Another Dimension : Change Destiny.
Disclamer : Semua karakter dalam fict ini bukanlah milik saya, jika ada yang bilang ini milik saya jangan pernah percaya.
Pair : — ?
Rate : Maybe M? Untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba Author pengen masukin lime / lemon.
Genre : Fantasy, Adventure, Suprantural, and etc.
Warning : OOC, OC, Typo, Mainstrem, Human!Naru.
Summary :
Naruto menikmati kehidupannya yang sekarang, semua usahanya terbayar lunas, terlebih setelah lewatnya PDS 4. Namun karena beberapa hal tidak terduga, Naruto terpaksa pergi dari dimensinya untuk menyelamatkan teman dan sahabatnya. Bagaimanakah kisah Naruto selanjutnya, akankah dia berhasil berhasil mengubah takdir yang menantinya, ataukah takdir yang sedang mempermainkannya?
Chapter 3 :
.
Mendengarkan penjelasan guru dengan seksama, Naruto menikmati waktunya di kelas. Mata yang memiliki pupil sebiru langit itu terkadang fokus ke depan, kadang kala beralih pada jendela di sampingnya.
Ingatan yang terjadi seminggu lalu sering kali datang ke kepalanya.
Karena beberapa alasan, Naruto memutuskan untuk melaporkan kejadian itu pada polisi. Mereka awalnya tidak mempercayai laporan Naruto, tapi ketika bukti-bukti dapat ia berikan, pihak polisi pun mempercayainya.
Tak lama setelah kejadian itu, media massa mulai menyorot kasus tersebut hingga sempat menjadi berita hot selama beberapa hari.
Yah, berita tersebut hanya menyebar selama beberapa hari, seterusnya semua orang melupakannya dengan cepat dan menganggap biasa hal tersebut. Naruto menganggapnya sangat aneh dan mengindikasi kalau mahkluk supranatural ada dibalik kejadian ini.
Berbeda dengannya yang masih bisa mengikuti kegiatan belajar seperti biasanya, anak yang waktu itu ia tolong kini dimasukkan ke komisi perlingdungan anak untuk mendapatkan perlindungan.
"Aku bahkan tidak tahu namanya," gumam Naruto. Semoga dia baik-baik saja, pikirnya.
x-x-x-x-x
"Yo Issei, Matsuda, Motohama! Kalian mau ke kantin?"
Ketiga murid yang sangat akrab tersebut saling bertukar pandang, "Maaf Naruto, hari ini kami akan melakukan penelitian."
Memiringkan kepalanya, Naruto bingung. "Penelitian?"
"Fufufu," Motohama menaikkan kacamatanya, "Ini adalah penelitian yang akan menentukan masa depan umat manusia."
"Jika penelitian ini berhasil. Bukan hanya menyelamatkan umat manusia, kita juga bisa menyelamatkan dunia!"
"Seperti yang Matsuda katakan. Penelitian ini akan menyelamatkan dunia."
"Wow!"
Naruto tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Orang-orang yang ia anggap kurang menyukai pelajaran kelas itu kini melakukan penelitian, dan bukan hanya penelitian biasa, ini adalah penelitian yang bisa menyemalatkan dunia.
Siapa yang akan menyangkanya?
Naruto penasaran.
"Jadi, penelitian seperti apa yang sedang kalian lakukan?"
"Mengintip."
"Hmm," Naruto menggosok telinganya, berharap kalau yang ia dengar barusan salah. "Bisa di ulangi lagi?"
"Mengintip."
"Perasaanku saja atau kau memang bilang mengintip, Issei?"
"Benar, kita akan mengintip! Tubuh yang melambangkan keindahan surga dan potensi sejati umat manusia! Jika kita tidak bisa melihatnya sebelum umur 20 tahun, umat manusia akan dalam masalah besar!"
"Ya! Kita melakukannya demi keselamatan umat manusia. Tidak ada hal yang lebih mulia dari ini."
"Ini adalah penelitian yang berbahaya. Hanya kita yang bisa melakukannya, Motohama, Issei, dan Naruto ...,"
Untuk pertama kalinya dalam kehidupan baru Naruto, ia menyesali perbuatannya. Kenapa juga dia bisa masuk ke pembicaraan absurd dan gak jelas ini. Dan apa yang akan di katakan oleh ayahnya jika mengetahui anaknya berbicara tentang mengintip dengan kalimat absurd begini.
"Naruto, keingintahuan adalah berkah. Terus ikuti nalurimu dan jangan pernah menyerah, berikan pelajaran pada celana dalam putih di surga sana."
TIIDAAAK! Ayahnya tidak mungkin mengatakan hal konyol begitu.
Naruto harus menenangkan diri, ia menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan dengan teratur.
"Fuuuh ... aku tidak ikut deh. Perutku sudah lapar, jadi aku akan ke kantin."
"Ha? Kau serius Naruto? Ini kesempatan emas. Dengan melakukan pengintipan ini, maka keberuntunganmu dengan wanita akan bertambah."
"Etto, darimana kau mengetahuinya?"
"Fufufu, jangan meremehkanku Naruto. Aku ini Motohama dari Kuoh. Semua ilmu yang kiranya dapat membantuku dalam penelitian ini akan aku pelajari hingga ke akar-akarnya!"
"Sekarang aku mulai berpikir ada yang salah dengan otak kalian. Tapi ..." Naruto berjalan pergi keluar kelas, "... mempunyai sesuatu yang dikejar pasti sangat hebat."
.
.
Menurut Naruto, jam makan siang adalah saat yang sangat krusial. Semua orang merasa lapar, dan makanan yang di sediakan selalu pas. Maka tidak akan mengherankan jika pemuda bersurai pirang itu kerap kali menyebut kantin sebagai medan pertempuran.
Dan masalah terbesar disini adalah ...
... kebanyakan murid yang berebut makanan adalah perempuan, sekali lagi author ulang, P-E-R-E-M-P-U-A-N.
Jika Naruto asal menerobos tanpa memikirkan nasip orang yang ia dorong, bisa saja dia tidak sengaja memegang atau bahkan meremas beberapa 'aset' secara random. Wow! Bagi orang mesum mungkin ini akan disebut sebagai tempat 'penjarahan' yang sangat strategis (Trio mesum gak kepikiran kesini xp).
Tapi untuk Naruto, ini adalah hal yang sangat sulit. Alasannya karena Naruto adalah type orang yang menjunjung tinggi derajat wanita dimana mereka adalah sosok yang harus dilindungi. Terserah orang mau menyebutnya na'if, itu bukanlah masalah besar. Lagipula tiap orang punya pemikiran sendiri yang tidak harus sama antara satu dan lainnya.
Jadi apa masalahnya jika Naruto berpikir demikian? Toh dunia tidak akan hancur karena pemikiran na'ifnya.
Tapi kalau beberapa hal terjadi dengan unsur 'ketidak sengajaan' Naruto juga tidak bisa melakukan apa-apa.
x-x-x-x-x
"Haah ... lama sekali, kupikir aku tidak akan mendapatkan apapun." Dengan sebuah omelet di piringnya, Naruto berjalan mencari tempat untuk duduk. "Sekarang dimana aku bisa duduk?"
"Disana ada yang kosong."
Beberapa meter dari tempatnya, Naruto mendapati sebuah meja makan panjang yang muat di isi oleh 4 orang. Ia berjalan kesana, namun tepat ketika jaraknya hanya beberapa meter.
Seorang wanita dengan rambut semerah darah berjalan menuju ke meja yang sama.
"Kau mau duduk disini juga?" Tanya Wanita tersebut.
"Iya. Tapi kalau menganggu, aku bisa cari tempat duduk lain."
Wanita tersebut melipat tangannya di bawah dada berukuran *ehem*nya, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, melihat seluruh sudut kantin tanpa terkecuali. "Tidak ada tempat duduk lagi, kau bisa duduk disini. Lagipula kami hanya bertiga."
"Kami?"
"Maksudnya teman-temanku."
"Oh." Naruto menundukkan kepalanya sesaat, "Trimakasih karena sudah mengizinkanku duduk disini."
"Untuk seorang laki-laki, kau cukup sopan."
Gadis berambut merah itu duduk berhadapan dengannya, sementara Naruto tidak ambil pusing dan mulai menikmati makanannya.
"Hmm ... mungkin hanya perasaan Rias-senpai saja."
"Kau mengenalku?"
Menelan makanannya, Naruto kemudian meminum sedikit jusnya. "Rias Gremory-senpai dari tahun ke-2 'kan?"
"Salah satu idola Kuoh Gakuen, Ketua dari Klub Penelitian Ilmu Gaib, berasal dari luar negri, dan lain sebagainya. Semua yang bersekolah disini mengetahui siapa senpai, setidaknya begitulah yang kupikirkan."
"Hmm," Rias menyandarkan kedua tangannya di bawah dagu, "Meskipun mengetahuiku, kelihatannya kau tidak segan?"
Naruto mendongak dan matanya yang sebiru langit itu melebar memberikan determinasi.
"Kenapa aku harus segan?"
Deg!
Untuk beberapa saat, insting bawah sadar Rias terintimidasi. Tubuhnya yang terbiasa menghadapi iblis liar itu menegang dan tanpa sadar memperlebar jarak antara mereka. Rias tidak bisa memproses apa yang barusan terjadi, dirinya merasa takut dan detik berikutnya ia sudah mundur dari posisi awalnya.
Mungkinkah pemuda bersurai pirang ini bisa merangsang rasa takut orang lain melalui tatapannya?
Puk.
Rias menoleh ke samping, ia mengikuti asal dari tangan yang menepuknya dan mendapati sosok gadis berambut hitam yang menatapnya heran.
"Ada apa Buchou?"
"Ti-Tidak ada apa-apa Akeno."
"Hmm," Gadis yang dipanggil Akeno memicingkan matanya, kepalanya bergerak cepat ke bangku di hadapan Rias. "Ho, tumben sekali ... Siapa dia? Murid tahun pertama?"
Akeno mendapati Naruto tengah memakan omeletnya tanpa terganggu akan keberadaan Rias ataupun dirinya.
"Iya, dia anak tahun pertama dan alasannya disini karena tidak ada bangku kosong lagi. Namanya, hmmm ... aku juga tidak tahu."
Tersadar dari ketidak sopanannya, Naruto menghentikan acara makannya.
"Eh! Aku belum memperkenalkan diri ya? Gomen, gomen. Namaku Aotsuki Naruto, dari kelas 1-A, salam kenal."
"Kau sudah mengenalku, tapi untuk lebih sopan, aku akan memperkenalkan diriku dengan jelas. Namaku Gremory Rias, dari kelas 2-A, senang berkenalan denganmu, Naruto-san."
"Kalau aku Himejime Akeno, dari kelas yang sama dengan Rias. Senang berkenalan denganmu, Naruto-san."
Akeno kemudian mengambil tempat duduk yang di sebelah Rias, ia melirik sahabatnya sesaat dan menyadari ada perubahan samar yang tengah terjadi. Kenapa Rias melihat anak bernama Naruto ini dengan intens?
Mungkin hanya perasaanku saja, batinnya.
"Kau memakan omelet, Naruto. Apa itu makanan favoritmu?" Tanya Akeno.
"Dibilang makanan favorit sebenarnya bukan, karena makanan favoritku itu ramen."
"Lalu kenapa kau membeli omelet. Bukannya disini juga ada ramen?"
Naruto menghembuskan nafas pasrah, "Akeno-senpai, ini berhubungan dengan aturan di keluarga Aotsuki. Aku tidak bisa mengatakannya―"
"Biar kutebak, ibumu yang membuat aturan itu," Potong Rias.
Naruto membuka mulutnya lebar, matanya juga ikut membulat dan menjadikan ekspresinya seperti orang bodoh. "Wow! Bagaimana kau mengetahuinya Rias-senpai? Apa kau bisa membaca pikiran orang lain?"
Rias tertawa pelan kemudian mengibaskan tangannya. "Tidak-tidak, aku hanya menebaknya. Ibuku itu orangnya cukup ketat jika menyangkut makanan anaknya, jadi aku sedikit paham dengan perasaanmu."
"Fufufu ... seperti yang di harapkan dari keluarga orang kaya," Goda Naruto dengan nada menyindir.
"A-Aku tidak begitu kok."
Rias panik, ia berusaha membantah ucapan Naruto. Namun terasa sulit, apalagi dengan dirinya yang tidak seperti biasanya. Sebanyak apapun ia mencoba menenangkan dirinya, bagian kecil dari dirinya merasa aneh di hadapan Naruto.
Dan Akeno yang merupakan sahabat bukannya membantu malah ikut memanaskan keadaan.
"Benar Naruto, Buchou sudah terlalu banyak menerima kekayaan keluarganya. Terkadang itu membuatku iri."
"Kau juga Akeno!?" Seru Rias dengan intonasi naik satu oktaf. "Hah ... bodohnya aku sampai terbawa suasana," Desah Rias pasrah.
Melihat tingkah Senior (bagi Naruto) atau pun sahabatnya (bagi Akeno) ini membuat mereka berdua tertawa. Jarang sekali Rias bisa dipojokkan seperti sekarang, biasanya dia adalah sosok yang berwibawa dan sulit di jangkau. Tapi sekarang, entah angin darimana tingkah Rias menjadi menyimpang. Akeno harus bersyukur atas perkembangan ini.
"Sepertinya kalian sedang asyik, Buchou, Akeno-senpai," Sapa seorang pemuda.
"Kau lama juga, Kiba."
"Gomen Buchou, aku kesulitan dalam antriannya."
"Ya sudah, duduklah."
"Ha'i."
Naruto menoleh ke asal suara.
Di sampingnya berdiri seolang lelaki dengan rambut pirang. Kalau Naruto tidak salah, namanya adalah Yuuto Kiba. Salah seorang murid kelas 1 yang populer di kalangan murid lainnya.
Ngomong-ngomong, Kiba ini sedang membawa tiga piring makanan dan jus. Memang terlihat sangat merepotkan, tapi ia sama sekali tidak mengeluh dan mulai menaruh mereka di meja layaknya seorang pelayan elite.
"Kau Yuuto Kiba dari kelas 1-B 'kan? Aku Aotsuki Naruto, salam kenal."
Naruto mengulurkan tangan dan Kiba menerimanya.
"Salam kenal juga, Naruto-san."
Waktu istirahat mereka pun dihabiskan dengan obrolan ringan sambil menikmati makanan. Beberapa topik sudah mereka saling lontarkan, dari hal yang normal seperti makanan favorit hingga hal-hal tabu bagi Naruto (ex. hantu).
Dari sana mereka mulai memahami karakter tiap orangnya, terutama Naruto. Kalau boleh disimpulkan, Naruto ini sebenarnya anak yang cukup pendiam. Dia tidak akan banyak bicara pada hal yang dirasanya asing. Tapi setelah mengenalnya lebih dekat, mereka mulai bisa memahami betapa Naruto itu sangat menyenangkan di ajak bicara.
Dan hal tersebut berimbas pada Rias. Sosok yang penuh dengan kebanggaan dan aura bangsawan itu kadang tertawa, kadang juga merona karena godaan Naruto. Sebenarnya bukan godaan yang menjurus ke 'cinta', tetapi godaan yang menjurus pada 'sindiran / ngetroll'.
Tapi tak jarang juga Naruto yang kena batunya. Karena beberapa ucapannya yang keluar tanpa di rem, malah dia sendiri yang kena 'troll' balik.
"Fufufu .. tidak kusangka ternyata Naruto-san sangat takut pada hantu."
"Tolong jangan membicarakan hantu lagi, aku sudah tidak kuat," Ucap Naruto sambil melambaikan tangannya lebay.
"Mau bagaimana lagi. Klub yang kami ikuti adalah penelitian hal gaib, jadi wajar saja kalau kami membicarakan tentang hantu," Tambah Kiba.
Naruto menoleh pada Kiba yang ada di sampingnya, wajahnya lesu, dan ia menghembuskan nafas pasrah. "Hah ... kalian ini benar-benar, aku nyerah deh."
"Hahaha ... akhirnya menyerah juga, Naruto."
Teng Tong~!
"Aku kembali ke kelas dulu Rias-senpai, Akeno-senpai, Kiba-san," Pamit Naruto.
Kiba yang melihat Naruto mulai pergi dengan cepat membereskan makanannya dan segera menyusul anak bersurai sama sepertinya itu. "Buchou, aku juga pergi dulu. Sampai ketemu di klub, ja ne~"
Rias dan Akeno memperhatikan kepergian dua lelaki yang menemani kegiatan santap makanan mereka selama 30 menit itu. Beberapa percakapan yang konyol terlintas sesaat dipikiran Rias dan itu sontak membuatnya tersenyum kecil.
Akeno yang berada di sampingnya tentu menyadari perubahan dari Buchou-nya ini. Tapi untuk sekarang, lebih baik dia tidak menggodanya, membiarkan semua berjalan seperti biasa kelihatannya akan lebih menyenangkan.
ANOTHER DIMENSION
Melihat jam digitalnya '05.30 PM', Naruto meneruskan langkah kakinya. Tujuannya sekarang adalah pemakaman umum dimana pasangan suami istri yang tempo hari terbunuh.
Sebenarnya keinginan untuk berkunjung ke pemakaman tersebut sudah ada sejak 3 hari lalu, tapi karena beberapa hal yang tidak bisa di tinggalkan (Latihan) membuatnya baru bisa datang hari ini.
Belum lagi dengan segala tugas yang sudah menggunung, waktu luangnya benar-benar sangat tipis.
"Okaa-san, Otou-san," lirih sebuah suara.
Beberapa puluh meter dari Naruto, seorang gadis kecil berambut coklat duduk termenung di depan dua kuburan.
Anak itu, pikirnya.
Tap
Tap
Tap
Tap
Tap
Anak itu menoleh ke sumber suara yang mendekat, ada yang menghampirinya.
Seorang pemuda dengan surai pirang itu kelihatannya tidak asing baginya. Ia seperti pernah melihatnya entah dimana, tapi ingatannya sangat samar.
"Nii-san?"
Naruto tidak menggubris panggilan gadis kecil tersebut. Pikirannya sudah fokus dan tangannya menyatu di depan dada.
Maaf aku baru bisa datang.
Beberapa menit lamanya waktu berlalu sejak Naruto memanjatkan do'a kepada dua kuburan di depannya. Meskipun tidak ada yang menyadarinya, semenjak Naruto bertemu dengan zat suci yang menyebut dirinya 'dewa'.
Ia memiliki beberapa kemampuan aneh, salah satu di antaranya adalah berkomunikasi dengan arwah. Ya, dia bisa berbicara dengan arwah di dalam pikirannya. Bersentuhan meskipun dalam bentuk tidak nyata, dan lain sebagainya.
Namun, dengan kemampuan tersebut Naruto tetaplah Naruto. Dia masih sangat takut akan mahkluk yang disebut hantu, terutama yang bentuknya sudah aneh-aneh. Untungnya, kemampuannya ini seperti menyesuaikan kondisi dari Naruto. Hantu yang berkomunikasi dengan Naruto selalu dibuat dalam keadaan yang 'layak'.
"Kalian belum pergi ke akhirat? Ini sudah satu minggu sejak kejadian itu, terlalu lama di dunia manusia akan membuat keberadaan kalian semakin sulit."
"Kami tidak bisa meninggalkan Sena seperti ini. Beban yang dipikulnya terlalu berat untuk tubuh kecilnya." Hantu pria yang ada di alam bawah sadar Naruto mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Seandainya saja ada orang yang mau merawatnya, kami pasti bisa ke akhirat dengan tenang ...,"
"Benar Anata, seandainya saja ada orang yang mau melakukannya ...," Tambah si hantu wanita.
Naruto meruncingkan matanya, "Apapun yang kalian pikirkan, aku tidak akan melakukannya."
Kedua pasangan suami istri itu tidak menyerah. Tanpa mengindahkan rasa malu (mereka hantu) dan harga dirinya (mereka hantu), mereka bersujud tepat di hadapan Naruto.
"Kami mohon padamu Naruto-san, anak kami itu seorang yang pemalu. Dia tidak memiliki teman atau pun kerabat dekat lagi. Satu-satunya orang yang bisa kami percayai hanyalah dirimu, Naruto-san."
"Tunggu dulu! Ada yang aneh disini, kenapa kalian malah mempercayaiku?! Aku baru kali ini bertemu dengan kalian di alam bawah sadar, dan sekarang kalian ingin aku merawat anak kalian satu-satunya? Bagiaman mungkin?!"
Tidak menyadari ancaman yang mendekat, sebuah tangan berbulu jingga keluar dari belakang Naruto.
Twing! Wussssh! Jdum!
Sebuah sentilan raksasa sukses melemparkan Naruto puluhan meter ke depan dan memberikannya sebuah pendaratan alite (kaki di atas kepala di bawah),
"APA YANG KAU LAKUKAN BAKA-KURAMA!"
Dari balik bayangan gelap ruangan alam bawah sadar ini, sosok Kurama keluar. Rubah berekor sembilan dengan postur tubuh menyamai bangunan dua lantai itu berdiri kokoh dengan sorot mata angkuh namun bersahabat.
Ia menoleh pada dua pasangan hantu yang memandangnya dalam senyuman hangat, kemudian beralih pada Naruto.
"Lakukan saja permintaan mereka, Naruto."
"Tapi Kurama-"
"Kau ini sangat menyedihkan Naruto. Jangan mempersulitnya, anak ini juga sama sepertimu. Dia tidak punya teman atau pun keluarga, apa kau benar-benar akan meningalkannya seperti yang para penduduk lakukan padamu dulu?"
Naruto terdiam mendengarkan ucapan Kurama, tidak biasanya kawan sehidup semati-nya ini mempedulikan orang lain, bahkan untuk jujur dengan perasaannya saja sangat sulit. Tapi sekarang Kurama malah melakukan hal yang biasa dibencinya.
Terlepas dari keanehan tersebut, ucapan Kurama kedengaran benar adanya.
Kondisi Sena sekarang sama sepertinya, atau bahkan lebih buruk. Kalau dia melepaskannya sekarang, bisa saja gadis kecil ini terseret ke dunia gelap seperti yang telah sahabatnya lakukan dulu.
Jika itu memang terjadi, tentu saja semua karena kesalahannya.
Naruto menoleh bergantian pada Kurama dan pasangan suami istri di dekatnya. Ia mengendurkan otot tubuhnya sejenak sebelum kemudian mengucapkan apa yang ingin dikatakannya, "Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi hanya kali ini."
"Hwaa!" sepasang suami istri tersebut berseri, "Arigatou Naruto-san, Kurama-san. Kami tidak akan melupakan kebaikan yang telah kalian berikan. Jadi sekarang kami akan pergi ke akhirat ...,"
Wujud kedua hantu itu mulai menghilang dan tubuh mereka menjadi lebih transparan dari sebelumnya. Naruto dan Kurama saling berpandangan, merasakan ada sesuatu yang aneh.
"Cotto mate! Apa keinginan kalian cuma itu?" Tanya Naruto.
"Tentu saja, terlalu banyak keinginan hanya akan mempersulit jalan kami ke akhirat."
"Eh! Jadi kalian berdiam diri di dunia manusia selama 7 hari hanya untuk memintaku mengurus anak kalian?"
Sang istri memiringkan kepala dan jarinya menyentuh dagu, "Memangnya itu salah?"
Dong!
Sepertinya aku sudah salah karena bertanya, pikir Naruto.
CHANGE DESTINY
"Kau ingin makan sesuatu sebelum pulang, Sena-chan?"
Gadis kecil di samping Naruto nampak berpikir, ini adalah kali keduanya menerima tawaran makan dari orang lain. Yang pertama dari orang tuanya, dan sekarang dari seorang yang baru di kenalnya.
Sebenarnya dia tidak boleh menerima tawaran dari orang asing. Tetapi entah datang darimana, jauh di dalam hatinya ia sudah menerima sosok lelaki yang dipanggil 'Naru-nii' ini.
Apalagi dengan postur yang menyerupai 'penolong'nya, ia nyaris berpikir kalau keduanya adalah orang yang sama.
Tapi itu tidak mungkin, Naru-nii ini hanya manusia biasa sama sepertiku, sedangkan yang menyelamatkanku adalah orang yang berbeda, Ujar Sena dalam hatinya.
"Aku ingin makan Okonomiyaki!" Seru Sena itu riang.
Naruto tersenyum tanpa sadar, kemudian salah satu tangannya mengacak ringan rambut Sena, "Yosh, kalau begitu ayo kita makan Okonomiyaki malam ini."
"Hump!" Balas Sena semangat.
Setelah mendapatkan mandat dari orang tuanya, kini Naruto secara tidak resmi menjadi orang yang merawat Sena. Maksud merawat disini bukan merujuk pada orang tua ataupun keluarga pengganti, namun lebih ke kondisi dimana mereka berdua adalah teman.
Mengajak bicara, bercanda, melakukan hal-hal yang menyenangkan dan sebagainya.
Sejak dari pemakaman juga keduanya sudah mulai membincangkan banyak hal. Dari sana Naruto mengetahui nama lengkap gadis ini, Hoshimiya Sena. Gadis umur 12 tahun yang memiliki hobi jalan-jalan, tidak banyak teman, dan sedikit pemalu.
Naruto memaklumi sifatnya karena pasangan suami istri tadi juga sudah menjelaskan keadaannya. Tapi anehnya, Sena kelihatan tidak merasa terganggu dengan adanya Naruto di dekatnya.
Haruskah aku menyebut ini hal baik? Pikir Naruto.
x-x-x-x-x
Di tengah gelapnya malam, hutan yang seharusnya di penuhi oleh suara hewan noctural kini menjadi sunyi. Tidak ada satu pun hewan yang mau keluar dari sarangnya hanya untuk mencari makan.
Insting hewan yang sudah mereka miliki sejak lahir itu seolah diterkam oleh atmosfir membunuh dari dua sosok yang memiliki perawakan sama. Rambut pirang dan whisker tiga pasang.
Mereka adalah klon Naruto yang memiliki kekuatan sama, yakni 45% dari Naruto yang asli.
Keduanya saling bertukar pandang, memperhatikan gerakan satu sama lain dalam sunyi dan menunggu sebuah kesempatan datang.
Salah satu di antara mereka mengeluarkan kunai, sedangkan yang lain mempersiapkan shuriken.
[Teleport]
Klon (A) menghilang dalam ketiadaan, sosoknya yang memegang kunai itu muncul tak jauh dari Klon (B), lalu menghilang dan muncul kembali. Kejadian itu berulang untuk beberapa waktu ke depan.
Hingga pada kondisi tertentu Klon (A) melemparkan kunainya di titik buta Klon (B). Jika dilihat sekilas, harusnya kunai tersebut berhasil menancap di kepala Klon (B). Tetapi ia bisa menghindari serangan tersebut tanpa melihat.
"Chk, kau menggunakan penglihatan masa depan?"
Klon (B) menyeringai, "Kau menggunakan Teleport dan aku membaca masa depan. Kukira ini adil."
"Lalu, apa kau akan terus menggunakannya? Tidak seru!"
"Tidak ada yang menyuruhku membuat ini jadi seru. Diam dan lawanlah aku, Naruto!"
"Kau juga Naruto, Baka!"
"Benar juga, kalau begitu kau Babi," Balas Klon (B) santai.
Twis! Twis!
"APA KAU BILANG!?"
Klon (A) melesat bagaikan peluru dengan rasengan berukuran bola basket di kedua tangannya. Gerakan lues dan efisien itu di dorong dengan pemanuveran yang memadai, ia mencoba memberikan serangan telak pada Klon (B).
Namun tanpa di duga, serangan tersebut dapat di hindarinya tanpa adanya kendala berarti. Menggunakan kesempatan yang tercipta, Klon (B) balas melakukan serangan balik.
Tendangan dan pukulan sempat ia berikan sebagai bukti perlawanan. Namun semua serangan itu seolah tidak berarti, keduanya sudah memahami gerakan satu sama lain sehingga melakukan beberapa manuver sempurna bisa dilakukan dengan mudah.
Mereka juga tak jarang menggunakan beberapa kemampuan unik seperti Teleport dan Membaca masa depan untuk menyempurnakan tiap gerakannya.
"Mau sampai kapan kau akan menahan Rasengannya? Kalau tidak dilepaskan segera, kau yang akan kalah," Ujar Klon (B).
"Urusai! Sebentar lagi juga akan aku lepaskan ... padamu!"
"Coba saja."
"HYAAAAH!" Klon (A) berteriak keras.
Dua rasengan yang sudah mulai kehilangan kendali itu saling beresonansi, menyatu satu sama lain di tangan kanan Klon (A). Angin di sekitar tubuhnya bergerak memutar seolah ikut mendampingi aliran kekuatan yang di keluarkan oleh gabungan dua rasengan tersebut.
Bunyi bising bagaikan gemuruh badai melanda hutan, hewan yang sedari awal bersembunyi karena takut kini di landa kepanikan yang lebih dari sebelumnya.
Tidak seperti makhluk lainnya, Klon (B) tidak gentar sedikit pun. Ia menyeringai dalam suasana yang kian mencekam, dirinya sudahlah tahu kalau serangan ini akan menjadi akhir baginya ... jika terkena.
[Step one : Leap Burst]
Wussh!
Klon (A) melakukan lompatan demi lompatan yang dipadukan dengan kecepatannya sebagai ninja, awalnya melihat keberadaan Klon (A) tidaklah sulit, tapi makin kesini lompatannya menjadi lebih cepat hingga kini wujudnya seolah menjadi puluhan, ratusan, bahkan ribuan.
Di tengah banyaknya kesempatan untuk menyerang, Klon (A) mengambil saat dimana Klon (B) tidak bisa menghindarinya. Itu adalah saat Naruto secara berkesinambungan melakukan lompatan sebanyak ribuan kali di beberapa tempat berbeda dengan tujuan yang sama, yakni memberikan serangan kronis pada Klon (B).
"GAAAAAAAH!"
[Saigo no Rasengan]
Swiiiiing!
Cahaya putih bersinar di tengah gelapnya hutan, semakin terang hingga beberapa makhluk siang membuka matanya untuk mengechek apakah malam sudah berlalu. Namun segala tindakan tersebut harus di urungkan karena munculnya suara ledakan dahsyat setelahnya ...
DUUAAAAAAAAR!
Hutan malam itu benar-benar di buat kacau, mahkluk hidup yang mendiami daerah sekitar juga dilanda gelisah, dan sebagian hewan mencoba lari dari hutan menuju ke tepi pantai.
Mereka ketakutan, setelah hidup selama beberapa generasi, ini adalah kali pertama tempat yang menjadi tempat tinggal mereka di landa kekuatan sebesar itu.
"Bwahahahahaha! Kau lihat kekuatan dari rasenganku! Ini adalah versi rasengan biasa yang sudah ku naikkan ke level yang sangat tinggi! BWAHAHAHAHAHA!" Seru Klon (A) kegirangan.
Klon (B) memandang datar tingkah dari dirinya yang lain, tidak pernah terpikirkan olehnya kalau ternyata dirinya bisa menjadi sangat kekanakan.
"Berhentilah tertawa, Babi ..." Klon (B) memperhatikan daerah sekitarnya yang sudah hangus menjadi kawah panas selebar puluhan meter. Matanya memancarkan sebuah kekesalan, namun dengan cepat berganti menjadi mimik pasrah, "Kita harus merestorasi daerah sekitar, atau nanti akan ada yang marah karena penggundulan ini."
"Okay!" Balas Klon (A) cepat.
Kedua klon dari Naruto itu pun melakukan restorasi pada bidang tanah yang baru saja mereka jadikan tempat latihan.
Klon (B) melakukan restorasi dengan menggunakan kemampuan melihat masa depan versi lanjutan dimana dia bisa mengatur waktu tertentu pada objek sesuai dengan kehendaknya. Dengan begitu ia pun bisa melakukan pengulangan waktu dimana daerah sekitar belumlah menjadi lapangan latihan.
Berbeda dengan Klon (B), klon (A) memiliki tugas untuk mengembalikan kesuburan tanah dengan memberikan energi kehidupan yang berasal dari [Rikudō Mōde], dengan begini mereka tidak perlu mengkhawatirkan kerusakan pada tanah akibat pertarungan sebelumnya.
Begitulah keseharian dari klon Naruto setelah melakukan latihannya, mereka akan memperbaiki keadaan tanah tempat latihannya meskipun itu berada di tempat yang sangat tidak mungkin di jangkau oleh pesawat / kapal manapun, alasannya karena tempat latihan klon Naruto adalah di segitiga bermuda.
Mereka menemukan pulau ini dulunya karena sebuah kebetulan. Dalam rangka menemukan pulau yang tidak berpenghuni untuk latihan, klon dari Naruto melakukan observasi ke sejumlah samudra yang ada di dunia selama 3 tahun.
Saat itulah, secara tidak sengaja klon Naruto jatuh dari langit (Mereka pergi keliling samudra menggunakan Rikudo Mode) dan mendarat di pulau ini. Karena karakteristik pulaunya yang sangat istimiewa (Medan magnet, mahkluk hidup, ekosistem, dan kondisi lingkungan) membuat klon Naruto menetapkan kalau pulau ini akan menjadi Training Field pribadi Aotsuki Naruto.
Sejak saat itu Naruto ataupun klonnya selalu berlatih di pulau tersebut secara otodidak.
Mengenai kemampuan unik. Naruto memliki 3 jenis kemampuan unik, yakni berkomunikasi dengan orang mati, teleport, dan melihat masa depan. Tidak jelas kapan Naruto memiliki kemampuan ini, tapi yang pasti dia sudah melatihnya semenjak umurnya menginjak 4 tahun.
Jika boleh berasumsi, Naruto menduga kemampuan ini di sebabkan karena dirinya pernah bertemu dengan anak yang mengaku 'Kami-sama' dan fakta kalau di dunia ini ada juga orang yang memiliki kemampuan sama sepertinya.
Kalau tidak salah, mereka disebut Esper.
"Sepertinya sudah semua, aku akan kembali sekarang," Ucap Klon (A).
"Yosh! Bagianku juga sudah selesai, aku juga akan kembali."
"KAI!"
x-x-x-x-x
Berdiri di puncak tertinggi tower, sebuah sosok hitam memperhatikan kota Kuoh dalam diam. Matanya yang memiliki pendar kemerahan itu menatap bosan tiap manusia yang berlalu lalang, dan mulutnya yang dipenuhi oleh gigi bertaring itu mengunyah dengan rakus sebuah apel.
"Kota ini terlalu damai untuk wilayah iblis Gremory, kita akan mengobrak-abriknya besok malam," Ucap sosok tersebut.
Tepat setelah ia menyelesaikan ucapannya, belasan bayangan hitam menampakkan dirinya di langit Kuoh. Mereka memiliki mata merah sempurna tanpa pupil, dan wajah mereka tertutup sebagian oleh topeng.
Tidak berselang lama, bayangan-bayangan hitam tersebut menghilang dibawa angin.
Sosok hitam menyeringai, giginya yang berupa taring itu nampak jelas terpantul cahaya bulan, "Sekarang apa yang akan kau lakukan, Sirzech?"
.
.
To Be Continue.
Author Note :
Begini, Author bakalan jujur. Cerita ini sebenarnya gak ada kerangka tubuhnya, segala hal yang ada di fict ini saya tulis secara spontan. Jadi author gak bisa masukin sebuah konflik yang berlarut-larut, kedepannya konflik yang ada akan dibuat seringan mungkin, saya harap reader mau mengerti.
Oh iya, saya juga minta maaf kalau ceritanya gak seru. Beberapa bagiannya juga terkesan hambar.
Lalu ini adalah bagian biodata.
Profil Tokoh.
Nama : Aotsuki Naruto.
Kemampuan Unik :
Berbicara dengan mahkluk halus.
Teleport
Melihat masa depan
Jutsu / Jurus :
Sama seperti canon
Pengembangan dari beberapa jutsu asli canon
Peralatan : -
Partner : Kurama (Kyuubi no Kitsune dunia shinobi)
Umur : 16 Tahun
Hobi : Bermain, jalan-jalan, makan.
Balasan Review
Miyuki Nishikino : kesulitan menghadapi musuhnya, akan saya coba kedepannya. Makasih udah review ya ^_^)
Romexo : Ah iya, maafin Author. Itu beneran typo, maklum mas ... saya gak biasa pakai bahasa jepang gitu. Saya sebenernya pengen bikin yang cepet, tapi karena beberapa tindakan memerlukan alasan yang logis. Jadi ceritanya sengaja dibikin lambat supaya gak ada beberapa hal yang saling tumpang tindih.
Vilan616 : Iya makasih. Kalau untuk pair belum bisa author tentukan, bisa harem atau single ... tergantung mood Author kedepannya xD
Andreas11 : Saya menambahkan beberapa kemampuan unik. Gpp kan? soalnya saya memang ngebet banget pengen pake kekuatan esper , lagipula kemampuannya Cuma jadi skill pendukung saja kok
Sinta Dewi468 : Naruto gak punya Sacred Gear, kekuatan utamanya murni dari dunia ninja. Kecuali beberapa rasengan yang sengaja Author kreasikan '3'
Steven Yunior Roger : Typo mas! *teriakpaketoak
Bayu : Oh begitu, oke deh ... hehehe
The Black Water : Akan saya usahakan mas. Kalau seumpamanya ada unsur kelebayan, itu berarti memang pemikiran saya yang masih kekanakan, thank's dah review
Ryoko : Okay, gak bakal sok-sok bahasa inggris O.O)7 tapi untuk (...) sepertinya akan tetap saya pasang. Soalnya beberapa bagian memerlukannya mengingat ada unsur imaginasi non ilmiah yang harus digambarkan serinci mungkin. Mohon di maklumi ya ^_^
Dilousfarm : Kalau Mainstrem maaf ya, saya spontan bikinnya
See you next chapter.
