APPLESAUCE


Previous Chapter

Sasuke tampak menyeringai setelah memperhatikan foto itu. Lalu ia kembali bersuara.

"Sepertinya tidak membutuhkan waktu yang lama." Sasuke masih memperhatikan foto di tangannya.

"Hn?" Fugaku mengangkat wajahnya lagi ingin mengetahui lebih lanjut apa yang ingin anaknya itu katakan.

"Tidak perlu menunggu lama untuk jawabanku. Aku memilih pilihan kedua."


"Baiklah, kalau begitu." Fugaku memberi jeda pada kalimatnya lalu melanjutkan. "Kau akan pindah minggu depan. Kau tahu, ini hal mudah bagiku. Setelah kau menyelesaikan misi ini, kau bisa saja menetap atau kembali ke bisnis dan melakukan yang kau inginkan." Fugaku memberi titik pada kalimatnya menganggap semua sudah berakhir, tapi rupanya masih ada pertanyaan di kepala Sasuke.

"Sampai kapan?"

"Kuberikan waktu 6 bulan untuk mengeluarkannya dari fakultas mungkin? Terserah. Intinya aku ingin Hyuuga hancur sehancurnya." Fugaku dengan pena di tangan seolah menghunuskan pena itu penuh amarah ke meja.

"Bagaimana jika aku tidak bisa ?"

"Cih. Kau tidak mampu melakukannya? Kupikir kau benar-benar Uchiha ternyata bukan. Kalau begitu Itachi–" Fugaku baru saja ingin mengutarakan pikirannya hingga akhirnya Sasuke menyelanya.

"Ck. Sudahlah. Tidak dengan Itachi."

Sasuke tentu saja punya alasan mengapa ia begitu menuruti keinginan ayahnya. Pertama, ia ingin melampaui kakaknya. Ya, Uchiha Itachi. Ada keinginan yang tersirat di dalam hatinya agar ia mampu melebihi sesuatu apapun dari kakak yang berwajah mirip dengannya itu. Selama ini, sudah cukup baginya ketika Itachi selalu mendapat perhatian lebih dari ayahnya. Sehingga menuruti kemauan ayahnya dan meningkatkan keberadaan Sasuke dimata ayahnya, dianggap Sasuke sebagai cara terbaik untuk melampaui Itachi. Keinginan yang kuat untuk menjatuhkan rival, demi mendapat kepuasan. Itulah Uchiha Sasuke.

Kedua, ia mengenal atau lebih tepatnya menyimpan ketidaksukaan terhadap target ayahnya. Kalian sudah tahu kan mengapa Sasuke tidak menyukai gadis itu?

Mari kembali ke Sasuke yang mana sudah menyelesaikan urusan untuk bertemu dengan ayahnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa setelah itu, sehingga ia ikut saja kemana kakinya membawanya.

Rupanya kakinya berhenti di kamar Sasuke sendiri. Apa dia harus memikirkan rencana untuk mengerjai Hinata? Entahlah.

Drttt drttt

Ponsel Sasuke bergetar di saku celananya. Sasuke dengan malas menerima panggilan itu sambil merebahkan diri ke sofa terdekat. Panggilan dari Naruto.

"Oi, teme! Kenapa kau tidak datang juga? Kau ingin aku berlumut menunggumu disini, hah?!" Sasuke menjauhkan ponsel dari telinganya karena tiba-tiba mendengar suara Naruto yang nyaring bak peluit guru olahraga.

"Ck. Diamlah. Kerjakan saja sendiri." ucap Sasuke datar tanpa menghiraukan emosi lawan bicaranya yang memuncak.

"Ini tugas kelompok dan kau memintaku mengerjakannya sendiri?! Bilang saja kalau kau tidak mau lulus!" Sasuke memejamkan kedua kelopak matanya. Meredam emosi karena terus-terusan mendengar nada tinggi pria di seberang sana. Lagipula sebentar lagi ia akan meninggalkan Naruto dan fakultas bisnis yang baru ia masuki selama 3 semester itu.

Enggan membalas ocehan Naruto, akhirnya Sasuke menutup panggilan di ponselnya dan menutup kedua matanya pula.

Tidak lama merasakan kedamaian, lagi-lagi ponsel Sasuke berbunyi. Dari Naruto tentu saja. Ia hanya tidak mau mengerjakan tugas kelompok sendiri. Sasuke lalu mengangkat panggilan agar getaran di ponselnya tidak menjadi-jadi.

"Enak saja menutup panggilan ketika aku belum selesai bicara! Akan kudatangi rumahmu dan menuntut segalanya!" Naruto masih marah-marah meminta pertanggung jawaban Sasuke.

"Datang saja. Kau akan menyesal." ya, menyesali karena Sasuke tidak akan repot-repot untuk tugas-tugas tersebut baik yang sudah diberikan dosen maupun tugas mendatang.

"Tunggu aku disana!" sekarang Naruto lah yang mematikan panggilan karena tidak mau kalah dari Sasuke. Sasuke hanya menghembuskan nafas berat. Ia hanya ingin mendapat ketenangan hari ini. Kenapa juga Naruto harus datang dan menemuinya?

Sasuke memikirkan sesuatu. Naruto hanya akan menghancurkan hari ini. Batin Sasuke.

Ia pun berniat mencari kedamaian di luar sana. Ia mengganti kemejanya dengan baju santai berwarna hitam lalu pergi meninggalkan kediamannya dengan mobil tanpa meninggalkan pesan apapun. Jalan-jalan mungkin akan menyegarkan pikirannya.

Dengan kecepatan normal, mobilnya melesat menuju cafe yang sering ia kunjungi. Ia tahu Naruto pasti sudah pergi dari sana–yang semula memang tempat mereka sebelumnya berjanji untuk bertemu.

.

.

.

.

Hinata sudah bangun dari tidurnya sejak beberapa saat yang lalu. Sekarang ia hanya ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan. Memasak misalnya.

Sekarang ia di dapur mencari-cari bahan yang ia butuhkan untuk membuat onigiri. Entah kenapa ia ingin makan itu dan ingin membuatnya sendiri. Padahal ia bisa meminta pelayan di rumahnya untuk membuatkan yang terlezat. Hanya saja ia ingin bersenang-senang.

Tapi setelah beberapa lama menggeledah kulkas dan meja panjang dapur, ia tidak menemukan lembaran nori dimanapun.

"Rin-san, apa stock nori sudah habis?" tanya Hinata pada Rin-san yang saat itu sedang mencuci piring di wastafel dapur.

"Iya, Hinata-sama. Baru saja habis untuk sushi tadi pagi. Aku akan membelikan nori untuk Hinata-sama." ujar Rin-san seraya mencuci tangan dengan cepat agar segera selesai, tapi dengan cepat pula Hinata mencegah Rin-san.

"Tidak apa, Rin-san. Aku akan membelinya sendiri." Hinata yang tersenyum itu, terlihat seperti malaikat dimata pelayan bermata coklat itu. Tetap saja, Rin-san merasa tak enak hati.

"T-tidak, Hinata-sama. Aku yang akan membelikannya. Hinata-sama bisa beristirahat di rumah." Rin-san hanya ingin menjadi pelayan yang baik bagi Hinata yang selama ini juga baik terhadapnya.

"Aku juga ingin membeli perlengkapan pribadiku yang lain sekalian jalan-jalan juga... Rin-san lanjutkan saja ya" ujar Hinata tersenyum manis yang kemudian dijawab anggukan oleh Rin-san yang tidak mampu melawan tuannya ini.

Hinata bergegas melepas celemek yang tadi sudah ia kenakan. Lalu berjalan ke kamarnya untuk mengambil dompet serta menyisir rambutnya lebih rapi. Hinata sudah mengenakan dress putih selutut sedari tadi, yang menurutnya masih pantas ia pakai ke supermarket.

Ia turun ke lantai bawah lalu berjalan keluar pintu mansion. Supir pribadinya, Tanabe-san melihat tuannya berjalan keluar. Tanabe-san spontan berjalan mendekati tuannya.

"Hinata-sama akan kemana? Tunggu sebentar saya siapkan mobilnya."

"Tidak perlu, Tanabe-san. Aku akan pergi jalan-jalan naik sepeda." tunjuk Hinata pada sepeda yang ada di wilayah parkiran.

"Baiklah. Hati-hati di jalan Hinata-sama." Tanabe-san masih memperhatikan Hinata yang berjalan menjauhinya menuju parkiran mansion.

Hinata menegakkan sepedanya, lalu menaiki dan mulai mengayuhnya keluar dari kawasan mansion Hyuuga. Tidak lupa saat melewati gerbang utama, ia mengabarkan petugas disana bahwa ia akan pergi berjalan-jalan siapa tahu Hanabi yang saat ini belum pulang sekolah akan mencarinya.

Ia kayuh pedal sepeda putihnya menyusuri jalan-jalan Konoha. Membiarkan rambutnya terbawa angin. Menyesapi tiap udara yang berhembus dari arah yang berlawanan darinya. Ia juga mengabaikan banyak pasang mata yang takjub atas kecantikannya sore itu.

Ia memutuskan untuk berbelanja di toko swalayan di kompleks pertokoan yang cukup ramai di tengah kota. Tidak terlalu jauh dari mansion tercinta. Juga tidak butuh waktu yang lama baginya untuk sampai.

Dengan riang Hinata berbelanja disana. Nori, daging segar dan beberapa sayuran rasanya sudah cukup untuk melengkapi onigiri buatannya. Sesungguhnya, perlengkapan pribadi yang ia jadikan alibi pada Rin-san tidak benar-benar ia beli.

Setelah membayar, ia lalu kembali menaiki sepeda dan menyusuri jalanan di kompleks pertokoan itu.

Tak lama, hingga akhirnya matanya tertarik pada suatu toko bunga dimana banyak macam bunga berwarna-warni di pajang di depannya.

Hinata menghentikan sepedanya tepat di depan toko bunga itu. Ia melihat gadis cantik yang sebaya dengannya sedang menata bunga-bunga yang tak kalah cantik dari pemiliknya. Hinata lalu mencoba menyapa.

"Selamat sore, aku melihat banyak bunga cantik disini." Hinata tersenyum merekah membuat gadis berambut kuning panjang itu balik tersenyum.

"Tentu saja, karena aku yang merawatnya. Hahaha." gadis itu menertawai ucapannya sendiri. Hinata yang merasa gadis ini bersahabat ingin sekali berkenalan dengannya tapi ia tidak tahu bagaimana harus memulai. Ia kembali mencoba memberanikan diri.

"A-aku Hyuuga Hinata. Maukah kau.. jadi temanku?" Hinata kikuk. Ia benar-benar sulit melakukannya. Ia sendiri tahu bahwa ia tidak pandai dalam mendapatkan teman.

"Hah? Tidak perlu sungkan, Hyuuga-san." gadis itu memberi jeda dengan tawanya. "Namaku Yamanaka Ino. Aku berteman dengan siapa saja asalkan orang itu membeli bungaku." gadis yang bernama Ino itu kembali terkikik geli.

"O-oh. Kalau begitu aku membeli yang ini!" tunjuk Hinata spontan pada tumbuhan kecil disampingnya.

"Haha. Aku hanya bercanda. Lagipula ini masih anakan. Banyak bunga yang akan kurekomendasikan.." ajak Ino ke bagian depan tokonya.

"Ini mawar yang indah, bukan?" ujar Ino sambil merapikan daun dan mahkotanya. Ino kemudian menjelaskan banyak hal mengenai bunga.

Hinata tampak asik dalam mendengarkan Ino sampai-sampai tidak sadar jika seseorang sedang memperhatikannya dibalik jendela cafe di seberang toko bunga yang ia kunjungi.

Ia mengamati toko itu lebih jauh hingga akhirnya ia menemukan sepeda yang terparkir disana. Ia baru saja melihat sepeda itu hari ini. Sebelumnya tidak pernah ada disana dan tahu benar bahwa si gadis toko tidak punya sepeda. Menjadi pelanggan di cafe ini membuatnya tahu banyak hal.

"Apa ban itu. . ." Sasuke mulai berpikir jahat. Ia tak menyadari pikiran jahatnya itu telah tersebut dalam ucapan ringan hingga seseorang berhasil mendengarnya.

"Bicara sendiri, Tuan Uchiha?"

Plak

Telapak tangan Uzumaki Naruto sukses mendarat di punggung Sasuke dan menimbulkan bunyi yang nyaris terdengar memilukan oleh orang-orang sekitar jika saja mereka tidak sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Sasuke memejamkan mata. Tidak terima perlakuan Naruto, ia genggam tangan Naruto yang masih ada di punggungnya lalu ia memutar tangan itu dengan seksama membuat Naruto menjerit histeris.

"Arghh! Apa yang kau lakukan, Sasuke? Kau mau aku kehilangan tanganku, ya?!" Naruto mengelus-elus tangan kanannya setelah keluar dari jeratan Sasuke, lalu mengambil duduk di seberang pria jahat itu.

"Kau duluan," Sasuke tak bosan memasang wajah datar setelah mendengus singkat.

"Tak perlu berlama-lama, ayo selesaikan tugas dosen kampret itu." Naruto mengeluarkan laptopnya dari dalam tas yang sebelumnya ia sampirkan di bahu.

"Sudah kubilang, kerjakan saja sendiri." Sasuke memutar mata malas dan kembali melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda. Memperhatikan Hinata, tentunya. Pandangannya kembali ia arahkan keluar jendela sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan. Garis wajah Sasuke dari samping.. sangat terlalu. Seandainya Naruto seorang gadis pasti ia telah menjambak rambut Sasuke karena ketampanan yang Sasuke miliki, tapi Naruto tetap saja seorang pria sejati.

Naruto hanya menghela nafas. "Sasuke, apa maksudmu?" Naruto berusaha melembut. Siapa tahu Sasuke jadi takluk dan akhirnya bersedia mengerjakan semua ini?

"Aku pindah ke kedokteran." tanpa mengalihkan pandangannya ke Naruto, Sasuke masih saja memperhatikan Hinata yang saat ini sedang menghirup aroma satu persatu bunga di tangannya.

"Apa? Kau hari ini terus membuatku terkejut, Sasuke. Jangan mulai lagi." Naruto memijat keningnya emosi. Sasuke sama sekali tidak menggubris kemarahan Naruto dan tetap setia pada aktivitasnya.

"Bagaimana ceritanya kau pindah-pindah begitu saja?"

"Tanyai saja Ayahku." Sasuke sempat melirik Naruto sesaat sebelum kembali melihat keluar jendela. Naruto berpikir bahwa Sasuke pasti sedang punya banyak pikiran sekarang jadi ia akan minta penjelasan lain waktu.

"Ok, aku akan minta kompensasi Tsunade-sensei karena kau tidak bisa ikut mengerjakan. Mungkin aku akan minta tugas lebih ringan?" Naruto menanyai dirinya sendiri–nampaknya. Ia lalu memasukkan kembali laptop itu ke dalam tasnya sebelum akhirnya memesan minuman.

Sambil menunggu pesanan, ia memperhatikan Sasuke yang sedang sibuk dengan pikiran sendiri sambil melihat ke arah luar. Naruto yang termasuk golongan manusia yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, langsung saja mengikuti arah pandangan Sasuke.

"Itu, kan Hinata-chan. Oh, aku tahu. kau pasti mau minta maaf, ya? Tunggu sebentar." Naruto yang sok tahu langsung berlarian keluar cafe tanpa Sasuke sempat menghentikan dan memberi sanggahan.

Dapat ia lihat, Naruto menemui Hinata yang sudah membeli sebuket bunga. Mereka terlibat dalam pembicaraan ringan hingga pada suatu momen, Sasuke menemukan Hinata meliriknya sesekali saat berbincang dengan Naruto. Jelas Naruto menyebut namanya dalam perbincangan itu.

Naruto tampak menarik tangan Hinata masuk ke dalam cafe dan membawanya ke meja yang Sasuke tempati.

Setelah Hinata Naruto tempatkan pada kursi yang kosong–yaitu disebelah Naruto duduk, Naruto memulai kembali untuk membuka obrolan di meja itu.

"Hinata-chan, seperti yang kubilang tadi, temanku yang jahat ini ingin meminta maaf." Naruto melirik Sasuke dengan makna tersirat agar Sasuke segera bersuara meminta maaf.

"..." Sasuke menatap tajam Hinata yang ada di depannya, tanpa mengucapkan apapun yang mana berakhir dengan terciptanya situasi hening diantara ketiga sosok disana.

"Sasuke?" Naruto memanggil-manggil Sasuke yang dianggapnya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

Melihat situasi yang tidak baik ini, sepertinya Hinata sadar diri mengenai kejadian beberapa saat lalu di hari itu sehingga ia membuka suara mengenai apa yang ia pikirkan.. "U-um, Naruto-kun.. Aku yang salah karena tidak lihat-lihat saat berjalan.. Kupikir ia tidak perlu meminta maaf… karena sejak awal, ini salahku."

"Hei. Kelakuannya tadi pagi terhadapmu tidak bisa dimaafkan." Naruto melirik tajam pria dihadapannya sesaat. Pria yang dilihat tenang-tenang saja, malah meneruskan menatap gadis di depannya tajam.

"Sudahlah.." Hinata mengeratkan genggaman pada dress putihnya. "Lagipula aku sudah memaafkannya." imbuhnya lirih seraya memperdalam tundukannya.

"Cih." Sasuke memutar matanya. Decihan Sasuke mengangkat kepala Hinata untuk kembali menatapnya. "Aku tidak peduli kau mau memaafkan aku atau tidak karena aku tidak pernah memintanya dari gadis bodoh sepertimu." Sasuke berdiri dan pergi meninggalkan meja itu setelah berhasil membuat hati Hinata ngilu.

Sebelum berjalan terlalu jauh, Sasuke berhenti dan berbalik. "Semoga harimu menyenangkan, Hyuuga." disertai seringaian khasnya, tentu saja.

Hinata–yang masih di meja itu bersama Naruto, yakin setelah hari ini jika ia bertemu pria itu, ia akan tertimpa nasib buruk yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

.

.

.

Satu minggu telah berlalu sejak Hinata ditarik Naruto masuk ke cafe dan berujung disakiti pria Uchiha. Naruto yang saat itu tidak tahu hasilnya akan seburuk itu, meminta maaf sebesar-besarnya kepada Hinata. Hinata tidak merasa Naruto telah mengukir kesalahan, hal yang mengganggunya selama ini hanyalah Uchiha Sasuke yang entah kenapa begitu membencinya. Ini salahnya juga karena berani cari gara-gara dengan pria berambut raven itu.

Hinata saat ini duduk di dalam ruang belajarnya menunggu kelas Orochimaru-sensei dimulai. Ia menduduki kursi yang sudah ia anggap miliknya seminggu terakhir dengan santai sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya. Sisi yang lain dari mejanya tampak diisi oleh seorang gadis bersurai pink yang sudah ia kenal sejak ia masih kecil. Siapa sangka, ternyata Sakura satu kelas dengannya. Mereka terlihat kaget dan sangat bahagia ketika bertemu pertama kali setelah sekian lama tidak bertemu.

"Sakura-chan, entah kenapa hari ini aku merasa tidak enak hati." Hinata meletakkan dagunya di atas tas yang belum ia turunkan dari meja.

"Maksudmu?" Sakura belum terhubung dengan maksud Hinata karena sepertinya ia kurang tidur tadi malam karena harus mempelajari buku setebal 3 jari tangannya.

"Aku merasa hal yang buruk akan menimpaku hari ini." pusat pikirannya jatuh pada pria Uchiha, orang yang paling tidak mau ia temui.

"Tenang saja, Hinata. Sasuke tidak akan berkeliaran sampai sini." ujar Sakura sekenanya ketika ia mampu membaca pikiran teman didepannya.

Hinata mengedikkan bahunya meragukan pernyataan Sakura. Entah kenapa ia merasa bisa bertemu Sasuke dimana saja, sehingga ia jarang-jarang keluar apabila tidak perlu.

Tuk tuk tuk tuk

Bunyi spidol yang diketukan ke papan tulis tidak sabaran menghentikan berbagai macam aktivitas penghuni kelas itu. Mereka yang terlalu sibuk dengan kegiatannya sebelum kelas dimulai tidak mengetahui kedatangan Orochimaru-sensei yang terkesan tiba-tiba, tidak terkecuali Hinata dan Sakura.

"Baiklah. Hentikan semua kegiatan tidak bergunamu dan dengarkan aku." ujar dosen itu dingin. Semuanya sudah duduk tenang ditempatnya masing-masing, sebelum akhirnya ia melanjutkan kalimatnya. "Kita akan melanjutkan pelajaran kemarin. Namun sebelum itu, aku akan memperkenalkan orang ini."

Orochimaru-sensei terlihat memanggil seseorang dibalik pintu yang tidak sepenuhnya tertutup. Tidak lama setelah itu, muncul seorang pria yang begitu familiar bagi Hinata, sampai-sampai membuat kedua matanya nyaris keluar dari sarangnya.

Rambut raven mencuat, mata hitam yang tajam dan dingin, pembawaan yang tenang namun menusuk bagi Hinata, siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.

Hinata terkejut bukan main. Keterkejutan bukan hanya milik Hinata. Gadis-gadis di kelasnya tak kalah terkejut karena menemukan seorang malaikat rupawan yang baru saja dikirimkan Tuhan untuk menghibur mereka di kelas yang berat ini.

"Silakan memperkenalkan diri, nak." Orochimaru-sensei mempersilahkan Sasuke untuk memperkenalkan dirinya.

Cih. Aku bukan anakmu, pria aneh. Sasuke membatin sambil melirik tajam dosen disebelahnya sebelum akhirnya bersuara.

"Namaku Uchiha Sasuke." sepertinya perkenalan Sasuke sampai disitu saja karena tak terdengar ucapan lain setelahnya. Lagipula ia malas berbasa-basi dan menjelaskan hal yang tidak penting. Orochimaru-sensei yang sadar perkenalan Sasuke hanya sebatas nama, secara tersirat meminta lebih.

"Tidak ada hal lain yang ingin kau sampaikan, Uchiha-san?" Sasuke menggeleng.

"Baiklah. Cari kursi yang masih kosong." Orochimaru-sensei memerintah.

Sasuke berjalan ke arah dimana kursi beserta mejanya berjejer rapi. Matanya menemukan tempat yang masih kosong di deretan terbelakang membuat kakinya otomatis berjalan kesana.

Sasuke menyeringai tipis ketika bertemu pandang dengan Hinata saat melewati meja gadis itu, yang ternyata ada disebelah meja yang ia incar.

"Buka halaman 59!" perintah Orochimaru-sensei ketika murid-muridnya kembali sibuk bergosip ria setelah kedatangan Sasuke.

Hinata menjerit dalam hati. Tidak terima Sasuke duduk tidak jauh darinya. Nah, kan firasat buruknya benar terjadi.

"Apa kabar, Hyuuga?" deg. Itulah sapaan maut dari Sasuke kepada Hinata.

.

.

.

.

Saat jam istirahat tiba, Naruto beserta gerombolannya datang dan menghampiri kelas Hinata. Tentu saja bukan untuk menemui Hinata, melainkan untuk bertemu Sasuke yang baru saja berpisah dengan mereka dan pindah ke kelas ini.

"Sasukeee..!" seru Naruto bersemangat dan memeluk erat Sasuke. Sasuke yang keberatan, cepat-cepat melepaskan tangan genit Naruto dari tubuhnya.

"Baru tidak ketemu sehari, aku sudah sangat merindukanmuuu~" Naruto kembali bergelayut manja di lengan Sasuke.

"Menjijikan. Lepaskan, Dobe," ia kembali melepaskan tangan Naruto dari tangannya. Kini, Sasuke mulai kesal.

"Hai, Hinata-chan. Wah kau duduk di sebelahnya, ya ?" sapa Naruto sumringah pada Hinata yang dijawab anggukan gugup karena semua orang di kelas memperhatikan dirinya.

Teman-teman sekelas Hinata pasti berpikir begini..

Wah, ternyata Hyuuga-san dekat dengan para anak populer ya..

Ya ya betul.. Naruto, Sasuke, Kibaa.. Arghh semuanyaa..

Kiba yang mereka maksud ialah teman Sasuke dan Naruto yang ikut datang. Hinata tidak terlalu dekat sih dengan Kiba, tidak juga dengan Sasuke. Hinata mendengus membayangkan dirinya dekat dengan Sasuke.

Tidak tahu saja aku membenci orang yang kalian puja-puja ini. Batin Hinata.

"Aaaa, Sasukeeee aku merindukanmuuuu~," teriakan lain yang berasal dari ambang pintu kembali terdengar. Seorang gadis bersurai merah maroon berlari mendatangi Sasuke. Bergelayut manja, dan memeluk Sasuke.

Hinata menaikkan alisnya. Sasuke biasa saja dengan gelayutan manja Karin, gadis populer lain di universitas itu.

Kenapa semua orang populer ada di kelasnya?

"Karin, hentikan," Sasuke meminta Karin menghentikannya tapi tetap saja ia masih memeluk lengannya.

Gerombolan itu berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya pergi untuk menghabiskan waktu istirahat tersisa di kantin.

Sebelum pergi, Karin memperhatikan Hinata. Merasa Hinata adalah ancaman karena seorang gadis yang 'lumayan-lah', duduk di sebelah Sasuke.

Hinata yang dilirik tajam hanya bisa mendengus pasrah.

.

.

.

.

.

Semua kelas hari ini akhirnya selesai. Hinata yang masih merasa dalam ancaman belum dapat bernafas lega karena disinilah ia, berdua dengan Sasuke di ruangan serba putih dimana kelas terakhir terlaksana.

Hinata merutuki betapa bodohnya ia, karena tadi ia tidak cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. Ia tidak bisa kemana-mana karena sekarang sudah ada Sasuke yang menahannya diambang pintu.

"Kau bersikap seolah tidak mengenalku, Hyuuga." Sasuke berujar datar dengan pandangan tajam yang ia arahkan kepada Hinata. Hinata yang merasa sebagai satu-satunya Hyuuga disana menatap Sasuke balik.

"Jadi apa maumu, Uchiha?" mata amethyst Hinata terlihat tajam, sambil ikut-ikutan memanggil dan menekankan nama klan. Tidak biasanya ia meruncingkan pandangannya karena sebagai gadis keluarga Hyuuga, ia diajarkan untuk memiliki sopan santun serta adab yang tinggi. Namun, ia rasa Sasuke tidak pantas menerimanya.

Sasuke baru pertama kali mendapat pandangan tajam dari seorang gadis, karena biasanya yang ia temukan ialah pandangan memuja nan tergila-gila mengenai ketampanan yang ia miliki.

"Tidak ada." Sasuke menyeringai, membuat Hinata semakin mengernyitkan dahinya.

"Kalau begitu, minggir. Kau menghalangi jalanku." Hinata mulai tidak sabaran. "Kau juga hanya membuang-buang waktuku." imbuhnya datar.

Sasuke menepi dan membiarkan gadis berambut panjang itu melewatinya. Ada perasaan yang aneh ketika ia berjalan melewati Sasuke. Tidak mau ambil pusing, Hinata mengabaikan saja perasaan itu.

.

.

.

.

Hinata memutuskan untuk segera pulang. Ia sudah diberitahu supirnya, bahwa ia sudah menunggunya di depan.

Namun selama perjalanannya ke gerbang utama universitasnya, ia merasa telah menjadi pusat perhatian orang-orang yang ia lewati. Ia mendengar cekikikan orang-orang saat ia melintas. Ia yakin mereka membicarakan dirinya. Apa ada hal yang salah terhadap dirinya? Hinata yang merasakan ada suatu hal yang ganjil mempercepat langkahnya.

Di ujung koridor, bisa ia lihat Naruto sedang berdiri sambil membaca sesuatu di tangannya. Sejenak Hinata menyapanya lalu pamit untuk pulang duluan. Baru saja beberapa langkah meninggalkan Naruto, Naruto kembali memanggilnya.

"Hinata." Hinata berbalik ketika namanya dipanggil.

"Ya?"

"Ada sesuatu di belakangmu." Naruto mendekat tepatnya ke arah punggung Hinata lalu mengangkat sesuatu dari sana.

Rupanya apa yang membuat Hinata menjadi tontonan publik sudah ia temukan. Tempelan kertas pada tasnya mampu menjelaskan semua bahwa Sasuke berniat memulai perang dengannya. Kertas bertuliskan I'm Idiot sedari tadi bertengger disana. Hinata meremas kertas itu geram.

"Dasar Uchiha!" desis Hinata. Hinata menduga bahwa kertas itu diam-diam Sasuke tempelkan saat Hinata melewatinya tadi. Perasaannya tak pernah salah!

.

.

.

.

Hari berikutnya...

"Baiklah, untuk mendalami mengenai apa saja enzim yang ada pada organ tubuh manusia. Aku akan memberikan tugas kelompok." pernyataan Orochimaru-sensei yang baru saja, menimbulkan lenguhan-lenguhan malas dari mahasiswa/i di hadapannya saat ini. Tentu saja yang namanya tugas kelompok ada saja yang tidak kerja dan akhirnya membiarkan yang paling bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.

"Jangan membantahku!" Orochimaru-sensei marah besar. Seperti kebiasaannya ia akan mengetuk papan dengan spidol dengan amarah jika perhatian murid-muridnya tidak terfokus pada kelasnya, seperti yang ia lakukan saat ini. Alhasil, semuanya tidak berani buka mulut.

"Begini lebih baik." ia memuji keheningan saat ini. "Kelompoknya sesuai deretan saja biar tidak membuatku pusing. Deretan 1 kelompok 1, deretan 2 jadi kelompok 2, begitu seterusnya. Paham?"

"Paham…" tarikan panjang murid-murid di ruang itu menutup kelas hari ini.

Hinata melirik tajam pria yang duduk di sebelahnya yang berarti sederet dengannya. Mengapa harus satu kelompok dengan pria gila ini? rutuknya dalam hati.

Sasuke yang menyadari telah menjadi pusat perhatian gadis Hyuuga disampingnya lalu mempertemukan pandangannya dengan gadis itu.

Onyx bertemu Amethyst. Hinata sudah berani pada Sasuke, rupanya.

"Apa aku harus ikut mengerjakan?" Sasuke mengerti mengapa Hinata menatapnya seperti itu. Tentu saja karena tugas kelompok yang diberikan dosen berambut hitam nan panjang itu.

"Aku tak peduli. Lebih baik kukerjakan sendiri daripada harus bekerja denganmu." dengus Hinata datar sambil menyiapkan kepulangannya dengan memasukkan buku-buku tebal miliknya ke dalam tas punggungnya. Sayang sekali ia tidak satu kelompok dengan Sakura karena beda deretan.

"Aku yakin dosen cantik itu akan marah besar jika mengetahuinya." ujar Sasuke tidak kalah datar meski sedang mengatai dosen berambut panjang itu dengan sebutan cantik.

"Sekali lagi, aku - tidak - peduli." Hinata memberi penekanan dalam kalimatnya hingga akhirnya berjalan keluar ruangan disertai beberapa hentakan kaki. Meninggalkan Sasuke dengan seringaiannya.

"Kau yang minta,"

.

.

.

.

Malamnya, seperti yang terlihat saat ini, Fugaku dan Sasuke sedang makan bersama di sebuah restaurant ternama, meninggalkan Itachi yang sedang kuliah di luar negeri dan Mikoto Uchiha–ibu Sasuke, yang sedang mengunjungi Itachi untuk beberapa hari.

"Ayah berhutang alasan kenapa aku harus mengikuti permainan Ayah ini." Sasuke langsung bertanya mengenai hal ini, ketika akhirnya mendapat kesempatan membicarakannya dengan sang Ayah yang sibuk dengan segala bisnisnya akhir-akhir ini. Tidak hanya akhir-akhir ini sebenarnya.

"Ya, begitulah. Aku membutuhkanmu untuk membalaskan dendamku pada Hyuuga." Fugaku menghembuskan nafas panjang. "Hiashi Hyuuga mencari gara-gara denganku karena mereka mengeluarkan otomotif terbaru dengan memakai desain yang perusahaanku telah buat sebelumnya. Ini desain yang sangat bagus menurutku untuk era modern yang berkembang saat ini." Hiashi geram.

"Tidak bisa kutuntut karena mereka telah memasarkannya terlebih dahulu. Bisa-bisa perusahaanku yang dianggap mengaku-ngaku. Kau tahu, mereka berhasil meraup keuntungan yang besar." Hiashi semakin geram pada akhirnya.

"Bagaimana mereka mengetahuinya?" Sasuke sedikit penasaran.

"Sepertinya ada mata-mata di perusahaanku. Aku akan mencari tahu." Hiashi lalu meneguk minuman yang ia pesan.

Sasuke yang sedari tadi mendengarkan Ayahnya, kini merasa ada hal yang mengganjal di hatinya. Apa dia benar-benar harus membalaskan dendam Ayahnya yang seharusnya Ayahnya lakukan sendiri? Sasuke hanya bisa mencari jawabannya diluar jendela. Tidak terduga, ia benar-benar mendapatkan jawaban atas pertanyaannya disana.

.

.

.

Ini hari dimana Hinata dan kawan-kawan sekelompok serta kelompok lain harus mempresentasikan hasil kerjanya. Hinata yang malas bertemu dengan Sasuke dan menjabat sebagai ketua atas tunjukan teman-temannya ini, memutuskan untuk tidak mengajak Sasuke dalam kerja kelompok mereka sebelumnya. Teman-temannya yang mengetahui hal ini sempat menolak Hinata melakukannya tapi ketua itu dengan tampang polos mengatakan K-kelompok ini akan baik-baik saja, kok.

"Aku mempersilahkan kelompok Uchiha-san untuk mempresentasikan hasil kelompoknya" perintah yang masih lumayan halus dari Orochimaru-sensei membuat mereka perlahan-lahan berdiri. Hinata dan ketiga temannya sebagai teman sekelompok maju perlahan ke depan kelas. Begitu juga dengan Sasuke.

"Aku mengharapkan Uchiha-san untuk menjadi juru bicara dalam kelompok ini," tambah Orochimarulagi.

Hinata tersentak. Tidak, Sasuke yang tidak ikut mengerjakan pasti tidak tahu apa-apa mengenai hasil kerja mereka. Hinata khawatir jika Sasuke akan mengacaukan nilai kelompok mereka.

"T-tidak, biar aku saja," Hinata menolak keinginan dosennya.

"Aku ingin tahu Uchiha-san sudah sejauh mana mengikuti pelajaranku. Silakan Uchiha-san," Orochimaru melirik Sasuke.

Sasuke lalu dengan wajah malas maju selangkah. Tapi dengan entah kecerdasan dari mana, Sasuke mampu menjelaskan mengenai materi itu dengan sangat detail tanpa melirik sedikitpun makalah hasil kerja kelompoknya yang mana ia sesungguhnya tak ada di dalamnya.

Hinata melongo. Sejenak Hinata bersyukur karena Uchiha punya kejeniusan yang melampaui rata-rata.

Sasuke melirik Hinata dari sudut matanya. Hinata menyadari lirikan maut itu. Sedetik kemudian, Sasuke menampilkan seringaiannya.

Ini buruk. Sesal Hinata dalam hatinya.

Benar saja, saat kuliah selesai Sasuke kembali menahan kepulangannya.

"A-apa?" Hinata memberanikan dirinya untuk bertanya ditengah intimidasi tak langsung dari lawan bicaranya saat ini.

"Kau berhutang budi padaku," Sasuke menyeringai.

Hinata tahu apa yang Sasuke maksud. Tentu saja yang ia maksud adalah sikap pahlawan Sasuke yang berhasil memberikan presentasi luar biasa dimata Orochimaru yang mana membuat mereka mendapat nilai sempurna.

"A-aku tak tahu apa maksudmu," Hinata pura-pura tak mengerti. Harap-harap cemas atas apa yang selanjutnya akan terjadi.

"Jangan pura-pura bodoh, Hyuuga. Aku ingin kau mengingatnya," Sasuke lalu meninggalkan Hinata sendirian di kelasnya.

Hinata hanya mengernyitkan dahinya. Kali ini ia tidak benar-benar mengerti maksud yang dilontarkan dari bibir si bungsu Uchiha. Ya, Hinata mulai bertanya-tanya tentang nasib sial yang ia alami akhir-akhir ini.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian..

Hinata yakin pekerjaannya kali ini sangat memuaskan. Bagaimana tidak? Ia langsung menemui dokter-dokter profesional untuk mendukungnya dalam tugas yang diberikan dosennya.

Hinata mencetak laporan dengan rapi dan bersih. Agar tidak rusak dan terjadi apa-apa pada tugasnya, ia sengaja meletakkannya dalam loker. Hal yang ia lakukan saat ini.

"Hai, Hinata-chan, sensei sudah di kelas, ayo!" Sakura yang tiba-tiba datang, langsung menarik tangan Hinata dan menariknya menuju kelas membuat si gadis Hyuuga tidak sempat mengunci lokernya.

Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh seseorang yang melihat dari kejauhan. Ia mendekat ke loker Hinata, melakukan sesuatu di dalamnya, lalu berjalan mengendap-endap seolah baru saja melakukan suatu kejahatan.

.

.

.

.

Hinata terburu-buru menuju lokernya karena rupanya Orochimaru-sensei tidak bisa menunggu lebih lama. Segeralah ia membuka lokernya ketika sampai. Ia terkejut, karena tugasnya sudah robek dan berantakan.

"Huh, hal ini terjadi lagi," Hinata menggeram. Wajahnya memerah. Sudut matanya mulai berair. Diraihnya laporan yang telah terkoyak parah itu dalam genggamannya.

Tapi, hei, lihatlah. Ada sebuah tumpukan kertas dibawah tugasnya yang sudah terkoyak. Hinata berhenti terisak. Ada sebuah pesan juga ternyata.

Pakailah ini untuk mengganti laporanmu

Rupanya tumpukan kertas itu ialah laporan yang mengandung materi yang sama dengan laporan Hinata sebelumnya. Isinya tidak kalah menarik. Susunan katanya, semua... Sempurna. Apa ini dari Naruto? Jelas-jelas selama ini hanyalah dia yang membantu Hinata.

Hinata manut-manut saja dengan note diatas secarik kertas putih itu, lalu berlari menuju kelas.

Ketika memasuki kelas, ia melihat Sasuke sedang berdiri dan menjadi pusat perhatian teman-temannya yang lain.

Hinata lalu dengan cepat menyerahkan laporan yang entah dari siapa itu kepada Orochimaru-sensei.

"Bagus, Hyuuga-san. Jangan membuat dirimu serupa dengan manusia disana," Orochimaru-sensei menatap Sasuke tajam. "Aku pikir dia berbeda. Beraninya mengabaikan tugas yang kuberikan!" ia berteriak. Mungkin dia kecewa karena Sasuke yang biasanya ia banggakan tidak mengerjakan tugas penting yang ia berikan.

"Besok pagi, aku sudah mendapat laporanmu, mengerti? Kau tidak ingin menjelaskan apa alasanmu?"

"Sudah kubilang, aku lupa membawanya," Sasuke memutar matanya lalu kembali duduk.

Hinata lalu kembali ke tempat duduknya. Setelah duduk, sejenak amethyst Hinata bergerak ke arah Sasuke. Hinata merasa prihatin padanya. Meski mereka sering berselisih, Hinata masih menganggapnya manusia, kok.

Sasuke yang menyadari tatapan Hinata lalu membalas tatapannya.

Dapat Hinata temukan sesuatu di dalam matanya. Sesuatu yang hangat. Hinata tidak tahu itu apa. Itu berbeda dengan tatapan dingin yang selalu ia dapatkan dari Sasuke selama ini.

Tanpa Hinata sadari, Sasuke sebenarnya sedang tersenyum tipis. Namun, terlalu tipis untuk terlihat. Hinata lebih melihat itu sebagai seringaian. Apa jangan-jangan Sasuke yang merusak laporannya, ya?

Saat jam istirahat, Hinata memutuskan untuk tinggal di dalam kelas. Begitu pun juga Sasuke yang lebih memilih mendengarkan musik dari ponselnya melalui headset yang hanya menggantung di telinga kirinya di kelas sambil menahan dagu dengan sebelah tangannya. Terlihat sesekali Sasuke memejamkan mata. Hal ini membuat Hinata terkikik geli.

Tiba-tiba Sasuke meletakkan kepalanya di kedua tangannya terlipat dan menghadap ke arah kanan, sudah dengan mata tertutup. Menghadap ke arah Hinata. Hinata masih memandangi wajah itu. Entah kenapa.

Hinata sendiri merasa perselisihannya dengan Sasuke seperti main-main semata. Ia bahkan merasakan dirinya menjadi akrab dengan pemuda yang selalu mengajaknya beradu mulut setiap hari itu.

Hinata tidak tahu apa Sasuke benar-benar membencinya semenjak kejadian tomat itu. Tapi sesungguhnya Hinata tidak merasakan kebencian yang amat sangat dari Sasuke. Yang ia rasakan selama ini ialah memang sifatnya. Sifat dinginnya. Tapi yang membuat Hinata heran ialah kalau bukan dia siapa lagi? Maksudku, orang yang menjahili Hinata. Kejadian yang akhir-akhir ini selalu menimpa dirinya, seperti salah satunya tadi pagi. Laporan yang terkoyak mengerikan.

Hinata bimbang. Apa yang Sasuke pikirkan tentangku? Sebenarnya dia membenciku atau malah ingin jadi temanku? Aku bingung.

Tanpa Hinata sadari, Sasuke tiba-tiba saja membuka mata. Membuat pandangan mereka bertemu. Hinata sontak memerah karena ketahuan memandangi Sasuke.

Sasuke lalu mengangkat kepalanya. Ia menyeringai singkat sebelum melontarkan kalimat yang sukses membuat Hinata tambah merona dua tingkat dari sebelumnya.

"Puas memandangi wajah tampanku, hn? Aku tidak tahu bahkan wajah tidurku bisa menarik perhatianmu," ujar Sasuke yang disambut Hinata dengan gugup dan malu-malu.

"T-tidak! Jangan pernah berpikir begitu, Uchiha," Hinata beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas.

Di luar kelas terlihat seorang asing yang sedang menunggu seseorang.

"Kau, Hyuuga-san, kan?" tanya gadis asing itu kepada Hinata.

"Y-ya, ada apa?" Hinata mendekatkan dirinya selangkah pada gadis itu.

"U-um aku hanya ingin memberitahumu, sesuatu. K-kalau.."

"Kalau?" Hinata semakin penasaran.

"Tadi pagi..."

"Tadi pagi?"

"Kalau tadi pagi pria dengan rambut raven yang populer itu melakukan sesuatu pada lokermu. Aku melihatnya," kata gadis itu gugup seperti takut untuk bersaksi. Mungkin dia takut kalau dia mengatakan sesuatu yang buruk pada orang seperti Uchiha.

"Maksudmu orang yang merobek laporanku, ialah Uchiha Sasuke?" tanya Hinata kemudian yang dijawab anggukan oleh gadis didepannya. Ia seperti tidak percaya akan apa yang didengarnya. Sudah ia duga. Sasuke berada dibalik ini semua. Sejak ia datang dan mendekati kehidupan Hinata, banyak hal-hal aneh yang terjadi padanya. Kini, semua sudah jelas.

TO BE CONTINUED

Author's Note

Maaf tidak cepat update, minna. :'D sibuk dengan sekolah nih maaf membuat kalian menunggu. Aku rasa chapter ini gak greget sama sekali. Maafkan daku ya karena ceritanya tidak sesuai dengan keinginan kalian... Tapi.. Semua akan terjawab kok di akhir cerita.. #plak

Tapi jujur, kurang sreg aja aku sama chapter ini :'v huhuu kayak ga jelas gitu kan :'v bantu aku di kotak review ya di lanjut aja atau kagak :'v aku membutuhkan kaliaaann

Masih banyak kekurangan dalam fic ku jadi mohon maaf sebesar-besarnya dan aku sangat membutuhkan pendapat kalian readersss.

Oh iya FYI Applesauce itu kayak english slang gitu yang sama artinya kayak Nonsense.. Jadi ya gitu...

Terimakasih buat readers, reviewers, followers dan favouriters :v


Pojok Balas Review

Miyuchin2307 - thxxxx... Sudah terjawab kan kenapa mereka musuhan? :D

Mawarputih - aku juga penasaran :'D

Ana - aku masih belum pasti bakal masukin narusaku atau kagak :'D

Lovely Sasuhina - pairnya Sasuhina kokk aman aja

Hiru neesan - kayaknya balas dendam ini ga terlalu sreg :'v maafkan aku yaa. Naruto akan setia membantu Hinata dalam setiap masa sulitnya eaksksk. Jangan khawatir, krn bakal sasuhina kok

Mieko, Megumi-chan, Miko : HAI KAMU YANG DISANAAA :'V MAKASIH ATAS 'SEMANGAT' YANG KAU BERIKAN YAA :V sorry ya tadi ke-capslock hehe..

Ozellie Ozel - makasih... Aku harap chapter ini ga mengecewakan :'v

Shionna Akasuna - terimakasih.. Aku harap chap ini tidak membuatmu kecewaa :'D

mprill Uchiga - maaf ya terlanjur kelamaan update :'v