sosoknya selama ini. Matanya mulai dibasahi air mata. Ia mendekati tubuh tinggi anak terkasih yang setiap malam selalu Ia rindukan. Memberikan pelukan erat, seolah takut sosok tinggi itu hanya khayalan belaka dan akan memudar ketika Ia melepaskan pelukannya.
"Sayang, kau benar-benar ada. Mama, tadi berpikir kau hanya bayangan semu saja. Bagaimana kabarmu, nak?"suara itu masih tegas, walau lebih didominan suara segukan tangis.
Jongin terenyuh, hatinya serasa diremas rasa bersalah. "Aku baik-baik saja, Mama. Bukankah tubuhku sekarang melampaui Mama, hee hee."canda Jongin guna mengurangi suasana sedih yang dirasakan oleh Mama nya. Jongin benci air mata. Apalagi bulir bening itu dikeluarkan oleh orang terdekatnya. "Well, apakah Mama bersedia membuatkan satu gelas berisi coklat hangat untukku dan juga kentang rebus?"
Hyoyeon melepaskan pelukannya berat hati tetapi permintaan Jongin lebih Ia dengarkan. Matanya menyorot sumringah. "Tentu saja. Ibu akan membuatkan dua permintaanmu. Ayo masuklah!"ajak Hyoyeon semangat. Ia menarik tubuh tinggi Jongin berlebihan. Ia hanya terlalu bahagia, bung. Maklumilah.
5tahun, bukanlah waktu yang sebentar...benarkan, dude?
.
...Diruangmakan...
Sesampainya didalam, Jongin dipaksa duduk disalah satu kursi dengan meja makan panjang berbentuk oval yang kini dijadikannya tumpuan siku kirinya. 2 mata hitamnya tak berhenti mengawasi setiap gerak-gerik sang Ibu. Awalnya tadi memakai apron berwarna coklat tua, memasukan air kedalam panci kecil, mencomot satu mangkuk dengan kentang tanpa kulit dari dalam Refrigator dan begitu seterusnya sampai dimenit entah yang keberapa, suara berat Jongin menginterupsi.
"Mama, ingin pergi kemana tadi?"
Hyoyeon tidak menghentikan aktifitasnya ketika menjawab pertanyaan Jongin. "Ke rumah Han mi-sshi."
"Ada apa?"
Hyoyeon diam-diam menarik senyum, sudah lama sekali rasanya. Terakhir kali Ia bisa berbicara sesantai ini dengan anaknya adalah sekitar 5 tahun lalu saat semuanya masih begitu damai, tidak seperti sekarang...yang hanya diakhiri kerunyaman.
"Merayakan hari ulang tahun,..."bibir Hyoyeon serasa dilem. Kelu untuk melanjutkan.
Jongin menunggu, meski Ia sudah menduga-duga. Tidak berharap sosok bocah berusia 12 tahunlah yang hendak sang Ibu sebutkan. Walau sebetulnya Jongin ingat. Benar tidak lupa kalau hari ini adalah hari kelahiran sosok terkasih yang setiapnafas yang Ia hembuskan juga selalu Ia pertanyakan eksistensinya...dan dia; adalah adiknya, Kim Donghyuck.
"Apakah uri baby, Donghyuck?"tanya Jongin sengaja menekan nama sang adik dengan lugas.
Hyoyeon mengangguk, jemarinya melepaskan tali apron, meletakan diatas Refrigator. Jongin rasa Ibunya sudah selesai, karena saat berbalik, tangan kirinya tengah menggenggam mangkuk berisi kentang rebus satu genggaman lainnya memegangi gelas berbahan keramik dengan asap yang masih mengepul.
Jongin melupakan sejenak pertanyaannya guna menyambut 2 permintaannya yang telah jadi. Saat 2 hal itu diletakan diatas meja segera saja Ia hirup aroma coklat dari gelas keramik itu. Benar-benar membangkitkan memori lamanya. Bibirnya tersenyum lucu, "Thanks, Mama."ucap Jongin lega.
Hyoyeon tersenyum teduh, "Sama-sama, kids. Apa terjadi sesuatu?"
Jongin menggeleng cuek. Dia lahap mengunyah kentang rebus manis gurih itu. "Kurasa untuk saat ini belum."
"Kau bisa jujur jika tidak keberatan."tekan Hyoyeon lembut.
Jongin kekeuh menggeleng. Dia masih betah berlama-lama disini. Sebentar saja, Ia ingin menikmati kebersamaan yang amat jarang bahkan hampir tidak pernah ini bersama Sang Ibu. Dulu Jongin pernah kembali tetapi hanya sejenak itupun dalam kondisi terburuknya.
Tetapi sekarang ini seperti kesempatan bagus. Ayah tirinya sedang tak ada ditempat, mana mungkin Ia menyia-nyiakan hal langka ini.
10 menit mereka berdiam diri. Hingga akhirnya Jongin selesai dengan kentang rebus juga coklat hangatnya.
Hyoyeon tersenyum untuk yang ke sekian kalinya.
Jongin menaikan satu alisnya, "Apa ada sesuatu diwajahku, Ma?"
Hyoyeon menggeleng. "Tidak ada, , hanya terlalu bahagia."jawab wanita berperangaian elegan itu. Manik hitam yang diturunkannya kepada Jongin benar-benar memancarkan kebahagian. "Seandainya Papamu ada disini. Dia tidak akan berhenti mengajakmu berbicara."ucap Hyoyeon sambil menatap kosong keatas langit-langit rumahnya yang tinggi. Ada lampu kristal yang tergantung dan mempercantik atap langit itu."Dia masih sering menghubungi, Mama. Menanyakan apakah Kau sudah kembali."
Nyeri. Ini rasanya seperti Jongin dipukuli tangan tak terlihat berkali-kali tanpa jeda. Hanya ada rasa bersalah. Melelahkan.
Tak ada hidup yang menyenangkan jika kau terkurung dalam rasa bersalah tak berujung. Obat paling ampuh adalah meminta maaf dan kemudian dimaafkan. Terdengar sederhana namun faktanya itu lebih sulit dari mengerjakan puluhan tugas essay sekalipun.
"Nak?"
Mata Jongin mengerjap saat suara Ibunya memanggil. Ia langsung menghentikan lamunannya.
"Sekali-kali kunjungilah, Papa mu."
Tidak ada jawaban, pemuda yang semakin terlihat garis tampannya itu tertunduk disertai senyum tak bermakna. Hampa.
"Aku belum siap, Ma."
Hyoyeon memaklumi, sering. Tapi, dia mencoba memberi motivasi. "Umur tidak ada yang tahu, jangan menunda terlalu lama. Kau boleh menyesali tetapi jangan melupakan hidupmu dimasa ini. Papamu menunggu untuk pulang, dia sudah memaafkanmu, sayang."
Hening. Jongin tenggelam dalam dunianya lagi dengan Hyoyeon yang juga tak melepaskan pandangannya dari Jongin. Pemuda itu tetap dalam posisi menundukan wajah. Hingga, Jongin teringat sesuatu.
"Mama, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Hyoyeon sudah menunggu. Ia menanti.
"Apakah wajar jika penyihir lain menggunakan tongkat sihir yang bukan miliknya?"
Hyoyeon tersentak. Kenapa pertanyaan itu sama persis seperti yang Ia pernah tanyakan pada Ibunya dan dalam sudut pandang lain; adalah nenek Jongin. "Tidak, nak. Jika dia menggunakan milik penyihir lain maka fatal akibatnya."
"Tetapi, Ma. Aku –maksudku Temanku itu tidak terluka bahkan luka sekecil apapun tidak tampak."
Hyoyeon mengerjap pelan, matanya memandang kearah lain. "Dua kemungkinan. Ini antara dia mate atau penyihir hitam. Ini sebenarnya rahasia tetapi Ibu hanya mengatakan hal ini saja, Penyihir hitam mampu menekan jauh sihir berlawanan dengannya, menyerap sihir milik penyihir lain. dalam artian singkat Ia bisa memakan sihir itu. Meski terdengar membahayakan, tetapi kekurangan dari kemampuan tersebut adalah; dia hanya bisa menyerap penyihir lain apabila dia memiliki rasa 'peduli'...cinta."
"Hah?"
Jongin tidak bisa berkata-kata.
Mata Hyoyeon tak sengaja melihat jam dinding pintu dapur. "Nak, sebentar lagi acara ulang tahun -Donghyuck akan dimulai."
Kepala itu mendongak cepat, "Benarkah, apa sudah terlambat?"
Untuk sesaat Jongin melupakan hal itu. Dia akan membahas ini dengan si Albino itu. Karena, adik terkasihnya perlu di nomor satukan. Toh, walaupun Ia kembali...Jongin yakin si Xiu-kerempeng-Sehun itu sudah tidur nyenyak.
"30 menit lagi. Perlu waktu 1 jam untuk sampai disana."
Jongin tersenyum bangga, "Mama, kita adalah penyihir dengan Teleportasi sebagai hadiahnya."
Hyoyeon menggeleng cepat, "Sayang, ini didunia Muggle."kata Hyoyeon tegas. Matanya menyorot tidak mengizinkan."Jangan sampai kita menjadi objek percobaan mereka karena kemampuan kita ini."lanjutnya lagi.
Mata Jongin memutar malas, "Come on, Mama. Apa kau lebih suka melihat wajah kecewa uri Donghyuck, huh?"Jongin berdiri, memutari meja dan menyentuh bahu Ibunya. "Tidak ada yang akan terjadi. Ayolah, Mama."paksa Jongin.
Hyoyeon berdecak. Bukannya tidak ingin tapi akan beresiko jika 1 manusia menyadari kalau mereka adalah penyihir bahkan bisa berpindah cepat ke lokasi lain dalam kurun waktu 5 detik saja, tak peduli seberapapun jauhnya jarak yang ditempuh tetapi tidak sekeren itu karena jika tak bisa berkonsentrasi; kata terluka pasti akan menjadi ujungnya. "Hampir 95 % tamu diacara itu adalah Muggle, bocah!"
Jongin meneguk ludah, Ibunya mulai emosi. Kata bocah, sudah seperti alarm pasti. Jongin yakin setelah ini kepalanya akan di nistai oleh Ibunya yah itu jika si Kim Jongin tidak menghindar, ketika dia masih anak-anak, ehei sekarang dia sudah cukup dewasa maka dari itu, Ia mulai berjalan menghindari 1 tamparan penuh kasih dari Sang Ibu.
"Berani menghindar, huh?"galak Hyoyeon.
"Aku masih ingat rasanya dipukul, Mama. Kepalaku pasti benjol."dumelnya sebal.
Hyoyeon terkekeh. "Dasar lemah."hina wanita itu.
Jongin mendengus, "Aku pergi lebih dahulu. Kalau Mama mau memakai kendaraan sih terserah."ucap Jongin santai, "Ngomong-ngomong, tempat tinggal Papa tidak pindahkan?"
Hyoyeon menggeleng, "Tidak, masih disana. Dia melakukan itu agar kau tak perlu pusing jika mendadak ingin berkunjung."
Jongin mendesah pasrah dan mulai berkonsentrasi, sebelum mendengar ocehan Ibunya lagi. Tubuhna sudah menghilang.
Meninggalkan Hyoyeon yang kesal. "Dasar anak itu masih saja keras kepala."gumamnya, sebal tapi Ia merasa senang. "Baiklah, Hyoyeon sepertinya kau harus berteleportasi juga atau anakmu itu akan pergi sebelum kau memukul kepalanya itu."
Dan ya...Hyoyeon juga ikut berteleportasi jadinya.
.
.
.
"2 hari kemudian...Hari Penyerangan...
Sehun sudah tidak tahan lagi. Kepalanya sudah di penuhi banyak pertanyaan tak waras yang jelas tidak akan dimengerti oleh siapapun termasuk dirinya sendiri. Sehun berontak, Ia berdiri cepat dari kursinya lalu berlari menuju lemari tempat penyimpanan sapu terbang berada.
Dua pasang mata dari orang yang berbeda memperhatikan gerak-geriknya, satu diantara mereka segera menahan Sehun ketika pemuda itu sudah berlari menuju pintu kelas, bersiap kabur. Keduanya bersitatapan, saling menukarkan tatapan berlawanan. "Jangan berani melangkah keluar, Kids."itu Cho-ssaem. Dingin dan menuntut. Biasanya Sehun akan langsung mengkeret dan bersembunyi seperti orang yang terbuang disudut. Tidak. Kali ini Sehun nekad, menaiki sapu terbangnya dan meninggalkan Cho-ssaem yang meneriakan namanya seperti orang kesetanan dibelakang sana.
"Si sialan Jongin itu, ada atau tidak. Selalu berhasil membuatku kesal tanpa sebab dan juga aku merasa kehilangan."gerutu Sehun, Ia membelokan sapunya ke koridor kiri, saat jendela besar yang mengarah langsung ke lapangan Quiditch terlihat tanpa berpikir ulang Ia melesat dan hanya perlu melaju 4 meter jauhnya Ia sudah ada disana.
Kesan pertama Sehun saat melihat Lapangan Quiditch adalah Kacau walau tak ada korban jiwa.
Rerumputan seperti terbakar ditempat berbeda, barier yang melindungi sekolahan inipun sudah hancur entah karena apa.
Matanya bergerak cepat, mencari satu orang, satu nama dan satu jiwa yang semenjak tadi mengacak-ngacak rasa khawatir yang bercokol dalam benaknya...Kim Jongin. "Dimana?"hati Sehun terasa ditekan saat tak menemukan Kim Jongin dimanapun. Ia berputar diatas sana.
Stap!
Bukk!
"Akh!"
Tubuh Sehun seperti terdorong kekiri dengan seseorang yang mengurungnya dalam pelukan. "APA KAU GILA!"dengan teriakan keras menyusul kemudian. Perlahan mata Sehun terbuka dan hatinya begitu lega saat orang yang berteriak tadi benar-benar suara orang yang Ia cari.
"Jo-Jongin, itukah kau?"koor Sehun pelan, entah disadari oleh Sehun atau tidak, karena dua lengan putihnya kini juga tengah memeluk tubuh Jongin. Menyembunyikan wajahnya didada bidang orang yang selalu Ia sumpahi. "DAMN, KENAPA KAU TAK BISA HILANG DARI KEPALAKU!"
Jongin meneguk ludah kasar, ketika Sehun mendongak dan kini mata coklat cerah itu tengah bertubrukan dengan mata hitam milik Jongin.
Terlalu intens. Jongin mengalah, karena satu lesatan sihir hitam hampir mengenai mereka. "Aku tak punya waktu untuk berdebat konyol denganmu, Ok! Jadi sebaiknya kembalilah ke kelas dan jangan pergi kemanapun. Kau ama disana."
Jongin lebih sayang nyawa.
Tapi, Sehun itu. Ck, sepertinya dua orang ini tertukar. Sehun itu tidak menurut dan sekarang mendorong kasar tubuh Jongin lalu melesat turun dan bergabung bersama para Profesor.
Diatas sana Jongin mengumpat, "XIU-IDIOT-SEHUN!"Lalu menukik cepat, meletakan sembarangan sapu terbangnya dan berdiri disisi kanan Sehun. Mulai merapalkan mantera juga.
"Jongin, bukankah aku sudah mengatkaan untuk pergi bersama Chaser lainnya!"seruan keras itu di lontarkan salah satu profesor berperawakan tinggi, putih dan berwajah dingin. Kim Kibum. "JANGAN GILA, BOCAH!"
Jongin agak menjauh saat suara berat Profesor itu menyentak rasa takutnya. "Sorry, Kim-ssaem. Aku tidak mungkin meninggalkan Xiu Sehun disini."'
Kim Kibum mendesah, Ia menggerakan tongkat sihirnya saat satu sihir hampir mengenai jantungnya dengan merapalkan. "Protego Horribilis!"
mata hitam Jongin terbuka lebar, "Ma-mantera itu bukankah hanya digunakan untuk menangkal sihir hitam. Jadi, apa yang ku lihat tidaklah salah?"
kibum menggeleng, "ini memang sihir hitam. Ke-5 orang itu adalah legenda yang mengerikan. Mereka bertindak setelah sekian lama diusir didalam hutan perdamaian."pria itu berkali-kali merapalkan mantera yang sama, lalu tiba-tiba melayangkan kutukan tak termaafkan pada salah satu penyihir hitam yang juga merapalkan kutukan lainnya.
"CRUCIO!"Seru Kibum lantang. Amarah menguasainya menggantikan kesabarannya yang sudah habis.
"KEHAAAHK!"
Satu penyihir hitam terpental jauh, tubuhnya menubruk dinding dan terjatuh dengan suara kesakitan lalu terdiam dengan wajah menderita. Hampir mendekati kematian.
"Shit, Kibum. KITA BUKANLAH PEMBUNUH!"Satu teriakan keras terdengar memperingati. "JANGAN BUAT DIRIMU KESULITAN, BODOH!"
Itu Kim Heechul. Pria dewasa paling modis dan cepat panas yang pernah Jongin kenal.
"DAN KAU BOCAH TENGIK! JANGAN HANYA MELIHAT DENGAN WAJAH SUPER IDIOTMU! LAKUKANLAH SEPERTI YANG DILAKUKAN SI TROUBLEMAKER ITU!"
Jongin tersentak kaget, Ia mengangguk cepat. Sepertinya dia tadi terlalu kagum dan melupakan fakta bahwa dia sedang dalam medan tempur.
Baiklah, Kim Jongin. Konsentrasi. Dialihkan pandangannya dari Kim Kibum dan memandang penuh kearah sana, jauh didepannya. Penyihir hitam itu sudah hampir mendekati gerbang lapangan Quiditch. Hanya tersisa 3 penyihir.
Ia melirik sejenak kearah Sehun. Bibirnya terbuka kecil, lalu terkekeh saat ditemukannya Si Sehun tengah melesatkan mantera asal-asalan tetapi kuat kepada para Feene dan beberapa unicorn yang berada dibawah pengaruh sihir hitam.
Jongin benar-benar mengalihkan fokusnya lagi. "Fokuslah ke tempat yang benar."gumam Jongin. Ia mengangkat tinggi-tinggi tongkat sihirnya.
"Fiendfyre!"seru Jongin.
Dari ujung tongkatnya munculah percikan api, ditekannya kuat. Membayangkan satu bentuk bayangan burung Phoenix raksasa, Ia melontarkannya keatas langit lalu menggerakan burung Phoenix raksasa itu menuju 3 penyihir yang tersisa.
3 penyihir hitam itu bersamaan merapalkan mantera. "PORTEGO!"teriakan ketiganya serentak.
"AAAKH!"
Satu penyihir terdorong jauh. Tinggal tersisa 2. Jongin hampir kalah, sihirnya terdorong mundur dengan tempo perlahan-lahan.
"Fiendfyre!"
Dan sihir lainnya dengan bentuk burung elang raksasa yang tak kalah besarnya membantu Jongin. Kedua hewan bayangan dengan kobaran api merah itu semakin menajam kuat, mengikis pertahan penyihir hitam.
Dan luar biasa. 2 penyihir itu terlempar jauh menubruk dinding keras lalu terkapar menutup mata.
"Hosh! Hosh!"nafas Jongin berderu cepat. Ia berjongkok.
"Ukh, sialan."Sehun ambruk dengan tubuh terlentang. "Aku baru bergabung tapi sudah melelahkan sekali."keluhnya dengan nafas pelan tapi terlihat kesulitan bernafas.
Sementara 5 Profesor yang menyaksikan aksi dua orang muridnya itupun hanya bisa berdecak kagum dalam pikiran mereka masing-masing. Satu Profesor mulai berbicara. "Kim Jongin dan Xiu Sehun."
Mata Sehun terbuka dan Jongin yang segera menegakkan tubuhnya. Dua orang pemuda yang tengah kehabisan tenaga itu saling bertukar pandangan penuh kecemasan.
Apa mereka akan dihukum?
Atau
Tidak?
"Kerja bagus. Madam Seo akan merawat kalian di Hospital Daerang."
Terkejut. Heran. Bingung. Itulah yang dirasakan oleh Kim Jongin dan Xiu Sehun.
Sehun pertama bereaksi, "Tak ada hukuman untuk kami?"tanyanya bercampur senang dan lega.
Jongin hanya menanggapi dengan kekehan tak kalah lega tapi juga agak kesal dengan pertanyaan Sehun. Aneh, si albino itu seperti berharap mendapatkan hukuman. Jongin mendekati tubuh Sehun yang kini ada dalam posisi duduk, dengan kaki yang menjulur. Sehun mendongak sebentar untuk melihat wajah Jongin.
Wajah masam Jonginlah yang menyambutnya. Dan Sehun mengerti arti tatapan terlalu keji yang diarah Jongin kepadanya. Mampus, Sehun baru sadar kalau kata-katanya tadi seperti minta rasa capek alias kerja rodi alias menjalankan detensi.
Kim Kibum menggeleng disertai senyum keji. "Besok. Tenang saja, kalian akan mendapatkannya jadi semalaman ini silahkan beristirahat sebanyak mungkin. Karena, besok kalian akan berkencan dengan puluhan kuda, beberapa naga serta 40 kuali."
Ditambah orang yang memberikan hukuman buat mereka adalah Kim Kibum. Si dingin berhati iblis. Wajah gantengnya itu menipu. Sehun sih suka, tapi kalau sudah dihukum oleh beliau. Efeknya bisa baru 1 minggu hilang. Ish, stupid-Sehun'rutuk Sehun membatin penuh penyesalan.
Jongin menajamkan matanya kearah Sehun. Penuh dendam. "Kau."tunjuk Jongin.
Sehun menggaruk hidungnya, dengan wajah malu. "Hehehe."lalu terkekeh dungu. Mata coklat cerahnya menyorot penuh rasa bersalah. "Sorry, Cocktail."saat mengatakan itu wajah Sehun benar-benar di hiasi kata 'Maaf' dan 'Maaf'. "Aku sadar kalau aku salah, kok. Apalagi hukumannya tadi benar-benar mencekik. Aku mau minta maaf deh, siapa tahu habis menjalani hukuman tidak manusiawi itu, tinggal namaku saja yang bersisa."entah ya. Sehun itu sedang menyindir Kim Kibum atau meminta maaf.
Kata-kata panjangnya bisa dijadikan kesimpulan. "Hati-hati dalam berucap, bocah."itu Kibum. Suaranya yang berat itu makin terdengar menyeramkan karena dibumbui rasa pedas-pedas amarah. "Salah-salah nyawamu ku cabut nanti seperti shinigami. Kau mau?"tawar Kibum dengan senyum maniak ala Joker.
Sehun menggeleng antusias, dua tangannya terangkat dengan bibir terkatup rapat. "Tidak, terimakasih."
Jongin mendengus, kalau Kim Kibum mengartikan kata-kata sok melankolis dari Sehun tadi sebagai 'sindirian. Bedalagi dengan Jongin yang menganggap itu sebagai permintaan maaf.
Jelas saja Jongin enggan memaafkan. "Kau bisa tidak, sehari saja jangan berbuat kebodohan."
"Maaf, sepertinya itu kebiasaan ku."Sehun mencicit pelan.
Jongin malah melunjak jahat. "Itu bukan bagian terburukmu."tandas Jongin. "Aku sih tidak masalah kau mau melakukan hal paling bodoh dan mendapatkan predikat siswa paling gila yang pernah ada. tapi, jangan sertakan aku dalam cerita hidupmu ini. Keju!"
"Itu bukan kerjaanku. Takdir yang melakukannya."protes Sehun. Mulai merasa ditindas.
Kemana Para Profesor?
Tuh, sekarang sedang mengelilingi 2 orang paling nakal, berulah, dan merepotkan yang sekarang mula adu debat tak penting mereka.
"Takdir tidak akan ikut campur untuk manusia sejenis dirimu."
Sehun mendongak lagi, mencari-cari mata Jongin. Ketika ketemu. Ia menatap mata itu dalam-dalam. "Kau sepertinya sangat hafal diriku'ya?"tanya Sehun pelan. Ia mengambil posisi berdiri sekarang. Tubuh mereka sama tingginya alhasil 2 mata dengan warna bertolak belakang itu saling bertemu tanpa kesulitan.
Jongin balas memandang Sehun.
Coklat dan hitam legam.
Terang dan gelap.
Mereka benar-benar saling mendorong jauh dalam perbedaan.
Tunggu. Magnet. Kutub positif dan negatif yang saling tarik-menarik.
Ada kesamaan diantara kedua orang itu.
Yaitu, saling ketergantungan.
"Semua orang juga hafal tentangmu."sahut Jongin.
Hening. "Tapi, hanya kau yang tahu pasti."
Alis mata Jongin naik satu, "Maksudmu?"
Kecewa. Sehun balas menggeleng pelan lalu berbalik pergi, memungut sapu terbang yang tergeletak diatas rerumputan lalu terbang pergi menuju ke luar lingkungan Sekolah.
Tidak paham. Gagal paham, kebingungan melanda Kim Jongin.
"Kejarlah dia, bocah."perintah Profesor paling kalem yang berdiri disana. "Kau lebih tahu dia dari siapapun disini."lanjutnya Profesor itu lagi. Dia Zhou Mi.
Ia berlari, memungut sapu terbang dan menaikinya lalu menyusul Sehun yang makin terlihat kecil diujung sana. Bukan menuju Asrama tetapi entah kemana tetapi arahnya menuju hutan. "Mau pergi kemana sih dengan kondisi amburadul begitu."gerutu Jongin. Kondisi sekolah dalam kekacauan. Barier pelindung juga hancur belum diperbaiki. Daripada kabur tak jelas begini, bukankah membantu para profesor untuk membangun lagi barier pelindung itu.
.
.
.
"Kenapa kau menyuruhnya pergi, Zhou. Penyerangan baru saja terjadi, kita tidak tahu apakah situasi benar-benar aman atau tidak."protes Henry.
Zhou Mi tersenyum. "Indahnya masa muda."koornya tidak jelas.
Plak!
Henry. Salah satu profesor paling muda itu baru saja menggeplak kepala bagian belakang Zhou Mi. Yah, tentu saja setelah berjinjit lebih dahulu karena perbedaan tinggi yang terlalu kentara.
Wajah Zhou Mi merengut, "Kenapa kau memukulku, sakit bodoh!"
Henry mencibir. "Malah bagus."katanya sinis.
"Masa muda memang indah. Maklumi saja Zhou, si mochi inikan hanya tahu nama-nama buku saja serta sejarah saja. Bahkan aku yakin dia tidak tahu apa itu Jatuh Cinta!"
Henry ternganga. Bibir mungilnya semakin mencebik. "Dasar Budak Cinta. Tidak ada jatah untukmu malam ini, Mr. Choi Shiwon yang terhormat!"
"A-apa?!"
Jangan berpikir yang iya-iya. Maksud tidak dapat jatah ini adalah tak ada jatah makan malam hasil masakan Profesor Henry. Yah, dia punya dua profesi. Menjadi profesor Sejarah dan Koki handal didapur utama Asrama bersama Madam Soonyoung.
"Rasakan!"Zhou Mi malah ikut menyertai dengan rutukan. "Aku tidak butuh dukunganmu, Choi!"galaknya lalu berjalan menjauhi. Tidak pergi namun merapalkan mantera Reparo guna membersihkan kekacauan serta merapikan kondisi Lapangan yang hangus menjadi hijau seperti sedia kala.
"Good Job, Henry-ah."puji Profesor Sungmin. Ia baru saja selesai menghubungi kantor Auror tentang penyerangan ini. Ia mengeluarkan tongkatnya dan mengarahkan tongkat itu pada telapak tangan kirinya, "Avis."gumamnya pelan dan muncul satu burung merpati putih dengan paruh merah yang bertengger diatas telapak tangannya yang tadi terbuka. Ia membisikan beberapa kalimat. "Kondisi sudah terkendali."kali ini Ia berbicara seolah menjelaskan pada burung tersebut. "Sampaikan kini ke setiap kelas, oke Whitey."
Burung merpati itu bersuara, memahami apa yang dikatakan oleh Tuannya. Sungmin tersenyum teduh, "Pergilah dan laksanakan tugasmu."lalu Ia menerbangkan burung merpati itu keatas awan dan kemudian mulai melakukan apa yang diperintahkan.
Burung merpati terebut menukik kebawan dan kemudian berhenti sebelum menghempas tanah. Dengan indah mengepakan sayapnya masuk kedalam Gedung Belajar.
"Apanya yang bagus, aku tidak mau mati kelaparan."suara protesan ala bocah marah terdengar memasuki pendengaran Sungmin dan beberapa profesor yang tersisa. Pria manis bergigi kelinci itu hanya diam memperhatikan wajah tertekuk Henry dan juga Shiwon serta wajah marah dari pihak Heechul.
'Salahmu sendiri!"kata Heechul. Ia menarik tangan Hankyung untuk memeriksa kondisi para penyihir hitam itu.
"Berhentilah bertengkar dan sebaiknya kita melakukan sesuatu dengan penyihir-penyihir hitam itu."katanya lembut namun terdengar berbobot.
"Baiklah."Shiwon setuju. Wajah terkekuknya berganti kalem.
Henry pergi tanpa berkata-kata.
"Hah, kapan mereka akan dewasa."gumam Sungmin.
.
.
.
"Diluar Sekolah...
"Ah, dasar Cheeseboy."
Jongin makin melajukan sapu terbangnya, "Hutan musim!"Jongin memekik saat Sehun masuk kedalam Hutan Musim. Hutan yang berisi 4 musim. Jika Sehun memasuki musim, gugur, semi maupun panas sih tak masalah tapi jika Ia nekad masuk kedalam musim Semi maka akan sangat berbahaya. Apalagi jika mengingat Sehun memiliki pernafasan yang cepat habis. Juga penghuni Musim Dingin itu amat sensitif.
"Cepatlah, Jongin!"seru Jongin panik. "Jangan gila, Sehun. Jangan buat dirimu mati dengan cara tidak bagus sama sekali. Cuma aku. Dan hanya diirku yang boleh melukaimu...membunuhmu."
.
.
.
Fiendfyre
Sejenis sihir api yang tidak bisa dihalangi. Api ini membentuk makhluk-makhluk ajaib ketika membakar sesuatu. Bisa digunakan untuk menghancurkan Horcrux.
Reparo
Mengembalikan keadaan suatu benda ke keadaan sebelum benda itu rusak.
.
(Aria&Moonie area...)
.
.
Aria Note's point 1, Q & A dari(reviewer)secaramenyeluruh :
Q : Dia (Moonie) kembali dan itu tandanya apa?
A : Imperio; tidak akan dihapus.
.
.
Aria Note's point 2, Q & A dari review (Hunnienahunna) secara individu :
.
Q : Bkin epep itu awalnya menyalurkan hobi nulis?
A : Tidak hanya sekedar hobi...lebihdariitu. Menulisadalah alasan dia (Moonie)masih tetap sudi mempertahankan nyawa'nya dalam makna lain;masih bersedia menjaga jiwanya untuk tetap tinggal dibumi.
.
Q : Berimajinasi plus sayang sama kopel?
A :Dia (Moonie) masih membuat kisah tentang mereka berdua (Kaihun). Hatinya tidak bermunafik lagi, dia sakit hati... Dia tahu fakta... Jongin sudah memiliki belahan jiwa...yangsesungguhnya. Tetapi, dia disini. Menciptakan kisah'Imperio; dengan meminjam latar Harry Potter AU, sert menjadikan Pair utamanya KAIHUN walau ada SUHODO setelahnya. Ku rasa itu cukup untuk dijadikan jawaban.
.
Q : Biar dpt banyak yang ripiu?
A : Sedikit ataupun Banyaknya...review... yang diterima oleh seorang Author... pastilah,memilikimakna tersendiri bagi si Author tesebut. Bagi dia (Moonie),Review= asupan energi yang didapatkan dari seorang Reader berupa1ataubahkan2kata yang saling bertautan; memberi efek yang signifikan untukmembuatnya tetaptermotivasi.
.
.
Moonie Note's Point asfkjlh : (Hunnienahunna) memberi sarannya secara tidak langsung dari reviewnya, ( untukbertanyapadadirikusendiri) dan aku sudah menjawabnya, lalu membagikan isi pikiran (jawabanku) pada'mu...dan jugayanglain. Maaf kalau Aria membuat Review dari (Hunnienahunna) menjadi Q & A, begini. Ini agar lebih sederhana (tersusun) saja yah meskipun Aku sadar, kalimat perkalimat yang dibuat oleh Aria memang terlalu di dramatisi. Hee Hee.
.
.
Terimakasih kami (Aria dan Moonie) haturkan pada semuaReviewer disetiap chapternya ( 0-7) :
Chap. 0 : babyosh, IzzSuzzie, KaihunnieEXO, Song Soo Hwa, BabyHunHun, Guest (hena)happybubblee, HamsterXiumin.
Chap. 1 : Sita2312, happybubblee, sehunyam, Guest (loveaihun), IzzSuzzie, Guest (hunhunsoosoo), Guest (Kaihun520).
Chap.2 : IzzSuzzie, babyosh, Kim Candy, Guest (reinnatanevil13).
Chap. 3 : Carameillia, Guest (reinnatanevil13), Guest (Kim Candy), Guest (eung), Guest(anaknyaabahsuho).
Chap. 4 : babyosh, Carameillia, Guest (reinnatanevil13), Guest (Kim Candy), Guest (anaknyaabahsuho).
Chap. 5 : Kim Candy, windanovia8, Guest (KH), Guest (jongin is life), Guest (reinnatanevil13),
Chap. 6 : Guest (reinnatanevil13).
Chap. 7 : kmel02, Kim Candy, Song Soo Hwa, Hunnienahunna, Guest (KH), Guest (reinnatanevil13), Guest (Kaihun520).
.
.
At least but not the End. Sampai jumpa di Chapter berikutnya. (^_^)Viss.
