A Fanfiction

By Aria... IYA DEH MOONIE! ELO JUGA.. -_-

WARNING! : Bahasa kadang tidak formal, agak aneh, melenceng dari kalimat waras, agak kasar, umpatan bertaraf miring, harus menyertakan hati yang ikhlas ketika membaca cerita ini, typo sdah pasti.

Desclaimer : Sihir-sihir didalam ini milik J.K ROWLING. EXO OT12 MILIK BERSAMA. TETAPI CERITA INI MILIK KAMI...OKE!

.

.

.

PERINGATAN KERAS! SEKERAS-KERASNYA!

INI BERKISAH TENTANG

...Kaihun dan Suhodo...

...KAIHUN dan Suhodo...

...KAIIIHUUUN dan Suhoodoo...

NGGAK SUKA CERITA KAMI, PERGI SANA! NGGAK USAH NGOBRAL TEORI PERCOUPLAN/?! KAMI NGGAK BUTUH NASEHAT TENTANG KAIHUN DAN SUHODO YANG DELUSI COUPLE! KAGAK PEDULI! NGGAK SUDI JUGA NGELADENIN ORANG KUBEL(Kurang belaian :v)!

.

.

Semoga masih bisa dinikmati...amiin!

Bacanya, perlahan-lahan aja supaya dapat feelnya. ^_^

.

.

Hari ini kelas pertahanan ilmu hitam. Satu meja panjang berukuran 4 meter dengan 6 kursi sebagai pelengkap sudah terisi oleh Sehun dan kawan-kawan sejawatnya. Posisi mereka ada dibagian belakang, tersudut disebelah kiri dan jelas tempat paling aman untuk melakukan kerusuhan yang mana dalam sudut paling strategis itu tingkat kewaspadaan seorang profesor tidak terlalu tinggi atau dibawah 10 %.

Sudut itu yang memilih pastilah Xiu Sehun. Tetapi, orang yang menyarankan malah sedang diam, tidak cerewet, tidak merusuh, tidak juga berteriak ngelantur atau melontarkan pertanyaan tak nyambung seperti biasanya. Terhitung sudah 15 menit seorang guru atau sebut saja Prof. Lee Sungmin atau persingkat lagi Lee-ssaem, begitu asyik mengoceh dengan kata-kata tegas dan secara bersamaan terdengar gampang dipahami.

"Baiklah, kelas hari ini akan dimulai dengan mempraktekan mantera patronus dimana mantera ini sangat bermanfaat bagi nyawa kalian jika tertangkap basah oleh makhluk tergelap dihutan kematian yaitu Dementor. Dilanjutkan dengan mempraktekan mantera Portego, ini akan cukup rumit tapi jika dilakukan secara telaten, aku yakin kalian bisa."

Itulah yang Sehun tangkap walau samar-samar saja Sehun mendengar ocehan beliau. Pria tampan berkulit pucat susu itu menumpu dagu dengan wajah tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Kyungsoo yang duduk disebelah kiri Sehun dan Zitao yang berada disebelah kanan Sehun tidak berhentinya saling bertukar tatapan. Saling berkomunikasi dengan bahasa isyarat, entah itu menggerakan bibir tanpa suara atau saling mendelikan mata meski yah akhirnya Zitao kalah ukuran karena fakta mata Kyungsoo yang lebih besar dan lebar tidak bisa disingkirkan alhasil dipertarungan bahasa bibir dan besar-besaran mata, Zitaolah yang keluar sebagai pecundang dan diapun dengan pasrah menjadi sosok tukang tanya...teruntuk Sehun, yang tumben diam seperti patung manekin yang dijadikan hiasaan ditengah-tengah kolam air mancur dilapangan Asrama mereka yang luasnya tidak manusiawi.

"Hun."Zitao memulai dengan memanggil Sehun sambil memutar mata dengan wajah super enggan ketika Kyungsoo masih saja memasang wajah menang. Ayolah, ini Cuma pertarungan biasa tetapi kenapa si mata burung hantu itu tampak begitu bahagia.

Sehun tidak langsung menoleh saat dipanggil oleh Zitao, tidaklah bukannya Sehun mendadak tuli atau mengidap budek sesaat, hanya saja dia memang enggan untuk mengganti posisi paling pas untuk suasana hatinya yang...ah entahlah. Sehun tidak mau menjawab, alasannya terlalu klise dan super menggelikan, dude.

Sedangkan Zitao, melihat Sehun yang tidak bereaksi hanya bisa menghela nafas dan kini berbicara kepada Kyungsoo dengan suara hati-hati. "Dio."

Do Kyungsoo menaikan alis matanya dengan sorot mata memancarkan hinaan, seolah berkata 'Segitu saja kemampuanmu, dasar panda jejadian'...Zitao mendengus dan ingin mencabik wajah 5 SD tersebut detik itu juga tetapi urung karena dia masih ingat tempat dan sadar sekali kalau Kyungsoo adalah teman sejawatnya selama 5 tahun tanpa rasa bosan meski memang berkuadrat-kuadrat ada keinginan untuk memusnahkan si mulut terpedas sejagat raya yang pernah Zitao kenal, ini memang berlebihan yah maafkanlah, manusia memang seperti itu. Kecuali kalau kalian sejenis alien berkedok tubuh manusia pinjaman, hei..hei sudah lain ceritanya kalau begitu. Lupakan, lupakan!

"Aku bisa pinjam buku ramuanmu tidak?"akhirnya Zitao lebih memilih mengacuhkan mata besar yang menyorot penuh hinaan itu dan mengalihkan pembicaraan saja daripada adu mulut dan dia akhirnya harus kalah lagi.

Kyungsoo menggeleng dengan wajah menolak. "Tidak! Terakhir kali kau pinjam, buku ramuanku hilang dan ternyata dibuang diantara tumpukan sampah busuk."cecar Kyungsoo mengingatkan kesalahan yang dulu pernah Zitao lakukan.

Kali ini Zitao tidak hanya ingin mencabik wajah Kyungsoo tapi berniat ingin menenggelamkan orangnya juga ke rawa-rawa dengan memunculkan buaya didalam rawa itu kalau perlu. "Oh ayolah itu sudah lama sekali, aku bahkan menggantinya sehari kemudian."tukas Zitao tidak langsung menyerah begitu saja. "Pinjamkan sebentar saja, dude. Ini bukan untukku tapi buat Sehunloh."kali ini Zitao merayu dengan nama Sehun menjadi umpan. Sempat pula pemuda berkantung mata mirip mata panda itu melirik kearah Sehun dan merasa lega karena si Albino itu tidak merespon atau tidak peduli sekitar.

Kalian tidak tahu saja, biasanya jika Zitao sudah membawa-bawa Sehun dalam pembicaraannya dengan Kyungsoo maka malang bagi jidat mulus Zitao. Karena, tidak pelan si Sehun itu akan menjitak Zitao tanpa ampun. Zitao merinding sesaat, dia menggeleng setelahnya. Memilih untuk menatap wajah Kyungsoo yang lama-lama menjadi lunak alias dalam mode tenangnya lagi dan akhirnya dia memperbolehkan Zitao meminjam, buku ramuannya.

Ah, betapa manisnya persahabatan tiga orang ini kan. Sehun yang setengah miring tapi sebenarnya tampan berkubik-kubik dengan bonus otak brilian meski tidak kelihatan. Kyungsoo si cerdas tapi bermulut setajam silet, yeah. Dan ehei Zitao yang jago dalam bidang atletiknya terutama bermain kejar-kejaran bahkan berpartisipasi dalam Tim Quiditch Asramanya yakni Slytherin. Mereka saling melengkapi walau juga tak jarang berargumen jika tidak sejalan dalam memutuskan sebuah rencana. Tapi, ehei kalian perlu tahu. Mereka bersahabat sudah 5 tahun lamanya. Bukan waktu sebentar kan?

Abaikan itu, ayo kembali ke fokus utama kita. Sehun yang sedang –entah-kerasukan atau –salah-makan.

"Baiklah."kata Kyungsoo sambil menyodorkan buku ramuan itu kepada Zitao.

Zitao tersenyum kecil, "Kau akan berterimakasih padaku setelah ini."katanya mencurigakan.

"Maksudmu?"akhirnya Kyungsoo jadi penasaran dibuatnya dan bahkan mengajukan pertanyaan.

Zitao menggeleng dengan mata terpejam, "No, no. Diam dan perhatikan saja!"perintahnya, lalu membuka mata dan memindahkan pandangan matanya kepada –Xiu Sehun dan juga menutupi pandangan Sehun dengan buku ramuan milik Kyungsoo.

Menuai decakan malas dari pihak Kyungsoo. Mata bulat itupun menyipit penuh intimidasi. Roman-romannya dia mulai memahami rencana yang sedang dilaksanakan oleh pemuda berdarah China tulen tapi jago berbahasa korea itu dalam diam.

"Hun."panggil Zitao.

Sehun tidak bergerak, bahkan matanya pun tidak. Tenang saja, dia masih bernafas dengan normal kok. Tidak ada yang kurang dari dirinya, masih tetap imut, ganteng, imut...imut, cantikuhuk. Maaf, tidak nyambung. "Sehun, setelah jam ini adalah ramuan ya. Kau boleh mencontek tugas essay Kyungsoo kok."

Kyungsoo melotot. Mulutnya mengap-mengap mirip ikan kakap kehabisan oksigen. Ternyata dugaanya tidak meleset. Wajahnya sekarang berubah dihiasi rona kemerahan. Dongkol luar biasa.

Dasar panda licik...sialan'batin Kyungsoo mengumpat penuh nafsu.

Sett!

Oh, oh lihatlah. Sehun baru saja menoleh. Tidak hanya menoleh tapi juga menjulurkan tangannya untuk merebut buku ramuan yang tadi di sodorkan oleh Zitao tepat didepan wajahnya.

Zitao tersenyum puas, dia memamerkan buku ramuan Kyungsoo dan mengiming-imingi. "Kau mau buku Kyungsoo?"

Sehun mengangguk.

"Kau harus mengatakan jawaban sejujur-jujurnya dari pertanyaan yang akan aku ajukan."

Wajah Sehun mendadak dihiasi wajah ragu. Dia duduk lagi, tetapi tampak berpikir keras. Mungkin memutuskan jawaban yang sekiranya tidak merugikan untuk dirinya sendiri. Dia melirik sinis kearah Zitao. Dia kenal Zitao, pemuda itu cukup licik. Kalau Sehun tidak cerdik maka dia tidak akan mendapatkan keuntungan apapun. "Tidak perlu, aku bisa mengerjakannya nanti. Lagipula sebelum kelas Ramuan, ada waktu satu jam untuk istirahat makan siang dan aku akan memakai waktu itu sebaik mungkin untuk mengerjakan essay itu."jawab Sehun yakin seyakinnya.

Menuai kerutan kaget dari pihak Zitao. Rencananya gagal. "Oh, ya sudah. Aku saja yang mencontek dan memonopoli buku Kyungsoo. Hehehe."well, Zitao pantang menyerang sih. Dia agak ulet jadi manusia walau terkadang kelebihannya itu bikin jengkel.

"Ya, terserah kau saja."papar Sehun santai. Padahal wajahnya sudah berubah ekspresi. Menyesal...mungkin.

"Oh, bagus. Bagus, hahaha. Oh, informasi saja kelas ramuan akan dilaksanakan setelah jam ini selesai dan sebelum jam istirahat."

Mendengar itu rasa panik mulai menguasai Sehun.

Oh, jangan abaikan ekspresi Kyungsoo yang sudah suram. Sesuram lampu pijar, yang akan redup dan semakin redup ketika minyaknya mulai tersedot habis oleh lampu pijar itu. Dalam kasus seorang Kyungsoo adalah pemicu-pemicu dari kesabaran yang pelan-pelan mulai dia buang dan siap berganti rasa murka.

Kata lainnya...menahan diri, bung...dari apa?

Ingin buang besar?

Tidaklah!

Please deh, Kyungsoo itu bukan burung camar yang asal mengeluarkan benda emas-bau-menyengatnya sembarangan, yah walau masih dalam spesies yang sama. Dia itu tetap spesies Burung hanya saja dari habitat yang berbeda alias –Burung Hantu.

Persingkat saja, Kyungsoo sebenarnya menahan diri...dari emosinya yang siap merapalkan mantera Avada Kedavra khusus untuk Huang-panda-Zitao-bulukan seorang. Secara Cuma-Cuma. Dengan potongan harga 0,0000001 %. Oh, gosh berhenti melebih-lebihkan isi pikiran orang lain, dude! Itu bukan tindakan yang tidak baik...eh/?

"Kau serius?"tanya Sehun agak curiga tapi percaya juga.

Zitao mengangguk super santai. Berpura-pura tidak menyadari wajah Kyungsoo yang sudah berubah mengerikan. Sedikit informasi saja, wajah Zitao memang tidak ada tanda-tanda dihinggapi wajah ketakutan atau ingin mengubur diri kedalam bumi paling dalam, tetapi lihatlah dari sisi lain alias dari sisi bagian belakang punggung Zitao, temukanlah keringat yang membanjir. Dia sudah mandi keringat semenjak dia menyadari Kyungsoo melancarkan mata lasernya yang penuh akan ancaman nonverbal dalam cara pandang Zitao sendiri.

"Trust me, Sehun."tutur Zitao benar-benar meyakinkan saat mengatakan itu.

Sehun yang memang polos-polos agak stupid itupun yang percaya saja.

Sehun yang malang.

Huh, dasar Zitao kurang jahat...err/?

"Huang Zi Tao."panggil seseorang dengan suara dingin dengan aura gelap.

Tidak, bung. Itu bukan suara Kyungsoo atau aura tubuh si burung hantu itu. Tetapi...Lee Sungmin Lee-ssaem. "Ku pikir kau adalah salah satu yang cerdas dalam menggunakan mantera patronus'kan?"tanya beliau kalem.

Zitao memutar tubuh dan kepalanya dengan patah-patah. Bibirnya tersenyum kaku. Dia mengangkat tangan yang Ia gunakan untuk menggaruk hidungnya dengan wajah seputih tepung terigu. Putih tanpa warna. Sepucat mayat. Dia diserang ketakutan dadakan.

"Ah, saya tidak secerdas itu."sergah Zitao merendah diri.

Lee-ssaem tersenyum mendengar jawaban Zitao. Pria dewasa berwajah remaja itu mengakui kalau Huang Zitao adalah murid terpintar diangkatannya, bersamaan dengan beberapa murid lainnya, sebut saja Suho, Kyungsoo, Sehun. Tetapi, berbicara dalam kelasnya ketika dia sedang berdiri didepan sini bukanlah situasi yang bisa ditoleransi oleh sosoknya meski murid itu memang paling jenius sekalipun. Dimata foxynya yang tajam dan jernih, -semua murid itu sama saja. Nakal dan susah diatur.

"Kalau begitu kenapa kau berbicara begitu mesra dengan Xiu Sehun. Tempat Ini bukan tempat yang bisa kau pakai untuk tempat berpacaran dan memamerkan kemesraanmu, nak."

Gluk!

Zitao baru saja meneguk ludah. Dia ketakutan. Merinding menguasai bulu kuduknya yang berdiri serentak seperti baru saja di rebonding.

Sehun sama saja. Dia sudah mematung ketika kata 'berpacaran' ditangkap telinga normalnya.

Sesungguhnya kata-kata Lee-ssaem yang mengarah sebuah keambigayaan tidak akan sengefek ini kok jika saja ingatan –Xiu Sehun- tidak kembali ke kejadian malam tadi. Dimana malam itu adalah malam terburuk sekaligus membahagiakan dalam 4 tahun terakhir ini. Juga adalah kejadian paling indah yang pertama kali Ia rasakan setelah sekian lama berkabung dalam –duka.

"Ku rasa penjelasan ku tentang cara memakai patronus sudah kalian simak dengan baik'kan?"tanya Lee-ssaem sambil mengedarkan pandangannya keseluruh murid yang ada didalam kelasnya dihari itu. Menikmati setiap ekspresi yang dikeluarkan oleh anak-anak asuhnya itu dalam diam.

"Ya, Lee-ssaem."sahut mereka serentak tak terkecuali trio troublemaker kita.

"Bagus. Nah, mari kita mulai dari -..Ahn Jinhyun."

"Ne, Lee-ssaem."sahut seorang siswi berparas cantik dari Asrama Hufflepuff.

Menit demi menit terlewatkan. Dan tibalah giliran Xiu Sehun. "Xiu Sehun."

"Ne."

Sehun melenggang dengan langkah cuek dan agak malas, ciri khasnya. Dia tersenyum lebar kepada guru bermata foxy yang juga membalas senyumannya dengan amat tipis. "Ku harap kali ini kau berhasil, Sehun-sshi."ucap Lee-ssaem.

Sehun mengangguk pelan. Dia mulai mengangkat tongkatnya disertai wajah serius. Hal itu cukup mengejutkan bagi Lee-ssaem tapi toh dia diam saja dan memperhatikan setiap gerak-gerik Sehun.

"Ingatlah kenangan paling menyenangkan yang kau miliki, Sehun-sshi."

Lagi Sehun hanya mengangguk.

Lee-ssaem membuka lemari yang telah dimanterai sihir pengunci. Pria manis dan berkepribadian tenang itu mengayunkan tongkatnya dan merapalkan mantera 'Alohomora' dengan suara pelan. "Bersiaplah, Sehun-sshi."katanya sekali lagi memperingati.

Sehun memejamkan mata, mengingat memori paling indah dan menyejukan hati juga pikirannya. Jauh sekali Ia masuk kedalam ingatannya.

Lebih jauh lagi.

Ujung tongkat Sehun kini memercikan cahaya kebiruan.

Hembusan nafas Sehun terdengar begitu teratur.

Percikan biru itu kini mulai bertambah setiap detiknya, memendar seterang cahaya bulan sabit.

Percariannya terhenti saat Ingatan beberapa tahun silam telah Ia temukan.

Kondisi dimana yang Ia ketahui hanya ada –ketentraman- bersama keluarganya tanpa ada campur tangan kebusukan seperti saat 4 tahun belakangan ini.

Perasaan dimana hatinya menghangat saat merasakan pelukan penuh rasa kasih sayang dari orang tuanya; harta paling berharga yang tidak akan tergantikan apapun. Meski berlian paling mahal dijadikan pertukaran. Tidak, bagi –Xiu Sehun... –berlian tak lebih mahal dari senyuman Ibunya ataupun suara hangat Ayahnya.

Cahaya seterang bulan sabit itu menjadi sangat terang, memenuhi ruang kelas ke setiap sudutnya dengan ujung tongkat Sehun menjadi pusat energinya.

Indah; kata itu sangat pas untuk menggambarkan kondisi seorang –Xiu Sehun- saat ini. Matanya yang terpejam, bibirnya yang melengkung tipis dengan aura yang memancarkan penuh ketenangan, udara yang mendadak begitu hangat. Serta-merta cahaya yang perlahan-lahan berubah menjadi lekukan burung elang berukuran 2 meter dengan cakar juga di imbuhi paruh kuatnya, serta kepakan sayap lebarnya yang mengepak pelan dan...

Tepat di titik kebahagian terisi didalam hati Sehun, diwaktu yang bersamaan Ia melontarkan mantera. "PAT –"

Deg!

...

"Be mine, Sehun-ah. Will you?"

"Kau hanya terbawa suasana."

"Ah, aku...maafkan aku Sehun-ah.."

...

Plash!

Cahaya kebiruan berbentuk –elang- yang tadi sempat terpancar terang itu tiba-tiba lenyap tak berbekas. Wajah-wajah kagum kini berganti terkejut juga kecewa.

Mata Sehun terpejam kuat untuk kedua kalinya. Tanpa diminta, bahkan Ia berusaha keras melupakan ingatan tadi malam. Bukan main nyerinya saat ingatan itu mendobrak pikiran dan hatinya.

Suara-suara si Kim-Sialan-Jongin menghancurkan segalanya.

Ingatannya...hatinya...pikirannya.

Ketika Jongin memintanya untuk menjadi –kekasihnya.

Ketika Jongin tiba-tiba terhenyak dan sibuk dalam kebingungan.

Ketika Jongin melangkah mundur dengan hati ragu...dan pelukan kuat yang Ia rasakan tadi malam. Saat didanau Owl Valley.

Gila..ini menyedihkan. Bagaimana satu ingatan bisa memutar-balikan hari-hari seorang Xiu Sehun yang biasanya normal...ah, tidak selalu tidak normal.

Jongin selalu ada dimanapun, didekatnya, hampir setiap detik. Didalam kelas, dilapangan, terkecuali di Asrama.

Bukan tubuh Jongin melainkan –ingatan tentang Kim Jonginlah yang selalu ada dimanapun, Xiu Sehun berada.

Dan...sialannya lagi Si Sehun ini mulai menyadari...kalau dia, hatinya

...sudah terjatuh dalam pesona. Kim-Bastard-Jongin.

"Sehun-sshi!"seruan itu mengembalikan Sehun ke dunia sebenarnya yakni –Bumi. Disini. Disekolah sihir. Dikelas Pertahanan Ilmu hitam dan ghost—Sehun langsung tertawa dengan nada suara aneh. Itu Ia lakukan semata-mata untuk menutupi hatinya yang sedang bersedih. "Eheueheu."

Nafas tegang Lee-ssaem terhembus lega secara sembunyi-sembunyi, Ia membuka mata dan menekankan suara tegas andalannya. "Aku memberimu sekali lagi kesempatan dan lakukan dengan benar maka nilaimu mungkin lebih baik dari C+."

'...dan jangan melakukan hal diluar nalar seperti tadi di lain hari, nak..karena itu sangat membahayakan untuk kehidupanmu kelak.'pikir Lee Sungmin mendadak dilanda kecemasan. Hatinya mulai tidak karuan karena apa yang dia pikirkannya selama ini hampir mendekati 100 % benar.

Tubuh Sehun mundur cepat ketika dia melihat Dementor lainnya sengaja dimunculkan oleh Lee-ssaem. Ekspresi seriusnya menghilang entah kemana tergantikan wajah konyol yang biasa dilihat oleh orang-orang yang setiap hari satu kelas dengan Xiu Sehun.

Konyol dan selalu membuat ketagihan untuk disaksikan. Itulah Xiu Sehun yang seharusnya.

Krieet'

Suara pintu yang terbuka amat pelan dengan suara decitan mencurigakan.

Kalau tadi mereka terlalu dibuat kagum, excited, interested akan apa yang Sehun lakukan beberapa detik yang lalu maka lain halnya dengan saat ini.

Karena, decitan pintu almari yang terbuka...membuat banyak murid tak sedikit yang memundurkan tubuh mereka secara teratur, menjauh dari sesuatu benda eh sosok berjubah hitam, berwajah kekurangan daging..maksudnya Cuma tengkorak saja, dengan pakaian kekurangan bahan, warnanya hitam pula, miskin sekali. Duh, Sehun mulai melantur nih.

Tepat sosok yang dikenal dengan nama Dementor itu sudah berada didepan Sehun, tidak hanya hawa disekitar pemuda itu saja yang berubah. Hampir seluruh murid merasakan hawa dingin, penderitaan dan kesedihan yang ditebarkan oleh makhluk sok horror padahal perlu dikasihani itu. Baju yang dikenakan sobek-sobek begitu sih. Wajar sajakan Sehun jadi bersimpati daripada ketakutan.

Dekat semakin dekat. Wajah Dementor itu hanya tinggal beberapa senti lagi saja sudah siap menghirup kebahagiaan dalam diri Sehun. "Dementor-sshi, mau apa?"tanya Sehun polos, dia mengerjap dengan dua mata coklat cerahnya. "Mau memakan kebahagiaanku, ya?"lanjut Sehun terlihat masa bodoh saat Dementor itu mulai menghisap 'kebahagiaan' dalam dirinya. "Jangan deh, yang aku punya hanyalah dosa. kebahagiaan itu seperti semanis madu buatmu'kan? Sementara Kalau diibaratkan dosa itu semacam daging busuk ya kan! Jadi mau sebanyak apapun kau mengambil kebahagian dalam diriku maka siap-siap saja kau muntahkan lagi karena hatiku ini terlalu banyak dosanya,"kali ini Sehun sedikit memundurkan wajahnya tanpa ada rasa takut. " tahu tidak tinggi dosa ku melebihi gunung Himalaya, pokoknya."

Respon anak-anak lainnya cukup menarik. Ada yang menyumpahi Sehun, ada yang mengkhawatirkan anak bengal level kapak merah itu, dan bahkan ada yang tertawa geli karena obrolan tak jelas ala Xiu Sehun.

"SEHUN KAU GILA!"Pekik Baekhyun histeris, nah salah satu kelompok yang diserang kekhawatiran adalah pemuda bermata sipit ini. "DIA BUKAN TEMANMU, BODOH! CEPATLAH GUNAKAN PATRONUS MU!"Sarannya lagi dengan suara jejeritan sarat akan cemas. Tidak hanya pemuda bermarga Byun itu saja yang dilanda rasa cemas, beberapa yang mengenal Sehunpun sama takutnya tetapi hanya diam saja, karena masih ada Prof. Sungmin disana.

Kyungsoo dan Zitao sudah memasang tongkat mereka masing-masing untuk membantu sahabat mereka yang tidak waras itu. Hei, mana mungkin mereka menyebut atau mengaku sebagai Sahabat Xiu Sehun. Kyungsoo dan Zitao jelas mengetahui alasan Sehun yang tetap saja berdiri seperti orang dungu dan oh neraka...pemuda bengal itu bahkan mengajak Dementor yang Cuma punya tulang itu bicara.

"Apa yang dia lakukan sih."desis Kyungsoo geram.

Sehun menoleh kearah 2 sahabatnya, tidak ada ekspresi awalnya tetapi pada akhirnya dia memasang wajah memelas. "HUWAAAAA! TOLONG AKU!"Jerit Sehun menyedihkan.

Prof. Sungmin segera memusnahkan Dementor itu dan mendekati Sehun dengan wajah khawatir. "Kau tidak apa-apa?"

Sehun hanya mengangguk lemah, "Tidak apa-apa, Lee-ssaem. Maafkan aku, sungguh aku tidak bisa paham bagaimana memakai mantera pelindung itu."ucap Sehun lemah.

Lee Sungmin menyimpan kata-kata Sehun dalam ingatannya, menyaring dan menyimpulkan pertanyaan, '...laluapa yang kau lakukan tadi, kenapa seolah tidak menyadari kekuatan yang rapalkan tadi...'pria itu membatin. Alisnya menukik samar, suatu kesimpulan pasti yang ia dapatkan dari Xiu Sehun.

Sehun berpura-pura tidak menyadari ketika melontarkan sihirnya yang luar biasa dengan patronus –Eagle- sebagai bentuk makhluk ajaib yang Ia keluarkan.

Atau...

Dia memang benar-benar tidak menyadari bahwa dia baru saja mengeluarkan mantera paling terkutuk yang pernah ada dalam sejarah –Dunia Sihir.

"Kau gagal lagi tetapi datanglah ke ruanganku setelah seluruh jadwal kelasmu hari ini selesai."

Sehun mengangguk pasrah disertai wajah sedih.

'Selanjutnya, Lee Taeyong."

Sehun berbalik dan kembali duduk diantara Kyungsoo dan Zitao yang langsung menghujani beragam pertanyaan.

"Kau baik-baik saja?"Kyungsoo lebih dahulu bertanya.

"Tadi itu luar biasa, dude. "disaat Zitao berkata seperti itu alis Sehun mengkerut penuh tanya. "Tetapi, kau tiba-tiba jadi tidak keren lagi sedetik kemudian."ekspresi Sehun berubah dongkol. "Pasti ada sesuatu yang mengacaukan ingatan membahagiakanmu'kan?"kali ini Zitao super kepo.

Kyungsoo menggeplak bahu Zitao dengan sukarela.

Plak!

"HEI!"Jerit Zitao.

"Shut up, Panda!"

Sehun menarik nafas berat, "Kenapa aku merasa mengantuk sekali?"gumam Sehun.

"Kau bicara sesuatu?"

"Tidak, Dio. Aku sedang sikat gigi?"jawab Sehun mulai tidak nyambung.

"Tralala, Sehun kita yang normal kembali lagi."itu Zitao.

Plak!

2 kali Kyungsoo memukul Tao. Tepat di bahunya. Dengan buku ramuannya. Pasti sakit.

"SAKIT, KYUNG!"Pekik Zitao misuh-misuh. "Kenapa kau jahat sekali sih. Apa salahku coba?"

Kyungsoo hanya membalas dengan wajah super datar. Dia memilih untuk memperhatikan Sehun saja. "Aku paham, Hun. Menggunakan mantera sebesar tadi memang menguras tenaga. Lainkali jangan lakukan itu lagi meski kau memang mampu tapi ku harap kau memakainya disaat paling bahaya dalam hidupmu saja, kay?"

Sehun menoleh. Wajahnya kentara bingung. "Memangnya kalau menggunakan mantera patronus bisa selelah apa?"

Walau merasa bingung toh Kyungsoo menjawab dengan kalem. "Kalau kau bisa membentuk makhluk ajaib dari tongkatmu dengan bentuk sempurna, rasa lelahnya sebanding saat kau lari keliling lapangan Quiditch 50 kali."

Mata Sehun melotot. "Wah, itu pasti capek sekali."

Kyungsoo menaikan dua alisnya, dengan bibir membentuk garis dan dengan anggukan cepat. "Kau hebat masih bisa sadar setelah melakukan itu."

"Itu apa?"

"Saat kau mengeluarkan patronus berbentuk Elang."Zitao menjawab ringan.

Tapi, reaksi Sehun jauh dari biasa. "KALIAN SERIUS?!"

Zitao melompat dari kursi dan Kyungsoo mengangkat tangannya. Mereka kaget saat mendengar suara Sehun yang memekik.

"Ehem!"

Deheman itu membuat trio trouble itu kembali duduk dalam posisi santun. Dengan wajah dibuat sepolos dan sesopan mungkin.

'...kenapa anak ini, dia pikun atau apa?...'tanya Zitao dalam pikirannya.

'...Kalau dia bermain-main dengan ingatannya, ku pastikan dia akan lupa ingatan selama 1 minggu...'batin Kyungsoo sedikit bersumpah pada dirinya sendiri.

'...mereka ngomong apa sih, elang apa? Mantera apa?...'Sehun yang membatin dalam kefrustasian.

"Kau punya dongeng untuk kami setelah kelas ini selesai. Sehun."desis Kyungsoo.

Sehun merinding.

Zitao tersenyum miring. "Berani kabur, essaymu nilainya D+ lagi loh."

Sehun ingin kabur sekarang.

.

.

.

Saat bel didendangkan...Xiu Sehun...merealisasikan idenya untuk kabur dengan jeniusnya.

Well, dia berakhir...di danau Owl Valley beberapa menit setelah kejar-kejaran dengan 2 sahabatnya.

Malam kemarin adalah hal terburuk bagi Xiu Sehun.

Gila..itu yang terlintas dalam pikirannya.

Pedih?

Tidak ini tidak terasa pedih, perih, sakit tetapi lebih kearah...AH SEHUN TIDAK PEDULI!

Swoosh!

Duaaar!

Mata coklat itu mengerjap kaget, bibirnya terbuka lebar dengan tangan terangkat keudara. Dia sedang terkejut akan kejadian barusan. Sumpah, Sehun hanya sedang termakan dalam emosinya sendiri, melamun seperti orang dungu dipinggir danau Owl Valley.

Abaikan ingatan tentang tadi malam.

Yah, jika kalian paham juga apa yang kemarin malam terjadi pada dirinya juga...oh shit Kim Jongin didekat danau dengan...INI BAGIAN TERBURUKNYA; Dengan Wu Yifan a.k.a Kris a.k.a pria idaman Xiu Sehun; sebagai saksi insiden peluk-memeluk ala Kim-bastard-Jongin.

Sudahlah...Sehun sedang ingin beristirahat memikirkan hal –menggelikan dan menyenangkan itu—sebentar saja, soalnya tadi malam dia sudah puas dihujani berbagai macam adegan tentang –itu. Iya CIUMAN SIALAN ITU!

STOP IT SEHUN!

Lebih baik fokuskan hati dan pikiran mu, tentang asal ledakan tadi, darimana dan dimana? Jika tak salah lihat tadi itu, maksudnya suara ledakan itu terjadi dari dasar danau dan –hell, jubah bagian depan Sehun hampir basah bahkan rambut coklat madunya ikut lepek karena terkena siraman air paling banyak.

"Hahaha, ada apa denganmu!"lamunan Sehun hancur lebur saat suara tawa menyebalkan familiar muncul dari belakang. Ia menoleh diserta ekspresi bengis begitu menemukan 2 sahabatnya sudah tertangkap matanya, berjalan kearah sini dengan tawa Huang Zitao yang terus saja terdengar oleh Xiu Sehun.

"Pfft...dia mirip seperti kucing kecebur got! Kasian sekali, ckck."seperti biasa Do Kyungsoo selalu menyebalkan. Wajah anak 5 SD-nya itu tidak pantas dimiliki oleh remaja bermulut pedas sepertinya.

Sehun sudah berpanas-panas diri didalam hati. Kepalanya sedang pusing, hatinya sedang diserang demam...ah jangan berlebihan Sehun. Kau hanya sedang terserang Syndrom Kangeneu Jongin. Aneh, bodo amat!

"Sedang apa kalian disini!"Sehun balik bertanya dengan nada judes andalannya ketika sedang tidak ingin diganggu.

Kyungsoo menatap kearah lain sedangkan Zitao memandang langit yang agak mendung disiang itu. "Kau tidak kami temukan dimanapun selain kelas pertahanan ilmu hitam, kau bolos 3 pelajaran sekaligus dan kami hanya iseng kesini untuk mencari rumput danau sebagai bahan ramuan tetapi lihatlah kami menemukanmu disini, dude."papar Zitao pada akhirnya menjawab meski suaranya amat malas.

Sehun sibuk mengacak-ngacak rambutnya yang lumayan basah, bukannya kering malahan tindakannya itu menuai derai tawa dari kedua sahabatnnya itu. "Ahahaha, hentikan Sehun!"seru Zitao.

"Kau terlihat semakin mengenaskan saja dengan rambut lepek basahmu itu."kata Kyungsoo. Dia menaikan satu alisnya heran, dia sudah berteman dengan Sehun selama beberapa tahun bung dan melihat mata panda menghiasi mata Xiu Sehun adalah hal yang baru pertama kali Ia temukan. Dia Baru menyadari itu sekarang.

"Apa terjadi sesuatu tadi malam?"akhirnya Kyungsoo mengajukan pertanyaan yang sudah bercokol didalam pikiran semenjak tadi malam dan juga saat kelas Lee-ssaem tadi.

Zitao menghentikan tawanya secara spontan, sepertinya dia juga penasaran. Tadi malam dia sempat mendengar Xiu Sehun mengigau atau entah meracau tidak jelas dan tidak hanya salah dengar karena Do Kyungsoo juga terganggu akan perilaku Sehun yang tidak biasanya itu.

Sehun meneguk ludah, dia menjadi kaku mendadak. Zitao dan Kyungsoo makin merapatkan diri pada sahabat paling abstrak mereka itu dengan tatapan ingin tahu yang amat antusias menuai desisan risih dari pihak Sehun –selaku tersangkanya.

"Tidak terjadi apapun."jawab Sehun jutek padahal wajahnya benar-benar tidak menggambarkan hal semacam ekspresi marah atau galak tetapi ekspresi ingin menangis dan juga kebingunganlah yang ditangkap oleh kedua sahabatnya. Urat-urat didahi Sehun berkerut beberapa lipatan saat dua manusia berbeda tinggi itu tengah menatapnya dengan sorot mata—Simpati.

Spontan saja Sehun mendelik matanya, cemas. "Kenapa kalian melihatku seolah aku ini adalah pengemis paling miskin dijagat raya."tandas Sehun agak keras dan gagap.

Kyungsoo terkekeh begitu juga dengan Zitao. "Kami hanya berusaha menjadi sahabat yang bisa kau andalkan disaat kau membutuhkan bantuan, dude."kata Zitao, dia mengalihkan pandangan kearah danau, kakinya bersila dan satu tangannya digunakan untuk menopang dagunya.

Kyungsoo juga melakukan hal yang sama. "Kita sahabatkan, Hun-ah?"tanya Kyungsoo lembut.

Sehun berdecak, "Tentu saja."sahut Sehun yakin. "Ukh, rasanya menggelikan sekali."

Kyungsoo mendengus, "Kau pikir aku tidak merasa geli?"

Zitao merangkul bahu Sehun yang memang duduk ditengah-tengah. Mata Zitao itu tidaklah menatap Sehun tetapi keatas langit dengan sorot mata menggalau tak jelas. "Jatuh cinta memang tidak enak rasanya. Tidak nafsu makan, tidak nafsu berbuat kejahilan ah bahkan kalau yang sudah akut miriplah seperti dirimu."

Deg!

Jantung Sehun serasa hampir copot saat perkataan Zitao diserap oleh telinga normalnya.

Kesal!

Tersinggung!

Dengan sadis Sehun mendorong jauh tubuh Zitao lalu berteriak kreas. "AKU TIDAK SEDANG JATUH CINTA!"Seru Sehun keras-keras.

"Hmm."Kyungsoo menanggapi dengan gumaman kalem sementara Zitao sudah tertawa menyebalkan dalam posisi terbaringnya. "Hahahaha, kau lucu sekali!"ucap Zitao dibarengi tawa gelinya.

"Jangan menertawakan penderitaan teman kita, Tao! Tidak baik!"

Zitao mendudukan diri, matanya memicing..."Ini lucu, Dio. Hal konyol memang perlu ditertawakan."ujar Zitao tak jelas.

Sehun semakin memandang pemuda keturuan china asli itu dengan sorot mata ingin menguliti. "Diam saja kau, panda jejadian!"omel Sehun kesal. dia mendekati pinggiran dan menyiramkan air itu tepat kewajah Zitao.

Pyar!

"Oi, apa yang kau lakukan!"jerit Zitao saat wajahnya tersiram air yang kini tengah disiramkan oleh Sehun.

Kyungsoo hanya tertawa, dia malah membantu Sehun menyirami Zitao dengan wajah bahagia. "Ayo siang-siang seperti ini memang waktunya untuk mandi, kaukan habis berburu beberapa hari lalu! Ayo mandi, mandi!"

Zitao segera berdiri dan menjauhi kedua orang yang masih saja menyiraminya dengan raut wajah senang. Pemuda panda itu mengusap wajahnya yang basah dengan lengan jubahnya kasar. "Ck, aku sudah mandi. Memangnya tubuhku masih bau?"tanya Zitao sambil menciumi tubuhnya lalu menggeleng cepat. "Aromaku normal-normal saja kok."

Kyungsoo tidak menyetujui ucapan Zitao. "Jangan mengelak, Zitao. Kau memang bau!"

Sehun merasa lega karena kedua sahabatnya sudah membahas hal lain. entah secara sengaja atau tidak...yang pasti untuk saat ini Sehun memang tidak ingin membahas ingatan tentang adegan—ciuman itu. Setidaknya sampai dia yakin...hatinya sudah benar-benar jatuh atau Cuma terbawa suasana seperti yang Ia katakan pada Jongin malam tadi.

"Haaa~"tanpa sadar Sehun menghela nafas dan itu terdengar lemah dan putus asa.

Kyungsoo dan Zitao saling berpandangan, mereka mengangguk kompak. "Kau sudah makan, Hun-ah?"tanya Kyungsoo.

Sehun mengerjap, "Belum."jawabnya pendek. Dia menjauh dari pinggiran danau lalu bersandar pada salah pohon beringin yang daunnya tumbuh subur. "Kalian sendiri?"

"Tadinya sih ingin tetapi bukankah aku sudah bilang bahwa tadi kami mencari-carimu sampai lupa waktu makan siang."

Mendengar jawaban itu rasa tidak enaklah menyerang hati Sehun. "Sorry, dude. Ayo kita makan siang, ku rasa masih ada waktu setengah jam lagikan?"

Zitao menghela nafas, "Kau pikir kemampuanku ada untuk apa jika tidak ku gunakan?"papar Zitao agak kesal saat mengingatkan sahabat tinggi berkulit pucat susu tentang kemampuan yang Ia miliki. "Aku sudah menghentikan waktu sejak 1 jam lalu."sambung Zitao lagi.

Alis Sehun bertaut, "Tapi kenapa aku masih bisa bergerak?"

"Karena, aku inginnya begitu."jawab Zitao acuh tak acuh.

"Kyungsoo menjauhlah dari air."perintah Zitao.

"Jangan mengganggu kesenangku, panda bau!"

Mata Zitao memutar jengah mendengar ledekan tidka keren itu. "Kau harus ingat imun tubuhmu yang jauh dari normal, stupid!"

"Aku tidaklah selemah itu."elak Kyungsoo mulai mengeraskan suaranya.

Sehun membantu juga untuk membujuk Do Kyungsoo yang tumben keras kepala. "Dio, jangan buat dirimu kesulitan. Menjauhlah dari danau!"

"DIAMLAH!"

Cukup. Kenapa Zitao bisa sekesal ini. Jawabannya karena Zitao benci Kyungsoo sakit. Maka dari itu Ia pun mendekati Kyungsoo yang masih saja sibuk bermain air dipinggiran danau dan menarik kerah jubah bagian belakang milik Kyungsoo yang membuat pemuda bermata bulat itu mendongak. "Kenapa kau menarikku seperti anak anjing begini sih, dasar panda menyebalkan!"rutuk Kyungsoo kesal karena keasyikannya yang tengah bermain air diganggu.

Zitao memeletkan lidah, dia masih saja menarik kerah jubah bagian belakang milik Kyungsoo sampai jauh dari pinggiran danau dan menjatuhkan tubuh kecil Kyungsoo tak jauh dari Sehun yang masih menyandar pada salah satu pohon beringin.

"Kau bisa sakit jika lama-lama bermain air, bodoh!"Zitao balas merutuk dan menjitak puncak kepala Kyungsoo dengan kuat.

"ouw! Sakit woy!"jerit Kyungsoo sebal. dia kini sibuk mengelus kepalanya yang berdenyut nyeri. "Dasar bau!"hina Kyungsoo.

"Aku ini wangi, hidungmu saja yang bermasalah!"tolak Zitao malas.

Kyungsoo mencibir, "Dasar tidak sadar diri!"

"Kau itu yang seenaknya!"

"Hei."panggil Sehun membuat 2 orang yang asyik berdebat itu langsung menghentikan kegiatan mereka dan menoleh bersamaan kearah Sehun.

"Apa?"tanya Sehun..

Kyungsoo tertawa menyindir, "Mulai merindukan Kim Jongin?"

Mata Sehun melotot lalu tersedak ludahnya secara tak sadar. "AP –uhuk! Uhuk! Jangan mengada-ngada!"

"Aku Cuma menebak, kok."sahut Kyungsoo.

"Ah, lupakan. Ayo kekantin, makan siang dan pulang keAsrama sekarang."

"Tapi, dude. Kau bah...—"

Sehun membuat tanda silang dengan kedua lengannya didepan dada, matanya menyorot paksa dan jelas tidak ingin mendengar penolakan. "Jangan buat staminamu habis hanya karena aku, kay! Hentikan kemampuanmu dan biarkan waktu berjalan lagi."sergah Sehun tegas.

Tao mengangguk setuju dan segera membuat waktu kembali berjalan normal.

Kepala Sehun kini menoleh kearah Kyungsoo yang berjalan mengendap-ngendap hendak mendekati pinggiran danau lagi. Giginya bergemeletuk gemas, terheran-heran akan tingkah kedua temannya yang tumben sekali keras kepala daripada biasanya. "...Dan Kyungsoo jangan mendekati air danau lagi!"tegur Sehun gemas.

Zitao mengikut arah pandang Sehun dan diapun menggeram sebal. "Terserah kau saja, Dio. Kalau sakit jangan mencariku!"marah Zitao, dia berbalik pergi dengan langkah tergesa-gesa karena emosi.

Kyungsoo mendengus, "Akukan suka air."mata bulat itu melirik kearah Sehun. "Kau benar-benar tidak ingin berbagi tentang apa yang terjadi tadi malam?"

Helaan nafas berat dan gelengan pelan sudah Kyungsoo anggap sebagai penolakan tanpa kata-kata. Secara sengaja Sehun membiarkan Kyungsoo melangkah pergi menuju kearah Zitao menghilang.

Meninggalkan Sehun yang memandang salah satu pohon beringin dengan pandangan campur aduk tetapi dia kemudian menggeleng. "Aku tidak boleh membuat Zitao ataupun Dio khawatir."gumamnya lalu melangkah lesu menyusul 2 sahabatnya yang sudah pergi terlebih dahulu.

.

.

.

Bug! Bug! Bug!

Chanyeol, Chen dan Baekhyun secara serentak menutup mulut mereka rapat-rapat.

Chen yang tadinya sibuk dengan komiknya langsung mematung dengan tatapan ngeri kearah Jongin. Baekhyun memeluk bantalnya erat-erat dan Chanyeol yang posisinya paling dekat Kim Jongin hanya bisa menempel pada dinding bernuansa merah bata itu disertai wajah takut-takut.

Sudah banyak pertanyaan bercokol dan mengendap di pikiran ketiga orang yang menjadi saksi didalam kamar itu.

Jongin, entah sudah keberapa kalinya pemuda itu meninju dinding tak berdosa itu hingga remuk permukaanya. Dibenarkan dengan mantera Reparo lalu ditinju lagi, dibenarkan dengan mantera Reparo lalu ditinju lagi. Terus seperti itu sampai-sampai darah sudah merembes membasahi permukaan kulit milik Jongin.

"Em, Kai. Kau baik-baik saja?"

Baekhyun dan Chen mendelik cemas kearah Chanyeol –orang gila yang baru saja mengajukan pertanyaan konyol pada sosok Jongin yang sedang dalam mood terburuknya. Entahlah sedang marah, sedih atau apa...tidak jelas pokoknya?

Mungkin kata yang pas adalah...bimbang?

Mungkin?

Pertanyaanya adalah 'apa' yang membuat pemuda yang memiliki pemikiran paling tenang dari mereka berempat itu bisa sebegini gusar dan tidak bisa tenang.

Bukan apa yang membuat Jongin menjadi bimbang?

Pertanyaannya yang lebih mendekati akurat adalah! siapa yang membuat Jongin menjadi bimbang?

Jongin, anehnya tidak bereaksi atau menyumpah seperti yang biasa Ia lakukan. Tetapi, beringsut turun dengan nafas terhembus cepat seperti orang yang sedang terserang asma.

Mengkhawatirkan, bung?

Baekhyun berinisiatif mendekati, memegang bahu sahabat paling cuek dan dingin itu hati-hati. Jongin tidak menepis sentuhan Baekhyun, dia hanya menoleh dengan wajah berkeringat juga meringis. "KAU MENGINJAK TANGANKU, BAEKHYUN!"

"O-oh, sorry."ucap Baekhyun sambil tersenyum lebar.

"No Prob."

"Ok."

Chanyeol meringis melihat darah yang mulai menetes dari jari-jari Jongin. "Kau, okay'kan?"tanya Chanyeol tak yakin. "Semenjak keluar dari Kelas pertahanan ilmu hitam tadi."Si pemilik dimple itu menggaruk kakinya yang gatal, "—udara disekitarmu benar-benar tidak bisa dikonsumsi dengan normal."lanjut Chanyeol.

"Benar. Aku bahkan tidak yakin sedang menghadapi manusia atau dementor. Kau benar-benar jago menebarkan aura suram, Kai."cecar Chen.

"Ck, Kalian ini. Kai memang selalu seperti itu."

Chen menggeleng tanda tak setuju. "Tapi, dia yang biasanya benar-benar tenang dan berwibawa."

"Iya, Baek. Chen benar."

"Whatever."malas Baekhyun.

Jongin berdiri dan berteleportasi tanpa menjawab satupun pertanyaan dari 3 sahabatnya itu.

.

.

.

Aria here and Moonie too! Heihei! Ini Cuma berisi dialog ngawur AriaMoonie, jadi mau dibaca ya monggo dan mau dicuekin seperti hembusan anginpun nggak masalah *nyengir kuda sambil ngewink ganjen*/Moonie ngalay./Aria gondok.

Hai, guys.,.maaf baru update setelah 1 minggu menghilang.

.

Aria : Kalian masih minat review kgak? Sebenarnya gue punya ide yang lebih mesum dan jahat buat Si Albino bengal ini.. tapi ketahan sama tuh bocah cunguk/melototin Moonie. Ngelarang-larang gue segala kan somvret.

Moonie : Pergi sana, Ar. Kamu ngacaukan cerita yang aku buat. Kitakan udah janjian padahal, dari prolog sampe chapter 10 aku yang bikin nah habis itu dari chapter 11 sampe-ending kamu yang nyelesein tapi kamu nyerobot BAGIANKU.

Aria : Eh, elu ndri yang bilang males mikir, peaa!

Moonie : Jangan bohong!

Aria: Elu yang bo'ong, sutil karat. Elu lupa diri ya gue meski sedikit tapi ngebantu elu dibeberapa bagian, dari chapter 3 sampe sekarang! Oh, dude...Ngomong-ngomong mau dilanjut atau nggak itu ada ditangan reader sekarang? GUE MASIH MEMAKSA!

Moonie : Aria, nggak perlu segitunya! Entar mereka malah kita juga sulit dikonsumsi, karena bahasanya agak melenceng dari –normal begini. Jadi, jangan berharap banyak review, Ar!

Aria : diem aja lu, babu Baekhyun! Kalau mereka kabur dan nggak mau review ya itusih hak merekalah, stupid! Soal bagus atau nggak cerita ini, yah itu sih pndpt mreka scra individu. Kita jadi Author cuman bisa ngasih yang terbaik, jadi berhenti ngerendahin usaha elu ndiri, ogeb!

Moonie : asjdfkalsfndalg

Kaihun : BAWEL KALIAN BERDUA!

.

AriaMoonie : MAAFKAN KAMI! Jadi To be continued or End?