Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Crack Pairing, Bahasa tidak baku, Imajinasi liar Author, Humor garing, (munkin) OOC, dan masih banyak lagi
Summary: "Bukan seperti itu tuan Nidaime, hanya saja kami ingin membantu anda saja" Kakashi yang merasa kasihan dengan Tsunade akhirnya angkat bicara | "Kek, tolong bilang kakek bercanda! Aku mohon!" Tsunade hanya bisa mencoba meraih kakeknya yang tidak menghiraukannya dan terus saja berjalan keluar dari ruang Hokage
Pairing: Senju Tobirama x Naruko Uzumaki (Main)
Screw the rule! Marry me!
Naruko Point of View
Halo! Namaku Uzumaki Naruko, anak dari Hokage keempat dan istrinya Uzumaki Kushina! Aku biasa di panggil Naruko dan sekarang aku memiliki panggilan baru; sang penyelamat karena aku berhasil menyelamatkan dunia dari kehancuran dan mengakhiri perang dunia shinobi keempat bersama sahabatku: Sasuke Uchiha.
Akhir-akhir ini aku lagi sering merasa sedih, mengapa? Karena aku merasa kesepian.
Bukan, bukan kesepian dalam arti seperti dulu di mana aku masih di anggap sebagai anak nakal dan monster, aku punya banyak teman dan sahabat, aku punya keluarga buatan dan aku selalu di kelilingin dengan orang-orang yang menyayangiku dan menganggapku pahlawan mereka.
Entah lah, aku sendiri kurang mengerti mengapa aku jadi memiliki perasaan aneh seperti ini, sepertinya perasaan ini mulai muncul semenjak aku melihat Sakura mulai dekat kembali dengan Sasuke, entah mengapa di saat aku melihat mereka berdua aku mulai merasa tersisihkan; seperti aku akan mengganggu mereka berdua.
Jadi aku memutuskan untuk liburan ke tempat Gaara, aku yakin menghabiskan waktu dengan sahabatku yang sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri bisa menenangkan diriku! Namun na'asnya nasibku, perasaan tersebut malah semakin berkembang di saat aku melihat kakaknya Gaara, Temari sedang bersama dengan Shikamaru lalu aku melihat Gaara yang terlihat dekat dengan seorang gadis bernama Matsuri.
Aku tidak lama berada di Suna karena aku melihat ternyata Gaara ingin mengunjungi Konoha untuk berbicara kepada nenek mengenai rencana diplomatik karena berberapa minggu yang lalu pihak Konoha lah yang datang ke Suna, jadi aku memutuskan untuk ikut bersamanya.
Tentu saja sebelum pulang aku membeli oleh-oleh untuk nenek dan Shizune sebagai tanda terimakasih sudah memberikanku liburan dan bahkan memperbolehkanku berlibur di suna, aku membeli sebuah kain yang bagus untuk Shizune karena aku dengar ia akhir-akhir ini suka menjahit baju dan tentu saja minuman keras untuk nenek.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa berpura-pura senang dan ceria, sesekali juga aku menggoda Shikamaru yang ternyata di tugaskan untuk mengantar Gaara ke Konoha, lagi-lagi perasaan kesepian itu muncul kembali, jadi aku harus menutup-nutupinya karena hal terakhir yang aku mau adalah mereka semua mencemaskanku.
Sesampainya di Konoha, aku langsung pamitan kepada Gaara untuk pergi langsung ke gedung Hokage untuk bertemu dengan sang Hokage yang biasa aku panggil nenek, namun di perjalanan aku berpapasan dengan Iruka-sensei dan Sensei janji akan menraktirku ramen! Nah begitu dong! Akhirnya moodku membaik!
Aku buru-buru langsung menghampiri ruangan Hokage dan masuk ruangan tanpa mengetuk, aku langsung di sambut dengan hangat oleh Shizune namun ada pemandangan yang sedikit ganjil.
Aku melihat ada Kakashi-sensei dan nenek sedang seperti menahan pundak seorang laki-laki berambut putih dengan luka di wajahnya, entah mengapa aku merasa seperti mengenal laki-laki tersebut, namun siapa? Di saat aku meletakkan oleh-oleh untuk nenek di meja dan melihat pahatan wajah Hokage yang kelihatan di jendela di belakang meja kerja nenek baru lah aku menyadari siapa laki-laki tersebut.
Hokage kedua, adik dari Hokage pertama, Tobirama Senju; orang yang menciptakan Edo-Tensei, Kagebunshin, dan masih banyak lagi, orang yang di sebut-sebut sebagai ninja yang paling mahir dalam menggunakan jutsu air.
Namun aku tidak terlalu mempermasalahkan mengapa sang Hokage kedua yang seharusnya sudah mati kini terlihat hidup dan sehat, bahkan tidak ada tanpa-tanda bahwa ia ada di dalam pengaruh Edo-Tensei karena aku sudah lapar! Aku ingin makan ramen bersama Iruka-sensei jadi aku langsung saja pergi setelah meletakkan hadiah untuk nenek di meja kerjanya.
Andai saja aku tahu bahwa pada saat itu, hidupku akan berubah...
Dulu di saat aku merasa kesepian dan sedih, di saat aku merindukan kasih sayang dan iri melihat teman-teman sekelasku yang masih memiliki orang tua atau di saat mereka lulus ujian menjadi Genin, aku selalu duduk di tempat yang sama; di ayunan yang terletak di depan akademi.
Aku lagi-lagi merasa kesepian karena hari ini aku melihat Sai yang sedang berduaan dengan Ino, aku tidak tahu mau pergi ke mana dan menghabiskan waktu dengan siapa karena aku yakin Sasuke pasti sedang sibuk atau munkin bahkan sedang bersama dengan Sakura,
Tidak, aku tidak merasa cemburu dengan Sakura, aku tidak menaruh hati atau memiliki perasaan terhadap Sasuke, bahkan di saat kami masih menjadi murid akademi, aku hanya menganggapnya sebagai saingan dan sahabatku—sekarang ia sudah menjadi seperti kakakku. Lagi pula aku tak yakin bisa melihat dirinya sebagai laki-laki, karena, serius? Kami berdua secara tidak langsung adalah kakak beradik! Dan setiap kali aku melihatnya aku seperti merasakan tanganku hancur; seperti di saat kami sedang menyegel Kaguya.
Aku menatap penuh nostalgia akademi yang ada di depanku sambil mengayunkan ayunan yang sedang aku duduki secara perlahan, aku bisa merasakan Kurama, sang rubah berekor sembilan yang di segel di dalam tubuhku, terbangun dari tidur siangnya dan aku mengetahui apa alasannya karena aku juga bisa merasakannya; aku bisa merasakan bahwa ada seseorang yang datang ke arah kami.
"Apakah ada sesuatu yang aneh dengan sekolahan tersebut?" Kata seorang laki-laki yang baru saja datang dan kini berada di sampingku, aku mengenal chakra tersebut dan nada suaranya, ia adalah sang Hokage kedua yang kemarin aku temui.
"Tidak kok, hanya sedang mengingat-ingat masalalu" aku tersenyum kecil namun pandanganku masih tertuju ke arah akademi, aku terkekeh pelan melihat ada seorang anak yang terjatuh di saat sedang bermain dengan temannya "Ngomong-ngomong kenapa Nidame-san bisa masih berada di sini? Bukannya Hagoromo-san sudah mengirim anda kembali?"
Aku bisa merasakan bahwa sang Hokage kedua atau yang biasa di panggil sebagai Nidaime menyenderkan tubuhnya ke pohon di belakangnya dan setelah diam berberapa saat barulah ia menjawab pertanyaanku "Aku di hukum oleh Shinigami karena menciptakan Edo-Tensei"
Aku menaikkan sebelah alisku dan barulah aku memutar tubuhku agar aku bisa berhadap-hadapan langsung dengan dirinya, dan untuk pertama kalinya aku bisa melihat warna asli mata dari sang Nidaime, warnanya merah seperti batu ruby dan mata Kurama, bertolak belakang sekali dengan mataku yang berwarna biru terang "Di hukum?"
"Panjang ceritanya, intinya aku sedang di hukum" Kata sang Nidaime sebelum ia mengalihkan perhatiannya ke arah akademi, aku pernah dengar bahwa ialah yang membangun akademi tersebut dan juga yang membuat ANBU, dan kepolisian, pantas saja ia begitu melegenda.
'Hah, aku yakin ia tidak mau bercerita karena hukumannya pasti berat, sepadan sekali! Karena dirinya; kita jadi kewalahan! Kalau saja ia tidak menciptakan Edo-Tensei pasti perang tidak akan jadi sesulit itu!' Kurama akhirnya angkat bicara, sepertinya ia memiliki dendam tersendiri kepada sang Hokage kedua atau munkin memang pada dasarnya Kurama tidak menyukai orang lain kecuali dirinya dan Bee, itupun karena Bee adalah Junchuriki dari Gyuki.
"Hee... Kurama bilang hukumannya sepadan" Aku tentu saja mengatakannya kepada Nidaime, karena sepertinya Kurama ingin Nidaime mendengar opini (atau ejekan?) darinya, partnerku yang satu ini memang kadang bisa sangat kejam, aku hanya bisa terkekeh pelan dan mengayunkan ayunanku kembali "Kurama juga bilang kalau jutsu yang kau ciptakan itu sangat merepotkan
"Kurama?" Oh ya ampun, aku lupa bahwa Nidaime tidak mengetahui bahwa sang rubah berekor sembilan mempunyai nama! Namun aku tahu bahwa ia tahu kalau aku bisa mengendalikan dengan baik chakra milik Kurama dan sudah berteman baik dengan sang rubah.
"Kyuubi, ia punya nama; namanya Kurama" Aku tersenyum hangat di saat aku mengenalkan partnerku, aku mengelus-elus moncong Kurama yang kelihatannya ingin kembali tidur siang, dasar rubah pemalas "Semua Biiju punya nama"
Aku tentu saja masih mengingat semua nama-nama dari Biiju yang lain, mereka semua menarik dan juga temanku walau kini hanya tinggal Gyuki dan Kurama yang masih tersegel sedangkan yang lainnya terbebas di alam luar sana.
"Hebat ya, kamu bisa membuat sang Kyuubi no Kitsune jadi seperti itu..." Aku tersenyum lebar dan aku yakin kini aku menatap Nidaime dengan mata yang berbinar-binar karena aku paling suka di puji! Aku jarang sekali mendapat pujian dan paling senang di puji, mendapat pujian dari sang mantan Hokage juga menambah tingkat kesenanganku karena itu mengingatkan aku dengan kakek.
"Hehehe! Dengan cinta dan kasih sayang tentunya!" Aku tersenyum hangat dan lagi-lagi di dalam aku mengelus-elus moncong Kurama sebelum memeluknya, tidak memperdulikan Kurama yang protes karena menganggap aku terlalu sensitif dan memalukan, dasar tidak peka dan kejam.
"Kau mirip ayahmu ya" Oh! Satu kalimat yang bisa membuat hariku menjadi sangat indah! Aku di puji! Aku di bilang mirip ayahku (dan terkadang katanya ibuku juga)! Ayahku yang terkenal dengan kearifannya, kepintarannya, dan kekuatannya!
"Benarkah?" Aku memandang penuh harap Nidaime dan bangun dari posisi dudukku, aku sangat ingin mendengar lebih banyak lagi mengenai ayahku! Tidak ada hal yang aku lebih sukai selain aku di puji mirip ayahku dan ibuku—yah kecuali ramen ya, tapi itu tidak penting! Aku ingin dengar lebih banyak mengenai ayahku, sang Hokage keempat!
"Di saat peperangan dan sebelumnya aku sudah bertemu dan berbicara dengan ayahmu, harus aku akui, ayahmu sangat bertalenta dan mirip denganku" Oh ya! Aku memang melihatnya, berkali-kali aku melihat Nidaime berkerja sama dengan ayah dan bahkan aku bisa melihat mereka berdua berteman dengan sangat cepat! Kemunkinan besar karena sifat mereka mirip.
"Aku bisa ceritakan lebih banyak lagi namun sepertinya ini sudahnya jam makan siang" Aku bisa melihat sang Nidaime melirik ke arah lain namun memang benar apa yang ia katakan, ini sudah jamnya makan siang dan aku memang sudah mulai lapar namun aku masih ingin mendengar cerita Nidaime mengenai ayahku!
"Kalau begitu ceritakan kepadaku sambil makan siang! Aku tahu tempat makan yang enak!" Aku langsung menarik tangan Nidaime dan membawanya ke Ichiraku Ramen, yah tidak apa-apa toh! Lagi pula aku yakin Nidaime belum pernah merasakan yang namanya ramen!, aku yakin ia pasti akan suka karena aku dengar ayah juga suka ramen maka kalau memang benar ia mirip ayahku; aku yakin ia juga akan menyukainya.
Sepertinya dugaanku benar karena aku bisa melihat sang Nidaime menikmati makan siangnya dan tidak memperdulikan Teuchi dan Ayame yang kelihatannya ingin pingsan melihat sang Hokage kedua kini makan di tempat mereka dan masih hidup, aku harus menahan tawa melihat banyak orang yang melihat sang Nidaime memiliki ekspresi yang sama dengan Teuchi dan Ayame, banyak yang mengira aku sedang mengerjai mereka, lucu sekali!
Oh lihat itu, banyak wanita yang melirik sang Nidaime, Ayame bahkan berberapa kali ketahuan menatap terlalu lama sang Nidaime, hmm harus aku akui bahwa sang Hokage kedua memiliki wajah yang tampan, tidak seperti Sasuke yang ketampanannya terlihat sedikit mengintimidasi dan dingin, Nidaime memiliki karisma tersendiri, seperti apa ya... hmm... oh, seperti Kakashi-sensei munkin? Bedanya Nidaime tidak membaca buku porno di depan publik jadi karismanya lebih kelihatan.
"Ada yang aneh dengan diriku?" Aku baru menyadari bahwa aku berhenti makan dan terlihat sedang berfikir sambil memperhatikan Nidaime, sepertinya aku melamun.
"Ah tidak, hanya saja aku jadi teringat dengan Teme atau Sensei, mereka berdua sering sekali di perhatikan oleh perempuan dan bahkan memiliki penggemar yang jumlahnya tidak sedikit" Aku terkekeh pelan sambil menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal sebelum melanjutkan memakan porsi ketiga ramen milikku "Nidaime-san pasti dulu juga punya banyak penggemar ya?"
Aku bisa mendengar Nidaime mendumal pelan dan terlihat tidak suka, tuhkan, mirip dengan Sasuke di saat ia di krubuni oleh perempuan, kelihatannya menjadi orang yang tampan itu menyusahkan ya, ini mengingatkanku; apakah sebenarnya Kakashi-sensei itu tampan namun karena tidak mau berurusan dengan penggemar akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan masker?
"Yang sabar ya!" Aku menepuk punggung Nidaime seperti mencoba menghiburnya, aku tahu kok penderitaan di kejar-kejar seperti itu, sebenarnya aku juga mendapat penggemar semenjak perang sudah berakhir dan memang benar, mereka cukup merepotkan.
Seusai makan siang bersama, aku memutuskan untuk pulang dan berpamitan dengan Nidaime, tanpa aku sadari sendiri kini perasaan kesepian yang menghantuiku kemarin dan sebelumnya seperti menghilang sementara dan aku tersenyum senang, aku di puji dan di bilang mirip ayahku! Hari ini sangat menyenangkan!
Keesokan harinya, pada pagi hari sebelum aku memasak sarapan (aku bangun jam 8 pagi, lagi pula aku tidak ada pekerjaan hari itu) aku kedatangan tamu, tamunya tidak lain dari sang Hokage kedua yang katanya memutuskan untuk mampir karena ia bilang ia sedang berada di dekat apartemenku dan membawa makanan sebagai tanda terimakasih sudah mengajaknya makan di tempat yang enak kemarin.
"Sup kacang merah!" Kebetulan sekali! Aku sedang ingin makan sup kacang merah dan itu adalah makanan kesukaanku! Dari mana Nidaime-san bisa tahu? Ah munkin hanya sebuah kebetulan! Yang penting aku bisa memakan makanan kesukaanku yang satu itu!
Aku langsung mempersilahkan Nidaime masuk ke dalam apartemen milikku (untungnya yang sudah aku bereskan, Sakura dan Hinata selalu saja menggangguku dan mengajariku untuk membersihkan apartemenku setiap hari, mereka akan marah besar kalau tahu aku tidak menjaga kebersihan kamarku), tentu saja aku langsung menyiapkan panci dan bahan-bahan yang Nidaime bawa untuk memasak sup kacang merah tersebut.
"Akan aku bantu memasaknya" Namun Nidaime tidak duduk di meja dan menunggu, ia malah menyusulku dan menawarkan untuk membantuku memasak, aku memandang takjub Nidaime yang dengan sangat handal mempersiapkan bahan-bahannya, bahkan lebih handal dariku.
"Anda bisa memasak?" Aku menatap takjub Nidaime yang kini sedang memasukkan air ke dalam panci dan gula, namun aku tidak mau diam saja jadi aku mengambil kacang merah yang belum di cuci dan mencucinya.
"Tentu saja, dulu waktu perang kami harus belajar memasak agar bisa bertahan hidup di luar" Jawaban yang masuk akal, memang benar agar bisa bertahan hidup di luar mereka harus belajar memasak, termasuk diriku maka dari itu di akademi kami di ajarkan bagai mana cara memasak bahkan yang laki-laki juga di haruskan untuk ikut.
Kami berkerja dalam diam, terlalu sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing hingga aku merasa kesulitan untuk memotong-motong salah satu bahan makanan, aku belum terbiasa menggunakan tangan buatan yang nenek berikan kepadaku dan terlebih lagi aku sering secara tidak sengaja mengiris jariku entah mengapa.
"Susah... aku masih belum terbiasa menggunakan tangan baruku..." Hingga akhirnya aku tidak tahan dan melepaskan pisau yang aku pegang untuk memegang tangan buatan milikku, aku merindukan tangan asliku dan tangan baruku ini sulit untuk di gunakan, membuat aku kesal saja.
Aku merasakan kini Nidaime sudah berada di belakangku, aku sampai bisa merasakan nafasnya yang hangat saking dekatnya; ia memegang tanganku dan mulai membimbingku dengan menggerakkan tanganku layaknya aku adalah boneka "Kau bisa-bisa memotong tanganmu tanpa sengaja kalau seperti itu, pegang pisaunya seperti ini dan lalu sebelah tanganmu kamu kepalkan dan letakkan di atas bahan yang kau potong; jadi kau tidak akan memotong jarimu tanpa sengaja"
Mataku berbinar-binar melihat tanganku yang di gerakkan oleh Nidaime, aku pernah melihat Ayame melakukan hal yang sama! Pantas saja aku tidak pernah melihat Ayame tidak sengaja memotong jarinya di saat sedang memotong bahan-bahan untuk membuat ramen! Apakah hal seperti ini juga di ajari di akademi? Harusnya aku tidak suka bolos waktu itu "Ooh! Aku pernah lihat kak Ayame melakukan hal yang sama! Aku kira untuk apa! Kalau saja aku tahu ini pasti dulu aku tidak akan terluka!"
Aku terlalu sibuk menatap takjub tanganku yang di gerakkan oleh Nidaime, oh; dan aku tidak merasa keberatan Nidaime mendekatkan tubuhnya dan aku bisa merasakan ia memangkukan kepalanya di atas kepalaku, munkin ia hanya sedikit kelelahan, apakah ia habis pergi melakukan misi atau munkin latihan? Entah lah, yang pasti ia sampai menyenderkan tubuhnya dengan tubuhku.
Hingga akhirnya semua bahan sudah di potong semua barulah ia melepaskanku, namun kenapa ia menghela nafas dan aku seperti merasakan ada perasaan tidak rela darinya? Kurama juga entah mengapa sedari tadi diam saja dan memberikanku pandangan aneh? Hmm entah lah, yang penting sebentar lagi aku bisa makan makanan kesukaanku!
Selama memasak sesekali kami mengobrol hingga supnya sudah matang, Nidaime bercerita mengenai perang dunia shinobi kedua, ia juga bercerita mengenai kakek yang merupakan muridnya waktu itu! Aku jadi penasaran dan senang bisa mendengar cerita mengenai kakek yang paling aku sukai, banyak sekali cerita lucu mengenai kakek pada saat masih kecil.
"Jadi waktu itu pernah Hiruzen dan kelompoknya di beri tugas untuk menangkap kucing peliharaan milik bangsawan yang kabur, ia tidak sengaja masuk ke dalam pemandian air panas dan jatuh tepat di atas Mito yang sedang mandi; hasilnya kami harus membawanya ke rumah sakit karena ia hampir kehabisan darah" Nidaime bercerita dengan sebuah senyum kecil terlukis di wajahnya, sedangkan aku?
"Hahahahahahaha!" Aku tertawa dengan keras, tentu saja aku tahu bahwa kakekku yang satu itu diam-diam sebenarnya mesum! Aku berhasil mencuri gulungan milik Nidaime saja dengan menggunakan Orioke kepada kakek agar bisa kabur! Ternyata sifat mesum kakek menurun ke Jiraiya atau munkin sebaliknya? Entahlah.
"Kakek memang sebenarnya diam-diam mesum! Aku saja bisa berhasil mencuri gulungan rahasia darinya" Aku tertawa semakin keras mengingat ekspresi kakek di saat melihat diriku menggunakan Orioke kepadanya dulu, namun sepertinya Nidaime malah menatap bingung diriku.
"Oh! Dulu aku pernah mencuri gulungan... milikmu dari kakek" Aku tertawa canggung, apakah aku akan di marahi? Tapi itukan sudah lama sekali.
"Aku tahu itu" loh? Tahu dari mana? Apakah munkin Nidaime-san punya ingatan masa lalu? Ngomong-ngomong tahu dari mana pula Nidaime apartemen milikku? Apakah nenek yang memberi tahu? Kalau memang iya maka kenapa? "Yang aku maksud adalah, cara kau mencurinya"
Aku menyeringai, ada keinginan yang sangat besar untuk mengerjai Nidaime namun pada waktu yang bersamaan ada sedikit perasaan malu, bagai mana ya, Nidaime mirip ayah jadi aku merasa nanti aku mengerjai ayahku sendiri.
"Tentu saja dengan Orioke!" Nidaime menatap bingung diriku, ah, tentu saja, ia tidak tahu jurus andalanku untuk melawan orang-orang mesum! Jurus ini sangat berguna dan ampuh untuk Jiraiya, Iruka, kakek, dan Ebisu!
Nidaime diam saja, matanya yang berwarna merah menatap secara langsung diriku, aku hampir saja lupa kalau kakek yang di juluki sebagai profesor adalah murid dari Nidaime; jadi pasti Nidaime juga pintar, soalnya ia seperti sudah mengerti jutsu seperti apa itu dan sekarang aku sedang di berikan silent treatment sebagai bentuk hukuman.
"Ehe..." Aku memainkan ujung pakaianku, oke, tatapannya sedikit menakutkan karena lagi-lagi aku mengingat Nidaime mirip ayahku jadi aku seperti sedang di marahi oleh ayahku, aku jadi gugup dan tidak bisa menatap langsung Nidaime.
"Naruko..." Duh aku jadi semakin gugup, aku tak berani melihatnya secara langsung, aku melirik Nidaime dan ia memangkukan kepalanya di tangannya dan masih menatapku dengan tatapan yang sama "Jangan gunakan jutsu itu kecuali kalau memang benar-benar di butuhkan"
Aku cemberut, tidak seru ah.
Aku tidak tahu mau berkata apa, dua hari kemudian Nidaime berkunjung lagi ke apartemenku (aku tidak keberatan, setiap kali Nidaime datang, ia selalu membawa makanan enak) namun kali ini Sakura dan Sasuke juga datang.
Sudah lama sekali mereka tidak berkunjung ke apartemenku, terutama Sasuke yang aku ingat ia tidak pernah datang berkunjung secara langsung, kalau Sakura sudah biasa untuk memastikan aku membersihkan apartemenku.
Lagi-lagi perasaan kesepianku kembali muncul melihat Sasuke dan Sakura secara berbarengan datang mengunjungiku dan terlihat sangat dekat, aku tahu bahwa mereka suka saling mencuri pandang dan berberapa kali aku melihat Sasuke tersenyum kecil di saat ia melihat Sakura tertawa bersamaku.
Aku sedikit memaksakan senyumanku dan menutupinya dengan tawa dan bersikap seperti diriku yang biasanya, aku berusaha sebisaku untuk mendorong jauh-jauh pikiran bahwa aku sudah seperti orang ketiga.
Eh—tunggu sebentar, aku sepertinya hampir saja melupakan keberadaan Nidaime! Sedari tadi ia diam saja, ada apa ya? Kenapa tidak ikut berbicara? Ia dari tadi diam saja, hanya menatap kami semua dengan pandangan kosong.
"Kau mirip sekali dengan adik Madara" tiba-tiba saja ia berbicara, aku jadi teringat kalau ada kutukan mengenai bila seorang Uchiha kehilangan orang yang ia kasihi maka ia akan menjadi gila, alasan Madara menjadi gila seperti itu juga karena kehilangan adiknya "Namun sifatmu tidak ada samanya dengan Izuna"
Sasuke sepertinya mengenal nama tersebut, apakah benar ia mirip Izuna? Tapi dari nada bicara Nidaime terdengar seperti ada nada bersalah.
'Sepertinya yang membunuh adik Madara—atau munkin secara tidak langsung adalah dirinya, menyusahkan sekali' Akhirnya Kurama angkat bicara juga setelah diam dalam waktu yang lama, akhir-akhir ini ia jadi sering diam, terutama di saat Nidaime berada di dekatku.
"Jangan samakaan aku dengan dirinya" Sasuke tidak suka sepertinya di bilang mirip dengan adik Madara, yah siapa yang akan suka sih? Di sama-samakan dengan psikopat yang hampir saja merengut nyawa kami dan merengut nyawa orang-orang yang kami sayangi.
"Menurut cerita yang aku dengar, kakakmu berbeda seratus depalan puluh derajat dari Madara" Nah kalau yang itu baru benar, aku pernah bertemu dengan Itachi secara langsung dan memang benar bahwa Itachi adalah Uchiha terbaik yang pernah aku temui! Ia bukan psikopat, baik hati, loyal, dan sangat menyayangi Sasuke! "Seperti yang aku bilang; ia mirip Kagami, senang aku bisa melihat ada Uchiha yang sangat loyal, hebat, baik hati, dan bertalenta seperti kakakmu, kau beruntung memiliki kakak sehebat Itachi"
"Kakakmu sangat berjasa, jadi sepertinya sangat adil bila ia masuk ke dalam monumen penting di Konoha" Ini hanya perasaanku atau aku mendeteksi trasa bangga di dalam Nidaime? Tunggu itu bukan rasa bangga, apa ya, seperti perasaan di saat seseorang berhasil menyelesaikan misi atau tugasnya dengan sangat baik, hmm aneh juga ya, ah, ia menyeringai.
"Aku setuju! Walau aku hanya bertemu dengannya berberapa kali, kakakmu sangat luar biasa Teme!" Yah tapi aku memang setuju dengan apa yang Nidaime katakan, aku akan merasa sangat senang bila bisa memiliki kakak seperti itu, aku pasti tidak akan kesepian dulu bila aku mempunyai kakak, sayangnya aku anak satu-satunya "Aku jadi iri, aku jadi ingin punya kakak juga..."
"Iya iya" Sasuke yang sepertinya malu karena mendapat pujian yang sangat banyak tiba-tiba saja bangun dari tempat duduknya dan pergi keluar namun entah mengapa sepertinya ia sengaja melewati Nidaime dan apakah ini hanya perasaanku saja atau mereka seperti berbisik-bisik sekilas?
Lalu kenapa Sakura terlihat kaget? Oh lihat wajahnya sedikit memerah di saat ia kembali mengobrol denganku, apa yang kami bicarakan bukan sesuatu yang memalukan, hanya seperti mengenai kehidupanku dan ia juga mengingatkan aku untuk tidak makan ramen setiap hari, namun mengapa wajahnya jadi memerah tanpa sebab ya? Ia juga berberapa kali melirik Nidaime.
"Neh, kau kenapa Sakura-chan?" Akhirnya aku penasaran juga, apakah Sakura terpesona dengan Nidaime? Ah ayolah! Ia sudah punya Sasuke, kenapa malah melirik Nidaime juga? Apakah satu tidak cukup—tunggu kenapa aku jadi ada perasasan tidak enak? Hmm... apakah aku salah makan sesuatu? Bukannya seharusnya sudah di netralisir oleh Kurama ya? Dan kenapa Kurama lagi-lagi memberikan aku tatapan aneh seperti itu? Aduh bikin pusing saja.
"Muridnya Tsuna ya? Aku bisa melihat bahwa kau mirip sekali dengan Tsuna" Itu kenapa wajah Sakura sudah jadi mirip kepiting rebus? Hanya karena di puji mirip nenek? Sakura sampai buru-buru pamit dan lagi-lagi ia keluar sambil dengan sengaja melewati Nidaime dan lagi-lagi aku merasa seperti Sakura membisikkan sesuatu kepada Nidaime?
"Mereka berdua kenapa ya..." Aku menatap bingung Sakura yang buru-buru keluar setelah melambai kepadaku, apakah ini adalah hari di mana orang-orang berubah menjadi aneh? Kenapa aku tidak di beritahukan?
"Entah lah" Nidaime hanya mengangkat bahunya seperti menandakan ia juga tidak tahu, jadi sepertinya ini bukan hari berubah menjadi aneh, sebelum akhirnya Nidaime berjalan ke dekatku dan duduk di sampingku "apakah kau sibuk hari ini?"
Aku menggeleng dan menghela nafas panjang, aku sudah menyelesaikan misiku kemarin dan sekarang aku tidak tahu mau melakukan apa, kemunkinan besar aku akan kembali ke tempat kalau aku merasa kesepian, ya perasaan kesepian itu kembali lagi, jadi sepertinya aku akan kembali duduk di ayunan di depan akademi lagi.
"Kalau begitu kau ada waktu untuk membawaku jalan-jalan mengelilingi Konoha bukan?" mataku berbinar-binar, aku jadi teringat bahwa dulu aku pernah membawa Temari dan Kankuro jalan-jalan mengelilingi Konoha dan memberi tahu mereka tempat-tempat yang menarik di Konoha "Konoha berubah banyak, aku jadi ingin melihatnya"
"Tentu saja!" Aku langsung bangun dari tempat dudukku dan menarik tangan Nidaime untuk membantunya bangun, namun ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, apakah ia ingin bergandengan? jadi mirip anak kecil yang bergandengan dengan orang tuanya, takut terpisah kah?
"Akan aku tunjukkan tempat-tempat yang menarik!" Yasudah lah, aku tersenyum lebar dan berjalan keluar apartemen dengan Nidaime di sampingku, lagi-lagi aku tidak menyadari rasa kesepian yang menyerangku sebelumnya hilang lagi.
Berberapa hari kemudian aku melihat Occhan tiba-tiba saja muncul, ia merentangkan kedua tangannya seperti biasa di saat kami bertemu dan menyeringai dengan lebar "Yo Naruko! Senang bisa melihatmu lagi~!"
"Occhan!" Aku melopat dan melempar diriku kepada Occhan, membiarkan laki-laki berkulit gelap itu memelukku dan mengangkatku dari tanah juga, aku kangen dengan pamanku yang satu ini! Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.
"Hahaha, kau masih sehat ya baka yarou! Apa kabar rubah yang satu itu, kono yarou!" Aku sampai kangen dengan panggilan khas Occhan, sedikit melupakan bahwa Nidaime sedang berada bersamaku, sebenarnya kami berdua hanya sedang berjalan-jalan saja berdua namun tiba-tiba kami bertemu dengan Occhan di jalan.
"Aku baik-baik saja! Aku kangen Occhan! Kurama baik-baik saja namun akhir-akhir ini ia jadi sering diam entah mengapa, bagai mana dengan Gyuki?" seperti yang aku bilang sebelumnya, akhir-akhir ini Kurama jadi sedikit diam, terutama bila aku sedang bersama dengan Nidaime, ia malah sering memberikan aku pandangan aneh; seperti di saat Nidaime menggandeng tanganku tiba-tiba, atau di saat ia memilih untuk duduk di sampingku dari pada di sebrangku waktu makan di restoran, atau di saat Nidaime sering menyentuh diriku; entah itu hanya menepuk kepalaku, mengacak-acak rambutku, menyingkirkan poniku bila sudah hampir menutupi mataku, atau bermain-main dengan rambutku.
Memang ada apa dengan itu? Bukannya itu hal yang normal? Kakashi sering menepuk kepalaku dan mengacak-acak rambutku, Sakura juga sering menyingkirkan poniku dan bahkan membantuku mengikat rambutku, apakah ada yang aneh?
Aku lupa kalau Nidaime bukanlah guruku dan bukan perempuan.
"Yo! Halo tuan kedua! Senang berkenalan denganmu, Killer Bee namaku! Tapi biasa di panggil tuan Jinchuriki! Maaf ya orang di desaku membunuh dirimu dulu!" aku mendeteksi sarkasme di nada suara Bee, atau munkin hanya perasaanku saja?
"Dulu adalah dulu, lagi pula itu waktu perang" Walaupun Nidaime berkata seperti itu namun aku bisa mendeteksi (terimakasih terhadap kekuatan Kurama) bahwa Nidaime merasa tidak senang mendengarnya, yah mau bagaimana lagi, Bee terlalu blak-blakan.
Tidak lama kemudian Bee mengajak Nidaime untuk bertarung karena ia bosan, aku tentu saja meminta Nidaime menerima tantangan Bee! Pasti akan menyenangkan melihat mereka berdua bertarung.
Jadi kini kami sedang berada di luar desa, di tempat di mana kami yakin tidak akan ada orang lain yang terluka karena mereka sedang bertarung, mataku berbinar-binar melihat Nidaime yang berkali-kali berhasil menghentikan serangan Bee hingga akhirnya Bee menggunakan wujud milik Gyuki, ini akan sangat menarik!
"Ayo! Maju terus! Berjuang Occhan! Nidaime!" aku berteriak dengan keras di saat Nidaime berhasil memerangkap Bee yang sedang dalam mode Biiju dalam penjara air miliknya, memang benar Nidaime di bilang sebagai pengguna jutsu air terhandal!
Petarungannya sangat menegangkan! Aku sampai-sampai tidak bisa berhenti menonton mereka berdua dan mengejutkan sekali! Hasilnya seri! Di saat pertarungan sudah selesai, matahari sudah di gantikan bulan; sepertinya sudah malam.
"Keren sekali tadi! Nanti bertarung juga denganku Nidaime-san!" Aku tersenyum dengan lebar dan menatap penuh harap Nidaime, yah ia kelihatan lelah dan... kenapa aku merasa pipiku menghangat ya? Aku menatap wajah Nidaime yang kelelahan, rambut dan wajahnya basah karena jutsu yang ia gunakan, dan bajunya yang jadi agak transparan karena basah (ia kini sudah tidak menggunakan armor) emmbuatku... oke, otakku mulai rusak sepertinya karena terlalu lama menonton pertarungan dan teriak-teriak dan—tuh kan! Kurama memberikan pandangan aneh kepadaku!
Aku tidak tahu bagai mana bisa hal seperti ini bisa terjadi... seingatku aku hanya di beri tahukan oleh Yamato bahwa Nidaime sedang berkerja dan tidak bisa di ganggu, padalhal aku ingin mengajak Nidaime latihan bersama.
Jadi Yamato memberiku ide untuk membelikan Nidaime makanan, sudah itu saja... lalu bagai mana berakhir dengan diriku yang di cium oleh sang Nidaime?!
Aku masih terbayang hingga sekarang, wajahnya yang begitu dekat denganku, tangannya yang memeluk pinggangku dan bibir kami yang—"AAAAAAAAAAH!"
Aku langsung menutup wajahku dengan bantal dan berguling-guling di atas tempat tidurku, wajahku sudah semerah tomat dan aku tidak bisa menghapus ingatanku mengenai kejadian itu.
Ciumannya berbeda dengan yang pernah aku dapatkan dari kakek karena itu aku masih berumur lima tahun! Tidak juga seperti di saat aku tidak sengaja berciuman dengan sasuke karena kami hanya seperti membenturkan kepala kami dan bibir kami tidak sengaja menempel, karena ciuman ini terasa seperti... hangat...
Bukan ketidak sengajaan, aku merasakan Nidaime menarik wajahku dan menempelkan bibirnya ke bibirku, lalu di saat aku terbangun dari lamunanku dan rasa kaget, aku melihat dirinya memberikan aku senyuman hangat dan menatapku... penuh kasih sayang? Ia bahkan ingin memelukku!
Aku melepaskan pelukanku terhadap bantal yang aku pegang dan menatap kosong dinding kamarku, Kurama sedari tadi diam saja namun aku bisa merasaskan bahwa ia sedang menahan tawa, aku jadi ingat! Alasan mengapa Nidaime melepaskan ciumannya adalah karena Kurama tiba-tiba keluar!
"Ku-kurama!" Aku menatap Kurama dengan pandangan campuran antara malu dan marah "Kenapa kau melakukan hal seperti itu!"
'Ooh, jadi kau mau mencium bocah air itu lebih lama ya' Kurama menyeringai, aah! Warna wajahku jadi sama dengan makanan kesukaan Sasuke, dasar rubah mesum!
"Ti-tidak! Aku tidak mau—"
'Oh jadi kau mau langsung buat anak ya? Boleh juga itu'
"Kuramaaaa!"
Oke aku sudah tidak tahan! Aku membenamkan wajahku kembali ke bantal yang aku peluk, ingatan tentang ciuman yang di berikan oleh Nidaime kepadaku membuat diriku jadi tidak bisa diam dan tubuhku menghangat.
Jadi selama berberapa hari aku tidak bisa menatap secara langsung Nidaime, mencoba kabur darinya, dan wajahku selalu memerah kalau kami secara tidak sengaja bersentuhan atau mata kami bertemu. Jangan salahkan aku! Ingatan memalukan itu terus-menerus muncul di saat aku melihat dirinya! Aku malu!
Hingga akhirnya aku merasa tidak tahan lagi karena Nidaime bersikap seperti ia tidak pernah menciumku sama sekali! Jadi aku langsung mendatangi rumahnya (rumah nenek) dan menemukan dirinya di tempat yang sama dengan tempat pertama kali kami—oke cukup! Wajahku semakin memerah nanti!
"Ja-ja-jadi! Kenapa kau me-menciumku seperti itu Nidaime-san?!" Aku berjuang sekuat tenaga untuk menyelesaikan omonganku tanpa terbata-bata, aku jadi mirip Hinata kan! Tapi aku membutuhkan jawaban sekarang juga!
"Tobirama" oh lihat itu, ia menyeringai! Tahan Naruko tahan! Jangan kabur walau aku tahu wajahku sudah memerah namun kenapa ia tiba-tiba menyebut namanya? Dan tolong hapuskan seringaian itu! "Panggil aku Tobirama, baru aku akan menjawab pertanyaanmu"
"Tobirama..." Aku menggumam pelan, aku tidak pernah memanggil Nidaime dengan nama aslinya, selalu Nidaime dan wajahku emnjadi menghangat di saat aku mengeja namanya, ada perasaan aneh di hatiku dan aku tidak memperdulikan kekehan pelan Kurama.
"Kenapa kau me-menciumku to-to...Tobi...rama" Aku jadi benar-benar mirip Hinata! Memanggil namanya dengan benar serasa sangat sulit! Wajahku sudah mirip kepiting rebus! Dan Nida—Tobirama tertawa! "Tidak lucu-ttebayo!"
"Kalau kau bila dattebayo lagi, akan aku cium kau lagi" Aku langsung kabur, memberikan jarak sejauh munkin dari Tobirama dan bersembunyi di balik lemari yang ada di dalam ruangan tersebut, ia menggodaku! Aku akhirnya baru menyadari bahwa dulu di saat ia belum menciumku, ia sering menggodaku! Aku saja yang tidak peka!
"Bukankah hal yang normal bila kau mencium orang yang kau sukai?" aku terdiam, tunggu apa kupingku bermasalah? Apakah Tobirama baru saja mengatakan bahwa ia menyukaiku? Mulutku menganga dan aku menatap tidak percaya dirinya yang duduk dengan tenang di tempat duduknya sambil menatap diriku.
"Su-sukai? A-aku?" aku menunjuk diriku sendiri, apakah aku harus memeriksa apakah telingaku ke tempat nenek?
"Siapa lagi memangnya yang aku cium berberapa hari yang lalu? Seumur hidupku aku hanya pernah mencium tiga orang wanita" Tiba-tiba aku ada perasaan yang sangat besar untuk menamparnya dan amarah yang begitu besar, perasaan ini... sepertinya aku pernah merasakannya... munkin di saat aku menyadari banyak wanita yang melirik Tobirama waktu itu di saat mereka sedang berjalan bersama-sama, apa ini? Apakah ini rasa cemburu? Sepertinya Tobirama menyadari tatapan tajam dariku dan tanganku yang bergerak seperti ingin melakukan sesuatu sehingga ia melanjutkan omongannya "Yang pertama adalah Mito sebagai pertanda selamat atas pernikahannya dengan kakakku di keningnya, Tsuna yang notabe adalah cucuku, dan yang terakhir dirimu"
Hening.
Aku diam sebentar untuk memproses apa yang Tobirama katakan, ia benar-benar menyukaiku? Benarkah? Diriku yang selalu di anggap monster dulu? Yang kekanak-kanakan dan tidak peka?
Kini semua hal yang ia lakukan dulu kepadaku masuk akal, ia berusaha dekat denganku dan menggodaku, ia mencoba menangkap hatiku dan... sepertinya ia berhasil.
Aku langsung berlari ke arahnya dan melempar diriku ke pelukannya, membiarkan dirinya memelukku dengan erat yang sedang menangis di dadanya yang bidang, aku mengerti sekarang; aku mengerti mengapa aku sering merasa kesepian di saat melihat teman-temanku.
Aku iri dengan mereka yang sudah memiliki pasangan, aku ingin memiliki pasangan namun tidak pernah menemukan orang yang mau menerimaku apa adanya dan mencintaiku sepenuh hati, aku sangat ingin seseorang yang mau memanjakan diriku dan memberikan aku kasih sayang yang tidak pernah aku dapatkan dulu.
Aku ingin seorang kekasih...
Aku merasakan Tobirama mencium keningku dan membenamkan wajahnya ke rambutku membuat diriku tersenyum lebar dan memeluknya lebih erat, sebelum aku merasakan ia mengangkat kepalaku dengan jarinya.
CUP
Ia langsung mencium bibirku, membuat diriku tersipu malu dan dengan ragu-ragu menciumnya kembali, kini tanganku aku lingkarkan di lehernya dan menariknya lebih dekat sedangkan ia memindahkan tangannya ke belakang kepalaku dan mendorongku untuk memperdalam ciuman kami, ia bahkan menggunakan lidahnya untuk menjilat bibirku.
Aku sampai menahan nafas di saat aku pelan-pelan membuka mulutku dan membiarkan lidahnya masuk ke dalam mulutku, aku tahu wajahku sudah seperti kepiting rebus, ciuman ini sangat berbeda dengan sebelumnya! Aku sampai ingin pingsan!
Sebelum aku merasakan aku butuh bernafas dan mendorong Tobirama menjauh, aku menghirup udara sebanyak munkin dan menutup mulutku dengan tangan, wajahku sudah seperti kepiting rebus dan aku mulai merasa panas, Tobirama malah terkekh pelan sebelum mencium pipiku.
"Kau imut sekali ya" Katanya dengan enteng sebelum mencium tangan yang menutupi mulutku, membuat diriku mendorong menjauh wajahnya, cukup! Aku malu!
"Su-sudah!" Aku sampai kesulitan untuk berbicara dan membuang mukaku, takut ia mencoba menciumku lag—tuhkan benar! Ia sudah mendekatkan wajahnya lagi dengan wajahku "Aku masih mau bernafas!"
Tobirama malah memper erat pelukannya dan tertawa sebelum mencium leherku, membuat aku merinding dan berusaha kabur dari pelukannya.
Ada apa ini? Dia berubah! Tiba-tiba menjadi mesum seperi ini! Aduuuh! Pantas saja kakek jadi mesum begitu! Ternyata gurunya juga diam-diam mesum!
Kami-sama tolong aku! Aku tidak sengaja membangunkan serigala yang tertidur!
Aku cemberut melihat nenek yang menatapku dengan usil, oh ya ampun! Dia tahu! Nenek tahu bahwa kini aku sudah menjadi kekasih Tobirama, buktinya sudah ada di depan mata, bahkan aku bisa melihat Kakashi sedang menangis di pojokan.
"Nek, aku baru tahu bahwa Tobi—Nidaime itu mesum" Aku membuang mukaku yang sudah mulai menghangat, ya! Aku tidak bercanda! Ia bisa jadi mesum mendadak bila hanya berduaan dengan aku! Oh lihat itu, Kakashi menangis lebih keras.
"Aku juga baru tahu" Nenek menggeleng dengan pelan sambil memainkan gelas minumnya sebelum menatapku kembali "Kapan aku akan punya cucu?"
"NENEK!" Aku berteriak dengan keras, wajahku sudah semerah kepiting rebus, ternyata nenek juga diam-diam mesum dan Kakashi kini sedang mengeluarkan topeng ANBUnya dan senjata, oh ya ampun! Kakak angkatku yang satu ini! "Sensei! Turunkan senjata dan topeng itu! Nanti yang ada Sensei yang mati!"
"Muridku yang polos dan lucu di nodai!" Kakashi langsung melompat ke sebelahku dan memelukku dengan sangat erat, air mata masih mengalir dari matanya seperti air terjun, sepertinya ia tidak sadar diri, siapa yang membaca buku porno di depan umum hah? Berlebihan sekali! Setidaknya Tobirama tidak baca buku porno!
"Sensei berlebihan!" Aku mendorong Kakashi menjauh, sesak nafasku di peluk terlalu erat.
Dingin, aku kedinginan dan aku mencoba mencari kehangatan dengan mencoba mendekat ke arah sesuatu yang mengeluarkan panas sebelum aku merasakan seperti aku sedang di peluk oleh seseorang.
Tentu saja seseorang tersebut adalah suamiku, Tobirama Senju yang tidur di sebelahku, aku sepertinya secara tidak sengaja membangunkannya karena aku bisa merasakan ia memainkan rambutku.
"Ayah... Ibu..." Aku terbangun mendengar suara yang sangat aku kenal, tentu saja aku hafal suara siapa itu karena itu adalah suara milik anak laki-laki terutaku, Itama Senju, iya itu adalah nama mendiam adik Tobirama yang gugur dalam peperangan dulu, hingga aku membuka mataku dan tersenyum hangat ke Itama.
Di sebelah Itama, ada seorang gadis kecil yang merupakan adiknya yang bernama Kushina Senju, aku menamainya dengan nama ibu.
Mereka berdua adalah anak yang special, Itama adalah pengguna asli Mokuton seperti Shodaime dan bahkan aku bisa merasakan bahwa ia adalah reinkarnasi dari Shodaime sendiri yang membuat dirinya otomatis adalah reinkarnasi dari Ashura, seperti diriku, sekarang tinggal mencari reinkarnasi dari Indra, kemunkinan besar sih anaknya Sasuke, Sarada.
Sedangkan Kushina seperti namanya, ia menurunkan chakra special milik ibu namun tidak itu saja, aku belum bercerita kepada Tobirama tapi Kushina sudah di pilih oleh Kurama untuk menjadi penahannya selanjutnya, Kushina juga belum tahu namun aku harap Tobirama bisa menerimanya karena aku diam-diam sudah memperkenalkan Kushina kepada Kurama berberapa kali.
"Boleh kami tidur bersama..." Oh lihat itu, Itama terlihat malu-malu, bahkan Kushina bersembunyi di balik tubuhnya, lucu sekali ya; padalhal Itama sangatlah pendiam dan terlihat dingin di depan orang-orang lain, seperti ayahnya, namun bila sudah bersama aku, Kushina dan Tobirama maka ia akan jadi anak yang manis dan pemalu.
"Tentu saja! Ayo ke sini!" Kushina langsung melopat ke pelukanku, kebalikannya dari Itama, Kushina sangatlah bersahabat, murah senyum, dan mirip sekali denganku; aku dengar ia bahkan cukup populer di kalangan anak-anak seumuran kakaknya; membuat Tobirama menjadi emosi dan Itama mengidap siscon, aku jadi pusing melihatnya.
Aku tersenyum lembut dan membelai kepala Itama yang tiduran di antara diriku dan Tobirama, aku merasa sangat senang kini aku memiliki keluarga seperti ini, tentu saja aku akan memastikan kedua anakku mendapatkan kasih sayang yang cukup walau aku di sibukkan dengan tugasku sebagai Hokage.
"Terimakasih banyak..." aku mendengar Tobirama tiba-tiba saaja berbicara dan memeluk kami semua, aku tersenyum hangat, suamiku yang satu ini sebenarnya sangat romantis dan manis loh, hanya saja (munkin) hanya aku dan anakku yang tahu.
"Nah loh, ayahmu mabuk sepertinya, kenapa ia tiba-tiba berterimakasih seperti itu" aku tersenyum usil, aku tahu kok apa maksudnya karena aku sebenarnya juga ingin mengatakan hal yang sama.
Terimakasih banyak sudah memberikanku keluarga yang aku impi-impikan dan tidak miliki dulu.
Naruko Point of View
Fin
To Be Continue
!Author Notes!
Iya anda tidak salah baca, cerita ini masih bersambung atas permintaan anda semua.
Sekarang pertanyaan selanjutnya, apakah saya boleh membuat cerita baru dengan pairing yang sama? Dan apakah kalian menginginkan cerita mengenai Itama dan Kushina? Seperti kehidupan mereka sebagai anak dari Hokage ke tujuh dan Hokage kedua, seperti cerita milik Boruto.
Kalau memang ya, saya akan mempersiapkan pairing untuk Itama dan Kushina.
Ngomong-ngomong saya sudah menggambar design karakter untuk Itama dan Kushina yang nanti akan saya post di blog (belum di buat, nanti di buat setelah lebaran) seusai lebaran, bersamaan dengan design Naruto (dari To The Past), Naru (dari Tale of Jinchuriki), dan Naruko (dari cerita dengan pairing yang sama nanti).
Kalau memang ya, saya ada pikiran untuk pairing milik Itama dan Kushina.
Chapter berikutnya akan menjadi seperti drabble, seperti yang di sarankan, seperti kencan pertama Tobi dan Naru, atau pernikahan mereka.
Terimakasih banyak atas feedback dari anda semua.
Review Please
