Sesak didadanya kini bertambah parah.
Bukan lagi sesak yang biasa ia rasakan. Sesak ini terasa luar biasa hingga mencengkram jantungnya.
Airmata perlahan menetes dari pelupuk matanya. Suara isakan pelan keluar dari bibirnya.
Tak ada yang lebih menyakitkan selain kegagalan.
Kegagalan untuk membahagiakan dan melindungi yang dicintai.
Yang tersisa kini hanya penyesalan.
Maafkan aku, Sasuke
Facing Memories, Facing Future
Disclaimer : ©Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya memakai karakternya untuk hiburan
Warning : FemNaru, AU. OOC, Typo, author Newbie. Pairing belum ditentukan
Read n Review please
Chapter 5 : Storm Coming
Kedatangan Fugaku di kediaman Uchiha selalu membawa keceriaan bagi keluarga Sasuke.
Tapi itu dulu.
Setelah menjadi perwira, Fugaku berubah menjadi sosok yang dingin dan kaku. Seperti gunung es ditengah lautan. Suasana di kediaman Uchiha pun tak sama lagi. Sang kepala keluarga itu menjadi sosok yang irit bicara, perlahan tapi pasti, menciptakan jarak antara dirinya dan kedua putranya.
Jelas bukan sosok ayah idaman.
Sejak Sasuke SMA, Fugaku sudah jarang dirumah. Itachi yang jarang pulang menambah sepi kediaman Uchiha. Dan untuk mengatasi rasa kesepian ditinggal suami, Mikoto bekerja sebagai guru SMP.
Malam ini, Suasana kediaman Uchiha tetap sesepi biasanya. Namun di ruang makan, Mikoto tidak makan sendiri. Kali ini, sang suami ikut menemaninya.
Kedatangan Fugaku yang tanpa pemberitahuan mengejutkan Mikoto. Apalagi, sang kepala keluarga melarang Mikoto memanggil pulang kedua putranya. Mungkin Fugaku sedang ingin berduaan saja.
Memikirkan hal itu membuat pipi Mikoto bersemu merah, malu. Setelah makan malam mereka selesai, Mikoto mencuci piring bekas makan sementara Fugaku tetap duduk druang makan ditemani segelas ocha.
"Mikoto,,," Suara berat Fugaku memecah keheningan diantara mereka.
"Iya."
"Tentang putra kita…."
.
.
.
Sepasang mata hitam memandang mata biru dihadapannya dengan tatapan datar. Mereka berdua duduk berhadapan disebuah ruangan yang hanya memiliki penerangan berupa lampu gantung yang redup. Suasana diruangan itu terasa dingin dan mencekam. Dua penghuni ruangan itu hanya saling menatap tanpa berbicara.
Dan jika tatapan mata bisa membunuh., Si mata biru pasti langsung mati saat itu juga akibat deathglare dari si mata hitam.
Sasuke mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mengintimidasi untuk menggali informasi dari sosok didepannya.
Yang ia dapatkan hanya tatapan kosong dari si mata biru. Tatapannya terasa dingin, dalam dan sunyi. semakin lama tatapan mata itu seolah menyeretnya dalam ketenangan.
Dan ketakutan.
Sasuke mengangkat kedua tangannya. "Aku menyerah."
Suasana ruangan langsung terang menderang. Beberapa orang memasuki ruangan sambil menahan senyum geli.
"Ternyata Uchiha yang legendaris bisa kalah juga." Ucap Kimimaro sambil tertawa.
"Pertunjukan yang bagus Uchiha, setidaknya anda masih bisa bertahan lebih dari lima menit, rekor baru." Ujar Mizuki, sang asisten dosen.
Sasuke hanya memandang mereka dengan tatapan bosan. Dalam hati ia jengkel luar biasa. Dalam simulasi interogasi kali ini ia kalah telak, dari seseorang yang bahkan tidak berbicara sedikit pun.
"Terimakasih Uzumaki-san atas partisipasinya. Penampilanmu sungguh menakjubkan."
"Sama-Sama Sensei, senang bisa membantu."
Setelah mendapat kupon Ichiraku dan bonus mengalahkan Sasuke, tentu saja.
"Yakin tidak mau pindah jurusan? Bakatmu luar biasa."
Naruto tersenyum." Terimakasih tawarannya sensei, saya masih menikmati jurusan saya. Lagipula saya masih bisa mengambil beberapa mata kuliah dari jurusan anda."
Mizuki menepuk bahu Naruto pelan, "Tentu saja."
Setelah acara beres-beres ruangan simulasi selesai, mereka bersiap pulang. Sasuke berhenti sejenak, ada pesan di ponselnya.
From : Baka Aniki
Hari ini aku akan ikut seleksi prajurit. Doakan aku Ototou.
Sasuke tersenyum.
To: Baka Aniki
Tentu Saja, Doaku menyertaimu Nii-san. buktikan padaku kau tidak bodoh.
From: Baka Aniki
Adik sialan. Jangan lupa sampaikan salamku pada bidadari bermata birumu.
Sasuke mengernyit heran, darimana Anikinya Tahu tentang Naruto?
Lagipula ia salah menyangka, Naruto bukan bidadari.
Dan Sasuke belum tahu ia pantas masuk kategori apa.
.
.
.
Seorang pria berambut merah jabrik tampak mengemudi membelah jalanan kota yang lengang. Di sampingnya seorang wanita hanya memandang jalanan dengan tatapan bosan.
"Ku-nii, kapan kita sampai?"
"Sebentar lagi adikku."
Naruto memandang Kurama dengan tatapan kesal," Sebentar lagi apanya, kalau saja kita tidak mengambil jalan memutar kita pasti sudah sampai rumah. Lagipula cara kakak menyetir itu lambat sekali, seperti siput. Kenapa tadi kita harus mampir sana-sini dulu sih?! Aku capek?!"
"Sekedar info adikku, stok bahan di dapur sudah habis. Jadi ibu memintaku untuk mampir. Dan kita sekarang membawa banyak alat katering, jadi tidak bisa ngebut. Ada apa dengan mu Naruto? Kau PMS atau obatmu habis?"
Naruto hanya mendengus kesal.
Kurama tersenyum mafhum. Ia menyalakan radio, berusaha mengisi kesunyian diantara mereka.
Seleksi penerimaan tentara telah dimulai, bagi anda putra-putri terbaik negeri ini, silahkan mendaftar di markas terdekat.
"Ku-nii tidak ikut daftar?"
Kurama menggeleng," Tidak. Siapa yang akan mengurus Uzu kalau aku ikut mendaftar."
"Serahkan saja padaku."
Kurama mendengus geli," Dan membiarkan Uzu bangkrut? Yang benar saja."
Naruto mendelik sebal," Mentang-mentang Kakak lebih jago memasak daripada aku. Aku hanya takut lama-lama kakak akan menikahi panci sayur."
Kurama terkekeh, " Asal kau tahu adikku, memasak sudah mendarah daging dalam diriku. Kalaupun aku menjadi tentara, aku pasti akan menjadi perda, perwira urusan dapur. Aku akan segera dipecat setelah itu karena membuat para prajurit menjadi gemuk."
Naruto ikut tertawa.
"Selain itu, aku yakin diluar sana ada banyak calon prajurit yang bisa menjaga negeri ini lebih baik dariku. Tapi tak akan ada yang bisa menjaga kau dan ibu selain aku. Kau masih harus kuliah Naruto, kejarlah mimpimu. Biarkan Uzu menjadi urusanku."
"kakak tidak menyesal tidak bisa kuliah?"
"Aku akan lebih menyesal jika tidak mengurus Uzu, dan ternyata itu lebih menyenangkan dari yang kukira. Tidak perlu khawatir aku akan menikahi panci sayur adikku."
"Lalu kau akan menikahi siapa?"
" Penggorengan."
Mereka berdua tertawa bersamaan. Suasana yang awalnya canggung kini berangsur menghangat.
"Ceritakan padaku bagaimana si pantat ayam itu."
"Dia baik-baik saja."
"Dia belum menyerah karena kelakuan ajaibmu kan?"
Naruto tersenyum geli, "Kurasa belum."
"Aku harus berterima kasih padanya karena sudah menjagamu saat aku tidak bisa."
"Kurasa tidak usah kak, nanti kau dikira naksir padanya."
"Naksir? Astaga Naruto aku tidak tahu kau seposesif itu."
Naruto tertawa," Dia bukan pacarku kak."
"Mungkin belum, ternyata adikku normal juga."
"Maksud kakak?"
"Sejak dulu kau tidak pernah naksir laki-laki. Aku khawatir kau benar-benar lupa kalau kau perempuan."
" oh ya, Kakak mungkin lupa, dulu aku pernah naksir Shikamaru."
Kurama melirik Naruto sekilas," Oh iya aku lupa. Lalu kenapa kalian tidak jadian?"
"Dia suka wanita yang lebih tua. Dia lebih senang bersahabat denganku. Setelah aku pikir lagi, itu hanya perasaan sesaat saja. Toh aku tidak merasakan apapun saat Shikamaru jadian dengan yang lain."
"Benarkah? Ternyata adikku sudah besar."
Naruto tertawa. Obrolan kakak-beradik itu terus berlanjut di sepanjang perjalanan pulang mereka.
.
.
.
Sasuke duduk dengan gusar, ia tegang.
Mendadak ia dipanggil pulang oleh ibunya. Dan Itachi pun tidak terlihat di mana pun. Sepertinya sesuatu yang gawat telah terjadi.
Mudah-mudahan bukan sesuatu yang buruk.
Sasuke menatap Fugaku, sang ayah yang duduk dihadapannya dengan tatapan gusar sekaligus heran. Tidak biasanya Ayahnya ingin bicara berdua saja.
Demi celana kolor kakeknya, Sasuke tidak pernah setegang itu sebelumnya.
Fugaku memandang lurus putranya," Itachi tidak lulus seleksi."
Well, itu benar-benar mengejutkan. Batin Sasuke.
"Dalam Sejarah Klan kita, dalam setiap generasi pasti ada yang meneruskan tradisi menjadi prajurit."
Sasuke mendengarkan dalam diam.
"Karena itu, Ayah ingin kau menggantikan Itachi, Sasuke."
Sasuke merasa saat itu langit jatuh menimpa kepalanya.
TBC
AN : Halo semua. Maaf updatenya telat. Saya agak sibuk belakangan ini. Apakah chapter ini feelnya sudah berasa?
Untuk lanjutan fic menemukanmu, baru selesai 50%. Karena saya bertekad cerita itu akan menjadi threeshoot, chapternya jd sangat gemuk. Sabar saja ya.
Terima kasih untuk semua fav, follow dan review serta silent reader yang berkenan membaca cerita saya.
Untuk yang mereview saya balas lewat PM.
Salam
Primara
Omake
Temari memandang pria pemalas didepannya dengan gusar. Ia mendapat kabar kalau Shikamaru pernah ditaksir si pirang Naruto. Dan jujur saja hal itu membuatnya tidak nyaman. Apalagi Shikamaru lebih sering bertemu dengan Naruto dibandingkan dengan dirinya.
Temari cemburu.
Shikamaru melirik Temari,"Ada apa?"
"Benarkah Naruto pernah menyatakan cintanya padamu?"
"Benar."
"Lalu kenapa tidak kau terima?"
Shikamaru terkekeh geli, "Menerimanya? Jangan bercanda. Dia wanita pirang paling merepotkan yang pernah ku kenal. Dia sudah kuanggap adikku sendiri. Mengencaninya seperti incest bagiku. Lagipula Naruto lebih mencintai ramen dibanding apapun."
Shikamaru menggenggam tangan Temari."Cemburu itu merepotkan, percayalah padaku."
Pipi Temari merona.
" Asal kau yahu saja Si pirang berisik itu sekarang sudah memiliki incaran baru."
