MAYDAY
Day 3 part 2
Beberapa pasang mata memandangi dua mahkluk –sebut saja- tidak biasa yang tiba-tiba muncul di area yang bahkan sangat – saaaaangat malahan- jarang dikunjungi mahkluk jenis ini. Yang satunya lelaki kurus dengan rambut pirang dan satunya berambut hitam bertubuh agak berisi. Kita sebut saja, Youngjae dan Bambam. Ya…ya…ya…kalian benar, dua maknae ini sedang kebingungan di supermarket, seperti orang linglung, nyasar ke tempat pembalut. Tentunya ini tugas si princess yang savagenya tiba-tiba naik 100% membuat duo maknae ini langsung angkat kaki menuju supermarket begitu dapat 'titah'.
"Bamie..bisakah kau cepat sedikit?', Youngjae sudah gerah dengan penyamaran mereka. Benar sekali kalau kalian menebak dua mahluk ini bukannya di kerubungi yeoja malah dilirik aneh bak alien saat ini.
"Lebih baik kau membantuku,Hyung", Bambam membenarkan letak kumis palsunya yang melorot.
"Aku tidak mengerti. Lihat", Youngjae menunjuk sebuah merk pembalut di dekatnya,"Aku baru tahu hal yang tak bisa terbang juga punya sayap", Bambam mengikuti arah telunjuk Youngjae pada kemasan yang bertuliskan wings.
"Mungkin digunakan agar cairannya cepat meresap (watados)",ucap Bambam sok tahu sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Hubungannya?", Youngjae tidak mengerti hubungan sayap dengan kecepatan penyerapan cairan. Diotaknya sedang terbayang sayap si pembalut yang bergerak-gerak seperti burung.
Bambam melengos, capek bicara dengan Youngjae. Dia sendiri juga ngasal tadi ngejawab. "Sayapnya bisa gerak seperti burung di dalam-humph!", mulut Youngjae yang tertutup masker buru-buru di bekap Bambam. Pemuda asli Thailand itu mendesis agar Youngjae tak melanjutkan kata-katanya.
"Aku juga tidak tahu,Hyung. Lihat. Bahkan ada yang panjangnya beda", Bambam menunjukkan dua merk pembalut yang sama dengan ukuran panjang berbeda. Wajah Youngjae langsung horror, sepertinya dede' kita yang satu ini trauma kena gaplok si princess gara-gara masalah ngukur-mengukur tempo hari. "Apa kita harus menanyai ukuran pembalut? Di ukur dari apanya ya?", Bambam ngoceh sendiri, sementara Youngjae masih belum kembali pulih dari nge-blanknya.
"Hyung, bisa kau panggilkan pelayannya? Hyung…aku juga bosan di sini…Hyuuung…", Panggil Bambam, tapi masih asyik memilih merk pembalut tidak melihat ke arah Youngjae. "Youngjae hyung?", Bambam berbalik mendapati Youngjae masih ngeblank. "Eh?Wae?", giliran disautin malah nanya balik lagi, lelah hayati tadi memanggil-manggil namamu. Bambam mendesah kesal. Dia putuskan untuk bertanya sendiri pada orang-orang sekitar, siapa tahu ada yang bisa bantu. Bambam pun clingak-clinguk mencari bantuan.
"Jeogiyo…", Bambam mendekati si gadis remaja yang seketika menoleh. Kentara sekali jika si gadis kaget dari satu tarikan napas tajamnya barusan. "Jeoseonghaeyo", tanpa sempat bertanya si gadis membungkuk langsung berlari meninggalkan Bambam yang cengo. Perlu gue buka penyamaran gue ngga? Pikirnya meratapi nasib.
"Kurasa dandanan kita terlalu aneh untuk orang yang akan membeli pembalut", Youngjae mendekati Bambam yang kuyu. Bambam tiba-tiba menghela napas kasar. "Kita tidak mungkin keluar beli pembalut kalau tidak menyamar", Bambam mengeratkan giginya pada tiga kata terakhir kemudian meninggalkan Youngjae untuk memilih lagi. "Lha…kenapa jadi aku yang dimarahi. Dasar maknae", si gembil merengut tak terima.
Masih sambil bingung memilih, Bambam sesekali melirik sekitaran untuk meminta bantuan sampai matanya menangkap sosok ajumha yang tak jauh dari mereka.
"Hyung! Kali ini kau yang tanya pada ajumha itu", Bambam menunjuk sosok si ajumha dengan dagunya.
"Eh? Wae naega?", Youngjae kaget, sedikit tidak terima. Kenapa harus ajumha-ajumha yang ditanya.
"Ish! Memangnya ,Hyung mau disini terus? Pulang dengan tangan kosong? terus di omeli Jinyoung noona", Bambam merangsekkan tiga bungkus pembalut ke dada Youngjae.
"Arra…arra…aku juga tidak mau bernasib sama dengan dua hyung tertua. Beli bra sampai berjam-jam", Youngjae memperhatikan sosok ajumha yang sedang mengamati satu produk di tangannya. Dia berjalan mendekati si ajumha dengan gugup.
"Permisi…", sapa Youngjae membuat si ajumha menoleh.
"Ah, nde. Waeguraeyo?", wajah si ajumha tampak ramah. Syukurlah, Youngjae lega setidaknya tidak di damprat ( susah berurusan dengan emak-emak). "Jarang sekali ada laki-ladi di bagian ini. ada yang bisa ku bantu?", Si ajumha malah menawarkan diri lebih dulu. Wah,,,pertanda baik.
"Yeogi…yang mana yang lebih bagus?", Youngjae menunjukkan ketiga pembalut di tangannya.
"Igeo…", si ajumha mulai menjelaskan.
Bambam yang melihat mereka berdua dari jarak yang cukup jauh, cengo. Bambam kira Youngjae –minimal- akan di semprot karena di kira mesum. Tak lama Youngjae berjalan riang menuju tempat Bambam berdiri. "Kita beli yang ini", Youngjae menunjukkan salah satu pembalut.
"Ah?...ah…ah…ne…", Bambam kalah saing di mata ajumha sepertinya.
DORM GOT7
Jinyoung merintih kesakitan duduk di atas toilet (toilet di luar kamarnya). Rasanya sungguh tidak nyaman ketika perutmu terasa di keruk dan ada sesuatu yang lengket meluncur dari kemaluanmu. Sungguh, Jinyoung berjanji dia tak akan mencereweti Noonanya yang sedang haid jika dia tahu rasanya semenyiksa ini.
Keempat member yang lain menunggui di luar dengan cemas. Mereka lebih mirip ayah muda yang baru pertama kali menunggui istrinya melahirkan.
"Mereka lama sekali. Kasihan Jinyoung noona", Yugyeom bersidekap, sambil menguping di pintu kamar mandi. Kali-kali Jinyoung noonanya tiba-tiba teriak terus pingsan karena kehilangan banyak darah.
"Mereka laki-laki, mana mengerti urusan pembalut", Jaebum yang bersandar di dinding sebelah kiri pintu toilet buka suara. Mark seperti biasa hanya memperhatikan tanpa banyak bicara.
"Nah ini mereka!", seru Jackson girang, dia daritadi mondar-mandir seperti setrika. Buru-buru diambilnya bungkusan di tangan Bambam.
"Siapa yang akan masuk?", Semua mata menatap Mark yang bertanya dan seketika itu juga semua telunjuk mengarah padanya.
"Wae?", Mark terlihat kaget.
"Jinyoung noona nurut padamu,Hyung", Bambam memotong pertanyaan Mark.
"Ne…aku tidak mau digampar lagi", trauma si gembil Youngjae muncul lagi, dia memegangi pipinya.
"Ch…baiklah…", Mark mengambil alih si pembalut. Mark lalu menarik napas dalam dan menghembuskannya. Dia mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali sambil memanggil nama Jinyoung. Begitu mendengar sahutan dari suara Jinyoung, semua menahan napas ketika akhirnya pintu kamar mandi di buka dan ditutup lagi dengan cepat oleh Mark sebelum para bar-bar di luar sana merangsek masuk dengan alasan apapun.
"Astaga, Jinyoungi!", Mark kaget melihat wajah pucat Jinyoung yang terduduk lemas.
"kau baik-baik saja?", Mark memegangi pundak Jinyoung sepertinya dia lupa kalau Jinyoung sekarang perempuan. Yang dia tanya hanya mengangguk lemah.
"Mana pembalutnya hyung?", Jinyoung menjulurkan tangannya. "Ah,nde!", Mark membuka si pembalut lalu menyerahkannya pada Jinyoung yang memperhatikan benda putih yang terlipat di tangannya.
"Hyung?", panggil Jinyoung lagi. "Nde,Jinyoungi?".
"Kau tau bagaimana cara memakainya?', tanya Jinyoung polos, sepolos tampang bodoh Mark sekarang.
"Hyung-ie?", panggil Jinyoung lagi. Mark tersadar, astaga bodohnya dia tidak mencari dulu. Manatahu dia cara memakai pembalut.
"Neon mollayo?", Jinyoung mengklarifikasi keheningan Mark yang tak menyahut.
"Mian..", cengir Mark. Jinyoung tak bisa menyalahkan Mark sepenuhnya. Merekakan laki-laki semua.
Mark kemudian mengeluarkan ponselnya, mengutak-atinya sebentar, lalu,"Jinyoung kau punya celana dalam lain?", pertanyaan Mark membuat Jinyoung mengernyit.
"eh? A..a..ada sih..", jawab Jinyoung ragu.
"Dimana? Akan kutunjukkan cara memakainya".
"Memakai celana dalam,hyung?", Jinyoung meyakinkan pertanyaan Mark yang ambigu.
"Cara pakai pembalutnya, be-maksudnya yang benar, hehehe", Mark hampir keceplosan karena gemas dengan Jinyoung yang tiba-tiba polos.
"Eoh…ada di lemari pojok kanan bawah", jelas Jinyoung.
Mark segera melesat keluar, sekalian menenangkan pikiran sedikit. Dia tak peduli pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat dia membuka pintu barusan.
"Yah!Yah!Yah! untuk apa bawa-bawa celana dalam itu?! Yah!", Yugyeom dan Jackson sewot melihat Mark menenteng satu celana dalam warna pink. Mereka sempat menahan lengan Mark tapi buru-buru ditepis Mark sambil mengumpat, secepat kilat mengunci pintu toilet dari dalam. Suara gaduh dan gedoran dari luar tak dipedulikan dan sepertinya Jinyoung juga lebih tertarik melihat Mark memasang pembalut pada celana yang di bawanya.
"Kau paham?", Mark menyodorkan celana dalam tadi
"Uhm, gomawo hyung", Jinyoung menerima celana dalam yang sudah terpasangi pembalut. Hening sekitar semenit, termasuk suara di luar – yang mereka tak sadari- juga.
"Bi..bisakah..hyung berbalik dulu?", pinta Jinyoung malu-malu menghindari tatapan Mark.
"Eoh? Ah..ne…", Mark tersenyum malu, berjalan ke dekat pintu memunggungi Jinyoung. Dia baru menyadari jika suara di luar tidak ada lagi. Kemana para dongsaengnya? Pikirnya hingga sebuah tangan menyentuh lengannya.
"Oh? Kau sudah selsai?", Mark memapah Jinyoung yang tampak lemah, naluri. Jinyoung mengangguk lemah. "Sebaiknya kita keluar. Mereka pasti berpikir yang macam-macam", Jinyoung kembali mengangguk. Mark membiarkan Jinyoung berjalan di depannya lebih dulu. Kalau Jinyoung tiba-tiba ambruk dia bisa memegangnya.
Baru saja menjejakkan kakinya beberapa langkah, Jinyoung mematung sampai-sampai Mark menabraknya pelan. Jinyoung ingin kembali ke kamar mandi tapi begitu berbalik kali ini giliran tubuhnya yang terbentur tubuh Mark. Suara Jinyoung yang mengaduh akhirnya terdengar oleh kelima member dan manager yang berada di ruang tengah.
"Aku sudah tahu Jinyoung-ah", Manager hyung melihat ke arah Jinyoung dan Mark yang tertunduk,"bergabung disini!", tegas Manager hyung.
"Aku tak habis pikir kalian menyembunyikan masalah ini dariku!. Kalian pikir ini masalah kecil yang bocah seperti kalian bisa selesaikan sendiri,huh?!,"Manager hyung berkacak pinggang, napasnya terengah. Pandanganya bergantian menyelusuri ketujuh manusia di depannya.
"Dalam empat hari kalian akan comeback! Ck! Kalau PD-nim tau bagaimana,hah?!", Manager hyung tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya.
"Alasan kalian apa?", jeda sejenak, dia tahu tak ada yang berani menyahut,"Melindungi Jinyoung?!", ledak manager hyung lagi. Bahkan Jaebum, sang leader dan yang tertua juga tak berani berkomentar apapun.
Jinyoung sudah daritadi menangis, dia menggigit bibirnya agar tidak terisak. Dia menggenggam tangan Jaebum gemetar. "Jeoseonghaeyo…", lirih Jinyoung, pecah sudah tangisnya.
"Apa kalian ingin comeback berenam?", tawar manager hyung yang berhasil membuat ke enam member mendongak menatapnya.
"Hyung-", ucap Jaebum tertahan.
"Jeoseonghaeyo…hiks,,," Jinyoung mengusapi air matanya yang terus mengalir.
"Berhentilah menangis, tak akan selesai masalahmu", Manager hyung bersidekap mengalihkan pandanganya. Jackson mengusap pundak Jinyoung yang menangis di pelukan leader mereka. "Hyung…bisakah kau lembut sedikit? Jinyoung perempuan sekarang?", Jackson ingin sekali menggantikan posisi Jaebum saat ini untuk memeluk Jinyoung.
"Haish! Pusing aku menghadapi bocah-bocah ini!", Manager hyung kemudian keluar dari dorm meninggalkan tujuh orang yang seketika kembali hening.
"Lupakan saja apa yang dikatakan Manager hyung barusan. Kita akan cari solusinya…", Jackson beralih menggenggam kedua tangan Jinyoung.
"Keundae eotokkhae?...hiks…hiks…sudah tiga hari…", Jinyoung kembali terisak. Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Gara-gara dia jadwal GOT7 akan kacau, mereka akan mengecewakan ahgase.
"Kita akan comeback bertujuh Noona", Yugyeom tersenyum bersimpuh di depan Jinyoung.
Tiba-tiba Jinyoung menarik diri dari pelukkan sang leader,"bisakah aku sendiri dulu?".
"Wae? Jangan bunuh diri Noona…", Bambam ikutan mendekati Jinyoung.
"Aniya", Jinyoung mengusap rambut Bambam,"Aku hanya ingin jalan-jalan".
"Mau kutemani?", Mereka saling melempar tatapan karena keenam namja tersebut kompak menawarkan diri untuk menemani Jinyoung jalan-jalan. Jinyoung tersenyum lemah,"Tidak usah….Sudah lama aku tak jalan-jalan tanpa khawatir diikuti fans. JJa..aku pergi dulu", Jinyoung bangkit lalu menyambar jaket biru muda – entah punya siapa – sebelum meninggalkan dorm.
HANGANG PARK
Jinyoung berjalan pelan menyusuri pinggiran sungai. Sesekali terdengar helaan napas. Udara sore yang sejuk setidaknya menghilangkan sedikit tekanan yang dia rasakan. Jinyoung memutuskan untuk duduk di atas batu. Matanya memandang riak sungai di depannya. Pikirannya sibuk mencari solusi agar dia bisa berubah menjadi namja lagi dengan segera.
"Apa aku mundur saja?". Bisiknya pelan.
"Eoh? Neon yeogi isseo?". Sebuah suara mengagetkan Jinyoung. Dia melihat sekelilingnya dan mendapati seorang gadis ( mungkin masih SMA) berkepang dua menatap dirinya,"Jaegayo?", Jinyoung menunjuk dirinya sendiri meyakinkan si penanya.
"Ne…", si gadis mendekat lalu duduk di sebelah Jinyoung.
Jinyoung mengerutkan alisnya,siapa? Pikirnya. Seingatnya dia tak pernah melihat apalagi mengenal gadis ini.
"Apa orang yang kau sukai sudah menyukaimu juga?", tanya si gadis yang membuat alis Jinyoung makin menyatu.
"Chakka..chakka..neon nuguya?".
"Eyy..neo kiyeokanayo?",(kamu tak ingat?) si gadis menatap Jinyoung yang kebingungan dengan mata bulatnya.
"aniji…memangnya kau siapa?", kesal mulai terbit pada Jinyoung. Si gadis berdecak pelan,"Yah…kau kan yang bilang_"
FLASHBACK
3 hari yang lalu…
Gedung JYP lantai 1
Jinyoung menatap orang yang bercengkrama tak jauh dari tempatnya duduk. Senyum orang itu tampak begitu bahagia. Jinyoung sampai ikut tersenyum melihatnya tapi hatinya tak bisa di pungkiri untuk berharap jika senyuman itu dia penyebabnya. "Hyung aku ke minimarket depan sebentar", pamit Jinyoung pada managernya. Mungkin segelas minuman dingin bisa menyegarkan pikirannya.
Sesampainya di minimarket Jinyoung hanya berdiri di depan mesin pendingin minuman. Kenapa dia malah mengingat orang itu lagi. Dia berdecak pelan, mengambil minuman dingin asal akhirnya dan membawanya ke kasir. Jinyoung memutuskan duduk di dalam minimarket sebentar. Jinyoung memutuskan untuk duduk di sebelah gadis yang tampak sedang mendengarkan music dengan headset. Iseng Jinyoung melongok pada ponsel gadis itu yang terhubung dengan headsetnya. Kebetulan lampu layarnya menyala. "Ah..bukan ahgase…", ucap Jinyoung pelan mengenali empat huruf china putih yang terbingkai garis putih diluarnya. (ada yg tau ini albumnya siapa?)
Jinyoung kembali ke posisi duduknya lagi lalu meneguk minuman kalengnya. Wajahnya kembali sendu,"Apa aku harus jadi perempuan dulu?", ucapnya konyol. Tanpa disadari Jinyoung, si gadis mengecilkan volume musiknya semenjak Jinyoung duduk di sebelahnya.
FLASBACK_END
"Seolma..", Tunjuk Jinyoung pada gadis di depannya.
"Masih belum ya?", si gadis dengan enteng bertanya.
"Yah! Cepat kembalikan aku seperti semula!", Jinyoung menyergap bahu si gadis dan mengguncang-guncangnya ganas.
"Yah! Keuman! Appo,Appo,Appo", Si gadis menepis tangan Jinyoung yang meremas bahunya.
"Aku tak bisa mencabutnya", ucap si gadis lagi.
"MWO? Neo kkijibeya!", bentak Jinyoung frustasi tanpa sadar mengumpat.
"Kau yang mengubahku tapi tak bisa menyembuhkan! Lalu siapa, eoh?", Jinyoung yang tadi berpikir sudah menemukan jalan keluar kembali berhadapan dengan jalan buntu.
"Tentu saja orang yang mencintaimu!", lanjut si gadis agak kesal karena dibentak-bentak. Jinyoung mengernyitkan alisnya lagi. Apalagi sih maksud gadis ini? Jinyoung memutar otaknya.
Sementara tak jauh dari situ…
Seseorang yang dari tadi ada di balik pohon – tak jauh dari dua gadis itu- ikut mendengar solusi yang dibicarakan kedua gadis tersebut.
"Heokshi…jaegayo?", ucapnya sambil tersenyum kemudian berbalik arah meninggalkan tempat persembunyiannya dan kembali ke dorm.
Yeaaaa…akhirnya selesai chap ini…mulai panas ya?
Banyak misteri….kira-kira siapa tuh yang ngintip2 di balik pu'un? Jaebumi? Markeu? Jackseuni? Youngjaeyah? Bambami? Ato si maknae Yugyeomi?
Sebelumnya abi minta maap chapter sebelumnya banyak typonya…efek update grasa-grusu…
Seperti tugas makalah, pas lese ngeprint baru ketahuan ada typo…hadeeuuhh,,
Anyway…abi baper gara2 mereka bakalan dateng ke Jekardah sebulan lagi ( ada yg udh liat pidio promonya?)…dede' ke kotanya Noona kek sekali-kali yah…
