Jiwon
Jisoo x Wonwoo
.
.
.
Seorang namja manis tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar berkali-kali. Tangannya ia lipat didepan dadanya dengan tatapan tajam menatap namja tampan yang ada dihadapannya.
"Aku mau pulang sekarang!"namja manis itu nampak bersikeras dengan keinginannya.
"baiklah kita pulang hari ini"dengan pelan namja tampan yang ada dihadapannya coba memberikan penjelasan pada namja manis itu. Namja manis bernama wonwoo yang sudah menjadi housewife-nya selama 2tahun ini.
Joshua –namja tampan itu- merangkul wonwoo dengan erat. Setelah dua hari ia dirawat akhirnya sekarang ia diperbolehkan pulang, setelah mendengar wonwoo masuk rumah sakit. Joshua membatalkan semua kontrak kerjasamanya demi wonwoo. Demi malaikat cantik yang mampu menyentuh hatinya. Malaikat cantik yang takkan pernah ia lepaskan
"Hyungie.. aku ingin mengunjungi eomma. Tidak bisakah kita kerumah eomma sekarang?"
Joshua mengangguk-anggukan kepalanya sebagai persetujuan. Semua permintaan wonwoo adalah harga mati yang harus selalu ia turuti kecuali kalau wonwoo meminta mereka berpisah. Perjalanan kerumah eomma wonwoo memang cukup lama, karena jaraknya yang lumayan jauh. Joshua masih fokus mengemudi namun beberapa kali joshua akan menggenggam tangan wonwoo dan mengecup punggung tangannya. Terlihat sangat manis dan sederhana bukan?
Wonwoo memejamkan matanya lelah karena perjalanan jauh ini dan lelah karena ia baru saja keluar dari rumah sakit. Ia menyenderkan kepalanya pada kursi, mengatur nafasnya mencoba mencegah serangan panik itu terjadi. Joshua mengamati wonwoo yang tampak berbeda. Wajahnya terlihat semakin memucat, tubuhnya yang semakin ramping dan juga pipinya yang semakin tirus. Beberapa hari ini ia memang sedikit sibuk hingga tak memperhatikan wonwoo.
"Aku tak menyangka kau akan sekurus ini sayang, kau tak mencoba diet bukan?", Suara joshua memecah keheningan yang terjadi begitu saja.
"Sepertinya tidak", jawaban itu terlalu singkat menurutnya. Jawabannya yang tak pernah ia fikirkan sebelumnya. Mengerti bahwa Wonwoo tengah lelah, joshua hanya menampilkan senyumnya. Senyum palsunya di balik semua pemikirannya. Pemikiran tentang rencana yang akan ia susun untuk kedepannya.
Afire Love
Joshua hampir saja terlelap sebelum tangisan mengusik pendengarannya. Tangisan terpilu yang baru pertama kali ia dengar. Tangisan yang menyayat hatinya, tangisan yang pastinya sangat ia kenal. Ia mencoba menutup mata dan telinga. Tangisan keputus-asaan atas apa yang terjadi. Pikirannya kembali melayang dihari dimana Wonwoo menginginkan untuk bertemu ibunya. Bahkan Joshua masih sangat mengingat raut wajah ibu wonwoo saat berbicara padanya. Menyampaikan sebuah kenyataan yang seharusnya menjadi sebuah rahasia seorang Jeon Wonwoo.
"Hyung.. apa hyung akan tetap mencintaiku walau aku tak cantik seperti ini?"
"Hyung.. Apa kau akan meninggalkanku saat aku mencukur habis rambutku?"
"Hyung.. Apa kau sangat mencintaiku sampai rasanya kau ingin gila?"
"Hyung.. Apa kau akan tetap setia padaku sampai akhir hayat?"
"Hyung.. Aku mencintaimu"
Semua pertanyaan wonwoo kembali terngiang dalam benaknya. Ini sudah memasuki hari ke-10 setelah ia mengetahui sebuah rahasia terbesar seorang Jeon Wonwoo. Ia masih mencoba bersikap seperti biasa, bersikap layaknya seorang Joshua yang tak pernah mengetahui rahasia istrinya itu.
"Sayang? Kau masih mandi? Ayo keluarlah, nanti kau sakit.."Joshua menghembuskan nafasnya sekali tarikan. Terlalu berat untuk berpura-pura seperti ini. Terlalu berat untuk menahan semua rasa ini.
Afire Love
Seorang namja duduk diam menatap sebuah pintu yang ada dihadapannya. Airmata nampak membasahi pipinya, tangannya masih mengcengkram kemeja nya dengan erat. Tubuhnya bergetar diiringi gumam-gumaman kecilnya.
"Joshua..." seseorang menepuk punggungnya dengan pelan, menunjukkan rasa kesedihan yang sama.
"Maafkan aku ayah, maafkan aku.." Joshua menatap seseorang yang duduk disampingnya.
"ini bukan salahmu nak, ini bukan salahmu. Ini semua kehendak Tuhan. Tuhan hanya tak ingin ia merasakan rasa sakit yang lebih lama" dengan lembut, ia meraih Joshua dalam pelukannya, sungguh menyedihkan melihat anaknya sendiri merasa terpukul atas kejadian yang baru menimpanya.
"Abeoji maafkan aku.. sungguh, maaf karena aku tak bisa menjaganya dengan baik. Maaf kau tak bisa menjaga wonwoo dengan maaf. Maaf harusnya aku.."ia mendadak kehilangan semua kata-katanya
"Tak perlu meminta maaf, hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhan dan kita tak mampu mencegahnya"
Things were all good yesterday, and then the devil took your memory and if you feel to death today I hope that heaven is your resting place. I heard the doctors put your chest in pain. But then that could have been the medicine. And no you're lying in the bad again. Either way I'll cry with rest of them.
Semua nampak indah dimatanya. Kehidupannya yang sempurna dan wonwoo yang melengkapinya. Wonwoo yang akan menyambut paginya, wonwoo yang akan menemaninya melewati malam yang panjang. Wonwoo yang akan selalu memeluknya, wonwoo yang akan selalu mencintainya. Wonwoo yang akan selalu mengertinya dan menyambutnya saat ia pulang bekerja. Dan sekarang semua bayangan itu runtuh saat wonwoo tak lagi sama seperti dulu. Ia sudah mencari wonwoo diseluruh tempat dalam rumahnya. Namun, wonwoo tetap tidak ada dimanapun. Tawanya mendadak terdengar sangat memilukan setelah itu. Menulikan setiap orang yang mendengarnya. Suara joshua yang meraung-raung dengan tangisnya. Suara yang menyayat hati siapapun.
"Kau pergi terlalu cepat"
Tangannya menggapai udara kosong diatasnya, memeluk sesuatu yang bahkan tak nyata. Memeluk udara kosong yang menambah rasa sakitnya. Semua bayangan laki-laki manis itu terus berputar dikepalanya. Bayangan tentang semua hal yang telah terjadi. Bayangan seorang namja manis yang selalu membuatnya bahagia, seorang namja manis yang selalu menggenggam tangannya saat ia merasa lelah dan seorang namja manis yang selalu membuatnya membayangkan betapa indahnya hidup mereka dengan kehadiran seorang anak kecil yang akan menyadang marga 'Hong'.
END
Dan Tuhan telah menentukan setiap takdir ciptaannya. Termasuk pertemuan dan perpisahan. Tuhan kadang memberikan perpisahan yang tak dapat dihindari yaitu kematian. Perpisahan yang terdengar sangat menakutkan. Dimana tak ada satu orang pun yang mampu mencegahnya.
Afire Love
"Joshua, kemari nak. Ibu ingin bicara"sesosok wanita paruh baya nampak menepuk tempat disampingnya dan menyuruh Joshua untuk duduk disampingnya.
"Apa kalian ada masalah?"ia kembali bertanya.
"Tidak bu, kami baik-baik saja. Semua baik-baik saja. Ada apa bu? Apa terjadi sesuatu?"
"Percaya akan takdir Tuhan? Dengarkan ibu nak, kau adalah anakku akan selamanya akan menjadi anakku karena biar bagaimanapun kau adalah sebagian hidup wonwoo. Aku menyayangimu sama kadarnya dengan aku menyayangi wonwoo. Aku tak tahu apa jadinya jika kau tak hadir dikehidupan anakku. Ibu bersyukur kau mau menerima wonwoo dan menuntunnya. Ibu akan memberitahukan satu buah rahasia yang ibu telah tutupi darimu. Ini tentang wonwoo, apa apapun yang ibu katakan nanti tolong tetap cintai wonwoo seperti kau biasa mencintainya.."wanita itu nampak menarik nafas panjang sebelum melanjutkan perkataanya.
"Wonwoo.. Ia terkena kanker otak stadium akhir"Joshua mendadak lupa caranya untuk bernafas. Ia menepuk pelan dadanya yang terasa menyesakkan. Ia mendadak kehilangan pijakkannya.
"Apa ia tersiksa ibu? Apa itu membuatnya sakit? Apa ia pernah mengeluh akan sakitnya ibu? Apa yang bisa joshua lakukan ibu?"
"Tetap disampingnya, genggam tangannya erat dan jangan pernah tunjukkan kesedihanmu didepannya. Wonwoo tak ingin kau mengetahui ini karena ia tahu kau sangat menyayanginya. Baginya perpisahan karena kematian adalah perpisahan yang sangat menyakitkan. Dan sudah cukup kau merasa sakit selama ini. Jadi berpura-puralah kau tak mengetahui apapun dan cintai ia lebih baik. Dan juga relakan ia jika suatu saat ia pergi"
END
-regards Nathan-
