-Two Ice, Too Much :

'ELEGI(T)'-

Disclaimer : Saint Seiya © Masami Kurumada

The OC belongs to me

...

...

...

...

...

Special Thanks : EXO-LOTTO © SM ENTERTAIMENT

Aquarius Gaiden SS TLC © Shiori Teshirogi

...

...

...

...


XXX


Bagian IV : Kenalan.

"Jadi.."

Camus melirik mereka dengan wajah lempeng. "Kau apakan gadis ini?" tanyanya dengan alis terangkat.

Milo gelagapan. "A-aku tidak menakutinya! Sungguh! Aku hanya menyapanya dan bertanya apa yang terjadi, dan dia malah menjerit seperti melihat dua hantu.." jawabnya dengan nada meyakinkan.

"Dua hantu?"

"Er.. aku membawa kenalan baru.." Milo melirik Ken. Dan pria itu masih menatap datar saja mereka berdua. Wajahnya selempeng Camus, tapi berbeda. Jika sorot mata Aquarius kita sangat dingin dan cerdas, Ken juga memiliki sorot mata yang cerdas. Hanya saja begitu.. murni dan polos. Seakan anak kecil pintar yang baru lahir.

Camus menaikkan alis. "Kau mempercayai seseorang yang baru kau kenal?"

"Ya-! Hei.. apa salahnya? Toh dia orang baik," bibir Milo merengut, ditekuk ke bawah. Ken menghela napas, dia melirik gadis di hadapan mereka yang masih belum berdiri dan duduk dengan kacau.

"Siapa kalian!? Pergi!"

"Tenanglah Nona.. kami orang baik.. kami akan melindungimu.." kata Milo dengan yakin. Dia menepuk dadanya, seakan bangga. "Kami akan menolongmu, kenapa kau takut sekali?"

"Tidak!" gadis itu menepis. Dia berdiri, menatap nyalang semua pria yang ada di hadapannya. Kalau dilihat, perempuan itu masih remaja. Usianya belum 20 tahun, matanya hijau dan rambut pirangnya disanggul dengan cantik. Tapi wajahnya kusut, untung make-upnya waterproof.

"Aku takkan percaya pada siapapun lagi! Semua yang ada di pesta ini bohong! Omong kosong!" lanjutnya dengan mata menyala-nyala.

Milo hanya menatapnya tidak mengerti. "Kau ini siapa sih?"

"Salah satu model yang diundang Lady Patricia dari majalah Vogue Prancis..." ucap Ken pelan. "Benarkan?"

Gadis itu terkejut. Dia merapatkan dirinya lagi ke dinding. Semakin memojok, seakan hal itu melindunginya. "Ba-bagaimana kau tahu?"

"Bisa ditebak kok. Kau cantik, dan dandananmu bagus. Kau bicara dengan lidah Prancis. Usiamu masih muda.. siapa lagi kalau bukan model?" ucap pria berambut coklat itu seraya memutar mata. Dia menyakukan tangannya ke saku celana. Milo menatap kenalan barunya takjub.

Gadis itu nampaknya merona karena dipuji. Tapi sejenak kemudian ekspresi itu dia tepis.

Camus melirik Ken. Dirinya masih curiga. Tapi, hei. Orang ini tidak buruk. "Kau juga model?"

Pria yang ditanyai hanya menoleh. Dia menggeleng. "Kadang-kadang saja jika aku diminta dalam pemotretan. Selebihnya aku seorang DJ dan ahli IT."

Pantas.

"Kau seorang DJ?" tanya Milo. Dia terkekeh. "Hebat! Aku minta satu kasetmu kalau begitu!"

"Nanti saja," ucap Ken. Dia menatap gadis di hadapan mereka. "Setelah yang satu ini selesai."

Perempuan itu berjengit. Dia menggeleng. "Apa? Apa yang akan kau lakukan padaku?"

"Tidak ada.. kau hanya perlu mempercayai kami. Dan membantu kami tahu apa yang terjadi.." kata Milo. Nada bicaranya terdengar meyakinkan. "Kau bilang ada yang salah dengan pesta ini kan? Apa maksudmu? Bisa kau jelaskan pada kami?"

"Aku takkan percaya pada kalian!"

"Bagaimana caranya agar kau percaya pada kami..?" tanya Milo polos. Dia menggaruk belakang kepalanya.

Camus menghela napas. Dia angkat bicara. "Begini saja. Maaf karena dua temanku ini mengagetkanmu. Kami akan beritahu siapa kami, kami akan jujur. Dan kau akan beritahu siapa kau. Tidak ada rahasia. Kita impas."

Sepertinya Camus agak sensitif dengan rahasia.

Gadis itu menggeleng. "Salah satu dari kalian pasti akan berbohong.." ucapnya.

Lalu tiba-tiba dia menunjuk Ken. Membuat pria itu menatapnya keheranan. "Terutama kau. Kau takkan jujur pada siapapun. Mungkin saja, tapi tidak semuanya akan kau ceritakan!"

Milo terdiam, dia menatap orang yang baru dikenalnya. Begitu juga Camus. Mereka hanya berpikir.

Kenapa bukan mereka semua yang dicurigai gadis ini? Kenapa hanya Ken?

Pria yang ditunjuk hanya menaikkan alis. Lalu dia mengedikkan bahu. "Aku tidak akan berbohong,"

"Sudahlah.. kadang-kadang ketakutanmu itu akan membuatmu merasa buruk. Apa salahnya mencoba?" tanya Milo. Dia menepuk pundak gadis itu. "Toh barangkali akan lebih baik. Kau tampak lelah.. kan...?"

Gadis itu menggeleng. Dia menunduk. Lalu menutupi wajahnya dengan tangan. Menangis. Air matanya menetesi gaun hitam dan choker dengan bunga mawarnya.

Camus masih menatapnya dingin. Lalu kemudian dia tersentak.

Ekspresi menangis itu. Pakaian itu.. dia ingat..


"Nyonya Flaille..."

Wanita itu masih menangis di dalam kereta. Dengan topi dan gaun hitam panjangnya. Juga choker berhiaskan mawar berwarna senada. Dia sesegukan. "Memalukan.. aku bahkan tidak bisa melakukan apapun padanya.."

Degel terdiam, begitu juga Seraphina.

"Aku sudah mengorbankan apapun untuk sergapan ini... Dan dia mempemalukanku begitu mudah.. dia hanya menyingkirkanku seperti sampah."

Lalu matanya menyala lagi. Dia mengangkat wajahnya. "Tolong! Aku ingin kau membuka topengnya dan menunjukkan siapa sebenarnya dia pada semua orang! Aku memohon padamu untuk mempertontonkannya pada mereka semua!? Monster seperti apa dia!?"

Degel terdiam. Dia menunduk. Berpikir tentang si 'Lady Garnet' yang sedang dia lawan itu. "Nyonya-"


"Nona Flaille...?"

Camus terdiam. Hei, apa yang salah? Gadis ini masih remaja. Dia tidak mungkin menikah dan dipanggil 'nyonya' kan di jaman sekarang?

Gadis itu berjengit lagi. Ekspresinya makin takut. "Ka-kau.. bagaimana kau tahu namaku-"

"Kami ini Gold Saint! Kami prajurit Athena, pelindung kedamaian dan cinta. Tentu saja kami punya kemampuan khusus.." kata Milo. Nadanya lebih meyakinkan lagi –berhubung dia sekarang sedang separuh mengada-ngada separuh tidak-.

"Kami mengetahui nama orang tanpa menanyai itu sesuatu yang wajar. Bukan begitu Camus?" tanyanya sambil menyikut pria itu. Dan Camus pun menanggapi 'improvisasi' Milo dengan sangat baik. "Ya, memang."

"Seperti melihat nama di KTP seseorang yang masih ada di dalam dompet?"

"Yah.. Ya.. anggap saja begitu.." kata Milo. Ken hanya mengedikkan bahu. Apa dia menanyakan hal yang salah?

"... Saint Athena..? Athena Dewi Keadilan?"

"Tepat sekali Nona! Dan aku Scorpio Milo. Ini sahabatku, Aquarius Camus.. dan-"

"Ken Kisaragi..." ucap Ken. "Aku bukan Gold Saint.. hanya seorang ahli beladiri yang cukup pintar.. Aku kenalan Milo," lanjutnya dengan akting yang hebat.

Flaille menatap mereka satu persatu. Menilai mereka dalam diam. Dirinya ingin sekali jadi lebih paranoid dan berteriak-teriak mengusir mereka seperti ibu-ibu kena razia motor. Tapi.. gadis itu lelah.

Dia ingin percaya sedikit pada orang lain. Stress ini membuatnya butuh pegangan.

Dan Flaille menatap Camus. Menatapnya seakan dia sudah kenal lama, kemudian baru bertemu hari ini pada reuni SMA. "Kau.. Camus.." katanya pelan.

"Kita memang pernah bertemu, Nona Flaille.."

Dan entah kenapa, nadanya menghangat. Dia tersenyum tipis. Milo bahkan cengo. Menatap pemandangan langka itu. "Saya datang kesini untuk menolong Anda.."

Flaille terdiam. Dia lalu mengangguk. Menghela napas lega. Gadis itu menyamankan posisinya, lalu menata ketiga pria di hadapannya. "Aku akan bicara soal banyak rahasia. Jadi pastikan kalau tidak ada orang lain selain kita? Oke?" tanyanya.

Milo mengangguk saja, itu hal gampang.

Flaille menoleh ke kanan-kiri. Masih cemas. Lalu menarik napas. "Lady Patricia akan mengadakan praktek perjudian besar-besaran malam ini.."

Camus mengernyitkan dahinya. Milo melirik pada pria itu. "Dugaan kita benar.."

"Dia juga akan menyabung ayam. Seluruh model, seniman, dan tamu pestanya adalah anggota yang mendaftarkan diri ke acara itu. Tapi ada juga yang tidak, aku berusaha memanggil polisi.. sampai.. sampai.."

Flaille menggigit bibir bawahnya. "Salah satu suruhannya mencegahku.. dia membekapku, memukulku sampai pingsan dan menghancurkan ponselku.. "

"Dan kami menemukanmu di lorong ini," ujar Milo melengkapi.

"Itu sebabnya juga kau curiga pada Kisaragi? Benar?" tanya Camus. "Dia bisa saja salah satu dari mereka."

Kepala fluffy Milo bergerak untuk menatap Ken. Tapi pria itu hanya menggeleng. "Aku tidak tahu apapun soal perjudian itu. Aku hanya paham ada sesuatu yang tidak beres setelah instalasi kamar mandi diputus, kabel dengan dua untaian itu menghubungkan hampir seluruh listrik di gedung ini. Mereka tidak mungkin memutus satu kabel saja. Ada banyak, dan dilakukan secara bersamaan."

"Sepertinya mereka takkan bisa menonton televisi."

"Tidak lucu. Milo," Ken menghela napas. "Ada generator.." lanjutnya. "Aku menemukan sambungannya di bawah meja kue."

"Kenapa kau bisa tahu sejauh itu?" tanya Scorpio kita. Dia mulai curiga. Ken mengatakan.. terlalu banyak..

"Aku ahli IT. Akan memalukan jika tidak tahu sampai sejauh itu.." jawab pria itu enteng. Dia mengedikkan bahu.

Camus menyadari sesuatu. Orang ini... seorang DJ dan ahli teknologi.. juga seorang model. Dia mentelepati sesuatu pada Milo.

[IQ orang ini 140 ke atas.. golongan terberkahi..]

Milo menaikkan alis. [Kenapa? Kau iri karena tidak sepintar dia?]

[Bukan..] Camus menghela napas. [Golongan seperti itu.. sangat pintar berbohong..]

Apalagi Ken adalah model.

Camus baru menyadarinya. Model itu misterius jika mereka mau.

Jika saja mereka tidak menarik perhatian dan mengacuhkan setiap wawancara. Mereka hanya barbie pajangan yang manis. Sudah terbiasa dengan satu ekspresi. Membaur dengan keadaan sekitar dan menguarkan kekuatannya yang sangat disenangi banyak orang, keindahan juga kecantikan.

Sudah terbiasa dengan satu ekspresi, topeng hanya punya satu ekspresi.

Disitu kita menemukan logika kalau model, orang pintar dan berbohong adalah hal yang dekat. Selamat Camus. Kau menjuarai lomba filsafat untuk teori ini.

Milo mengerutkan alis. Dia menatap sahabatnya. Lalu menggeleng-geleng, tanda paham. [Ya.. ya.. jadi apa yang harus kita lakukan?]

[Waspadalah sedikit. Itu sudah cukup.]


XXX


Jadi kita percepat saja ya? –pengarang dilempar batu-

Camus, Ken, Milo, dan Flaille menjadi rekan seperjuangan dadakan untuk menangani kasus ini. Setelah berdebat begitu lama –lama sekali sampai aku tak ingin memikirkan apa yang mereka bicarakan-. Camus memenangkan debat dengan strateginya. Mengingat waktu yang terkuras habis akibat selisih paham. Mereka memutuskan memakai strategi 'penyelidikan-paralel'. Yang mengharuskan keempat orang itu berpencar menjadi dua bagian.

'Penyelidikan-paralel' adalah strategi yang dijalankan sebuah kelompok untuk memecahkan kasus besar secara cepat dan efektif. Tapi cukup berbahaya. Kelompok itu akan terbagi menjadi beberapa bagian dan menyelidiki hal sama di tempat yang berbeda. Hasil penyelidikan akan disimpulkan karena sudah pasti temuan kedua pihak berbeda. Cara ini mempersingkat waktu dan digunakan oleh Sherlock Holmes pada kasus 'Anjing Iblis' di keluarga Baskerville.

"Perjudian ini takkan berjalan selamanya.." kata Camus saat Milo protes. Bisa saja mereka diserang, dan kalah atau memperlemah pertahanan. Yang dipikiran Scorpio itu kan 'gebrak-serang-tamat'. Dirinya tidak mau jadi ninja.

"Karena aku dan Milo memiliki sambungan telepati. Kami yang akan berpisah dan saling memberi informasi."

"Tidak bisakah kita memakai WhatsApp?" tanya Flaille sambil mengangkat tangan.

"Alat komunikasi bisa disadap. Lagipula mereka menghancurkan ponselmu kan? Aku juga takkan mau memberikan ponselku. Ini cara yang hemat biaya.." kata Ken sambil memutar mata.

Flaille tidak bicara lagi.

"Kisaragi, kau pergi bersama Milo. Saya akan menemani Nona Flaille," ucap Camus. Dia menatap ke depan. Memikirkan apa yang akan terjadi nanti.

Dan keempat orang itu berpisah. Meski Milo masih menggerutu. Tapi Camus mengacuhkannya. Pria itu hanya berjalan dengan tenang, tanpa suara sambil memastikan kalau Flaille aman.

Setelah figur dua orang itu lenyap di balik tembok. Camus menatap lagi Flaille yang benar-benar takut di dekatnya. Pria itu ingin menenangkan, tapi tidak bisa.

"Anda tahu siapa yang menyekap dan menghancurkan ponsel Anda?" tanya Camus sambil mengawasi sisi jendela. Dan mengisyaratkan agar mereka menunduk di sisi gelap. Ada sekelompok orang lewat.

Flaille terdiam. Dia menggeleng.

"Kira-kira tangannya milik pria atau wanita?" tanya Aquarius itu lagi. Meski dia juga berpikir bukan keputusan bijak mengintrogasi Flaille saat dia sedang linglung. Tapi wanita itu juga mencoba berpikir, berusaha menjawab.

"Entahlah.. kurasa.. wanita.."

DEG.

Pria berambut hijau itu tersentak. Dia menyadari sesuatu.

Gadis itu, gadis berambut pirang bergaun biru yang ditemuinya. Dia wanita dan ada di dekat Flaille saat mereka menemukannya.

Mungkin saja..

Flaille amat mencurigai model dan rekan-rekan sejawatnya sekarang. Dia juga tidak mempercayai Ken. Gadis itu mungkin saja bawahan Lady Garnet.

Tidak.

Camus menggeleng. Dan entah kenapa dia benar-benar ingin melamun lagi sekarang. Mungkin otaknya sedang baik hati dan menyinkron data hari ini dengan peristiwa masa lalu. Aquarius kita sedang dalam keadaan amat terjaga.

Degel pernah bertemu dengan gadis itu. Mereka pernah bertemu.

Tapi sebagai apa? Teman? Musuh?

Akhirnya Camus mencoba jalan yang agak beresiko. Menanyakannya langsung pada Flaille.

"Nona.." pria itu terdiam sejenak. "Apa Anda mengenal Maryeve Frost?"

Flaille menatapnya. Sesaat dia waspada. Tapi raut itu luntur. Kemudian menghela napas. "Ah, ya. Gadis itu, kenapa?"

"Dia itu seperti apa?"

Tenggorokan Camus benar-benar seperti macet saat mengucapkannya. Flaille hanya menatap pria itu. Menaikkan alis. "Memangnya kenapa?"

"Saya hanya ingin tahu. Ceritakan saja informasi yang perlu."

Flaille mengerutkan dahi. Lalu menganguk paham. Meski sedikit curiga.

"Dia itu.. model blasteran yang seumuran denganku. Dia pendiam. Tidak banyak yang tahu soal gadis itu, kecuali Frost* yatim piatu dan lulusan sekolah ternama atas dasar beasiswa. Tapi.."

Flaille menatap Camus. Lalu melirik kanan-kiri. "Ini rahasia perusahaan. Jangan katakan pada siapapun."

Aquarius itu hanya mengangguk. Dia memasang telinganya.

"Frost* pernah dituduh mengelabui direktur perusahaan kami. Dia memalsukan beberapa dokumen, dan buktinya ada. Itu pun katanya ada hubungan dengan Lady Patricia. Tapi entah kenapa kasusnya seperti dihapus dan jadi angin lalu. Dan meski agak aneh, tapi kami terpaksa percaya."

Flaille menghela napas. "Dia memang dipercaya sebagai orang jujur sih, tapi-"

"Tetap saja itu kebohongan besarnya kan?"

Gadis itu mengangguk.

Note : *Flaille memanggil Maryeve dengan nama belakangnya karena itu hal yang wajar dilakukan untuk rekan kerja yang tidak begitu dekat.

Camus terdiam saat memikirkan bagian buruknya.

Gadis itu? Memalsukan dokumen yang bersangkut paut dengan Lady Patricia? Apalagi fakta kalau kasusnya tidak dituntut. Ini seperti kasus kriminal modern, yang dilakukan oleh orang berkuasa nan berduit.

"Dokumen apa yang dia palsukan?"

"Ini hanya desas-desus. Kuharap yang kukatakan juga benar. Kalau tidak salah tentang penyelundupan barang dan produk yang ada di bawah naungan Lady Patricia. Datanya diubah. Yah.. itu saja yang kutahu."

"Apa dia kaya?"

"Tidak ada yang tahu. Dia tidak punya rekening gendut. Tapi pekerjaan Frost tidak cuma model. Dia satu dari sedikit orang yang pemasukannya tidak hanya dari gaji majalah. Tapi katanya, Frost bekerja pada perusahaan.. pembuat senjata.."

Perusahaan pembuat senjata? Camus mengerutkan alis. Ini gawat. Jangan-jangan, tidak. Jika memang gadis itu komplotan Lady Patricia. Mereka bisa saja mendapat tambahan senjata untuk menyerang warga sipil. Jangan pusingkan Gold Saint. Mereka bisa mengatasinya.

"Itu semua.. benar?" tanya Camus. Berusaha tidak berpikiran buruk. Tapi tetap waspada.

Flaille diam. Tidak menggeleng. Tidak juga mengangguk. "Aku sudah bilang padamu, itu semua Cuma omongan antar mulut. Tapi aku mengatakan semuanya."

Dan Camus berharap itu salah.

.

.

.

Tunggu. Apa?

.

.

.

Ini sudah 20 menit kemudian dan tidak terjadi apa-apa.

Kemampuan Camus dalam menghindar terlalu mulus. Setiap kali ada orang lewat, dirinya selalu bisa menepi ke sudut buta. Dengan menyeret Flaille tentunya. Yang jadi masalah adalah gedung ini begitu luas. Dan banyak ruangan.

Mereka takut hanya membuang-buang waktu dalam satu lantai saja dan tidak menemukan apa-apa.

"Kita butuh jalur cepat," kata Flaille. Dia menatap Camus. "Yang tidak terlihat oleh orang lain, dan bisa menganalisa lantai demi lantai. Apa kau tahu caranya?" lanjutnya kemudian.

Aquarius kita terdiam. Wanita ini benar. Dia ingin sekali melakukan teleportasi. Tapi cosmo-nya tersendat saat dibakar lagi. Takutnya memancing Patricia untuk mengetahui keberadaan mereka. Apa boleh buat? Harus main fisik sekarang.

Camus langsung menunduk lagi saat kerumunan orang lewat dari samping dan menggeret Flaille ke pojok lemari. Masing-masing mereka menahan napas. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak disadari keberadaannya.

Setelah memastikan komplotan itu hilang ditelan tikungan. Camus menghela napas lega. Cahaya lilin berpendar.

"Seperti ritual pemujaan setan saja," ucapnya lirih. Flaille mengangguk setuju.

"Ngomong-ngomong soal jalur cepat.."

Camus berdiri. Dia menegakkan punggungnya yang kaku akibat terlalu lama mengendap-endap. Lalu menatap wanita bergaun hitam yang jadi tanggungannya. "Saya sudah memikirkan ini sejak awal. Tapi takutnya Anda tidak bisa akibat jalur ini.. terlalu gelap."

Flaille menaikkan alis. Tidak mengerti. "Memangnya seperti apa?"

Kepala hijau itu menurunkan kelopak matanya. Lalu menaikkan pandangan tepat ke atas lawan bicaranya. Sebuah 'pintu masuk' yang sangat kecil dan tinggi ada disana.

Tanpa penerangan sedikit pun.

"Saluran udara. Saya yakin disana panas dan gelap sekali."


XXX


Bukan Flaille namanya kalau tidak pemberani.

Buktinya dia tidak tanggung-tanggung mengotori gaunnya untuk menyusuri 'jalanan' tua penuh debu itu. Dengan MERANGKAK. Kuulangi jika perlu.

Camus salut. Tapi juga merasa tidak enak. Seandainya saja mereka bisa mendapat masker. Mungkin Flaille takkan bersin-bersin sambil menutup mulutnya karena takut suara disana menggema ke lantai di bawahnya. Soal panas bisa diatasi. Helo, kita bersama Aquarius Camus. Memalukan kalau tidak bisa mengatasi udara panas di loteng.

Tapi disana benar-benar gelap. Tidak ada cahaya sedikit pun.

Heran saja, padahal lantainya banyak. Kenapa salurannya sedikit sekali?

"Kita sampai lantai mana?" tanya Flaille sambil terus terbatuk. Camus terdiam. Kemudian duduk sejenak dan bersandar di dinding agar mereka bisa istirahat. Dirinya gentleman.

"Saya rasa lantai 5."

"Masih jauh?" tanya wanita itu tidak sabaran.

Oh ya, Flaille punya sumbu kesabaran yang pendek.

Harusnya Camus tidak berharap dapat perjalanan yang tenang terlalu jauh.

"Saya memperkirakan perjudiannya memang di lantai ini. Ayo, Nona Flaille. Tahan sedikit lagi. Kita hampir sampai."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Flaille bergerak agak cepat karena sudah tidak tahan. 'Jalanan' yang mereka lalui begitu sempit dan pengap, juga penuh debu. Dia ingin ini berakhir.

Sebuah cahaya menunjukkan intensitasnya di ujung sana. Membuat wanita itu nyaris memekik kegirangan. Tapi wajah Camus tetap datar. Dia tidak pernah terlalu berharap. Namun melihat wajah Flaille yang sudah merah akibat terlalu banyak menghirup debu –jangan tanya kenapa dia bisa melihat, aku juga tidak tahu-. Pria itu langsung mengintip lewat jendela yang ada.

Benar saja, dugaannya tidak meleset. Banyak orang disana dan cahaya lilin berpendaran. Senda gurau berpadu. Bau alkohol. Pakaian mewah. Uang.

Semuanya ada disini. Camus mengangguk pada Flaille dengan senyuman tipis. Membuat wanita itu bersorak tanpa suara. Mereka berhasil. Akhirnya perjalanan menyakitkan ini berakhir.

Mata Aquarius itu kemudian berjalan lagi, mengecek keadaan Lady Patricia. Dia berusaha memperluas area pandangan tanpa diketahui. Ke kanan. Ke kiri. Ke pojok ruangan. Sampai akhirnya berhenti di meja besar di tengah ruangan itu.

DEG.

Camus tercekat. Dia bungkam. Benar-benar tidak percaya.

Dari loteng, di saluran jendela. Aquarius itu melihat seorang gadis, dengan gaun yang telah berganti dari biru sopan menjadi gaun merah pekat untuk menari tango. Di wajahnya masih ada topeng. Kedua kakinya diangkat ke atas meja seperti berkuasa dengan minuman yang membakar tenggorokan di tangan lain. Itu Maryeve.

Sedang berjudi bersama seluruh teman-temannya di atas meja penuh uang haram.


-TBC-


Author Note :

Lagi, terimakasih karena sudah membaca dan terus menjadi reader saya.

Salam kompor gas,

Shakazaki Rikou

See you next chapter!