NARUTO
by Masashi Kishimoto
APPLESAUCE
by Aihazu
Chapter 5 : Grandma
Previous Chapter
Karena sudah cukup larut, aku bilang ke nenek untuk cepat pulang. Nanti cucunya mencari lagi.
Akhirnya kami memutuskan naik taxi yang sama untuk pulang, dan kami berpisah saat si nenek akhirnya turun di sebuah rumah besar. Sekali lagi, sebuah rumah besar.
Rupanya nenek ini orang kaya.
"Sekali lagi, makasih ya, Cu. Nenek harap bisa bertemu denganmu lagi,"
"Iya, nek. Aku juga berharap begitu,"
"Daa, Hinata-cwann," sapa nenek sebelum masuk ke dalam rumah.
Gleg
Flashback Off
Jadi begitulah ceritanya hingga aku mendapat luka yang cukup dalam pada kaki ini. Itu juga merupakan alasan mengapa aku kesakitan saat menendang kaki Sasuke. Sungguh, aku lupa bahwa kakiku terluka.
Oh ya, tentu saja aku berbincang-bincang dengan nenek saat di taxi. Aku memperkenalkan diri waktu itu. Begitu juga dengannya. Beliau meminta nomer ponselku agar kita masih menjalin komunikasi nantinya. Tapi sampai beberapa hari setelah insiden kecopetan, nenek tak juga menelponku. Mungkin, nenek sudah lupa denganku.
Tapi, mengingat jiwa muda sang nenek, membuatku lupa bahwa sebenarnya ia sudah lanjut usia. Aku harap aku dapat begitu juga di masa senjaku. Tidak merepotkan orang lain dan bahagia. Ya, bahagia.
Aku berjalan kembali ke kelas setelah diobati di UKS. Di sepanjang lorong menuju kelas, banyak yang memperhatikanku dan berbisik.
Ah, itu pasti soal yang tadi. Saat Sasuke menggendongku ke UKS. Sebenarnya alasan kenapa Sasuke mau melakukannya, aku masih belum tau jelas. Selain itu, mengaku bahwa ia yang merobek tugasku sejenak membuatku ragu.
Selain itu, seharusnya ia bisa saja tidak mengantarku. Tapi dia tetap melakukannya. Sekali lagi aku tak tahu kenapa.
Tidak kupedulikan mereka yang membicarakanku, aku terus berjalan dengan sedikit tertatih ke kelas.
Tidak lama, akhirnya aku keluar dari hawa tidak enak di lorong dengan memasuki kelas tercintaku.
Belum ada dosen yang masuk jadi aku dapat dengan santai berjalan ke tempat dudukku.
Tapi di sebelah tempat dudukku, tempat Sasuke, aku tidak melihat keberadaannya disini. Itu lebih baik daripada aku harus merasa malu di depannya setelah semua kejadian ini.
Aku rasa, aku harus lebih berterima kasih.
Tiba-tiba, datang seorang gadis berambut merah menghampiriku dengan wajah merahnya. Ia marah. Ya, itu teman Sasuke, Karin.
"Kau! Apa benar yang mereka katakan? Kau telah menggoda Sasuke?" bentaknya tepat di depan wajahku. Semua penjuru kelas memperhatikan kami. Oh Kami-sama, masalah apa lagi ini?
Sakura-chan juga tidak ada kabarnya detik ini juga. Aku rasa aku harus sendirian menghadapi ini.
Aku yang merasa tidak menggoda Sasuke, tentu saja menolak.
"M-menggoda? Nona aku bahkan tidak tahu apa maksudmu." setelah aku berujar demikian, wajahnya makin memerah dan auranya menghitam. Aku.. salah bicara?
"Kau jangan pura-pura! Di balik wajah polosmu ini, kau berniat busuk merebut Sasuke kan?! Kau pikir aku tidak tahu? Dari awal aku melihatmu aku sudah merasakannya dalam dirimu!" lagi-lagi suaranya meninggi. Aku sudah cukup lelah dengan hari ini. Mataku terpejam lalu kembali terbuka.
"Karin-san, soal kejadian tadi aku hanya dibantu olehnya. Aku tidak sedikitpun berniat menggoda Sasuke. Aku bahkan tidak yakin bahwa dia akan tergoda dengan gadis polos sepertiku," aku tertawa kecil. "Kami hanya teman sekelas, tidak lebih. Jangan hiraukan aku. Aku bukan siapa-siapa," sejenak aku merasa sedih dengan kalimatku sendiri. Bahkan wajah Karin sedikit demi sedikit kembali seperti semula meskipun ia masih saja ketus.
"Huh! Aku akan tetap mengawasimu," Karin lalu melengos pergi. Tepat setelah Karin pergi Sakura memasuki kelas dan berjalan cepat ke arahku.
"Nee nee Hinata. Apa itu benar? Apa yang orang-orang gosipkan?" Sakura lalu menarik kursinya ke arah mejaku lalu duduk manis disana.
"Um, apa yang Sakura-chan dengar dari mereka?"
"Jadi, mereka bilang kau itu menggoda Sasuke, sampai Sasuke bisa-bisanya menggendongmu begitu. Sudah jelas, semua yang pangeran kampus lakukan akan selalu diketahui fans-nya. Benar kan?" katanya sambil meminum jus yang dibawanya dari kantin.
"K-kejadiannya benar. Tapi aku yang menggoda Sasuke, itu tidak benar sama sekali," kataku sambil menjatuhkan kepalaku di atas meja.
"Huh mereka payah sekali dalam membuat kesimpulan,"
"Begitulah,"
Masih dengan kesadaran akan pembicaraanku dan Sakura-chan, aku melihat keluar jendela. Tepat dibawah pohon rindang di tengah halaman kampus yang luas. Dia disana. Kau sudah tahu siapa orangnya.
Memang aku belum punya hubungan baik dengannya. Aku menaruh harap bahwa kedepannya aku dapat menjalin hubungan sebagaimana mestinya dengan Sasuke. Mengingat selama ini dibalik keketusannya dia membantu diriku. Dia, pemilik mata setajam elang. Pemilik surai yang aneh nan menawan, Sasuke Uchiha.
Setelah kupikir-pikir berulang kali akhirnya aku membuat dua kotak bekal. Ada onigiri, udang, beberapa sayur dan lain-lain. Aku sengaja membuatnya sebagai rasa terimakasihku kepada Sasuke untuk kebaikannya kemarin. Dan yang satunya untukku, hihi.
Aku memasuki kelasku dengan sebuah paperbag di tanganku. Ini masih terlalu pagi rupanya. Karena diapun belum datang.
Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di kursiku. Sejujurnya, aku masih ragu-ragu untuk memberikannya.
Takut bekalnya tidak enak? Tidak juga. Aku lebih takut dengan respon apa yang akan ia berikan setelah ia tahu aku membuatkan bekal untuknya.
...!
Sebuah ide baru saja melesat di pikiranku. Aku tidak perlu memberikan ini secara langsung kan? Maksudku aku bisa saja hanya meletakkan bekal ini di atas mejanya berhubung ini masih pagi dan baru sedikit orang yang sudah di kelas.
Jadi, diam-diam aku menggantung paperbag mini itu di salah satu sudut mejanya. Berharap yang mengambilnya bukan orang lain.
Kami-sama aku mengharapkan kebahagiaan setelah dia memakannya. Batinku.
Orang-orang yang kukenal satu persatu mulai memasuki kelas. Begitu juga dengan ..ugh.. Sasuke. M-maaf tiba-tiba jantungku beraksi aneh saat mendapati kepalanya mulai bergerak ke arah mejanya.
Aku pura-pura melihat ke arah pintu meski sebenarnya perhatianku terpusat pada pria disebelahku ini.
Oh! Dia melihatnya. Dia mengangkat dan membukanya. Yang kuperhatikan dari sudut mataku, tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Sejenak aku bersedih karena tidak menemukan respon yang berarti. Yah, tidak mungkinkan dia berteriak kegirangan saat mengetahui seseorang peduli untuk memberinya sekotak bekal.
Entah firasatku atau semacamnya tapi pada suatu momen dia melirik padaku. Apa dia mulai curiga kalau aku yang memberikannya?
Aku harap dia lamban untuk mengetahuinya. Karena aku belum sanggup dengar apapun yang akan ia katakan.
Saat dia melirikku seperti itu, aku pura-pura sibuk dengan tasku lalu mengambil kotak pensil untuk menghindari tatapannya.
Dia sendiri lalu mengambil ponsel pintarnya dari saku lalu memencet sesaat di layar sebelum ia memasang headset di telinganya dan menjatuhkan kepalanya di atas meja. Bukan menelungkup melainkan..
Kepalanya menghadap ke arahku!
Oh tidak, apa-apaan denganku ini? Dia tidak melakukan apa-apa tapi leherku sudah tercekat. Dia seakan memperhatikanku dengan kepalanya yang seperti itu.
"Kau.."
...
"..ternyata cantik juga,"
"E-eh?" Aku menoleh dengan cepat. Wajahku sudah memerah dan ekspresiku sudah tak karuan sama halnya dengan jantungku.
"Heh, kubilang begitu saja mukamu sudah merah begitu," jelas sekali sebuah senyuman tercetak di wajahnya. Seringaian lebih tepatnya. Ternyata dia hanya mempermainkanku.
"T-tidak.. Aku hanya.. demam. Y-yah demam," setelah kugunakan mencari alasan, kepalaku lalu kuangguk-anggukan untuk lebih meyakinkannya.
"Hn? Saat aku tiba, mukamu masih biasa saja," dia rupanya benar memperhatikanku tadi. "Apa demamnya setelah ku bilang kau cantik?" mukaku makin memanas mendengarnya.
"T-tidak kok.. kau tadi salah lihat mungkin," kataku sambil memutar jariku dan mengalihkan pandangan.
Ia terkekeh pelan setelahnya.
"Jadi bagaimana perkembangan penyelidikanmu?" tanya Fugaku menuntut kejelasan.
"Yah, jadi benar bahwa ada mata-mata di perusahaan ini," yang bicara sekarang ini ialah bawahan Fugaku yang paling terpercaya, Asuma Sarutobi. Bekerja pada Uchiha sejak lama.
"Siapa?"
"Suigetsu,"
"Suigetsu?!" tangan Fugaku mengepal. Ia tidak percaya orang berkompeten seperti Suigetsu mengkhianati dirinya. "Berarti benar bahwa Hyuuga mengirimkan–,"
"Tidak. Suigetsu bukanlah suruhan Hyuuga melainkan mata-mata dari Perusahaan Hozuki. Kau tahu kan? Salah satu saingan terbesar kita. Selama ini kita ditipu olehnya dan merugi,"
"Kurang ajar!"
"Dia sengaja memperkeruh hubungan Perusahaan Uchiha dan Hyuuga agar tidak melanjutkan kerja sama. Karena dengan begitu, perusahaan kita dan Hyuuga akan mendapat peningkatan signifikan dalam berbagai aspek. Ini tentu saja akan berdampak buruk pada Hozuki," jelas Asuma panjang lebar. "Kurasa kita harus memperbaiki hubungan kita dan Hyuuga, mengingat ini akan sangat menguntungkan bagi kita dan hal ini tidak seperti yang Hozuki inginkan," tambahnya.
"Kupercayakan padamu soal Suigetsu dan Perusahaan Hozuki. Buat mereka menyesal,"
"Dengan senang hati," Asuma tersenyum enteng.
"Aku harus bertemu dengan Hiashi. Jadwalkan pertemuanku dengannya. Panggil juga Sasuke untuk menemuiku nanti,"
Kring kring
"Halo? Hyuuga Hinata disini,"
"Hinata-cwaan. Lama tidak bertemu ya. Maaf baru bisa menghubungimu,"
"Nenek? Wah aku senang akhirnya nenek menghubungiku. Aku pikir nenek sudah lupa padaku,"
"Tentu saja tidak. Oh iya, nenek ingin mengundangmu makan malam di rumah nenek. Datang ya, cu,"
"Malam ini? Baiklah, nek. Aku merasa senang telah diundang oleh nenek,"
"Baiklah. Dandan yang cantik ya, Cu. Aku akan memperkenalkanmu pada cucuku yang lain. Daa Hinata-cwaann,"
Tut tut tut
Belum sempat Hinata membalas sapaannya, nenek sudah mematikan panggilan yang singkat itu. Kalimat terakhir nenek sedikit menganggu pikiran Hinata. Namun suara pria disebelahnya membuyarkan lamunannya.
"Nenekmu?"
"O-oh, sejak kapan kau disini?" Hinata yang sedang sendirian di atap kampus tentu saja cukup kaget dengan kehadiran Sasuke disampingnya.
"Sejak kau menampakkan leher putihmu itu," ujarnya disertai seringaian yang sering nangkring di wajahnya selama ini. Hinata dengan cepat menutup belakang lehernya dengan kedua tangan miliknya.
"Apa kau tidak bisa bilang mengikat rambut dengan benar?"
"Sayang sekali aku tidak bisa,"
Hinata yang merasa 'sedikit' berada dalam kondisi bahaya jika terus mengikat rambutnya seperti ini, lalu melepaskan ikat rambutnya dengan tangan kirinya.
Membiarkan rambutnya tergerai indah seperti biasa.
Melihat Hinata yang melepas ikatan pada rambutnya, membuat Sasuke lalu berjalan ke belakang Hinata.
Sasuke lalu mengambil ikat rambut Hinata dari tangan kirinya.
"Eh?" Hinata ingin berbalik untuk mengambil ikat rambutnya tapi Sasuke kembali menghadapkan Hinata ke depan.
Hal yang Sasuke lakukan setelahnya mengembalikan dentuman keras di dadanya seperti pagi tadi.
Karena tiba-tiba, Hinata merasakan sentuhan pada rambutnya.
Helai indigonya semakin lama semakin terurai.
Tidak salah lagi, Sasuke tengah menyisir lembut rambut Hinata dengan jemarinya.
Jantung Hinata makin tidak terkendali. Berdiri dengan Sasuke sedekat ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Sa-sasuke-kun?" tanya Hinata.
"Itu pertama kalinya kau memanggilku begitu," Sasuke terkekeh.
Hinata yang baru sadar akan hal itu lalu menutup mulutnya dengan tangannya.
"Biasanya kau akan memanggilku Uchiha atau semacamnya," lanjut Sasuke dengan senyuman tipis menggantikan seringaiannya tadi.
"I-itu spontan.." Hinata mencoba mengelak.
"Tidak spontan pun aku tak keberatan," Hinata diam saja meski debarannya masih berisik dan mukanya makin memanas dan memerah.
Sasuke yang sebenarnya menyadari respon Hinata masih setia dengan kegiatan menyisirnya.
Tak lama, ia mulai mengikat rambut Hinata tinggi.
"Nah, sesekali aku ingin melihat rambutmu seperti ini," kata Sasuke sambil sedikit merapikan tepi-tepi rambut Hinata.
Hinata sendiri masih sulit bergerak sejak Sasuke berada di belakangnya. Untung saja dia masih bisa bicara.
"Kau biasa mengikat rambut seseorang?" tanya Hinata.
"Yah, aku biasa diminta Ibuku mengikat rambutnya,"
Hinata menoleh pada Sasuke yang sekarang ada disampingnya.
Dilihatnya Sasuke yang wajahnya sesaat melembut. Membuat sesuatu menembus masuk ke dalam pikiran dan juga hati Hinata.
Sasuke yang menyadari tatapan Hinata, lebih memilih untuk membiarkan Hinata melihat dirinya sepuasnya.
Drt drtr drt
Kali ini panggilan masuk menghampiri ponsel Sasuke. Sasuke berdecak. Siapa yang berani mengganggu momennya?
"Hn?"
"Kau belum pulang? Aku dan Ibu sudah di Jepang,"
"Hn,"
"Apa aku mengganggumu? Kau seperti orang sibuk saja,"
"Ya, jangan ganggu aku,"
Pip
Sasuke segera mematikan panggilan itu. Lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Hinata.
"Kau tidak pulang?"
Hinata menggeleng. "Sedikit lagi,"
"Kalau kau mau..."
"Hm?"
"Akan kuantarkan kau pulang,"
Hinata yang ditawari pulang bersama malah terdiam. Tidak juga merespon atau memberi gestur yang jelas.
Hinata, hanya menatap Sasuke dibalik diamnya. Hal ini sukses membuat Sasuke melepaskan senyum tipis yang sedari tadi ia tahan. "Kenapa?"
"Kenapa kau malah tersenyum?" Hinata bertanya dengan polosnya.
"Kau sendiri kenapa melihatku begitu?" Sasuke malah balik tanya.
"B-bukan apa-apa," Hinata memindahkan pusat pandangannya. "Aku tidak ingin merepotkanmu. Jadi Sasuke..pulanglah duluan,"
"Aku lebih suka jika kau memanggilku seperti sebelumnya,"
"Eh? Kupikir.."
"Lagipula sejak kapan kau tidak merepotkanku, hn?" benar juga, Hinata selama ini sudah sering membuat Sasuke kerepotan.
"A-aku.."
"Sudahlah aku memaksa," dengan sigap, Sasuke menarik lengan Hinata dan membawanya turun dari atap. Beruntunglah Hinata karena bukan telapak Hinata yang Sasuke genggam. Jika terjadi, matilah Hinata.
Tapi tetap saja, Sasuke menggenggam lengannya. Dia tidak melakukannya dengan kasar, dan Hinata menyukai ini. Rasanya jantung Hinata siap meloncat kapan saja.
Tidak ada satupun yang berbicara diantara mereka. Bahkan sekedar berdeham masih ragu keduanya lakukan. Biarkan saja keheningan ini menjadi santapan utama di meja.
Meski begitu, perasaannya mengatakan untuk melepaskan diri. Tapi jujur saja dirinya sudah terlanjur mendapatkan kenyamanan di kondisi ini.
Selain itu, di setiap lorong yang mereka lewati tak sedikit yang memperhatikan mereka. Seorang Sasuke menarik lengan seorang gadis. Ayolah siapa yang tidak tertarik dengan hal ini.
Salah seorang dari kerumunan yang dilewati Sasuke dan Hinata menghadang langkah keduanya.
Karin.
Siapa lagi?
Karin melipat kedua tangannya di depan dada. Mengangkat kepala dan menyipitkan mata pada Hinata.
"Oh, ini yang kau bilang bukan menggoda?" ucapan sinis yang dilontarkan Karin membuat Hinata jadi cukup gelisah.
Hinata merasa bahwa tangan Sasuke yang masih setia menggenggam lengannya itu dapat menimbulkan lebih banyak keributan. Hinata dengan perlahan melepaskan lengannya dari Sasuke.
Dan Sasuke menyadarinya. Jelas ia tidak terima penolakan.
Sasuke dengan cepat meraih kembali tangan mungil Hinata. Bukan lagi lengan melainkan telapak dan jari-jari mungil Hinata. Tanpa keraguan Sasuke mengeratkan jemarinya pada jemari Hinata.
Lagi? Kami-sama kuatkan aku. Hinata berdoa.
Tak salah lagi saat ini debaran Hinata makin berapi-api seakan bekerja keras membuat hawa di sekitar Hinata memanas. Alhasil, Hinata mulai keringat dingin.
"Apa maumu Karin?" Sasuke angkat bicara.
"Mauku? Aku hanya ingin kau menjauhi gadis yang pura-pura polos ini! Kau pantasnya bersamaku, Sasuke,"
"Jangan harap. Minggir dari hadapanku," kata Sasuke dingin.
"Tidak!" Karin yang keras kepala tentu saja tidak mau minggir. Dia malah semakin merentangkan tangannya berharap Sasuke dan Hinata tidak bisa melewatinya.
Sasuke yang malas meladeni gadis merah satu ini dengan mudahnya menerobos pertahanan Karin.
Sasuke dan Hinata pun akhirnya berhasil lewat. Tapi yang namanya keras kepala tidak akan menyerah dengan mudahnya.
Karin lalu menarik ujung rambut Hinata dari belakang dan sukses membuat empunya rambut merintih kesakitan.
"Aw!"
Sasuke berbalik. Dan benar saja, Sasuke langsung melepaskan tangan Karin dari rambut Hinata.
"Jangan sekalipun kau menyakitinya lagi. Atau kau akan menyesal pernah mengenalku," ancam Sasuke dengan aura kelam memancar dari matanya.
Hal itu tentu saja mampu membuat Karin diam tak bergeming dan akhirnya membiarkan Sasuke dan Hinata beranjak begitu saja.
"Argh!" jerit Karin kesal.
"Belum waktunya Sasuke pulang ya?" tanya istri Uchiha Fugaku lembut.
"Entahlah. 'Hn' nya itu membuatku bingung, Kaa-san," kata Itachi dengan wajah tampannya saat tersenyum.
Ya, mereka adalah Uchiha Mikoto dan anaknya Uchiha Itachi. Mereka baru saja sampai rumah sehabis dari bandara.
Perjalanan berjam-jam sangat melelahkan bagi mereka berdua.
Itachi yang sebenarnya mahasiswa tingkat akhir di Jerman itu, dengan seenaknya mengambil libur.
Dengan alasan mengantarkan ibunya yang sedang hamil kembali pulang dan janji-janji lain akhirnya ia berhasil mendapatkan izin yang dia inginkan. Tapi beginilah ia saat sampai di Jepang. Kehilangan rutinitas biasa.
"Ada yang Kaa-san butuhkan?" tanya Itachi yang kebetulan lagi tidak ada kerjaan dan duduk santai di sofa rumahnya.
"Belikan beberapa buket bunga ya, kita akan kedatangan tamu," pinta Mikoto lembut sambil menata meja makan.
"Tamu?"
"Sudah jangan banyak tanya, berangkatlah sekarang," Mikoto lalu mendatangi sofa dan menarik tangan Itachi sampai anak sulungnya itu terbangun dari duduknya.
"Iya, iya,"
Itachi segera mengambil kunci mobilnya. Cukup memakan waktu yang lama untuk sekedar memilih mobil apa yang akan ia gunakan. Pilihannya jatuh pada mobil sport putihnya.
Jangan tanya lagi, berapa banyak mobil yang Itachi miliki. Setengah area parkir kawasan Uchiha pun belum cukup untuk memajang kesayangan-kesayangan berkelasnya itu. Mikoto sampai geleng-geleng dibuatnya karena Itachi tidak mau menurut untuk berhenti mengoleksi mobil.
Dengan kacamata hitam yang sudah bertengger di hidungnya, Itachi melesatkan mobilnya ke kompleks pertokoan di tengah kota Tokyo.
Berbekal sedikit ingatan soal toko bunga di daerah situ, Itachi memilih untuk memakirkan mobilnya lalu berkeliling mencari toko yang seingatnya sering dikunjungi Ibu.
Namun rasanya akan cukup melelahkan untuk berjalan kaki di sepanjang jalan berhubung toko-toko terbentang sampai ke ujung jalan. Oleh karena itu, ia menyewa sepeda sebelumnya di sebuah toko dekat pintu masuk.
Ia mengayuh dan terus mengayuh hingga akhirnya ia menghentikan sepedanya tepat di sebuah toko bunga yang ia cari-cari sedari tadi. Toko yang berhadapan langsung dengan sebuah cafe.
Itachi segera masuk tepat setelah memarkirkan sepedanya. Sepeda sewaan lebih tepatnya.
Kring
Bel berbunyi saat pintu toko terbuka. Tidak ada sambutan.
Itachi masuk dan menemukan seorang pria yang menyelipkan bunga mawar di antara saku-saku celananya secara diam-diam. Kaget akan kedatangan Itachi membuat gerak-geriknya menjadi semakin mencurigakan.
Heh ada saja pencuri bunga. Ujar Itachi dalam hati.
Itachi sendiri masih berdiri di belakang pintu. Setelah melihat pria di depannya ini membuat Itachi sesaat melupakan tujuannya datang kemari.
Merasa menjadi saksi atas tindak pencurian, Itachi ingin menegur pria itu.
"Kau–"
"Siapa yang mencuri bungaku?!" belum sempat Itachi menyelesaikan kalimatnya seorang gadis berambut pirang sudah menyela dengan nada tingginya. "Aku yakin tadi jumlahnya ada sebelas dan sekarang berkurang setengah,"
Ia lalu mengedarkan pandangannya. Mata Itachi dan mata Aquamarine gadis itu bertemu sejenak. Membuat Itachi merasakan sesuatu menjalar di dadanya.
Tapi tak lama gadis itu kembali meninggikan suaranya. "Pencurinya pasti antara kau atau kau!" kata gadis itu menunjuk Itachi dan pria yang lain.
"Apa kau mencurigaiku? Aku tidak keberatan diperiksa gadis manis sepertimu," kata Itachi seraya mengangkat tangan.
"Gila!" umpat gadis itu.
Si pria mencurigakan tadi kembali bergelagat aneh dan mencoba melarikan diri. Tapi sayang tubuh Itachi yang gagah perkasa sudah menghadangnya.
"Aku penasaran berapa keuntungan yang kau dapat dengan mengambil bunga-bunga itu," ujar Itachi dengan senyuman di wajahnya dan melirik bunga-bunga yang ada di saku pria di hadapannya.
Pria itu malah gelagapan.
Si gadis pirang itu dengan cepat menarik pencuri itu lalu memukuli kepalanya.
"Ingin menyatakan cinta saja kau tidak punya modal. Bagaimana kau mau berumah tangga dengannya, hah?" Itachi sedikit tersentak mendengarnya.
Mendengar kata berumah tangga sejenak membuatnya sensitif. Soalnya, Itachi terus didesak sang Ibu untuk menikah padahal usianya masih begitu muda. Punya calon saja belum, Kaa-san. Begitu pikirnya.
"Jangan diam saja,"
"A-aku akan ganti rugi,"
"Nah begitu dong, dia akan lebih bangga kalau kau menanam sendiri dibanding mencurinya. Setidaknya kau memikirkan perasaannya,"
"Bagaimana kau tahu kalau aku akan menyatakan cinta?"
"Intuisi," kata gadis mantap lalu diakhiri tawa kecilnya.
Intuisi? Boleh juga. Selain itu, moodnya cepat berubah. Dalam waktu singkat, dia marah dan tertawa. Dia menarik. Ya, sejak dulu.
"Apa kau lihat-lihat?" tanya gadis itu pada Itachi setelah pria tadi bertanggung jawab dan meninggalkan tokonya.
Itachi tertawa kecil. "Jangan galak begitu, Nona. Aku ingin membeli bunga,"
Gadis itu mendengus. Sejenak ia pun tampak berpikir. "Ngomong-ngomong apa kita pernah bertemu sebelumnya, Tuan?"
"Entahlah, Ino," Itachi kembali tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya.
"Hei, tunggu.." muka berpikir si gadis kembali terlihat. "Oh! Kaukah itu Itachi?"
"Yah," Itachi berujar datar. Mungkin dia sedikit kecewa mengetahui gadis itu melupakannya dengan cepat.
"Wah tak kusangka kau menjadi pemuda yang tampan dan berani!"
Alis Itachi berkerut mendengar celetukan Ino yang sebelumnya ia pernah dengar di serial kartun kesukaannya. "Tidak juga. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Kudengar kau kuliah di luar negeri. Melihatmu disini aku jadi lega,"
"Merindukanku?"
"Bukan. Itu karena kau masih hidup bodoh," gurau Ino. "Oh iya, bunga apa yang kau cari?"
"Entah. Aku hanya diminta Kaa-san mencari bunga untuk menghias rumah,"
"Nyonya Mikotoya? Biasanya ia akan mengambil bunga ini," kata Ino sambil merangkum kumpulan bunga dihadapannya.
"Apa ini?"
"Bunga Magnolia. Sesuatu tentang kebangsawanan, ketekunan, dan cinta," ujar Ino seraya tersenyum.
"..."
"Itachi?" Ino mengerutkan kening tatkala menyadari bahwa Itachi melamun.
"Ah, oh maaf. Beri aku tujuh buket,"
"Yah, kau bisa menungguku selesai disana," Ino menujuk sebuah bangku di sisi toko. "Kau bisa membuat kopi dari coffee machine di sebelahnya,"
"Lengkap juga," Itachi bukannya duduk malah lebih memilih berkeliling.
"Begitulah. Kita harus berkembang, bukan?" Ino dengan lihainya merangkai bunga-bunga itu menjadi buket-buket yang menawan.
Tak elak, Itachi merasa tertarik dengan aksi merangkai Ino di depannya.
"Hei, mau kuajari merangkai bunga?" tambah Ino sambil tersenyum lebar.
Tersenyum setelah menghentikan kegiatannya demi melihat Itachi yang ada disampingnya kini.
Dan Itachi dibuatnya termenung.
"I-itachi?"
'Kau tidak berubah. Masih saja menebar benih bunga pada tiap orang di sekitarmu. Kau tahu? Sekarang bunga-bunga yang kau tanam di hatiku sedang merasakan musim seminya.'
Ting tong
Untuk memenuhi undangan sang nenek yang imut-imut, disinilah Hinata berdiri menghadap sebuah pintu yang besar sambil berharap semua akan baik-baik saja. Dapat Hinata lihat ini adalah sebuah mansion. Sayang karena buru-buru, Hinata melewati papan nama di depan dan tak sempat membacanya.
Sesaat ia bisa mencium bau...
Krieet
Pintu terbuka dan menampilkan sosok orang yang di waktu dan tempat yang diluar dugaan Hinata.
Matanya melebar.
Begitu juga dengan mulutnya yang membentuk kata 'hah'.
Orang itu sendiri juga tampak tak percaya tapi dengan segera ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Hinata?"
Hai minna maafkan aku yang sangat sangat sangat sangat–dan beribu sangat lainnya–telat update.
Tapi makasih buat minna yang masih minat buka fanfic ini. Dan masih setia menunggu. Uuu T.T
Maaf kalo kepanjangan dan maaf untuk masalah teknis + nonteknis lainnya.
Karena manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Eaks.
Sampai jumpa di chap selanjutnyaaa
Thanks to all reviewers, favouriters, and followers.
Hinatachannn2505 thanks buat semangatnyaaaa. Aku usahakan untuk tidak mengecewakan kalian :'
Lovely sasuhina makasih lagi untuk reviewnya 3 Tenang, Sasu ga bakal nyelakain Hina kok..
HipHipHuraHura ngakak juga nih bikinnya, wkwk. Btwnenek imut-imutnya bakal ketauan di chap depan, tapi kyknya dari chap ini udh bisa ditebak yah. Hihi. Tapi sayangnya aku kemarin lagi khilaf jadi di chap ini nistanya malah menurun. Huuhuu :'v maaf mengecewakan. Makasih reviewnyaaa 3
Nurmalaprieska maaf ya aku ga sekilat yang kamu inginkan :'v yas aku juga suka scent chat dan nenek-nenek. Ngakak sndri bikinnya :v. Udah taukan skrg knp si nenek tahu namanya Hinataa? Hehe . thx reviewnyaaa 3
