Facing Memories, Facing Future
Disclaimer : ©Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya memakai karakternya untuk hiburan
Warning : FemNaru, AU. OOC, Typo, author Newbie. Pairing belum ditentukan
Read n Review please
Chapter 4 : The Man Who Always Wondering
Sasuke menatap sosok didepannya tanpa berkedip. Terpesona. Hingga ia tidak sadar ujung tongkat berjalan naruto sudah nangkring di lehernya.
"Kau berpikiran mesum ya teme ?!"
Demi celana kolor Uchiha Madara, Baru tadi Sasuke terpesona oleh Naruto yang mendadak kalem, sekarang ia sudah dituduh yang bukan-bukan.
Sasuke menyingkirkan tongkat Naruto, "Enak saja. Siapa yang mau berpikiran mesum pada wanita macho sepertimu ?! Bisa-bisa aku dikira hombreng."
Sorot mata Naruto berubah jahil, "Benarkah? Apa jangan-jangan kau terpesona padaku?"
Pernah mendengar pepatah kalau wanita selalu benar? Sasuke benci mengakuinya, kali ini.
Sasuke berdehem, mencoba stay cool, " Sesaat tadi iya, sekarang aku menyesal."
Naruto melanjutkan langkahnya, "Seharusnya kau tidak menyesal terpesona pada Uzumaki Naruto yang memang mempesona."
Oh bagus, si pirang mulai narsis.
"Ngomong-ngomong, di matkul kesehatan mental nanti sudah memilih tempat untuk observasi ?"
Sasuke menggeleng pelan, " Belum. Kalau kau?"
"Ada sih, tapi merepotkan kalau sendirian. Mau ikut?"
"Boleh."
Suasana mendedak hening. Naruto asyik memandangi billboard di seberang jalan.
"Oi Naru, kenapa kau memanggilku teme ?"
Naruto tertawa, " Kau menolakku, ingat?"
Wajah Sasuke memerah, sial Naruto masih ingat kejadian di kelas dulu. Kenapa si pirang mendadak ingat begitu? Biasanya tidak lupa namanya sendiri pun syukur.
Naruto terkikik, " Aku dengar laki-laki itu cuma dua tipe, kalau tidak brengsek ya hombreng*. Aku yakin kau masuk golongan pertama."
Sasuke mendelik tajam, "Siapa yang mengajarimu mengkotakkan lelaki dalam dua kategori edan itu ?! "
Naruto mengibaskan tangannya, mencoba santai. "Sudahlah, itu tidak penting. Malam sudah larut. Banyak tugas yang harus dikerjakan dan kita juga harus mempersiapkan observasi."
Untuk kali ini, Sasuke menurut.
.
.
.
"Tembaaaaak!"
"Awas kapten di depan ada Ranjau,,,"
"Musuh mulai terlihat arah jam 12, persiapkan senjata!"
"Roger. "
" Serangan! Semua Berlindung!"
Sasuke cengo melihat pemandangan di depannya. Sekumpulan pria cepak tampat ribut dan pontang-panting menyelamatkan rekannya. Alih-alih menenteng senjata, mereka malah menenteng sapu dan menggunakan panci bocor sebagai helm.
Dan mereka tidak sedang di medan pertempuran, tapi di sebuah tempat asri bernuansa serba putih.
Disamping Sasuke, Naruto menatap pemandangan luar biasa itu dengan senyum kecil.
"Pasti aneh untuk anak seorang perwira melihat situasi disini."
Sasuke berbalik memandang Naruto, "Aku tidak tahu mereka bisa jadi begitu."
"Prajurit menjalani hidup yang keras dan penuh tekanan. Tanpa coping yang tepat, ya beginilah jadinya."
Pikiran Sasuke menerawang pada ayahnya. Sosok tegas dan tidak banyak bicara. Sasuke ragu apakah ayahnya berhasil menemukan coping yang tepat atau tidak. Sosoknya begitu misterius dan jauh dari jangkauan Sasuke. Seolah ada dinding tidak kasat mata diantara mereka.
Sasuke perlahan bangkit, bersiap untuk berkeliling menuju bangsal berikutnya. Perlahan ia membantu Naruto berdiri.
"Hidupku susah sekali jika tidak pakai tongkat." Naruto terkekeh pelan.
Tentu saja, di tempat ini pengunjung wajib bertangan kosong. Maka kini Sasuke menjelma menjadi tongkat yang bisa berjalan untuk Naruto. Naruto menaruh tangan kanannya di pundak Sasuke. Mereka berjalan berdampingan. Dan Sasuke pun bisa merasakan kehangatan dari sosok disampingnya.
.
.
.
Hujan deras yang mengguyur sepanjang hari perlahan berubah menjadi rintik kecil. Meninggalkan jejak basah di dedaunan dan jalanan. Langit yang semula gelap dan mencekam perlahan mulai terang. Dan senja yang menjelang menyiratkan warna jingga keemasan dilangit.
Sasuke memandang langit dari salah satu jendela kafetaria perpustakaan. Sejak kelas terakhirnya siang tadi, ia memutuskan untuk mampir ke perpustakaan menunggu hujan reda/ dan sekarang meskipun yang tersisa tinggal rintik hujan, Sasuke enggan beranjak dari tempatnya duduk.
Langit senja yang berwarna keemasan mengingatkannya pada sosok blonde yang menjelma menjadi teman terdekatnya, saat ini. Pikirannya tidak bisa lepas dari sosok itu, senyumannya, pelototannya, cengiran jahilnya saat berhasil mengusili dirinya, tangisnya saat sendirian, teriakan garangnya, dan semua hal tentangnya.
Hanya orang bodoh yang tidak tahu gejala apa itu, gejala orang jatuh cinta. Shikamaru seringkali terkekeh geli melihat tingkahnya saat bersama Naruto. Si jenius itu tentu sudah tahu perasaan Sasuke yang sebenarnya pada si pirang. Hal itu diperparah oleh insiden penembakan di kelas, menjadikan hubungannya dengan Naruto semakin canggung.
Itu yang ada dipikiran Sasuke, kenyataannya hubungannya dengan Naruto baik-baik saja. Terimakasih untuk semua sifat pelupa dan tidak peka Naruto. Ditambah pembawaannya yang ceria, mampu mencairkan suasana kaku dan dingin macam apapun.
Setidaknya dengan sikap Naruto yang begitu, Sasuke masih bisa mengulur waktu.
Mengulur waktu?
Waktu yang ingin Sasuke ulur adalah saat dimana Naruto meminta kepastian, kepastian tentang hubungan mereka,
Kalau saja Naruto terlahir sebagai adiknya, ia akan menjadi orang paling bahagia sedunia. Itachi memang kakak yang baik, hanya saja ia tak selalu ada untuk Sasuke. Sementara Naruto, meskipun tak selalu bertemu, tapi ia bisa tahu jika sesuatu terjadi pada Sasuke.
Sasuke mulai curiga, jangan-jangan Naruto itu cenayang.
Selalu ada stigma bahwa laki-laki takut pada komitmen, Sasuke tidak takut pada komitmen. Hanya saja pantaskah ia berjanji akan mencintai seseorang jika uang untuk kencan saja masih meminta orangtua? Sasuke sering dicibir karena memiliki prinsip itu.
Padahal mereka hanya tidak tahu saja, alasan Sasuke sebenarnya. Ia takut memiliki jika suatu hari ia akan kehilangan.
Sasuke menghela nafas pelan, bersiap untuk pulang. Hujan kini sudah reda sepenuhnya.
Tapi keraguan dihatinya justru baru dimulai.
.
.
.
"Naru,,"
"ya."
"Pacarmu mana?"
Naruto mendelik pada lawan bicaranya," Pacar apa?"
Ino tersenyum penuh harap, "Sasuke-kun, kau ini bagaimana sih?!"
Naruto kembali membaca bukunya,"Dia bukan pacarku."
"Lalu apa?"
"Tukang ojek."
Ino mendelik tidak suka, "kejam sekali mengatai orang sekeren itu tukang ojek."
"Mana ada orang keren takut kecoa."
Satu fakta baru tentang Sasuke, takut kecoa.
"Kau saja yang tidak normal Naru, wanita mana yang biasa saja melihat kecoa."
"kau lupa Ino, Naru sendiri ragu dia wanita atau pria." Kekeh Shikamaru.
Naruto memilih untuk tetap fokus pada bukunya. Ino hanya menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan kegiatan searchingnya. Dan Shikamaru, bersiap untuk tidur.
Hal yang tidak menyenangkan dari kuliah adalah waktu kelas yang tidak menentu. Dan akibatnya, mereka jadi jarang berkumpul, apalagi Kiba dan Sakura, dua mahasiswa kedokteran hewan dan kedokteran umum itu paling sibuk. Chouji mulai disibukkan dengan praktikum sementara Sasuke mulai galau karena beban sksnya yang cukup banyak bahkan di semester awal.
Dan hanya dengan tiga personil lah kini mereka berkumpul. Suasana agak sedkit membosankan karena Naruto sibuk dengan diktat kuliahnya, Ino dengan tugasnya, dan Shikamaru dengan hobinya, tidur.
Perlahan Naruto menurunkan diktat yang ia baca, pandangannya teralih keluar jendela kantin. Ia menghela nafas berat.
"Perasaanku tidak enak."
Ino mendadak berhenti mengetik, Shikamaru tersentak bangun dan langsung waspada.
"Hari ini seperti hari tenang sebelum badai."
Dan badai itu perlahan akan menampakan dirinya.
TBC
*pengelompokan cowok menurut Raditya Dika. Joke populer di awal saya kuliah.
AN: Halo semua, bagaimana puasanya? Ini puasa yang cukup berat buat saya. Dengan gempuran deadline penelitian dan stress luar biasa membuat asam lambung saya protes dan memperbanyak diri. Akhirnya saya merasa chapter ini kurang terasa feelnya, efek dari semua stress. Tapi jangan khawatir, chapter depan akan berbeda, hehe. Mungkin agak lama updatenya. Saya perlu menyusun 'badainya' agar lebih rapih lagi.
Terimakasih untuk fav, follow dan reviewnya. Juga para silent reader yang meluangkan waktunya untuk membaca cerita saya.
Salam
Primara.
