A Fanfiction
By AriaMoonie
Warn : ZONA KAIHUN AND SUHODO!
Desclaimer : Gue kgak ngakuin sihir-sihir Jk. rowling. Cuma minjem doang. Dan Kaihun punya EXO-L. SM ENT. But, this is story is mine and umm well...Moonie too.
.
.
.
Hutan Musim. Bersebalahan dengan Hutan Perdamaian. Dan Jongin kini tengah bermain kejar-kejaran bersama musuh bebuyutannya; mungkin.
Secerca kecemasan mendominasi sorot mata hitam Jongin. Remaja itu tak berhenti berteriak semenjak tadi guna menarik perhatian remaja lainnya, mereka sudah melintasi Hutan pada bagian Musim Semi.
Jika dilanjutkan maka berbahaya. "XIU SEHUN!"
"PERGILAH, KIM JONGIN!"
Terus seperti itu, keduanya saling berteriak. Yang satu memanggil untuk berhenti sementara yang lainnya berseru untuk mengusir.
Sehun terus melajukan sapu terbangnya dengan kecepatan maksimum, berkali-kali dia hampir menubruk pepohonan tinggi tetapi dia bisa menghindari dengan gesit. Konsentrasinya tidak goyah walau Jongin terus saja memanggil dan memintanya untuk berhenti.
Sehun pun tak mengerti apa yang tengah Ia rasakan. Hatinya terasa di tekan. Kepalanya terlalu pusing untuk berpikir jernih. Dia tahu resikonya, jika saja Ia nekad memasuki Hutan pada bagian musim Dingin.
Petaka untuknya sendiri. Tetapi, tujuan Sehun memang itu. Dia ingin mati saja, masa lalunya, semuanya bahkan tentang Kim Jongin. Buang, Ia ingin membuang itu bersama kematiannya.
"XIU SEHUN!"Jerit Jongin nampak jelas kefrustasian merasukinya hanya dengan mendengar suara beratnya yang tak hentinya meneriakan satu nama tanpa bosan. "BERHENTI ATAU KITA AKAN MATI SIA-SIA!"Jerit Jongin lagi-lagi.
Kita!
Mata Sehun membuka lebar. Kata Kita bermakna; Dia dan Jongin kan?
Apa Kim Jongin sialan itu bodoh, apa dia bertekad akan mengikuti keputusan Sehun untuk; mati.
Shit, Kim. Kau menghentikan ku dengan ucapan sialanmu itu!...'serapah Sehun kesal bukan main, merutuk nama Jongin dalam pikirannya.
Sett!
Sehun dengan otomatis menghentikan laju sapu terbangnya dengan mudah dan Jongin yang tak jauh dari belakangnya sama-sama menghentikan laju sapu terbangnya dan segera berlari kearah Xiu Sehun.
Sehun membungkuk dengan nafas terengah.
Srak! Srak!
Langkah kaki yang bergesekan dengan dedaunan kering itu membuat Sehun segera mendongak.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di wajah sebelah kirinya, yep benar; Jongin menampar Xiu Sehun.
Hug!
Juga memeluk tubuh pucat Sehun begitu kuat. Dengan suara bisikan rendah yang membangkitkan bulu kuduk seorang Sehun. "Dasar Idiot."itulah desisan Jongin.
Sehun terkekeh, dia membalas pelukan Kim Jongin; tak kalah erat. Bibir merahnya merekah, tersenyum begitu memukau. "Aku gila karenamu, Kim. Aku tidak tahu, rasanya hatiku sakit sekali."Sehun balas berbisik tak kalah rendah.
Keduanya sama-sama berbagi dalam suasana aneh. Lingkungan yang didominan es beku bukanlah tempat yang romantis.
Ambil simplenya, dua orang itu bisa berbagi.
Berbagi kehangatan tanpa perlu gangguan. Ini hutan dan hanya ada mereka berdua.
Jongin masih betah memeluk tubuh Sehun. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Xiu sehun dari ceruk leher si Albino. Matanya terpejam, menikmati setiap inchi tubuh yang ada dalam pelukannya. "Aku lebih gila lagi. Dasar Setan Sialan!"desis Jongin.
Ungkapan penuh dusta yang lebih mirip didengar sebagai kata pujaan yang tersamarkan dengan baik. Jongin tahu diri; hatinya mungkin mulai jatuh.
Bagaimana dengan Xiu Sehun?
Tebaklah!
"Aku ingin mati."kata Sehun seolah tengah membicarakan bahwa masakan Madam Soonyoung benar-benar enak. Jongin dibuat muak.
Kenapa?
Apa alasan Xiu Sehun ingin mati?
Dia memang idiot.
Ah, idiot memang nama tengahnya.
Xiu-Idiot-Sehun!
"Jangan mengatakan mati semudah itu!"sentak Jongin. Marah. Tetapi, pelukan itu juga belum dilepaskan bahkan makin erat setiap detiknya.
Sehun merasakan. Jongin marah. Ia tahu dari pelukan Jongin. Terlalu erat, sangat. Membuat nafasnya sempit. Alis mata Sehun menukik, wajahnya meringis tersiksa. "Jangan berlebihan memelukku. Aku tidak bisa bernafas!"omel Sehun. Pemuda berkulit pucat itu memukul pelan punggung Jongin dengan satu tangan sebelah kanannya.
Jongin mengerjap, dia baru tersadar. Pelan Ia lepaskan pelukan itu. Tidak, dia tidak menjauh karena tangan kirinya masih memegang pinggang sebelah kanan Xiu Sehun. Mata hitamnya memantulkan wajah Sehun; benar-benar wajah Sehun. Bibirnya menukik ke kiri amat tajam, membentuk seringaian mengancam yang makin menambah intensitas ketampanannya dalam mata; Xiu Sehun.
Sehun risih, Ia was-was melihat seringaian yang tidak pernah Jongin tunjukan selama ini. Dia suka senyuman itu tetapi jantungnya tidak bisa diajak kompromi karena berdetak terlalu cepat, Sehun akan merasa malu jika dia tidak segera melepaskan diri kukungan Kim Jongin.
"Lepaskan aku!"pinta Sehun kasar. Dia memaksa satu tangan Jongin yang masih bertengger dipinggangnya agar lepas. Nihil. Jongin tidak mau, dia menolak. Mata coklat hazel Sehun memicing, "Berhenti tersenyum mengerikan seperti itu. Kau seperti om-om yang ingin memerkosa anak perawan, tahu tidak!"ejek Sehun.
Jongin menaikan satu alisnya, dia tidak tersinggung. Hei, hei...Si Kim itu malah mendekatkan bibirnya tepat ditelinga Si Sehun. "Jantungmu."bisik Jongin sensual, membangkitkan gairah Sehun.
Oh, God! Apa yang salah denganku dan juga Kim Jongin ini...'pikir Sehun. Dia dilanda pertanyaan mengambang yang berakhir tanpa jawaban.
"Jantungku baik-baik saja. Kita baru saja berkendara gila-gilaan jadi wajar saja jantungku berdebar secepat ini!"elak Sehun. Dia beralasan. Tak sudi sepertinya jika jantungnya memompa secepat itu karena Seringaian seorang; Kim Jongin tadi.
Mau ditaruh mana muka Sehun jika dia mengatakan sejujur itu. Lagipula Sehun tak ingin berekspetasi terlalu tinggi.
Sumpah, dia juga merasakan bahwa jantung Jongin tak kalah cepat. Mereka masih dalam posisi saling memeluk atau lebih tepatnya hanya Jongin itu saja yang terlalu menempel pada Sehun. "Uuukh, jadi bisa lepaskan aku. Jujur saja, aku juga tidak mengerti dengan diriku hari ini. Kau pasti juga kebingungan kan?"tanya Sehun balas memandang Jongin jelas meminta jawaban yang normal-normal saja.
Jongin mengangguk. "Tahu rasanya mencinta?"
Sialan, sepertinya harapan Sehun untuk mendapatkan jawaban yang; biasa saja sudah pupus.
Gelengan tegas menjawab pertanyaan Jongin. Sehun sudah katakan dia tidak ingin berekspetasi terlalu tinggi. Dia masih sayang hatinya yang sudah terlalu sering makan hati. Tidak hanya karena cinta tapi sama sakitnya serasa dikhianati.
"Aku tidak pernah mencinta, atau apapun itu!"
Jongin memegang wajah Sehun, mengelus pelan pipi putih pucat itu dengan pandangan matanya yang tidak lagi terarah wajah Sehun.
Melainkan pada; bibir merekah Sehun.
"Can I?"mohon Jongin. Ibu jarinya mengusap lembut bibir bagian bawah milik; Xiu Sehun.
Sehun menyumpah, "F*ck. Tidak, kau tidak bi-"
Bungkam, terlambat bibir tebal Jongin sudah mendarat diatas bibir Sehun. Melumat hati-hati, menyesap pelan tanpa berniat lebih. Dusta, si sialan Kim itu sudah memaksa Sehun untuk membuka mulutnya. Dengan cara menggigit nista bibir bagian bawahnya tanpa jeda. Hingga akhirnya Sehun menyerah.
Mereka saling melumat setelah Jongin berhasil menelusup ke celah mulut Sehun. Lidahnya sudah mulai menyentuh titik sensitif Sehun. Erangan demi erangan menghancurkan suasana tenang hutan musim dingin itu. Hembusan angin dingin menerpa kulit keduanya. Rapat semakin merapat tubuh keduanya, tak bisa dihitung lagi.
Lumatan itu terus berlangsung dalam sekian menit hingga akhirnya Sehun memukul dada bidang Jongin. Dan Jongin menurut dengan kekehan mengakhiri ciuman sedikit pemaksaan ala Jongin. "Khehe, Bibirmu manis."entah pujian atau apa. Yang pasti wajah Sehun berasa disiram air panas yang baru masak. Panas. Hatinya bahkan semakin cepat memompa darahnya yang mungkin menumpuk dengan kurang ajar pada bagian wajahnya.
Rona merah itu tertangkap mata hitam Jongin.
Sehun tidaklah buta, matanya masih normal walau tadi sempat tertutupi kunang-kunang kenikmatan. Matanya jelas melihat senyum bangga Jongin.
"Apa maksudmu?"tanya Sehun pelan. "Ci-ciu...-"
"ciuman tadi?"Jongin menggenapkan ucapan Sehun.
"Iya, yang itu."cicit Sehun.
Sehun sudah pasrah ketika dua tangan Jongin kini tengah memeluk pinggulnya. Capek hati saja jika memaksakan diri agar Jongin melepaskan tubuhnya.
Jongin tampak terdiam lama. Mencari jawaban yang tepat. Entahlah, Sehun tak berharap, dude. Cinta itu bullshit dalam kamus Sehun.
Sehun hanya berani memuja tanpa berniat meminta untuk dicintai.
"Tentang yang mana detak jantungku atau ciuman tadi?"tanya Jongin hangat, sengaja diulang. Ia bahkan berani menyatukan dahinya dengan dahi milik Xiu Sehun.
Kedua mata berbeda warna itu bertemu. Jongin intens mencari. "Hm, pilihlah?"sambung Jongin.
Sehun menegak ludahnya yang sudah tercampur dengan milik Jongin tadi.
Kegilaan apa ini?
Uukh, Sehun bingung sekali. Dia ingin menolak perlakuan Jongin saat ini. Namun, hatinya yang lain tak merelakan momen ini hilang. "Dua-duanya!"sahut Sehun cepat. Padahal dia tengah diserang kegugupan sekarang ini.
Awalnya wajah itu tak berekspresi namun lamat-lamat sebuah senyum tampan tampak. Menggerus jantung Sehun untuk memompa darah tak berjeda pelan.
"Jantungku berdetak secepat ini karena melihat matamu dan aku menciummu karena hatiku yang menginginkan."jawab Jongin lancar tanpa ada cacat.
Dua tangan Jongin juga tak bisa diam. Jemari besar dan agak dingin itu mengusap wajah Sehun begitu lembut dan hati-hati.
Dahi mereka masih menyatu.
Ya, ampun. Sehun harus apa?
Jongin memamerkan senyum simpul saat dilihatnya mata Sehum bergerak-gerak tak jelas nampak sekali gugup.
Ah, masa bodoh tentang nanti. Sehun hanya ingin menurut kata hatinya sekali ini saja.
Lihatlah...bibir merahnya yang agak bengkak karena gigitan si Kim Jongin tadi.
Tersenyum, Xiu Sehun sedang memamerkan senyuman yang paling tulus dan indah yang tak pernah ditunjukan oleh siapapun.
Kalau ini mimpi aku tidak ingin bangun dan kalau ini bukanlah mimpi maka biarkan waktu berhenti...'bisik Sehun didalam batinnya.
Hati Jongin menghangat ketika ulasan senyum menawan itu menghiasi bibir tipis Sehun. "Be mine, Sehun-ah. Will you?"pertanyaan penuh romansa itu mengusik hati terdalam Sehun yang sudah lama terkunci rapat.
Iya atau tidak?
Pelan Sehun menggeleng, "Kau hanya terbawa suasana."papar Sehun pelan. "Besok kau pasti akan menganggap ini hanyalah kesalahpahaman."lanjutnya tak ingin berharap lebih. "Juga...jangan lupa kalau kau masih punya kekasih yang pastilah mengkhawatirkanmu saat ini. Kim."
Sett!
Sehun tersenyum, hanya saja kali ini senyuman terluka.
Ketika Ia merasakan pelukan hangat Jongin hilang begitu saja bersamaan dengan ucapannya tadi.
"Ah, aku...maafkan aku Sehun-ah."ucap Jongin. Mata hitamnya yang menyorot penuh cinta kini berganti dalam kebimbangan.
"Tak masalah. Jadi, sebaiknya kita kembali dan...ku mohon, Kim. Anggap ini tak pernah terjadi."
Mata hitam itu jelas memberi penolakan, "Tidak, mana bi...-"
Sehun memohon, "Ku mohon."
Jongin menendang udara kosong, Ia mengacak rambut hitamnya asal-asalan, korban pelampiasan kebodohannya.
Kau gila, Kim Jongin. Berani-beraninya kai mencium Sehun, disaat kau memiliki pasangan...'racau Jongin dalam hatinya.
Hatinya tidak menyesali ciuman tadi tetapi Ia merutuki kebodohannya sendiri. Dua hati akan terluka. Jongin harus memilih. Gila, dia benar-benar gila.
"Kim, ayo kita pulang."
Jongin mendengus, "Ya."jawabnya singkat.
Adegan ini cukup untuk membuktikan hati mana yang sebenarnya sudah terjatuh dalam kubangan cinta. Atau tidak?
Benarkah?
.
.
.
"Asrama Slytherin...Kamar Sehun, Zitao dan Kyungsoo...
Kyungsoo mondar-mandir dengan Huang Zitao yang menatapnya jengah.
"Tenanglah, Dio."hingga akhirnya Zitao menegur juga. Kepalanya pusing karena Kyungsoo bolak-balik tak jelas tepat dihadapannya.
Kyungsoo menghentikan tubuhnya dan bergerak mendekati Zitao, meremas pelan kedua bahu milik Zitao disertai mata bulatnya yang melotot penuh ancaman juga kecemasan tingkat tinggi.
"Apa?"alis mata Zitao terangkat tak paham.
Kyungsoo mendudukan diri disamping Zitao. matanya menatap langit-langit kamar mereka yang dilapisi warna hijau gelap yang disana terhiasi pahatan yang membentuk tubuh ular, lambang dari Slytherin. "Kau tidak mencemaskan, Sehun?"
Zitao mengendikan bahu dengan wajah cuek. "Entah ada dimana, tapi aku yakin dia sedang bersama Kim Jongin."jawab Zitao kalem. Dia memeluk Kyungsoo, berbisik lembut. "Dia pasti baik-baik saja, dude."ucap Zitao berusaha menenangkan temannya yang sedang dilanda kecemasan akut.
Kyungsoo membalas pelukan Zitao lalu berdiri, Ia duduk dimeja belajar, membaringkan kepalanya disana sementara wajahnya terarah kepada Zitao. "Ku harap begitu. Hatiku tidak tenang sejak tadi."ucapnya jujur. Mata bulatnya terpejam pelan lalu terbuka lagi saat pintu kamar mereka terbuka.
Kyungsoo sudah bersiap memekik bahagia tetapi urung saat menemukan sosok Luhan yang Ia temukan dan bukannya Sehun.
"Luhan-hyung?"
"Ya?"sahut Luhan amat lesu. Mata nya berair, "Kalian tahu dimana, Sehun? Aku tidak menemukannya dimanapun. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?"tanya Luhan beruntun.
Zitao dan Kyungsoo saling bertukar pandang, kedua remaja berbeda tinggi itu mendekati remaja paling tua diantara mereka. Memberikan pelukan rasa saudara untuk; Xiu Luhan.
"Jangan menangis, Luhan-hyung. Berpikirlah positif."ucap Kyungsoo.
Zitao juga ikut menenangkan, "Dia pasti sedang bersenang-senang atau sedang bertengkar dengan Kim Jongin. Kau boleh saja kok menunggu disini sampai Sehun kembali."kata Zitao.
Luhan menarik nafas berusaha untuk tetap tenang. "Jika dia belum juga kembali sampai besok pagi. Apa kalian mau menemaniku mencarinya?"pinta Luhan.
Kyungsoo dan Zitao tertawa kecil. "Hahaha, ayolah Luhan-hyung kami sahabat Sehun."
Kyungsoo mengangguk setuju, "Seburuk apapun tingkahnya dia tetaplah sahabat kami. Jangan lupakan fakta itu. Jadi, jangan berpikir kau sendirian disini, hm?"
Luhan tersenyum lega. "Terimakasih, adik-adikku."
"Ya, Gege."
"Ya, Hyung."
.
.
.
"Kantor pribadi Prof. Lee Sungmin...
.
"Zhou Mi, apa kau menyadari sihir yang dua remaja itu gunakan?"
Suara kalem Sungmin menggema pelan didalam ruangan berkedap suara itu. Ruangan pribadi milik Sungmin. Lee Sungmin, profesor pertahanan ilmu hitam.
Zhou Mi selaku orang yang diajak bicara sempat terdiam lama, dia sepertinya ragu. Tetapi, akhirnya dia berbicara juga saat mata bulat Sungmin menuntut.
"Ya, profesor lainnya pasti menyadari juga. Sihir itu terlalu tinggi untuk anak tingkat-2."
"Benarkan. Ck, aku tahu mereka keturunan langsung dari leluhur berdarah pureblood tetapi setiap kelebihan pasti memiliki kecacatan kan?"
Zhou Mi kali ini duduk diatas sofa sengaja mengabaikan tulisan huruf kanjinya diatas lantai berlapis permadani. Ia duduk tepat disebelah Sungmin. "Aku tidak kaget jika Jongin mampu melakukan hal itu. Jika mengingat bagaimana luar biasanya seorang Kim Kibum, yang notabene Kakak tertuanya yang terkenal akan kejeniusannya."ujar Zhou Mi.
Sungmin memahami maksud Zhou Mi. "Pasti kau lebih bertanya-tanya tentang Xiu Sehunkan?"tebak Sungmin yang langsung dihadiahi anggukan cepat oleh Zhou Mi.
"Kau benar. Dia memang sosok cerdas tetapi mengeluarkan kutukan dengan wujud elang sebesar itu bukanlah hal yang bisa dilakukan di usia semuda itu, yah terkecuali jika dia juga terlahir digaris keturunan berdarah pureblood seperti Kim Jongin sih tidak usah ditanya."
Sungmin mencubit ujung dagu lancipnya, mata bulat foxynya menyipit serius. "Elang identik dengan kekuatan besar. Tetapi..."
Zhou Mi menyambungkan kata-kata terputus milik Sungmin. "Tetapi wujud elang pernah di lontarkan oleh salah satu murid terbaik yang pernah dimiliki sekolahan ini...juga -"
"juga merupakan seoramg yang diasingkan karena dia adalah seorang...-"
"dari keturunan penyihir hitam atau dikenal sebagai Black Wizard!"
Mata kedua pria dewasa itu sama-sama terbuka lebar. Sungmin berdiri cemas dan Zhou Mi mengatupkan bibirnya yang sempat terbuka lebar.
"Impossible."koor Sungmin tak ingin percaya.
"Double impossible!"
.
.
.
Dua remaja itu sudah sampai digerbang utama Sekolahan mereka. Dengan suasana hening menyambut keduanya.
Sehun terbang menuju Asramanya yakni Slytherin dan Jongin juga melakukan hal yang sama.
Saat Sehun menyadari sosok Jongin todak melihatnya Ia berputar arah, menuju Danau Owl Valley. Letaknya tak begitu jauh dari Asrama Slytherin, tepat di halaman belakang Asramanya sendiri.
Sett!
Kaki Sehun mendarat diatas tanah, Ia melempar asal sapu terbangnya dan meninju satu pohon tepat disebelah kanannya dengan wajah kacau. airmata sudah membasahi wajahnya, dengan suara segukan menyayat hati menyusul. "Hiks. Sialan! Sialan! Sialan!"umpatnya tanpa jeda. "Kenapa kau sepayah ini, Sehun! Bukannya kau sudah rela melepaskan tetapi kenapa kau tetap saja tidak rela!"suara Sehun makin mengecil setiap kata yang terucap.
Sehun terlalu merasakan denyut nyeri dalam hatinya sampai Ia tak menyadari ada seorang pemuda yang sejak tadi memperhatikannya tanpa berkedip.
"Sehun kaukah itu?"
Suara berat itu mengejutkan Sehun. Ia dengan cepat mengusap airmatanya yang terus menetes walau itu percuma karena bekas matanya yang sembab tetap mempertontonkan bahwa dia menangis. "Ukh, Iya ini aku Sehun. Siapa disana?"tanya Sehun berusaha keras menetralkan suaranya yang masih bergetar karena tangis.
"Aku Kris."samar-samar tubuh tinggi itu muncul dihadapan Sehun. Dengan seulas senyum tipis dibibir Kris.
Susah payah Sehun membalas senyuman tulus Kris. "Oh, Kris-gege. Apa yang kau lakukan disini?"
Kris semakin mendekat, tubuhnya hanya berjarak 1 meter saja dengan Sehun. "Aku seorang prefek, dude."
Sehun mengangguk paham, Ia menundukan wajah saat menyadari Kris menatapnya begitu teliti. Sehun tak pernah berharap bertemu dengan Kris dalam keadaan hatinya yang kacau balau. "Ah, iya kau pasti sedang berpatroli kan?"
"Begitulah. Lalu, aku tak sengaja menemukan seorang anak berkeliaran disini. Namanya Xiu Sehun. Apa yang harus ku lakukan padanya, humm?"
Sehun memundurkan tubuhnya ketika Kris berniat menariknya dalam sebuah pelukan.
Sehun kau aneh, bukankah ini yang kau harapkan. Bisa sedekat ini dengan sosok yang kau idolakan?
Lalu kenapa kau sekarang menghindar saat sosok yang kau idolakan ini hendak memelukmu?!
Ada apa Sehun?
Apa karena hatimu masih statis dan terhenti hanya untuk satu nama...Siapa?
Dia...Kim Jongin?
How stupid you are! Jongin is truely fucking bastard!
Yes, He is. But, I...I...
.
.
.
I Love Kim Jongin. I'm fallin into Him. Shit!
Tarikan kuat dari belakang tubuhnya sudah siap akan Sehun beri tinjuan namun urung saat Ia temukan sosok Kim Jongin.
Tangisan sudah turun tanpa bisa ditahannya saat aroma tubuh familiar kini memeluknya...saat Ia mendongak itu benar-benar sosok Jongin.
"Dont cry, Sehun-ah"dengan tambahan bisikan lembut yang pastilah akan menjadi candu bagi Xiu Sehun.
"SIALAN, KAU KIM JONGIN!"
"I am very sorry, Sehun-ah."
.
.
.
Aria...here!
Buat (Hunnienahunna)...: santai aja bruuh...hahaha, gue and Moonie seneng kok elo mau repot2 komen panjang dikotak review...khekhe. jangan kapok review dimari yak!... Yang lain juga jangan bosen-bosen review... Yak!
Ngomong2...
Sorry, pendek ya guys... Ini satu otak yang mikir.
Moonie lagi males mikir. Kampret, emang tuh bocah cunguk!
Maaf, juga yeth kalau BAHASA INGGRIS Gue blepotan...biar keliatan keren atau malah alay!?
Bomatlah...
Maklumi kalau isinya ada adegan ciuman. Huahaha, Gue memang agak mesum.
Gue maksa kalian buat review!
Jangan jadi silent readers!
Masuknya review itu bukti kalau kalian memang nunggu FANFICTION INI!
SO, CIAO!
