NARUTO

by Masashi Kishimoto

APPLESAUCE

by Aihazu

Chapter 4 : Headed Hell

Previous Chapter

"Kalau tadi pagi pria dengan rambut raven yang populer itu melakukan sesuatu pada lokermu. Aku melihatnya," kata gadis itu gugup seperti takut untuk bersaksi. Mungkin dia takut kalau dia mengatakan sesuatu yang buruk pada orang seperti Uchiha.

"Maksudmu orang yang merobek laporanku, ialah Uchiha Sasuke?" tanya Hinata kemudian yang dijawab anggukan oleh gadis didepannya. Ia seperti tidak percaya akan apa yang didengarnya. Sudah ia duga. Sasuke berada dibalik ini semua. Sejak ia datang dan mendekati kehidupan Hinata, banyak hal-hal aneh yang terjadi padanya. Kini, semua sudah jelas.

Setelah mendengar kabar itu, Hinata langsung berputar arah menuju kelasnya, meninggalkan si saksi sendirian di depan kelas Hinata.

Aku ditinggal..hiks.. Batin gadis itu sebelum beranjak pergi dengan wajah sayu karena ditinggalin Hinata tanpa menerima sepatah kata makasih darinya.

Beralih ke Hinata yang sudah meraut wajah kesal, saat ini dia sudah duduk kembali di tempat duduknya dan memposisikan dirinya menghadap Sasuke yang memasang ekspresi tenang meski sebenarnya dia heran melihat sikap Hinata yang tiba-tiba berubah setelah kembali dari luar.

"Apa yang kau lakukan terhadap lokerku?" tanya Hinata ketus.

Sasuke mengernyitkan alis tak mengerti. Bukan respon yang sebenarnya diharapkan Hinata.

"Apa?" tanya Hinata lagi.

"Melakukan apa maksudmu?" Sasuke malah balik bertanya.

"Kau merobek tugasku, kan? Sudah kuduga kau yang melakukan ini semua," ujar Hinata tambah ketus. Entah kenapa di depan pria Uchiha ini Ia tidak mampu menunjukkan sopan santun khas Hyuuga-nya, seperti yang Ia pikirkan, Sasuke tidak pantas menerimanya.

"Bagaimana jika memang aku yang melakukannya? Apa yang akan kau lakukan, hm?" Sasuke mengangkat sebelah tangannya sekilas sambil memperlihatkan seringaiannya.

"Kau.." desis Hinata seraya berdiri dari kursinya. Lalu dengan perasaan bersemangat dalam dirinya, Hinata menendang kaki Sasuke tepat di tulang keringnya.

"Aww!" bukan Sasuke yang menjerit kesakitan, melainkan Hinata yang kini memegangi telapak kakinya karena kesakitan. Kalau dipikir-pikir, telapak kaki seseorang yang menyentuh tulang kering orang lain, tidak bakal mengalami kesakitan separah si pemilik tulang kering, kecuali memang ada sesuatu pada telapaknya. Seperti yang terjadi pada Hinata saat ini.

Hinata masih memerah karena merasakan sakit yang amat sangat pada telapak kakinya. Bahkan Hinata tidak mampu membendung tangisannya akibat nasib sial yang menimpa kaki mulus nan putih kesayangannya. Sasuke yang melihat kesakitan nyata yan Hinata, lalu menunduk–mendekati Hinata.

"Hinata? Kau tak apa?" Sasuke dengan manisnya (menurut Author) menanyakan keadaan Hinata. Hinata yang menyadari sikap Sasuke malah semakin memerah apalagi ketika Sasuke memanggil nama depannya. Penambahan rona merah pada pipi Hinata, malah Sasuke yakini sebagai pengungkapan rasa sakit yang amat sangat. Cowok emang sukanya ga peka ya.

"T-tentu saja aku tidak baik. Ini semua karena dirimu," Hinata memalingkan wajah saat menyadari bahwa jarak dirinya dan Sasuke semakin menipis. Sasuke malah semakin mendekatkan dirinya pada Hinata, lalu melepas alas kaki yang masih menempel pada kakinya. Disana, dapat ia lihat bekas luka yang kembali terbuka dan mengeluarkan darah. Kaki Hinata sendiri, sebenarnya sudah memberontak sedari tadi. Tapi, apa daya jika Sasuke lebih kuat darinya?

"Luka ini..," Sasuke menggeleng singkat, sejenak memikirkan sesuatu. "Kau terluka,"

"Kakimu..hiks...melukai kaki indahku..hiks" Hinata bersuara ditengah isakannya, menjadikan kaki Sasuke yang jelas-jelas tidak salah apa-apa sebagai tersangka. Hinata sendiri masih saja memberontak karena Sasuke belum juga melepaskan kakinya.

Semua orang yang ada di dalam kelas, memusatkan perhatian pada Hinata dan Sasuke. Beberapa dari mereka mulai memberi tatapan menusuk kepada Sasuke, karena Ia satu-satunya orang di sana yang pantas dicurigai sebagai tersangka penganiayaan Hinata –eh. Sasuke sendiri menatap mereka balik dengan mata tajam yang menyiratkan aku-tidak-bersalah.

Sasuke yang disalahkan Hinata hanya dapat mendengus. "Kau yang menendangku lantas menyalahkanku?"

"Apalagi..kau telah merobek tugasku.. hiks. Apa kau tak tahu bahwa berapa lama waktu yang perlu kuhabiskan untuk membuatnya?hiks..," Hinata yang semakin menangis, lalu melepas tangan Sasuke dengan tangannya sendiri.

"Ya, aku yang merobek tugasmu," begitu pengakuan Sasuke. Mendengar itu, Hinata semakin memasang wajah marahnya. "Tapi, jangan salahkan aku saat kau tersakiti karena ulahmu sendiri,"

Lalu, tanpa aba-aba Sasuke lalu mengarahkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Hinata. Sasuke lalu mengangkat Hinata dalam gendongannya.

"H-hei! Apa-apaan? Turunkan aku!" Hinata menjerit sambil memukul-mukulkan kepalan tangannya pada dada Sasuke.

"Aku tidak ingin mereka menuduhku yang tidak-tidak, jadi diam saja," kata Sasuke setengah berbisik. Sasuke lalu membawanya menelururi koridor kampus, entah kemana tujuannya. Tentu saja, orang-orang melihat mereka dengan pandangan bertanya, bingung, dan kecewa. Menyadari hal itu, Hinata semakin meronta dan berdegup tak karuan dalam dekapan Sasuke.

"Turunkan aku! Uchiha! Turunkan!" Sasuke sejenak melihat ekspresi wajah Hinata. Pikiran jahil menyeruak masuk ke dalam kepala jeniusnya. Tanpa disangka, Sasuke lalu bergerak ke kanan, ke arah pembatas koridor yang menampilkan area bawah Universitas Konoha dari lantai dua. Sasuke lalu mengarahkan Hinata ke atas pembatas itu, mencoba menakut-nakuti Hinata masih dengan seringaian pada bibir tipisnya.

"Benar ingin aku turunkan? Atau kau masih ingin aku timang?" Ya ampun Sasuke, kayak bayi aja ditimang.

"A-apa?" rona masih menghias pipinya, bahkan semakin menjadi-jadi. Apalagi sudah banyak pasang mata yang melihat kejadian ini. "Bukan turunkan aku disini! K-kau mau aku mati, hah?" oke, Hinata sudah tidak mampu menahan emosinya. Di sinilah ia, digendong orang yang paling ia benci di ujung hidupnya dan menjadi pusat perhatian seisi universitas. Bisa kau bayangkan apa yang dia rasakan?

"Cepatlah! Aa!" Sasuke sedikit mengayunkan tubuh Hinata. Menahan senyum saat melihat ekspresi Hinata yang benar-benar memuaskan hatinya. Akhirnya, Sasuke kembali berjalan ke tujuannya untuk menjauhi pikiran usilnya yang semakin parah. Dapat Sasuke dengar, Hinata melepaskan nafas lega. Meski belum benar-benar bebas dari ancaman Sasuke.

"Kau tahu? Ekspresimu benar-benar menghiburku," ujar Sasuke sambil melihat wajah Hinata seraya menahan tawa. Hinata semakin merona dan meronta. Tidak! Ia tidak boleh lama-lama dengan orang yang menjahatinya.

"Turunkan aku atau kau kupanggil penjahat," Sasuke memilih tidak bersuara dan mempercepat langkahnya. Tepat setelah itu, ia memasuki sebuah ruangan bernuansa putih. Hinata belum tau apa ruangan ini sebenarnya. Sehingga ia tetap saja meronta entah kenapa dia ga kuat digendong Sasuke begini.

"Turun–"

Blugh

Tanpa sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya, tubuh Hinata telah Sasuke lempar. Tepatnya ke atas sebuah kasur UKS yang cukup jauh dari kelas Sasuke dan Hinata. Tenang saja, bukan artian lempar yang sesungguhnya, kok.

Seperti permintaan Hinata, Sasuke telah menurunkannya. Setelah Hinata meneliti ruangan ini, kini Ia tahu ini adalah sebuah unit kesehatan.

"Puas?" Sasuke lalu berbalik dan beranjak pergi.

"T-tunggu!" Sasuke menoleh.

"Kalau ke sini, a-aku juga bisa jalan sendiri. Lalu buat apa kau menggendongku dan membuat keributan ?" tanya Hinata yang sebenarnya masih menahan degupan jantungnya untuk tak terdengar.

"Aku tidak ingin mereka berpikir salah tentangku. Menuduhku atas suatu hal yang tak kulakukan,"

"Kau sendiri tahu UKS di mana?" Hinata terdiam. Nggak sih. Pikirnya. "Dan kau lebih memilih meninggalkan jejak darahmu yang tidak sedikit itu di sepanjang koridor? Melihatmu bisa jalan saja aku tak yakin," Hinata berpikir sejenak. Benar juga sih kata pria ini.

"I-iya, iya," Hinata mengangkat tangan. Hening. Itulah situasi saat ini. Setelah Sasuke tidak mendengar dialog lain disana, Sasuke kembali memutar badan dan berjalan.

"M-makasih," dengan wajah memerah dan suara pelan, Hinata berterimakasih. Hinata saat ini tak sadar bahwa dibalik punggung itu, Sasuke sedang menahan senyum tipis agar tidak tersungging begitu mudahnya. Tapi sayang sekali, Sasuke tak mampu melakukannya.

Hinata's POV

Setelah dia pergi, bahkan degupan jantungku belum juga berhenti. Ayolah, Hinata, apa yang terjadi padamu?

Lalu, apa maksudnya melakukan semua ini? Baru saja ia mengakui bahwa ia yang merobek tugasku. Tapi sekarang? Dengan seenaknya dia membuat jantungku hampir lepas karena menggendongku keliling kampus.

Atau dia hanya ingin membuatku malu ? Kemungkinan paling buruk, apa jangan-jangan dia berbuat begini agar aku tak mencurigai semua kejahatan yang telah ia lakukan?

Sasuke, apapun yang kau lakukan, aku tak akan memberi kepercayaan padamu. Percayalah.

Setelah dia pergi, seorang pengurus UKS menghampiriku. Oh, tidak! Apa benar yang merawatnya harus orang ini?

Shikamaru Nara, pria berkuncir nanas melihatku dengan sorotan yang tak bisa aku artikan. Tentu saja aku mengenalnya karena ia adalah salah satu kompolotan mahasiswa populer di kampusku. Temannya Sasuke. Ya, ampun. Apa ujung-ujungnya harus ada Sasuke?

"Wah, mencari kesempatan berdekatan dengan pangeran kampus, Nona?" ujarnya sambil mengambil perban dan obat-obatan lain dari dalam lemari kaca di sudut ruangan.

"M-maaf, tapi aku tidak mengerti maksudmu," aku membalas sekenanya, takut salah ngomong nih orang bisa lapor yang macem-macem sama Sasuke. Lah. Sasuke lagi, Sasuke lagi. Hinata, sadarlah. Batinku sambil menepuk pelan pipiku.

"Oh?" ia terkekeh pelan. "Kupikir kau mengerti maksudku, nona..." tanya Shikamaru.

"H-hinata. Hyuuga Hinata," aku yang mengerti maksudnya langsung saja menambahkan.

"Oh, nona Hyuuga. Well, kau pasti tahu bagaimana populernya ia di kalangan gadis. Kupikir kau salah satu dari mereka," ujarnya tersenyum tipis sambil mendekat ke arahku dengan nampan di tangannya.

"Sayang sekali, aku tak tertarik," senyumku kemudian membuatnya sedikit terkejut. Ia mulai membersihkan luka di kakiku dan mulai bergerak mengobati. Aku yang sedikit bosan mulai membuka topik baru setelah topik tadi sepertinya tidak lagi membuat pria ini bertanya.

"K-kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?" tanyaku pelan. Sejenak ia mengangkat kepala melihatku, lalu kembali menunduk untuk mengobati kakiku.

"Bolos," ia tersenyum. Kenapa dia jadi banyak senyum, ya? Seingatku dia selalu memasang muka cuek saat berhadapan dengan orang-orang yang memandanginya kagum. Katanya, Ia adalah orang yang lebih jenius dari Sasuke yang mana membuatnya masuk list terkece se-kampus versi gadis-gadis di sini. Bukan hanya cerdas, dia cukup menarik perhatian orang dengan muka dan kharismanya. Hei, j-jangan menganggap bahwa aku termasuk golongan penggosip ya, aku ini hanya curi-curi dengar saja dari Sakura-chan dan yang lain.

"Daripada di kelas mendengar pelajaran membosankan, lebih baik aku disini menguasai UKS sendirian," itu katanya, masih dengan kegiatan melilit kakiku dengan perban.

"Nah, selesai. Ngomong-ngomong, apa kau begitu bersemangat hingga kaca bisa menusuk kakimu sedalam ini?" whoa, bagaimana ia bisa tahu kalau luka di kakiku ini karena serpihan kaca? Oh iya, jangan lupakan bahwa ia adalah orang jenius.

"Makasih, Nara-kun," atas kebaikannya aku akan menghadiahkannya sesuatu. Tunggu sebentar, aku masih mengambil permen dari saku.

"Ini," ya, aku memberikannya sebuah permen lolipop mini. Kalau kalian berkata, kenapa tidak aku berikan saja pada Sasuke, jawabannya aku belum siap. Mohon mengertilah aku, ya.

"Tak masalah," ia menerima permenku dan menawarkan bantuan untuk mengantarku kembali ke kelas.

"Aku bisa sendiri. Semoga harimu menyenangkan," kataku sambil berjalan kembali ke kelas, meski agak sulit.

Hinata's POV end

"Ya, aku sudah menemukan kesenangan hari ini," ujar Shikamaru sambil melihat permen di tangannya setelah yakin Hinata tak lagi ada disana.

Flashback On

Jika kalian ingin tahu bagaimana aku bisa mendapat luka yang kata Shikamaru Nara cukup dalam ini, maka aku akan menceritakannya pada kalian.

Malam itu, hari ketika aku, Sasuke dan beberapa teman sederet lain menjadi satu kelompok, teman-temanku yang mempunyai akun media sosial membentuk group-chat bernama Kelompok Enzim untuk membahas mengenai bagaimana mereka mengerjakan tugas ini.

Kira-kira, begini isi chat yang aku baca dari ponsel Shion, teman satu kelompokku.

Shion (15.03) : Yo! Aku membentuk grup ini agar kita bisa memikirkan bagaimana kita mengerjakan tugas ini.

Himawari (15.04) : Oke

Boruto (15.04) : Boleh juga. Aku tak sabar melihat apa yang bisa kita bicarakan disini.

Hinawari (15.05) : Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Hyuuga-san dan Uchiha-san di group ini.

Shion (15.05) : Ya, soalnya Hinata tidak punya social media. Sedangkan, Uchiha-san... Sebenarnya dia punya, tapi aku tidak berani masukin dia ke grup ini. #peace

Boruto (15.06) : Memangnya dia semenakutkan itu, ya Shion? Ya sudah, biar aku saja yang mengundangnya ke sini..

Uchiha Sasuke has joined the group (15.09)

*seketika grup jadi hening*

Shion (15.15) : Yo! Uchiha-san, aku membuat grup ini agar kita bisa memikirkan bagaimana kita mengerjakan tugas Pak Orochimaru.

Sasuke (15.20) : Hn.

*kenapa tiba-tiba yang lain hilang ya?*

Shion (15.21) : Aku harap kau tak terganggu dengan notifikasi grup ini jika lagi ramenya, ya. Sepertinya grup ini bisa jadi awal hubungan pertemanan kita semua di awal semester ini. Hahaha.

*aku dapat merasakan kegaringan Shion saat tertawa di sini. Maafkan aku Shion-chan tapi entah kenapa aku berpikir begitu*

Sasuke (15.25) : Kalau begitu aku keluar saja. Aku tidak suka keributan, apalagi hal tidak penting. Kalau ada apa-apa, hubungi saja aku.

Uchiha Sasuke left the group (15.25)

Boruto (15.25) : Hei, apa-apaan dia itu, menyebalkan!

Himawari (15.25) : Aku tidak menyangka bahwa selain cuek kata-katanya pedas juga.

Shion (15.25) : Oh tidak, aku ingin menangis X'( Ternyata hal yang kutakutkan menjadi kenyataan.

Himawari (15.25) : Sabar ya, Shion. Aku mengerti perasaanmu.

Boruto (15.25) : Iya, aku mendukungmu. Biar besok kuhajar dia.

Himawari (15.26) : Ayo, aku ikut! Aku mau melihat wajahnya sebonyok wajahmu, Boruto. Hahaha.

*setelah Sasuke pergi, secepat kilat grup menjadi rame lagi. Rame ngomongin Sasuke. Kami-sama, syukurlah aku tak masuk grup ini sehingga aku tidak tercemari. Ngomong-ngomong, kekuatan seperti apa yang mereka miliki sehingga bisa mengetik cepat dan berbalas-balasan kurang dari semenit?*

Shion (15.27) : Sudahlah, teman-teman. Tak usah diperpanjang. Aku ikhlas kok. Btw, yuk kita to the point. Siapa yang akan jadi ketua kita? Aku merekomendasikan Hinata. Yang setuju angkat jempolnya.

Shion (15.28) : Loh kok pada ngilang? Setuju apa tidak?

Boruto (15.28) : Lah kau bilang angkat jempol, nih sudah kulakukan disini.

Shion (15.28) : Kau bodoh atau apa? Maksudku angkat jempol di dalam chat.

Boruto (15.28) : Bagaimana caranya?

Shion (15.29) : Mati saja.

Himawari (15.29) : Aku setuju. Boruto, kau bisa saja bilang 'aku setuju' sama sepertiku. Tak perlu kau sampai angkat jempol juga di dunia nyata.

Boruto (15.29) : Kau setuju aku mati ya, Hima?

Boruto (15.30) : Oh iya, sebelum aku mati, aku mau bilang kalau aku setuju Hinata jadi ketua kita.

Boruto Gahool left the group (15.31)

Himawari (15.31) : Dia sepertinya betulan bodoh. Shion? Where are you noww~

Shion (15.31) : Ya, disini. Aku mengundang Boruto lagi soalnya masa' se-grup hanya berdua. Apa-apaan..

Boruto Gahool has joined the group (15.31)

Boruto (15.32) : Iya.

Shion (15.32) : Oke, jadi kita setuju menjadikan Hinata sebagai ketua. Aku akan menghubunginya untuk memberitahu. Nah sekarang kita bagi tugas.

Shion (15.34) : Biar Hinata sebagai ketua yang nge-cetak tugasnya, kita cari bahan materinya saja. Aku urus enzim di mulut, Boruto di pankreas, dan Hima di lambung.

Boruto (15.34) : Terus Sasuke apa?

Shion (15.34) : Aku memberitahukannya terpisah kayak mainan Hotwheels dan trailnya. Dia akan mengurus enzim di jejunum.

Himawari (15.34) : (is writing a message)

Uchiha Sasuke has joined the group (15.34)

Himawari (15.34) : Syukurlah kau masih menyisakan Uchiha kampret itu tugas. Kita tak bisa biarkan dia berkuasaaa

Sasuke (15.35) : Hn. Sepertinya aku tak dibutuhkan disini.

Uchiha Sasuke left the group (15.35)

Himawari (15.35) : SIAPA YANG MENGUNDANGNYA MASUK LAGI? SIAPA.. MATILAH AKU. AKU AKAN DIINTIMIDASI OLEH MATA TAJAMNYAAA DI KAMPUS!

Boruto (15.36) : Hahaha

Shion (15.38) : Maaf, tadi aku salah ngundang orang. Eh aku malah mengundang Sasuke. Tak kukira dia akan menerimanya. Dia pasti sakit hati saat mengetahui dia dikata-katain. Mana hati nurani kaliaan..

Oke teman-teman, segitu dulu pesan-pesan dalam grup itu, karena di bawahnya kurang penting semua. Dari sana aku dapat menarik kesimpulan bahwa jangan sekali-kali mengundang Uchiha Sasuke masuk ke group-chat kalau tidak mau terjadi ke-awkward-an di sana.

Ya, jadi dari grup itu, aku secara sepihak dijadikan ketua dan hanya ditugaskan untuk mencetak hasilnya. Ketuanya aku tapi yang mengurus semua Shion, ya. Aku merasa tak berguna. Hiks.

Alhasil, aku pergi ke pusat kota saat malam tiba karena aku kehabisan kertas A4. Di antar sama taxi, aku berhasil sampai ke sana. Aku sudah mendapatkan satu rim kertas di tanganku. Aku harus segera pulang karena telah mendapatkan yang kuinginkan, nanti Hanabi mencari-cariku.

Baru saja aku keluar 5 langkah dari toko. Tiba-tiba...

"Copeett! Tolongg! Tasku! Itu isinya popok cucu doang ga ada apa-apa! Kembali!" seorang nenek bukan wanita paruh baya yang masih imut-imut, meneriaki si pencuri dengan malangnya karena sudah kepayahan hanya dengan berteriak. Mengetahui hal itu, aku menjatuhkan bungkusan yang berisi kertas ke bawah lampu jalan beserta alas kakiku. Aku lalu berlari mengejar si pencuri yang belum terlalu jauh dariku. Bermodal nekat dan kasih sayang terhadap orang yang lebih tua, aku mengejar si pencuri.

Menyadari aku mengejarnya, si pencuri lalu menjatuhkan botol kaca bekas bir yang sudah ada di genggamannya ke jalanan yang telah ia lewati dan yang ia yakini akan kulewati.

Tanpa sempat mengerem, kakiku berhasil menginjak lautan kaca itu. Kakiku berdarah dan mengalir di setiap sudut telapakku. Tapi aku tidak berhenti. Aku tetap mengejar si pencuri itu yang tadi malah menyempatkan berhenti untuk melihatku dan mengejek kejadian yang menimpaku dengan lidah yang menjulur.

Kekuatan amarahku memuncak saat itu juga, membuatku mampu berlari 2x lipat dari biasanya.

Pencuri itu lalu kembali berlari. Tapi karena kelelahan dan mabuk yang menguasainya, ia terjatuh dan aku berhasil menangkapnya. Yeah.

Setelah pencuri itu jatuh, barulah warga sekampung datang. Kenapa tidak dari tadi sih?

"Nona, kau terlalu cepat bahkan aku tak sanggup mengejarmu," Oh, jadi itu alasan mereka kenapa datang telat. Aku terlalu cepat. Yeah.

"A-ah tidak juga," aku menjawab malu-malu sambil mengusap tengkukku yang tidak gatal.

"B-biar aku yang membawa tas ini kembali ke pemiliknya," lalu aku mengambil tas itu dari pencuri yang sudah tak berdaya.

Kemudian aku kembali ke tempat di mana aku terakhir bertemu si nenek.

"Nenek lain kali hati-hati, ya?" kataku sambil memberikan tasnya. Aku sampai tidak merasakan luka pada kakiku, karena rasa hangat menjalar ke hatiku ketika si nenek tersenyum padaku. Aih jadi malu.

"Makasih, Cu. Tanpamu, kasihan cucuku nanti popoknya ga ganti-ganti," kata nenek sumringah.

"Haha," tawaku seadanya.

"Cu, kakimu berdarah! Cu, gimana ini? Ayo, kita duduk dulu disana," kata nenek sambil menarikku ke bangku tak jauh di seberang jalan.

Setelah duduk, kelihatan sekali nenek baru dapat ide.

"Cu, untungnya tadi aku membawa banyak plester. Soalnya aku merasa akan ada kejadian mengerikan hari ini. Eh taunya seorang gadis cantik terluka, ais...ais..ais," ujar si nenek imut-imut sambil mengeluarkan plester dari tasnya.

Ditempelkannya plester pada banyak luka di kakiku.

"Ya, kamu sudah cantik jika seperti ini, hahaha," sebenarnya aku bingung nenek ini ngomong apa, tapi aku memutuskan untuk tetap menunduk hormat pada nenek sebagai ucapan terimakasih dan maaf karena merepotkannya.

Karena sudah cukup larut, aku bilang ke nenek untuk cepat pulang. Nanti cucunya mencari lagi.

Akhirnya kami memutuskan naik taxi yang sama untuk pulang, dan kami berpisah saat si nenek akhirnya turun di sebuah rumah besar. Sekali lagi, sebuah rumah besar.

Rupanya nenek ini orang kaya.

"Sekali lagi, makasih ya, Cu. Nenek harap bisa bertemu denganmu lagi,"

"Iya, nek. Aku juga berharap begitu,"

"Daa, Hinata-cwann," sapa nenek sebelum masuk ke dalam rumah.

Gleg

TO BE CONTINUED

Author's Note :

Wakaakakak, fanfict ini jadi nista ya, maaf. Entah kenapa aku seneng sama chap ini. Mungkin karena humor garingnya ya. Gleg. Aku meminta maaf karena chap kemaren kurang memuaskan dan aku sadar kalo kecepetan. Lagi ga ada ide soalnya, yang penting updatee.. Wuhuuu.

Makasih banyak bagi yang bersedia reviews, favourites, and follows cerita ini. Begitu juga untuk silent readers tersayanggg yang mau sempatkan membacaa :D

Pojok Nista ++

"Jangan berani turunkan aku disini!"

"Baiklah,"

Meski begitu, Hinata tetap meronta.

Alhasil, Hinata pun jatuh dari lantai dua.

Tapi, dengan sigap, Sasuke mendapat tangan Hinata. Cieee

"Hinata!"

"Sasuke!"

"Hinata!"

"Sasuke! Cepat tarik aku!"

Sasuke lalu menarik Hinata ke atas. Setelah naik, Hinata langsung memeluk Sasuke.

"Aku mencintaimu!" kata Hinata.

"Aku juga,"

Akhirnya Sasu dan Hina hidup bersama-sama

The End (kayak iklan ment°s)

Pojok Nista End

Karena ke-plin-plan-an yang aku miliki, aku memutuskan untuk edit chap ini :'v dengan menambahkan pojok balas reviewwww...

Ini fanfict aku bikin sehari lo, bayangkan. Baru dibikin...lagi. Fresh from the oven. Pengen cepat update nih.

Pojok Balas Review

heartlesssoul.712 : kau membuatku kembali bersemangat, :') sankyuu...

mawarputih : makasih banyak :') aku sendiri juga berharap bisa up rutin tapi apa daya dengan kendala dunia nyata yang ada/plak. Yaa aku usahain.. Makasih krn menyempatkan diri ngereview lagi ya... :v

miss taurus : makasih krn menyempatkan diri review dan memberi saran miss, :'D sangat membangun. Ya sih memang pindah fakultas ga sesimple yang kita pikirkan, tpi aku coba bayangin aja kuasanya bapak Fugaku, mwehehe maaf karena kurang realistis. aku akan mencoba memperbaiki chap mendatang. Terimakasih atas sarannyaaa ❤

lovely sasuhina : terimakasih lagi telah menyempatkan nge-review :v simak terus chap - chap selanjutnya untuk mendapatkan kenyataannya, mwahahaha #nistamodeon

mprill Uchiga : makasih telah datang lagi :v iya nih aku juga bingung (lah?) soalnya ga ada ide, huhuu.

Ozellie Ozel : makasih telah datang lagii :D, silakan simak chap-chap selanjutnya yaa :v

Vicky Maulin : Hai, sesungguhnya author ga tau sih drama itu, hehe. Syukurlah, kalo fic ini masih ngena :'v, yosh akan aku usahakan. Terimakasih banyaakk

hinatachannn2505 : siap xD makasih banyak ..

Wokeee Feel Free to Review...

Thx for reading