Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Crack Pairing, Bahasa tidak baku, Imajinasi liar Author, Humor garing, (munkin) OOC, dan masih banyak lagi
Summary: "Bukan seperti itu tuan Nidaime, hanya saja kami ingin membantu anda saja" Kakashi yang merasa kasihan dengan Tsunade akhirnya angkat bicara | "Kek, tolong bilang kakek bercanda! Aku mohon!" Tsunade hanya bisa mencoba meraih kakeknya yang tidak menghiraukannya dan terus saja berjalan keluar dari ruang Hokage
Pairing: Senju Tobirama x Naruko Uzumaki (Main)
Screw the rule! Marry me!
First Date? Really? Or…
Naruko Uzumaki, gadis berumur tujuh belas tahun ini sedang kebingungan sendiri melihat kelakuan teman-teman perempuannya yang kini sedang ada bersamanya. Tadinya semua berjalan baik-baik saja, mereka hanya sedang melakukan sesuatu yang biasa di sebut pajama party, sebuah acara di mana sekumpulan perempuan yang sudah sangat dekat berkumpul bersama di salah satu rumah mereka dan melakukan pesta pribadi antara mereka saja… itu yang sang gadis Uzumaki tangkap dari penjelasan sahabat sekaligus rekan satu kelompoknya, Sakura Haruno.
Namun seperti yang ia katakan sebelumnya, tadinya semua berjalan dengan baik-baik saja, namun sekarang mengapa jadi kacau begini? Terlebih lagi di saat dirinya yang merasa terpojokkan karena kekacauan ini terjadi (sepertinya) karena dirinya.
"Oh, demi Kami-sama Naruko! Yang benar saja? Kalian itu sepasang kekasih atau bukan sih!" Sahabat dari sahabatnya, Ino Yamanaka menatap dirinya dengan pandangan kaget bukan main bercampur kesal, ia bahkan menatap tajam dirinya layaknya ia telah melakukan kesalahan besar "Aku salah menilainya! Laki-laki macam apa dia!"
"Wah wah Naruko… serius? Shikamaru walaupun pemalas, ia tidak pernah berbuat hal seperti itu" Temari menggeleng pelan, ia terlihat tidak suka juga dengan apa yang Naruto katakan sebelumnya dan setuju dengan apa yang Ino katakan.
"Ugh! Aku tahu kalau kau itu tidak peka namun jangan bila mengenai hal seperti ini!" Sakura menggeleng dengan pelan sebelum memijat kepalanya, sahabatnya yang satu ini memang menyusahkan bahkan di kala dirinya (seharusnya) sudah beranjak dewasa.
"Na-Naruko-chan, mungkin aku tidak pernah memiliki kekasih namun aku tahu bahwa hal seperti itu seharusnya tidak terjadi…" Sang putri Hyuuga, Hinata Hyuuga, menatap sedih sang gadis Uzumaki yang merupakan sahabatnya walau pada kenyataanya, di dalam hati; ia sudah berjanji untuk menghajar sang pelaku yang menjadi penyebab utama topik pembicaraan kali ini.
"Kau butuh senjata lebih? Aku akan berikan dirimu diskon bila kau beli di tokoku untuk menghajarnya" Tenten malah memperkeruh suasana dan membuat Naruko menjauhkan dirinya dari sang kunoichi.
Naruko tidak habis pikir, bagai mana bisa pembicaraan mengenai festival minggu depan bisa berubah menjadi kesalahan (yang Naruko sendiri belum mengerti) kekasihnya?
"Laki-laki macam apa yang belum pernah mengajak kekasihnya kencan! Terlebih lagi di kala kalian sudah resmi menjadi sepasang kekasih selama dua bulan lebih!" semua perempuan yang mendengar omongan Ino mengangguk setuju dengan pengecualian Naruko yang memijat kepalanya yang mendadak terasa sakit.
Ternyata yang menjadi inti permasalahannya adalah apa yang ia katakan beberapa menit sebelumnya.
Tadinya mereka memang sedang membicarakan soal festival yang akan di selenggarakan minggu depan, namun pembicaraan tersebut berkembang hingga menjadi dengan siapa mereka akan menghabiskan waktu di saat festival tersebut.
Tentu saja masing-masing dari mereka mulai bercerita mengenai pujaan hati atau kekasih masing-masing walau tak semuanya bisa menghadiri festival tersebut, ambil contoh saja Temari yang harus kembali ke Sunagakure untuk melapor kepada adiknya yang merupakan Kazekage mengenai misi yang akan ia selesaikan besok sehingga ia tidak akan bisa menghadiri festival tersebut.
Ada juga yang akan pergi tanpa kekasih seperti Hinata yang belum menemukan lelaki yang bisa menarik perhatiannya dan memilih untuk menghadiri festival dengan adiknya, Hanabi yang memang sudah memintanya untuk menemaninya mengikuti festival tersebut.
Sisanya bisa menghadiri festival tersebut dengan kekasih masing-masing.
Lalu giliran Naruko yang bercerita mengenai dirinya akan pergi dengan siapa ke festival tersebut.
"Hm? Sendirian, To—Kawarama tidak bisa ikut karena sibuk" Jawaban Naruko membuat teman-temannya kecewa, karena mereka hampir tidak pernah melihat Naruko pergi kencan dengan kekasihnya. Jangankan pergi kencan, melihat Naruko berduaan dengan sang kekasih saja mereka jarang.
"Hm? Tentu saja kalian tidak pernah melihatku kencan dengannya, pergi kencan saja tidak pernah" Jawab Naruko dengan wajah polos tanpa mengetahui bahwa kalimat tersebut akan membawa mala petaka kepada dirinya—dan mungkin juga kekasihnya.
Memang sebuah kenyataan, selama Naruko resmi menjadi kekasih Tobirama (Yang namanya sekarang di ganti menjadi Kawarama untuk menutupi jati diri aslinya sebagai sang mantan Hokage kedua yang hidup kembali), sang gadis Uzumaki belum pernah pergi kencan sama sekali dengan kekasihnya.
Setelah ia resmi menjadi kekasih sang mantan Hokage kedua, mereka berdua semakin sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Tobirama yang harus mengurus identitas palsunya dan Naruko yang di sibukkan dengan begitu banyak panggilan dari berbagai macam desa yang ingin berterimakasih kepada dirinya dan ia harus juga mempersiapkan diri untuk ujian menjadi Jounin yang akan di selenggarakan beberapa minggu kemudian.
Ia dan Tobirama jadi jarang bertemu, terutama di awal bulan setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih, mereka hanya bisa bertemu seminggu sekali dan Tobirama lebih suka menghabiskan waktu dengan kekasihnya berdua saja; biasanya ia menghabiskan waktu bersama di rumahnya atau di rumah Naruko, entah itu hanya menonton atau makan bersama.
Setelah satu bulan jarang bisa bertemu, bulan berikutnya barulah mereka bisa bertemu lebih sering—kalau seminggu dua kali bisa di bilang sering, dan lagi-lagi Tobirama lebih suka menghabiskan waktu berdua saja tanpa ada sorotan mata publik.
Jadi kembali lagi ke masalah utama, teman-temannya seperti kurang menyukai kenyataan bahwa Naruko belum pernah di ajak kencan sama sekali oleh sang kekasih, walau Naruko sebenarnya bingung bukan main; bukannya menghabiskan waktu berduaan dengan Tobirama, walau hanya di rumah, sudah termasuk kencan bukan?
"Yang benar saja! Tentu saja bukan!" Ino malah terlihat sangat bersemangat, hingga membuat sang gadis Uzumaki mencoba menjauh dari sang gadis berambut pirang; entah mengapa ia ada perasaan tidak enak mengenai mengapa Ino jadi mendadak bersemangat seperti itu.
Karena pada kenyataannya, insting Naruko benar, teman-temannya sebenarnya hanya ingin melihat dirinya pacaran atau jalan berdua dengan kekasihnya.
Jadi di sinilah Naruko sekarang, terperangkap di antara teman-temannya yang sibuk membuatkan Naruko sebuah rencana kencan dengan kekasihnya dengan sang gadis Uzumaki hanya bisa pasrah menerima nasibnya sebagai 'mainan' baru teman-temannya.
"Ugh, menyusahkan sekali!" Naruko cemberut, ia tengah berjalan di sebuah taman dan dalam perjalanan kembali ke rumahnya dengan kantung mata menghiasi wajahnya yang cantik, ia tidak tidur sama sekali semalam karena teman-temannya memaksa dirinya untuk memakai berbagai macam pakaian untuk 'kencan' dan mencoba mendandaninya berkali-kali "Kulitku bisa saja mengelupas semalam dengan begitu banyak bahan-bahan tidak jelas di poleskan ke wajahku tanpa henti"
'Heh, kau sendiri yang asal bicara sehingga membuatmu jadi seperti sekarang' Naruko semakin cemberut mendengar suara sang rubah berekor sembilan di pikirannya, bukannya mencoba menghiburnya, Kurama malah kelihatan senang melihat dirinya menderita seperti ini.
Walau ia tidak ingin mengakuinya tapi Naruko tahu bahwa ada sedikit kebenaran dari apa yang teman-temannya katakan: sudah pacaran 2 bulan lebih kok belum pernah di ajak kencan?
'Inilah resikonya kalau kau menjadi pasangannya' Kurama mendengus sehingga membuat Naruko menaikkan sebelah alisnya dengan bingung, ia tidak mengerti dengan apa yang sang rubah katakan membuat Kurama memutar bola matanya dengan bosan 'Masak kau lupa kalau ia seharusnya tidak ada di sini dan ia hidup kembali'
Naruko masih memberikannya pandangan yang sama membuat dirinya menghela nafas lelah 'ingat kembali kapan ia lahir dan ia hidup di zaman apa'
"Uhmm… perang dunia shinobi pertama?" Jawab Naruko dengan sedikit ragu-ragu, ia tidak tahu detailnya namun Tobirama pernah bercerita mengenai waktu ia masih hidup dulu dan sebelum mati lalu di hidupkan kembali dan dulu juga di saat ia masih sekolah; pelajaran sejarah adalah pelajaran yang paling ia benci sehingga pengetahuannya mengenai sejarah Konoha sama besarnya dengan besar batu kerikil.
'Ya, dan di masa itu, kata 'pacaran', 'kencan', atau semacamnya tidak ada' Kurama menguap lalu merentangkan tubuhnya sebelum membetulkan posisinya agar bisa duduk dengan nyaman 'Orang-orang terlalu sibuk berperang dan mati muda, jadi kau harus menerima kenyataan bahwa bocah air yang sudah menjadi pasanganmu sekarang memiliki pengetahuan mengenai cara 'pacaran' sebesar pengetahuanmu mengenai sejarah'
"Ah! Benar juga" Naruko menepuk sebelah tangannya yang di kepalkan ke sebelah tangannya yang terbuka, lengkap dengan ekspresi seperti ia baru mendapatkan jawaban dari soal yang sulit di mengerti, sehingga membuat Kurama memutar bola matanya dengan bosan.
Namun Naruko kini malah merasa sedikit sedih setelah menyadari hal tersebut, ia kini tahu mengapa Tobirama terlihat 'cuek' dengannya dan juga menjelaskan kenapa ia hampir tidak pernah mengajak Naruko pergi makan bersama di luar atau mungkin hanya jalan-jalan saja.
Tenggelam dalam pikirannya mengenai informasi yang baru saja ia dapatkan, Naruko tanpa sadar berputar halauan dan kini malah berjalan ke rumah kekasihnya dan baru menyadarinya di saat ia sudah tepat di depan pintu rumah Tobirama.
Merasa terlalu lelah, Naruko memutuskan untuk masuk ke dalam rumah kekasihnya walau ia tahu bahwa Tobirama sedang pergi keluar menjalankan misi dan belum kembali sama sekali, ia juga bisa masuk ke rumahnya dengan mudah karena rumah Tobirama di kunci dengan menggunakan berbagai macam segel dan Naruko memiliki akses ke dalam rumahnya kapan saja walau sang pemilik rumah tidak ada di dalam sama sekali.
Naruko menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah dan menutup matanya untuk pergi ke dunia mimpi, rasa kantuk dan lelah (batin)nya membuat dirinya hilang kesadaran dalam hitungan menit.
Naruko tertidur pulas selama dua jam sebelum ia terbangun karena suatu hal.
Ia merasa seperti tidur di permukaan yang sedikit keras, tidak seperti sofa tempat seharusnya ia tertidur dan ia mencium bau yang cukup familiar; seperti bau…. Sungai di dekat hutan Konoha, tubuhnya juga menjadi hangat dan ia menyukainya sehingga Naruko memeluk entah apa yang sedang ia tiduri sekarang sehingga membuat 'sesuatu' tersebut bergerak sedikit dan Naruko merasakan seperti sebuah tangan melingkari pinggangnya.
Matanya langsung terbuka dengan sangat cepat dan Naruko berteriak tertahan karena ia berguling ke samping untuk kabur setelah menyadari bahwa sesuatu yang ia tiduri adalah seseorang dan seseorang tersebut memeluk dirinya.
BRAK
Naruko jatuh dari sofa dengan tidak anggun ke lantai, ia tidak terlalu perduli dan Naruko langsung merangkak dengan cepat untuk menjauh dari siapapun itu yang ia tiduri sebelumnya, ia dengan cepat memutar tubuhnya dan menunjuk sesosok yang ada di sofa "Siapa kau! Jangan macam-macam dan jangan seenaknya menyentuhku, aku sudah punya kekasih dan aku sangat mencintainya!"
Sang kekasih yang baru ia sebut menaikkan sebelah alisnya dan menatap Naruko yang sedang menunjuknya sebentar sebelum bibirnya tertarik ke atas dan ia seperti menahan tawa.
Hening
'HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHHAHAH' Suara Kurama tertawa dengan sangat kencang bergema di kepala Naruko.
Sedangkan sang gadis Uzumaki membeku dalam posisinya yang sedang menunjuk kekasihnya dengan wajah menyamai kepiting rebus.
Ternyata orang yang ia jadikan tempat tidur tadi dan memeluknya adalah kekasihnya sendiri yang kini sedang berbaring di sofa, sebelah tangan memangkukan kepalanya dan menatap dirinya dengan pandangan campuran antara ingin tertawa, senang, dan penuh kasih sayang.
Naruko langsung membalik tubuhnya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan meringkuk di lantai "Lupakan! LUPAKAN SEMUA HAL YANG TERJADI INI!"
"Jadi… aku boleh menyentuhmu atau—"
"DIAAAM"
Tobirama tertawa pelan melihat kelakuan pujaan hatinya sebelum berjalan mendekati Naruko yang masih meringkuk dan tidak mau memperlihatkan wajahnya sama sekali "Jangan tiduran di lantai, aku belum sempat beres-beres rumah semenjak tiga hari yang lalu karena aku sedang ada misi di luar"
Naruko hanya mendumal sendiri dan tidak mau beranjak dari posisinya untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan kekasihnya.
"Aku bawa makanan" Dan Naruko langsung bangun dari posisinya dengan mata berbinar-binar, ia menatapnya dengan penuh harap, membuat dirinya menepuk kepala kekasihnya dan menariknya ke ruang makan.
Seorang gadis kecil berumur sekitar 7 tahun berlari dari kejaran dua orang laki-laki yang mengenakan topeng ANBU, kaki kecilnya yang tidak di balut apapun terus berlari tanpa perduli ke mana kaki kecilnya membawanya pergi; ia tidak perduli, yang ia tahu adalah ia harus bersembunyi secepatnya.
Entah bagai mana caranya, sang gadis kecil berlari lebih cepat dari kedua orang yang mengejarnya dan ia berhasil kabur dari kedua pengejarnya dan bersembunyi di ruangan terdekat yang ia temukan, ia sedang dikejar di sebuah gedung besar di desanya yang biasa di sebut sebagai gedung Hokage.
Ia tadinya hanya ingin menemui kakek angkatnya yang merupakan Hokage ketiga, namun untuk menemui sang kakek; ia harus diam-diam kabur dari panti asuhan sehingga membuat penjaganya panik, jadilah sekarang ia di kejar oleh dua orang ANBU yang di tugaskan untuk menangkap dirinya dan membawanya kembali ke panti asuhan.
"Huft… hampir saja" Sang gadis kecil mengelus dadanya dan menghela nafas lega sebelum mengelap keringat yang membasahi keningnya dengan lengan pakaiannya "Sekarang… aku ada di mana? Ruangan apa ini?"
Sang gadis kecil memeriksa sekelilingnya, ia asal masuk saja ke dalam ruangan terdekat untuk bersembunyi dan ia tidak pernah masuk ke ruangan ini sebelumnya. Rasa penasaran sang gadis kecil sangatlah besar sehingga membuat dirinya dengan sangat berani memeriksa ruangan tersebut.
Ruangan tempat ia berada sekarang sedikit gelap, hanya sedikit sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan melalui jendela yang hampir semuanya tertutup kain, banyak kotak-kotak yang sudah berdebu serta benda-benda lainnya seperti meja dan kursi yang debunya sangat tebal, menandakan bahwa ruangan tersebut sudah lama tidak ada yang membersihkan.
"Apakah ini gudang?" Sang gadis kecil memanjat ke atas salah satu meja dengan hati-hati agar debu yang menutupi meja tersebut tidak terbang ke wajahnya dan mengintip ke dalam salah satu kotak yang ada di atas meja tersebut.
"Apa ini?" Sang gadis kecil menarik salah satu benda yang ada di dalam kotak tersebut, benda tersebut cukup berat dan berwarna biru dengan sebuah hiasan seperti bulu berwarna putih yang sudah berdebu dan kotor sehingga membuatnya menjadi berubah warna menjadi abu-abu "Baju? Berat sekali…"
Sang gadis kecil merogoh kembali isi kotak tersebut, banyak gulungan-gulungan serta peralatan menulis yang tidak membuat sang gadis kecil tertarik hingga ia menemukan sesuatu yang menurutnya menarik perhatiannya dan mengambilnya.
"Ini… apa ya? Kakek pernah cerita tentang benda ini…" sang gadis kecil mengangkat benda yang baru ia temukan, benda tersebut berbentuk seperti ikat kepala dengan sebuah logo yang asing bagi sang gadis kecil "Kalau tidak salah apa ya namanya… Hitai… Hitai-ae? Hitai? Hitai ate!"
"Tapi aneh… ini bukan logo desa… aku pernah lihat logo ini tapi di mana ya?" Sang gadis kecil memiringkan kepalanya dan menatap bingung ikat kepala yang ada di depannya, ia pernah melihat logo tersebut di suatu tempat namun ada perasaan aneh yang menyelubungi dirinya di saat ia melihat ikat kepala tersebut, ia melirik 'baju' yang ada di dalam kotak di sebelahnya dan perasaan yang sama juga muncul.
Ia memeluk ikat kepala yang ia pegang dan menyenderkan tubuhnya di kotak yang ada di sampingnya, entah mengapa ada perasaan hangat dan senang sehingga membuat sang gadis kecil tersenyum lebar sebelum senyuman tersebut pelan-pelan menghilang karena ada perasaan sedih muncul tiba-tiba saja, bahkan perasaan tersebut hampir membuat dirinya menangis.
KREK
Sang gadis kecil terlonjak kaget mendengar pintu masuk ruangan tempat ia bersembunyi dibuka sehingga membuat dirinya langsung menyembunyikan ikat kepala yang ia peluk secara refleks dan melompat turun dari meja tempat ia duduk sebelumnya.
"Naruko, aku tahu kau ada di dalam" Sang gadis kecil yang di panggil Naruko mengenal suara tersebut sehingga ia berlari ke arah pintu masuk dengan senyum bahagia menghiasi wajahnya, perasaan sedih dan aneh yang tadi ia rasakan menghilang dan ia memeluk sang kakek yang ia ingin temui sebelumnya.
"Uhmmh…" Naruko membuka matanya secara perlahan untuk membiasakan diri dengan cahaya yang masuk ke dalam apartemennya, ia pelan-pelan bangun dari posisinya yang tadi sedang tiduran dan mengusap kedua matanya "…Mimpi?"
Naruko memeriksa sekitarnya dan memang benar ia sedang ada di apartemennya dan baru saja bangun dari tidurnya, suara nyanyian alam, alarm jamnya, burung dan sinar matahari yang menyelinap masuk melalui jendela kamarnya menandakan bahwa waktu menunjukkan pukul enam pagi.
"Ah… memang mimpi" Naruko menguap lebar dan merenggangkan tubuhnya sebentar sebelum bangun dari tempat tidurnya untuk mandi dan siap-siap, ia ada pekerjaan untuk pergi ke Yugakure nanti dan lalu ada janji dengan kekasihnya untuk pergi melayat.
Ya melayat, karena hari ini adalah hari kematian kakek angkatnya yang merupakan Hokage ketiga, ia berjanji untuk melayat dengan kekasihnya nanti sore di saat kuburan tidak terlalu ramai dan tugas mereka berdua sudah selesai.
"Pantas saja aku bermimpi soal hal itu…" Naruko tersenyum sedih dan menggeleng dengan pelan, ia harus siap-siap sekarang dan ia tidak mau terlambat untuk bertemu dengan rekan kerjanya dalam misi kali ini, Sai dan kapten Yamato, karena kalau ia terlambat misinya bisa saja jadi semakin lama dan ia tidak mau ingkar janji atau terlambat melayat nanti.
"Hmm… tapi aku lupa… ikat kepala yang aku temukan dulu ke mana dan logonya apa ya… seingatku bukan logo Konoha…" Naruko bergumam sendiri sambil mandi, ingatannya tidak terlalu bagus bila mengenai masa kecilnya "Hmm… Sudahlah, nanti saja aku pikirkan"
Selama misinya dengan Sai dan Yamato, Naruko mencoba untuk fokus namun entah kenapa bayangannya mengenai ruangan yang pernah ia masuki di saat masih kecil dan barang-barang yang ia temukan di ruangan tersebut sedikit menghantuinya.
Walau misi yang di kerjakan oleh Naruko dan rekannya sedikit berantakan di karenakan Naruko yang suka melamun dan kadang suka kehilangan konsenterasi, Naruko berhasil menyelesaikan misinya lebih cepat dari waktu yang di tentukan sebelumnya.
Yamato dan Sai tidak protes sama sekali melihat sikap Naruko, karena mereka berdua tahu bahwa setiap hari ini, hari kematian Sandaime, Naruko memang akan sering hilang konsentrasi dan terkadang lebih memilih menyendiri, jadi mereka berdua tidak heran melihat Naruko membentur pintu masuk desa desa Konoha karena ingin buru-buru pulang.
Naruko hanya bisa meringis kesakitan memegangi jidatnya yang mencium pintu gerbang dari besi, membuat Ino yang sedang memilihkan dan membuat buket bunga untuk Naruko bawa ke pemakaman milik Sandaime menatap khawatir sang gadis Uzumaki.
Setelah membeli buket bunga, Naruko langsung menuju ke rumah kekasihnya untuk menunggu Tobirama menyelesaikan misinya dan lalu mereka berdua akan melayat bersama.
Sambil menunggu Naruko duduk di sofa ruang tengah dan karena tidak ada hal yang bisa ia lakukan dan Kurama sedang tidur sehingga tidak ada orang yang bisa ia ajak berbicara, pikiran Naruko melayang ke mana-mana dan sebuah ingatan tiba-tiba saja muncul di benaknya.
"Ugh... sebal... lagi-lagi Teme mengalahkan aku..." Seorang gadis berumur sebelas tahun dengan surai emas mendesis pelan sambil terus berjalan menelusuri jalan setapak di sebuah perumahan, wajahnya di hiasi dengan kerutan dan bibirnya tertarik ke bawah, jelas menandakan bahwa sang gadis sedang kesal.
'Tak ada gunanya mengeluh Naruko! Aku yakin aku bisa mengalahkan Teme besok! Pasti!' sang gadis yang bernama Naruko mencoba menghibur dirinya sendiri, sebuah ekspresi penuh percaya diri langsung terlukis di wajahnya sebelum ia mengangguk dan berlari untuk pergi ke tempat kakeknya untuk menghibur diri dengan mengobrol dengan sang Sandaime.
Namun di perjalanan menuju gedung Hokage, matanya menangkap sesuatu yang membuatnya berhenti dan terdiam, ia jarang melewati jalan yang ia ambil sekarang karena dekat dengan Shusuya, sebuah bar terbesar di Konoha, ia tidak terlalu senang lewat tempat itu, Naruko tidak terlalu menyukai orang-orang yang mabuk karena... trauma masa kecil.
Namun ia melihat sesuatu yang membuatnya berani mendekati toko tersebut—atau lebih tepatnya bangunan yang ada di dekat toko tersebut dan yang menarik perhatiannya adalah logo yang tertera di dinding sebelah bangunan tersebut.
'...Ini hanya perasaanku saja atau aku pernah melihat logo tersebut?' Naruko dengan pelahan-lahan dan sangat hati-hati mendekati bangunan tersebut, ia memeriksa pintu masuk dari bangunan tersebut karena penasaran 'Tapi di mana...?'
KLAK
Pintu gerbang dari bangunan tersebut terbuka dengan sendirinya, membuat Naruko sedikit melompat kaget dan sudah siap mengambil langkah seribu bila melihat orang yang membuka pintu tersebut, namun ia tidak melihat siapapun dan pintu gerbang di depannya terbuka secara perlahan-lahan, seperti mempersilakan Naruko masuk.
"Hei gadis kecil, apa yang *Hik* kau lakukan *hik* di sanaa?" Suara seorang laki-laki yang terdengar mabuk mengagetkan Naruko sehingga secara reflek ia langsung berlari secepat mungkin masuk ke dalam bangunan di depannya dan pintu gerbang di belakangnya tertutup dengan sendirinya.
Naruko menghela nafas lega di saat ia sudah memasuki bangunan tersebut, ia tidak mau berurusan dengan orang yang sedang mabuk, trauma masa kecilnya nanti terulang lagi.
Ia memeriksa sekelilingnya dan menyadari bahwa bangunan yang ia masuki adalah sebuah rumah yang cukup megah, mengingatkannya dengan rumah salah satu temannya di akademi, Hinata Hyuuga.
Karena rasa penasarannya yang sangat besar, Naruko mulai menjelajahi rumah tersebut, walaupun dengan sedih ia harus menemukan bahwa rumah tersebut hampir kosong melompong dan tidak berpenghuni (untungnya) walau entah bagai mana caranya; rumah tersebut bersih dan tidak berdebu.
Selain itu, banyak ruangan di rumah tersebut terkunci dengan rapat dan Naruko tidak bisa membukanya sama sekali, padalhal hanya sebuah pintu geser dan tidak memiliki kunci, namun mengapa ia tidak bisa membukanya? Ia bahkan tidak merasakan bahwa pintu tersebut di ganjal apapun.
Hingga Naruko terus menelusuri rumah tersebut semakin dalam dan ia hampir berteriak ketakutan karena sebuah pintu di lorong paling terdalam rumah tersebut terbuka sendiri, ia sampai menutup mulutnya dan sudah siap menerima nasib bertemu dengan pemilik rumah tersebut—atau lebih parahnya: hantu!
Namun tidak terjadi apapun, sama seperti pintu gerbang rumah tersebut, pintu yang tadi terbuka sendiri tadi seperti mengundang naruko masuk dan entah mengapa... Naruko tidak bisa menolaknya dan merasa seperti terpanggil.
Jadi di sinilah Naruko, menguatkan nyalinya sambil membaca entah apa itu doa kepada siapapun di atas sana untuk keselamatannya sambil mengeluarkan senter yang selalu ia bawa karena ia sering mengerjai orang dan bersembunyi di tempat yang gelap, ia berjalan perlahan-lahan dan sudah siap berteriak lalu kabur bila ia bertemu hal macam-macam di ruangan tersebut.
Ruangan yang Naruko masuki hampir kosong, hanya ada meja, sofa, futon yang di lipat, dan sebuah lemari besar, yang membedakan ruangan tersebut dari yang lain adalah dindingnya yang di cat menjadi warna biru.
Naruko menegak ludahnya dengan susah payah di saat ia menemukan sebuah kotak kardus di ujung ruangan yang sepertinya adalah kamar seseorang dulu.
Ini mengingatkan dirinya dengan cerita horror yang pernah di ceritakan oleh teman sekelasnya dulu, di mana nanti ada sesuatu yang menyeramkan keluar dari kotak tersebut, namun entah mengapa ada perasaan aneh yang terus menyuruhnya membuka kotak tersebut.
Naruko hanya bisa mempersiapkan diri untuk berteriak seusai membuka kotak tersebut dan melihat isinya, tangannya gemetaran memegang tutup kotak tersebut dan ia menahan nafas di saat ia membuka kotak tersebut—
"KYAAAAAAA" Naruko berteriak dengan sangat keras dan terjatuh dari sofa tempat ia sedang duduk di karenakan ia merasa sesuatu yang sedikit kasar dan basah menyentuh sisi lehernya, di saat ia sudah ada di lantai, ia memegang tempat yang ia rasakan basah dengan wajah merah padam.
"Bangun juga akhirnya" Seorang laki-laki bermanik crimson dan bersurai putih duduk di sofa yang ia duduki tadi, tangannya ia lipat di depan dadanya, ia memasang ekspresi datar namun Naruko tahu bahwa ia menganggap lucu apa yang baru saja terjadi.
"Ka-kau menjilatku! Apakah kau tidak bisa membangunkanku dengan normal!" Naruko cemberut dan menatap kesal kekasihnya, banyak orang bilang bahwa kekasihnya—sang Nidaime, terkenal dengan sifatnya yang selalu serius dan dingin, namun pada kenyataannya, ia bisa menjadi seusil dan sedikit kekanak-kanakan seperti Shodaime—walau ia tidak sekanak-kanakan dan seusil kakaknya, mereka memang kakak beradik oke.
"Sudah aku coba, aku sudah memanggil namamu, melambai di depan wajahmu, dan duduk di sampingmu, namun kau tetap tidak menyadarinya... dan kau adalah sensor serta wadah dari Kyu—Kurama namun kau masih tidak menyadari keberadaanku" Tobirama mengangkat bahunya dengan cuek sebelum mengambil buket bunga yang tergeletak di lantai karena jatuh bersamaan dengan Naruko tadi, untungnya buket tersebut tidak tertimpa oleh Naruko.
"Ugh..." Naruko membuang mukanya dan mendecak kesal, ia bangun dari posisinya dan mulai merapihkan pakaiannya sebelum berjalan ke dekat Tobirama dan mengambil buket bunga miliknya sambil berbisik dengan pelan "Tidak sampai menjilatku juga..."
Tobirama terkekeh pelan melihat kelakuan Naruko sebelum bangun dari sofa, mengenakan topeng ANBU miliknya dan berjalan mengikuti Naruko yang sudah berjalan duluan.
Di perjalanan menuju makam milik Sandaime, Naruko teringat dengan apa yang ia bicarakan dengan teman-temannya beberapa hari yang lalu, mengenai Tobirama yang tidak pernah mengajaknya pergi kencan, sehingga membuat Naruko melirik secara diam-diam berkali-kali kekasihnya.
"Kau tahu, kau bisa saja mengatakan apapun yang ada di pikiranmu kepadaku sekarang" Tobirama terkekeh pelan melihat Naruko yang sedikit tersentak kaget dan wajahnya mulai sedikit memerah karena malu "Aku bisa membacamu dengan mudah Naru-chan"
Naruko semakin memerah mendengar nama panggilan dari kekasihnya, ia memukul dengan tidak pelan pundak kekasihnya yang dengan mudah Tobirama hindari sebelum akhirnya ia mengalah "Aku hanya ingin bertanya... kenapa kau tidak pernah mengajakku pergi kencan"
Tobirama terdiam sebentar, ia menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung Naruko "Tidak pernah?"
"Yaah..." Naruko membuang mukanya, terlalu malu untuk berbicara secara langsung dengan Tobirama dan menatap secara langsung manik crimson kekasihnya "Kau tidak pernah mengajakku jalan-jalan, makan bersama, atau semacamnya..."
"Oh, pantas saja sang gadis Hyuuga itu mengejarku dengan menggunakan byakugan dan sudah siap menghajarku berberapa hari yang lalu" Tobirama menggeleng dengan pelan, memang benar beberapa hari yang lalu, ia di kejar dan ingin di hajar oleh sahabat Naruko pada saat ia baru sampai ke Konoha dengan alasan yang tidak ia mengerti.
"Bukannya aku tidak pernah, hanya saja aku tidak suka melakukan Public Display of Affection dan aku lebih suka menghabiskan waktu hanya berdua denganmu saja" Tobirama menggenggam dengan erat tangan Naruko karena sedari tadi mereka jalan bergandengan "Dan jangan memberikan aku pandangan seperti itu, aku tahu kau mengira karena aku lahir pada zaman perang: aku tidak tahu apa itu 'pacaran' dan 'kencan'. Aku tahu dua hal tersebut oke"
"Sebenarnya yang bilang kalau kau tidak tahu itu Kurama..." Naruko bisa merasakan Kurama terkekeh pelan dan langsung pura-pura tidur lagi.
"Huh, jangan selalu percaya dengan apa yang ia katakan" Tobirama memutar bola matanya dengan bosan sebelum menarik lebih dekat Naruko agar memasuki zona nyamannya "Namun seperti yang aku bilang sebelumnya; aku bukannya tidak mau mengajakmu kencan, hanya saja aku lebih suka berdua saja denganmu"
Naruko terdiam, wajahnya sudah seperti warna kepiting rebus namun sebuah senyuman lebar terlukis di bibirnya dan memeluk lengan kekasihnya "Namun sekali-kali jalan keluar juga tidak apa bukan, kapan kau tidak ada jadwal lagi? Ayo kita ke Ichiraku!"
Tobirama tersenyum mendengar jawaban Naruko sebelum ia menepuk kepala Naruko "Lusa"
Naruko masih tersenyum dan kini memeluk lengan Tobirama, teman-temannya tidak akan bisa protes lagi nanti di saat mereka mendengar alasan Tobirama tidak mengajaknya keluar dan lusa ia akan bisa pergi 'kencan' dengan kekasihnya, jadi teman-temannya tidak akan bisa menyalahkan dirinya lagi.
Hingga ia melihat kuburan milik kakek angkatnya sudah kelihatan barulah ia melepaskan pelukannya dan berlari ke depan kuburan tersebut.
"Kakek..." Naruko menunduk untuk memberi salam dan meletakkan buket bunga di depan makam sang Sandaime, ia menghela nafas panjang sebelum sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya "Aku tahu bahwa belum lama ini... aku bertemu denganmu secara langsung namun sekarang aku sudah kangen lagi..."
Tobirama diam saja, ia mundur kebelakang sedikit untuk memberikan Naruko sedikit waktu untuk 'berdua' saja dengan muridnya dulu, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan bersender di pohon yang ada di sampingnya.
"Banyak hal yang terjadi setelah perang kek, namun aku ingin kakek tahu bahwa aku baik-baik saja—semua berjalan dengan baik. Oh, kakek tahu? Konohamaru sehat-sehat saja dan sekarang sangat bersemangat untuk menjadi mirip denganku, ia bahkan sampai ingin aku mengajarinya Rashen Shuriken loh!" Naruko tertawa pelan mengingat 'adik kecil' miliknya yang merangkap sebagai 'saingan' miliknya.
Naruko bercerita cukup banyak mengenai keadaan desa sekarang, seusai perang, ia bercerita mengenai Kakashi yang kini sudah menjadi Hokage dan Tsunade yang kini sudah pensiun dan masih banyak lagi, hingga ia harus menceritakan mengenai dirinya sendiri.
"Aku baik-baik saja dan... uhh..." Naruko terkekeh pelan, ia menggaruk pipinya dengan satu jari dan melirik Tobirama yang hanya tersenyum—atau menyeringai, yang pastinya ia memberikan dirinya senyuman usil "Jangan marah ya kek, dulu kakek sedikit protes karena aku yang terlalu tomboy dan kau takut aku tidak akan punya pasangan—walau pada waktu yang bersamaan kau sedikit terlalu protektif denganku bila sudah menyangkut pasanganku kelak, namun sekarang... uhh... hahahah... gurumu adalah kekasihku... jangan marah atau pingsan ya kek mendengarnya"
"Hah, aku bisa membayangkan Saru pingsan di tempat dengan wajah pucat pasi mendengarnya" Tobirama terkekeh pelan, ia tahu betul sikap muridnya dulu dan ia yakin bahwa muridnya akan melakukan apa yang Naruko katakan—kecuali marah, mana berani muridnya marah dengan dirinya yang menjadikan Naruko miliknya.
Naruko ikut terkekeh pelan sebelum ia membelai batu nisan yang ada di depannya dan tersenyum lembut, ia membalik tubuhnya dan berjalan mendekati kekasihnya "Kau tak mau bicara juga?"
Tobirama menggeleng dan merangkul Naruko untuk membawanya berjalan keluar area pemakaman "Kau sudah menceritakan semuanya, aku jadi kehabisan cerita"
Naruko tertawa pelan dan membiarkan dirinya di bawa berjalan, namun ia terdiam di saat matanya menangkap sesuatu yang mengakibatkan ia berhenti mendadak dan mendapatkan tatapan bingung dari Tobirama.
"Ada apa?" Tobirama menengok ke arah tempat yang Naruko lihat, membuat dirinya menaikkan sebelah alisnya "Ah... makam milikku... aneh juga melihat makamku sendiri"
"Ah... AAAAAH!" Tiba-tiba saja Naruko berteriak, mulutnya terbuka lebar dan matanya membulat "AKHIRNYA AKU INGAT!'
Tobirama menaikkan sebelah alisnya, ia sudah biasa melihat keunikan Naruko dan sifatnya yang sangat tidak bisa di prediksi "Apa?"
"OH YA AMPUN!" Naruko menarik kerah pakaian Tobirama dan menariknya ke arah makam miliknya "AKU SEKARANG INGAT DI MANA AKU MENYIMPAN HITAI ATE ITU!"
Tobirama hanya bisa pasrah di seret oleh Naruko, ia hanya bisa menatap bingung Naruko yang kini sudah ada di depan makamnya dan tengah mencari sesuatu di belakang batu nissan miliknya... harus ia akui, ia merasa aneh memanggil makam yang ada di depannya miliknya karena ia kini sudah hidup kembali.
Namun matanya membulat dan sedikit tersentak kaget melihat Naruko berhasil menemukan sebuah benda yang ia tahu adalah Hitai ate "Hei, itu punyaku..."
"Tuhkan benar! Berarti benda-benda yang aku temukan waktu itu juga punyamu!" Naruko menyodorkan ikat kepala dengan logo Senju yang baru saja ia temukan kepada Tobirama "Aku akhirnya mengerti mengapa di saat perang waktu itu aku merasa seperti aku pernah melihat armor yang kau kenakan!"
Tobirama menerima ikat kepala miliknya dari Naruko, itu adalah ikat kepala yang ia gunakan dulu sekali sebelum Konoha di buat dan ia masih berperang atas nama Senju, makannya logo yang tertera di ikat kepala tersebut masih logo Senju "Di mana kau menemukannya?"
"Di sebuah ruangan di gedung Hokage, aku juga menemukan armor milikmu" Naruto memiringkan kepalanya dan mencoba mengingat-ingat masa lalunya di mana ia berusaha bersembunyi dari kejaran dua ANBU yang di tugaskan untuk menangkapnya "Aku sedang bersembunyi dan menemukan ruangan tersebut, lalu aku menemukan ikat kepala itu dan armor milikmu, namun karena panik; aku tidak sengaja mengambil ikat kepala ini"
"Tunggu dulu... aku jadi ingat kalau aku pernah memasuki sebuah rumah besar dengan logo Senju juga dulu sebelum aku menjadi Genin" Naruko menutup matanya dan sebuah kerutan muncul di keningnya, ia sedang berusaha keras mengingat masa lalunya "Kalau tidak salah gedungnya ada di depan bar..."
"... Itu perumahan Senju..." Tobirama menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung Naruko "Bagai mana kau bisa masuk? Yang bisa masuk hanya anggota klan Senju dan seingatku Tsuna sudah pergi dari desa waktu itu. Rumah serta pintu masuk kediaman Senju terbuat dari kayu buatan murni kak Hashirama, makannya sangat tahan lama dan kuat. Namun selain itu juga pintu rumah tersebut hanya akan terbuka untuk orang yang di anggap anggota Senju atau tamu yang di persilahkan masuk"
Naruko memiringkan kepalanya dan kini menatap bingung Tobirama "Pintunya gerbangnya terbuka sendiri"
Tobirama tertegun, ia tidak tahu mau berbicara apa.
"Tapi walau aku bisa masuk, semua pintu di dalam rumah tersebut tidak bisa aku buka, kecuali sebuah pintu yang terletak di paling dalam rumah tersebut dan itu juga pintunya terbuka sendiri... aku kira hantu loh yang membukanya..." Naruko melipat kedua tangannya di depan dadanya dan membuka matanya "Saat aku masuk, ruangan tersebut seperti berbeda sendiri, dindingnya di cat warna biru dan di sana aku menemukan sebuah kardus yang isinya hanya sebuah pedang saja... tapi aku tak bisa lama-lama karena aku mendengar seperti suara pintu yang terbuka lalu di tutup lagi dengan kasar, karena takut; aku langsung kabur"
Hening.
Naruko yang bingung karena tidak mendapat jawaban dari Tobirama akhirnya menatap secara langsung wajah kekasihnya dan ekspresi yang di kenakan Tobirama membuat Naruko menaikkan sebelah alisnya.
Tobirama memebeku di tempat dengan pupil mata yang mengecil dan mulut setengah terbuka.
Apakah Naruko salah bicara? Ini pertama kalinya ia melihat Tobirama membeku dan terdiam seperti itu, membuat sang gadis Uzumaki cukup khawatir dengan keadaan kekasihnya.
Matahari sudah menghilang dari singgahsananya di langit, menggantikan dirinya, sang rembulan kini menggantikan sang mentari, menyinari bumi dengan cahaya putihnya bersama dengan bintang-bintang yang menemaninya.
Naruko menatap bulan yang menunjukkan dirinya walau tidak sepenuhnya di langit dengan pandangan kosong sebelum ia menyenderkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.
Ia tengah duduk di pangkuan kekasihnya, mereka berdua sedang berada di sebuah pohon besar di atas monumen ukiran Hokage, Tobirama mengajaknya untuk menghabiskan waktu bersama di tempat tersebut dengan alasan bahwa tempat mereka berada sekarang adalah tempat kesukaannya.
Naruko tidak keberatan, karena tempat mereka berada sekarang adalah tempat kesukaannya juga, walau biasanya ia duduk di atas monumen milik ayahnya, namun tempat ia duduk sekarang lebih nyaman dan ia bahkan bisa melihat pemandangan seluruh desa Konoha.
"Dari dulu aku memang sudah sedikit berbeda" Tobirama mulai membuka mulutnya dan berbicara, ia melingkarkan tangannya di pinggang Naruko dan menyenderkan tubuhnya di pohon yang ada di belakangnya "Di saat salah satu adikku meninggal, aku tidak menangis sama sekali... jangankan menangis; merasa sedih saja tidak"
"Namun di dalam pikiranku terbesik sebuah pertanyaan... atau mungkin bisa di bilang keinginan" Tobirama menghela nafas pendek dan mempererat pelukannya terhadap Naruko "Bagaimana caranya menghidupkan kembali orang yang sudah mati?"
"Umurku masih duabelas tahun waktu itu dan aku sudah mulai memikirkan hal aneh nan ajaib seperti itu" Tobirama bisa merasakan Naruko tidak terlalu menyukai apa yang baru saja ia katakan "Kau harus mengakui, anak berumur duabelas tahun sudah berfikir mengenai hal tabu seperti itu bukanlah hal normal"
"Memang tidak normal, tapi aku pikir kau bukannya tidak merasa sedih atas kematian adikmu..." Naruto menggeleng dengan pelan, ini dia salah satu sifat dari Tobirama yang baru ia ketahui di saat ia sudah dekat dengan sang pemuda Senju, sang pemilik manik crimson satu ini suka overthinking yang akhirnya selalu berakhir menjadi negative thinking.
"Menurutku, kau malah yang paling sedih dan yang paling tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau kehilangan adikmu" Entah mengapa, Naruko mulai berfikir bahwa orang-orang genius pasti selalu berakhir menjadi emo atau psikopat, contoh sudah ada di mana-mana, ada Sasuke yang katanya genius tapi angstnya tidak ketulungan, ada Itachi yang suicidal (ingin mati di tangan sang adik), dan ada Kakashi yang depresi (namun di tutup-tutupi), lalu sekarang kekasihnya "Makannya terbesit lah ide luar biasa gilamu itu... kau ingin menghidupkan kembali adikmu..."
Tobirama terdiam sebentar, ia melirik kekasihnya yang sedang memndang bulan sebentar sebelum menutup matanya "Mungkin kau benar... maka dari itu aku menciptakan edo tensei"
"Pemikiran yang gila memang, aku ingin menghidupkan kembali orang yang sudah mati... namun aku tidak putus asa, aku melakukan banyak percobaan dan melakukan banyak research"
"Demi Kami-sama... tolong jangan bilang 'percobaan' yang kau maksud mirip dengan percobaan yang ular pedofil satu itu lakukan!"
Jawaban yang di terima oleh Naruko adalah Tobirama yang mempererat pelukkannya.
'Woooo, siaga satu! Siaga satu! Kekasihmu diam-diam adalah psikopat dan juga sangat possessif" Kurama terkekeh, dari nada bicaranya ia seperti sedang bercanda namun apa yang ia jadikan candaan adalah kenyataan, sehingga membuat wadahnya merinding dan dirinya tertawa.
"Kembali lagi pada topik utama, aku berusaha menciptakan edo tensei, namun aku menyadari sesuatu: semakin sempurnanya edo tensei, semakin sering aku mulai merasakan bahwa aku kehilangan sesuatu yang dulu aku tidak tahu apa" Tobirama menghela nafas pendek, tangannya kini sibuk memainkan surai kuning Naruko "Dan sekarang aku menyadari apa yang pelan-pelan menghilang... jiwaku"
"Bisa di bilang kalau shinigami tahu bahwa nanti bila aku menyelesaikan edo tensei, ia akan kewalahan" Tobirama tertawa pelan mendengar Naruko berbisik 'tentu saja, kau sih terlalu serba ingin tahu' dan mencubit pipi sang Uzumaki dengan pelan, membuat sang gadis meronta sedikit karena kesakitan "Bisa di bilang jiwaku yang mulai di ambil oleh Shinigami sedikit bersisa di barang-barang yang aku gunakan dan tempat di mana aku menyempurnakan jutsu tersebut"
"Menurutku jiwaku yang menempel di situ memanggil dirimu... karena—"
"Jangan coba-coba kau menyelesaikan omonganmu! Aku tahu kau akan menggombal" Naruko menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia sampai sekarang masih tidak kuat bila kekasihnya sudah mulai menggodanya atau menggombal, Tobirama sangat pintar biacara dan selalu saja berhasil membuat wajahnya menyamai warna udang rebus.
"Hm? Tapi bukannya kenyataan ya?" Tobirama menepuk hitai ate lamanya yang ia kalungkan di leher Naruko "Buktinya kau merasa ada 'hubungan' dengan barang-barang milikku dan bahkan kau bisa masuk ke dalam kamar lamaku..."
Naruko membuang mukanya untuk menyembunyikan wajahnya yang warnanya sudah menyamai udang rebus, membuat Tobirama tersenyum penuh kasih sayang sebelum membenamkan wajahnya ke surai kuning sang gadis.
"Aah... ini sudah termasuk 'kencan' yang kau mau dan bicarakan tadi sore bukan?"
"Pada dasarnya kita memang selalu pergi kencan di saat kita bersama, sekalipun itu di rumahmu atau di apartemenku"
"Lalu kenapa sahabatmu yang satu itu ingin menghajarku..."
"Karena teman-temanku yang lain mengatakan bahwa hanya berduaan saja tidak di hitung sebagai kencan..."
"...Mereka hanya ingin melihat kau sedang berduaan denganku..."
Naruko menghela nafas pasrah, ia tahu teman-temannya hanya penasaran saja dengan kekasih barunya dan bagai mana dirinya bersikap di depan kekasihnya, karena hanya Sakura yang tahu identitas asli dari Tobirama dan itu juga Sakura tidak pernah melihat dirinya pergi kencan dengan Tobirama, makannya ia juga ikut penasaran.
"Hmm... kalau tidak salah akan ada festival beberapa hari lagi..." Tobirama bergumam pelan, ia memang mendengar bahwa akan ada festival tiga hari lagi dari Tsunade, tadinya ia berniat mengambil misi namun ia memiliki rencana lain "Aku bisa membatalkan misiku hari itu kalau kau mau pergi bersamaku"
Naruko memutar tubuhnya dan memberikan Tobirama pandangan penuh harap dan senyum yang sangat lebar, membuat yang di berikan tatapan dan senyuman tersenyum kecil lalu menempelkan bibirnya ke bibir sang gadis Uzumaki
"Ah! Ngomong-ngomong kenapa kau jadi sering mengambil misi akhir-akhir ini? Hampir semuanya misi tingkat A dan S pula"
"...Nanti kau akan tahu"
Naruko membuka matanya secara perlahan sebelum ia mencoba bangun dari posisinya yang tadinya sedang tiduran sebelum menyadari bahwa ruangan tempat ia sedang tidur sangatlah gelap.
Ia memeriksa sekitarnya di saat matanya mulai terbiasa untuk melihat di kegelapan dan menemukan bahwa ia sedang ada di sebuah kamar yang cukup luas dan ia ada di atas tempat tidur dan hanya mengenakan kaus berwarna hitam yang kebesaran.
Naruko pelan-pelan turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela yang ada di ruangan tersebut sebelum membuka horden yang menutupi jendela tersebut untuk melihat pemandangan malam desa Konoha.
Naruko tersenyum kecil melihat bulan yang menunjukkan diri seutuhnya di atas langit, membuat dirinya mengetahui mengapa ia terbangun di tengah malam, ia samar-samar bisa mendengar suara dengkuran Kurama di kepalanya sehingga membuat dirinya menghela nafas pendek, setidaknya partnernya bisa tidur dengan nyenyak.
Ia tersenyum kecil memandang pemandangan desa Konoha di malam hari, menikmati terpaan angin malam dan suara jangkrik yang menemaninya sebelum tiba-tiba saja ia menggigil karena merasakan angina yang cukup kuat dan dingin menerpa dirinya dan tiba-tiba saja seorang laki-laki yang mengenakan topeng rubah muncul di depannya.
"Aku kira kau pulangnya lusa" Naruko tersenyum manis melihat lelaki di depannya sebelum ia mundur untuk memberikan ruang agar laki-laki yang ada di depannya bisa masuk ke dalam ruangan.
"Hmm… misinya berjalan dengan lancar dan selesai lebih awal" Sang lelaki yang baru masuk ke dalam kamar bergumam pelan sebelum membuka topengnya untuk memperlihatkan wajah dan manik crimson miliknya "Kenapa kau belum tidur?"
Naruko membantu melepaskan jaket serta atribut ANBU laki-laki di depannya, senyuman masih terlukis di wajahnya "Aku sudah tidur, hanya terbangun saja"
"…Terbangun dan kau tidur mengenakan bajuku lagi" Naruko nyengir mendengar apa yang laki-laki di depannya, yang merupakan suaminya, sehingga membuat Tobirama menepuk kepalanya.
"Taka apa toh, kalau kau mau, kau juga boleh pakai bajuku" Naruko memberikan senyuman usil kepada suaminya sebelum membawa barang-barang milik Tobirama untuk di simpan dan rapihkan.
Tobirama hanya menggeleng pelan sebelum ia membuka bajunya dan berjalan ke arah kamar mandi, ia berhenti di depan pintu masuk kamar mandi dan meletakkan pakaiannya di dalam keranjang pakaian sebelum ia menoleh ke arah istrinya "Kalau kau mau ikut bilang saja"
Naruko tersentak kaget dan membuang mukanya dan berjalan ke tempat tidur, ia ketahuan memperhatikan badan suaminya—oh jangan salahkan dirinya ya! Badan Tobirama sangat terbentuk dan bagus walau umurnya (sebenarnya) sudah tua, mana sekarang ia sedang di dalam masa 'subur'nya, sehingga Naruko tidak bisa menahan diri untuk tidak memelototi suaminya "Tidak!"
Naruko kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sebelum membenamkan wajahnya ke bantal miliknya di saat ia mendengar Tobirama tertawa pelan untuk menyembunyikan wajahnya.
Walau ia sudah menikah dengan Tobirama selama satu tahun, ia masih tidak bisa tahan dengan kebiasaan Tobirama yang suka menggodanya.
Inilah susahnya punya suami kelewat seksi nan tampan.
To Be Continue
!Author Notes!
Selesai juga chapter ini! membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan chapter ini karena saya sedikit terkena writer block dan juga saya suka mendapat inspirasi mendadak namun setelah say abaca ulang… saya kurang menyukainya…
Saya menyadari bahwa di chapter sebelumnya, adegan TobiNarukonya sedikit sekali adi di chapter ini sayan banyakkan momen romantis mereka, walau sejujurnya agak sulit menulis sifat Tobirama…
Jadi saya sedikit melakukan penambahan terhadap sifat dari sang Nidaime yaitu: Dia pendiam dan dingin di depan orang lain dan hanya terbuka dengan orang-orang yang ia anggap dekat, penyendiri dan lebih memilih bersama dengan orang-orang yang ia anggap terpecaya, sebenarnya sedikit jahil seperti kakaknya namun hanya ia perlihatkan kepada orang-orang terdekatnya, sangat pintar (jenius) namun karena terlalu sering berfikir terlalu panjang membuat dirinya suka negative thinking (bisa di bilang sedikit menunjukkan bahwa ia mirip dengan Hashirama yang suka pundung di pojokan dan jadi emo mendadak secara terbuka), possessive, dan berberapa hal lainnya yang akan mulai kelihatan semakin dekat dia dengan Naruko.
Saya harap saya tidak membuat Tobirama menjadi terlalu OOC… sejujurnya agak sulit menulis karakteristik sang Nidaime… hahahah
Chapter berikutnya adalah waktu pernikahan Naruko dan Tobirama! Silakan menunggu dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!
Review Please
