Dating Marriage © NaruGankster
Naruto © Masashi Kishimoto

Uzumaki dan Hyūga Family
Rating : T
Warning : Typo?, dan kekurangan yang ada di fanfik pada umumnya!
DLDR!

.

.

Dulu ketika mereka masih menjadi sepasang remaja yang memadu kasih, percakapan mereka kala menyusuri jalan bersama, selalu seputar pada misi-misi yang pernah dijalani, teman-teman mereka, atau bahkan lelucon konyol.

Namun, mungkin sekarang dua sejoli itu tidak begitu menyadari jika topik yang mereka bahas saat berjalan bersama kini sudah berbeda, atau bisa jadi bertambah. Bukan hanya soal misi dan teman-teman lagi. Kini lebih sering yang mereka bahas adalah bagaimana lucunya perkembangan buah hati.

Bagaimana Boruto merapal jurus pertamanya, Himawari dengan belajar berjalannya. Semua tak luput dari percakapan dua insan yang mengikat janji pernikahan beberapa tahun yang lalu itu.

Terlebih Hinata, wanita yang kini bergelar ibu itu tak henti-hentinya memikirkan kedua anaknya. Selama perjalan kencan, mereka mengunjungi banyak toko yang menjual barang menarik. Dan Hinata selalu menanggapi beberapa barang yang ia lihat, karena teringat putra-putrinya.

"Lihat, Naruto-kun! Ada mangkuk sup dengan motif bunga matahari! motifnya lebih bagus dari pada yang di toko tadi bukan? Himawari pasti lebih suka!" Celoteh wanita itu. Hinata memang tak bisa menahan sesuatu jika itu mengenai sang buah hati.

"Tapi kita sudah terlanjur membeli yang tadi, sayang." Jawab Naruto menunjukan pelastik pembungkus belanjaan sebelumnya.

"Iya, sayang sekali ya. Eh ...? Naruto-kun, Lihat! jaket rompi musim panas untuk anak-anak! Boruto dan Himawari pasti lucu jika memakai ini bersamaan." Seru wanita itu lagi, ketika ada barang lain yang menyita kembali perhatiannya.

Sementara Naruto, pria itu hanya tersenyum lembut melihat bagaimana istrinya yang selalu tenang bisa begitu banyak bacara. Ia pun melangkahkan kakinya, lebih mendekat ke sang istri. "Hinata ..."

Merasa dipanggil, Wanita yang sedang memegang sepasang baju anak kecil pun menoleh. Kemudian menatap sang suami yang sudah ada di belakangnya. "Ada apa, Naruto-kun?"

Pria itu tersenyum lembut, kemudian mengangkat tangannya yang bebas dan menyentuh pipi gembil Hinata. "Aku senang kau memikirkan anak-anak. Tapi ... dari tadi kita berbelanja, hanya barang untuk Boruto dan Himawari yang kau beli."

Pipi Hinata memerah mendapat perlakuan seperti itu, kemudian ia mengalihkan matanya ke arah lain seraya memikirkan perkataan sang suami yang ada benarnya. Tapi, sebuah pertanyaan muncul dalam benak wanita itu. "I ... iya, memangnya kenapa?"

"Memangnya kau tidak mau membeli sesuatu, untuk dirimu?" Tanya Naruto.

Memasang wajah berpikir, kemudian wanita itu tersenyum. "Aku akan beli, jika aku mau, Naruto-kun." Jawabnya.

Sementara Naruto hanya menghela nafas dan kembali membiarkan istrinya melihat-lihat. Mata biru itu tak pernah lepas dari gerak gerik sang istri yang memilah-milah pakaian anak di depannya. Ia tak bisa protes, jika istrinya bahagia ia akan tetap membiarkannya. Karena ia tahu, anak mereka jugalah kebahagiaan bagi Hinata, sama sepertinya.

.

.

.

Semua sudah tersusun rapi dalam yang namanya rencana. Sebuah rencana yang tersusun dari tempat-tempat yang akan mereka kunjungi saat kencan. Rencana itu berjalan lancar, hingga sampai rencana selanjutnya. Mereka akan mengunjungi bukit ukiran patung para Hokage.

Dan di sinilah mereka, duduk di antara ukiran wajah milik Yondaime Hokage, ayah Naruto. Merasakan hembusan angin musim semi yang menerbangkan kelopak bunga-bunga sakura di puncak mekarnya.

Membuka mata amethysnya, Hinata menatap pemandangan desa Konoha yang terpampang di depan. Merasakan sensasi nostalgia, kala ia di ajak Naruto untuk menikmati ini pertama kali.

"Konoha ... sudah banyak berubah ne, Naruto-kun?"

Telinga berwarna tan itu merasakan ada suara halus yang menyapa pendengarannya. Naruto menoleh ke sang istri yang sedang mengarahkan mata ke penjuru desa. "Ya ... sudah banyak bangunan baru dan tempat-tempat menarik di sini."

"Aku harap ... kedamaian ini akan berlangsung lama- tidak! Kuharap, kedamaian ini akan berlangsung selamanya." Wanita itu tersenyum, "Aku ingin, anak-anak kita tidak merasakan kejamnya perang."

Naruto tersenyum dan menggenggam tangan Hinata. Mengecup punggung tangan itu seraya berkata. "Hal yang tepat bilang hal itu dengan calon Hokage ini Hinata! Aku sebagai Hokage selanjutnya berjanji, akan terus menjaga perdamaian ini, demi masa depan anak-anak di seluruh di dunia!"

Hinata yang sebelumnya sudah menoleh kala Naruto mengecup tangannya, tersenyum lembut mendengar bagaimana sang suami berucap janji. Wanita itu percaya, ketika Naruto berjanji, pria itu akan menepatinya. Meski beberapa kali gagal, ia akan terus mencoba. Karena itulah jalan ninjanya, jalan Ninja mereka.

Wanita berperawakan lembut itu masih dengan senyum di bibirnya menghadapakan wajah ke dapan. Kembali ingin merasakan angin menerpa wajahnya sambil menikmati pemandangan. "Lain kali, ayo kita ajak Himawari dan Boruto kemari! Mereka pasti senang melihat desanya yang indah dari atas sini, Naruto-kun." Hinata kembali berseru.

Naruto yang masih memandangnya sedikit membelalakan mata. Tiba-tiba ia merasakan sidikit keganjalan. Ia merasa, selama mereka kencan hari ini, istrinya itu tak henti-henti membicarakan Boruto dan Himawari. Saat makan, berbelanja, berjalan bersama, bahkan di saat mereka berada di ketinggian seperti ini.

Hinata memang selama ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan putra-putrinya. Mungkin inikah yang terjadi jika memisahkan ibu dan anak-anak itu meski hanya sehari? Apa benar sekuat itu perasaan seorang ibu?

Naruto memandang wajah sendu yang tersenyum di sampingnya. Hinata begitu mempesona di mata biru itu kala ia sedang menikmati pemandangan, dengan helaian indigonya yang terhembus angin. Perasaan ini begitu familiar, ia merasa jatuh cinta lagi pada sang istri.

Pria itu tersenyum lalu melepaskan genggamannya dan menangkup sebelah pipi gembil milik istrinya. Menarik wajah nan ayu itu agar menoleh dan memandangnya.

Sementara Hinata, ia bingung dan malu saat tiba-tiba sang suami melakukan itu. "Na ... Naruto-kun?"

Sang suami tak menggubris panggilannya, yang wanita itu lihat hanya wajah tampan suaminya mendekat. Tahu yang diinginkan pria itu, mata amethysnya refleks memejam.

Tak lama wanita itu merasakan sentuhan bibir sang suami di bibir tipisnya. Hanya kecupan-kecupan lembut yang mengisyaratkan kasih sayang antara seorang pria dan wanita yang saling mencintai.

Terasa kecupan itu perlahan menghilang, Hinata membuka matanya dan langsung melihat wajah sang suami yang masih begitu dekat dengan wajahnya, dengan hidung dan dahi saling bersentuhan, pria itu tersenyum lembut.

"Ayo kita pulang." Ucap Naruto di tengah senyumannya.

Iris lavender pudar itu melebar saat pemiliknya mendengar itu. Kembali mengambil jarak, Hinata sedikit mendorong tubuh sang suami dengan kedua tangannya.

"Pu ... pulang? Apa maksudmu?" Tanya Hinata, dengan ekspresi bingung yang membuat si suami gemas.

Senyum Naruto makin lebar, "iya! Lebih baik kita pulang saja."

"Iya! Tapi kenapa, Naruto-kun?"

"Aku hanya berpikir, bagaimana jika kita merayakannya dengan anak-anak juga?" Usul Naruto dengan wajah yang dibuat-buat sedang berpikir.

Naruto tersenyum makin lebar, saat melihat mata indah sang istri berbinar indah. Naruto tahu dari sana jika istrinya merasa senang.

"Benarkah?- eh? Ma ... maksudku, kau yakin?" Tanya wanita itu meminta keyakinan.

Naruto mengangguk mengiyakan, "Mungkin jika kita merayakannya bersama, jauh lebih menyenangkan! Lagi pula, tiba-tiba aku merindukan mereka, memangnya kau tidak?"

Entah bagaimana, Hinata mengerti maksud Naruto. Pria itu baru menyindirnya halus. Memang sejak tadi wanita itu terus memikirkan putra-putrinya yang dititipkan di rumah sang kakek.

Wanita itu tersenyum senang, wajahnya menampakan kebahagiaan dan refleks memeluk pria di depannya. "Terima kasih, anata! Aku ... aku sangat mencitaimu!"

.

.

.

Bosan?
Tidak! Kata itu jarang sekali ada di dalam pikirannya jika ia sedang ada di rumah besar ini, rumah kakeknya. Bagaimana tidak? Banyak hal yang bisa dilakukan di sini, rumah yang luas dengan fasilitas lengkap dan penghuni rumah yang menyenangkan. Boruto selalu merasa seperti pangeran tampan jika masuk kemari.

Tapi entah kenapa hari ini berbeda. Boruto masih sedikit tidak terima jika sang ayah bahkan ibunya menitipkan ia bersama adiknya di mansion Hyūga, ketika seharusnya mereka bisa menghabiskan waktu bersama seminggu penuh.

Meski cuma sehari mereka dititipkan, sisi egois bocah itu tetap lebih besar. Rasanya Boruto ingin menendang orang yang memberikan misi pada kedua orang tuanya di tengah liburan mereka, sehingga mengganggu waktu keluarganya bersama. Padahal sisa liburan itu akan berakhir lusa.

Boruto yang sedang duduk santai di roka, mengarahkan mata birunya ke depan, melihat sang kakek yang sedang jongkok memangku Himawari di pinggir kolam, sambil memberi makan ikan koi.

"Enaknya jadi Himawari ..."

"Kenapa enak?"

"Huwaaa!" Bocah itu terkejut, mendapati sang bibi yang tiba-tiba berada di sampingnya dan menanggapi gumamannya. "Ukhh, Oba-chan!"

Hanabi terkekeh melihat reaksi bocah empat tahun itu. "Habisnya, masih kecil sudah hobi melamun!"

Menurun dari sang ibu, pipi bocah itu merona, "A ... aku tidak melamun, dattebasa!"

"Ahahah, ya sudah! Lalu kau kenapa, hah? Kenapa jadi Himawari enak?" Tanya gadis yang menginjak kepala dua itu, pada sang ponakan.

Boruto menunduk, memandang kedua kakinya yang tergantung di roka karena belum cukup tinggi mencapai tanah. "Karena, kalau jadi Hima ... aku pasti tidak perlu merasa kesal seperti ini. Dia kan belum mengerti apapun."

"Hee? Kau masih kesal tidak di ajak tou-chan dan kaa-chan mu, ken - eh ... maksudku pergi?" Himawari sedikit berkeringat, ketika ia hampir saja mengucapkan yang sebenarnya. Bisa-bisa hubungannya dengan Konohamaru bisa dibeberkan kakak iparnya nanti.

"Tentu saja! Kita kan sedang liburan, tapi mereka malah mendapat misi mendadak begitu, ttebasa! Padahal ... Tou-chan kan jarang libur panjang." Lirih Boruto.

Mendengar keluhan keponakannya, Hanabi jadi merasa bersalah. Pasalnya, orang tua Boruto tidak benar-benar pergi menjalankan misi. Kalau misi untuk kencan itu baru benar. Tapi, bungsu Hyūga itu sudah terlanjur berjanji untuk merahasiakan kencan mereka.

"Tapi, bukankah tou-chan mu berjanji, besok kalian akan bermain sepuasnya bersama?" Tiba-tiba suara lain mengiterupsi percakapan antar bibi dan keponakannya.

Suara yang berat itu berasal dari Hyūga Hiashi. Rupanya pria yang sedang menggendong cucuk perempuannya itu mencuri dengar. Dengan langkah yang masih gagah, pria paruh baya itu berjalan menghampiri anak bungsu dan cucuk pertamanya.

"Tapi ... Jii-chan,"

"Cucuk-cucuk jii-chan jangan cengeng ya ... Terutama kau, Boruto! Kau adalah seorang laki-laki dan Onii-chan untuk Himawari, kau harus kuat untuk melindunginya." Ucap Hiashi dengan bijaksana pada bocah itu, sambil mengacak surai kuningnya. Pria itu mengucap syukur dalam hati, karena Boruto terlihat terhibur mendengar kata-katanya, kata-kata yang ia susun dadakan agar Boruto merasa sedikit lebih tenang. 'Dasar anak-anak!'

'Tap tap tap'

Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai kayu, mengusik kumpulan keluarga itu. Mereka yang di sana menoleh untuk mendapati siapa pemilik dari langkah kaki itu.

"Sumimasen ..." ucap seorang pelayan pemilik langkah kaki tadi. " Boruto-sama, Himawari-sama, lihat siapa yang datang?" Setelah mengatakan itu, pelayan tadi sedikit menggeser tubuhnya agar tuan dan nona mudanya bisa melihat apa yang ia maksud.

"Tou-chan! Kaa-chan!" Panggil Boruto terkejut sekaligus senang. Saking terkejutnya, ia sampai berdiri sempurna. Dan tanpa pikir panjang, berlari menerjang orang tuannya.

"Kalian sudah selesai?" Tanya Hanabi tidak kalah terkejut.

"Iya! Kami berusaha menyelesaikan semuanya lebih cepat." Jawab Naruto yang kini sudah menggendong Boruto.

"Benarkah? Wahh! Tou-chan dan kaa-chan, memang yang paling hebat, dattebasa!" Seru bocah itu dengan memeluk erat sang ayah.

.

.

.

"Kenapa sudah kembali? cepat sekali kencannya," tanya Hiashi pada pasangan yang duduk di hadapannya. Ada sedikit nada tak rela di pertanyaan itu, karena baru sebentar rasanya ia bermain dengan sang cucuk. "Sore saja belum." Tambahnya lagi.

"Eh? Gomenasai ... kami berpikir untuk merayakannya bersama saja, Otou-sama." Jawab Hinata pada ayahnya.

"Lalu kenapa kalian membawa tas besar?" Tanya Hiashi lagi.

"Ano, seperti saran Tou-sama sebelumnya. Aku mau mengajak keluargaku, pergi bersama ke resort itu, dan terima kasih sekali lagi." Kini Naruto yang menjawabnya.

Pria paruh baya itu menghela napasnya, ia tidak bisa memaksa kalau begitu. Mungkin ini yang dibutuhkan Boruto, agar kerjaannya tidak menggerutu saja. Yang bisa ia lakukan hanya bisa memuaskan diri bermain dengan cucuk perempuannya yang sedari tadi tak ia lepas dari gendongannya, sebelum di bawa pergi sang induk.

'Dasar orang tua labil' gerutu Hiashi, sebal.

- TBC-

A/n :
Hai jumpa lagi! Maaf ya jika kalian kecewa sama fanfik ini, aku gak menjanjikan cerita yang manis sebelumnya, aku cuma maunya yang ringan wae. Dan mungkin yah kalian kecewa juga karena kencan mereka yang begitu doang berakhir dan harus dilanjutkan kencannya dengan anak mereka juga. Karena seperti kutipan fanfik aku yang sebelumnya, 'ini tidak sama seperti sebelumnya' -ehempromosiehem- kini mereka bukan cuma berdua, tapi ada anak anak mereka.

dan kembali, rencana tamat di chap 3 gagal xD karena ada inspirasi tambahan wkwkwk

Terima kasih untuk yang udah review di chapter sebelumnya, maaf gak bisa nyebut satu-satu karena ada gangguan. Tapi itu gak mengurangi rasa terima kasihku yang banyak untuk kalian yang review, reading atau bahkan hanya sekedar mampir. :")

Edited! maaf aku sempet melakukan kesalahan fatal dichap ini,, dan baru bisa aku edit sekarang. bersabar yaa! untuk next chapternya! aku janji akan selesaikan ini sebelum akhir maret! jaa nee sankyu :*

Happy NaruHina Wedding Ceremony ! :*

Mind to RnR?