WONDERWALL (HunChanLu Version)

.

.

Gendre : Romance, Friendship

Rating : T

GS! For All UKE. Romance, Hurt, OOC, Some CRACKPAIR! Out of EYD

.

[69's Note: Tulisan italic menandakan bahasa asing dan adegan flashback.

.

Copyright® Sena Loli

The stories belong to Webtoon : WONDERWALL by Sena Loli

.

.

.

Chapter 10 : Teman.

"apa dia sakit?"-tanyanya dalam hati, "sepertinya tidak"-lanjutnya dalam hati setelah mengecek suhu tubuh Luhan.

"HAH!" sesaat setelah itu, Luhan terbangun. "WAAH! MAAFKAN AKU, TOLONG JANGAN PUKUL AKU!" teriaknya histeris.

"kau tau berapa lama kau tertidur? HAH?!" bentak Sehun menunjukan tatapan menusuknya, 2 JAM ASAL KAU TAU LU! Sehun kesal dan mencubit gemas pipi Luhan.

"m-maaf" hanya itu yang mampu Luhan katakana.

"rumahmu lewat mana? Cepat!" bentaknya.

"n-nanti belok kanan di depan…" balas Luhan, dia merunduk memikirkan apa yang tadi terjadi. Serius dia ketiduran 2 jam? Lalu kenapa Sehun tidak membangunkan Luhan saja? Supaya bisa mencubitnya?!

.

VRRR—mobil itu tidak bergerak terlalu cepat, cukup bisa dikatakan Sehun mengemudi dengan kecepatan standar.

.

"kau berpacaran dengan gay, kan?" Tanyanya tiba-tiba.

"APA?!" jawab Luhan kaget.

"gay yang badannya pendek dan bulu matanya lentik itu" jelas Sehun, jika dia melihat Jongdae rasanya ingin nonjok saja!

"berpacaran dengan gay? Tapi aku masih single .. tapi biar kuingat dulu, mungkin itu temanku" Luhan terlihat sedang berpikir, siapa temannya yang badannya pendek dan bulu matanya lentik?

"lupakan saja, mungkin aku salah paham, lagipula kau pasti punya terlalu banyak teman untuk diingat." Kata Sehun membuat Luhan berpikir dengan perubahan wajah Sehun yang terlihat sedih.

.

"eh, ah.. rumahku disini" kata Luhan, dan mobil Sehun berhenti di depan mansion putih gading yang megah itu-rumah Luhan-, dengan wajah lelahnya akhirnya Luhan pulang juga.

"tunggu sebentar" cegah Sehun ikut keluar dari mobilnya.

"kenapa, ada apa?" Tanya Luhan.

"blezermu… cepat buka." Jawab Sehun memegangi lengan Luhan.

"hah? U-ntuk apa?" Tanya Luhan.

"ada bekas noda darahku di blezermu, biar aku yang bersihkan" jelas Sehun, Luhan mengangkat lengannya memperlihatkan darah Sehun di lengannya, "ayo cepat buka, aku juga ingin pulang sekarang!" kata Sehun.

"kau tidak perlu repot-repot, aku bisa membersihkannya sendiri" tolak Luhan.

"E-eh, yasudah terserah kau saja! Cepat sana masuk ke rumah!" balas Sehun.

.

VROOOM—mobilnyapun melaju.

.

Di dalam mobil Sehun melamun dan mengingat sebagian puzzle ingatan masa lalunya.

.

Flashback masa lalu Sehun :

"Sehun, kau akan mentraktir kita lagi kan?" Tanya seseorang siswa yang sedang berkumpul dengan ketiga siswa lainnya dan Sehun juga berada disana.

"tentu saja, dia kan punya banyak uang" balas salah satu teman lainnya.

Flashback end.

.

-Teman?—

"yeoja sial!" makinya.

.

.

ACHOO! ACHOO!

"aku jadi kepikiran tiap kali bersin sekarang" pikir Luhan, siapa yang sedang membicarakan hal buruk tentang dirinya?

.

"ah.. semua kejadian hari ini membuatku pusing." Luhan mengeluh.

"GUK!" itu anjingnya.

"Chiron! Maaf aku pulang telat.. kau pasti sudah lapar" Luhan memberikan semangkuk makanan anjing untuk anjing putihnya itu.

"makan yang banyak dan tetap disini, aku akan mandi" lanjutnya setelah melihat anjingnya melahap makanan yang dia berikan.

.

Luhan pun pergi ke kamar mandinya, dia merendam tubunya dalam bathtube dan merasakan air panas menjalar keseluruh tubuhnya, sambil berendam dia berpikir, dirinya dan Sehun tidak pernah bicara sebelumnya.

.

Flashback :

"Lu, jangan lihat-lihat dia, berbahaya jika ketahuan" kata Yixing, teman Luhan

Luhan tau, semua orang selalu menjauhinya, dan begitu pula dengannya. Luhan hanya mengenalnya melalui apa yang digosipkan orang lain, dan Luhan hanya ikut-ikutan menjauhinya.

Luhan melirik Sehun yang telah berlalu dibelakangnya.

"apa?" kataku memastikan ucapan Yixing.

"kalau ketahuan, nanti matamu dicungkil!" jelas Yixing.

Flashback end.

.

"Sehun itu.. mungkin dia tidak sejahat seperti yang sering digosipkan" kata Luhan, "tapi dia tampan juga"-pikir Luhan.

akhir-akhir ini dia selalu memikirkan namja tampan, "astaga.. siapa yang membuatku jadi mesum seperti ini? Apa aku terlambat puber?"-makinya dalam hati.

.

.

Pagi itu, sangat cerah seperti biasa. Secerah wajah Luhan saat ini, dia memang selalu berwajah cerah, btw. Tapi saat ini, tidak seperti biasanya, Luhan yang selalu berangkat sekolah dengan menggunakan blezernya. Kini dia tidak memakai blezernya, sehingga lengannya yang mulus terekspos jelas dan balutan kemeja seragam putihnya yang begitu pas di tubuh mungilnya membuat semua pansang mata mengumamkan "WOW!" saat Luhan melewati mereka.

.

"tidak ada tanda-tanda Sehun, aku bisa pingsan jika bertemu dengannya lagi"-gumam Luhan menghembuskan napas lega, "aku tidak mau bertemu dengannya"-tambah Luhan, dia melesat menuju kelasnya.

.

Bersyukur, dia tiba dengan selamat di kelasnya. "Luhan?!" teriak Kyungsoo, "LUHAAAN! OMG KAU TIDAK APA-APA?" teriak Kyungsoo terkejut melihat Luhan, "kenapa kau tidak mengangkat ponselmu dari tadi?" Tanya Kyungsoo.

"oh! Batrainya habis, akan ku charge lagi saat jam istirahat" jawab Luhan, "memangnya ada apa? Hari ini tidak ada PR loh, Kyung" kata Luhan yang dibalas tatapan AKU TAU dari Kyungsoo, memangnya dia pagi-pagi akan selalu meminjam PR Luhan begitu? Kyungsoo tidak sebodoh itu, tapi faktanya? PR, pagi hari, dan Luhan adalah sesuatu yang tidak bisa lepas dari Kyungsoo hahaha.

"kabarnya kau terluka parah sekali, tapi kau terlihat baik-baik saja sekarang. Ada yang melaporkan Sehun kepada Kepala sekolah, katanya dia memukulmu kemarin" jelas Kyungsoo yang memegangi tubuh Luhan memastikan bahwa Luhan tidak terluka. "sepertinya Sehun akan dikeluarkan dari sekolah karena sudah memukulmu" lanjut Kyungsoo membuat Luhan membatu.

Chapter 11 : Penjelasan.

"sepertinya Sehun akan dikeluarkan dari sekolah karena sudah memukulmu" lanjut Kyungsoo membuat Luhan membatu.

"hah? Kenapa begitu? Lihat, aku baik-baik saja kan?" jawab Luhan panic.

"hm iya sih, lagipula aku juga tidak tau siapa yang melaporkannya" kata Kyungsoo. "tapi bukan kau kan yang bilang kepada kepala sekolah?" Tanya Kyungsoo.

"tentu saja bukan, aku tidak mungkin melaporkan sesuatu yang tidak benar" kata Luhan.

"oh.. Lu, mau kemana kau?" Tanya Kyungsoo melihat Luhan berjalan menjauhinya.

"menemui kepala sekolah" jawabnya sambil melempar asal tasnya pada kursinya.

"untuk apa?!" Tanya Kyungsoo.

"aku akan bilang kalau semua ini hanya salah paham" balas Luhan melihat kearah Kyungsoo, "dia tidak seharusnya dikeluarkan dari sekolah" lanjutnya yang dibalas tatapan tak percaya dari siswa siswi yang bergumam "HAH?", "EH KENAPA", "TAPI KAN DIA JAHAT".

.

Luhan melangkahkan kaki keluar dari kelasnya.

"t—tunggu Lu! Jangan pergi dulu!" teriak seorang siswa dan Luhan menengok kearahnya. "kemarilah, sepertinya kita satu kelas. Ada yang harus kubicarakan padamu" kata namja itu.

"OK" jawab Luhan.

"Lu, sekali ini, dengarkanlah kami" kata namja itu memgangi bahu Luhan.

"kita tidak sekelas dengan Sehun, tapi kau tau kalau kita semua tidak menyukainya kan?" Tanya seorang yeoja, kini Luhan di kerubuni 2 namja dan seorang yeoja.

"jadi.. walaupun Sehun memang tidak memukulmu kemarin.." kata namja lain tertahan, "biarkan saja Sehun dikeluarkan dari sekolah." Lanjut namja yang memegangi bahu Luhan. "kamu tidak perlu bilang apa-apa pada kepala sekolah, okay?" lanjutnya.

"aku yakin sekali kalian pasti tidak akan suka jika dituduh melakukan sesuatu yang tidak kalian lakukan." Kata Luhan, "lepaskan!" bentaknya menepis tangan namja itu dari bahunya.

"eh maaf" balas namja itu terkejut.

Suasana kelas menjadi dingin, dan Kyungsoo tersenyum dengan mengumamkan WAH melihat adegan itu, menurutnya Luhan benar-benar keren!

"bye!" ucap Luhan berlalu meinggalkan kelasnya.

.

"setelah apa yang dilakukan Sehun, Luhan masih mau menolongnya?" ucap salah satu siswi.

"jangan samakan Luhan dengan dirimu" balas salah satu siswa.

"aku tidak bisa melarangnya jika itu keinginanya" ucap salah satu siswa lagi yang sepertinya dia ketua kelas Luhan, "kenapa dia sangat baik hati sekali?" tambahnya lagi dengan mimik wajah terharu.

.

"…kemarin memukul seorang siswi dan kau juga sering membawa mobil ke sekolah!" itu suara kepala sekolah sedang memarahi Sehun yang sedang berada di ruang kepala sekolah dengan wajah datar seperti biasa dan dengan kurang ajarnya mengangkat sebelah kaki brengseknya, tidak tau sopan santun. "apa kau tidak baca peraturan tentang membawa kendaraan pribadi?!" bentak kepala sekolah itu.

.

TOK TOK..

.

"masuk!" ucap kepala sekolah.

"permisi, sajangnim" ucap Luhan membuat kepala sekolah maupun Sehun melihat kearahnya.

"eh? L-Luhan? Kau.." kepala sekolah terkejut.

"apa Sehun akan dikeluarkan dari sekolah? Saya ingin memberitahu jika kabar tentang Sehun memukul saya itu tidak benar." Jelas Luhan.

"kau ya yang melaporkanku?" bentak Sehun dengan tatapan MAU KUPUKUL BENERAN?

"bukan, aku.." balas Luhan dengan tatapan takut.

"tolonglah Sehun, dia tidak melakukan apa-apa pada saya, sajangnim" ucap Luhan menatap kepala sekolah, "dia bahkan mengantar saya pulang saat hujan kemarin" tambah Luhan dan Sehun hanya membuang muka mendengar penjelasan Luhan.

"ah.. baiklah, karena kau sendiri yang bilang, dan juka tampaknya kau baik-baik saja Luhan, jadi Sehun tidak akan kukeluarkan." Ucap kepala sekolah membuang napas beratnya, "tolonglah jika ada masalah diantara kalian, selesaikanlah secara dewasa." Ucap kepala sekolah, –saling lapor seperti ini, seperti anak TK saja, pikir kepala sekolah.

"aku hanya ingin kalian semua jadi anak yang sopan" tambahnya, "menghormati orang lain, dan belajar disiplin" ucapnya menasehati.

"hah? Kenapa hanya padaku?" Tanya Sehun yang sedari tadi diperhatikan oleh kepala sekolah sambil menasehati.

"aku bilang itu pada kalian berdua" jawab kepala sekolah.

"aniyo, anda hanya menatapku dari tadi sajangnim" protes Sehun, membuat kepala sekolah melirik Luhan.

"hm?" refleks Luhan, semua sudah tau, Luhan itu anak yang sopan, hormat pada orang lain, dan rajin belajar. Yang tadi itu nasihat untuk Sehun!

"ne, yang tadi itu aku bilang untukmu" ucap kepala sekolah.

"huh! Sudah kuduga!" geram Sehun dengan tatapan DASAR PILIH KASIH! Kepada kepala sekolah itu, "yasudah, kalian boleh keluar. Jangan bawa mobil lagi, Sehun" ucap final kepala sekolah yang terlihat stress itu.

"terimakasih sajangnim" ucap Luhan.

.

"oh, ada yang ingin saya tanyakan, sajangnim" ucap Luhan, sedangkan Sehun keluar dari ruangan itu. "apa itu, Luhan?" Tanya kepala sekolah.

"bolehkah saya tau siapa yang melaporkan Sehun?" Tanya Luhan setelah mendengar suara dentuman pintu tertutup, tetapi Sehun mematung didepan pintu ruangan kepala sekolah itu.

"kenapa aku harus memberitahumu Luhan? kembalilah ke kelas sekarang" pinta kepala sekolah.

"tapi, sajangnim. Saya dilibatkan, saya juga berhak tau" balas Luhan.

"beritahu tidak ya?" kata kepala sekolah bermain-main, jika saja Luhan tidak datang tadi, Sehun pasti akan mengira jika Luhan yang melaporkannya.

Dan Luhan membayangkan dirinya dicekik dan dimarahi Sehun.

"s-sajangnim" pinta Luhan.

"Jongdae, Kim Jongdae" ucap kepala sekolah.

"hah?" respon Luhan.

"yang lapor, bernama Jongdae, tolong jangan beritau Sehun. dulu mereka berdua memiliki masalah yang rumit, jangan diperparah" pinta kepala sekolah.

"Jongdae? Dia melibatkan aku agar Sehun dikeluarkan dari sekolah? Apa karena dia benci pada Sehun?"-tanya Luhan dalam hati.

.

BLAM

.

Luhan pun keluar dari ruangan kepala sekolah itu.

"hei kau!" sapa Sehun.

"dia masih disini?"-tanya Luhan dalam hatinya.

"Tadi kau bertanya siapa yang melaporkan ku? SIAPA?" bentak Sehun.

"aku tidak bisa memberitahumu" jawab Luhan dengan pikiran GILA TELINGANYA TAJAM SEKALI!

"aku sudah muak sekali denganmu!" geram Sehun mencengkram kerah seragam Luhan, "beritahu sebelum aku menyeretmu ke belakang sekolah dan menghajarmu!" ancam Sehun.

.

GRAB!

.

Chanyeol melepaskan cengkraman Sehun dan memeluk Luhan, Sehun menatap tidak suka kearahnya. "jangan lakukan itu pada Luhan!" bentak Chanyeol.

.

RIIINGGG—DING—DING DIIINGG

.

"kenapa kau selalu kasar pada Luhan" bentak Chanyeol yang memegangi lengan Sehun.

"apa-apaan kau pegang-pegang tanganku! Lepaskan!" bentak Sehun.

.

Sedangkan di dalam ruangan kepala sekolah, "anak-anak itu belum masuk kelas?!" geramnya, "OI KENAPA KALIAN BELUM MASUK KELAS!? KALIAN MAU SAYA HUKUM?!" bentak kepala sekolah membuka pintu ruangannya, "JANGAN LARI DI KORIDOR!" bentaknya melihat ketiga muridnya berlarian.

"mian, sajangnim! Kami akan segera kembali ke kelas!" itu Luhan.

.

"hm? Baekhyun! Kau juga sedang apa disini? Cepat kembali ke kelas!" pinta kepala sekolah pada Baekhyun, yeoja dengan rambut ombre berwarna pink dibagian bawahnya yang ternyata bernama Baekhyun itu.

"oh.. ini saya bau mau kembali, sajangnim" balas Baekhyun melirik kepala sekolahnya.

"Baekhyun sebentar, kau sekelas dengan Sehun kan?" Tanya kepala sekolah menghentikan langkah Bekhyun.

"iya, sajangnim.." jawabnya.

"tolong awasi Sehun dengan Jongdae, kalau sampai Sehun diam-diam memukul Jongdae lagi, bilang padaku. Kau bisa kan, Baekhyun?" pinta kepala sekolah.

"tentu saja, sajangnim" ucap Baekhyun.

"terimakasih, kau memang siswi yang paling bisa aku andalkan" puji kepala sekolah.

"aku paling bisa diandalkan katanya? Tentu saja! Tentu sajaaa!"-gumam Baekhyun.

Chapter 12 : Baekhyun.

"ah.. hah.. ha" itu lengguhan napas ketiganya, Luhan-Chanyeol-Sehun.

"t-tunggu sebentar! Kenapa kalian berdua mengikutiku?" Tanya Luhan.

"bicara apa kau?! Kelasku kearah sini" kata Sehun.

"oh iya, kelasku bersebelahan dengan Sehun"-pikir Luhan.

"kelasnya sebelahan dengan Luhan?!"-gumam Chanyeol.

"ingat ini ya, aku akan terus menerormu samapai kau beritahu siapa yang melaporkanku!" ancam Sehun memasuki kelasnya.

"jangan macam-macam dengan Luhan!" itu Chanyeol, "hah…" lirihnya yang hanya direspon dengan tertutupnya pintu Kelas Sehun.

"Chan, terimakasih sudah menolongku, aku berhutang budi lagi padamu" ucap Luhan.

"aku hanya kebetulan lewat saja" jawab Chanyeol, "sebentar, kita akan bertemu lagi saat jam makan siang kan?" Tanya Chanyeol menghentikan langkah Luhan.

"haha iya" balas Luhan.

.

RING—DIIIINGGG—DINGG

.

"bagus sekali Lu! Sekarang semua orang di sekolah membicarakanmu." Kata Kyungsoo sambil menumpuk buku-buku tebal itu, "gara-gara kau, Sehun tidak jadi dikeluarkan dari sekolah" sambungnya dengan tatapan geram mengisyaratkan TERIMAKASIH SAJA!

"nanti semua orang juga akan lupa. Kyung, kau mau makan siang?" Tanya Luhan mengalihkan pembicaraan.

"oh! Iya aku sudah lapar!" jawabnya.

"ayo!" ajak Luhan berjalan keluar kelasnya.

Tanpa disengaja Sehun berjalan dari arah samping, sehingga mereka berpapasan dan saling menatap. "aku tidak jadi makan, kau saja yang pergi, Kyung" ucap Luhan mendorong tubuh Kyungsoo untuk memasuki lagi kelas mereka.

"e-eh kenapa tiba-tiba.." kata Kyungsoo, "a-ada Sehun?"-tanya Kyungsoo dalam hati setelah melihat Sehun.

"kau sedang mencoba menghindariku?" Tanya Sehun yang memegangi bahu Luhan yang hendak mejauh darinya.

"a—ani!" jawab Luhan.

"bagus, jangan lari lagi jika melihatku" kata Sehun.

Kyungsoo berbalik dan mengisyaratkan jika dia tidak jadi makan siang.

"fotokopi catatan ini untukku!" ucap Sehun melempar buku catatan pada Luhan.

"Eh?" ucap Luhan terkaget dilempari buku.

"fotokopi? Kenapa bukan kau sendiri yang fotokopi. Lebih dari itu, kenapa harus aku?" Tanya Luhan.

"sudah jangan banyak Tanya, cepat fotokopi! Kau ingin ku giling dengan mobilku HAH?" bentak Sehun.

"iya iya!" jawab Luhan menyerah.

.

Tidak disangka, dibalik tembok lorong terlihat Baekhyun yang mengintip interaksi Sehun dan Luhan.

.

"jangan lama-lama, kau akan bertanggung jawab kalau aku tidak lulus ujian nanti?" Tanya Sehun yang berdiri menunggu didepan kelas Luhan.

"kenapa aku yang harus bertanggungjawab kalau dia tidak lulus ujian?"-gumam Luhan pelan, dengan menunjukan wajah I don't carenya.

.

Baekhyun yang mengintip dengan smirk diwajahnya berpikir, tadi semua orang membicarakan Luhan di kelasnya. Luhan baik sekali, dia tetap baik walaupun Sehun sudah jahat padanya, hanya Luhan yeoja paling baik hati di sekolah ini, kalau dia jadi Luhan pasti dia akan membiarkan Sehun dikeluarkan dari sekolah. Jika hanya baik, Baekhyun juga bisa sebaik Luhan.

.

"hai Sehun!" sapa Baekhyun ramah, "kau tidak perlu fotokopi catatan orang lain, padahal kau bisa ambil punyaku saja! Catatanku lengkap sekali lho" ucap Baekhyun yang hanya dibalas tatapan dingin dari Sehun. "Sehun?" panggilnya, karena Sehun benar-benar tidak merespon ucapannya, "Sehun?" panggilnya sekali lagi, "hei Sehun?" ucap Baekhyun kali ini dengan memegang lengan Sehun.

CK! Sehun geram!

PLETAK!

"APA-APAAN KAU SENTUH-SENTUH SEMBARANGAN!" Bentak Sehun menjitak kepala Baekhyun, "pergi! Aku tidak butuh catatanmu!" bentaknya sekali lagi membuat Baekhyun lari terbirit-birit.

.

"SIAL! MASIH ADA SAJA SISWA YANG KELAKUANNYA BAR-BAR DI SEKOLAH ELIT BEGINI!"-geram Baekhyun dalam hati dengan wajah mengerikan, "padahal sudah bagus ada yang lapor agar Sehun dikeluarkan.. tapi anak ini malah mempertahankannya?!"-lanjutnya dalam hati saat melihat Luhan yang sedang memfotokopi buku catatan yang diberikan Sehun tadi.

"maunya apa?! Sok baik? Cari perhatian? Atau.."-gumamnya pelan, "hai Luhan!" sapa Baekhyun.

"oh! Baekhyun! Kau mau fotokopi? Tunggu ya, sebentar lagi aku selesai" ucap Luhan.

"ah, tidak, aku ingin Tanya sesuatu." Balas Baekhyun.

"hm?" respon Luhan.

"apa kau menyukai Sehun?" Tanya Baekhyun to the point, karena tidak ada orang baik tanpa alasan, kan?

Chapter 13 : Sulit Untuk Dikatakan.

"apa kau menyukai Sehun?" Tanya Baekhyun to the point.

"hah? Darimana kau dengar hal itu, Baek?" Tanya Luhan dengan wajah bingungnya.

"dengar? Bukannya sudah jelas kan?" Balas Baekhyun berpikir bahwa Luhan saja tidak mau Sehun dikeluarkan.

"tidak bukan begitu, jangan salah paham Baek, aku menolong Sehun karena dia sudah baik padaku kemarin, aku rasa dia tidak sejahat yang kamu bayangkan." Jelas Luhan membuat Baekhyun bereaksi APAAAAA? Dengan wajah kesalnya.

"sudah ya, Baek. Aku sudah selesai fotokopi, bye" ucap Luhan.

"oh! Oke!" balas Baekhyun.

.

SEHUN… BAIK? HOOOOEEEKK! "BARU DENGAR SAJA AKU INGIN MUNTAH HOEEEKKK!" Teriak Baekhyun mendramatisir.

.

.

"Sehun, i-ini fotokopinya" Luhan memberikan fotokopi dan buku catatannya pada Sehun yang masih mematung di depan kelasnya, Sehun melihat kerahanya dan memegang tangan Luhan. Luhan yang kebingungan dengan apa yang akan Sehun lakukan, hanya bisa diam.

"ini untukmu" ucapnya memberikan 2 roti.

Dengan tidak sadar Luhan memutar kembali ingatannya saat kejadian Sehun yang menginjak rotinya dan membuatnya berurusan dengan Sehun sejauh ini. Dan roti itu sama percis seperti roti yang waktu itu.

"kenapa ini untukku?" Tanya Luhan shock.

"**jangan banyak Tanya! Pokoknya ambil saja roti itu!" bentak Sehun.

**translate : ini ganti rugi roti yang waktu itu kubuang.

Luhan hanya sedang bingung dengan situasi saat ini.

"…dan ini juga untukmu" kata Sehun memberikan lagi sesuatu, ternyata itu minuman kaleng yang sama seperti waktu itu Luhan lemparkan kearah Sehun setelah dia membuang roti Luhan.

"i-ini mau dilempar ke kepalaku?" Tanya Luhan dengan bodohnya.

"bukan bodoh! Pokoknya itu untukmu!" ucap Sehun final.

Luhan tersenyum dengan manis, sebenarnya Sehun ingin bilang apa? Kali ini Luhan tidak paham, tapi saat dia memberi roti yang tadi, Luhan mengerti dia ingin ganti rugi.

"apa lihat-lihat?! Kau tidak suka? Sini kembalikan!" bentak Sehun.

"lho! Kan kau sudah berikan!" ucap Luhan.

"**itu untukmu bukan karena kau sudah bicara pada kepsek tadi, oke?"

**translate : terimakasih sudah bicara pada kepsek tadi.

Dan Luhan akhirnya mengerti, Sehun ingin bilang terimakasih. Sehun hanya sedikit pemalu, kan?

"sama-sama" kata Luhan.

"A-AKU TIDAK BILANG TERIMAKASIH!" bentak Sehun mengelak, kenapa Luhan mengerti maksud ucapannya itu?

"m-maaf aku salah dengar" jawab Luhan.

"Sehun, apa aku boleh pergi sekarang?" Tanya Luhan seperti anak meminta izin pada ayahnya.

"boleh saja, tapi aku ikut denganmu" jawab Sehun.

"waaah kenapa? Memangnya apa lagi yang telah kuperbuat?" Tanya Luhan.

"kau belum memberitahu siapa yang melaporkanku! Aku juga sedang tidak mood untuk mengancammu!" jelasnya.

"coba kalau kau beritahu siapa, aku pasti sudah menghajar orang itu dan tidak perlu mengancammu! Ini mau kemana?" lanjut Sehun.

"cafeteria" jawab Luhan yang berpikir, bagaimana dia bertemu Chanyeol dengan Sehun disisinya?

.

"apa-apaan itu?" ucap Baekhyun di dinding lorong, "tadi mereka berpegangan tangan?"-tanyanya dalam hati.

.

.

Siang itu, cafeteria penuh-seperti biasa.

.

Terlihat Chanyeol dengan wajah ditekuknya seperti sedang mencari seseorang, dia mencari Luhan lagi? Ini pikiran Kris.

"jangan murung, Yeol. Jika Luhan tidak ada, kan masih ada aku" ucap Kris, kemudian dia melirik kearah belakang dan menemukan (melihat) Luhan yang sedang berjalan berdampingan dengan Sehun.

"ah lihat itu Luhan, akhirnya datang juga" ucap Kris, "tapi datangnya dengan.." lanjutnya tertahan, "hai Lu, ayo duduk disini" ajak Kris dengan tatapan MENGAPA SEHUN IKUT DENGAN LUHAN?

"thanks Kris" balas Luhan.

"sedang apa kau disini?" Tanya Sehun pada Chanyeol.

"seharusnya aku yang Tanya begitu" balas Chanyeol.

.

PEMANDANGAN DISANA KENAPA SILAU SEKALI?, GRUP BARU?, MEREKA TIBA-TIBA MUNCUL DI CAFETARIA?—begitu kira-kira respon para siswa siswi yang ada di cafeteria, melihat ke meja dimana Sehun, Luhan, dan Chanyeol berada.

.

"ternyata mereka hanya bisa jinak didepan Luhan" ucap seorang siswa, "tapi suasananya kenapa tegang begitu ya?" lanjutnya.

.

"Kris, mau kemana kau?" Tanya Chanyeol.

"toilet" balas Kris singkat, "ah, aku menganggu pemandangan"-gumamnya, apalah Kris yang hanya sebongkah upil diantara mereka.

.

"jangan-jangan yang melaporkanku, orang ini?" kata Sehun menunjuk Chanyeol.

"bukan! Bukan!" Jawab Luhan.

"apa tidak ada hal baik yang bisa kau lakukan selain memukul atau menuduh orang lain sembarangan?" Tanya Chanyeol dengan wajah serius.

"hal baik?" Sehun menggantung kalimatnya, "oh, aku orang yang cukup sabar menunggumu untuk minta maaf padaku." Lanjutnya.

Memang dasar Sehun orang yang menyebalkan, setidaknya itu menurut Chanyeol. "huh! Pantas saja kau dilaporkan, pasti orang yang lapor sangat peduli dengan Luhan!" balas Chanyeol kesal dengan sikap menyebalkan Sehun.

Sehun dan Chanyeol saling menatap dengan sengit, bahkan jika di komik-komik, terlihat kilatan petir imajiner sebagai latar dari tatapan sengit mereka.

"haha peduli denganku?" balas Luhan, "Jongdae tidak mungkin peduli denganku sampai segitunya" lanjut Luhan.

5 detik setelah dia mengatakannya, dia baru tersadar. AH DIA KECEPLOSAN!

"AH" responnya merutuki dirinya yang bodoh.

"SIAL! Sudah kuduga banci itu pelakunya!" Sehun melengos pergi dari Kantin.

"S-Sehun!" panggil Luhan, sia-sia. Sehun tetap melanjutkan langkahnya.

Luhan hendak beranjak dari kantin, "Lu! Jangan pergi lagi…" cegah Chanyeol, ini kali keduanya Luhan meninggalkan dirinya gara-gara Sehun.

"ah, aku ada sedikit urusan… akan kukabari jika sudah selesai, Chan" jawabnya tersenyum kearah Chanyeol.

Chanyeol hanya menatap kepergian Luhan dalam diam.

"tunggu, Sehun! biar kujelaskan dulu." Luhan menarik tangan Sehun.

"jangan menyentuhku! Dasar yeoja murahan!" bentaknya menyentakkan tangan Luhan.

.

Chanyeol berpikir, kenapa begini? Apa bagusnya Sehun?

Chanyeol tidak mengerti seperti apa Sehun dimata Luhan.

.

.

.

TBC.

.

.

.

sneak preview :

Chapter 14 : Tidak Sakit.

"a-aku tidak melakukan apa-apa…" balas Jongdae dengan wajah kaget, dia bahkan tidak menyentuh Sehun sama sekali. Tapi kenapa anak itu mengeluarkan darah dari hidungnya?

"jangan diam saja, kau medis kan? Cepat obati aku!" pinta Sehun melihat kearah Luhan.

"tapi aku bukan medis lagi. Kau bisa pergi ke klinik pasti ada suster atau pengurusnya." Tolak Luhan secara halus.

.

.

.

hi, sorry karena telat update (telat bgt-_-) 69 telat berapa minggu? 2 minggu ya? mianhae, jongmal mianhaeyo T_T

sebagai gantinya, 69 kasih beberapa chapter wkwk *membujuk okay, 69 gaakan banyak curcol, pokoknya minta maaf buat late updatenya :D

thnakyouu buat yang udah review+follow+fav.

69