Facing Memories, Facing Future

Disclaimer : ©Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya memakai karakternya untuk hiburan

Warning : FemNaru, AU. OOC, Typo, author Newbie. Pairing belum ditentukan

Read n Review please

Chapter 2 : Bonds Between Us

Tak ada yang lebih menyebalkan selain melakukan sesuatu dengan terpaksa. Berusaha sebaik mungkin untuk menjalani, meskipun hati berada di tempat yang lain. Dan yang lebih menyedihkannya lagi, bahkan tempat lain yang dimaksud hati itu pun belum ditemukan. Mungkin inilah yang dinamakan 'tersesat di sebuah jalan bernama kehidupan', seperti yang dikatakan seorang sensei bermasker.

Sasuke bersyukur, terlahir dari keluarga Uchiha yang terkenal cool dan stoic. Perlu seorang yang ahli untuk bisa membaca emosi mereka. Hal itu membuat Sasuke bisa menjalankan perannya dengan baik. Seperti kata pepatah, dunia ini panggung sandiwara.

Namun sifat cool itulah yang membuat Sasuke seperti tersisih. Teman-temannya seolah enggan berhadapan dengannya. Apalagi mendengar pamor ayahnya, Uchiha Fugaku. Seorang perwira yang disegani. Terkadang teman-temannya menatapnya seolah ia bisa menyemburkan api.

Meskipun Sasuke merasa terpaksa kuliah, tidak ada alasan baginya untuk tidak tampil sebagai yang terbaik. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang rajin. Dan sikap rajinnya itulah yang membuat beberapa orang dikelasnya berani untuk mendekatinya, sekedar bertanya tentang tugas,

Sekedar? Karena setelah itu, mereka kembali menjauh.

Sasuke hanya bisa menggelengkan kepalanya, maka jangan salahkan dirinya jika menganggap teman itu hanya sekedar formalitas.

Dan formalitas itu bisa luntur di kelas matrikulasi.

Di kelas yang diisi mahasiswa baru dari berbagai jurusan itu, Sasuke seperti menemukan teman yang hilang. Nara Shikamaru, si jenius pemalas itu. Adalah orang pertama yang dapat mengerti dirinya. Dibalik sifat malasnya yang menolak direpotkan, ia adalah sosok teman yang baik dan pengertian, Akimichi Chouji, bocah gembul yang hobi makan, tapi ramah luar biasa, bahkan Naruto si wanita pirang yang sering dikira transgender, tak pernah keberatan berbagi makanan dengannya. Inuzuka Kiba, pecinta anjing yang berisik, namun tawanya sering mencairkan suasana. Yamanaka Ino, calon designer yang cantik dan modis, meskipun terkadang sering curi pandang pada Sasuke dan sosok wanita yang cerewet, sifat perhatiannya sungguh meneduhkan. Dan terakhir Haruno Sakura, sang calon dokter yang meskipun sibuk, selalu menyempatkan untuk berkumpul bersama.

Sejak peristiwa di kelas matrikulasi pertama, mereka sering berkumpul bersama di salah satu sudut kantin. Awalnya Sasuke sering diseret Shikamaru, tapi lama-kelamaan ia ikut sendiri. Perlahan Ia membaur dan menjadi anggota mereka. Fakta bahwa dulu mereka satu sekolah semakin mempererat merela .

Dan satu orang wanita pirang yang sering terlibat masalah, menjadi salah satu alasan Sasuke bersedia bergabung,

Sosok pirang itu sedang menatap isi bentonya dengan pandangan curiga,

" Kenapa Naru? Kau tidak suka bentomu? " Tanya Chouji

" Tidak Chouji, aku hanya takut kurama meracuniku."

Shikamaru terkekeh, " Itu kan bukan pertama kalinya Naru, Kenapa harus takut ?"

" Aku tidak keberatan kalo hari libur, sore ini aku ada kelas."

Ino menggelengkan kepalanya, " Berarti kau sering diracuni di hari libur ya? Aku tidak mengerti saudara kandung macam apa kalian ini."

"Setidaknya kakakku tidak menyalakan kembang api di kamarku. Tidak seperti kakakmu yang berbakat menjadi teroris itu."

"Dan kakakmu memiliki bakat tersembunyi untuk jadi pembunuh bayaran."

Sasuke hanya tersenyum tipis, sangat tipis. Sebenarnya Ia juga ingin membeberkan kelakuan Itachi, tapi Ia gengsi akan di cap penggosip.

"oh iya kalau kau kuliah sampai sore kita tidak bisa pulang bersama Naru." Ucap Chouji

" Tidak apa-apa, kalian pulang duluan saja. Aku akan tanya Sakura dan Kiba, jika mereka juga tidak bisa, aku akan pulang sendiri saja."

Sasuke mengecek jadwal kuliahnya, Ia akan pulang sore juga.

Shikamaru memperhatikan gelagat Sasuke, " Oi Naru, kau nanti kuliah di gedung mana?"

" Gedung B, Aku sudah biasa pulang malam kok Shika. Tidak perlu khawatir."

Shikamaru tersenyum, " Aku tahu kau bisa menjaga diri, hanya memastikan saja."

Sasuke menangkap kedipan jahil Shikamaru, Apa maksudnya?

.

.

.

Sasuke berjalan pelan menuju parkiran gedung A, tempatnya kuliah barusan. Suasana kampus mulai terasa mencekam, matahari sudah terbenam beberapa menit yang lalu, para mahasiswa dan dosen yang sudah menyelesaikan kelas terakhir langsung ngibrit. Isu kalau kampus di malam hari sering menjadi tempat gathering makhluk astral membuat banyak civitas academica memilih untuk tidak berlama-lama di dalam gedung setelah matahari terbenam.

Sasuke hanya menghela nafas pelan. Ia mulai memakai helm dan menjalankan motornya.

Di depan gedung B, ia menangkap sesosok manusia blonde berpakaian hitam-hitam. Sasuke perlahan berhenti di depannya.

Naruto hanya memicingkan matanya.

" Mau ikut ?"

"Siapa ya?"

Demi tuhan, baru tadi siang mereka makan siang bersama, si blonde ini sudah lupa.

Sasuke membuka kaca helmnya. Naruto nyengir,

" Oh aku pikir siapa. Tidak apa-apa. Aku pulang sendiri saja. Aku baru akan ke halte depan kampus."

"Jam segini sudah tidak ada Bis."

Sasuke berusaha memasang tampang datar dan tak bisa dibantah miliknya. Berharap Naruto akan luluh.

" Baiklah, maaf merepotkan."

Sasuke mengambil helm cadangan, akhirnya mereka pun berboncengan.

.

.

.

Kalau kebanyakan wanita memilih jaim saat berboncengan dengan pria yang baru dikenal, Naruto tidak.

Sepanjang perjalanan dari kampus ke rumahnya, ia berceloteh riang, meskipun Sasuke hanya membalasnya dengan 'Hn'.

" Kakakku itu menyebalkan, aku heran manusia macam itu bisa terlahir di dunia. Apalagi ketika aku kecil, ia sering bilang aku anak pungut, gara-gara aku pirang sendirian dan golongan darah ku berbeda darinya. Kakak macam apa itu."

Seolah Naruto paham kalau Sasuke memang orang yang irit biacara, setiap celotehannya hanya bersifat satu arah. Tidak memerlukan tanggapan dari sasuke. Dan baru kali ini Sasuke tidak merasa risih berboncengan dengan wanita selain ibunya.

"Aku sering diledek hanya karena masakannya lebih enak dari masakanku. Tentu saja makanannya lebih enak, dia kan ikut kursus memasak. Dan dari kecil cita-citnaya ingin mengembangkan usaha makanan milik kaasan."

Motor Sasuke perlahan berhenti didepan sebuah toko kecil bertuliskan Uzu Cake & Catering.

"Terima kasih ya atas tumpangannya Sasuke-san. Kau pasti lelah. Kapan-kapan main ke rumahku ya, "

Sasuke hanya mengangguk singkat sembari menerima helm dari tangan Naruto.

Motor Sasuke perlahan berbalik arah, dari spion motornya, Sasuke melihat Naruto melambaikan tangannya. Ada perasaan aneh hinggap di hatinya. Perasaan apa ini?

TBC

AN : terima kasih untuk semua review, fav & folownya. Berarti banget loh buat saya. Dan untuk para silent reader, terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita gaje dari saya hehe. Saya jadi semangat untuk menulis cerita ini, mumpung sedang libur awal puasa.

Kurama di cerita ini adalah kakak Naruto. Laki-laki seumuran itachi. Berambut merah dan bermata violet, seperti Kushina versi cowok.

Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya.

Salam

Primara

Omake

Tiga puluh menit sebelum kelas Naruto berakhir, Di Halte depan kampus.

Kiba, Sakura dan Shikamaru meunggu bis terakhir diantara kumpulan mahasiswa lainnya. Kiba memandang Shikamaru dengan tatapan kesal, sementara Sakura terlihat sibuk dengan ensiklopedia kesehatannya.

" Aku tidak mengerti Shika, kenapa kau mau repot-repot mencegah kami untuk pulang bersama Naru. Sebegitu tidak sukanya kah dirimu padanya sampai membiarkan Naru pulang sendiri ?" Tanya Kiba, terlihat kesal luar biasa.

Shikamaru terkekeh pelan, " Aku hanya ingin memastikan memberikan kesempatan pada seseorang."

Kiba dan Sakura saling pandang, bingung. Mereka pikir mungkin Shkamaru mulai gila.