Another Dimension : Change Destiny.

Disclamer : Semua karakter dalam fict ini bukanlah milik saya, jika ada yang bilang ini milik saya jangan pernah percaya.

Pair : — ?

Rate : Maybe M? Untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba Author pengen masukin lime / lemon.

Genre : Fantasy, Adventure, Suprantural, and etc.

Warning : OOC, OC, Typo, Mainstrem, Human!Naru.

Summary :

Naruto menikmati kehidupannya yang sekarang, semua usahanya terbayar lunas, terlebih setelah lewatnya PDS 4. Namun karena beberapa hal tidak terduga, Naruto terpaksa pergi dari dimensinya untuk menyelamatkan teman dan sahabatnya. Bagaimanakah kisah Naruto selanjutnya, akankah dia berhasil berhasil mengubah takdir yang menantinya, ataukah takdir yang sedang mempermainkannya?

Chapter 2 : Kehidupan sekolah, Pertemuan pertama, dan benang merah.

.

"Dengarkan aku Naruto, dimensi yang akan kau datangi ini sedang dalam masa tegang di karenakan konflik antara beberapa kelompok. Mereka punya alasan tersendiri di perang ini, namun lambat laun semua pihak mulai menginginkan kedamaian. Jadi kuharap kau bisa menyesuaikan keadaan tersebut ...

"Oh iya, karena tujuanmu disana adalah berlatih. Maka kau akan kuberikan beberapa pembatas yang menekan kekuatanmu di titik terlemahnya. Satu-satunya jalan untuk membuka pembatas-pembatas tersebut adalah dengan menjadi lebih kuat dan melewati batasan yang ada. Kau tidak keberatan 'kan?

"Kau bertanya tentang 'bagaimana dengan Kurama?' Tenang saja, dia akan ikut bersamamu ke dimensi tersebut. Skala kekuatannya juga sudah ku kurangi sampai sepersekianjuta. Hahaha ... aku harap Kurama tidak marah padaku ... meskipun mustahil.

"Mungkin hanya itu yang bisa kukatakan padamu, saat kita bertemu lagi. Kuharap kau sudah siap untuk mengubah takdir teman-temanmu ...,"

.

.

Pada malam itu, lebih tepatnya pukul 01.50 AM. Suara tangisan seorang bayi yang baru lahir menggema di sebuah rumah sederhana. Suka cita bertabur bahagia meluap di kehidupan pasangan yang baru saja di anugrahi momongan tersebut.

"Reiko!"

Segera sang ayah yang sudah dilanda kebahagian masuk menerobos ruang bersalin, matanya yang telah layu itu bersinar cerah melihat seorang bayi bersurai pirang tipis menangis di rengkuhan sang ibu.

"Selamat Hayama-san. Anak anda lahir dengan selamat, begitu pula dengan istri anda."

Laki-laki yang memiliki nama Aotsuki Hayama tersebut tidak bisa berkata-kata. Berbagai perasaan bahagaia yang meluap seolah menyumpal mulutnya dari ucapan bahagia, yang bisa ia lakukan sekarang adalah menangis dalam diam seraya mendekat ke sosok keluarga tercintanya.

"Trimakasih Sayang, kau sudah menjadikanku seorang ayah."

"Aku juga Hayama-kun," Tangan lembut sang istri menghapus air mata yang turun dari pelupuk Hayama. "Arigato untuk semua kasih sayangmu."

Hayama diam seribu bahasa, dirinya terlalu bahagia untuk mengungkapkan perasaannya. Segala penantian yang ia lalui selama 8 tahun masa pernikahannya dengan Reiko terbayar lunas dengan datangnya sang buah hati.

Selama 7 tahun belakangan kedua pasangan ini sudah putus asa untuk mendapatkan momongan, berbagai cara sudah mereka lakukan hingga sebuah ucapan cerai hampir terucap dari mulut Hayama. Tetapi Kami-sama itu maha adil. Di ujung keputus asaan pernikahan mereka, Reiko berhasil mengandung seorang anak.

Tentu saja hal itu membuat Hayama sangat senang. Dia sangat memanjakan Reiko semenjak kabar hamilnya di ketahui. Tidak tanggung-tanggung, sehari setelah mendengar kabar tersebut Reiko di kejutkan akan tindakan Hayama yang membeli berbagai perlengkapan bayi.

Padahal Reiko masih mengandung selama 3 minggu.

Tidak hanya pernikahan mereka yang kembali kokoh, kini di kehidupan pasangan tersebut akan penuh dengan keceriaan sang buah hati.

Merasa atmosfir sekitar mulai berubah, sang dokter memutuskan untuk keluar dari ruang bersalin. Ia tidak ingin menganggu pasangan yang baru di anugrahi momongan tersebut. Apalagi ini adalah anak yang selama ini mereka nantikan. Keduanya tentu ingin menghabiskan waktunya selama mungkin.

"Jadi Hayama-kun, apa kau sudah menentukan nama untuk anak kita?"

Hayama mengangguk, "Aku akan memberikannya nama Naruto yang berarti badai guntur. Entah bagaimana aku bisa memilih nama tersebut, tapi kupikir ini adalah nama yang sangat cocok untuk menggambarkan kedatangannya ke dalam keluarga kita. Apa kau setuju Reiko?"

" Naruto ya? Namanya seperti toping ramen," Reiko kelihatan memikirkannya. "Tapi kupikir itu juga nama yang cocok."

" Jadi sudah di putuskan―"

Reiko dan Hayama memberikan tatapan hangat pada anak yang tengah tertidur pulas dalam rengkuhan mereka, "―Selamat datang di keluarga Aotsuki, Naruto."

.

.

Kira-kira sudah 16 tahun semenjak Naruto lahir ke dunia ini.

Setelah ia dipindahkan ke dimensi ini, semua kekuatan dan jutsu yang ia miliki menghilang. Yang tersisa hanyalah ingatan dari kehidupan sebelumnya, sebagian cakra dari yang biasa ia gunakan, dan tentu saja ... Kurama sang Kyubi.

Karena faktor-faktor yang Author sebutkan di ataslah yang membuat Naruto perlu melakukan latihan yang bahkan lebih keras dari kehidupan sebelumnya hanya untuk mendapatkan kekuatan yang optimal dengan tubuhnya sekarang. Tapi dengan semua usahanya, tak ada satupun pembatas yang terbuka.

Itu salah satu kerugian yang ia dapatkan karena berpindah dimensi. Namun disisi lain, ia bersyukur.

Seandainya saja ia dipindahkan ke dimensi ini dalam keadaan dewasa, sudah jelas dirinya akan sangat panik karena banyaknya perbedaan iptek, budaya, dan tingkah laku yang kontras antara dimensi shinobi dan tempatnya hidup sekarang.

Dan lagi, di dunia ini ia memiliki keluarga yang lengkap. Seorang ayah dan seorang ibu. Jika memang ada hal yang kurang di kehidupan Naruto sekarang adalah dimana ia tidak memiliki seorang adik.

Namun Naruto paham dengan keadaan keluarganya, ia tidak bisa meminta hal-hal aneh pada kedua orang tuanya.

"Naruto cepat bangun, sarapannya sudah siap," Panggil Reiko dari lantai bawah.

"Ha'i Okaa-san, aku turun."

Hayama selaku kepala keluarga sudah duduk tenang di ruang makan seraya membaca koran edisi hari ini. Ia membolak-balikkan korannya hingga telinganya dengan sigap menangkap langkah kaki yang turun dari tangga.

Disana Naruto berjalan turun. Rambutnya yang sewarna mentari dibiarkan bebas namun masih meninggalkan kesan rapi, pakaian yang ia gunakan adalah seragam dari sebuah Akademi Swasta bernama Kuoh Gakuen.

Namun memang dasarnya Naruto itu bukan orang yang suka berdandan rapi, dia memodifikasi sedikit seragamnya. Kemeja yang harusnya dipakai dari balik blazer hitamnya malah diganti dengan sweater berhodi warna jingga.

Dan Blazer yang seharusnya di kancingkan sengaja ia biarkan terbuka, sehingga dengan jelas menampakkan sweater jingganya.

"Yo! Pagi Otou-san, Okaa-san," Sapa Naruto hangat.

"Pagi Naruto."

Naruto berjalan menuju meja makan ketika mendapati Hayama memberikan tatapan lelah padanya.

"Hah ..." desah Hayama, "Apa kau akan berangkat ke upacara pembukaan dengan seragam begitu Naruto?"

"Hmm," ―Naruto memperhatikan penampilannya― "Memangnya kenapa?"

"Ini hari pertamamu Naruto, tidak seharusnya kau berpakaian begitu."

"Otou-san jangan khawatir," Naruto duduk di salah satu bangku, kemudian menunggu datangnya sarapan dari dapur. "Sekolah memperbolehkan muridnya mengubah seragam kok. Asalkan tidak menghilangkan cikal bakal seragam yang asli."

"Hmmm, memangnya ada yang seperti itu?"

Naruto tertawa pelan, "Ada dong, asalkan siap menerima hukuman kalo ketahuan guru killer."

"Na-ru-to!"

Pemuda berambut pirang itu merinding disko mendengar nada perkataan ayahnya, jika ini dibiarkan bisa saja uang jajan Naruto selama satu bulan ke depan di tiadakan.

Dengan rasa gugup yang memuncak Naruto berusaha menenangkan ayahnya, "Ber-Bercanda Tou-san! Aku hanya bercanda! Sekolah memperbolehkannya kok!"

"Oh, ada apa ini? Apa sekarang jadwalnya ceramah pagi?" sahut sebuah suara menyelamatkan Naruto.

"Ahaha-ha, Otou-san hanya melakukan rutinitasnya saja."

"Apa kau bilang Naruto?"

"Sudahlah Hayama-kun, ini saatnya sarapan." Reiko juga ikut duduk untuk menikmati sarapannya, "Jangan ribut dan cepat habiskan makanan kalian."

"Ha'i, Ittadakimasu!"

.

Kuoh Gakuen, tidak banyak informasi mengenai sekolah ini kecuali fakta kalau tempat ini adalah sekolah khusus perempuan. Setidaknya ketentuan tersebut berlaku sampai tahun kemarin, karena tahun ini Kuoh Gakuen memberlakukan sebuah aturan baru.

Yakni memperbolehkan anak laki-laki menimba ilmu disini. Tapi, bukan berarti Kuoh Gakuen akan menerima semua laki-laki tanpa terkecuali, mereka yang di izinkan bersekolah disini haruslah menyelesaikan test masuk yang dikabarkannya memiliki kesulitan sama dengan ujian di perguruan tinggi.

Dan dari semua murid yang mendaftar, akan dipilih satu perwakilan yang memiliki nilai tertinggi di antara murid kelas 1 lainnya.

Namun dari sekian sulitnya test yang di berikan akan ada beberapa orang yang memiliki keberuntungan sangat besar hingga bisa lulus.

Contohnya adalah Hyoudo Issei, dia anak yang hyperaktif (dalam arti positif / negatif) dan sangat setia kawan. Ya, dari banyaknya kesempatan tidak terduga di dunia ini, Issei adalah salah satu anak yang sangat beruntung bisa masuk ke Kuoh Gakuen dengan nilai yang pas-pasan.

Hal ini juga membuat Author terheran-heran.

x-x-x-x-x

Hyoudo Issei, atau biasa di panggil Issei itu berdiri dengan tenang. Ia terlihat lebih kalem dari biasanya dan tanpa ragu mendengarkan kata sambutan dari kepala sekolah baru Kuoh Gakuen.

Namun berbeda dengan matanya, ia sedari tadi melirik ke kanan dan kiri. Mengobservasi kualitas dari murid perempuan yang masuk di tahun yang sama dengannya.

Fufufufu, yang disana B, disana C, disana A, Wow! Ada yang D!, batin Issei nista.

Disini oppai, disana oppai, dimana-mana ada oppai. Kini giliran sahabat Issei yang bernista ria dalam pikirannya.

"Setelah kata sambutan dari kepala sekolah, sekarang adalah saatnya kata sambutan dari perwakilan murid baru. Untuk Aotsuki Naruto, dipersilahkan untuk maju ...,"

Semua orang mengfokuskan perhatian mereka pada tempat dimana sang perwakilan murid baru seharusnya muncul, tak terkecuali para dewan guru.

10 detik ...

20 detik ...

30 detik ...

1 menit ...

Waktu berlalu, sang pembawa acara kelihatan bingung dengan apa yang terjadi, begitu pula peserta yang mengikuti acara ini dengan khikmat. Lalu mendadak seorang guru datang dengan wajah pucat.

"Aotsuki-kun tidak bisa datang ke upacara ini," Bisik Guru tersebut.

"Eh, tapi ini kan hari pertamanya. Kemana anak baru itu?"

"Sepertinya dia terlambat."

"HA? ―Ops."

Pembawa acara berusaha menyembunyikan kekagetannya. Ini pertama kalinya ia tahu ada orang yang terlambat di hari pertama? Adakah orang sebodoh itu di dunia ini? tentu saja ada, Naruto adalah salah satunya.

Acara pun di lanjutkan hingga selesai tanpa adanya kata sambutan dari peringkat 1 dalam test masuk. Meskipun begitu, nama Aotsuki Naruto sekarang jadi cukup dikenal sebagai orang terpintar di murid baru, sekaligus orang yang terlambat di hari pertamanya.

.

Naruto berlari kencang menembus jalanan yang mulai sepi karena jam masuk sudah lewat 30 menit lalu―bagi kariawan ataupun pelajar. Beberapa kali ia menggeram jengkel saat melihat jam digitalnya yang menunjukkan pukul 09.00 AM.

"Kuso! Ini gara-gara kau mengajakku ke mindset, Kurama. Sekarang aku terlambat."

"Ckckckckck, sadar dirilah Naruto. Aku sudah memperingatkanmu tadi, tapi kau sendiri yang terlambat merespon," Balas Kurama.

"Baka!" Naruto berbelok tajam di persimpangan jalan tanpa melambat. "Kau memberitahuku saat pintu kereta tertutup, mana mungkin aku sempat."

"Berhenti mengeluh, kau kan bisa menghancurkan pintunya kalau mau. Bahkan kau bisa melompati bangunan supaya lebih cepat sampai, kenapa kau malah menahan diri."

"Dengar Kurama. Dunia ini tidak sama dengan dunia shinobi, tidak semua hal harus di selesaikan dengan kekuatan. Ada kalanya kita harus mengikuti prosedur yang ada supaya bisa mengetahui prosesnya."

Kurama mendengus dari dalam tubuh Naruto, "Lalu, apa kau juga akan menghadapi si pencabut nyawa menggunakan pemikiran naifmu?"

"Eh," Naruto melambatkan larinya, "Tentu saja tidak Kurama. Ada kalanya kita bergantung pada kekuatan, ada juga saatnya kita mengandalkan pemikiran. Keduanya punya kondisi dan keadaan yang berbeda satu sama lain, dan yang betugas untuk menentukan saat-saat tersebut adalah diri kita sendiri. Jangan mencampur adukkannya tanpa berpikir panjang, Baka."

"Heh, itulah kenapa aku menyebutmu na'if. Lalu, latihan hari ini bagaimana?"

"Mungkin aku akan latihan melawan bushin lagi, mencari musuh yang sepadan di dunia ini sangat sulit. Kebanyakan manusia lebih memilih bergantung pada teknologi yang ada hingga mengubur potensi diri sendiri, sekalipun ada manusia dengan kekuatan super. Standart kekuatan super antara dimensi ini dan dimensi kita sebelumnya sangatlah berbeda jauh."

Naruto mengeluarkan smartphone dari saku sweaternya, "Tokoh Superman kerap kali di anggap sebagai sosok paling kuat di dunia, tapi jika kita memakai standart dunia shinobi. Kekuatannya tidak berbeda jauh dengan Tsuchikage-Jiji."

09.30 AM.

"Holy shit! Aku sudah sangat telat sekarang-dattebayo!"

Naruto kembali berlari, ia harus segera sampai di sekolahnya apapun yang terjadi.

Dengan perjuangan keras berakibat lemasnya lutut, Naruto sampai juga di sekolahnya. Walaupun dengan penampilan yang sudah awut-awutan karena beberapa kali harus melewati pagar tanaman, ia mencapai goal dari lari marathonnya.

Dan hadiah dari semua perjuangannya adalah―

"Aotsuki-kun, terlambat dihari pertama dan memakai pakaian selain seragam sekolah. Apa setelah pulang sekolah kau bisa menghadap Guru konseling?"

―sebuah hukuman.

"Tunggu dulu Souna-kaichou, aku punya alasan dari keterlambatanku."

Gadis dengan potongan rambut bob itu menaikkan kacamatanya yang turun, wajahnya dingin namun seolah mengisyaratkan 'kau-punya-waktu-3-detik-untuk-menjelaskannya.'

Ya, Naruto hanya punya waktu 3 detik. Apapun yang dijawabnya, itu akan menentukan masa depannya di 12 jam mendatang. Oleh karena itu pula, Naruto harus memikirkan dengan seksama apa yang akan di ucapakan.

Harus sesuatu yang singkat, jelas, dan padat, Batin Naruto.

"Aku ketiduran di kereta," jawab Naruto singkat, padat, dan gak jelas.

Sona dan anggota osis yang mengelilingi Naruto terdiam. Bingung harus merespon seperti apa, tapi ucapan singkat dari Sona sebelum meninggalkan kerumunan tersebut sukses membuat Naruto shock.

"Setelah urusan dengan Guru Konseling selesai, kau bisa menyesali perbuatanmu sambil mengepel seluruh sekolah."

Duar!

"Ap-Apa ... So-Souna-kaicho pasti bercanda kan?"

Naruto menunggu jawaban dari Sona harap-harap cemas. Bagaimana pun ini rasanya sangat tidak adil. Ia hanya terlambat selama 1,5 jam, kenapa hukumannya harus sangat berat seperti mengepel seluruh sekolah?

Kalian sebut itu bukan masalah? Jangan bercanda! Tidak tahukah kalian kalau luas Kuoh Gakuen itu lebih dari 1 hektar dengan bangunan-bangunan di sekeliling lapangan olahraga. Belum lagi fakta kalau tiap bangunan memiliki sekurang-kurangnya 2 lantai.

Bisa kalian bayangkan? Bagaimana cara Naruto menyelesaikannya?

Naruto membungkuk, "Kaichou, mohon kurangi hukumannya. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tolong lah."

Sona kelihatannya tidak tertarik dengan janji Naruto. Namun,

"Hahh ...," ia menghela nafas, "Hanya kali ini saja. Kau bisa membersihkan ruang olah raga?"

Mengangkat wajahnya dengan ekspresi berseri, sebuah senyuman senang sukses keluar dari Naruto, dan sepersekian detik itu Sona tidak menyadari kalau wajahnya kini mengeluarkan semburat merah tipis.

"Arigato Kaicho!"

Wussshh!

"Huh?"

.

Kuoh Gakuen, 07.00 PM.

Kriiieeeettt!

"Permisi!"

Teriakan keras dari Naruto berhasil menarik atensi sebagian murid. Mereka saling bertatap muka sebelum akhirnya fokus pada Naruto, "Murid kelas satu, ada apa?"

"Begini, Souna-Kaicho menyuruhku―"

"Oh, Jadi kau adalah anak yang terlambat dihari pertama." Seorang wanita dari golongan pemain volly ball menduga, "Kalau begitu, mohon bersihkan ruangannya ya."

"Ya senpai! Serahkan saja pada saya," Naruto membalasnya dengan semangat.

Tepat setelahnya, para atlet (Basket & Volly menggunakan ruangan olahraga bersama-sama, mereka di batasi oleh pagar jaring. Sedangkan Club lain seperti Sepak bola, Baseball, dan Lari berlatih outdoor) mengemasi peralatan latihan dan memasukkannya ke gudang mengingat ini sudah waktunya pulang.

"Biar saya bantu, Senpai."

"Eh, Tapi ..."

"Tidak apa-apa, anggap saja ini sebagai pemanansan sebelum mulai membersihkannya."

"Jika kau tidak keberatan." Balas Senpai tersebut dengan senyum termanisnya.

Tidak ingin membuang waktunya, Naruto juga ikut membantu mereka mengemasi peralatan. Sedikit demi sedikit para anggota club mulai mengurang, kebanyakan sudah pulang ke rumah masing-masing atau sekedar mampir ke kedai guna mengisi perut.

Beriringan dengan perginya para anggota club basket dan volly, Naruto memulai hukumannya.

x-x-x-x-x

"Yosh, sekarang aku bisa berlatih lagi-ttebayo!"

Naruto berseru senang, hukumannya sudah selesai dan dia sangat yakin kalau tidak ada seorang pun di sekelilingnya. Situasinya juga sangat mendukung, jadi tidak ada alasan lagi baginya untuk menunda sesi latihannya.

[Kagebushin no jutsu]

Boffft! Booft!

"Sampai jumpa dan jangan membuat keributan ya."

Kedua bushin Naruto mengangguk tidak iklas. Padahal mereka sudah sangat lelah karena mengerjakan hukuman tadi, belum lagi dengan kegiatan belajar di sekolah yang menguras mental sekaligus otak, sekarang malah harus melakukan latihan rutin yang di titahkan oleh Naruto asli.

Jika saja klon punya hak yang di atur dalam undang-undang, jelas mereka akan menuntut dirinya sendiri (Naruto asli) atas tindakan kerja paksa. (Klon mengkopi keadaan si pengguna sebelum pengaktifan jutsu. Jadi, jika si pengguna sebelumnya sudah lelah karena beberapa hal maka si klon juga akan mengalami hal yang sama. Teorinya berkebalikan dengan cara kerja penyampaian informasi dari kagebushin no jutsu.)

Naruto memperhatikan kedua klon-nya yang telah pergi menggunakan shunshin no jutsu.

"Dengan begini aku bisa beristirahat."

"Jangan memaksakan diri Naruto, kalau kau memang sudah lelah lebih baik latihan hari ini di batalkan saja," Nasehat Kurama.

"Fufufu," Naruto tertawa pelan, "Apa kau mengkhawatirkanku Kurama?" Tanya-nya dengan nada menggoda.

"Cih! Aku menyesal sudah bicara denganmu."

Naruto tersenyum dalam langkah kakinya menuju rumah. Jawaban Kurama memang terkesan sinis namun memiliki makna di dalamnya, si monster rubah berekor sembilan yang dulu sempat membuat dunia shinobi takut kini mengkhawatirkan dirinya.

Hal ini terjadi semenjak Perang Dunia Shinobi ke-4 berakhir. Tingkah Kurama yang dulunya selalu sinis dan jahat perlahan berubah ke arah yang lebih baik, bahkan tak jarang Kurama menasehati Naruto layaknya orang tua.

Tak ayal hal tersebut membuat Naruto senang, baginya Kurama sudah seperti orang tua, teman, dan sahabatnya sendiri. Meskipun dia tidak mengatakannya secara terang-terangan, karena Kurama pasti akan dengan senang hati memperolok dirinya sepanjang malam.

"Jangan khawatir Kurama, aku akan baik-baik saja." Naruto ingin menenangkan Kurama. Bagaimanapun, Ia sudah menganggap Kurama sebagai sosok yang penting dalam kehidupannya. Membuatnya terlalu khawatir tidaklah baik.

"..."

" ..."

"Jangan terlalu percaya diri Naruto, alasanku melakukannya hanya agar kau tidak mati. Jika kau mati di dunia ini, aku juga akan ikut mati."

"Heh, baiklah." Naruto mengambil smartphone dari sakunya, "Padahal kita bisa sangat mengerti dalam pertempuran, tapi kalau sudah begini kau selalu saja sulit dipahami, Kurama."

"Aku juga tidak memintamu untuk memahamiku. Ngomong-ngomong," ―Kurama memperhatikan gerakan tangan Naruto di touch screen― "Apa yang kau lakukan?"

Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar smartphone, Naruto terus menuliskan kata-kata disana. "Aku lupa bilang kalau hari ini pulang telat, Otou-san dan Okaa-san pasti sedang mengkhawatirkanku."

Ia melanjutkan perjalanannya pulang, namun ketika ia sampai pada jalan taman perasaannya mulai tidak enak.

Semacam ada hawa dingin yang menggelitik lehernya hingga membuat bulu romannya berdiri, di susul dengan perasaan determinasi yang menekannya dari arah tidak tentu.

Secara insting Naruto memasang posisi siaga, begitu pula Kurama (dalam diri Naruto). Mereka berdiam diri dan memperhatikan daerah sekitarnya, lalu tersadar kalau keadaan sekeliling sangat sunyi.

"Kurama, apa kau tahu darimana perasaan ini datang?"

"Ini ... bukan berasal dari manusia, tempatnya di dekat sini."

Naruto mengangguk

"Stray Devil." Ucapnya, "Padahal kemarin tidak ada apa-apa di sekitar sini."

Naruto segera berlari menuju ke sumber perasaan tidak menyenangkan ini.

"Apa yang kau lakukan Naruto? Kenapa kau malah menuju sumbernya."

"Tentu saja untuk membunuh Stray Devil-nya."

"Pikirkan lagi Naruto, 90% cakramu sudah diberikan pada dua bushinmu. Kalau kau melawan Stray Devil ini sekarang, bisa-bisa kau yang terbunuh."

"Memang apa masalahnya? Aku punya kau disisiku, mana mungkin aku akan terbunuh." Balas Naruto tak mau kalah namun sarat akan kepercayaan.

Membulatkan mata dalam gelapnya mindset, Kurama tersenyum. "Hahh ... lakukan sesukamu."

Mendapatkan tanggapan positif dari Kurama, Naruto semakin semangat. Ia sudah dekat dari asal perasaan tidak menyenangkan ini. Semakin mendekat, indra pendengarannya kini manangkap suara tangisan seorang anak.

"Hiks ... tolong jangan makan aku .. tolong ... hiks... Okaa-san ... Otou-san ...,"

Anak kecil?, batin Naruto bertanya-tanya.

Tap!

"Hei!"

Seekor Stray Devil dengan postur tubuh besar berbulu loreng menoleh pada sumber suara, matanya yang menggelap kelihatan tidak senang karena acara makannya diganggu.

"Manusia kah?" Stray Devil tersebut menyeringai, "Apa yang kau inginkan? Aku tidak bisa makan 4 makanan dalam sehari. Kalau kau memang masih sayang nyawa, lebih baik pergi dari sini," Lanjutnya setengah sombong.

Naruto memperhatikan keadaan sekitar. Cairan merah berupa darah menggenang di bawah pohon, sekeliling genangan tersebut berserakan kain-kain bekas pakaian, dan dibelakang sang Stray Devil duduk seorang gadis kecil, ia menangis sambil memeluk lututnya.

Melihatnya saja sudah cukup bagi Naruto memahami apa yang sedang terjadi, dan berkat itu pula ia kini menjadi sangat marah pada Stray Devil di hadapannya.

"Ada apa manusia. Kau sudah kuberikan kesempatan untuk pergi, kalau kau memang sangat ingin mati, datanglah besok malam. Hari ini aku akan cukup kenyang memakan 3 orang ini." Ucap Stray Devil tersebut, ia kemudian berbalik menghadap sang anak kecil.

Tidak ada sedikit pun rasa takut atau pun khawatir dari Stray Devil tersebut, ia sudah membunuh banyak Exorcist dan Da-tenshi, bahkan tuannya sendiri. Menghadapi seorang manusia bagaikan memukul seekor nyamuk, begitu mudah dan membosankan.

Yah, dari pada membuang waktunya untuk seorang manusia yang sok menjadi pahlawan. Stray Devil itu lebih memilih memakan daging segar di hadapannya.

"Kau membunuh mereka?" Tanya Naruto tanpa intonasi tambahan.

"Haaa?" Stray Devil menoleh pada genangan darah di bawah pohon, "Hmm, Yeah. Rasa mereka tidak buruk."

"Hiks ... tolong, tolong, tolong jangan makan aku ... hiks ... Okaa-san ...,"

"Cih! Jangan berisik, dasar cengeng!"

Tangan besar si Stray Devil berayun, siap menampar anak yang masih belia tersebut.

Greb.

Namun tangan besar tersebut berhasil di tahan oleh Naruto. Ia kemudian meremas lengan tersebut guna memberikan intimidasi besar, tapi itu gagal. Stray Devil tersebut kelihatannya tidak terlalu peduli.

"Sekarang apa? Sudah kubilang kau bisa pergi, jangan ganggu aku!"

Naruto tidak menanggapi bentakan dari Stray Devil di hadapannya, matanya menajam dengan ekspresi yang sulit di artikan. Pupilnya yang sebiru langit itu menangkap dengan jelas sosok anak kecil yang tengah meringkuk ketakutan, air mata dan isakan tangis tiada berhenti dari si anak.

Naruto iba, ia merasa kasihan akan kondisi si anak dan marah pada si Stray Devil. Ia pernah hidup sendiri di dunia shinobi dan itu sangat tidak menyenangkan. Bukan hanya dia saja, Sasuke juga mengalami hal yang sama.

"Oh, jadi kau ingin mengangguku. Kesini dan akan ku hancur―"

Naruto menghantamkan sebuah bola spiral berukuran 2x bola basket ke tubuh sang Stray Devil.

[Cho Oodama Rasengan]

x―x―x―x―x

Anak dengan surai coklat itu masih meringkuk dalam kakinya, ia sama sekali tidak berani membuka matanya hanya untuk melihat apa yang terjadi.

Setelah melihat bagaimana orang tuanya di bunuh, ia sama sekali tidak punya kekuatan untuk bergerak. Bahkan ketika ayahnya menyuruh dirinya pergi, yang bisa ia lakukan hanya menangis dalam keputusasaan.

Padahal tadi sore mereka menghabiskan malam dengan makan di salah satu restoran keluarga dekat sini. Lalu semuanya terjadi secara tiba-tiba, dan yang bisa ia ingat dengan jelas adalah bagaimana ayah dan ibunya mati di dalam mulut monster harimau.

"Okaa-san ... Otou-san ...,"

Anak tersebut terus saja memanggil kedua orang tuanya, berharap kalau orang tuanya akan datang dan membangungannya sambil berucap 'Tenanglah, itu semua hanyalah mimpi buruk.'

Tapi yang ia dapatkan adalah ...

Greb.

Sebuah pelukan hangat di tengah pikirannya yang hancur.

Anak tersebut memberanikan diri untuk mendongak, ia mendapati sosok pemuda tengah memeluknya erat seolah dirinyalah (pemuda) yang tengah mengalami semua cobaan ini.

Ia ingin melihat wajah lelaki tersebut, tapi minimnya pencahayaan membuatnya hanya bisa menerka-nerka seperti apa wajah dari orang yang memiliki rambut jabrik ini.

Dan pada akhirnya, anak tersebut menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Naruto hingga tertidur pulas.

To Be Continue

Disini Author memberikan beberapa porsi pada karakter tertentu, di antaranya ada Issei dan si anak kecil. Keduanya akan ambil bagian besar dalam cerita kedepannya, terutama si anak kecil.

Seperti judul chapter 2, ada benang merah yang terjalin disini ... semoga ada yang mengerti maksud Author (^_^)

Balasan Review

Vilan616 : Okay, bertahap ya ... semoga saya bisa, Amin! Hmm ... skip 16 tahun gak masalah kan? soalnya, kalau saya nulis Naruto kecil, takutnya ceritanya gak bisa selesai sesuai target. (o.o)

Zuchal507 : Naruto gak di suruh mendamainkan dunia, dia itu manusia ... bukannya Tuhan yang bisa menciptakan kebahagiaan untuk semua makhluk ._.

RyoRamantara617 : Kalau memang mau fokus latihan, pilihan yang masuk akal adalah Narutonya biasa-biasa saja. Saya setuju! Tapi kehidupan tanpa konflik itu bagaikan sayur tanpa garam ... hambar dan gak berasa

Miyuki Nishikino : Chapter ini udah ada unsur overpowernya belum? Dan untuk pair, akan di tampung dulu

Bayu : "Bagus tidaknya fic itu tergantung dirimu dirimu sendiri." Maksudnya? #saya gagal paham xp

Itu aja yang bisa author balas untuk saat ini. Trimakasih sudah mau membaca cerita author dan maaf karena gak semuanya yang review author balas.

x-x-x-x-x

Maaf kalau cerita saya hambar. Jujur, saya masih belum bisa mengembangkan cerita dikarenakan Author sedang belajar membuat percakapan yang terasa natural / hidup. Semoga ke depannya bisa lebih baik, Amin.

Jangan ragu untuk review ya? Author sangat berharap ada saran yang membangun (^_^)