Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Crack Pairing, Bahasa tidak baku, Imajinasi liar Author, Humor garing, (munkin) OOC, dan masih banyak lagi
Summary: "Bukan seperti itu tuan Nidaime, hanya saja kami ingin membantu anda saja" Kakashi yang merasa kasihan dengan Tsunade akhirnya angkat bicara | "Kek, tolong bilang kakek bercanda! Aku mohon!" Tsunade hanya bisa mencoba meraih kakeknya yang tidak menghiraukannya dan terus saja berjalan keluar dari ruang Hokage
Pairing: Senju Tobirama x Naruko Uzumaki (Main)
Screw the rule! Marry me!
When Oblivious become Obvious…
Tobirama tidak tahu bagai mana caranya ia bisa terjebak dalam keadaan seperti ini; keadaan yang selalu ia hindari dan berhasil—hingga sekarang di mana ia berhasil di 'tangkap' oleh teman-teman Naruko dan sekarang sedang ingin di interogasi.
Untungnya yang berhasil menangkapnya adalah teman laki-laki milik Naruko, ia tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya bila teman-teman perempuan Naruko yang berhasil menangkap dirinya.
Beruntung pula teman-teman laki-laki Naruko tidak se-overprotective kakak angkatnya atau sang pemuda Uchiha yang sepertinya juga memiliki nasib yang sama dengan dirinya: di seret ikut tanpa persetujuannya.
Mereka kini sedang berada di sebuah restoran barbecue yang cukup terkenal di Konoha, Tobirama duduk di paling ujung meja, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menyenderkan tubuhnya ke dinding yang terbuat dari kayu di belakangnya, ekspresi bosan luar biasa terlukis di wajahnya.
Oh ayolah, ini adalah hari libur miliknya dan ia berniat untuk mendatangi apartemen kekasihnya sebelum dirinya di seret ke restoran ini, masak ia di suruh minum-minum di siang bolong? Ia adalah mantan prajurit perang jadi mana mungkin ia mau mabuk-mabukan di pagi hari.
"Kau jangan cemberut seperti itu dong, kamikan hanya ingin mencoba mengenal lebih baik dirimu" Seorang pemuda berambut coklat menyeringai ke arahnya, anjing peliharaannya menggong-gong setuju dengan pemiliknya.
Tobirama hanya melirik sang pemuda bersurai coklat yang jelas-jelas berasal dari klan inuzuka dengan bosan sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke bir yang di sungguhkan ke depannya.
"Apakah kau tidak lapar? Padahal makanan di sini enak-enak" Kata pemuda bertubuh besar yang mengambil daging dari piring milik Tobirama "Kalau tidak cepat-cepat memakannya; aku akan menghabiskan porsimu juga"
Tobirama mendorong piring berisi daging miliknya ke arah sang pemuda yang berasal dari klan Akimichi, ia tidak keberatan dan ia memang tidak selera makan sekarang, terutama di saat moodnya sedang tidak terlalu bagus.
"Hee… kau harusnya makan dengan banyak agar kau punya kekuatan untuk berlatih kelak! Jangan biarkan api masa mudamu redup!" Seorang pemuda dengan spandex hijau berkata dengan lantang dan berapi-api.
'Sudah redup semenjak… hampir 100 tahun yang lalu' Tobirama memutar bola matanya dengan bosan, ia tahu bahwa mereka hanya mencoba membuat dirinya merasa nyaman sebelum di introgasi dan untuk apa yang sang pemuda berspandex tadi katakan; umurnya yang sebenarnya jauh dari kata 'muda'.
"Kau ini dingin sekali… tapi entah mengapa tidak kelihatan sok keren seperti Sasuke" Sang pemuda Inuzuka tidak memperdulikan desissan pelan sang pemuda Uchiha "Kok bisa kau dekat dengan Naruko…"
"Opposite attract terkadang bekerja" Sang pemuda Nara yang duduk di sebelah pemuda Akimichi menjawab, Tobirama mengenal dirinya sebagai advisor dari Hokage sekarang yang bernama Shikamaru Nara "Kalau di lihat dengan baik: Naruko paling dekat dengan orang yang paling 'dingin' di sini"
Kini semua mata (kecuali milik Tobirama) menatap sang pemuda Uchiha yang kelihatan tidak menyukai atensi yang ia dapatkan.
"Eh… iya juga sih… tapi ngomong-ngomong" sang pemuda Inuzuka kini menatap Tobirama lekat-lekat, sebelah alisnya terangkat "Kau mirip sekali dengan Hokage kedua…"
Tobirama diam saja, ia kini tidak mengenakan topengnya lagi, kini ia sudah mendapatkan identitas baru sebagai seorang ANBU yang di rahasiakan keberadaannya karena selain berasal dari klan Senju, ia juga merupakan 'keturunan' yang sama dengan Tsunade, selain itu wajahnya juga sangat mirip dengan sang Hokage kedua; yang membedakan mereka berdua hanyalah nama dan luka yang ada di wajahnya yang kini di sembunyikan.
Dan namanya kini di ganti menjadi Kawarama, nama salah satu adiknya yang gugur di medan perang dulu.
"Makannya identitasku di sembunyikan" Jawab Tobirama dengan enteng, seperti apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran, ia bisa melihat sang pemuda Nara berpura-pura sibuk memakan daging miliknya dan Sang Uchiha berpura-pura sedang berkonsentrasi menatap minuman miliknya; keduanya mengetahui kebenaran dari identitasnya dan berpura-pura tidak tahu.
"Sudah dingin, minim bicara, muka datar seperti papan gilasan, sangat tertutup juga… bagai mana cara kau bisa menjadikan Naruko pacarmu?" Sang pemuda Inuzuka cemberut, ia memangkukan kepalanya ke sebelah tangannya; tentu saja ia sedikit tidak rela melihat lelaki yang ada di depannya sekarang adalah kekasih Naruko karena ia adalah salah satu kontestan yang kalah dalam memenangkan hati sang putri Hokage ke empat tersebut "Naruko sangat keras kepala dan tidak peka, sudah berapa banyak laki-laki yang di tolak tanpa Naruko sendiri sadari bahwa ia sudah menolak mereka"
"Sudah banyak laki-laki yang gugur dalam memenangkan hati Naruko! Aku juga jadi penasaran" Sang pemuda berspandeks menatap lekat-lekat Tobirama yang hanya buang muka, ia memang bukan salah satu orang yang menyukai Naruko (karena ia menyukai Sakura dulu) namun ia tahu seberapa tidak pekanya sang gadis bersurai kuning tersebut.
"…Jelaskan apa yang kalian maksud dengan 'tidak peka'." Merasa bahwa ia tidak akan bisa pergi dari tempat tersebut tanpa setidaknya memuaskan rasa penasaran teman-teman Naruko, Tobirama akhirnya menghela nafas pasrah dan membetulkan posisi duduknya menjadi lebih nyaman.
"Yaah… kita ambil contoh saja dengan Sasuke yang mencoba mendekati Naruko" Kiba menunjuk Sasuke dengan jempolnya, tidak memperdulikan tatapan maut sang pemuda Uchiha "Ia adalah teman masa kecil Naruko dan rekan satu kelompok dan bahkan rekan kelompoknya yang satu lagi menyadarinya duluan dari pada Naruko sendiri"
"Aah, aku pernah melihat dirimu memberikan bunga kepada Naruko berkali-kali, apakah itu artinya kau menyukai Naruko dan juga termasuk ke dalam kumpulan pria yang gugur?" Seorang pemuda berkulit putih pucat yang sedari tadi diam saja akhirnya berbicara dengan senyum yang terlihat palsu terlukis di wajahnya.
"Wha—Sai! Bagai mana kau bisa tahu!" Wajah sang pemuda Inuzuka pelan-pelan memerah dan ia mengerang pelan.
"Masa kau lupa kalau Sai adalah rekan kelompok Naruko menggantikan Sasuke waktu itu" Shikamaru memangkukan kepalanya ke tangannya sebelum menguap, sepertinya ia tidak ingin berada di sini juga seperti Tobirama dan Sasuke "Jadi kemungkinan Sai bisa bersama dengan Naruko sangatlah besar"
"Hee, bagai mana dengan Hinata? Ia juga menyukai Naruko dulu sebelum akhirnya ia berganti halauan setelah mendengar Naruko straight dan hampir semua orang sudah mengetahuinya kecuali Naruko sendiri" Sang pemuda Akimichi berhenti makan sebentar untuk berbicara, piring yang tadi di sodorkan oleh Tobirama sudah kosong dan ia sudah memesan lagi.
"Atau Gaara! Aku pernah dengan bahwa Gaara sampai membuatkan ruangan tersendiri untuk Naruko di Suna" Sang laki-laki berspandeks mengangguk-angguk sendiri, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Intinya, bagai mana bisa kau yang kelihatan sangat dingin seperti Sasuke bisa membuat Naruko membalas perasaanmu!" Sang pemuda Inuzuka menatap lekat-lekat Tobirama di ikuti oleh yang lainnya (dengan pengecualian Sai yang sepertinya tidak tahu apa-apa), bahkan Sasuke juga ikut menatap dirinya dan ingin mengetahui jawabannya juga.
"…Kalian ini…kalau tahu seperti itu: kenapa kalian masih bertanya kepadaku? Kalian seharusnya sudah mengetahui jawabannya" Tobirama menghela nafas lelah, ia seperti kembali lagi ke masa di mana ia harus mengajar murid-muridnya dulu yang terkadang otaknya konslet sendiri padahal jawaban dari pertanyaan mereka sudah ada di depan mata.
Melihat ekspresi bingung yang lain, Tobirama hanya bisa menggeleng dengan pelan, inikah generasi selanjutnya para ninja? Mereka seharusnya pintar, mengapa tiba-tiba otak mereka konslet seperti ini? Kenapa dirinya yang seharusnya dari generasi sebelumnya—generasi yang tidak mengerti dalam masalah percintaan dan lebih mementingkan latihan untuk perang, bisa lebih berpengetahuan dari pada mereka?
"Kalau kalian tahu Naruko tidak peka, kenapa masih saja memberikan kode-kode kepadanya?"
Hening.
"Ha?" Semua teman-teman Naruko berkata dengan bersamaan dan memiringkan kepala mereka dengan bingung—dengan pengecualian Shikamaru yang sepertinya sudah mengerti dan hanya menghela nafas pendek dan bermain-main dengan makanannya dan Sai yang masih tidak mengerti.
"Biar aku tebak, Sasuke memperlihatkan bahwa dirinya menyukai Naruko dengan cara mengganggunya dan berpura-pura menjadi 'rival' untuk Naruko, kau memberikan bunga kepada Naruko tanpa menjelaskan mengapa kau memberikannya, sang gadis Hyuuga terlalu pemalu untuk berkata secara langsung dan akhirnya hanya berani menguntit Naruko, dan sang kazekage sendiri sebenarnya tidak mengerti bagai mana cara mendekati Naruko dengan benar dan akhirnya selalu berkata bahwa Naruko adalah teman pertamanya"
Tobirama sudah bisa mengetahui bahwa apa yang ia katakan adalah kebenaran di lihat dari ekspresi yang di kenakan oleh yang lainnya.
"Sampai sepuluh generasi Hokage juga Naruko tidak akan menyadarinya, tahu Naruko tidak peka, masih memberi kode-kode rumit, yah itu salah kalian sendiri" Tobirama memutar bola matanya dengan bosan sebelum bangun dari posisinya dan menggunakan kesempatan di mana teman-teman Naruko sedang memproses apa yang baru saja ia katakan untuk kabur; ia tidak mau lama-lama berada bersama mereka, takut otaknya menjadi tumpul juga seperti mereka. Masalah sempele seperti ini kenapa di besar-besarkan coba, bikin sakit kepala saja.
Di saat ia sudah keluar dari restoran, Tobirama mendengar teman-teman Naruko berseru 'OOOH!' secara serempak dan akhirnya mengerti apa yang baru saja ia katakan, membuat sang pemuda bermanik crimson menggeleng dengan pelan dan memijat keningnya.
Ia langsung kabur secepat mungkin pergi ke apartment milik Naruko sebelum semua teman-teman Naruko semakin penasaran dan mencoba menangkapnya lagi, sudah cukup kekacauan dan sakit kepala yang ia dapatkan, tidak perlu di tambah-tambah lagi; ia sudah muak.
Tobirama menatap kosong pemandangan yang menyapanya di saat ia memasuki apartment milik Naruko.
Pemandangan yang menyapanya adalah sang pemilik apartment sedang terbaring di lantai ruang tamu, meringkuk sambil memeluk spatula dengan dapur yang sudah mirip kapal pecah menjadi backgroundnya.
Manik crimson miliknya bergerak secara perlahan dari Naruko yang sedang terbaring di lantai ke dapur yang sudah mirip kapal pecah dan akhirnya ke sebuah buku yang tergeletak di atas meja makan.
Tobirama langsung bisa mengetahui apa yang terjadi sebelumnya dan mengapa kekasihnya sekarang sedang meringkuk di lantai dan ia bisa mendengar tangis yang tertahan milik Naruko.
Ia berjalan perlahan sang gadis bersurai kuning sebelum menggendong Naruko layaknya pengantin baru, sang gadis bersurai kuning langsung melingkarkan tangannya di lehernya dan membenamkan wajah cantik jelitanya ke dada bidangnya.
"WAAAAAAH" Dan tangis Naruko semakin menjadi-jadi, membuat Tobirama menghela nafas pendek sebelum membelai kepala sang gadis.
"Kau ingin masak—makan apa?" Tanya Tobirama dengan halus sebelum meletakkan sang gadis ke atas sofa sebelum menyadari bahwa Naruko tidak mau melepaskan dirinya sehingga ia akhirnya memilih untuk duduk di atas sofa dan meletakkan Naruko di pangkuannya.
"Hiks… salmon teriyaki…" jawab Naruko di tengah-tengah tangisannya, ia mencoba mengelap air matanya dengan lengan pakaiannya.
Tobirama membuat sebuah bunshin dan menyuruh bunshin miliknya untuk pergi ke pasar secepatnya untuk membeli bahan-bahan memasak makanan yang Naruko inginkan, karena kalau di lihat dari kekacauan di dapur Naruko: tidak ada bahan yang selamat dari amukan sang gadis bersurai kuning.
Ini bukan kali pertama kalinya hal seperti ini terjadi, malahan ini selalu terjadi sebulan sekali.
Ini adalah buah hasil dari sang gadis yang sedang datang bulan.
Kronologinya adalah: sang gadis mengidamkan sebuah makanan dan mencoba untuk pergi keluar untuk makan, namun karena moodnya sedang buruk (karena sedang datang bulan) ia tidak mau bertemu dengan banyak orang atau makan secara terbuka jadi ia mencoba memasak sendiri, di saat ia mulai memasak; ia punya kesabaran setipis kertas dan ia ingin semuanya serba instan yang akhirnya berakhir dengan dirinya mencoba mempercepat proses memasak… dengan menggunakan jutsu.
Dan inilah hasilnya.
Atau seperti bulan lalu, di mana sang gadis sangat menginginkan boneka berbentuk Kurama (yang pastinya tidak di jual di manapun maupun ada) berakhir dengan sang gadis hampir membombardir sebuah toko jahit; meminta pekerja toko tersebut membuatkan dirinya boneka tersebut detik itu juga dan harus selesai detik itu juga.
"Tunggulah sebentar, sementara waktu makan ini dulu" Tobirama mengambil coklat yang ia beli di perjalanan ke apartemen milik sang gadis, beruntung ia punya feeling bahwa ada sesuatu yang aneh dan terlupakan tadi pagi, ia tidak sempat mengecek kalender miliknya sebelum ia di culik oleh teman-teman Naruko.
Naruko langsung menyambar coklat yang ada di tangan Tobirama dan membukanya sebelum menggigit coklat tersebut dan mengemutnya, ia cemberut dan matanya yang masih sembab berkaca-kaca, membuat dirinya terlihat menggemaskan di mata kekasihnya.
Tobirama memangkukan kepalanya di sebelah tangannya sedangkan yang sebelah lagi masih melingkar di pinggang sang gadis bersurai kuning, ia melirik bunshinnya yang sudah kembali dari pasar dan sekarang sedang memasak di dapur.
Ia menutup matanya dan menghela nafas pendek, ia merasa lelah tiba-tiba saja—kemungkinan besar lelah batin setelah di tangkap dan di introgasi oleh teman-teman Naruko, ia menutup matanya dan membetulkan posisinya agar menjadi lebih nyaman sambil memastikan Naruko tidak terganggu; bisa-bisa sang gadis cantik ngambek nanti.
"Kau mau ke mana Tobi?" Seorang pemuda berambut coklat panjang tiba-tiba berhenti berjalan di saat ia melihat seorang pemuda bersurai putih yang sangat ia kenal.
"…Jalan-jalan" Jawab sang pemuda yang di panggil 'Tobi' tanpa berhenti berjalan hingga ia sampai di depan pintu keluar, ia mengenakan sandal yang terletak di depan pintu keluar dan melambai ke arah pemuda bersurai coklat "Aku akan pulang malam, kau makan malam duluan saja kak kalau aku belum kembali"
"Eeh! Ayo makan malam bersama!" Rengek sang pemuda bersurai coklat yang ia panggil 'kakak', walau tubuhnya terlihat seperti seorang pemuda berumur duapul tahunan, sifatnya sudah seperti seorang anak kecil yang merengek minta di belikan balon "Hari ini Mito memasak makanan khas di musim semi loh!"
Sang pemuda bersurai putih sepertinya tidak terpengaruh oleh sifat kekanak-kanakan kakaknya dan tidak terlalu memperdulikannya, ia hanya menggeleng pelan dan menutup pintu keuar rumah sebelum berjalan menelusuri jalan setapak untuk pergi ke tempat di mana ia biasa menghabiskan waktu bila ia sedang ingin sendirian.
Tempat tersebut terletak di sebelah forest of death dan ia biasa latihan di tempat tersebut sendirian, terutama bila ia sedang tidak mood atau terkadang di kala ia ingin menciptakan jutsu baru.
"Hah aku yakin kau—ADUH!" seorang bocah laki-laki tidak sengaja menabrak dirinya dan hampir kehilangan keseimbangan kalau ia tidak menarik tangan bocah tersebut.
"Hati-hati kalau berjalan dan lihat ke depan, Saru" sang bocah yang ia panggil Saru menggaruk belakang kepalanya sebelum mendongak ke atas untuk melihat wajahnya, matanya membulat di saat ia menyadari siapa yang baru saja ia tabrak.
"Tobirama-sensei!" Saru langsung melompat mundur sebelum ia menoleh ke belakang untuk melihat kedua temannya berlari ke arahnya dan juga sama-sama terkejut melihat dirinya.
"Ah! Sensei! Selamat sore" Salah satu teman Saru yang bersurai hitam menunduk untuk memberi hormat kepada gurunya, lambang Uchiha tertera di kantung pakaiannya yang terlihat sedikit kotor.
"Se-selamat sore Tobirama-san!" Kata temannya yang satu lagi yang memiliki luka di dagunya, ia terlihat sedikit malu-malu dan tidak berani menatap secara langsung mata guru temannya.
"Apa yang baru saja kalian lakukan, pakaian kalian kotor seperti itu…" Tobirama, sang pemuda bersurai putih, menaikkan sebelah alisnya melihat keadaan ketiga bocah yang ada di depannya: di penuhi debu dan kotoran dan pakaian mereka juga terlihat sangat kotor "Kalian tidak berbuat onar bukan…"
"A-ah! Tentu saja tidak kok Sensei! Sungguh!" Saru menggeleng dengan cepat, wajahnya sedikit pucat karena menerima tatapan tajam dari gurunya "Malah sebaliknya! Kami baru saja berbuat hal baik!"
"Hiruzen berkata jujur! Kami baru saja membantu seseorang!" Sang bocah Uchiha mengangguk setuju dan mencoba membantu meyakinkan gurunya, ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan beberapa buah permen "Bahkan kami mendapat imbalan!"
"Membantu…?" Tobirama menatap kosong permen yang di sodorkan di depannya sebelum ia menyadari bahwa ini adalah kali pertama ia melihat ada permen yang bentuknya unik seperti yang di sodorkan di depannya; permen tersebut berwarna warni dan terlihat keras serta di bungukus dengan unik "…Apa itu?"
"A-ah! Ini namanya permen loly! Kami dapat dari membantu seseorang yang baru saja pindah dari luar ke Konoha!" Jawab bocah yang memiliki luka di dagunya, ia juga mengeluarkan permen miliknya dan menyodorkannya kepada sang pemuda bersurai putih"Tobirama-san mau?"
Tobirama hanya menggeleng dengan pelan, mana mungkin ia mau memakan makanan yang warnanya terlihat nyentrik seperti itu, sekalipun itu permen, terutama makanan yang ia tidak pernah kenal "Tidak, terimakasih, kalian bertiga pulanglah, sudah mau malam juga"
Ketiga bocah laki-laki di depannya mengangguk dan melanjutkan perjalanan mereka setelah melambai kepada dirinya, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan ketiganya di saat mereka melewati dirinya.
"Hei hei! Kakak yang memberikan permen kepada kita itu terlihat cantik ya!"
"Tapi ia laki-laki, menurutku bukan cantik sih; lebih tepatnya terlihat feminim"
"Yah tapi aku suka warna mata kakak itu! Seperti warna langit di pagi hari"
Tobirama hanya menggeleng pelan dan melanjutkan perjalanannya, bukan hal yang aneh melihat ada orang baru yang berpindah dari suatu tempat dan akan menetap di Konoha, terutama di saat desa Konoha masih dalam tahap pembuatan dan menerima kedatangan para pengelana di luar sana yang mencoba mendapatkan tempat tinggal tetap.
Ia terus berjalan hingga ia mendengar suara seseorang dari kejauhan.
"Ah! Seseorang, tolong tangkap katak itu!"
Tobirama menaikkan sebelah alisnya, katak kok minta di tangkap? Hingga ia hampir melompat karena kaget melihat seekor katak sebesar kucing melompat ke arahnya dan karena refleks; ia menangkap katak tersebut namun menahan diri untuk tidak melempar katak tersebut jauh-jauh karena reflex (lagi).
"Hah… Hah… te-terimakasih sudah menangkapnya!" orang yang tadi meminta di tangkapkan katak tersebut kini berada di samping nya, ia menunduk dan mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan dan mengelap keringat yang membasahi keningnya.
Tobirama menatap lekat-lekat surai kuning orang tersebut sebelum orang tersebut mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya.
Kulit coklat eksotis dan manik biru cerah adalah hal yang membuat Tobirama sedikit tersentak kaget namun menahan diri dan tetap memasang poker face, wajah gadis (?) tersebut terlihat sangat manis namun di saat manik crimson milik Tobirama melihat pakaian (atau lebih tepatnya) tubuh sang gadis; terlihat dengan jelas bahwa ia adalah laki-laki dan bukanlah perempuan.
"A-ah! Ma-maaf kalau saya lantang tuan Tobirama" Sang pemuda bersurai kuning langsung menunduk minta maaf sebelum menerima katak yang di tangkap oleh Tobirama.
Kini Tobirama menyadari bahwa suara milik pemuda di depannya terdengar sedikit berat dan memang suara milik laki-laki.
Entah mengapa, ia sendiri tidak mengerti namun ada perasaan kecewa yang sangat besar di dalam hatinya walau sejujurnya jantungnya berdetak sedikit lebih cepat tadi, ada apa ini?
"Maafkan saya yang tidak memperhatikan dengan baik peliharaan saya, ia jadi kabur… namun terimakasih banyak sudah menangkapnya!" Sang pemuda bersurai kuning tersenyum kecil, ia menunduk sekali lagi "Saya baru saja pindah dari luar ke sini, mohon kerja samanya"
Tobirama diam saja, manik crimsonnya berkedip berkali-kali menatap pemuda di depannya sebelum ia terbangun dari lamunannnya di saat sang pemuda bersurai kuning memiringkan kepalanya dan menatap bingung dirinya.
Sejak kapan ada laki-laki yang bisa jadi menggemaskan seperti itu atau otaknya sudah konslet? Ia normal!
"Ah… selamat datang di Konoha" Tobirama mengangguk dan sang pemuda bersurai kuning tersenyum lebar.
"A-ah! Hampir sama aku lupa untuk memperkenalkan dirinya!" Sang pemuda bersurai kuning mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sementara yang sebelah lagi menahan katak peliharaannya "Salam kenal tuan Tobirama"
"Nama saya Namikaze Haruto"
"…bi…Tobi!"
Tobirama terlonjak kaget mendengar namanya di panggil, kepalanya hampir terjatuh dari pangkuan tangannya dan ia berkedip dengan cepat beberapa kali, ia melirik ke bawah untuk melihat Naruko yang sedang cemberut dan menatap sedikit kesal dirinya.
"Aku sudah panggil berkali-kali! Kenapa kau melamun!" Naruko menggembungkan pipinya, di sebelah tangannya ia memegang piring berisi makanan yang ia inginkan tadi dan sebelah tangannya memegang sumpit yang ia sodorkan kepada dirinya "Suapin! Aku mau sambil menggambar!"
Tobirama berkedip berkali-kali, sepertinya ia malah jadi melamun—atau ketiduran sambil menunggu bunshinnya selesai memasak untuk Naruko, ia tersenyum kecil dan menerima sumpit yang Naruko berikan.
Sebenarnya hari dimana Naruko datang bulan tidak selalu membawa keburukan, mungkin terkadang Naruko menjadi cepat emosi dan terkadang suka meminta hal-hal yang absurb namun di saat ia datang bulan; Naruko jadi seratus kali lebih manja dari biasanya.
Di mana biasanya ia suka malu-malu dan bersikap layaknya ia sudah dewasa dan mapan untuk menutup-nutupi sikap kekanak-kanakannya dari dirinya karena malu, di saat ia datang bulan; ia akan jadi sangat blak-blakan dan sangat manja kepada dirinya, yang tentu saja membuat dirinya senang.
Tidak ada hal yang lebih ia sukai selain memanjakan kekasihnya—sifat yang di turunkan dari kakaknya.
'Sudah lama sekali aku tidak mengingat waktu itu… di saat aku pertama kali bertemu sahabat karibku' Pikir Tobirama dengan senyum menghiasi wajahnya sambil menyuapi sang gadis bersurai kuning yang sedang menggambar seekor rubah dengan pensil warna berwarna orange gelap.
Ia menyuapi Naruko sambil sesekali mengomentari gambar sang gadis, Naruko tidak di hadiahkan dengan talenta menggambar seperti rekan satu kelompoknya yang bernama Sai sehingga gambar yang ia hasilkan tidak semirip yang sang gadis bayangkan dan inginkan.
Naruko sudah menyobek dan membakar delapan kertas dan mematahkan enam buah pensil warna dalam waktu delapan menit, ia sudah mulai habis kesabaran dan sudah hampir menangis, manik biru cerahnya berkaca-kaca; ia menatap kesal kertas yang ada di depannya dan mematahkan pensil warna yang sedang ia pegang.
Pensil warna ke tujuh kini telah gugur.
Melihat Naruko sudah mulai naik pitam; Tobirama bangun dari posisi duduknya dan menggendong Naruko layaknya pengantin baru.
"Ayo kita jalan-jalan di luar, mumpung taman sedang sepi"
"Uhm… selamat pagi Tobi-kun" Naruko menguap lalu mengusap matanya dengan sebelah tangannya sedangkan yang sebelah lagi sedang membukakan pintu untuk kekasihnya agar ia bisa masuk ke apartmentnya.
Tobirama tersenyum kecil melihat Naruko yang kelihatan jelas baru bangun, ia masih mengenakan piayama berwarna orange gelap miliknya dan surai kuningnya yang ia gerai terlihat sangat berantakan "Ini sudah jam 7"
"Masih termasuk pagi" Naruko menguap untuk kedua kalinya, matanya yang masih tidak focus memperhatikan kekasihnya masuk ke dalam apartmentnya sebelum ia menutup pintu "Aku tidur jam 12 semalam"
Naruko memperhatikan kekasihnya yang sedang membuka kulkas dan mengeluarkan karton susu dan telur sebelum berjalan ke dapur untuk memasak, merenggangkan tubuhnya dan berjalan dengan lunglai ke sofa yang ada di ruang tengah dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa untuk kembali tidur.
Tobirama melirik Naruko yang sedang meraih boneka berbentuk Kurama dan memeluknya, ia menggeleng dengan pelan melihat sang gadis bersurai kuning sudah ingin kembali ke dunia mimpi.
"Aku tidak mungkin bangun sepagi itu… aku butuh minimal 8 jam tidur setiap hari…" Haruto nyengir, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal "Lagi pula aku bukan seorang ninja, jadi aku tidak punya misi maupun harus bangun pagi untuk latihan"
Tobirama menggeleng pelan sebelum ia menyalakan kompor dan mulai menggoreng telur yang tadi ia keluarkan dari kulkas milik Naruko, ternyata memang sudah kebiasaan yang di bawa turun temurun.
"Eh? Dari mana aku belajar menggunakan kunai? Tidak pernah tuh" Haruto memiringkan kepalanya, ia bermain dengan kunai yang ada di tangannya sebelum melemparnya ke sebuah pohon dan tepat mengenai salah satu buah yang tumbuh di pohon tersebut "Aku hanya sering melihat kau dan Hashirama-sama latihan saja—terkadang Madara-san juga"
'Memang sudah bakat yang di turunkan; hanya berbeda cara saja' Tobirama menghela nafas pendek, ia membalik telur yang sudah sebelah matang sebelum melirik pahatan Hokage ke empat.
"Ah, Tobirama! Aku ada ide untuk nama jutsu baru milikmu! Namanya kako—eh? Kenapa kau menatap tajam diriku seperti itu?" Haruto mulai memberikan jarak lebih dari Tobirama, melihat temannya yang satu itu memberikan tatapan kau-lanjutkan-omonganmu-dan-kubunuh-kau kepada dirinya.
'Untungnya Naruko tidak menurunkan sifat itu… untung hanya Minato saja' Tobirama mematikan kompor dan menyajikan telur yang baru saja ia masak di meja makan dan menuangkan susu di gelas yang sudah ia letakkan di meja makan.
"Bangun…" Setelah menyiapkan meja makan, Tobirama berjalan mendekati sofa tempat Naruko sedang tidur dan menemukan Naruko sudah kembali tertidur dengan pulas.
"Ugh… satu jam lagi…" Naruko protes, ia membenamkan wajahnya di boneka yang ia peluk dan mencoba menjauhkan diri dari kekasihnya yang mencoba menariknya dari sofa.
Melihat sang gadis Uzumaki tidak ingin bangun, Tobirama menghela nafas lelah, Naruko memang terkadang sangat sulit di bangunkan, namun tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.
Naruko mulai merasa tidak nyaman, padalhal ia tidak mengenakan selimut namun mengapa ia malah kepanasan? Kenapa ia merasa seperti terperangkap di dalam jeruji besi? Kenapa Kurama seperti sedang menahan tawa?
Merasa tidak nyaman dan aneh, Naruko mulai memberontak dan mencoba memutar tubuhnya untuk kabur namun tidak bisa karena tertahan sesuatu yang bentuknya menyerupai tangan.
Naruko membeku seketika.
Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya dan ia mulai bisa merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
Pelan-pelan ia membuka matanya namun ia tidak berani memutar tubuhnya untuk berhadap-hadapan dengan orang yang memerangkap dirinya dan kini sedang ada di atasnya "A-aku bangun!'
Orang yang ada di atasnya, kekasihnya, tidak beranjak dari posisinya.
"Se-serius! Aku bangun! Janji! Aku tidak akan tidur lagi" Wajah Naruko sudah sama warnanya dengan makanan kesukaan sahabatnya yang berasal dari klan Uchiha, ia mulai panik dan akhirnya menyembunyikan wajahnya di boneka yang sedang ia peluk.
Kurama terkekeh pelan, ia tahu seberapa grogi wadahnya bila sudah menyangkut hal-hal seperti ini, terutama bila kekasihnya yang sudah mulai berulah.
Naruko terperanjat di saat ia merasakan kekasihnya kini menindih tubuhnya, membuat dirinya tidak bisa berkutik dan semakin panik, ia berjuang untuk melepaskan diri namun berat badan di tambah kekuatan Tobirama sudah lebih dari cukup untuk membuat Naruko tidak bisa bergerak sama sekali.
"Le-lepaskan! A-ayolah! Jangan be-bercanda terus, ma-makanannya nanti dingin; a-aku belum sarapan" Naruko mulai kesulitan untuk berbicara dan menyusun kata-kata, bukan karena sesak nafas karena di tindih tapi karena ia mulai jadi semakin panik dan ia mulai jadi salah tingkah akibat dari Tobirama yang menahan kedua tangannya.
"Diam sebentar" Tobirama tidak menghiraukan apa yang baru saja kekasihnya katakan, ia membenamkan wajahnya di sela leher kekasihnya.
Naruko merinding seketika di saat ia bisa merasakan nafas hangat kekasihnya di lehernya dan bulu kuduknya naik semua, ia semakin memberontak di saat ia merasakan Tobirama membuka dua kancing piayamanya dan menarik sedikit pakaiannya hingga pundaknya terekspos.
Naruko bisa merasakan jantungnya berdegup dengan semakin kencang, ia berani bertaruh kalau kekasihnya bahkan bisa mendengar suara degup jantungnya.
Berbagai sekenario muncul di kepalanya dan semuanya berasal dari buku Icha Icha karya ayah angkatnya, di saat seperti ini ia ingin menghajar gurunya yang menjadikan dirinya editor dari novel mesumnya dan memaksa dirinya membaca buku tersebut hingga ia jadi mengingat adegan-adegan yang terjadi di novel tersebut.
Bagai mana tidak, apa yang sekarang tengah terjadi kepada dirinya sangat mirip dengan salah satu adegan di novel tersebut di mana sang pemeran laki-laki sedang memerangkap sang pemeran perempuan dan mereka berakhir… Ya seperti itulah, namanya juga novel porno.
Naruko sudah mulai berfikir yang tidak-tidak dan lalu—
"KYAA! SAKIIIIT!" Naruko berteriak sedikit tertahan di saat ia merasakan Tobirama menggigit pundaknya dengan sangat keras, ia tahu bahwa akan ada bekas gigitan di pundaknya. Naruko mulai memberontak dan setelah beberapa saat barulah Tobirama melepaskannya dan bangun dari posisinya yang tadi sedang menindih tubuhnya.
"Ke-kenapa kau menggigitku!" Naruko memegang tempat di mana kekasihnya menggigit dirinya dan bisa merasakan bekas gigitan yang terjiplak di kulitnya, wajahnya yang tadinya memerah karena malu berubah menjadi setengah malu dan setengah marah.
"Sedikit percobaan" Jawab Tobirama dengan enteng, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menyeringai melihat kekasihnya cemberut sambil menatap dirinya "Kau tahu rekan satu klan Uzumaki yang bernama Karin? Ia bisa mengobati seseorang dengan membiarkan orang tersebut menggigit dirinya"
Naruko membenamkan wajahnya ke kedua tangannya, ada perasaan frustasi mendengar jawaban kekasihnya sebelum ia kini membenamkan wajahnya ke boneka milik Kurama dan berteriak di boneka tersebut.
"…Memangnya kau kira aku ingin melakukan apa?"
Naruko langsung menjauh sejauh mungkin dari kekasihnya dan dalam waktu sekejap sudah berada di meja makan dan tengah memakan sarapan buatan Tobirama dengan sedikit terburu-buru, ia juga menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepalanya agar rambutnya menutupi wajahnya dari pandangan kekasihnya.
'Diam… pokoknya diam ah Kurama!" Naruko mendesis melihat Kurama memberikan dirinya tatapan usil dan menyeringai, ia tahu kalau Kurama bisa membaca pikirannya dan sudah siap mengganggunya mengenai imajinasinya beberapa detik yang lalu.
Naruko buru-buru membereskan meja makanannya dan berlari ke kamar mandi di saat ia merasakan Tobirama berjalan mendekat ke arahnya "Akuselesaimakan akumaumandidulu"
BLAM
Dan pintu kamar mandi di tutup dengan tidak halus.
Tobirama tertawa pelan melihat kelakuan Naruko, ia memang tidak pernah bosan melihat kelakuan unik sang gadis bersurai kuning.
Merasa bahwa Naruko tidak akan keluar dari kamar mandi dalam jangka waktu dekat, Tobirama memutuskan untuk menunggu sambil membaca koleksi buku yang di miliki oleh sang gadis bersurai kuning dan duduk di sofa.
Ia mengambil salah satu buku secara random dan mulai membacanya, samar-samar ia bisa mendengar suara Naruko yang sedang adu argumen dengan seseorang di kamar mandi, tentu saja orang tersebut adalah Kurama dan karena ia kesal ia jadi tidak sengaja berbicara secara langsung; membuat dirinya seperti sedang bicara sendiri.
Ia menunggu dengan sabar Naruko selesai mandi sambil membaca buku yang ia pegang, namum pikirannya sebenarnya sedang tidak berada di buku tersebut, matanya melirik segel yang ada di lengan kirinya.
Di dalam segel tersebut, ia menyimpan sebuah kotak kecil berwarna orange terang yang isinya sudah tiada.
Tobirama menyeringai dan tertawa pelan, sekarang tinggal menunggu sang gadis menyadari bahwa ia telah memasangkan isi kotak tersebut ke jari sang gadis.
"EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHH" Teriakan sang gadis bersurai kuning bisa terdengar dari arah kamar mandi dan suara seperti sesuatu terjatuh dengan tidak anggun.
Tobirama tertawa pelan mendengar sang gadis bersurai kuning terlihat sedang buru-buru di dalam kamar mandi dan suara benda-benda jatuh dari arah kamar mandi, tidak lama kemudian sang gadis keluar dalam keadaan rambut berantakan, pakaian tidak karuan, dan wajah semerah kepiting rebus.
"A-A-APA I-ITU—EH-INI MA-MAKSUD K-KU" Naruko sudah seperti orang gagap saking paniknya, ia menunjukkan cincin dengan berlian sebagai hiasannya yang melingkar di jarinya, manik biru cerahnya terlihat berkaca-kaca dan tidak fokus.
"Cincin lamaran" Jawab Tobirama dengan enteng, ia pura-pura cuek dan sibuk membaca buku yang ia pegang, ia bahkan tidak menatap Naruko secara langsung di saat menjawab.
"KA-KAPAN KA-KAU ME-MEMASANGNYA!" Naruko stress sendiri, otaknya yang tidak encer konslet mendadak di saat ia menyadari bahwa ada cincin yang melingkar di jarinya di saat ia sedang membuka baju untuk pergi mandi dan ia langsung buru-buru memakai pakaiannya kembali hingga ia terjatuh di kamar mandi karena saking paniknya.
"Tadi di saat aku menindih dirimu, aku menggigit lehermu agar kau tidak merasakan bahwa aku memasangkan cincin di tanganmu" Masih berpura-pura cuek, Tobirama membuka halaman selanjutnya buku yang ia pegang, ia bahkan memangkukan kepalanya ke sebelah tangannya.
"LA-LAMARANKAN SEHARUSNYA KAU BERTANYA TERLEBIH DAHULU, AKU MENERIMA ATAU TIDAK!" Naruko membenamkan wajahnya ke kedua tangannya, ia merasa wajahnya sangat panas sekali dan tubuhnya gemetaran tidak karuan, begitu banyak perasaan yang muncul dan menjadi campur aduk hingga ia tidak tahu ingin mengekspresikan yang mana dulu.
"…Kau tidak mau menjadi istriku?" Tobirama menutup buku yang tadi ia pegang dan meletakkannya di meja di depannya sebelum menarik Naruko hingga sang gadis duduk di pangkuannya sebelum memeluk dengan erat sang gadis, sebuah senyum kecil terlukis di wajahnya di saat ia menyadari bahwa Naruko sedang menangis.
Naruko sudah kehabisan kata-kata, ia tidak menjawab secara langsung pertanyaan Tobirama dan terus menangis sambil memeluk sang pemuda bersurai putih dan membenamkan wajahnya ke dada bidang kekasihnya.
"Aku anggap jawabanmu adalah kau mau" Tobirama memeluk dengan erat sang gadis dan membenamkan wajahnya di surai bak mas kekasihnya—sekarang calon istrinya.
"Kau tidak mau mencari istri, Tobirama?" Haruto menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung sahabatnya yang sedang berlatih melempar kunai di depannya, ia duduk bersila dan menonton dari jauh di sebuah batu di dekat sang pemuda bersurai putih.
"…Pertanyaan random macam apa itu" Tobirama menghela nafas pendek sebelum melempar sebuah kunai yang mengenai tepat sasaran, ia hanya melirik temannya sebentar sebelum kembali memfokuskan diri untuk kembali latihan.
"Yah… umurmu sudah cukup mapan untuk menikah kau tahu… bahkan aku sudah lebih dahulu menikah dari pada dirimu" Haruto cemberut, ia memangkukan kepalanya ke sebelah tangannya "Aku ingin menjadi pengirim pengantin laki-laki untukmu"
"…Alasan yang absurb" Tobirama menggeleng pelan sebelum ia memutuskan untuk menyudahi latihannya dan mengambil handuk yang ada di sebelah Haruto untuk mengelap keringatnya.
"Kau ini… kau punya banyak penggemar kau tahu, tapi kau malah menjadi workaholic dan tidak memperdulikan mereka" Haruto menghela nafas pasrah, ia akui bahwa temannya yang satu ini sangat menarik untuk standar perempuan, banyak sekali wanita yang jatuh hati kepada dirinya—bahkan dulu istrinya sempat menyukai dirinya sebelum berhenti karena menurut istrinya: ia terlalu dingin dan ia lebih menyukai laki-laki yang periang, makannya istrinya memilihnya.
"Mana mungkin aku mau dengan seseorang yang hanya tertarik karena penampilanku" Tobirama memutar bola matanya dengan bosan, ia mengambil botol air yang di tawarkan oleh Haruto dan mulai meminumnya.
"Hee… keren sekali" Haruto tertawa pelan "Kalau aku perempuan: aku pasti sudah jatuh cinta kepada dirimu, habis kau keren dan pintar sekali sih"
Tobirama hampir tersedak minumannya dan berhenti minum sebentar dan melirik Haruto sebelum kembali meminum sampai habis air di dalam botol yang ia pegang dan meletakkannya kembali ke sebelah Haruto.
"Eh? Kenapa kau mendadak terlihat marah? Akukan hanya bercanda—eh! Jangan tinggalkan aku! Tobirama! Heeeiii! Tunggu aku!" Haruto buru-buru merapihkan barang-barang yang Tobirama tinggalkan untuk ia bawa sebelum mengejar temannya yang tiba-tiba saja meninggalkan dirinya.
When Oblivious become Obvious
Fin
To Be Continue
!Author Notes!
Halo para pembaca sekalian! Sudah lama sekali saya tidak mengup-date fic ini! maafkan saya, saya kehabisan ide dan terkena writer block! Namun tenang saja, sekarang saya mendapat ide cukup banyak untuk melanjutkan cerita ini!
Bagi yang penasaran atau tidak mengerti: Haruto adalah OC bikinan saya dan merupakan kakek moyang Naruko dan Minato, sebenarnya ia hanya untuk menjelaskan mengapa Tobirama bisa dekat dengan Minato di saat perang karena ia mengingatkan Tobirama dengan Haruto yang merupakan sahabat karibnya dulu.
Bisa di bilang bahwa Haruto adalah campuran dari Minato dan Naruto, Ia memiliki sifat Happy-go-lucky milik Naruto dan otaknya encer seperti Minato.
Nama Haruto saya ambil dari kata Haru (Musim semi) karena itu adalah waktu di mana ia pertama kali bertemu Tobirama dan Tonya dari NaruTO dan MinaTo… iya, saya tidak pintar bikin nama… hahahahahhahaha *meringis*
Tadinya mau membuat chapter pernikahan Tobirama dan Naruko… tapi karena baru teringat harus di lamar dulu jadinya… begitulah…
Chapter selanjutnya adalah AU (Alternate Universe)! Special chapter untuk merayakan fanfic ini dapat 100 Review (telat sebenarnya).
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
