Facing Memories, Facing Future
Disclaimer : ©Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya memakai karakternya untuk hiburan
Warning : FemNaru, OOC, Typo, author Newbie. Pairing belum ditentukan
Read n Review please
Chapter 1 : That Woman
Tuliskan kesan anda setelah terpilih sebagai mahasiswa baru di universitas ini.
Sasuke mengerjapkan matanya berulangkali, ia memandang buku biodata yang tengah diisinya dengan tatapan datar. Ia bingung, kesan apa yang harus ditulisnya. Sang pemandu pengisisan, yang merangkap asisten dosen kelas matrikulasi mengatakan pertanyaan ini wajib didisi. Sebagai pengingat sekaligus motivasi untuk tetap semangat kuliah.
Motivasi ? Sasuke mendecih dalam hati. Ia bahkan tidak merasa memiliki motivasi sedikit pun untuk kuliah, hanya sekedar memenuhi harapan orangtuanya. Sejujurnya, Sasuke tidak tahu apa yang sebenarnya Ia lakukan saat ini. Dirinya seolah terjebak oleh rutinitas. Saat bangun tidur hingga tertidur krmbali, hidupnya terasa hampa, tanpa arah dan tujuan. Dan ia merasa tidak perlu mencatat hali itu dalam kesannya sebagai mahasiswa baru. Sasuke tidak mau di cap sebagai mahasiswa salah jurusan atau lebih parah lagi, salah masuk universitas.
Sasuke menghela nafas pelan, ia mulai mengedarkan pandangannya ke anggota kelas matrikulasi yang lain. Disampingnya, Nara Shikamaru hanya menulis satu kata. Merepotkan.
Pintu ruang kelas mendadak terbuka. Seseorang berambut pirang pendek berdiri diambang pintu dengan nafas ngos-ngosan.
"Maaf Pak, saya terlambat."
Yakushi Kabuto, Sang asisten dosen mengernyit tidak suka. " Anda mahasiswa jurusan apa?"
Orang itu nyengir sambil mengaruk kepalanya, Cengiran yang terlihat sangat bodoh menurut Sasuke.
"Konseling pendidikan, Pak."
"Saya tidak mengerti kenapa mahasiswa yang hobi terlambat seperti anda bisa jadi pembimbing konseling. Bagaimana anda bisa menjadi panutan bagi murid ?"
Cengiran bodoh itu mendadak lenyap, mata sebiru langit itu memicing tajam. "Bapak Cenayang ya ?"
Kabuto menggeleng pelan.
"Kalau bukan kenapa bapak begitu yakin saya tidak bisa jadi panutan?"
Shikamaru yang nyaris jatuh tertidur mendadak terbangun, anggota kelas yang awalnya acuh tak acuh menjadi waspada seketika. Perdebatan di depan kelas menjadi tontonan anggota kelas lain.
" Anda bahkan tidak bisa hadir tepat waktu dikelas matrikulasi pertama, saya tidak yakin anda bisa hadir tepat waktu di kelas perkuliahan reguler."
Si pirang tersenyum sinis, tapi bagi Sasuke senyuman itu terlihat sadis.
"oh ya? Saya ingin tahu, menurut bapak saya mahasiswa atau mahasiswi?"
"Tentu saja anda mahasiswa, saya baru tahu anda bahkan lupa jenis kelamin sendiri"
Shikamaru mendengus menahan tawa, Sasuke yang melihatnya menatap heran. Shikamaru hanya menjawab dengan mengedip jahil.
"Saya tidak lupa jenis kelamin saya Pak. Bapak yang kurang jeli. Hanya karena saya berambut pendek dan berpakaian hitam-hitam macho tidak menjadikan saya laki-laki."
Kabuto melotot tidak percaya, beberapa anggota kelas hanya bisa menahan tawa.
" Bapak sudah begitu yakin saya akan gagal sebelum mencoba. Hanya karena saya terlambat sekali, bapak tidak bertanya alasan saya terlambat. Sekedar membuat asumsi dan langsung menghakimi saya. Bapak lebih tahu dari saya, seorang pendidik tidak boleh menghakimi anak didiknya."
Suasana kelas seketika hening. Si pirang mulai mendekat ke arah pintu, bermaksud keluar.
" Saya tidak mau membebani bapak. Saya yakin bapak tidak mau mengajar mahasiswa yang sudah gagal di pertemuan pertama. Saya mohon maaf sudah menyita waktu bapak untuk perdebatan tidak jelas ini"
Wajah Kabuto merah padam, antara marah dan malu.
Sebelum meraih gagang pintu, Si Pirang berbalik. "Maaf saya lupa memperkenalkan diri, nama saya Uzumaki Naruto."
Si pirang keluar kelas, suasana pun kembali hening, hening yang mencekam.
Sasuke mendadak tersenyum, ia mendapat inspirasi untuk lembar motivasinya.
Saya ingin mengetahui sisi lain manusia yang sebenarnya.
.
.
.
Di kantin, para mahasiswa baru membahas tugas dari kelas matrikulasi ebserta kejadian menarik yang menyertainya. Dan Sasuke yang awal mulanya merasa enggan, karena diorong rasa penasaran, ikut duduk satu meja bersama Shikamaru dan beberapa orang lainnya yang belum ia hafal namanya.
Perbincangan itu cukup seru, sebeum akhirnya bocah gembul bernama Chouji melambai pada sosok pirang yang sedang menjadi trending topic.
" Oi Naru kau sudah makan?" tanya Chouji.
Naruto menarik kursi, duduk disamping Chouji. " Belum."
Mata Chouji berbinar," Biasanya kau bawa bento kan? Boleh aku minta?"
Tanpa banyak bicara, Naruto membuka bentonya. Sebagian isi bentonya berpindah ke piring Chouji.
Naruto makan dengan tenang sebelum Shikamaru menginterupsinya, " kemana saja kau? Bergentayangan mencari mangsa ?"
Naruto mendelik, " Aku dipangil pembimbing akademik"
Kiba tertawa terbahak-bahak, " Dipanggil pembimbing akademik di minggu pertama, rekor baru Naruto."
Naruto nyengir, " Begitulah, hebat kan? Ngomong-ngomong Sakura mana?"
"Ikut matrikulasi di fakultas lain. Anak kedokteran memang begitu, belum apa-apa sudah sibuk." Jawab Shikamaru sambil menguap bosan.
Naruto mengangguk, " Aku juga ada kelas lain sore nanti. Mudah-mudahan kali ini aku tidak diusir lagi."
Yamanaka Ino gadis pirang lainnya, terlihat kesal. "Yang benar bukan diusir. Kau mengusir dirimu sendiri. Jangan cari masalah lagi Naru, atau aku akan melaporkanmu pada Bibi Kushina."
"Adukan saja. Tapi jangan salahkan aku kalau aku dan Dei-nii tidak mau mengantarmu kemanapun."
" Kenapa malah bawa-bawa kakakku?!"
Naruto tersenyum jahil, " Kau lupa ya, kami ini duo blonde partner in crime."
"Trio, Kau lupa Kurama"
"Dia tidak blonde Shika."
Sasuke hanya duduk mendengarkan percakapan teman-temannya itu. Sebenarnya mereka dulu satu sekolah. Salahkan predikat pangeran sekolah uang dulu tersemat padanya , ia jadi kurang bersosialisasi atau bahasa lainnya, kurang gaul. Dan sosok blonde yang menjadi pusat perhatian hanya bersikap tak peduli padanya, seolah Sasuke tak lebih menarik dari isi kotak bentonya. Apa Sasuke mulai kehilangan pesonanya?
Seolah merasakan keheranan Sasuke, Shikamaru berdehem pelan, menarik perhatian temannya yang lain.
" Hei Naru, kau kenal siapa yang duduk disampngku ini?"
Dahi Naruto mengernyit, berusaha mengingat. " Wajahmu mirip dengan si keriput teman main Ku-nii."
Si keriput? Apa mungkin yang ia maksud Itachi?
"Kora , kora, bukan itu maksud Shika. Kita dulu satu sekolah, masa kau tidak ingat?" ujar Ino
"Tidak." Jawab Naruto, langsung.
Teman-temanya hanya bisa terkikik geli.
Akhirnya Sasuke berinisiatif mengulurkan tangan, memperkenalkan diri. " Aku Uchiha Sasuke, Naruto-san. Salam kenal,"
Naruto bersalaman dengan Sasuke, " Salam kenal juga Sasuke-san."
Obrolan ringan kembali mengalir di meja mereka, namun tatapan Sasuke tak beranjak dari Naruto. Dan genggaman tangannya yang hangat masih meninggalkan jejak di telapak tangan Sasuke, juga hatinya.
TBC
