Hai semua, tidak menyangka bahwa author mempunyai Ilham buat chapter 2.
Terima kasih buat yang devisa and kagehoshi dan yang sudah memberikan masukan. Author khilaf😖 yah pokoknya silahkan menikmati chapter 2
Dan untuk semua review ers terima kasih ya atas review kalian.😊😊
Dan kalau ada dari kalian yang ingin menjadi beta bisa PM ke saya thanks
Chapter 2
Soma point of view
Ini adalah perjalanan di mobil paling akward melebihi perjalanaku dengan Nakiri Erina beberapa bulan lalu. Aku bisa merasakan hawa berat dan tidak enak yang keluar dari Shinomiya senpai. Awan hitam kelam seakan akan berputar putar di atas kepalanya. Aku yang duduk di samping Shinomiya senpai bisa merasakan tebalnya atmosphere di dalam mobil. Aku berusaha mengalihkan perhatian ku pada pemandangan di luar mobil
Sudah dilihat beberapa kali pun ini tetap mengejutkan, hutan yang rendah serta bukit dan gunung yang menjulang tinggi. Hotel hotel mewah dengan fasilitas hotel bintang 5 bertebaran dimana mana. Belum lagi restoran restoran berkelas tinggi yang bertebaran di gunung ini bagaikan jamur. Semuanya memiliki rasa dan khas yang berbeda beda. Segala sesuatu yang berada di gunung ini adalah milik keluarga Nakiri.
'CK ck ck, orang kaya memang beda' pikirku sambil mengagumi alam sekitar. 'Kira kira berapa biaya yang dikeluarkan untuk membayar pajak untuk lahan sebesar ini ya' aku menggeleng geleng kan kepalaku. Pada dasarnya aku dibesarkan di keluarga sangat sederhana di restoran keluarga kecil milik ayahku. 'Hmmm pemikiran orang kaya dengan orang sederhana memang beda' aku berserat drop ria
'Aaahhh coba aku bisa mencicipi semua restoran disini'. Semua chef di sini adalah alumni Toshiki gakuen jadi sudah dapat dipastikan 100% pasti enak. Membayangkan semua masakan yang bisa aku coba disini membuat perutku menjadi lapar. 'Aaahhh kenapa aku menolak nasi kepal Megumi tadi' aku mengingat kembali wajah Megumi tadi pagi yang panik membuat bekal untuk ku. 'Sekarang aku lapar dan tidak bisa makan apa apa sebelum sampai hotel' aku menghela napas panjang, suara gemuruh perutku yang minta diisi makanan berkumandang di mobil Shinomiya senpai.
"Kau lapar" suara Shinomiya senpai mengagetkan ku dari lamunan ku sedari tadi. "Eh, Iya aku lapar, aku belum makan sedari pagi" aku mengelus elus perutku yang malang karena belum diisi sejak tadi. Shinomiya senpai mengangkat satu alisnya." Hahhh" senpai menghela napas panjang " Baiklah kita akan berhenti. didepan ada restoran perancis. Kita akan melanjutkan perjalanan setelah mengisi perut." Sahut Shinomiya senpai
"Eehhh benarkah, apakah ini berarti senpai akan mentraktir aku makan gratis" aku tersenyum . mengingat sikap senpai yang setahuku sangat dingin, arrogant, dan tidak peduli perasaan orang. "Hm! Jangan bercanda brat! suatu saat nanti aku akan mengirimkan tagihannya kepadamu." sahut senpai sambil membetulkan kaca matanya." CK, dasar pelit" aku menggerutu.
Dahi Shinomiya senpai berkedut karena ucapan ku tadi. "CK, brat kau mau makan atau tidak? " tanya senpai kepadaku. "Iya iya, kirimkan sja tagihanku di masa depan. Aku mengibaskan tanganku. Shinomiya senpai mendesak. " Ayo turun Yukihira, kita sudah sampai." aku terhenyak kaget, tampaknya waktu berlalu dengan sangat cepat ketika aku sedang menghadapi Shinomiya senpai.
Aku mengagumi restoran perancis didepan mataku. Dengan interior mewah dan megah m ereka menyambut ku dengan bahasa Perancis "Bienvenue". Aku kaget dan mencoba untuk membalas mereka. " eh, bbbenvuee?". Aku bisa merasakan Shinomiya senpai menahan tawanya di belakangku. Aku memberikan sedikit tatapan tajam padanya. Shinomiya senpai berdehem dan memberikan ku tatapan meremehkan. Aku sedikit marah dan kesal padanya. 'Aku ingin menjadi koki, bukan ingin belajar bahasa Perancis. Aku menghilangkan kedua tanganku didadanya menatap Shinomiya senpai yang sedang berbicara dengan owner restoran perancis ini. Tampaknya mereka berdua adalah teman lama satu angkatan dengan Shinomiya senpai.
Setelah beberapa menit owner restaurantnya itu mempersilahkan kami untuk duduk di meja yang dekat dengan jendela. Aku dan Shinomiya diberikan buku menu oleh waiter. Aku merasa ngeri melihat harga yang tertera di samping menu makanan. Satu hidangan disini sama dengan uang jajanku selama lima bulan. Sialnya, ayahku yang bodoh itu belum mengirimkan aku uang, dasar pelit aku menggerutu dalam hati. "Kenapa belum memesan ?" tanya Shinomiya senpai. "Ah, iyyaaa senpai Hehehehe." aku mengusap usap bagian belakang kepalaku. Shinomiya senpai memutar bola matanya seakan akan tahu kenapa aku belum memesan. "Tenang saja brat, untuk kali ini aku akan mentraktir kamu makan. Kamu boleh memesan apa kamu makan makanan mewah untuk orang yang datang dari golongan rendah sepertimu" Shinomiya senpai tersenyum merendahkan, ingin sekali aku meninju wajah tampan miliknya itu. Seenaknya saja dia menyebut aku miskin, grrrr lihat saja nanti.
"Aku pesan Confit de canard dan Boeuf bourguignon, lalu segelas wine dan teh untuk bocah ini." Shinomiya senpai dengan seenaknya memesan makanan tanpa meminta pendapat dariku. Aku sudah cukup kesal dengan sikapnya sejak meninggalkan ruang kepala sekolah. Tanpa sadar aku menyentuh kalung chokerku dan berusaha menariknya sedikit untuk memberikan ruang untuk bernapas. Tampaknya senpai menyadari perbuatannya dan mendenghus pelan. " masih belum terbiasa dengan choker itu?" tanyanya. Aku lumayan terkejut karena Shinomiya senpai menggunakan nada yang cukup lembut. " ahh... Begitulah.." jawabku singkat. "Aku akan membelikan yang lebih nyaman nanti, tapi untuk sekarang kamu harus memakai itu dulu." kata Shinomiya senpai padaku. Tatapan matanya sempat membuat aku merasa risih, ia seakan akan sedang melihatku dengan teliti seperti aku adalah barang antik. Matanya menelusuriku dari ujung kaki ke ujung kepala. "Apa lihat lihat"tanyaku
Shinomiya senpai dengan senyuman misteriusnya membalas " tidak.. Tidak apa apa, aku hanya ingin melihat apa yang membuat orang tertarik dengan tubuhmu yang masih seperti anak anak itu" saat itu wajahku merah padam entah karena marah atau malu. "Be-berisik, aku masih dalam masa pertumbuhan tahu! Tidak seperti orang tua kayak Shinomiya senpai" aku dengan puas membalas ejekan Shinomiya senpai. Mata kiri Shinomiya senpai berkedut, aku bisa melihat persimpangan merah di dahi Shinomiya senpai. " Aku hanya 13 tahun lebih tua darimu, brat" sahut shinomiya. Kami saling berpandangan" Tetap saja, itu berarti kau lebih TUA dariku, Shinomiya senpai" aku sengaja menekan kata senpai untuk membuatnya marah. ' Hmph, rasakan siapa suruh membuat aku kesal' pikirku dalam hati.
Sebelum kami melanjutkan perang aneh kami, waiter membawa makanan yang kami (Shinomiya) pesan. Aku sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan baru. Siapa tahu bisa mengilhami masakan baru, aku mengambil sendok dan garpu dan mulai memotong daging sapi di depanku ' Hhhuaahh, memang keluaran Toshiki gakuen beda, dagingnya sangat lembut dan kenyal. Aku bisa memotong daging sapinya dengan sangat mudah, kira kira bagaimana mereka membuat daging sapi ini begitu lembut hmmm nanaskah, atau bawang atau...' aku terhanyut dalam pikiranku sendiri, ' Tapi bagaimana dengan rasanya. ' hmmmm rasanya enak sekali seakan akan aku berada di awan putih yang lembut.' Aku sangat senang bisa mencicipi rasa baru. Aku harap aku bisa menanyakan chef didapur tentang resep masakan ini. " Yukihira kun" aku terhenyak kaget saat Shinomiya senpai memanggilku. "Eh, Ap..." belum selesai aku berbicara Shinomiya senpai memasukan hidangan makanan miliknya ke mulutku, dengan senang hati aku mengunyah daging bebek itu. 'Hmmm, yang ini sedikit beda dengan masakan bebek lainnya,
Shinomiya senpai hanya memandangiku saat aku menikmati makan malam ini. "Bagaimana? Enakkan brat? Masakan Perancis itu bukan hanya mementingkan rasa tapi juga penampilan. Rasa boleh enak tapi kalau penampilannya buruk maka akan menjadi nilai minus. Masakan Perancis adalah sebuah seni dalam memasak makanan. Keindahan, kenikmatan dan penampilan menjadi 3 point penting" Shinomiya senpai menjelaskan panjang lebar. Wajahnya tampak bersinar seperti anak kecil dengan mainan barunya. Ia tampak sangat bangga dan senang ketika menjelaskan tentang masakan masakan Perancis.
Tanpa sadar aku tertawa kecil, Shinomiya senpai berhenti membicarakan soal makanan Perancis dan menatapku tajam " Apa ada yang lucu, brat?" tatapnya tidak senang.
"Hehehe tidak kok senpai. Hanya saja senpai tampak bahagia membahas tentang masakan Perancis. " . aku tidak melewatkan warna di pink di wajah Shinomiya senpai. Ingin rasanya aku menggodanya lagi, tetapi niat itu aku urungkan karena tidak ingin membuatnya marah.
Third pov
Setelah makan malam mereka berdua segera pergi meninggalkan restaurantnya. Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Pemandangan matahari terbenam disekitar pegunungan Nakiri sangatlah indah dengan pemandangan sehamparan mata. Mata Soma mengagumi keindahan diluar jendela, tiba tiba Soma merasa sangat mengantuk, mungkin karena kekenyangan karena tadi Soma memesan 3 dessert. Soma tertawa cekikikan saat ia memesan dessert sebanyak itu. Wajah Shinomiya senpai tampak pucat dan tidak percaya. Ia masih ingat perkataan Shinomiya waktu itu " Mentang Mentang aku yang bayar kau dengan tidak tahu malunya memanfaatkan itu brat" Soma bisa melihat banyak perempatan di dahinya yang berekedut. Soma hanya tertawa cekikikan dan menjulurkan. Lidahnya. "Kan shinomiya senpai sendiri yang bilang boleh memesan apa saja, weee"
Tidak bisa mengalahkan rasa ngantuk ya Soma mulai tidur terlelap di mobil shinomiya. Ketika Soma sadar dari tidurnya ia sudah tidak berada di mobil lagi. Sekarang ia berada di ranjang king size, Soma melihat ke sekelilingnya karena ia tidak familiar dengan kamar ini. Kamar ini boleh dibilang sangat mewah dengan chandeliar di atas nya. TV 40 inchi terletak di depan Soma. Soma bisa melihat pemandangan diluar jendela. Hari tampaknya sudah gelap gulita, Soma melirik jam dinding di atas kepalanya. Sudah jam 10 malam rupanya. Ia harus memberitahu penghuni asrama bahwa ia tidak pulang hari ini tapi, mungkin kepala sekolah sudah memberitahukan kepada kepala asrama apalagi ini adalah rencananya. Dan melihat hotel mewah ini kepala sekolah Nakiri sudah mempersiapkan segala sesuatunya.
Soma pov
Telingaku mendengar kucuran air dari kamar mandi, mungkin Shinomiya senpai sedang mandi pikirku. Pikiranku menerawang melihat langit langit kamar itu. Apakah sebegini menderitanya menjadi omega. Aku tidak ada masalah menghajar alpha alpha kurang ajar yang berani menyentuhku. Kalaupun mereka berani menantang ku aku bisa mengalahkan mereka di Shokugeki. Aku tertawa cekikikan mengingat senpai senpai yang aku kalahkan dengan telak.
' Aku tidak butuh bantuan, aku bisa mengalahkan mereka sendiri. Aku akan baik baik saja tanpa alpha' pikirku dengan sengit. Tetapi kalau aku pikir pikir lagi tampaknya akan sangat berbahaya bagiku di sekolah yang 97℅ adalah alpha, disekolah lamaku masih ada banyak alpha, Beta dan 20 ℅ omega. Walaupun hanya aku yang omega laki laki. Kebanyakan omega adalah perempuan submisive, tetapi aku beda aku tidak submisive seperti mereka. Bukannya aku membenci alpha, banyak alpha baik dan ramah disekolahku yang lama. Tetapi, hanya memikirkan itu membuatku merasa terkekang. Apakah semua omega harus mempunyai alpha? Tanyaku dalam hati
Aku masih hanyut dalam pikiranku saat Shinomiya senpai keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai bathrobe. Aku berpaling saat Shinomiya senpai membuka kulkas kecil dan mengeluarkan kaleng bir. Aku memperhatikan gerak gerik Shinomiya senpai dengan ujung mataku. Tubuh kekar shinomiya yang hanya terbalut bathrobe terlihat begitu mengairahkan, aku meneguk lidahku sendiri dan menggeleng geleng kan kepalaku. Saat ini pheromone alpha dari shinomiya senpai begitu kuat. Aku bisa merasakan tubuhku mulai terasa panas dan aku mulai terasa terangsang. Aku berusaha untuk menekan insting omegaku yang terus berteriak untuk melakukan 'mating' dengan alpha di depanku ini.
Bagian tubuh bawahku terasa gatal, aku mulai merasa tidak nyaman dengan keadaanku saat ini. Rasanya aku ingin ' menggaruk' untuk menghilangkan rasa tidak nyaman ini. Napasku terputus putus, aku mengigit bibir bagian bawahku untuk menekan pheromone ku. Tapi tampaknya usahaku sia sia. Aku bisa merasakan shinomiya senpai tampaknya menyadari keadaanku. Kalau saja aku masih punya kontrol penuh atas pikiranku, aku pasti akan meledek Shinomiya senpai yang sekarang sedang mengerutkan dahinya. ' Kau seperti Kakek tua senpai' begitulah pikirku.
Shinomiya senpai berjalan menuju tepi tempat tidurku, ia melepas kacamatanya dan juga bathrobenya. Shinomiya senpai hanya memakai celana boxer dibalik robenya itu. Tampaknya menjadi koki juga butuh stamina yang sangat kuat pikirku melihat tubuh kekar shinomiya senpai yang berotot dan perutnya yang six Packs. Wajahku memerah saat pikiranku sudah mulai berimajinasi yang tidak tidak.
' Ini tidak seperti aku' aku mengigit bibirku dengan kuat, 'aku adalah orang yang tangguh dan tidak mudah menyerah' aku tidak ingin melihat Shinomiya senpai melihat keadaanku yang menyedihkan saat ini. Aku merasa terekspos dan lemah. 'Kalau saja aku bukan seorang omega'
Sebuah tangan yang dingin menyentuh dahulu. Aku membuka mataku perlahan lahan. Shinomiya senpai sedang menatapku dengan mata coklatnya. "Jangan mengigit bibirmu!" ujarnya. Ia mengusap bibirku yang berdarah, aku saja tidak menyadari bahwa aku sudah menggigitnya sekencang itu. Shinomiya senpai menhela napas, ia duduk ditepi ranjang dan merebahkan tubuhnya di sebelah ku. Tubuhku menegang, mungkin senpai bisa melihat wajahku yang tegang saat ia berada di sampingku Shinomiya senpai merangkulku dan mendekatkan tubuhnya kepadaku. Ia memeluk punggungku dan meletakkan kepalaku didadanya. Jantungku serasa ingin keluar dari tubuhku. Tubuhku terasa sangat panas, aku bisa merasakan hangatnya tubuh shinomiya senpai. Suara serak jantung memenuhi telingaku. Tadinya aku pikir itu adalah suara jantungku, tetapi setelah aku cermati itu ternyata adalah suara detak jantung Shinomiya senpai
' Ah ternyata Shinomiya senpai juga merasakan hal yang sama denganku' pikirku saat itu. Aku mendongak keatas dan melihat wajah Shinomiya senpai yang hampir serupa dengan warna rambutnya. Aku tertawa cekikikan."Apa yang kau tertawa kan hah brat!" sahut Shinomiya senpai. "Ah, tidak kok senpai hihi" aku sedikit merasa tenang saat aku tahu bahwa Shinomiya juga merasa cemas dan tegang sepertiku. Aku menghembuskan napas pelan. Shinomiya senpai menaruh tangannya di atas kepalaku. "Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya menjadi omega... Tapi aku tahu bagaimana rasanya saat aku mendapat 'heat' pertamaku... Tidak enak memang tetapi bagaimanapun juga tidak bisa aku tahan." Shinomiya senpai mengangkat dahu ku. "Yukihira Soma, kau masih ingat saat hari camp terakhir itu dan aku ingin menanyakan sesuatu padamu tetapi terhenti karena si cerewet itu" tanya Shinomiya senpai.
"Ah.." pikiranku menerawang saat camp terakhir itu. Shinomiya memejamkan matanya. "Saat aku bertemu denganmu saat camp itu aku bisa merasakan bahwa kita kompatibel satu sama lain. Aku tidak pernah merasakan seperti itu dengan orang lain. Tetapi perbedaan umur kita yang terlalu jauh membuatku berpikir dua kali." aku memandang Shinomiya senpai dengan wajahku yang tampak bingung karena aku tidak mengerti apa yang ingin disampaikan Shinomiya senpai. " Yukihira Soma... Apakah kau ingin mencoba menjalin hubungan serius denganku"
Jujur aku sangat shock saat mendengar itu. Aku tidak pernah berpikir bahwa Shinomiya senpai tertarik padaku, hell ia tidak menunjukkannya sama sekali. Aku tidak bisa merasakannya sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Aku pikir Shinomiya senpai membenciku selama ini. Shinomiya senpai bisa melihat wajahku yang kebingungan. Lagi lagi ia menghela napas kecil. "Aku tidak butuh jawabannya sekarang, tetapi pikirkanlah baik baik."
Shinomiya mematikan lampu meja yang berada disebelahnya, lalu ia memeluk ku dengan lembut. Jujur saja aku sedikit terperangah dengan perlakuan lembut Shinomiya senpai. 'Ah, apakah ini adalah sisi lain yang senpai tidak pernah perlihatkan pada orang lain' pikirku. "Tidurlah Yukihira, aku tidak akan berbuat macam macam malam ini" suara lembut Shinomiya senpai seperti luluby bagiku. Aku tidak bisa menahan ngantuk yang melandasi dan terlelap di dekapan dada Shinomiya senpai
Aaahhhhh akhirnya chapter ini selesai juga.
Maaf ya bagi yang menunggu adegan hot nya hahahahhaha.
Sampai bertemu chapter depan
