Pepatah mengatakan, yesterday is a history, tomorrow ia a mystery and today is a present,

Bertemu kembali denganmu setelah sekian waktu berlalu. Apakah ini hadiah yang telah tuhan janjikan, ataukah sekedar hukuman?

Hukuman karena meninggalkanmu , padahal jauh d ilubuk hatiku, aku masih ingin memilikimu.

Facing Memories, Facing Future

Disclaimer : ©Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya memakai karakternya untuk hiburan

Warning : FemNaru, AU. OOC, Typo, author Newbie. Pairing belum ditentukan

Read n Review please

Facing Future : Secangkir Kopi Alkateri

Rintik-rintik air hujan yang jatuh membasahi bumi menambahkan kesegaran baru dan hawa dingin yang sayup-sayup membelai wajah Sasuke. Sore ini, setelah menyelesaikan tugasnya memantau patroli pengamanan acara negara. Ia melangkahkan kaki ke sebuah kedai kopi di jalan alkateri. Sebuah kedai kopi kecil yang menyimpan banyak nostalgia, termasuk cerita antara Ia dengan Naruto.

Suasana khas tempo doeloe langsung menyergap manakala Sasuke memasuki kedai. Tata ruangan yang masih mempertahankan dekorasi khas pecinan membuat penat Sasuke langsung berkurang seketika. Sore itu kedai terlihat tidak terlalu ramai, mungkin warga kota banyak yang memilih melihat persiapan acara festival yang pertama kali digelar setelah enam dekade.

Setelah memesan kopi dan cemilan, sasuke melihat suasana sekitar sembari mengecek ponselnya saat matanya menangkap sosok yang membuatnya hampir menjatuhkan ponselnya. Sosok itu masih sibuk menutup payung lipat yang dibawanya. Rambut pirangnya yang tergerai terlihat basah oleh tetesan air hujan, sosok itu berrjalan memasuki kedai dengan langkah ceria, senyuman dan mata birunya yang cerah sangat kontras dengan suasana mendung di sore itu.

Sasuke terpaku beberapa saat, otaknya seketika macet. I yakin sosok yang dilihatnya itu adalah Naruto. Ia bingung, haruskah ia menyapa Naruto? Atau pura-pura tidak melihat dan kabur saja?

Mendadak sosok Suigetsu dengan seringai menyebalkannya hinggap di kepala Sasuke,

" Masa iya Sasuke The Almigthy dikalahkan oleh kenangan mantan."

Dengan perasaan yang masih tidak karuan , Sasuke beranjak dari tempat duduknya. Ia memberanikan diri menghampiri Naruto.

" Naruto?"

_FMFF_

Dalam minggu ini. Suasana kota sedang ramai luar biasa. Banyak reporter dan pemburu selfie berjubel disekitar jalan Utama Asia-Afrika. Acara peringatan konferensi yang berlangsung enam dekade lalu menjadi momentum bagi warga kota untuk beradu eksis, dan momentum Naruto untuk ikut pusing.

Niat awal Naruto ke kota hanya untuk melegalisir ijazahnya saja dan mampir ke kedai Ramen Ichiraku. Tetapi setelah makan, Naruto ikut melihat persiapan festival. Setelah pusing dan penat berdesakan, Naruto memutuskan untuk keluar dari kerumuman, menerobos gerombolan massa untuk menuju kawasan pecinan.

Di kawan pecinan yang berderet toko-toko elektronik, Naruto menemukan sebuah kedai kopi. Hujan rintik membuat Naruto menggigil dan semakin menguatkan hasratnya untuk memesan kopi susu panas yang mengepul ditambah dengan lumpia goreng yang menggoda iman. Padahal Naruto baru saja menghabiskan dua porsi miso ramen jumbo.

Naruto melipat payungnya dan memasuki kedai, rambutnya yang sedikit basah dibiarkan tergerai. Naruto tersenyum melihat suasana kedai yang sepi, dengan begini ia bisa bersantai dan mengumpulkan inspirasi untuk media konseling.

Sebelum mencapai meja yang dituju, seseorang berpakaian tentara menghampirinya.

"Naruto?"

Naruto menatap sosok dihadapannya dengan tatapan bingung, apa yang sebenarnya ia lakukan hingga disapa oleh seorang tentara? Apa rambut pirangnya merusak pemandangan ? atau ia kedapatan mencuri?

Mencuri hati, mungkin?

"iya saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"

Sosok itu tersenyum, senyum yang sangat luar biasa canggung.

"ini Aku, Sasuke."

Sa-su-ke, Naruto mencoba mengingat siapa gerangan pemilik nama itu.

"Sasuke siapa ya?"

Sosok dihadapannya menatap Naruto seolah mengatakan what the hell?!

"Uchiha Sasuke."

Tatapan mata Naruto langsung berubah seketika.

_FMFF_

Bertemu dengan mantan sudah merupakan uji nyali. Bertemu mantan yang pelupa? Itu namanya uji kesabaran.

Sasuke hampir saja menepuk dahinya saat Naruto bertanya 'Sasuke siapa ya?' semudah itu kah sosok sekeren Sasuke dilupakan?

Tapi nyali Sasuke langsung ciut seketika ketika postur Naruto berubah tegang dan tatapan matanya menjadi serius saat mendengar Sasuke menyebutkan nama lengkapnya. Sepertinya Naruto tidak melupakan Sasuke sepenuhnya.

"Bisakah kita duduk bersama? Ada yang ingin aku bicarakan."

Tanpa banyak bicara, Naruto berjalan mengikuti Sasuke. Mereka kemudian duduk berhadapan.

Suasana mendadak menjadi mencekam, Naruto yang awalnya ceria menjadi pendiam seketika. Sasuke menatap Naruto dengan canggung dan bingung.

_FMFF_

Naruto meminum kopi susu dicangkirnya dengan perlahan. Ekspresinya datar, seolah sedang memikirkan sesuatu, Sasuke berusaha menghangatkan tangan yang mendadak dingin dengan menempelkannya ke cangkir kopi.

" Bagaimana Kabarmu Naru?"

"Baik. Kabarmu?'

"Baik juga, hanya sedang sibuk memamtau patroli festival."

"Oh, aku tidak menyangka kau akan ditugaskan disini."

" Aku juga."

Sasuke meneguk sedikit kopinya, mencoba sedikit lebih rileks.

"Bagaimana kabar yang lainnya? Aku jarang berkomunikasi lagi dengan mereka."

Naruto tersenyum, "mereka semua baik. Kiba sudah membuka Klinik. Shikamaru kau tahu sendiri dia dimana dan bagaimana. Chouji sedang traveling. Sakura sedang sibuk residensi. Ino masih sibuk dengan proyek besarnya."

"Si muka mayat?"

Naruto tersenyum semakin lebar, "Oh Sai, dia masih bekerja bersamaku. Sesekali dia menerima tawaran melukis."

Ada bagian kecil dari hati Sasuke yang mengatakan, 'sialan kau Sai'.

"Apa yang ingin kau bicarakan denganku Sasuke?"

Suasana yang mulai menghangat itu kembali serius.

Sasuke menghela nafas, "ada sesuatu yang membuatku penasaran Naruto. Kenapa dulu kau menolakku untuk kembali padaku?"

Naruto tersenyum, "kenapa kau menanyakan hal itu? Apa karena kau masih peduli atau sekedar penasaran?"

Ternyata Naruto masih setajam dulu. Sasuke Langsung kena skak.

"Oke, aku hanya penasaran. Aku tidak mau menerka-nerka dan berakhir mati penasaran. Apa kau menolakku karena aku sudah berubah?"

Naruto kembali meminum kopinya dengan santai, seolah sengaja mengulur waktu.

"Bukan itu."

"Lalu?"

"Aku memilih untuk meninggalkanmu bukan karena kau sudah berubah."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, sedikit tidak sabar dan heran dengan jawaban Naruto.

"Because you never changed, at all.".

" What?!"

" Mungkin kau telah menjelma selayaknya pria Uchiha yang menjadi perwira. Tapi sebenarnya kau tidak banyak berubah, tetap Sasuke yang selalu ragu dengan keputusannya."

Sasuke berusaha mencerna kata-kata Naruto barusan. Ternyata selama ini perkiraannya meleset. Naruto mengenal diri Sasuke lebih baik dari siapapun. Wanita yang belajar psikologi sungguh mengerikan.

"Jadi karena itu kau meninggalkanku? Bukan karena kau sudah tidak mencintaiku lagi?"

Naruto tersenyum, "cintaku padamu mungkin tak banyak berubah. Tapi kau juga tahu sendiri, di usia kita sekarang cinta seringkali berbenturan dengan realita. Kita hidup di dunia nyata yang kisahnya seringkali tak seindah kisah cinta dalam roman"

Sasuke masih memandang Naruto dengan pandangan tidak percaya. Ia tidak yakin wanita dihadapannya ini adalah wanita yang beberapa saat yang lalu gagal mengenalinya. Sekarang ia sedang berhadapan dengan Naruto yang selalu tepat sasaran. Wanita yang belajar psikologi itu mengerikan dan selalu tepat sasaran, camkan itu.

"Naruto, seandainya aku tidak memilih menjadi perwira, apakah kau masih akan bersamaku?"

"Bisa iya bisa tidak. Kau tahu sendiri, hal yang selalu ada dan tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Bisa jadi aku akan tetap meninggalkanmu juga. Mungkin dengan alasan yang berbeda."

Sasuke terdiam. Mencoba mencerna kalimat Naruto.

Naruto meletakan telapak tangannya diatas tangan Sasuke.

"Sasuke, jangan terlalu banyak berkhayal, hadapilah kenyataan. Ingat, seandainya adalah kata yang berbahaya karena dapat membuatmu tidak dapat membedakan yang mana realita dan yang mana yang tidak nyata."

Sasuke tersenyum, senyum yang pahit.

"Terimakasih, Naruto."

Naruto tersenyum, "jangan lupa bahagia, Uchiha Sasuke."

_FMFF_

Sore hari kini telah menjelang senja. Sasuke menatap rintik hujan dari balik jendela kedai kopi. Naruto sudah pergi beberapa menit yang lalu. Namun Sasuke masih terdiam di kedai kopi yang penuh kenangan itu, berusaha meresapi kembali setiap kata dari percakapannya dengan Naruto.

Tangannya kini memegang cangkir kopi yang mulai dingin, secangkir kopi yang membawanya pada memori, memori yang terkenang dan menggenang di hati dan pikirannya.

'Because you never changed, at all.'

"At least, You know me so well, Naruto."

Author note :

Hai masih ingat saya? Hehe

Mohon maaf telat update karena kesibukan di dunia nyata. masih lanjut kok ceritanya, mungkin agak tersendat lagi updatenya.

Saya membutuhkan beta reader untuk memperbaiki typonya, adakah yang berminat?

Selamat membaca.

Omake

Utakata membaca majalah otomotif kesayangannya dengan tenang dan damai di meja kasir. Sore ini, kedai kopi milik kakeknya sedang sepi. Hanya terlihat beberapa pelanggan saja. Sepertinya perhatian warga kota sedang tertuju pada festival.

Suasana kedai yang sepi membuat Utakata bisa mendengarkan percakapan pelanggan, terutama pelanggan berbaju tentara dan wanita berambut pirang diujung sana. Percakapan mereka terlalu puitis untuk dicerna otak konkrit milik Utakata. Utakata mencoba untuk bersikap tidak peduli dan tetap fokus pada majalah otomotif yang sedang ia baca.

Tapi tidak dengan Fuu, saudara sepupunya yang sedang memainkan pensil tepat disampingnya. Sedari tadi ia memperhatikan percakapan para pelanggan itu. Untuk saja meja kasir sedikit terhalang, kalau tidak Fuu pasti sudah mendapat deathglare karena mengganggu privasi orang lain.

" Kakak, kenapa sih sekarang ini banyak yang gagal move on?

Mata utakata tetap fokus pada majalahnya,

"Karena sejak kecil kita belajar untuk mengingat, bukan melupakan."

"Oh…"