Dating Marriage? © Narugankster

Naruto © Masashi Kishimoto

T+

Uzumaki Family

Warning : Typo?

DLDR okay?

Seperti yang Naruto harapkan, pagi itu begitu cerah. Pagi yang sangat cocok untuk memulai hari spesial ini. Aroma sedap tanah yang lembab di musim semi menguar dari jendela besar di ruang keluarga.

Bibir pria yang sedang menikmati teh pagi itu tak hentinya mengukir senyum sejak ia terbangun karena terus mengingat kebersamaan dirinya dengan sang istri semalam, tapi yang lebih membuatnya tersenyum lebar lagi yaitu karena pagi ini adalah awal dari hari yang sangat ia tunggu bersama Hinata. Hari kencannya setelah sekian lama.

Banyak yang ingin Naruto lakukan bersama istrinya, apapun itu asal bersama dengan Hinata, Naruto yakin ia pasti bahagia. Sekarang, tinggal berpikir dengan segala cara bagaimana sang istri bisa ikut merasa bahagia hari ini. Naruto akan berusaha sebaik mungkin.

"Tou-chaan! Ohayou!" Suara nyaring khas seorang bocah yang menggema keseluruh ruangan sedang berlari menuju sang ayah.

"Boruto, Jangan berlari!" Diikuti suara lembut seorang wanita yang menyusul dari belakang sambil menggendong seorang balita.

"Ahaha ... Ohayou jagoan!" Sambut Naruto pada boruto yang ternyata berlari ke arahnya, dan langsung ia gendong di pangkuanya.

"Ohayou Anata ... Boruto, keringkan rambutmu dulu! Nanti kau masuk angin!" Sapa Hinata pada suaminya dan dilanjutkan dengan menegur si sulung.

"Iyaaa, Kaa-chan! Aku mau ayah yang mengeringkan rambutku! Bolehkan?" Jawab bocah itu dan menatap sang ayah dengan tatapan memohon.

"Ohayou mou, Hinata. Haa ... ya sudah sini, berikan handuk dan sisirnya! biar Tou-chan buat kau jadi tampan Boruto!" Ucap Naruto percaya diri. Membuat bocah di pangkuannya girang.

" yeaah!"

Sementara Hinata, ia hanya tersenyum gemas memperhatikan interaksi anak dan ayah itu. Mereka mungkin bisa terlihat akrab seperti ini, namun tak jarang mereka juga bisa menjadi seperti tikus dan kucing. Yah ... Ayah dan anak laki-lakinya. Sementara Himawari, balita itu hanya baru bisa menghisap jempolnya sambil kadang ikut tertawa jika kakak atau ayahnya melakukan hal konyol.

Menatap mereka seperti ini kadang wanita itu masih sulit percaya, jika inilah keluarganya. Keluarga yang ia bangun bersama Naruto, pria yang dulu bahkan hanya angan bisa satu tim denganya. Rasanya terlalu sederhana jika di lukiskan dengan kata Bahagia, ini lebih dari itu.

"Tou-chan, Kaa-chan ... kapan kami akan ke rumah, Jii-chan?" Boruto yang sedang disisir sang ayah, memecah lamunan Hinata.

"Setelah kau dan Himawari siap tentunya. Oh iya ... Boruto, kau ingin sarapan apa?" Tanya Hinata pada si Sulung, sambil berjalan menuju dapur yang tak jauh dari ruang keluarga.

Mendengar sang ibu, Boruto berpikir sejenak dengan menampilkan ekspresi berpikir. "Hmm ... aku sarapan di rumah Jii-chan saja deh, Oka-chan!" Jawab bocah itu.

Langkah Hinata terhenti dan menoleh. "Ehh? Yang benar. Kau yakin mau seperti itu? Memangnya kenapa?"

"Ha'i ... habisnya, Tou-chan dan Kaa-chan pasti akan sarapan di luar kan? Aku tidak mau makan sendirian dattebasa." Ucap Boruto dengan lirih.

Mendengar nada bicara sang Anak, Naruto sedikit merasa tak enak. "Hee, anak Tou-chan jangan murung seperti ini! Tou-chan kan sudah janji, besok kita akan main sampai kalian puas, mengerti?"

"Iya aku tahu, tapi ... Tou-chan kan sedang diberi liburan, kenapa tiba-tiba Tou-chan dan Kaa-chan dapat misi! Memangnya misi apa sih tebasa?" Keluh Boruto, yang menyangka jika orang tuanya menitipkan mereka karena harus pergi menyelesaikan misi seperti biasa.

Naruto dan Hinata tersentak mendengar penuturan putra mereka, betapa polosnya anak itu sampai tidak tau jika orang tuanya hanya ingin berduaan. Sepasang suami istri itu saling bertatapan sejenak dan kemudian Naruto tersenyum sementara Hinata menggeleng ragu.

"Ne, Boruto ... kau tahukan masalah bisa kapan saja terjadi? Dan kebetulan, misi rahasia ini hanya bisa dilakukan oleh Kaa-chan dan Tou-chanmu saja dattebayo." Jelas Naruto bohong, sambil tersenyum jahil dengan masih menyisirkan surai kuning Boruto. Sementara Hinata hanya menggelengkan kepalanya pasrah.

"Iya! Tapi itu misi untuk apa!?" Tanya boruto masih penasaran.

"Ini misi rahasia, Boruto! Kami tidak bisa sembarang memberitahukan pada orang lain, bahkan keluarga." Jawab Pria itu dengan alasan lain.

"Ukkh ... ya sudah deh! Eng? Ne, Tou-chan! Apa yang kau lakukan pada rambutku dattebasa!?" Ucap Boruto kesal karena merasa jika rambutnya jadi aneh disisir Naruto dari tadi.

Benar dugaan bocah itu, ia meraba kepala kuningnya dan merasakan jika rambutnya tidak seperti biasa. Bocah itu pun berlari kecil menuju cermin ukuran sedang di atas kabinet lalu melihat penampilannya yang begitu aneh. Kini rambutnya yang masih lembab sudah berbentuk seperti gaya rambut milik teman sang ayah, si ahli Taijutsu Rock Lee.

Semantara si pelaku hanya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi sang anak. "Kau tampak manis, Boruto! Ahahah"

Boruto terlihat kesal dan mengacak-ngacak rambutnya agar seperti biasa. "Ukkh! Tou-chan no Baka! Okaa-chan, Tou-chan jahat!" Bocah itu berlari ke arah ibunya dan memeluk pinggang ramping sang ibu.

"Ahahaha, kemarilah! Biar Tou-chan rapikan lagi rambutmu ... ahahah" Goda Naruto pada anaknya lagi.

Hinata menggeleng maklum, namun tak dapat dipungkiri ia juga terhibur. "Naruto-kun! Sudahlah Boruto, ayo ikut Kaa-chan! Biar Kaa-chan yang rapikan rambutmu."

Hinata yang menggendong Himawari pun menyusul Naruto duduk di sofa. Kemudian menyerahkan putrinya yang sudah rapih pada pria itu. "Titip Himawari, Naruto-kun."

Naruto pun mengambil lembut sang putri dari tangan Hinata, dan langsung menciuminya gemas. "Ne, Putri Tou-chan wangi sekali! Hmm.."

Semantara Himawari hanya tertawa geli, karena Naruto terus menggelitik perut Balita itu dengan bibirnya.

"Jangan Cium adikku serperti itu, Oyaji! Nanti Hima jadi bau lagi, dattebasa!" Gerutu Boruto masih kesal dengan ayahnya yang menciumi sang adik.

"Hee, kau cemburu, ne?" Balas Naruto pada putranya jahil.

"Sudah Naruto-kun, Boruto! Jangan bertengkar! Dan kau Naruto-kun, sebaiknya bersiap-siap, nanti kita kesiangan!" Gertak Hinata lembut pada anak dan ayah itu, membuat mereka langsung diam seketika.

Yah selembut-lembutnya Hinata yang dikenal Naruto selama ini. Ibu tetaplah ibu bukan?

.

.

.

Siapa yang tidak tahu, jika Hyūga yang dikenal sebagai salah satu klan terkuat di Konoha, memiliki mansion terbesar di antara klan lainnya. Bangunan berseni tradisional yang terlihat kokoh dan luas menjadikan mansion itu sebagai hunian terbaik di desa.

Dan di sanalah Naruto dan keluarga kecilnya berada. Berada di salah satu roka yang menghadap ke taman yang begitu asri. Naruto duduk sambil memegang gelas berisi teh Hijau di samping sang mertua yang meperhatikan cucu-cucunya bermain dengan bibi mereka.

Naruto begitu merutuki kepergian Hinata yang sedang berada di kamar mandi, padahal niat mereka hanya ingin menitipkan Boruto dan Himawari lalu langsung pergi kencan, tapi malah ada acara mampir begini karena Hinata yang ingin buang air, menyisakan dirinya yang canggung bersama sang ayah mertua berdua. Sampai sulit rasanya pria itu menelan teh yang seharusnya nikmat ini. Padahal pria paruh baya bernama Hyūga Hiashi itu nampak biasa saja.

'Hinata, cepatlah kembali.' Pintanya dalam hati entah pada siapa.

"Ehem ..."

Mendengar suara dehaman berat ayah mertuanya, Naruto tersentak. Lalu setelah itu punggung tangan kekarnya merasakan sesuatu. Pria itu menoleh ke bawah dan sedikit terkejut saat melihat ayah mertuanya menyodorkan sesuatu.

Tanpa menoleh ke arah menantunya, Pria dengan dua cucuk itu berkata. "ini ambilah ..."

"I ... ini apa Tou-sama?" Dengan segan Naruto meletakan gelas digenggamannya dan mengambil amplop berwarna merah yang di sodorkan mertuanya.

"Bukalah," Balas singkat pria paruh baya itu lagi.

Naruto menatap bingung amplop dan mertuanya secara bergantian. Lama berpikir, akhirnya ia putuskan untuk membuka amplop yang telihat elegan itu. Dan kelereng lautnya terbelelak saat berhasil mengeluarkan sejumlah kertas dari dalam amplop dan melihatnya.

"I ... Ini Voucher gratis untuk masuk resort dan pemandian air panas kan? Ta ... tapi Tou-sama"

"Itu adalah resort terbaik yang ada di Negara Api. Pergilah dengan Hinata atau keluargamu ke sana, aku mendapatkan itu karena pemiliknya adalah kenalanku" Potong Hiashi dan menjelaskannya dengan tenang.

"Ke ... kenapa? Tidak! Maksudku ada apa? Kenapa Tou-sama memberikan ini?" Naruto benar-benar kacau jika berbicara dengan ayah mertuanya ini.

Hiashi menoleh dan menepuk-nepuk punggung lebar suami dari putri sulungnya. "Selamat ... selamat hari jadi atas pernikahanmu, Menantu." Ucap Hiashi dan kembali menatap ke arah cucu-cucunya, namun kali ini dapat terlihat senyuman tipis di wajah yang kini sudah dipenuhi keriput itu.

"T ... Tou-sama," Naruto merasa terkejut dan bahagia di saat yang bersamaan. Meski Hiashi jarang menunjukan emosi dan begitu keras, tapi Naruto tahu jika ayah mertuanya itu adalah orang yang hangat. Karena Naruto merasa keluarga kecilnya selalu diperhatikan dengan baik oleh mertuanya, seperti saat ini.

Dengan tiba-tiba Naruto mengubah posisi duduknya jadi bersimpuh menghadap sang ayah mertua yang menatapnya bingung. Lalu Pria bersurai kuning itu menundukan kepalanya, hormat. "Tou-sama, Terima kasih atas segalanya. Aku ... bahagia, bisa punya ayah seperti anda!"

Hiashi tersenyum lagi, menantunya yang satu ini memang kelewat jujur. Mungkin itu salah satu poin yang membuat putri sulungnya tak pernah keberatan mencintai pria yang semasa kecilnya tidak punya orang tua dan dikucilkan penduduk desa.

Andai Naruto tahu Hiashi juga merasa bangga dan bahagia, memilikinya sebagai seorang putra.

.

.

.

"Benar Otou-sama yang memberikan ini, Naruto-kun?" Tanya seorang wanita yang takjub dengan benda tipis di genggamanya.

Pria bernama Naruto mengangguk antusias, "Hmm! Dia bahkan juga mengucapkan selamat pada pernikahan kita!

Hinata menatap Naruto yang tersenyum bahagia dan ikut tersenyum karenanya. "Yokatta ne, Naruto-kun."

Dengan segala obrolan mereka pun berjalan berdampingan, Naruto yang terus berceloteh membuat Hinata kadang tertawa kecil. Siapa pun yang melihat, pasti akan menyangka jika mereka adalah sepasang kekasih yang tengah kasmaran. Tapi sayang tidak ada yang tak tahu pasangan suami istri fenomenal itu di desa.

Suasana ramai langsung terasa ketika kedua langkan kaki yang berbeda ukuran itu sampai di daerah pertokoan. Sahut-menyahut antara pembeli dan pedagang juga mewarnai suasana pusat jual beli di Konoha itu.

Harusnya kedua pasangan itu sudah tahu resikonya jika pergi ke sini, terlebih lagi status idola yang melekat pada pria Uzumaki itu masih belum pudar sejak usainya Perang Dunia Shinobi ke empat beberapa tahun silam. Ya! karena status itulah, tak henti-hentinya para penduduk desa yang berpapasan menyapa, bersalaman, atau bahkan minta berfoto dengan mereka.

Risih? Tentu saja Naruto risih, niatnya ingin menikmati hari ini bersama sang istri dengan perbincangan hangat selama perjalanan. Tapi nyatanya, setiap mulai berbincang ada saja penduduk desa yang menghampiri. Kenapa sih, kedai Ichiraku jadi terasa jauh begini?

Pemuda itu melirik sedih Hinata yang sedang membalas salam dengan senyuman hangat, pada seorang bocah tingkat Genin yang katanya mengidolakan Naruto. Pria dua anak itu jadi tak enak pada istrinya yang ikut kerepotan menangani penggemarnya.

"Ne, Hinata?" Panggil Naruto pada istrinya, ketika bocah tadi sudah pergi. Sambil lanjut berjalan.

Wanita itu menoleh, "Hmm? Ada apa, Anata?"

"Maaf ya ... kita jadi tidak bisa berduaan." Ucap Naruto penuh penyesalan.

Mendengarnya pipi Hinata bersemu merah, bagaimana tidak? Pria itu mengucapkan kata 'berduaan' di tempat seperti ini. Menahan rasa malunya, kemudian wanita itu tersenyum, ia mengingat sesuatu.

"Mou, Naruto-kun. Ini lebih baik kurasa ... dari pada kencan-kencan kita dulu, sebelum menikah." Ucap wanita itu masih tersenyum.

Sementara Naruto, hanya bisa menaikan sebelah alisnya pertanda ia bingung."hee, lebih baik bagaimana, Hinata?"

Wanita itu terkikik, "hihi, Iya lebih baik! Karena dulu ... penggemar yang mengerubungimu, lebih banyak perempuan." Jawab Hinata, membayangkan betapa repotnya ia dan Naruto dulu ketika menghadapi penggemar Naruto yang kebanyakan gadis muda.

"Hee, jadi begitu ..." Naruto mengangguk mengerti, lalu kembali tersentak saat baru menyadari maksud lain dari perkataan Hinata. "Ehh? Tunggu! Jadi dulu kau cemburu pada gadis-gadis itu, Hinata?"

Mendengar pertanyaan Naruto yang spontan begitu, membuat dirinya merutuki perkataannya barusan. Tentu Hinata cemburu! Melihat bagaimana dulu para gadis-gadis cantik yang masih remaja, mengerubungi Naruto -yang saat itu kekasihnya- di tengah kecan mereka. Tapi ya ... keturunan Hyūga memang dikenal dalam keahliannya mengendalikan emosi.

"E ... etto ... eh? Wah, lihat Anata, itu Ichiraku Ramen! Ayo cepat, aku sudah lapar!" Seru Hinata mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, sambil menarik lengan sang suami.. Dan yah! karena itu Naruto, semua berhasil teralihkan.

"Wah, benar! Aku juga tidak sabar, dattebayo!" Sahut Naruto, mengikuti langkah kecil sang istri. Melupakan pertanyaan yang sempat ia ajukan.

.
"SELAMAT DATANG!" Suara sambutan penuh semangat langsung menggema ke seluruh kedai, ketika dua sosok yang sangat dikenal sang koki menyeka tirai kedai itu. "Wah, Ayame! Kita kedatangan tamu Istimewa!" Sambungnya.

Perempuan cantik bernama Ayame yang terlihat baru memberikan pesanan milik pelanggan lain pun menoleh ke arah yang dituju sang ayah. "Wah! Selamat datang, Naruto, Hinata!"

"Hehehe, Ohayou paman, Ayame Nee-san!" Sapa Naruto pada kedua orang yang dulu sering membuat perutnya terisi.

"Ohayou, Paman Teuchi. Ohayou, Ayame Nee-san." Ucap Hinata ikut menyapa dengan lembut dan sedikit membungkuk hormat.

Setelah saling sapa, pasangan suami istri itu mengambil tempat duduk berdampingan. kemudian Naruto langsung menawari sang istri ingin memesan apa, di lanjut dirinya yang ikut memesan. Dan menyampaikannya pada sang koki.

"Baiklah kalau begitu! Dua Ramen Miso dan salah satunya dengan extra daging?" Ucap pria paruh baya bernama Teuchi itu, menyebut ulang pesanan Naruto dan Hinata untuk memastikan. Pasangan itu hanya mengangguk mengiyakan.

Sambil menunggu pesanan mereka di buat, anak dari pemilik kedai yaitu Ayame, memulai percakapan sambil meracik minuman untuk mereka. "Omong-omong, kalian hanya berdua saja? Anak-anak kalian kenapa tidak di ajak?"

Mendengar pertanyaan dari wanita bersurai coklat itu, membuat kedua orang yang ditanya saling memandang. Bingung ingin menjawab apa. "Etto ... kami menitipkan mereka di rumah kakeknya, Nee-san." Mendengar jawaban yang diberikan Naruto, Hinata hanya mengangguk membenarkan.

"Eh? Tapi kenapa? Aku kan sudah lama tidak melihat Boruto dan Himawari! Sayang sekali kalian tidak membawa mereka." Ucapnya Sambil menyodorkan teh yang sedari tadi Ayame buat.

"A ... ano, Aya-"

"Yaa ... soalnya, hari ini kami ingin kencan berdua saja, dattebayo!" Jawab Naruto penuh semangat, sampai memotong ucapan sang istri. Mendengarnya, tentu saja wanita itu sudah menunduk malu.

Sementara Ayame langsung memandang dengan wajah usil. "Hee, kencan? Berdua? Dalam rangka apa kalian berkencan? Ini sudah lama sekali sejak kalian punya anak! Atau jangan-jangan Hinata ... adiknya Himawari-"

"BUKAN ... begitu! Eh? Go ... gomenasai!" Sentak Hinata setelah mendengar celotehan panjang wanita itu semakin aneh dan Hinata merasa harus menghentikannya meski dengan wajah yang kini sudah sewarna tomat.

Melihat jika Hinata sudah tidak sanggup menjawab wanita di depannya ini, akhirnya Naruto bicara. "Aduh! Nee san, Buka begitu! Sebenarnya, hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami. Jadi aku dan Hinata ingin merayakannya berdua saja seharian, datteb-"

'BRAK' 'BRUK' 'PRANG' 'TAP TAP TAP'

Tiba tiba terdengar suara gaduh yang berasa dari dalam dapur, sampai sang pemilik kedai keluar menghadap Naruto dan Hinata. "Hari ini, hari apa kalian bilang?"

Melihat bagaimana tingkah pria paruh baya itu, Naruto menjawabnya dengan sweatdrop. "Ha ... hari ulang tahun pernikahan kami paman."

Teuchi terbelalak mendengar jawaban itu, kemudian berdiri dan menghampiri tanggalan yang menempel di dinding sebeleh kanannya. "Astaga, benar! Kalian menikah di tanggal yang sama dengan hari ini! Selamat ya, Naruto, Hinata!"

"Hmm! Selamat ya atas pernikahan kalian selama ini! Semoga kalian selalu bahagia!" Ayame ikut memberikan ucapan selamat mengikuti ayahnya.

Namun bukan hanya Ayame yang ikut memberinya selamat, dua pelanggan lain dengan rompi Jounin yang tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka juga mengucapkan selamat.

Naruto dan Hinata tersenyum hangat pada Teuchi dan lainnya, mereka merasa berterima kasih atas perhatian yang didapat. Orang lain ikut bersuka cita itu sudah cukup bagi mereka.

"Yosh! Karena hari ini, adalah hari istimewa untuk kalian. Aku akan mentraktir kalian berdua sebagai hadiah, bagaimana?" Seru Teuchi, dengan semangat kepada dua sejoli itu.

"Woaah! Yang benar paman!? Asik! Aku bisa makan sepuas-"

"Na ... Naruto-kun!" Hinata memotong. Lalu menatap Teuchi. "Apa tidak apa-apa, paman?" Tanya wanita itu merasa tidak enak atas kebaikan yang koki ramen nomor satu di dunia menurut Naruto itu berikan.

"Iya! Tidak apa-apa, Hinata-san! Aku senang, jika bisa memberika sesuatu pada pelanggan spesialku di hari pentingnya." Balas Teuchi meyakinkan.

"Lihat kan Hinata! Kau tenang saja, Paman Teuchi memang sangat baik!" Puji Naruto pada Teuchi.

Dalam senda gurau, mereka memakan ramen yang sudah dipesan. Selama makan pipi wanita itu tak henti-hentinya memerah malu, saat Ayame terus menggodanya. Belum lagi saat sang suami menanggapi godaan itu.

Namun di sela-sela kesempatan, Naruto tak sengaja melihat sang istri yang sedang menatap mangkuk di depanya dengan senyuman sendu. Selagi ayah dan anak pemilik ramen itu sedang tak lagi mengajak mereka mengobrol, Naruto mengambil kesempatan lagi, namun kini untuk berbicara.

"Hinata?" Panggil Naruto.

Hinata sedikit tersentak saat suara baritone menyapa indera pendengarannya. Lalu ia menolehkan wajah nan ayu itu ke sumber suara. "Hn? Ada apa, Anata?"

"Kenapa melamun? Kau memikirkan apa, dattebayo?" Tanya Naruto.

"Aku? Melamun? Tidak, hanya saja ..." mata bulannya kembali menyendu.

"Hanya saja?" Naruto membeo.

"Boruto pasti senang kalau makan ramen juga, kalau Himawari belum boleh ya haha- ... mereka sarapan apa yah, Naruto-kun?" jawab wanita itu akhirnya, namun malah bertanya balik

Sementara Naruto mendengarnya hanya menghela nafas. Selalu memikirkan orang lain, itulah salah satu poin penting kenapa ia bisa jatuh cinta pada Hinata.

Melepaskan genggamannya dari sumpit bambu, tangan besar sewarna madu itu terangkat menghampiri sebuah tangan kecil putih di atas meja lalu menggenggamnya. Mengusap-usapkan dengan lembut punggung tangan kecil itu dengan ibu jarinya. Mencoba memberi tahu jika semua baik-baik saja.

"Tenanglah, kau tahukan betapa pedulinya keluargamu pada Boruto dan Himawari? Aku yang jarang di rumah ini, mungkin tidak ada apa-apanya dibanding perhatian mereka." Kini mata biru itu yang berubah sendu.

Hinata menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, Naruto-kun! Sampai kapanpun, kau tidak akan tergantikan, bagiku, Boruto, juga Himawari ... kau adalah suami dan ayah yang baik." Hinata tersenyum menyemangati sang suami yang kini sudah semangat kembali.

"Ya ampun! bahkan makan pun kalian tetap mesra seperti ini ya?" Tiba-tiba suara nyaring seorang wanita memecah suasana di antara pasangan itu. Yap, Itu Ayame.

Sementara kedua sejoli itu hanya memberikan reaksi yang berbeda, si pria menggaruk kepala belakangnya sambil menunjukan cengiran lebar. Dan si wanita terus menunduk dalam, menyembunyikan pipi yang memerah lalu memilih melanjutkan makannya.

Reaksi mereka berbeda tapi perasaan mereka sama. Menarik bukan?

-TBC-

A/N :

Wah, terima kasih untuk yang sudah membaca chapter sebelumnya! Aku seneng banget masih ada peminat dengan cerita amberegul begini. XD

Rencananya bakal tamat di chapter 3 tapi manusia hanya bisa merencanakan dan aku cuma mau bikin story yang ringan-ringan aja cukup badan aku yang berat -hiks hiks-, okeee lihat aja nanti kedepannya!

Thanks for you review in chapter 1 : HimeNara-kun, arybagus, ichaa, yulippi, Luluk-chaN473, BrotherHeart, , rgita69

Dan juga terima kasih, untuk yang sudah membaca fanfict ku yang sebelum-sebelumnya.

Sampai jumpa minggu depan!

Mind to RnR?