-Two Ice, Too Much :
'ELEGI(T)'-
Disclaimer : Saint Seiya © Masami Kurumada
The OC belongs to me
...
...
...
...
...
Special Thanks : EXO-LOTTO © SM ENTERTAIMENT
Aquarius Gaiden SS TLC © Shiori Teshirogi
...
...
...
...
XXX
Bagian III : I Come From Denmark.
Camus terdiam. Dirinya kesasar di tengah keadaan mati lampu yang datangnya tidak diduga-duga ini –oke, ini salahnya. Jangan tanya kenapa dan bagaimana bisa Gold Saint pun kesasar saat mati lampu-. Sejak awal pria itu pun merasa tidak beres.
Dirinya baru sadar.
Dan ini membuatnya benar-benar merasa bodoh.
Kalau Camus tidak bisa merasakan cosmo Milo, atau benda, atau bintang, atau siapapun di muka bumi ini begitu masuk ke dalam gedung Lady Patricia. Dirinya benar-benar tidak sadar. Sumpah.
Wine itu membuatnya linglung beberapa saat –dan Camus menyumpahi dirinya sendiri karena merasa lebih bodoh lagi dari keterangan di atas-, membuatnya harus berkeliaran seperti orang hilang diantara para wanita yang menjerit.
Tapi musik dari para seniman masih mengalun. Sepertinya mereka memang profesional. Entahlah. Patut diacungi jempol seperti band yang tetap bermain di tengah karamnya kapal Titanic –mengheningkan cipta untuk band yang kita maksud. Satu, dua, tiga. Mulai.-
"Jika ini lelucon, sumpah tidak lucu. Milo.." ucap Camus berlandaskan insting. Menerka kalau Scorpio itu memiliki hubungan dengan semua ini.
Pria itu berhasil berjalan dengan tenang sampai ujung balkon. Di luar sana pasti ada cahaya. Dan Camus menemukannya.
Mulutnya menghela napas lega.
"I come from Denmark.."
Pria itu terdiam. Mendengar suara berbisik di telinganya. Matanya diangkat lebih jauh. Menatap gadis bersurai pirang yang ditemuinya beberapa saat lalu. Mata biru esnya bersembunyi di balik topeng putih dengan ukiran berwarna senada. Seakan menerawang jauh.
Disana tidak ada siapa-siapa.
Tapi perempuan itu seakan berbicara pada seseorang.
Seseorang.
Atau mungkin sesuatu.
Camus terdiam. Dia menatap lekat-lekat gadis itu lagi –dan sialnya dirinya tidak bisa memakai cosmo-. Aquarius kita menutup mulutnya rapat-rapat kemudian, setelah si gadis menoleh karena menyadari ada orang yang datang.
"Oh.."
Dia tersenyum. Gadis itu jangkung, hampir seperti laki-laki. Tapi semampai, tingginya kira-kira 179 cm. Bibirnya merah darah. Diantara kulit yang sangat pucat itu. "Halo Tuan, Mencari sesuatu?"
Camus tertegun, "Tidak.." ucapnya kemudian. Dia menarik napas. "Di dalam mati lampu, jadi saya kesini."
"Oh.. memang."
Gadis itu menatap pemandangan di hadapannya. Menenangkan, kebun lily yang tertata apik dan berpadu dengan mawar. "Aneh ya? Padahal tidak mungkin staff Lady Patricia melakukan kesalahan seperti ini."
Kepala hijau kita mengikuti arah pandang gadis itu. Kemudian membersihkan tenggorokannya, entah kenapa dia tadi merasa sulit sekali berbicara sesuatu di samping perempuan ini. Kepalanya mendadak penat. Tanpa sebab yang jelas.
Dahi Camus mengernyit. Dia memfokuskan arah pandangannya. Netra biru dan bulu mata lentiknya mengerjap-ngerjap mencegah kehilangan fokus. Oh ya ampun, dirinya bahkan belum menyelidiki apapun.
Gadis itu berbalik. Berjalan ke arah pintu dimana Camus datang lagi. Si Aquarius tersentak. Dia baru menyadari, mungkin gadis ini memiliki petunjuk. Atau bisa memberi informasi berguna. Mulutnya terbuka.
"Tung-"
BLAM.
Pintu ditutup.
Gadis itu menutupnya.
Dan tenang saja, dia masih ada di teras yang sama dengan tempat Camus berdiri. –author dilempar ke Tartarus-.
"Merasa baikan?" tanyanya kemudian.
Camus terdiam. Dia lalu memeriksa fungsi syaraf otak di dalam kepalanya. Hei. Benar.
Dirinya merasa lebih baik. Matanya tak lagi berputar dan kepalanya sudah tidak penat.
Butuh beberapa menit untuk mengembalikan kesadarannya dari fase linglung –seperti author yang butuh beberapa saat untuk mengembalikan gaya menulis-. Sampai akhirnya Camus sadar total. Wajahnya kembali mendingin. Lalu mengangguk kecil.
"Musik disini bukan musik sembarangan.." ucap gadis itu. Seakan memberi petunjuk. Dia tersenyum tipis. Menyatukan tangan di depan gaun birunya.
"Dibuat untuk oleh seniman khusus.. di pesta yang khusus.. dan untuk tujuan khusus.."
DEG.
Camus terdiam. Dia merasa aneh. Entah kenapa otaknya seperti benar-benar terbangun setelah tidur begitu lama.
Dia tadi mendengarkan musik.
Dan musik itu terus mengalun meski lampu mati. Camus pikir itu hanyalah bagian dari profesionalitas dan kerja keras para seniman. Tapi..
"Lady Garnet menggunakan nyanyiannya untuk mengelabui semua orang. Setelah mendengar suaranya yang indah. Siapapun yang mendengar akan terlena dan patuh padanya seperti anjing. Tapi Degel bisa bertahan dari kondisi seperti itu."
-Quote oleh Dohko Libra, 19 jam yang lalu-
Oh.
Dirinya paham sekarang.
Aquarius itu mengangkat wajahnya. "Darimana kau tahu..?" tanya Camus.
Gadis itu menaikkan alis. "Eh?"
"Kalau musik itu mempengaruhi semua orang seperti itu?" tanya pria itu memperjelas. Wanita kita terdiam. Dia lalu mengelus dagunya. Wajahnya terlihat bingung.
"Entahlah.. tidak ada alasan khusus sih.. aku hanya merasa pusing saat mendengarnya jadi aku keluar saja. Teman-temanku pun terlihat terlalu 'kacau', mereka memang panik. Tapi.. kau tahu? berlebihan untuk sekedar panik karena mati lampu."
Camus menyimak dengan baik. Dia mengangguk pelan. "Dan oh ya, kau orang Denmark ya?"
"Eh?"
Gadis itu menggeleng. "Tidak, aku berasal dari Kanada. Aku memang blasteran. Tapi pasporku Kanada... dan.." Mata biru esnya berkedip.
"Nama Tuan siapa?"
Camus terdiam. Dirinya kaget karena gadis itu menyangkal. Mungkin saja dia berbohong. Mungkin saja. Toh segala hal bisa terjadi di dunia ini.
Tapi wajahnya benar-benar.. –uhuk-polos-uhuk-.
"Camus.. Albert Camus.." ucap Camus. Ha. Kebohongan dibalas kebohongan. Jika gadis itu memang benar-benar berasal dari Denmark. Setidaknya dia mendapat informasi yang salah.
Tapi Aquarius kita nggak dusta-dusta amat kok.
"Oh.. Maryeve Carlisle Frost," jawab gadis itu. Dia menunduk. "Senang bertemu dengan Anda."
Camus terdiam. Maryeve. Nama yang sangat 'Kanada' sekali. Tapi dia menepis pikiran itu. Jika gadis ini memang berbohong. Dia adalah pembohong yang ulung.
Atau mungkin seseorang yang memang polos..
-percayalah, kadang-kadang Camus tidak pandai berbohong-.
"Jadi.. Tuan Camus.. Kenapa Anda-"
"KYAAAAAAAAAAAAHHH!"
Camus tersentak. Maryeve juga menoleh. Mereka menatap tepat ke pintu masuk tadi. Ada jeritan yang asli.
Dan sangat dekat.
Ada di balik pintu itu.
"Sa-saya harus memeriksanya.. kau tunggu disini."
Camus berlari ke pintu masuk itu. Dia membuka ganggangnya. Matanya sejenak menoleh pada Maryeve yang tetap berdiri mematung, menurut pada perintahnya.
Dengan topeng yang bertengger di mata biru esnya. Gadis itu berkedip.
Tunggu.
Topeng itu membuat Camus merasa terfokus. Menatap matanya.
Sejenak dia terdiam. Mengamati gadis itu dalam kecepatan sedetik dan dia mendapat sebuah kesimpulan –terimakasih untuk cosmonya yang bisa kembali terbakar-.
Dirinya memang pernah bertemu gadis itu.
Disaat itu. Saat namanya masih Degel. Dan dia merupakan saint abad ke-18, mengabdi pada Athena Sasha. Mereka pernah bertemu.
Gadis itu bukanlah variabel terikat. Ataupun hipotesa nol. Dia adalah variabel bebas. Sesuatu yang dihasilkan dari percobaan variabel terikat. Seseorang yang sama, hanya saja dalam bentuk berbeda.
Camus melangkah ke dalam pintu masuk. Dia melihat seorang wanita sedang duduk menyudut di koridor. Meremas kepalanya dengan ekspresi ketakutan yang patut diacungi piala Oscar. Di depannya ada dua orang tinggi besar. Dua orang pria. Dirinya tidak tahu siapa mereka karena keadaan gelap.
Dia melihat semua itu. Tapi otaknya berfungsi lain.
Camus sedang melamun.
.
.
.
"Aku berasal dari Denmark.."
Pria itu menjulurkan tangannya pada Degel. Lalu tersenyum. Aquarius senior kita tertegun. Dia seorang laki-laki. Tapi wajahnya cantik, apalagi pria itu mengenakan topeng putih yang berukir merah, sangat cantik. Dengan rambut oranye terikat dan tinggi yang tergolong mungil. Hanya 179 cm.
"Siapa namamu?" lanjutnya.
Degel tersenyum. Dia menjabat tangan pria itu. "Degel.."
Pria itu tersenyum. Mata biru esnya cantik saat berkedip. Dia menatap Degel dengan tatapan ramah. "Namaku F-"
"CAMUS!"
Tubuhnya dipeluk tiba-tiba. Oleh seorang pria berambut fluffy ungu dan berwajah jahil. Milo. "Aku menemukan banyak hal loh!"
Dan lamunan Camus buyar.
-TBC-
Author Note :
HOLA.
/DILEMPAR LINGGIS/
/DITENDANG KE TARTARUS/
Maafkan diriku yang masih berlindung pada tembok flashfic sampai chapter ini. Tolong ampuni hamba –sungkeman-.
Btw, chapter depan bakalan agak panjang loh. Karena konflik yang asli akan segera dimulai.
/PROMOSI/
/PROMOSI/
Dipersembahkan untuk segala pembaca sekalian. Maaf jika kurang memuaskan. Mungkin sebagai dari pembaca sudah lupa karena setiap chapter yang sedikit dan waktu apdet yang lama.
/GELINDINGAN/
Oh ya, Maryeve dan Fuyuki adalah orang yang sama.
Coba perhatikan kasus berikut :
1. Maryeve Frost. –Kanada-
2. Fuyuki Mitsukaze. –Jepang-
Inisial 1 : MF.
Inisial 2 : FM.
Cukup mudah dikenali kan?
Dia hanya memiliki dua nama. Untuk dua KTP. Yah, kau tahu? memiliki dua kewarganegaraan tidak mustahil. Bagaimana untuk paspor? Entahlah. Aku tidak tahu jika itu punya solusi yang sama.
/DITENDANG LAGI/
Silahkan dinikmati seraya membaca chapter lalu. Salam hangat semua~~~
Salam kompor gas.
Shakazaki Rikou.
See you next chapter!
