Jiwon

Jisoo x Wonwoo

.

.

.

V is very, very extraordinary –

Wonwoo membasuh wajahnya, dengan raut wajah bingungnya. Ia mengigit bibirnya sendiri hingga tanpa sadar melukai bibirnya sendiri. Berkali-kali ia menghela nafasnya dengan berat sambil menarik rambutnya sendiri. Matanya nampak berair, lututnya terasa lemas hingga membuatnya duduk dilantai yang dingin dikamar mandinya. Kepalanya terasa sangat berat sekarang, penglihatannya nampak memburam sekarang, sejujurnya ia adalah orang yang tak bisa terserang panik dan inilah yang akan terjadi jika ia panik. Tangannya memegang ponselnya dengan gemetar, mencari sesuatu lalu menempelkan benda itu ditelinganya.

"Mom.. aku.. aku sakit mom.."suaranya sangat pelan yang berakhir dengan tangisan sebelum kesadarannya menghilang dengan sempurna.

"Hyung! Yak! Hyung gwaenchana.."suara di ujung sana terdengar sangat panik setelah mendengar suara wonwoo yang tiba-tiba menelpon apalagi saat Wonwoo memanggilnya 'Mom'. Astaga, rasanya tak mungkin wonwoo mabuk lalu memanggilnya dengan panggilan 'Mom'. Dengan segera ia berlari dari apartementnya menuju apartement wonwoo yang hanya berbeda 2blok.

Ia masih berlari dengan sangat cepat, kakinya yang panjang membuatnya lebih mudah untuk berlari dengan langkah yang cukup lebar. Lupakan penampilannya yang pastinya akan sangat berantakan. 10menit berlari nampaknya tak membuatnya lelah sedikit pun. Tangannya memencet berkali-kali tombol didepannya, berharap sang pemilik rumah membuka pintunya. Merasa tak ada jawaban, membuat ia mengeluarkan ponselnya mencari kontak di ponsel. Nama 'Joshua Hyung' terpampang didepannya tapi ia tak mungkin menghubungi namja itu yang sedang sibuk keluar kota karena bisnisnya. Ia bisa menghancurkan bisnis hyungnya kalau ternyata wonwoo baik-baik saja. Hingga akhirnya.

"Halo mingyu ada apa"suara diujung sana membuat mingyu –namja itu- sedikit tersentak. Ia bahkan tak sadar jika ternyata ia menelpon Seungcheol, kakak sepupunya sekaligus pemilik gedung apartement ini.

"Tadi wonwoo hyung menelpon, ia memanggilku dengan sebutan 'mom' ia bilang dia sakit lalu tak ada suara lagi. Hyung aku takut"suara Mingyu nampak bergetar dengan wajah yang memucat memikirkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi.

"Calm down, kau sudah keapartementnya?"

"Sudah hyung, tapi wonwoo hyung tak keluar-keluar dari tadi, hyung apa aku bisa meminta password apartement wonwoo?"

"Aku akan memintanya sebentar"

Panggilan itu terputus meninggalkan mingyu yang masih mengetuk pintu yang ada dihadapannya. Tangannya bahkan mulai memerah karena ia terlalu keras mengetuk pintu itu. Airmata nampak menggenangi pelupuk matanya. Mingyu bukan orang yang mudah menangis, ia hanya akan menangis karena keluarganya dan hanya karena Wonwoo ia akan menangis. Terutama saat mingyu menyatakan perasaanya pada wonwoo yang berujung penolakan karena wonwoo ternyata telah memiliki hubungan khusus dengan Joshua. Wonwoo begitu memikat baginya. Ia menjadikan wonwoo sebagai poros hidupnya. Perasaan luar biasa itu tumbuh untuk pertama kalinya bagi mingyu.

"17****"

Pesan dari seungcheol membuat mingyu memasukan password itu dengan segera.

Click

Pintu itu terbuka, dengan cepat mingyu berlari menyusuri setiap ruangan yang ada diapartement wonwoo dan berhenti didepan kamar yang ia yakini ini adalah kamar utama karena pintu yang diukir itu berukuran lebih besar. Mingyu memasuki ruangan itu mengedarkan pandangannya ke segala arah, kekacauan yang terlihat membuat mingyu merapalkan berbagai macam doa yang mengalir begitu saja dari mulutnya.

Hanya satu pintu yang belum ia datangi, pintu berwarna putih tulang didepannya. Dengan perlahan mingyu membuka pintu dengan hati-hati. Ia menyembulkan kepalanya, pandangannya terpaku pada sosok yang dicarinya. Dengan kemeja putih transparan, ia tergeletak dilantai dengan bibir yang membiru.

- V is very, very extraordinary –

Mingyu mendudukan tubuhnya disamping wonwoo yang nampak tenang dalam tidurnya. Tangannya sudah terpasang infus. Mingyu akhirnya bisa bernafas dengan lega saat mendengar wonwoo hanya mengalami serangan panik. Mingyu tak bisa bayangkan hal lain yang mungkin bisa terjadi dan mungkin lebih buruk. Ia mengenggam tangan pucat wonwoo dengan perlahan, menggenggamnya dengan erat meminta agar tangan itu tak pergi darinya. Ia menginginkan wonwoo, menginginkan namja manis itu menjadi satu-satunya sumber kebahagiannya. Matanya memerah menatap wonwoo. Kilasan-kilasan tentang masa lalu mereka nampak menyapanya.

Flashback on

Suasana cafe yang saat mingyu datangi sedikit lebih sepi dari biasanya. Hujan nampak menguyur kota seoul dengan deras, tentu saja itu salah satu yang membuat cafe ini nampak sepi. Berulang kali ia melihat kearah jam tangannya, memastikan jika namja yang ia hanya tunggu pasti hanya akan terlambat beberapa menit walaupun sebenarnya ia sudah telat 1 jam. Dan mingyu takkan merasa keberatan atas hal itu.

"Maaf aku terlambat"wonwoo mendudukan dirinya tepat dihadapan mingyu, tangannya sibuk mengibas-ngibas rambutnya yang basah terkena tetes air hujan.

Mingyu mengeluarkan handuk kecil yang selalu ia bawa saat ia akan latihan basket dan mengusap-ngusapkan handuk itu dikepala wonwoo. Membantu mengeringkan kepala wonwoo.

"Kau bawa handuk kecil gyu? Kau ingin latihan lagi? Bukankah sekarang hujan"wonwoo membiarkan mingyu yang mengeringkan rambutnya.

"Aku ada pertandingan 3hari lagi hyung, jadi aku harus tetap latihan"

"Kalau kau ada latihan, kenapa kau malah mengajakku bertemu gyu? Dan handukmu jadi basah kan"wonwoo menyingkirkan tangan mingyu dari kepalanya dan melepas handuk itu.

"Ada yang harus ku katakan padamu. Biarkan handuk itu basah yang terpenting kau tak sakit hyung"mingyu tersenyum lebar membuat wonwoo menatap bingung kearahnya. Sebenarnya mingyu akan selalu tersenyum lebar dihadapan nya namun kali ini ia merasa sedikit aneh.

"Bicara apa gyu?"wonwoo meniup hot chocolate yang tadi ia pesan.

Tangan mingyu meraih tangan kecil wonwoo, menggenggamnya dengan erat dan menatap kearah mata rubah wonwoo. Walaupun mingyu lebih muda dari Wonwoo, Mingyu tetap saja lebih besar darinya. Itulah yang membuat Mingyu selalu ingin menjaga hyung manisnya.

"Aku menyukaimu hyung, sejak pertama kali bertemu denganmu di koridor kampus, entah mengapa jantungku berdebar dengan cepat. Melihat wajahmu yang sempurna membuatku tak mampu mengalihkan pandangan pada siapapun. Ini gila, gila karena aku menyukai seorang namja. Ini adalah perasaan yang sangat-sangat luar biasa, entah mengapa aku merasakan perasaan ini padamu. aku Ingin hyung menjadi milikku, aku janji aku akan menjaga hyung dan takkan ku biarkan siapapun menyakitimu. Ku mohon, jadilah pacarku hyung"mingyu menatap wonwoo seolah-olah tak ingin wonwoo menghilang dari pandangannya. Matanya memperhatikan gerak gerik wonwoo dan juga memperhatikan ekspresi terkejut wonwoo.

Semua bahkan bagai slow motion dimana wonwoo menarik tangannya dan menundukan kepalanya.

"Maafkan aku mingyu, aku tak bisa. Jujur aku sangat menyayangimu tapi aku menyayangimu sebagai adikku. Aku hargai perasaanmu padaku. Perasaan ini memang sangat-sangat luar biasa sama seperti katamu. Tapi aku menganggapmu tak lebih dari perasaan seorang kakak kepada adiknya. Aku hanya ingin hubungan kita tetap seperti ini tanpa ada kata berakhir yang mungkin akan terucap. Aku ingin kau selamanya menjadi adikku dan aku adalah kakakmu. Kau pantas dapat yang lebih baik dariku."ucapan wonwoo membuat Hujan terasa lebih dramatis bagi mingyu tentu saja diiringi petir yang seolah-olah menyuarakan perasaan yang tengah ia rasakan saat ini.

Flashback off

"kenapa aku sulit menghilangkan rasa ini hyung. Kenapa aku masih mencintaimu sama seperti 2tahun yang lalu? Kenapa aku masih sangat memuja mu? Kenapa rasanya sangat sulit hyung"mingyu menundukkan kepalanya dan menangis dalam diam. Sungguh baginya ini adalah perasaan luar biasa yang sangat menyiksanya. Setelah lelah menangis, mingyu menatap ponsel wonwoo yang selalu bergetar dari tadi. Tangannya mengambil ponsel itu menempelkan ponsel itu ditelinganya.

"Sayang! Astaga aku menelponmu dari tadi, kenapa tak kau angkat eoh?"

"Hyung ini aku mingyu"mingyu menjawabnya dengan suara yang serak.

"Yak! Apa yang kau lakukan pada calon istriku! Astaga aku bersumpah akan membunuhmu jika kau berani menyentuh wonwoo!" mingyu sedikit menjauhkan ponsel itu dari kupingnya, suara teriakan frustasi joshua terdengar sangat kencang.

Mingyu mulai menceritakan semua yang terjadi, tentang alasan dia bisa ke apartement wonwoo. Satu hal yang mingyu tahu, Joshua sangat menjaga wonwoo dengan sepenuh hatinya. Hal itulah yang membuat mingyu mempercayai Joshua, setidaknya wonwoo takkan tersakiti. Ia bahkan merasa bahagia karena wonwoo berada pada seseorang yang tepat. Cinta ini sangat luar biasa. Ia begitu dekat dengan orang yang ia cintai tapi ia tak bisa meraih cinta itu. Cinta yang luar biasa yang menimbulkan perasaan yang luar biasa juga yang menimbulkan rasa sakit yang sangat luar biasa

- V is very, Very extraordinary –

It's very extraordinary but sorry I can't love you mingyu.