Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Warning: Mengandung Gender Bender, Crack Pairing, Bahasa tidak baku, Imajinasi liar Author, Humor garing, (munkin) OOC, dan masih banyak lagi

Summary: "Bukan seperti itu tuan Nidaime, hanya saja kami ingin membantu anda saja" Kakashi yang merasa kasihan dengan Tsunade akhirnya angkat bicara | "Kek, tolong bilang kakek bercanda! Aku mohon!" Tsunade hanya bisa mencoba meraih kakeknya yang tidak menghiraukannya dan terus saja berjalan keluar dari ruang Hokage

Pairing: Senju Tobirama x Naruko Uzumaki (Main)

Tobirama (Reincarnated): 23 Years Old

Naruko: 18 years old


Screw the rule! Marry me!

Tobirama Point of View


Apa salahku? Aku hanya laki-laki normal yang masih lajang, jadi bukankah hal yang normal bila aku tertarik dengan perempuan? Terlebih lagi di saat aku sudah sendirian dalam jangka waktu yang lama, lalu aku menemukan wanita impianku dan mereka memintaku untuk melepaskannya begitu saja?

Karena itu lah aku menatap kosong cucuku dan seseorang yang katanya adalah calon Hokage ketujuh, anak dari Sakumo Hatake yang bernama Kakashi Hatake, aku tidak meragukan kemampuannya; dulu ayahnya adalah anak yang sangat berbakat dan jenius, baik hati dan merupakan pemimpin yang menyayangi anak buahnya serta rekan satu timnya, mirip Hiruzen, sang Sandaime Hokage.

"Kek, tolong pikirkan sekali lagi! Kami bisa menemukan wanita yang lebih baik" Cucuku, sang Hokage keenam memijat keningnya dan mengatakan hal yang sama berkali-kali, aku sampai bosan menjawabnya.

"Sudah di katakan bahwa wanita Uzumaki hanya tinggal dua" Aku menggeleng dengan pelan, yang benar saja, mereka berdua sangat keras kepala! Apakah sebuah kesalahan baginku bila aku menyukai sang Uzumaki berambut kuning cerah itu?

"Bisakah wanita lain? Selain Naruko!" Cucuku yang biasa aku panggil Tsuna menatap penuh harap diriku, aku bahkan bisa melihat Hatake memberikanku tatapan yang sama.

"Sudah aku bilang, aku tidak akan memaksanya! Aku akan mencoba mendekatinya" Aku menghela nafas panjang, mereka berdua keras kepala sekali, sudah berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan mencoba mendekatinya dan melamarnya nanti, bukan menyuruh mereka menikahkan aku dengannya secara paksa!

"Ano..." Sekertaris cucuku yang berdiri agak jauh dariku sepertinya ingin berbicara, namun ia berusaha sebisa munkin untuk tidak menatap atau melihatku secara langsung membuatku memutar bola mataku dengan bosan. Bukannya ingin sombong namun memang benar, laki-laki keturunan Senju memiliki daya tarik yang tidak kalah dengan Uchiha dengan cara kami sendiri, bila keturunan Uchiha sangat terkenal dengan sifat mereka yang dingin dan aura superior yang mereka miliki, maka kami keturunan Senju memiliki karisma dan aura kedewasaan yang kami keluarkan.

Walaupun kakak berbeda jauh dari kata 'dewasa' begitu juga dengan adikku yang lain, semua berkat ibu yang merupakan wanita dari sebuah klan yang tidak di kenal, ibu adalah seorang wanita yang sangat lembut dan baik hati, ia seperti tidak pantas berada di sebuah medan perang karena kebaikan dan kepolosannya, entah bagai mana Butsuma, ayahku, bisa mendapatkan wanita seperti itu, yang aku tahu bahwa tubuh ibu lemah dan meninggal tidak lama setelah Itama lahir.

Namun daya tarik tersebut membuatku menjadi sedikit keras kepala bila mengenai pasangan hidup, dulu banyak sekali yang menggodaku hanya karena tertarik dengan penampilanku atau hanya mengejar tahta saja karena aku adalah Hokage kedua dan adik dari Hokage pertama.

Kakak iparku, Mito adalah gambaran wanita yang sangat baik, ia menikahi kakakku karena berdasarkan cinta, bukan karena apa-apa, munkin karena mengetahui bahwa Mito tidak tertarik dengan tahta atau penampilannya, kakakku jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama.

Entah munkin karena kami kakak beradik, aku jadi merasakan hal yang sama dengan kakakku, aku jatuh hati kepada seorang wanita Uzumaki yang tidak tertarik dengan tahta (yah walaupun tahta yang aku katakan memang sudah akan menjadi miliknya) atau hanya karena penampilanku.

Anak dari mendiam Hokage keempat dan seorang wanita Uzumaki, Naruko Uzumaki adalah wanita yang sangat special, aku tahu itu.

Walau baru kenal dengan ayahnya sebentar, aku dan Minato bisa berkerja sama dengan baik, sifat kami sama walau aku masih tidak mengerti dengan sifatnya yang suka membuat sebuah jutsu dengan nama yang kelewat panjang dan sulit di sebut, membuatku ingin tertawa saja.

Walau pada nyatanya, Naruko malah lebih mirip kakakku dalam sifat, serius; aku seperti melihat Naruko waktu di peperangan adalah kak Hashirama di saat ia masih muda, dengan pengecualian Naruko tidak suka berjudi walau ia memiliki keberuntungan di atas rata-rata, Naruko juga kadang terlihat sedikit lebih bodoh dari kakaknya, namun setelah mengetahui bahwa ia perempuan...aku menganggap dirinya sangat imut.

"Kek... jangan berfikir yang tidak-tidak mengenai Naruko" Tsuna menatapku layaknya aku adalah orang mesum, padalhal aku hanya tersenyum kecil mengingat wajah calon istiriku (bodo amat, aku akan menganggapnya calon istriku, titik!).

"Aku tidak berfikir yang aneh-aneh, hanya mengingat di mana Naruko mirip sekali dengan kakak saat di peperangan" Aku menggeleng dengan pelan melihat reaksi Tsuna, ia terlalu berlebihan sekali "Walau ia malah terlihat lebih bodoh... buang-buang chakra di tengah-tengah peperangan"

"Mirip ibunya" Aku mengalihkan perhatianku kali ini ke arah Hatake, ia terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu, aku bisa melihat di balik maskernya ia sedang tersenyum hangat.

Aku sudah membaca dari data-data milik Naruko bahwa Hatake adalah gurunya, namun tidak sembarang guru, aku melihat banyak laporan bahwa Hatake berkali-kali mencoba mengadopsi Naruko dan selalu di tolak oleh Hiruzen, bahkan Homura dan Koharu juga tidak memperbolehkan dirinya.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, aku menemukan bahwa Hatake adalah murid dari mediam ayah Naruko dan sangat dekat dengan ibunya Naruto, tidak aneh melihat dirinya sangat protektif dan menyayangi Naruko setelah mengetahuinya.

"Baiklah kek" Aku terbangun dari lamunanku dan kini kembali menatap Tsuna yang terlihat sangat kelelahan, aku secara diam-diam menyeringai, sepertinya aku menang dan Tsuna mengaku kalah "Akan aku biarkan kau mencoba mendekati Naruko"

Tiba-tiba saja Hatake kini sudah berada di sampingku, matanya tertutup dan ia tersenyum lebar, namun aura yang ia keluarkan sudah seperti pembunuh berdarah dingin, pantas saja ia di katakan anak yang jenius dan mantan kapten ANBU "Namun saya mohon anda jangan coba macam-macam dengannya, saya tidak peduli anda adalah Hokage kedua, ninkenku yang lucu-lucu butuh mainan baru, mereka sudah bosan dengan yang lama"

"Aku masih punya harga diri, tidak munkin aku akan melakukan hal yang aneh-aneh, tenang saja" Aku hanya memutar bola mataku dengan bosan, mereka semua berlebihan dan terlalu protektif terhadap Naruko, ayolah, ia yakin Naruko bisa menjaga dirinya sendiri, ia sudah menyelamatkan dunia; siapa yang berani macam-macam dengannya?

"Tapi harus aku peringatkan kek" Tsuna tiba-tiba menjadi serius lagi, ia memang keturunan kakakku, cepat sekali berubah moodnya "Naruko memiliki banyak penggemar dan juga banyak orang yang sangat protektif terhadapnya"

"Aku sudah tahu itu" Aku bukan di panggil jenius hanya sebagai gurauan, aku sudah tahu bahwa Naruko Uzumaki memiliki sifat yang di sukai oleh banyak orang, ia sudah mengetahui siapa saja yang harus ia hadapi nanti bila ingin mendapatkan hati sang gadis Uzumaki.

"...Penguntit" Aku menatap tajam Tsuna, aku bukan penguntit! Aku hanya mencoba mengenal lebih baik calon istriku!

"Humph, yasudah, aku mau menemui Naruko dulu" Aku langsung shunshin, meninggalkan Tsuna yang membenturkan kepalanya ke mejanya dan Hatake yang seperti berdoa meminta maaf kepada Hokage keempat, mereka berlebihan sekali! Ambil contoh sekertaris milik Tsuna! Ia terlihat biasa-biasa saja; walau aku dengan blak-blakan tidak memperdulikan bahwa sekertaris Tsuna yang satu itu sebenarnya tidak peka.


Tidak sulit untuk menemukan sang gadis Uzumaki, aku sudah mengetahui tempat yang biasa sang gadis datangi—sekali lagi aku katakan, aku bukan penguntit! Hanya melakukan sedikit penelitian melalui data-data milik sang Uzumaki!

Kini sang gadis yang bernama Naruko tengah duduk di atas sebuah ayunan sambil menatap nostalgia sekolahan ninja yang ada di depannya, ia tersenyum kecil sambil sesekali mengayunkan ayunannya.

"Apakah ada sesuatu yang aneh dengan sekolahan itu?" Aku membuka pembicaraan dan melompat ke samping Naruko, membuat seakan-akan bahwa aku baru sampai dan tidak sengaja melihat dirinya.

"Tidak kok, hanya sedang mengingat-ingat masa kecilku" Naruko tentu saja sudah mengetahui keberadaanku, ia adalah ninja tipe sensor yang berbakat, terlebih lagi dengan bantuan sang Kyuubi no Kitsune "Ngomong-ngomong kenapa Nidame-san bisa masih berada di sini? Bukannya Hagoromo-san sudah mengirim anda kembali?"

Aku menyenderkan tubuhku di pohon di sebelah Naruko, sepertinya ia tidak menyadari bahwa dari tadi aku sedang memperhatikan wajahnya "Aku di hukum oleh Shinigami karena menciptakan edo-tensei"

Naruko kali menatap secara langsung diriku, membuatku bisa melihat lebih jelas wajahnya yang cantik jelita dan matanya yang berwarna biru cerah, entah mengapa luka yang ada di pipinya terlihat imut di mataku "Di hukum?"

"Panjang ceritanya, intinya aku sedang di hukum" Kataku dengan singkat sebelum mengalihkan perhatianku kembali ke sekolah ninja yang aku dirikan, banyak para calon ninja sedang bermain bersama teman-temannya dan ada juga yang sedang bersama kedua orang tuanya.

"Hee... Kurama bilang hukumannya sepadan" Aku menaikkan sebelah alisku dan menatap bingung Naruko, siapa pula itu Kurama? Dan berani-beraninya ia berkata hal tidak sopan seperti itu kepada diriku.

"Kurama juga bilang kalau jutsu yang kau ciptakan itu sangat merepotkan" Kata Naruko lagi namun ia sekarang tertawa pelan dan kembali mengayunkan ayunannya.

"Kurama?" Aku melirik sang Uzumaki yang masih tertawa, aku tidak menemukan data mengenai orang yang Naruko panggil sebagai Kurama, siapa itu? Tidak ada informasi mengenai dirinya sama sekali di data milik Naruko.

"Kyuubi, ia punya nama; namanya Kurama" Pantas saja, tidak tertulis sama sekali nama dari sang rubah berekor sembilan, bahkan ia tidak tahu monster itu punya nama "Semua Biiju punya nama"

Aku menatap penuh arti Naruko, hampir aku lupa bahwa Naruko adalah seorang Jinchuriki dari sang Kyuubi no Kitsune, seperti Mito. Aku tersenyum miris, semakin lama aku semakin menyadari kesamaan di antara diriku dan kakak, kami memang kakak beradik ya.

"Hebat ya, kamu bisa membuat sang Kyuubi no Kitsune jadi seperti itu..." Aku menyeringai dalam hati melihat reaksi Naruko di saat aku memujinya, aku tahu bahwa Naruko sangat suka di puji.

"Hehehe! Dengan cinta dan kasih sayang tentunya!" Oh lihat itu, wajahnya sedikit memerah dan matanya berbinar-binar, membuatku gemas saja, namun tentu saja wajahku tetap datar di luar, aku bisa dengan baik mengendalikan emosi dan ekspresiku.

"Kau mirip ayahmu ya" Nah, matanya semakin berbinar-binar dan senyumannya melebar, aku harus menahan diri untuk tidak mencubit pipinya.

"Benarkah?" Naruko bangun dari ayunannya dan menatap penuh harap diriku, ia melompat-lompat dengan antusias.

"Di saat peperangan dan sebelumnya aku sudah bertemu dan berbicara dengan ayahmu, harus aku akui, ayahmu sangat bertalenta dan mirip denganku" Aku melirik pohon yang berada tidak jauh dariku, aku tentu saja bisa melihat dengan jelas ada seseorang yang memata-mataiku dan aku tahu itu adalah ANBU suruhan Tsuna.

"Aku bisa ceritakan lebih banyak lagi namun sepertinya ini sudah jam makan siang" aku menyeringai diam-diam melihat ekspresi Naruko dan ia langsung menarik tanganku.

"Kalau begitu ceritakan kepadaku sambil makan siang! Aku tahu tempat makan yang enak!" Aku menyeringai dan melirik ANBU yang di kirim oleh Tsuna, oh aku tahu bahwa Tsuna sedang mereka kejadian ini dan menontonnya secara langsung.

Satu kosong untukku, hah, jangan remehkan aku Tsuna. Aku yakin cucuku yang satu itu sedang membenturkan kepalanya ke mejanya, membuatku harus menahan tawa.


"Nona Tsunade... sejak kapan tuan Nidaime bisa modus seperti itu..."

"Kau tidak tahu Kakashi... laki-laki Senju memang seperti itu..."

"Narukoooooo!"

"Mari kita berdoa semoga saja ketidak peka'an Naruko bisa mengalahkan karisma kakekku..."

"Karisma..."

"Iya Karisma..."

"Itu bukannya modus ya..."

"Itu juga"

"Tuhan... tolong jaga kesucian Naruko..."

"Kalian berdua berlebihan sekali..."


Keesokan harinya setelah aku berhasil mengajak Naruko makan bersamaku dan setelah itu mengobrol sebentar, aku memutuskan untuk mampir ke rumahnya terlebih dahulu.

Namun tentu saja dengan membawa sesuatu yang aku yakin bisa menarik perhatiannya.

"Sup kacang merah!" Naruko menatap penuh harap diriku yang memperlihatkannya sekantung penuh bahan-bahan untuk membuat salah satu makanan kesukaannya, aku tentu saja langsung di perbolehkan masuk ke dalam apartemennya.

"Akan aku bantu memasaknya" Nah, lagi-lagi Naruko memberikan tatapan seperti aku adalah seorang dewa, alangkah mudahnya membuat gadis yang satu ini senang.

"Anda bisa memasak?" Naruko berjalan ke sampingku dan mengambil sekantung kacang merah yang ada di sampingku dan mulai mencucinya.

"Tentu saja, dulu waktu perang kami harus belajar memasak agar bisa bertahan hidup di luar" Naruko menatap diriku lagi dengan pandangan yang sama dan mengangguk dengan antusias, tuhan; tolong berkati diriku dengan kesabaran dan penahan yang kuat, gadis yang satu ini sering sekali menggodaku tanpa ia sendiri sadari.

Selama berberapa menit kami tidak berbicara apa-apa karena sibuk mengerjakan tugas masing-masing dengan diriku sesekali melirik Naruko, sepertinya ia sedikit kesulitan memotong berberapa bahan.

"Susah... aku masih belum terbiasa menggunakan tangan baruku..." Naruko cemberut dan melepaskan genggaman tangannya dari pisau untuk memegang tangannya yang di perban, tangan yang sama yang telah hancur di saat menyegel Kaguya.

Aku berhenti mengaduk sup dan mematikan kompor sebelum berjalan ke belakang Naruko, aku memegang kedua tangan Naruko dan pelan-pelan menggerakkannya, memberikan Naruko contoh untuk memotong dengan baik dan benar.

"Kau bisa-bisa memotong jarimu tanpa sengaja kalau seperti itu, pegang pisaunya seperti ini dan lalu sebelah tanganmu kamu kepalkan dan letakkan di atas bahan yang kau potong; jadi kau tidak akan memotong jarimu tanpa sengaja" Aku menjelaskan sambil menggerakan tangan Naruko, tanganku terus menggenggam tangan Naruko dan melanjutkan memotong bahan di depanku, seperti layaknya seorang ninja pengguna kugutsu denagan Naruko sebagai bonekanya.

"Ooh! Aku pernah lihat kak Ayame melakukan hal yang sama! Aku kira untuk apa! Kalau saja aku tahu ini pasti dulu aku tidak akan terluka!" Naruko tersenyum lebar dan menatap takjub tangannya yang sedang aku gerak tanpa merasa risih atau terganggu dengan diriku yang jelas-jelas masuk ke dalam areal nyamannya dan memegang tangannya.

Aku melirik ke arah jendela yang ada di sampingku dan menyeringai, melihat ANBU yang sama sedang bersembunyi dan memperhatikanku secara diam-diam.

Dua kosong, aku menang lagi Tsuna.


"NARUKOOOOOOOOOOOOO!"

"Tuhan! Setidak peka apa gadis itu!"

"MURIDKU YANG SANGAT LUCU, KENAPAAAA?"

"Shizune! Kirim Sakura ke apartemen milik Naruko!'

"Bawa Sasuke juga!"

"Kalian berdua..."


Aku menatap kosong kedua murid lain dari Hatake dan juga rekan satu kelompok Naruko yang kini sedang berbicang-bincang dengan Naruko, yah; sang gadis berambut pink dan Naruko yang berbincang-bincang, sang bocah Uchiha hanya mendengarkan saja namun sesekali ia mengangguk; menandakan ia mendengarkan perbincangan mereka berdua.

Aku bisa melihat dengan jelas bahwa sang bocah Uchiha yang sangat mirip dengan Izuna (membuatku sedikit merinding dan bersalah saja, kenapa ia harus mirip dengan mendiam adik dari Madara coba...) tidak menyukai keberadaanku dan jelas sekali menutupi diriku dari Naruko, dasar bocah over protektif. Sang gadis berambut pink juga melirikku sesekali sebelum mendekat ke arah Naruko dan menutupinya dari diriku.

Jadi seperti ini kau ingin bermain ya, Tsuna?

Tantangan aku terima.

"Kau mirip sekali dengan adik Madara" Hah, gampang sekali mendapatkan perhatian sang bocah Uchiha "Namun sifatmu tidak ada samanya dengan Izuna"

"Jangan samakan aku dengan dirinya" Kata sang Uchiha dengan nada kesal dan dingin, membuatku menyeringai.

"Menurut cerita yang aku dengar, kakakmu berbeda seratus delapan puluh derajat dari Madara" Aku melihat ekspresi sang Uchiha yang bernama Sasuke sedikit melembut "Seperti yang aku bilang; ia mirip Kagami, senang aku bisa melihat ada Uchiha yang sangat loyal, hebat, baik hati, dan bertalenta seperti kakakmu, kau beruntung memiliki kakak sehebat Itachi"

Yak, dapat! Ekspresi Sasuke kini benar sangat melembut dan dari bahasa tubuhnya jelas sekali bahwa ia sudah rileks, tidak sia-sia aku dekat dengan para Uchiha dulu walau tidak banyak.

"Kakakmu sangat berjasa, jadi sepertinya sangat adil bila ia masuk ke dalam monumen penting di Konoha" Yak, satu sudah teratasi, Sasuke terlihat seperti ia sedang berjuang untuk menyembunyikan senyumannya "Aku berharap kau akan tumbuh seperti kakakmu"

"Aku setuju! Walau aku hanya bertemu dengannya berberapa kali, kakakmu sangat luar biasa Teme!" Calon istri yang baik, ia membelaku "Aku jadi iri, aku jadi ingin punya kakak juga..."

Sasuke yang merasa terlalu malu dengan begitu banyak pujian yang ia dan kakaknya terima memutuskan untuk bangun dari posisinya dan berjalan keluar ruangan "Iya iya"

Namun sepertinya ia tidak pergi begitu saja, di saat ia berjalan melewati diriku, aku di beri hadiah berupa tatapan menggunakan sharingan dan ia berbisik pelan "Kau sakiti Dobe, akan ku bakar kau"

Aku menyeringai dan hanya menatap tanpa takut matanya sebelum berbisik juga dengan pelan agar hanya dirinya saja yang bisa mendengar "Akan selalu aku ingat"

Sasuke ,mendengus dan berjalan keluar, sekarang tinggal gadis berambut pink bernama Sakura yang kelihatan kaget melihat Sasuke keluar dengan cepat, nah kalau perempuan yang satu ini...

Tidak terlalu banyak omong, aku hanya menatapnya saja dengan bibirku yang sedikit tertarik ke atas, ia menyadari bahwa aku sedari tadi memperhatikannya dan ia jelas sekali tidak nyaman, ia berkali-kali melirikku dan wajahnya pelan-pelan berubah menjadi seperti kepiting rebus.

"Neh, kau kenapa Sakura-chan?" Naruko yang polos dan tidak peka tentu saja tidak menyadarinya.

"Muridnya Tsuna ya? Aku bisa melihat bahwa kau mirip sekali dengan Tsuna" Yak aku menang, gadis itu sudah hampir pingsan dan buru-buru pamit untuk pulang.

"Sakiti Naru dan anda akan bangun tanpa kaki dan tangan!" kata sang gadis berambut pink dengan buru-buru tanpa menatapku secara langsung.

"Mereka berdua kenapa ya..." Calon istriku yang tidak peka hanya bisa menatap bingung kedua temannya.

Aku melirik jendela yang terletak tidak terlalu jauh dariku dan menyeringai, kalah telak lagi; sepertinya Tsuna tidak di hadiahi dengan keberuntungan seperti Naruko dan kakak bila mengenai hal seperti ini.


"Tuan Nidaime pintar sekali bicara..."

"Kalau soal yang itu aku saja baru tahu..."

"Anu... nona Tsunade... Kakashi hilang"

"Ck, ia tidak kuat... Shizune, kirim surat ke Kumogakure! Secepatnya!"

"Nona Tsunade apakah anda tidak berlebihan—"

"Sudah cepat kirim!"

"...Baik nona"


Berberapa hari kemudian aku di hadapkan oleh laki-laki bertubuh besar, berkulit coklat gelap dengan kaca mata hitam; jelas sekali bukan orang dari desa ini.

"Yo Naruko! Senang bisa melihatmu lagi~!" Kata sang laki-laki bertubuh besar sambil merentangkan kedua tangannya dengan nada aneh, apakah ia mencoba bernyanyi?

"Occhan!" Aku menatap horor pemandangan di depanku, Naruko berlari ke arah laki-laki tersebut dan memeluknya dengan melingkarkan tangannya ke leher laki-laki tersebut!

"Hahaha, kau masih sehat ya baka yarou! Apa kabar rubah yang satu itu, kono yarou!" Pertama, laki-laki yang ada di depannya ini berasal dari desa lain, kedua, ia dengan seenaknya memeluk Naruko, ketiga, ia mengatai Naruko anak bodoh! Yang benar saja!

"Aku baik-baik saja! Aku kangen Occhan! Kurama baik-baik saja namun akhir-akhir ini ia jadi sering diam entah mengapa, bagai mana dengan Gyuki?" Oh, ternyata orang tersebut sepertinya adalah Jinchuriki seperti Naruko, namun tetap saja, berani-beraninya ia memeluk Naruko seperti itu!

"Yo! Halo tuan kedua! Senang berkenalan denganmu, Killer Bee namaku! Tapi biasa di panggil tuan Jinchuriki! Maaf ya orang di desaku membunuh dirimu dulu!" Mataku berkedut dan aku menatap tajam dirinya, sengaja sekali; sepertinya ia mencoba membuat diriku marah.

"Dulu adalah dulu, lagi pula itu waktu perang" Tenang Tobirama, jangan bunuh dia, orang yang di depanmu adalah Jinchuriki yang dekat dengan Naruko.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dan bagai mana ini bisa terjadi namun sekarang aku sedang berdiri di depan sang ekor delapan yang terjebak di dalam perangkap air milikku.

"Ayo! Maju terus! Berjuang Occhan! Nidaime!" Oh, dan Naruko menonton dari jarak agak jauh sambil memberikan semangat kepada kami berdua, ia melompat-lompat dan berteriak-teriak sedari tadi.

"Yo! Jangan kira aku bisa di tangkap begitu saja!" Sang kerbau berekor gurita kini berhasil melepaskan diri dari penjara airku dan sudah mulai menyerangnku lagi.

"Jangan remehkan aku" Aku mengeluarkan berberapa bunshin dan kembali menyerang sang monster berekor yang sedang di kendalikan pemiliknya.

Pertarungan kami berdua berjalan cukup lama; hingga matahari sudah menghilang dan di gantikan bulan barulah kami berdua selesai bertarung, kami berdua sudah kelelahan dan pemenangnya?

"Seri!" Naruto menyeringai, matanya berbinar-binar dan melompat ke dekat dirinya dan Bee "Keren sekali tadi! Nanti bertarung juga denganku Nidaime-san!"

"Yo! Pertarungan yang menyenangkan! Hachi juga senang bisa bertarung dengan kekuatan penuh! Ia agak bosan akhir-akhir ini!" Bee menyeringai dan menggerakkan tangannya yang mengepal ke arah diriku, membuatku menatapnya sebentar karena bingung apa keinginannya.

Aku pernah melihat Naruko melakukan hal yang mirip seperti adu tinju dengan ayahnya pada saat peperangan, jadi aku melakukan hal yang sama kepada Bee.

'Kau sakiti Naruko, akan aku lempar Biijudama kepadamu tanpa henti' Jelas sekali pemilik suara tersebut bukanlah Bee, jadi aku mengambil kesimpulan bahwa yang berbicara adalah sang ekor delapan.

'Dan hadiah double lariat dari aku dan kakaku, yeah!' Nah kalau yang ini baru Bee.

'Kalian over protektif sekali' Aku menggeleng pelan namun pada akhirnya aku mengangguk, karena aku tahu; Naruko adalah wanita yang special.


"Bee kalah, nona Tsunade"

"Aaah... sial"

"Nona... bagai mana kalau anda—"

"Panggil Yamato"

"Nona—"

"Sudah panggilkan saja"

"Baik nona..."


Berberapa hari kemudian, setelah pertarunganku dengan Bee, kini aku sudah kembali pulih dan tengah mengurus berberapa data mengenai identitas baruku sementara, agar aku bisa menjadi warga Konoha dengan benar.

Aku memang mantan Hokage kedua, namun tetap saja aku membutuhkan identitas sementara, memang benar keberadaanku kini di ketahui oleh berberapa orang bahkan ninja dari desa lain namun mereka adalah orang-orang penting seperti para Kage.

Berkat Naruko yang memiliki status sebagai pahlawan dunia, mereka tidak terlalu mempermasalahkan keberadaanku.

Raikage yang merupakan kakak angkat dari Bee mengatakan bahwa Bee sudah cerita bahwa aku mendapatkan respek dari Bee, dan sebagai kakaknya maka ia akan melakukan hal yang sama karena ia tahu Bee tidak akan bicara sembarangan.

Mizukage... aku mau melupakannya oke, wanita yang satu itu bisa menyeramkan dan... serius, aku merasa seperti aku di perhatikan terus-menerus olehnya.

Kazekage yang merupakan mantan Jinchuriki dan sahabat Naruto menerima dengan senang hati dirinku—bila tidak menghitung dirinya memberi ancaman akan menguburku hidup-hidup di dalam pasir bila aku melakukan hal yang membuat Naruko terluka.

Tsuchikage—aku kaget melihat dirinya masih hidup sampai sekarang, aku mengingat pernah melihat dirinya dulu, di saat ia masih muda dan ia juga mengingatku (yah, di ingatkan oleh cucunya) dan komentarnya? Ia malah kecewa melihatku, ia berharap Yondaimelah yang ada di posisiku jadi ia bisa mengajaknya bertarung untuk terakhir kalinya.

Namun tentu saja walau aku di terima, tetap saja pasti akan terjadi kekacauan bila seluruh dunia tahu keberadaanku, walau kelima desa besar sudah berhubungan dengan baik, desa-desa kecil lainnya bisa saja berbahaya kalau mereka memberontak.

Jadi sekarang aku tengah berada di kediaman milik Tsuna untuk mengurus berberapa data, sial sekali nasibku kali ini; aku kira aku tidak akan bertemu dengan benda terkutuk bernama paperwork ini setelah turun dari jabatan Hokage dan sekarang aku jadi sedikit iba melihat tumpukan kertas yang menggunung di atas meja Tsuna.

Sial, pekerjaanku belum selesai sama sekali bahkan di saat matahari kini sudah di gantikan oleh bulan, aku memang workholic sehingga aku tidak bisa berhenti berkerja walau hanya sebentar dan tidak ingat waktu sama sekali.

Hingga akhirnya pintu masuk ruanganku (sebenarnya ruangan punya Tsuna sih, tapi sementara aku yang menempatinya) di buka dan memperlihatkan seorang gadis berambut kuning terang yang tersenyum lebar sambil membawa sebuah kantung.

"Nidaime-san! Sebagai tanda terimakasih waktu itu dan kemarin, aku membawa makanan!" Ah, calon istri yang baik, namun tetap saja aku tidak bisa berhenti berkerja.

"Hmm... taruhlah di sana, nanti akan aku makan" Aku masih sibuk menulis dan mengurus berberapa keperluan milikku, yang namanya kebiasaan memang susah hilang ya.

Naruko tidak pergi, ia malah berjalan mendekat ke arahku dan mengambil salah satu pekerjaanku yang sudah aku selesaikan dan membacanya sebentar sebelum meletakkannya kembali dan meletakkan makanan yang ia bawa di dekatku.

Namun tidak lama kemudian ia malah membuka makanan yang ia bawa (sepertinya memang ia beli dua porsi, satu untukku dan satu lagi untuknya) dan mulai memakannya, aku hanya terus saja berkerja hingga akhirnya aku jadi tidak tahan juga.

Aku menatap Naruko yang sudah menghabiskan makanannya dan lalu melirik makanan porsiku yang sedang Naruko buka, ia mengambil sumpit dan menyodorkan makanannya ke depan wajahku "Makanlah! Aku dengar Nidaime-san belum makan dari pagi! Kalau tidak makan nanti jadi lemah!"

Aku menatap Naruko sebentar sebelum melirik tumpukan tugasku yang sudah mulai menipis, lagi-lagi kebiasaan sulit untuk menghilang, ada perasaan lapar namun perasaan ingin berkerja lebih besar lagi.

Sampai akhirnya aku merasakan Naruto menyodorkan makanan milikku (Sepertinya isinya bentou, untungnya bukan ramen), oh, sepertinya Naruko berniat menyuapi diriku yang tentu saja aku terima dengan senang hati.

Aku terus saja berkerja dengan naruko yang menyuapi aku makanan hingga makanan milikku sudah habis dan Naruko sedang membersihkan bekas makananku dan pekerjaanku kini sudah selesai.

"Naruko, apakah kau pernah berhubungan dengan seseorang?" Namanya juga baru selesai berkerja, otakku berjalan secara random dan tiba-tiba saja pertanyaan itu sudah aku keluarkan tanpa aku bisa proses terlebih dahulu.

"Hm? Berhubungan? Maksud?" Naruko yang baru selesai membereskan bekas makan kami menatap bingung diriku, polos ya, senang bisa melihat calon istriku masih polos dan tidak ternodai.

"Pacaran" Aku melihat Naruto terdiam dan... apakah itu ekspresi sedih yang aku lihat? Atau munkin itu ekspresi kesepian? Apakah ada sesuatu yang ia sembunyikan? Aku bisa merasakannya dengan jelas, sepertinya aku harus memperhatikan dengan lebih baik lagi reaksi miliknya.

"Hahaha, kalau yang itu tidak pernah!" Jawab Naruko sambil tertawa yang terasa sedikit di paksakan, sepertinya aku menemukan informasi baru.

"Tapi ciuman pertamaku... hiks..." oh, aku merasa seperti ingin menghajar sesuatu, ciuman pertama? Sudah di ambil... siapa?

"Eh tunggu! Secara tidak langsung bukan ciuman pertama sih! Iya! Aku ingat sekarang! ciuman pertamaku sudah aku berikan kepada kakek! Diam ah Kurama! Kakek adalah ciuman pertamaku! Bodo amat! Walau aku masih umur 5 tahun tetap saja itu ciuman pertama!" Ia tiba-tiba saja berbicara sendiri namun aku bisa merasakan bahwa ia berbicara dengan sang rubah berekor sembilan namun tetap saja, aku tidak rela mendengar seseorang merebut ciuman pertamanya.

"Ahem, jadi ciuman pertamaku aku berikan kepada kakek" Ia terlihat ngotot mengenai masalah ini dan menatapku secara secara langsung.

Aku melirik bibir tipis milik Naruko lalu menatap secara langsung matanya, namun berberapa detik selanjutnya yang aku tahu adalah kini wajahku sudah dekat sekali dengan Naruko yang mulai mundur-mundur ke belakang.

CUP

Aku mengecup dengan pelan bibir tipis milik Naruko yang terlihat sangat menggoda semenjak pertama kali kami bertemu, bermandikan sinar rembulan yang masuk dari jendela dan sang rubah berekor sembilan sebagai saksinya, aku berhasil mencuri ciuman dari Naruko.

Eh

Tunggu dulu.

Rubah ekor sembilan?

Aku menjauhkan wajahku dan dari Naruko, menghancurkan koneksi bibir kami dan menatap kosong rubah yang duduk di samping diriku dan Naruko.

"Lanjutkan, aku di sini hanya mau menonton" Kata sang rubah yang duduk dan memangkukan kepalanya di tangannya dan menatap tanpa dosa diriku dan Naruko.

"Ku-ku-ku-a-apa—kenapa—aaaaaahhh!" Oh, Naruko akhirnya terbangun dari lamunannya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menatap tidak percaya diriku, wajahnya sudah sewarna dengan tomat.

Aku melingkarkan tanganku ke lehernya dan menariknya ke dekapanku sebelum memeluk dirinya dengan erat, namun tiba-tiba saja aku seperti memeluk angin dan Naruko sudah ada di pintu keluar ruangan.

"A-aku pergi dulu Nidaime-san! A-ada urusan!" Dan ia langsung kabur menggunakan shunshin, lumayan juga kecepatannya, sebentar lagi aku yakin Naruko sudah bisa mengalahkan diriku dan menyamai ayahnya.

Kini pandanganku berubah ke arah sang rubah ekor sembilan yang masih memberikan diriku tatapan tanpa dosanya, aku tahu apa yang ingin ia bicarakan "Ya, aku ingin Naruko jadi istriku"

"Humph, bocah yang satu itu memang tidak peka" Aku melihat Kyuu-Kurama memutar bola matanya dengan bosan, sepertinya ia sudah tahu betul sifat Naruko "Namun, apa kau pikir kau pantas menerimanya?"

Aku diam saja, mataku tidak pernah melepaskan pandangannya dari mata sang rubah berekor sembilan, merah bertemu merah, tidak ada yang mau mengalah.

"Harus aku ingatkan, salah satu anakmu akan menjadi penahanku nanti" Aku sudah tahu itu dan tentu saja aku sudah mengetahui jawabannya.

"Aku tahu itu dan apa yang harus aku khawatirkan? Naruko menganggap bahwa menjadi Jinchuriki adalah sebuah anugrah, maka sama saja dengan anak kami nanti" Memang sedikit berlebihan bahwa kami sudah membicarakan soal anak, aku baru saja berhasil menciumnya sekali dan belum berhasil memberikan cincin kepadanya.

"Pintar sekali kau berbicara" Kurama mendengus dan bangun dari posisinya sebelum berjalan keluar ruangan "Kau sakiti Naru dan akan aku cincang dirimu dan aku berikan kepada Shukaku untuk di jadikan makanan"


"Aduh... aku tak kuat melihatnya... nona Tsunade..."

"Jangan jadi seperti anak remaja begitu, hanya di cium kok"

"Tapi nona Tsunade~!'

"Iya iya, aku tahu, kakekku yang satu itu ternyata mirip sekali dengan kakaknya ya..."

"...Nona Tsunade sudah menerima kenyataan bahwa Naruko akan menjadi—secara tidak langsung, nenek nona..."

"...Aku mau punya cucu, semoga nanti mirip Nawaki"

"...Nona..."


Yah, mau bagai mana ya; memang sedikit salahku karena tiba-tiba saja mencium Naruko tanpa aba-aba jadi sekarang Naruko bersikap agak aneh terhadapku, bisa di bilang ia bersikap seperti seorang gadis dari klan Hyuuga yang berberapa hari yang lalu berjanji akan menjadikan diriku samsak untuk latihan bila aku menyakiti Naruko

Ia jadi tidak mau berbicara secara langsung kepadaku, wajahnya sering memerah bila menatapku secara langsung, ia mencoba menjaga jarak aman dariku dan ia bahkan berberapa kali bersembunyi dari diriku.

Tidak, aku tidak merasa kesal dengan sifatnya namun malah sebaliknya, aku malah merasa gemas melihatnya, rasanya ingin sekali aku bawa ia ke pelaminan sekarang juga, sulit sekali mengendalikan diri di sekitar Naruko yang sedang malu.

Oh bagi penonton liar yang juga menyadari keanehan dari Naruko dan mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan akan menemukan diri mereka hanyut di bawa air secara misterius.

Hingga akhirnya sang gadis itu sendiri tidak tahan dan langsung menghampiri diriku sendiri yang ada di dalam ruangan yang sama di saat pertama kali aku menciumnya, mataku terus-menerus menatap wajah Naruko yang memperlihatkan emosinya yang meluap-luap layaknya aku sedang menonton acara yang sangat menarik, mulutku tertarik ke atas dan aku memangkukan kepalaku di tanganku.

"Jadi-jadi-jadi! Kenapa kau me-menciumku seperti itu Nidaime-san?!" Naruto dengan susah payah mencoba mengatur emosinya yang meluap-luap dan mencoba merangkai kata-per-kata untuk berbicara kepadaku, imut sekali.

"Tobirama" Aku terkekeh pelan melihat ekspresi yang Naruko tunjukkan di saat ia mendengar apa yang aku katakan "Panggil aku Tobirama, baru aku akan menjawab pertanyaanmu"

Naruko menggumamkan namaku berberapa kali, pipinya sedikit memerah di saat ia mencoba berberapa kali mengeja namaku, aduh, susah ya menahan diri di depan gadis satu ini.

"Kenapa kau me-menciumku to-to...Tobi...rama" Seperti layaknya namanku sangat sulit di sebutkan dan sampai harus di eja, membuatku terkekeh pelan dan membuat wajah Naruko semakin memerah "Tidak lucu-ttebayo!"

"kalau kau bila dattebayo lagi, akan aku cium kau lagi" Naruko langsung berlari menjauh dariku dengan wajah mirip kepiting rebus, aku punya hobi baru sekarang; menggoda Naruko.

"Bukankah hal yang normal bila kau mencium orang yang kau sukai?" Naruko terdiam, mulutnya terbuka sedikit lebar dan menatap diriku layaknya aku adalah alien dari planet lain.

"Su-sukai? A-aku?" Naruko menunjuk dirinya sendiri, seperti ia tidak mengerti apa yang barusan aku katakan, masih tidak peka ya.

"Siapa lagi memangnya yang aku cium berberapa hari yang lalu? Seumur hidupku aku hanya pernah mencium tiga orang wanita" Oh lihat, aku bisa melihat Naruko cemburu mendengar apa yang aku katakan dan sebelum menerima tamparan (karena tangannya Naruto sudah seperti ingin meraih sesuatu) atau ia kabur, aku buru-buru melanjutkan omonganku "Yang pertama adalah Mito sebagai pertanda selamat atas pernikahannya dengan kakakku di kening, Tsuna yang notabe adalah cucuku, dan yang terakhir dirimu"

Hening.

Suara langkah kaki langsung memenuhi ruangan dan terlihat Naruko yang menerjang diriku sebelum akhirnya terjatuh di dalam pelukanku, ia membenamkan wajahnya ke dadaku dan mulai menangis, ya ia menangis.

Aku tahu, setelah aku berhasil menciumnya; aku melakukan sedikit pengamatan dan menemukan bahwa Naruko kesepian, di saat mereka pertama kali bertemu di mana Naruko tengah duduk di ayunan sambil memandang akademi adalah penggambaran di mana Naruko merasa kesepian dan mengingat masa lalunya.

Ia tidak bisa menyalahkan Naruko, semua teman-temannya sibuk sendiri dengan urusan mereka dan sudah memiliki pasangan sendiri dan Naruko merasa seperti tersisihkan, ia merasa iri dengan teman-temannya yang sudah memiliki pasangan sedangkan dirinya? Bukannya ia tidak laku, hanya saja Naruko tidak pernah merasakan cinta yang tulus.

Aku mencium kening Naruko dan memeluknya dengan erat, membiarkan Naruko menangis sepuasnya dan mengeluarkan segala emosinya, bukankah itu tugas sang suami untuk membahagiakan istrinya?


Aku terbangun dan menatap kosong langit-langit kamarku, sepertinya aku terbangun di tengah malam dan penyebabnya adalah wanita yang ada di sampingku.

Seorang gadis berambut kuning terang membenamkan wajahnya di dadaku dan mendekatkan tubuhnya denngan tubuhku, ia menggigil karena kedinginan dan menarik lebih dekat selimut yang menutupi tubuhnya.

Ya, gadis tersebut adalah istriku, Naruko Uzumaki—sekarang Naruko Senju.

Aku membelai kepalanya dan bermain-main dengan rambut kuning terangnya dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku, memberikan sehangatan yang Naruko coba dapatkan, membuat Naruko balik memeluk dengan erat diriku dan tersenyum kecil.

"Ayah... Ibu..." Aku langsung menengok ke arah asal suara yang membangunkan istriku juga, seorang bocah laki-laki berambut kuning cerah dan bermata merah menatap penuh harap diriku dan Naruko sambil menggandeng gadis kecil berambut putih dan bermata biru yang sedang memeluk sebuah boneka katak "Boleh kami tidur bersama..."

Aku tersenyum hangat melihatnya, kedua anakku, yang tertua bernama Itama dan adiknya yang bernama Kushina, setelah kelahiran anak pertamaku; akhirnya aku menyadari alasan mengapa Shinigami memberiku hukuman yang terdengar sedikit janggal.

Ya, kedua anakku special; Itama memiliki kekuatan Mokuton seperti kakakku (bahkan Naruko bilang bahwa Itama adalah reinkarnasi dari sang Hokage pertama yang membuatnya otomatis juga reinkarnasi dari Asura) sedangkan Kushina, yah dari namanya juga sudah ketahuan bahwa ia di hadiahi chakra special milik neneknya.

"Tentu saja, ayo ke sini!" Naruko merentangkan kedua tangannya dan langsung di sambut oleh Kushina yang melopat ke pelukan ibunya, sedangkan Itama memanjat tempat tidur dan tidur di sampingku.

Yah, dari pada di bilang hukuman, bagiku ini seperti sebuah berkah...

Aku tersenyum hangat dan memeluk Itama, Kushina, dan Naruko "Terimakasih banyak..."

"Nah loh, ayahmu mabuk sepertinya, kenapa ia tiba-tiba berterimakasih seperti itu" Naruko tertawa pelan walau sebenarnya ia tahu mengapa aku tiba-tiba berterimakasih kepadanya.

Terimakasih banyak sudah memberikanku keluarga yang aku impi-impikan dan tidak bisa dapatkan dulu.


Tobirama Point of View

Fin


To Be Continue


!Author notes!

Ujian telah selesai! Yay!

Satu chapter lagi dan cerita ini selesai, kalau di lihat dari chapter ini seharusnya anda bisa tahu chapter selanjutnya akan seperti apa.

Menurut kalian apakah cerita ini harus saya sedikit lebih perpanjang? Atau munkin saya membuat cerita baru dengan pairing yang sama? Saya ingin pendapat para pembaca sekalin!

Sampai jumpa di chapter selanjutnya

Review Please