Facing Memories, Facing Future

Disclaimer : ©Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya memakai karakternya untuk hiburan

Warning : FemNaru, AU. OOC, Typo, author Newbie. Pairing belum ditentukan

Read n Review please

Chapter 3 : The Real Maelstorm

Kesan pertama sungguh menggoda,

Selanjutnya?

Terserah anda.

Ingin rasanya Sasuke tertawa terbahak-bahak saat mendengar pepatah itu. Tapi ia tahan setengah mati, harga dirinya masih terlalu tinggi untuk terbahak di depan umum dan dikira gila. Sejujurnya, kali ini ia meragukan kewarasannya.

Semua karena si gadis pirang, Uzumaki Naruto.

Awalnya hubungan mereka biasa saja, sekedar rekan makan siang bersama, itu pun tidak berdua saja, melainkan dengan in the gank yang lain, Seperti Shikamaru, Chouji, Ino, terkadang Kiba dan Sakura.

Dan semua berubah saat mereka pulang bersama.

Mendadak, ocehan Naruto tentang apapun, sekali lagi, apapun. Menjelma di hati Sasuke seperti kicauan merdu burung di pagi hari. Bukan karena ocehan itu terdengar merdu, _suara Naruto terlalu cempreng untuk disebut merdu_ tapi suara itu mengisi hati dan hari-harinya yang seolah hampa menjadi lebih berwarna.

Sejak saat itu, Naruto mulai menunjukan sifatnya yang sebenarnya.

Semua temannya tahu kalau Naruto orang yang cuek dan pelupa. Tapi mereka tidak tahu satu hal, dia juga usil. Dan tahukah kalian siapa korbannya? Tak lain dan tak bukan adalah Sasuke.

Sasuke ingat, sore itu ia akan menjemput Naruto di gedung B untuk pulang bersama menjadi agenda rutin bagi Sasuke dan Naruto. Apalagi jarak gedung perkuliahan mereka yang dekat dan fakta mereka hampir satu jurusan. Hampir ? Jurusan mereka serupa tapi tak sama. Sasuke kuliah di jurusan psikologi murni, sementara Naruto di jurusan konseling pendidikan. Dengan kata lain, jurusan naruto adalah ilmu terapan dari jurusan Sasuke. Mereka terkadang berbagi dosen dan mata kuliah yang sama.

Biasanya, Naruto sudah menunggunya di depan gedung, tapi kali ini ia tidak melihatnya. Sasuke memutuskan untuk memarkirkan motornya dan menunggu Naruto di parkiran. Lima menit kemudian sosok pirang Naruto muncul dan menghampiri Sasuke.

Sasuke memandang Naruto heran, wajah Naruto terlihat pucat dan lemas.

" Aku baik-baik saja. Hanya sedikit mual."

Sasuke hanya mengangguk singkat, bersiap mengambil helm cadangan dari bagasi motornya.

" Ne, Sasuke. Sebenarnya aku hamil." Ucap Naruto tiba-tiba, lengkap dengan ekspresi watados.

Helm cadangan yang di pegang Sasuke terlepas dan menggelinding bebas ke tanah. Matanya melotot dan mulutnya menganga lebar. Ekspresi yang sangat tidak Uchiha sekali. Oh sial, Naruto hamil. Ini gawat luar biasa. Bagaimana kalau orangtuanya meminta pertanggung jawaban Sasuke? Padahal ia tidak melakukan apapun selain pulang bersama, belum lagi teman-temannya yang lain akan memutilasi Sasuke.

Dan tahukah kalian bagaimana ekspresi Naruto?

Dia malah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, Sasuke hanya cengo melihatnya. Otaknya masih hang, antara bingung dan terkejut.

"Lihat wajahmu itu, hahaha. Lucu sekali, hahahaha."

Sasuke akhirnya berhasil mengumpulkan seluruh kesadarannya, dan mulai menatap Naruto tajam. Seandainya ada anak kecil yang melihat tatapan Sasuke saat itu. Pasti ia kan mimpi buruk dan ngompol non stop selama seminggu. Namun Naruto sang tersangka hanya nyengir.

"Aku hanya bercanda, sepertinya Ku-nii berhasil meracuniku kali ini. Kenapa tampangmu terlihat bodoh begitu?"

"Aku hanya terkejut, baka. Bisa-bisanya kau menjadikan hal itu sebagai candaan."

Naruto memungut helm cadangan dari tanah dan memakainya, " Aku hanya ingin melihat ekspresimu saja. Bosan sekali melihat wajah datar tembokmu itu."

Sasuke hanya menghela nafas. Harusnya Sasuke tahu, sejak saat itu. Memancing ekspresi Sasuke seperti menjadi misi rahasia Naruto.

.

.

.

Kalau melihat gaya naruto yang cuek, tak akan ada yang mengira kalau ia adalah wanita galak.

Galak?

Begitulah, bahkan Sasuke yakin Hitler sekalipun akan mengkerut dihadapan Uzumaki Naruto yang mengamuk.

Di depan matanya sendiri, Sasuke melihat Naruto menendang motor yang hampir menabraknya. sungguh wanita jelmaan preman.

Hanya dengan satu pelototan, seniornya langsung lari tunggang langgang. Membuatnya terlihat lebih mengerikan dari anjing galak yang mengidap rabies.

Itu hanya sebagian kecil dari prilaku Naruto yang tidak terduga. Lainnya? Dalam hati Sasuke berharap ia tidak perlu tahu.

Di kelas pengantar psikologi, kelas yang ia hadiri bersama Naruto. Satu sifat lainnya terungkap, tidak mau kalah.

Naruto suka sekali berdebat, bahkan hingga lawannya menangis. Apakah Naruto mengendurkan serangannya? Ia malah bersikap tidak mau peduli. Untungnya, ia bukan orang yang berambisi pada nilai, malah terkesan idak peduli. Membuatnya selalu berada di urutan buncit. Sasuke tidak habis pikir kalau Naruto menjadi orang yang ambisius, pasti lawan diskusinya akan gantung diri berjamaah sebelum kelas dimulai.

Naruto hanya mau menyerang saat ada mangsa yang menarik, tipe hunter sejati. Sesuai golongan darahnya. Dan saat ada mangsa yang menarik, ia tak akan mundur atau menyerah, sedikit pun. Dengan kata lain, ia bisa menjadi agresif dan oportunis untuk mendapatkan mangsanya, sungguh mengerikan.

" Sas, pacaran yuk?"

Dari sekian banyak hal tak terduga dari Naruto. Sasuke tidak menyangka Naruto akan menembaknya dengan to the point di depan kelas saat dosen belum masuk. Dan membuat mereka berdua jadi pusat perhatian sekelas, seketika.

Sasuke hanya bengong.

Naruto cemberut, "Ya sudah kalau tidak mau. Kita musuhan saja, Teme."

Sasuke tidak sempat membalas karena dosen sudah memasuki ruangan. Sasuke tidak sadar, sejak saat itulah ia ditandai sebagai mangsa Naruto.

.

.

.

Kejadian di kelas itu tak pernah dibahas lagi oleh Sasuke, setelah mendengar kabar Naruto Sakit.

Entah sakit apa, Sasuke tidak tahu. Yang pasti, Naruto harus memakai tongkat berjalan karena ada yang salah dengan lutut kanannya. Seminggu sekali ia pun harus fisioterapi. Sasuke pernah diam-diam memergoki Naruto sedang menangis, tapi ia tak berani untuk bertanya, khawatir pertanyaannya hanya akan membuat Naruto semakin sedih.

Dan sejak saat itu, Sasuke tak hanya pulang bersama, tapi juga mengantar Naruto ke rumah Sakit. Kushina, ibu Naruto. Menitipkan Naruto padanya, karena ia dan Kurama sibuk bekerja. Dan kini, Sasuke menjelma menjadi ojek dadakan bagi Naruto. Ia tak keberatan, karena baginya, Naruto adalah orang pertama yang mengenalkannya pada sesuatu yang bernama teman.

Sore ini, setelah menemani Naruto fisioterapi, Sasuke bermaksud untuk mengantar Naruto pulang. Naruto menolak, ia ingin main dulu, katanya.

"Kau itu sakit, dobe. Harusnya kau banyak istirahat."

"Ayolah teme, sekali ini saja. Aku bosan dirumah terus." Bujuk Naruto dengan Puppy eyes nya.

Sasuke sama sekali tidak luluh, tidak, Puppy eyes Naruto justru membuatnya mulas.

"Berhenti berwajah menjijikan begitu. Kita pergi, sebentar saja."

"Yeayy, I love you teme,"

Sasuke mendecih pelan, semoga keputusannya kali ini tepat.

.

"Satu mangkok lagi paman," ucap Naruto antusias.

Sasuke hanya bisa menggeleng, selera makan Naruto memang luar biasa. Awalnya Sasuke terkejut Naruto memintanya untuk mengantarkannya pada cinta pertamanya. Ternyata cinta pertamanya itu miso ramen di kedai ichiraku.

"kau sedang sakit Naru-chan, kurangi makanmu," ujar Teuchi, sang pemilik kedai.

Naruto manyun, "Yang sakit kan kaki ku, bukan perutku."

"Paman benar dobe. Kurangi makanmu."

Naruto cemberut, tapi tidak membantah.

Malam mulai menjelang, perlahan lampu-lampu kota mulai menyala. Naruto mengajak Sasuke berjalan-jalan sebentar. Sekedar menikmati udara malam.

Udara malam yang sejuk dan suasana yang hening ini merupakan pemandangan yang asing bagi Sasuke. Biasanya, di jam seperti ini ia sedang mengerjakan tugas di depan komputernya.

Malam ini, ia melihat Naruto dari sudut pandang berbeda. Ia terlihat kalem dan menikmati suasana sekitarnya.

"Kau tidak risih dengan tongkatmu itu dobe?"

"Awalnya iya. Selain risih, tongkat ini membuatku terlihat memalukan."

Naruto menatap Sasuke lembut dan tersenyum," Tapi tongkat ini ibarat teman, tanpanya aku tidak bisa menopang tubuhku. Lagipula, meskipun kakiku tidak bisa menendang lagi. Tongkat ini bisa kujadikan senjata."

Semilir angin malam meniup lembut rambut Naruto, sorot matanya yang lembut dan senyumannya hati Sasuke bergetar melihatnya. Naruto terlihat rapuh, sekaligus tangguh disaat bersamaan. Membuat Sasuke ingin merengkuh Naruto ke dalam pelukannya.

TBC

AN: Halo semua, akhirnya saya update juga, kebetulan ilhamnya masih lancar, untuk chapter ini isinya sasufemnaru, saya perlu memperjelas asal-usul kebersamaan mereka dulu. Cerita ini murni fiksi, walaupun ada beberapa hal yang saya alami di dunia nyata. saya belum bisa menulis chapter yang terlalu panjang, maklum masih belajar.

Salam

Primara

Omake

Di salah satu sudut kantin, Shikamaru, Chouji, Ino ditambah Kiba dan Sakura duduk bersama. Mengabaikan fakta bahwa hari sudah sore dan kantin hampir tutup.

"Jadi sekarang Naru-chan dekat dengan si pantat ayam itu?" tanya Kiba.

Shikamaru menguap, " Kalau iya memangnya kenapa?"

" Tidak bisa begitu, Naru-chan milikku!" ujar kiba berapi-api.

Mata Ino memicing tajam, " Kapan Naru jadi milikmu Kiba?"

" sudah sejak lama."

"Berhenti berhalusinasi Kiba, apa perkuliahan di kedokteran hewan membuat otakmu macet?" ujar Sakura yang tetap asyik dengan bukunya.

"Harusnya kau mendukung Naru, kiba. Sasuke hadir disaat yang tepat." Timpal Chouji

Sebelum Kiba sempat membalas, penjaga kantin sudah mengusir mereka.

Shikamaru, dibalik wajah ngantuknya, hanya tersenyum misterius.