MAYDAY

Day : 2

Jaebum dan Mark terpaksa keluar malam untuk ke toko setelah susah payah merayu Jinyoung untuk bersabar dulu. Jinyoung ngotot agar segera di belikan dalaman dengan alasan dia mulai tidak nyaman. Rasanya dia tidak aman berada di tengah laki-laki tanpa 'pengaman' asetnya. Memangnya tampang-tampang seperti mereka tampang mesum semua? Jinyoung jahat sekali pikir Jaebum mendengar alasan Jinyoung. Yah..walapun Jaebum akui dia sedikit tergoda melihat penampilan Jinyoung saat ini. Tapi memangnya pikirannya salah? Dia kan laki-laki. Ok…kita sudahi acara menggerutu karena Jinyoung. Sekarang dia memeriksa keperluan berbelanja 'extrem'nya. Jaket tebal? Fix. Masker? Fix. Kaca mata? Fix. Ok siap berangkat.

"Kita seperti om-om mesum", celetuk Jaebum begitu memasuki toko.

"Diamlah…", Mark berjalan-mencoba- santai ke area bra setelah dipandangi pelayan toko sejak mereka memasuki toko. Siapa juga yang tidak curiga dengan dandanan mereka malam-malam begini.

"Bra seperti apa yang akan kita belikan?', Mark mulai memilih bra yang tergantung di depannya.

"Manakutahu", Jaebum sudah mulai tidak tahan. Mark menoleh ke samping, menatap Jaebum dengan tatapan 'kau ini bagaimana sih?'.

"Haish…ambil-ambil saja", Jaebum sudah ada dalam mode risih, apalagi pelayan toko terus saja memandangi mereka. "Astaga…!", Jaebum tiba-tiba mengguncang lengan Mark yang sedang memegang bra, untuk saja tidak jatuh. Bisa tambah mencurigakan mereka,"Pelayan tokonya…mendekat", Jaebum menghimbau Mark.

"Aku heran kenapa mereka memilihmu menjadi leader", Sindir Mark yang dihadiahi sebuah pukulan di lengannya oleh Jaebum.

"Ada yang bisa saya bantu?", suara pelayan tadi menghentikan perdebatan tidak jelas Jaebum dan Mark. "Tuan-tuan ingin membeli bra yang seperti apa?", tanya pelayan toko – yang untungnya ramah dengan senyuman. Mungkin terbiasa menghadapi ajushi-ajushi mesum-. Melihat pelanggannya tak menyahut si pelayan mengambil inisiatif.

"Kalau begitu saya tunjukkan model terbaru. Mari ikuti saya", ajak si pelayan yang diikuti saja oleh Mark dan Jaebum.

Mereka bertiga menuju bagian dekat etalase. Mark dan Jaebum memperhatikan manekin-manekin berbalut baju dalam yang tadi juga mereka lihat dari luar toko. "Hey…lucu juga kalau Jinyoung memakai bra loreng itu", Jaebum menyikut Mark yang memperhatikan penjelasan si pelayan. Mark mengikuti arah pandang Jaebum pada dalaman motif strip harimau.

"Damn", umpat Mark berbisik.

"Wae?", tanya Jaebum yang mendengar ucapan Mark. "Aniyo…lebih baik kita pilih saja", Mark memilih mendekati si pelayan yang masih sibuk menjelaskan. Dia tidak mungkin menceritakan jika tadi dia membayangkan Jinyoung memakai –hanya- dalaman loreng tadi plus bando telinga kucing, selop kucing dan ekor kucing. Meow!

DORM GOT7

Jinyoung berbaring di sofa bermain dengan Coco, sedangkan ke empat member lain duduk di bawahnya. Coco nampak senang dipeluk Jinyoung. Jackson melirik posisi Coco sekilas,"Aigoooo….aku harap aku jadi Coco sekarang",celetuknya membuat ketiga dongsaengnya menengok ke belakang. Disana tampak Coco berbaring di atas dada Jinyoung begitu nyaman dengan Jinyoung mengelus kepalanya.

"Tapi kan Coco perempuan hyung", Youngjae menyahut.

"Tapi tetep saja Youngjae hyung", itu Bambam yang berbicara.

"Aigeuuuu…hentikan pikiran kotor kalian!", Jinyoung bangkit dari posisi tidur sambil mengangkat coco dari dadanya. "Aku merasa seprti domba di sarang serigala", lanjut Jinyoung lagi.

"Ne…domba yang montok", OOpps! Yugyeom yang tersadar akan kata-katanya barusan reflek menutup mulutnya. Bambam dan Youngjae menggeleng-geleng menyesali – atau mungkin mensyukuri – nasib maknae mereka.

Dan detik berikutnya sebuah pukulan mendarat di belakang kepala Yugyeom,"Ouch! Noona-yahhh…", protes Yugyeom akan kerasnya pukulan 'sayang' Jinyoung.

"Jaga bicaramu,maknae!", jutek Jinyoung mirip ibu-ibu memarahi anaknya. Jackson, Youngjae dan Bambam tertawa tertahan melihat nasib Yugyeom.

KEMBALI KE TOKO

Mark sibuk membandingkan dua bra yang sama motifnya – motif polkadot biru- sedangkan Jaebum hanya memperhatikan saja tanpa minat.

"Ambil saja keduanya", saran Jaebum,"Toh juga kita tak mungkin melihat Jinyoung memakainya",Iya kali Jinyoung sehabis mencoba memakainya lantas menunjukkan pada mereka. Walaupun Jaebum sedikit berharap. Iya Jaebum ngarep…Cuma ngarep sedikit boleh kan?.

"Uhm…istrinya ukuran berapa,Tuan?", si pelayan mendekat lagi, dia heran pelanggannya belum memutuskan akan membeli yang mana.

"Hah?", Mark cengo. Tampang bloon yang untungnya tersembunyikan oleh masker yang dia gunakan.

"Eh?", Jaebum ikutan bingung. Ukuran? Ukuran apa ya?

"iya…ukuran istrinya. 34C? 36A?", si pelayan menatap bergantian Jaebum dan Mark.

"Itu…uhm…", Mark melihat ke arah Jaebum mencari bantuan.

"Hahaha…kami-maksudku, temanku lupa bertanya pada istrinya,"Jaebum tak ingin si pelayan bertambah curiga apalagi di sempat keceplosan mengatakan kami. Memangnya Jinyoung poliandri. "Dia ingin membuat kejutan untuk istrinya…hahaha…biarku telpon istriku dulu, mungkin dia tahu. Mereka bersahabat baik", Jaebum menggamit lengan Mark yang daritadi hanya bisa mengangguk menyetujui penjelasan Jaebum. Dia sendiri tersenyum tengsin pada si pelayan. Sudah berlama-lama malah tak tau ukuran.

Mereka berjalan menuju dekat kamar pas yang sepi,"Sial! Kau tahu ukuran Jinyoung?", Jaebum berusaha menyembunyikan kepanikannya. Cukup dia terkurung disini gara-gara diminta membeli bra, tak perlu perpanjangan waktu untuk alasan apapun.

"Hah?", jawaban Mark yang kembali ngeblank.

"Haish…", Jaebum mengusap mukanya kesal. Masih mau bilang kenapa dia jadi leader? Ch!. Jaebum memutuskan untuk menghubungi Jinyoung.

"Selama ini Jinyoungkan tak pernah pakai bra", celetuk Mark yang membuat Jaebum menyadari pertanyaannya barusan.

"Halo? Jaebum hyung? Lama sekali?!", suara Jinyoung di seberang membuat Jaebum tersadar. Dia bahkan belum sempat menyapa balik tapi sudah disemprot duluan.

"HAish…bisakah kau tenang dulu,Sayang". Mark mengernyit menatap Jaebum, jelas-jelas dia tahu itu suara Jinyoung.

"Apa sih sayang-sayang?", Jinyoung di seberang sana makin kesal. Sejak kapan Jaebum memanggil dia sayang?

"Yah…sms yang lain, katakan ini hanya acting", bisik Jaebum pada Mark sambil sesekali melihat ke arah si pelayan yang memperhatikan mereka. Mark mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Yugyeom.

"Yeobo..?", Jaebum mengetes keadaan apa sudah masuk scenario.

"Yah!", Jinyoung masih nyolot. Jaebum melirik Mark meminta penjelasan," I did it", Mark menunjukkan layar ponselnya yang tertera percakapannya dengan Yugyeom.

"Yeobo..?", tanya Jaebum sekali lagi lebih berhati-hati.

"Wae?", sahut Jinyoung kali ini lembut. Jaebum menghembuskan napas lega, sumpah dia tadi sempat menahan napasnya menunggu jawaban Jinyoung. Sampai Jinyoung nyolot lagi tamatlah nasib mereka – atau mungkin hanya dia- sampai di dorm.

"kau tau ukuran bra Ji-um…Jini?", Jaebum ngarang, entah dapat ide darimana nama Jinyoung berubah jadi Jini, dia tak mungkin menyebutkan nama Jinyoung langsung. Mark tertawa tertahan tapi langsung diam karena disikut Jaebum.

"Eh?", hanya itu yang terdengar dari line seberang. Selama beberapa detik hening. Duh, si Jinyoung ngeblank pikir Jaebum. Kemudian terdengar suara kasak-kusuk.

"Hyung…hyung!hyung!", Jaebum kaget mendengar suara di seberang. Bukan suara Jinyoung lagi.

"Jackson?", tanya Jaebum dengan suara pelan.

"Ne…Hyung! Jinyoungi kenapa tiba-tiba ngeblank sih?", cerocos Jackson.

"Aku butuh ukuran bra Jini",Jaebum memilih to the point saja.

"Jini nugu?", Jackson yang menguasai ponsel bingung dengan nama yang disebut Jaebum,"Oh!", giliran Jaebum yang kaget suara Jackson lalu terdengar Jackson bertanya pada Jinyoung.

"Nanti kau bisa mengirimi pesan saja ne…anyeong…", Jaebum menutup ponselnya sebelum keadaan tambah runyam.

"bagaimana?", tanya Mark penasaran daritadi memperhatikan Jaebum menelpon.

"Kita tunggu saja di luar dulu…".

Mark menatap Jaebum sejenak lalu menggedikan bahunya pasrah. Terserah Jaebum saja dia sudah tak punya ide lagi saat ini.

DORM GOT7

"Manakutau!", pekik Jinyoung bersidekap melindungi dadanya saat ditanyai ukuran bra.

"Aish…lalu bagaimana?. Hubungi Mark hyung lagi!", usul Youngjae yang kehabisan ide untuk membujuk Jinyoung.

"Ha-".

"Yah…hyung tahu cara mengukur bra?", todong Jackson bahkan sebelum Mark dapat menyahut di seberang sana.

"Aish…bisakah kau memberi salam dulu", kesal Mark.

"bagaimana caranya,Hyung?", Jackson ngeyel.

"kau kan bisa cari di-".

"Ketemu hyung-ketemu!", sekarang suara Bambam yang memotong kalimat Mark bahkan sambungan telepon langsung dimatiakn.

"Siapa?", Jaebum yang duduk di sebelah Mark melihat wajah Mark yang kesal menatap ponselnya,"Anak-anak di dorm juga kalang kabut". Mark dan Jaebum memutuskan menunggu di minimarket seberang jalan tadi.

"ANDWAEEEEE!", teriak Jinyoung membahana di dalam dorm mereka. Yakin deh tetangga pada heran sebenarnya apa yang dilakukan pemuda-pemuda ini.

"Ini pelecehan tau!", marahnya sambil tetap melindungi dadanya.

"lalu bagaimana Jaebum dan Mark hyung membelikan bra,noona?", Bambam siap-siap membentangkan penggaris ( satu-satunya alat ukur yang ada di dorm).

"Aku lakukan sendiri!", dalihnya.

"memangnya bisa?", Yugyeom mencibir Jinyoung yang keras kepala.

"Guys! Cara halus tak mempan", Jackson melemaskan jari-jarinya,"TANGKAP!", seru Jackson yang diikuti ketiga dongsaengnya yang langsung mengejar Jinyoung yang sudah terbirit menuju kamarnya.

"Yah! Jinyoungiii!", gedor Jackson karena Jinyoung mengunci pintunya.

"Pergi kalian! Hiks….Jaebum hyung…Mark hyung….",Jinyoung akhirnya menangis ketakutan sendiri.

"Nah lho…Jackson hyung…", YUgyeom menunjuk Jackson.

"Dih…sekarang salah aku semua…".

"Yah! Aku minta mengukur bukan percobaan pemerkosaan!",suara Jaebum membuat keempat member yang berdiri di luar pintu kaget mundur ke belakang padahal suara Jaebum berasal dari ponsel yang di loud speaker.

"Hyuuuuung…hiks..", suara Jinyoung merengek lagi.

"Tak bisakah kalian kembali dulu?. Mark hyung saja yang mengukur", pinta Yugyeom.

"Wha…wha…wha…", Jackson tak terima saran Yugyeom. Kenapa bawa –bawa Mark segala?. Mereka juga bisa kan?

"Jinyoungi? Halo? Jinyoungi?", kali ini suara Mark yang terdengar.

"Ne…hiks…ne Mark hyung".

"Kau bisa minta bantuan pada salah satu dari mereka yang kau percaya", saran Mark berusaha menenangkan Jinyoung dengan lembut.

"Yah! Mark Hyung!", Jackson tak terima, dia tahu Mark menyindirnya.

"Diam kau Jackson!".

"Keundae..nuguseyo?. huks…", Jinyoung belum bisa memutuskan. Baginya mereka yang di luar itu sama saja serigala berbulu burung,eh, domba maksud Jinyoung.

"Jangan tanya padaku Jie", karena aku pasti menyebut namaku saja, kkkk kekeh Mark dalam hati.

"Tapi aku…", Jinyoung tetap keras kepala.

"Jie, ini aku Jaebum hyunng lagi".

"Ne Hyungi".

"kau bisa minta bantuan Youngjae saja", saran Jaebum cepat.

"Wah! Hyung! Kau tak percaya padaku?", Jackson masih tak terima.

"Ne majayo!", Jaebum menyahuti Jackson.

"Hyungiii,,,hiks,,,", Jinyoung masih sesenggukan.

"Ne…", sahut kedua hyung tertua itu.

"jangan matikan ponselnya,ne…".

"Uhm, araseo…".

Kemudian terdengar suara pintu terbuka kemudian di geser, muncul wajah Jinyoung yang sembab di ujung pintu menatap rekan-rekannya penuh curiga.

"Youngjae-yah…", panggilnya serak.

"Ne noona..gwaenchana?", Youngjae tampak khawatir. Jinyoung menggeleng lemah. "masuk…", perintah Jinyoung.

"A..a..ye…", Youngjae tampak ragu. Bambam menyerahkan penggaris yang dipegangnya,"Good luck", Bambam menepuk pundak Youngjae.

"Aku iri padamu", ucap Jackson sedih.

"Fighting', semangat Yugyeom.

"Aku jadi gugup sendiri", ucap Youngjae sebelum menutup pintu geser. Ketiga member yang lain segera menempelkan telinga mereka dipintu begitu pintu tertutup rapat.

INSIDE

"Noona…neo eodiseo?", Youngjae meraba-raba karena lampu kamar dimatikan dan kerai ditutup.

"Yeogi!", Jinyoung menarik Youngjae untuk duduk, hampir saja Youngjae terpelanting.

"Kalau gelap begini bagaimana cara mengukurnya?", Youngjae bingung sendiri. Kenapa harus gelap-gelapan?.

"Yang kubawa penggaris Noona bukan meteran", kalau begibi boro-boro mau menikmati pemandangan, tangannya sendiri saja tak kelihatan..

"Coba saja dulu, kau cerewet sekali", gerutu Jinyoung karena Youngjae dianggapnya terlalu banyak bicara.

"Noona saja yang mengukur kalau begitu".

"Ish! Tempelkan saja!",Jinyoung menarik tangan Youngjae sehingga tak senagaja menyenggol dada Jinyoung.

"Yah! Kau sengaja?!", bentak Jinyoung, member yag tersisa di luar memasang muka kesal karena iri. Enak sekali Youngjae, sengaja ataupun tak sengaja walau kena omel sedikit tetap saja berkah.

"Dih! Lihat saja tak bisa noona", Youngjae ikutan nyolot karena dituduh yang tidak-tidak tapi diakui dada dadakan Jinyoung terasa lembut di tanganya barusan.

"lakukan yang benar!". Suruh Jinyoung. Bagaimana caranya mengukur ditempat gelap begini? Memangnya aku punya mata kucing? Pikir Youngjae yang tak jadi menikmati keadaan.

"Ouch! Yah!".

PLAK!

Satu suara tamparan yang cukup keras membuat kedua hyung yang masih terhubung panic sementara member yag di luar mengernyit ngeri.

"AWWW!", semoga kau selamat amin member yang ada di luar mendengar teriakkan Youngjae.

Ok, sepertinya Jaebum dan Mark harus memesan minuman kedua mereka sementara menunggu ukuran bra yang mereka minta.


Tbc...

Repiu juseyooong...

sekali lagi abi minta maap...