-Two Ice, Too Much :

'ELEGI(T)'-

Disclaimer : Saint Seiya © Masami Kurumada

The OC belongs to me

...

...

...

...

...

Special Thanks : EXO-LOTTO © SM ENTERTAIMENT

Aquarius Gaiden SS TLC © Shiori Teshirogi

...

...

...

...


XXX


Bagian II : Kabel.

Milo berjalan cepat-cepat melewati lorong yang ada. Niatnya sih mau melihat dan memeriksa ruang demi ruang untuk menemukan jalan rahasia yang aneh.

Tapi sayangnya dia terlalu banyak minum alkohol dan limun.

Tidak. Milo tidak mabuk sedikit pun. Hanya saja dia jadi ingin buang air kecil. Pria itu mendecih. Dia melirik seorang pria yang juga berjas rapi. Tapi lebih sederhana. Kelihatannya orang itu pelayan.

"Maaf! Toilet dimana ya?" ucap Milo sekedarnya. Sambil cengar-cengir. Dia menatap ke segala arah kemudian. Sambil berpikir kenapa harus terjadi suasana seperti ini.

Pria jangkung di hadapannya terdiam kaku. Kemudian dia menunjuk akhir koridor yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Disana.."

Milo menoleh. Menaikkan alis, tanda dirinya sadar baru saja mendengar sesuatu. "Hm? Dimana?"

"Disana. Disana.." ucap pria jangkung itu lagi. Ekspresinya aneh. Lalu dia mengangguk-angguk. Bahasa tubuh yang kurang tepat untuk meyakinkan lawan bicaranya.

Milo menyipitkan matanya. Tapi masa bodoh. "Terimakasih!"

Setelah meneriakkan kalimat barusan sambil berjalan. Pria itu cepat-cepat masuk ke destinasinya. Dirinya tentu saja curiga dengan apa yang tejadi barusan. Tapi panggilan alam berkata lain. Milo tidak mau kena kasus 'mengompol di usia lanjut' /oke. Ini tidak lucu/

Di dalam toilet itu ternyata juga ada seorang lelaki lain yang berjas bagus. Hitam licin dengan turtleneck hitam berbahan bagus di dalamnya. Berambut coklat indah pendek dengan paras rupawan. Jelas sekali kalau dia salah seorang tamu disini. Kulitnya begitu bersih. Tapi sorot matanya menyiratkan kecerdasan. Milo terdiam.

"Hei," sapa pria itu saat tahu diperhatikan. Dia baru saja mengelap wajahnya dengan sapu tangan setelah mencuci muka. "Ada apa?"

"E-eh.. tidak.." kata Milo. Dia mengangguk lagi menjelaskan kalau semuanya baik-baik saja –bahasa tubuh yang kurang tepat untuk meyakinkan lawan bicaranya-. Kemudian cepat-cepat masuk ke kamar mandinya sendiri. Tidak mau menunda lagi.

Dan di dalam sana, Milo berpikir.

[Hari ini aku kenapa sih...?].

Aneh. Tidak biasanya dirinya linglung. Bisa-bisa orang lain tidak percaya kalau Milo adalah salah satu ksatria terkuat di muka bumi ini. Pria itu menghela napas. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedetik kemudian rasanya benar-benar melegakan. 'Tanggungan'nya sudah hilang.

Pria itu samar-samar mendengar suatu langkah seseorang lagi. Ah, pasti orang berambut coklat dengan kulit bersih waktu itu. Mungkin dia keluar dari toilet. Kembali lagi ke urusannya.

Jadi Milo memikirkannya sambil lalu. Ada hal lain yang masuk ke dalam otaknya. Rasanya mustahil..

Orang-orang tempat ini. Terlihat begitu tulus dan damai. Apalagi kebanyakan adalah seniman dan musisi. Mereka pasti berhati lembut. Tidak mungkin seorang pejudi dan mafia kelas berat. Tapi bisa saja, jika memang musuh mereka kali ini adalah orang-orang itu. Akan jadi lebih berbahaya.

Ah ya, apa yang dia ingat tadi soal ucapan Dohko? Kemampuan hipnotis dari nyanyian?

Benar juga. Bisa seperti itu.

Sejak awal tamu-tamu dan seluruh hadirin di pestanya adalah orang baik. Mereka hanya boneka saat mendengarkan nyanyian dari Lady Garnet. Milo mengangguk-angguk. Bisa jadi bisa jadi.

Oke. Sekarang waktunya menemui Camus lagi dan berbicara.

JDANG!

Kamar mandi mati lampu.

"APA-APAAN INI!" raung Milo tidak terima. Ini pesta Prancis. Makanannya berstandar internasional. Arsitekturnya diakui dunia. Musisi-musisi datang dari berbagai kalangan. Tamu-tamunya orang kehormatan. Sudah jelas segala hal dalam pestanya harus sempurna.

Bagaimana bisa kamar mandi mati lampu!

Milo memperbaiki celananya sambil menggerutu. Pria itu langsung membuka pintunya. Setengah ditendang. Dia mematri wajah kesal permanen. Jelas sekali kalau pita kesabarannya sudah hampir putus. Samar-samar terdengar suara satu orang lagi di kamar mandi itu. Sedang menggerutu juga. Oh, ternyata dirinya tidak sendirian ya?

"What kind of situation is this..."

Suara itu terdengar pelan. Dirinya kemudian mendengar beberapa desing alat yang digerak-gerakkan di satu titik. Milo langsung menoleh. Indranya bagus dalam menemukan mangsa dan sekarang pasti juga begitu. Kepala ombaknya berjalan pelan-pelan ke sudut kamar mandi. Melihat apa yang terjadi disana.

Pria berambut coklat itu. Mereka bertemu lagi. Sedang berjongkok mengamati sesuatu dengan perlengkapan bengkel seperti obeng dan mur.. dan baut.. dan.. sudahlah. Milo tidak paham.

Mata merahnya menyembul. Melirik Scorpio kita di tengah kegelapan. Raut wajahnya... manis.. polos dan tidak berdosa. Tangan kanannya melambai. "Halo.."

Milo balas melambai juga. "Halo juga... eh tidak! Maksudku apa yang kau lakukan disini!" tanya pria itu. Hampir lupa dengan tujuan awalnya. Dia menepis ingatannya tentang wajah polos orang baru yang sempat menyerangnya. Sungguh, sepertinya dirinya terlalu terbiasa dengan kulit coklat pekerja keras. Sampai pangling saat melihat seorang laki-laki berkulit bersih seperti saat ini.

Meski Aphrodite juga begitu.

Lelaki itu menggigit sebuah kartu. Dia menatap Milo. "Kau siapa? Ada urusan apa denganku?" tanyanya dengan nada tak berdosa /ah, satu serangan lagi/.

"Namaku Milo. Aku.. Cuma penasaran kenapa kau disini.." kata kepala ombak di hadapannya sambil menggaruk rambut belakang yang tidak gatal. Sepertinya Milo tidak menyimpan kecurigaan apapun pada pria ini. Karena menjawab pertanyaan dengan nada sama tak berdosanya.

"..." Lelaki berambut coklat itu terdiam. Dia mengangguk-angguk paham. Lalu kembali pada instalasi listrik kecil disana. "Aku baru saja keluar kamar mandi saat mati lampu. Aku penasaran. Jadi kuperiksa saja sumber kabelnya.." ucapnya. Lalu tampak mengotak-atik jalinan listrik yang terpasang di depan batang hidung.

"Memangnya ada apa?" Milo jadi ikutan penasaran. Dia berjongkok di belakang pria itu. Memerhatikan apa yang dia lakukan. Kalau dilihat, orang yang baru dikenalnya ini telaten dan ahli di bidang listrik.

"Aku menduga kalau listrik di gedung ini seluruhnya dimatikan. Dan saat aku memeriksa secara diam-diam, semua cahaya berganti menjadi lampu lilin.." jawab lelaki tak bernama dengan enteng.

DEG.

Milo tercekat. Dia menemukan sesuatu yang aneh. Tentu saja.

"Bukankah itu aneh...?" lanjut kepala coklat itu sambil melirik pria di belakangnya.

Scorpio kita menggeleng-gelengkan rambut ombaknya. Menepis kekalutan yang sempat menguasai. "Kenapa bisa begitu...?"

Pria berambut coklat itu terdiam saat mendengar reaksi Milo. Dia lalu menyingkir sedikit. Memperluas area pandangan si pecinta kalajengking akan alat yang diperiksanya. Lelaki itu menunjukkan sesuatu dengan tang. Sesuatu yang membuat Milo terdiam lebih dalam lagi.

"Ini masih baru, dan sepertinya baru saja dilakukan saat semua orang tidak menyadarinya."

Benar juga..

Kabel arus listriknya..

Dipotong..

-TBC-

Author Note :

LOHA LOHA /DILEMPAR LINGGIS/

SAKI KEMBALI DENGAN CERITA NGARET PADAHAL CETEKS DAN BIKIN LINGLUNG INI –CAPSLOCK MU WOI-

Jadi saya kembali dengan OC baru. Kali ini bukan Kanetsugu saudara-saudara. Melainkan Kisaragi Ken. Sekilas Kanetsugu dan Ken memiliki deskripsi fisik yang hampir sama. Tapi dua orang ini sangat berbeda.

Ken memiliki rambut coklat, wajah inosen, pendiam, polos, dan mata merah yang menyiratkan kejeniusannya. Zodiaknya adalah Sagittarius. Berbeda sekali bukan dengan Kanetsugu yang ceria?

Ken sendiri tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Fuyuki selain rekan kerja. Untuk deskripsi selanjutnya akan diteruskan di chapter mendatang.

Dan terimakasih sekali untuk Anda semua yang masih mau saja membaca fanfic gaje ini. Saya berterimakasih sekali /deepbow/

Salam kompor gas.

Shakazaki Rikou.

See you next chapter!