Dan...
The last chapter...
Semoga semua misteri terjawabkan yah...
Maapkan kalo typonya banyak...trutm bgian enaena...
MAYDAY
Day : 7 part 2
Jinyoung kembali ke kamarnya bukanlah untuk tidur. Bagaimana dia bisa tidur dalam situasi seperti ini?. Dia menggenggam ponselnya erat. Daritadi dia ingin menghubungi atau setidaknya mengirimi seseorang di luar sana sebuah pesan singkat. Tapi kenapa yang dia pikirkan malah apa yang akan mereka lakukan untuk mengembalikan Jinyoung seperti semula. Malu dan takut membuat pikirannya kacau, lagipula Jinyoung tak yakin orang yang dicintainya juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Bagaimana jika tidak, apa dia harus keluar dari GOT7 dan berkelana mencari orang lain yang dia cintai?. Eyyy…miris sekali. Atau Jinyoung akan menjadi perempuan selamanya, hiks, itu lebih miris lagi.
"Jinyoung kau sudah tidur?".
Sial. Umpat Jinyoung dalam hati. Saking kalutnya dia bahkan tak dengar pintu kamarnya di geser. Otaknya makin kalang kabut mendengar suara yang tiba-tiba menyapa pendengarannya. Bukannya membalikkan badan, Jinyoung malah memejamkan matanya erat-erat. Untuk saja sinar yang datang dari kamar maknae dihalangi tirai dipintu kamar Jinyoung. Tadi Jinyoung tidak menyalakan lampu dan tidur menghadap tembok.
"Jinyoungi…", panggil suara itu lagi, semoga tidak kentara jika dia gemetaran,"Harusnya aku bilang saja dari awal. Masalahnya takkan jadi serumit ini". jinyoung masih mengumpat dalam hatinya. Hyung…aku tidak ingin permintaan maafmu, kalau kesini Cuma minta maaf aku jadi merasa bersalah ucapnya dalam hati.
"Jie…", suara itu semakin mendekat,"Igeo…naega ttaemuna ji? Gara-gara aku kau sampai jadi perempuan. Mianhae…", Jinyoung merasakan ada pergerakan di sebelah kasurnya. Hyung…aku tidak butuh kata maaf ucap Jinyoung menyahuti kalimat hyungnya dalam hati.
"Park Jinyoung…saranghae", sebuah pengakuan yang membuat mata Jinyoung seketika terbuka. Diikuti sebuah lengan yang melingkar di pinggangnya dan dagu di kepalanya.
"Oh my-", ini bukan aktingkan? Ucapannya tadi lebih seperti bisikan. Apa Jinyoung bisa mempercayainya?. Bukankah Jinyoung harusnya bahagia? Tapi kenapa Jinyoung jadi ragu.
"Ku mohon…", suara hyungnya terdengar parau. Tidak taukah Jinyoung, dia juga merasa ragu, ketakutan jika Jinyoung tak merasakan hal yang sama,"Berbalik,Jie", yang lebih tua mengeratkan pelukannya. Jinyoung menyentuh lengan hyungnya pelan.
"Hyung…", panggilnya lirih. Yang dipanggil hanya menjawab dengan gumaman. "Bukan aku?", tanya hyungnya lagi. Jinyoung segera menggeleng. Apa artinya bukan dia yang Jinyoung suka?. Ada perasaan kecewa yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
"Hyung…aku tidak bisa berbalik…", ucap Jinyoung lagi menyentuh lengan di pinggangnya.
"Arraseo…aku keluar…". Dia menyerah, yang terpenting Jinyoung kembali seperti dulu. Biar dia menahan sakit.
"Mark hyung memelukku terlalu erat, aku tidak bisa berbalik", Jinyoung akhirnya bisa berbalik karena Mark menarik lengannya dari pinggang Jinyoung.
Mark cengo, ekspresi bloonnya keluar lagi. Jinyoung jadi ikutan mematung mengerjap-ngerjapkan matanya lucu. "Kau bukan mengusirku?", Mark menunjuk dirinya sendiri. "Aku tidak ada menyuruhmu keluar", ucap Jinyoung polos. Aish…mereka lucu sekali.
"Keundae..gugeo…", Mark teringat pengakuannya tadi dan yes…Jinyoung 'tersambung' maksud kata-kata Mark yang tersendat-sendat. Buktinya pipinya memerah. "Mwoga..oppa?", sumpah, Jinyoung malu setengah mati memanggil Mark dengan sebutan oppa ( padahal mereka Cuma berdua). Mark sampai menengadah menatap JInyoung. Kupingnya masih baguskan? JInyoung memanggilnya apa barusan? Oppa?. eh, tapi tunggu dulu, Jinyoung juga memanggil Jackson oppa. "Aku kira kau menyukai Jackson? Kau memanggilnya oppa", Mark masih tampak ragu.
"Dia oppaku, ani, hyungku...Aku banyak menanyainya tentang oppa, maksudku hyung", Jinyoung bicara sambil menunduk memainkan bajunya. "Kau dekat dengannya juga, aku...memanggilnya oppa karena ingin kau cemburu", aku Jinyoung dengan wajah merona. Dia secara tak langsung mengakui perasaannya.
Sebuah senyuman terbentuk di bibir Mark, ada kelegaan dihatinya lalu diraihnya tangan Jinyoung. "Park Jinyoung", disebut nama saja sudah membuat jantungnya ngedance hard carry,"Nareul…neoneun…chincha saranghae".
Oh my, mayday! Mayday!, boleh Jinyoung pingsan sekarang?. "Neon eottoke?", Mark memandangi Jinyoung yang tertunduk. "Hm?", Mark menganngkat dagu Jinyoung agar Jinyoung menatapnnya. "Eotte?", tanyanya sekali lagi. Jinyoung malah manggut-manggut. "Jie…".
"Na…nado…", cicit Jinyoung.
"Hm? Nado mwoya?", Mark malah menggoda Jinyoung yang makin merona.
"Mark….", rengeknya menghindari tatapan hyung tertua. Mark tertawa sembari menarik Jinyoung kepelukannya. Mengecup pucuk kepala Jinyoung, mengusap lembut punggungnya. Posisi itu bertahan beberapa saat sampai Jinyoung menarik diri," Aku kira kau tidak mencintaiku", wajah Jinyoung kembali sedih.
"Wae?". Mark memandangi Jinyoung.
"Itu…waktu..kisseu…", Jinyoung tak memberi penjelasan mendetail, tak tahu harus mulai darimana.
"Jie…cara kita salah saat itu. Kau tau aku juga kecewa, aku malah mengira kau yang benci padaku". Aku Mark merasakan hal yang sama.
"Kalau benci kenapa aku mengijinkanmu masuk saat aku ganti pembalut. Itu kode hyung, kode…", Jinyoung benar-benar melepaskan diri dari pelukan Mark.
"Geurae…aku terlalu terbiasa denganmu Jie…".
"Alasan lain kita tidak peka?". Mark hanya menggedikan bahu. Matanya mengikuti Jinyoung yang akan menyalakan lampu meja.
"Jie…". Panggil Mark. Jinyoung menggumam sebagai jawaban karena posisinya menyilangi tubuh Mark.
"Bukankah kita harus melakukan sesuatu?", Mark memberikan clue
"Maksud hyung?". Jinyoung masih berusaha meraih lampu meja di bagian atas kasur.
"Kau masih ingin jadi perempuan?". Pertanyaan Mark membuat Jinyoung menarik napas tajam. Oh my…kenapa Jinyoung bisa lupa.
"Molla…". Jinyoung malah mematung meskipun lampu sudah menyala. Jinyoung…posisimu malah menggoda Mark yang bisa membayangkan lekuk tubuh Jinyoung tepat di depannya.
"Kau tidak mau bercinta denganku?", tanya Mark lagi, menggoda Jinyoung.
"Cih…kau bicara seakan kau itu suamiku". Jinyoung akhirnya bisa menguasai diri.
"keureom…I'll be".
"Heol…anda percaya diri sekali", Jinyoung sudah duduk di sebelah Mark lagi. Mark menggeram kecewa karena lamunannya tentang Jinyoung buyar. Ah persetan…menyelam minum air kan?
"Ahk!", dia memekik saat Mark membantingnya kasar.
"Asal kau tau…aku lebih suka pisang daripada kue", dengan itu Mark membungkam Jinyoung dengan ciuman dalam.
"Hmpphh…ahh!", Jinyoung dapat merasakan tangan Mark yang menyusup di balik kaosnya.
"Sshhh…Awh!", Mark yang selama ini begitu tenang di mata Jinyoung entah kenapa berubah menjadi seperti singa kelaparan.
"Nghhh,,,hyunghhhh" Belum apa-apa Jinyoung sudah dibuat kelabakan. Bibir Mark sudah berpindah mengecupi leher Jinyoung, sesekali menjilatnya dengan tempo lambat. Tangannya yang daritadi masuk ke dalam kaos Jinyoung meremas dan terkadang memelintir putting Jinyoung bergantian.
"Hyunghhhh…tandai ditempathhh..lainhhh..hhh..sajahhhh", desah Jinyoung berusaha melepas Mark yang menempel di lehernya. Mark bangkit menatap Jinyoung dengan tatapan sayu. Sial…ditatap seperti itu saja membuatnya merona.
"Take off your clothes", perintah Mark dengan suara rendah, jinyoung? Dia hanya menurut, pasrah.
Jinyoung hanya meninggalkan bra dan celana dalam. Pandangan Mark sama sekali tak beralih dari tubuh gadis di depannya. Mark tersenyum lalu memagut bibir Jinyoung sembari mengeluarkan isi bra hitam di depannya.
"Ahhmm…ssshh..awh!", Jinyoung yang tak tahu entah sejak kapan Mark sudah berpindah ke dadanya, memekik saat merasakan Mark menggigit putingnya. Bergantian dari kiri ke kanan. Oh my…kalau seperti ini, belum apa-apa Jinyoung bisa 'sampai' duluan.
"Ouhh…ssshhh…ahhhh..heehhmmm", kecupan dan hisapan Mark turun ke perut terus turun hingga paha dalam Jinyoung yang menarik napas tajam saat merasakan lidah hangat Mark menyapu bagian paha yang begitu dengan pusat gairahnya. Damn! Mark benar-benar 'memanjakannya'.
Kenikmatan Jinyoung tiba-tiba berhenti saat Mark bangkit. "Wait a sec, babe…", katanya sambil melepas pakaiannya juga. Dia panas. Apalagi melihat keadaan Jinyoung yang terlentang pasrah dengan tatapan sayu.
Pandangan Jinyoung beralih pada kotak-kotak yang mulai terbentuk diperut hyung tertuanya. Lalu turun pada gelembung yang Nampak jelas dari celana dalam abu Mark. Ouh god! Dari luar saja sudah lumayan besar.
"Wae baby?", Mark menindih Jinyoung yang semakiin merona memalingkan wajahnya. Pemuda asal Amerika itu terkekeh sambil menyingkirkan poni di dahi Jinyoung. Mark kembali mencium Jinyoung. Kali ini lebih berani, Mark melesakkan lidahnya saat Jinyoung membuka bibirnya. Dibelitnya lidah Jinyoung,"Uhmm..lllhhmmm…ckphhh..huhmm", Mark melepas ciumannya kemudian meluncur ke bawah.
"Waeire?", Jinyoung yang menikmati ciuman tadi kaget.
"sstt..", Mark mendongak menatap Jinyoung lalu mengedip nakal. Jinyoung menatap Mark bingung. "Let me see it", bisiknya membuka celana Jinyoung perlahan. Mark menyeringai mesum melihat benda merah-basah di depannya sedikit berkedut diterpa helaan napasnya.
"Ah!", pekik Jinyoung ketika merasakan sesuatu menekan klitnya.
"Apa yanghhh…ahhhh...", Jinyoung menggelinjang, tubuhnya melengkung. Sebuah benda kenyal meliuk-liuk di miss V-nya.
"Kau basah..llhh…ehllmm..".
"hh…sshh…ahhh…hmmm", Jinyoung meremas-remas sprei. Lidah hangat Mark menyapu seluruh miss-Vnya. Sesekali terdengar kecipak di bawah sana saat Mark mengecup miss-Vnya.
"Awh!", Pekik Jinyoung mengangkat pinggulnya ketika Mark menggigit klitnya dan menariknya. Rambut coklat Mark pun tak luput dari remasan Jinyoung yang tak bisa menyalurkan kenikmatan lewat kata-kata. Jinyoung kembali mendesah saat lidah Mark menyapu lubangnya. Jinyoung sudah terengah menahan nikmat di bawah sana.
"Markhhhh…uuhhh..jauhkanhhh..hhhh", napas Jinyoung tersengal,"Akuhhh..awhhhh…", Jinyoung makin merasakan hisapan dan jilatan Mark di miss Vnya intens,"I'll cumhhh,,,hhh..mark-ah! Pleashhhhh..lepashhhhh", Jinyoung berusaha mendorong kepala Mark dari selangkangannya tapi sepertinya mulut Mark menempel erat. "owh,owh,owh,owh", Jinyoung sudah di ujung,"Ahhhhh…yeassssssshhh", tubuhnya melengkung saat orgasme menjemputnya, menyemburkan cairan yang dihisap Mark rakus. "F*ck!", umpatnya melihat bibir dan mulut Mark belepotan cairannya.
"Kau hebat…", puji Mark mengusak rambut Jinyoung sayang.
"Ready for the main course, babe?", Mark menurunkan celana dalamnya, memperlihatkan kejantananya yang mengacung tegak sampai ke perut. Ujungnya mengkilat karena precum, salahkan Jinyoung yang daritadi mendesah-desah membangkitkan napsu seorang Mark Tuan.
"Dia juga butuh pelumas", Mark menggoyangkan kejantanannya di depan wajah Jinyoung. Mengerti maksud Mark, Jinyoung malu-malu menggenggam kejantanan Mark. Mengurutnya pelan sehingga pemiliknya mendesah.
"Gunakan lidahmu, babe", perintah Mark.
Mula-mula Jinyoung mengecup kepala jamurnya. Menjilat batangnya sambil menatap Mark yang mulai merasa sensasi service Jinyoung. "Hummm", Jinyoung melahap kepala kejantanan Mark,"Oughhh! F*ck! Yeaahhh", Mark menjambak rambut Jinyoung yang berbaring tengkurap di sampingnya. Tangan Mark menjelajah punggung, pinggang dan bokong kenyal Jinyoung.
"Agghh…sampai bawah…kulum babe…", Mulut Jinyoung sekarang penuh. Bahkan gadis manis itu dapat merasakan ujung kejantanan Mark menyentuh kerongkongannya. Dia tersedak,"soryhh", gumam Mark mengusap lembut pipi Jinyoung. Dia tak sengaja menggerakkan pinggulnya. She did f*cking good blowjob for the first time umpat Mark.
Jinyoung membiasakan ukuran Mark dimulutnya lalu menaik turunkan kepalanya. Sesekali dikocok batangnya sedangkan kepalanya dihisap membuat Mark meringis nikmat.
"shit! Jinyounghhhh…ouugghhh", lenguh Mark nikmat.
"Ouh..cummighhhh…jinyounghhhhhhh", satu teriakkan panjang dan cairan kental putih meluncur di bibir Jinyoung.
Jinyoung merasakan semprotan di mulutnya. Jadi begini rasa sperma? Pikirkan menjilati kejantanan Mark. Tanpa disadari gerakan Jinyoung terlihat begitu menggoda di mata Mark. Jinyoung mengecap-cecap cairan putih di mulutnya sambil sesekali menjilat jemarinya yang ikut terkena leleran.
"Hmphh!", Jinyoung tersentak karena Mark tiba-tiba melumat bibirnya. Jemari Mark mengusap-usap miss V Jinyoung,"So wet…sudah siap bercinta, ne?". Mark menyeringai melihat Jinyoung terengah.
"Hmmm…ngghhh…memang kita daritadi melakukan apa, oppahhh?", Jinyoung mendesahkan panggilannya. Mark terkekeh mengecup payudara Jinyoung gemas. "Ouch!", Mark menekan kejantananya di klit Jinyoung. Mark lebih mesum dari apa yang Jinyoung kira.
"Sudah tidak sabar untuk ditandai, cantik?", Mark menggesek naik turun miss V Jinyoung dengan kejantanannya sehingga si manis mendesah dan menggelinjang.
"Just do me jebalhhhhhh", mohon Jinyoung, sial Mark menggodanya habis-habisan. Mark mengecup sekali lagi bibir Jinyoung. Menarik lengan Jinyoug sehingga tergantung di bahu Mark. "remas punggungku saat terasa sakit, ok?', Jinyoung mengangguk.
Mark mulai memposisikan kejantanannya. "I'm in…", bisik Mark lirih, terdengar begitu seksi di telinga Jinyoung. "Ahk!,"pekik Jinyoung merasakan holenya terbuka paksa,"Appo!", tangannya otomatis mencakar punggung Mark yang meringis.
"Eotteh? Masih mau lanjut?", Mark istirahat sejenak saat kepala kejantanannya menembus hole Jinyoung. Dia melihat Jinyoung menahan sakit.
"Lanjutkan…oppahhh", Jinyoung mencoba tresenyum ditengah napasnya yang memburu.
"Damn!" umpat Mark saat berusaha masuk lebih dalam," rileks, babe. Aku tidak bisa masuk. Semakin sempit", Mark mengusap pinggul Jinyoung.
"aku masihhh..pehhrahwan tauhh", Jinyoung sempat-sempatnya protes.
"that's whyhhhh..i'hhh feelhhh..hgnghhh..soohhh..nghhh..proudhh", Mark masih berusaha menembus perlahan. Menahan keinginanya menghujam saja. "I behhh..nghh,,,your firstssshh…ahhhh", desahnya lega saat semua kejantanannya berhasil menembus. Jinyoung meringis, nyeri, tubuhnya bagian bawahnya terasa terbelah. Sejak awal dia tahu rasanya akan sakit apalagi melihat ukuran Mark yang malah tambah besar saat dihisap Jinyoung. Bayangkan benda selebar 4 cm menembusmu.
"Fuck! Sempit sekali", Mark bertumpuh pada sikunya agar tidak jatuh menindih Jinyoung.
"Bergeraklahhh", Jinyoung mengusap pipi Mark, tersenyum lembut,"pelan-pelan nehh". Humphh!", Jinyoung mendesah tertahan saat Mark menarik kejantananya.
Mark menggerakkan pinghulnya perlahan. Jinyoung masih sesekali meringis. Hingga…
"Ouh! Fuck there!", pekik Jinyoung nikmat, tersengat.
"Yeogi?", tanya Mark mengarahkan kejantannya. Jinyoung mengangguk, matanya terpejam. "Ouhhh..markhhh…ahahhhh…", Jinyoung menarik Mark mendekat sehingga kepala Mark berada di samping kiri kepalanya.
"Yes!oh!Shit! Arrggh!", geram Mark merasakan gesekan kejantananya di lubang Jinyoung. "Ouhh…sempit…nikmathhh…", erangnya. suara aduan paha dan pantat semakin menggema.
"ahh..daebakkkk..so bighhh,,,ouhhh", erang Jinyoung.
"Feel it babehhhh…ggghhhh", Mark tak sadar menambah keceapatannya.
"A! Awh! Markhhh! Ahhh! Uhhh…deephhhh…fastsssss", pekik Jinyoung, berkali-kali gspotnya tertusuk.
"I canthhh..i cant hold my selfhhh…ssshh", kecepatannya semakin menggila. Tubuh Jinyoung sampai tersentak-sentak tak mampu mengimbangi tenaga Mark yang entah darimana bertambah berkali-kali lipat.
"Nyahhhh…nikmathhh…enakhhhh…faster,yes,ah,harder", racaunya tak karuan. Sepertinya dia tak peduli suara grasak-grusuk di depan pintu kamarnya.
"Berbalik!", perintah Mark. Jinyoung dengan segera merubah posisinya. Menumpukkan badannya pada tangan dan lutut. Pantatnya teracung di depan Mark yang menatapnya mupeng. "No matter what your ass is the best", Mark menampar pantat Jinyoung gemas sehingga Jinyoung memekik. Detik berikutnya dia merasakan lubangnya di gesek. Kecupan di telinganya membuat sebuah desahan erotis lolos dari bibirnya bersamaan dengan itu lubangnya kembali terisi kejantanan Mark.
"F*ck!", umpat Jinyoung refleks.
"Nohhh…beibhhh…we make love, rememberhhhh".
"Hangghhhh…", Jinyoung terjungkal karena Mark tiba-tiba menambah kecepatannya, untungnya di depan ada bantal yang nehan kepalanya. Tangan kanan Mark menjalar menggesek klitnya, sesekali mencubit-cubit gemas. Tangan kirinya meremas payudaranya sedangkan bibir Mark mencumbu leher dan telinganya. Yeah…Jinyoung bertekuk lutut pada Mark saat ini. Pasrah menikmati perlakuan Mark yang begitu hebat.
"Ouhhh…Markhhhh…hmmhhh…yeasssssshhh…", Jinyoung hanya bisa mendesah dan mendesah. "Markhhhhh…awwwhhhhh…", Jinyoung meremas bantal saat sosdokan Mark semakin cepat dan tak beraturan.
"Markhh…I;m close", cicit Jinyoung tak tahan dengan 4 in 1 yag diberikan Mark. Tapi Mark tetap menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Menghujam-hujamkan kejantanannya makin keras sehingga suara yang ditimbulkan makin nyaring, pekikan Jinyoung makin keras. Menjerit-jerit memanggil nama Mark. "ah! Ah!Ah!Ah!Ahhh!".
"Arrrgg,,rrhhhahhh. Sebentar lagihhh," Mark memejamkan matanya menikmati hangatnya lubang yang melingkupi kejantananya,"shit! Jangan disempitkan sayanghhhh…ahhh,,,sial…dihisap penisku babehhh…". Dan sejak kapan Mark jadi begitu ahli dirty talk.
"Ouhh..Jinyounghhh….".
"Markhhh..sshhh..ah!".
"Closehh", cicit Mark dengan napas memburu,"bersamahhhhh".
"Jinyoungiihhhhhhhh", satu hentakkan tajam dan dalam, crot,crot,crot.
"Markhhhhh….oouuhhhhhhh". liangnya terasa hangat oleh semprotan sperma Mark. Keduanya terengah-engah. Menikmati puncak yang melanda mereka.
Mark pelahan menarik kejantananya. Sebagian cairannya mengalir keluar karena terlalu banyak bercampur dengan darah Jinyoung.
"Saranghae…Mark…', Lirih Jinyoung mangkup wajah Mark.
'Nado…saraghae..Jiyoungiii", Mark menarik Jinyoung ke dalam pelukkannya. Dan mereka tertidur.
"Gela,gela,gela", Yugyeom geleng-geleng, meski hanya dengar suaranya, dia tahu yang di dalam menggila. Dia bahkan sampai megap-megap tadi.
"Mark hyung ganas ternyata", Bambam masih takjub dengan Mark yang berhasil membuat Jinyoung menjerit-jerit barusan.
"sudah kuduga anak itu menyimpan sisi liarnya. Rawrrr", Jackson mencakar Bambam yang berdiri di sebelahnya.
Youngjae ngeblank saja. Sepertinya membayangkan permainan kedua hyungnya. Mukanya memerah. Sementara sang leader hanya tersenyum tak menyadari dongaseng di sebelahnya memerah.
D-DAY
Jinyoung terbangun dan menemukan sebuah wajah yang seketika membuatnya merona. Astaga! Kenapa dia bisa tidur denagn Mark hyung? Dan ini kamarnya kok. Tubuhnya terasa letih. Mark menggeliat, melingkarkan lengannya dipinggang Jinyoung,"Ugh…tidurlah sebentar lagi,Sayang", ucap Mark masih terpejam. Jinyoung mengernyit, Mark hyung memanggilnya apa tadi? Sayang?
"Seolma…", Jinyoung meraba tubuhnya, ingat akan kutukan yang dialaminya. "Eoh? Eoh?", senyum mengembang dibibirnya ketika , merasakan rambutnya memendek, tak ada dada, dan belalainya kembali. Pantulannya dicermin makin meyakinkannya jika dia 100% sudah kembali normal. "Ah…Mark hyung!", Jinyoung memeluk hyung tertuanya senang. Mark sampai berjengit kaget, terbangun dari tidurnya karena ditimpa Jinyoung.
"Aku kembali…", girang Jinyoung, menghasilkan sebuah senyum dibibir Mark.
'Wha…kau sudah kembali?", Jackson pertama kali muncul di pintu yang menjeblak terbuka sepertinya mereka sudah daritadi berkumpul di kamar maknae atau jangan-jangan sudah sejak kemarin malam?
"Noo-hyung", itu Yugyeom.
"Jinyoung hyung", Youngjae terharu.
"Syukurlah", Bambam tumben tidak kumat lebaynya.
"Kita selamat", Jaebum tersenyum lega. Kepalanya mendadak ringan detik itu juga melihat Jinyoung kembali menjadi Jinyoung.
"Kalian ini", Mark bangkit sehingga selimut yang mereka gunakan melorot sampai di atas pinggul.
"wau…". Lolong Jackson yang selanjutnya bersiul.
"oops!", Yugyeom pura-pura polos. Bambam masang tampang derp. Jaebum menutup mata Youngjae yang refleks sembunyi di sebelah Jaebum.
Jinyoung menelungkup menyembunyikan wajahnya yang memerah. Memorinya semalam sudah kembali seutuhnya.
"Ng..guys…kalian butuh waktu bicara…berdua", Jaebum menggiring member lain untuk keluar kamar Jinyoung. Dia tahu Mark dan Jinyoung perlu penjelasan dari masing-masing.
Keheningan menyelimuti Mark dan Jinyoung selepas pintu di tutup. Hanya nafas mereka yang terdengar. Jinyoung bangkit dari posisinya yang barusan tengkurap. Matanya sesekali memandang Mark yang menyandar di tembok.
"Jie/Hyung", panggil mereka bersamaan. Ada sedikit kekagetan tapi segera luluh saat keduanya tertawa."Mark hyung gomawo…",Jinyoung mnunduk tak berani menatap Mark langsung. Mark tidak menyahut apa-apa. Dia kemudian meraih dagu Jinyoung agar si manis menatapnya. Senyum lembut Mark berhasil membuat Jinyoung merona, perutnya bergejolak oleh jutaan kupu-kupu. Mark mengusap pipinya kemudian mengeliminasi jarak mereka.
BEHIND THE STAGE, PREMIERE LIVE
Yugyeom memandang Jinyoung dan Mark bergantian dengan pandangan curiga. Jinyoung duduk cukup jauh dari Mark, bukankah terjadi sesuatu antara mereka tadi malam? Kenapa sekarang terlihat tak peduli satu sama lain? apa mereka Cuma pura-pura tadi malam?
"Eomma…", panggilanYugyeom kembali seperti semula pada Jinyoung. Dia sedang sibuk membaca buku,"Wae?", dia hanya melirik sekilas. Paling Yugyeom minta diperhatikan pikir Jinyoung.
"kau dan Mark hyung…semalam…", kalimat Yugyeom tersendat-sendat. Kenapa bawa-bawa Mark segala?. Jinyung berdehem lalu berjalan mendekati meja untuk meletakkan buku yang tadi dia baca. Yugyeom mengerutkan dahinya, dikiranya Jinyoung akan menjelaskan sesuatu tapi malah pergi menjauhi Yugyeom.
Mark yang sedang bermain smartphone menoleh sekilas pada Jinyoung yang mendekatinya. "Mark hyung…sudah jam berapa sekarang?", Jinyoung merunduk membenarkan sepatunya.
Sebuah liontin berbandul cincin merosot dan menjuntai dari lehernya tepat di saat Mark membuka lengan bajunya menampakkan sebuah gelang dengan cincin yang sama seperti milik Jinyoung.
"Pukul lima lewat lima belas", saut Mark santai tak mengetahui maksud tersembunyi Jinyoung. Sementara Yugyeom bengong melihat hyungnya, mulutnya sedikit terbuka,"Chincha daebakkiya…", ucapnya kemudian, memperhatikan hyungnya yang sekarang duduk bersebelahan.
DI BAGIAN LAIN BELAKANG PANGGUNG
Youngjae memperhatikan Jackson dan Bambam yang sibuk selca sesekali mereka tampak ribut berdua. Dia tersenyum lalu berbalik hendak menuju pintu tapi tubuhnya bertabrakan dengan seseorang yang masuk ke ruangan.
"Omo..gwaenchana? mian….", Jaebum yang menabraknya ternyata, sang leader mengusak kepala Youngjae.
"Gwaenchana. Aku harusnya minta maaf", Yiungjae membenarkan rambutnya yng jadi berantakan.
"Eyyy…mau minum kopi?", tawar Jaebum, Youngjae mengangguk kemudian mengikuti Jaebum.
Jaebum dan youngjae duduk di kursi dekat panggung. Jika Jaebum sibuk dengan kopimya maka Youngjae sibuk memperhatikan dua orang yang sedang mengobrol tak jauh dari mereka.
"Bagimana kau bisa tahu,Hyung?". Pertanyaan Youngjae membuat Jaebum mendongak menatapnya.
"Mwoga?", tanya Jaebum Balik sambil meminum sedikit kopinya.
"Mark dan Jinyoung hyung saling menyukai", jelas Youngjae lagi. Kali ini Jaebum menatap Youngjae lalu tersenyum.
"Keugeo…."
Flassback (1)
Jaebum hendak memeriksa keadaan Jinyoung di kamar. Perlahan dia membuka pintu geser. Matanya melebar melihat Jinyoung tertidur pulas dipelukkan Mark. "Kalian sungguh lucu", ucapnya meninggalkan mereka berdua.
Flashback (2)
Jaebum sudah bersiap-siap menyusul Jinyoung diam-diam ketika Mark menahan lengannya. "Biar aku saja…tolong tenangkan yang lain dulu", Jaebum mengerjap-ngerjap masih tak percaya apa yang dikatakan Mark barusan. Jaebum tersenyum geli melihat Mark buru-buru memakai sepatu, masker dan hoodie lalu menyusul Jinyoung ke Sungai Han.
Flashback_end
"Cheongmalyo?", Youngjae membelalak tak percaya. "Whoaahhh..Mark-ani, mereka diam-diam saling memperhatikan", Youngjae mengingat cara Jinyoung memperlakukan hyung tertuanya memang sedikit berbeda.
"Sepertinya kita harus berterima kasih pada gadis itu", Jaebum tersenyum menikmati kopinya.
"Wae? Kau tidak cemburu hyung?", Jaebum mengalihkan atensinya pada Youngjae, menaikkan satu alisnya,"Kau kan juga menyukai Jinyoung hyung", lanjut Youngjae namun mengalihkan pandangannya dari sang leader. Jaebum tersenyum,"Ne aku memang menyukai Jinyoung".
Youngjae meremas cupnya pelan.
"Sayangnya aku mencintai orang yang akan meremukkan gelas kopinya sekarang". Youngjae mendongak, menoleh kesamping tapi Jaebum sudah beranjak dari tempat duduknya semula. Youngjae merengut, melempar cup kopinya asal.
"wae? Takut jadi kekasih seorang leader boy band?", Jaebum berbalik menatap Youngjae.
"Neo chincha….haishhhh",Jaebum merentangkan tangannya dan Youngjae segera berlari memeluk sang leader, coret, kekasihnya.
MARKJIN SIDE AFTER LIVE
Mark tidak bisa berhenti tersenyum memandangi kekasihnya. Jinyoung yang sedang mengusap keringat menoleh karena merasa diperhatikan.
"Waeyo?", Yang ditanya hanya menggeleng masih sambil tersenyum.
"Jinyoungiii", panggilnya kemudian,"Waeee?".
"Aku ingin mencoba sekali lagi".
"Mwoga?", Jinyoung tak mengerti maksud Mark.
"Aku ingin tahu rasanya menandai kau yang laki-laki", kata Mark masih dengan wajah yang sama, berbanding terbalik dengan yang ditanya. Wajahnya dengan cepat merona.
"Neo, Chincha!", pekik Jinyoung. Sepertinya Jinyoung sudah berhasil meningkatkan kadar kemesuman seorang Mark Tuan. Dan Jinyoung sepertinya akan mengalami Mayday yang lebih seru lagi hahahahaha….
Yesssss….selesai…
Fyuuuuh,,,lumyan pnjang…
Maapkeun abi yang nulis enaena kpnjangan…anggap saja bonus,eh? ( ketauan yadong)…
Tapi akhir ini markjin jarang skinshipan yah..JJP mulu…kasian youngjae jadi mesem2 ngga jelas…apa JJP bakalan comeback yah?
Dan yah,,,sprtinya Jinyoung sedang sibuk sama jadwal individunya….tanggal 13 maret sudah dekat…dan vangkeee…mereka jadi makin hot….dede itu sudah jadi lelaki dewasa semua….oh my…
DAN...abi senaaang..ada markjin moment pas behind the scene mv never ever, markjin kliatan ngobrol berdua di kolam...
Maydayyyyyyy...markjin di never ever...abi treaaaaaak...di countdownnya juga,,,,,gelaaaaa...dunia terasa milik berdua tuh...
Okay…sepertinya abi bakalan makin jarang update…huweeee…knp jd abi yang sedih coba? Dunia nyata semkain sering memanggil sekarang-sekarang ini….
Doakan semoga ini bukan ff terakhir markjinnya abi….
