Another Dimension : Change Destiny.

Disclamer : Semua karakter dalam fict ini bukanlah milik saya, jika ada yang bilang ini milik saya jangan pernah percaya.

Pair : — ?

Rate : Maybe M? Untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba Author pengen masukin lime / lemon.

Genre : Fantasy, Adventure, Suprantural, and etc.

Warning : OOC, OC, Typo, Mainstrem, Human!Naru.

Summary :

Naruto menikmati kehidupannya yang sekarang, semua usahanya terbayar lunas, terlebih setelah lewatnya PDS 4. Namun karena beberapa hal tidak terduga, Naruto terpaksa pergi dari dimensinya untuk menyelamatkan teman dan sahabatnya. Bagaimanakah kisah Naruto selanjutnya, akankah dia berhasil berhasil mengubah takdir yang menantinya, ataukah takdir yang sedang mempermainkannya?

Chapter 4 : Pernyataan perang!


Beberapa tahun sebelum kehancuran Old-Satan Faction, dibentuklah sebuah kelompok anti pemerintahan yang menyebut dirinya Anti-Old-Satan Faction.

Awal pembentukan kelompok, banyak masalah yang datang silih berganti. Semua hambatan dan rintangan selalu mewarnai perjuangan kelompok anti pemerintahan ini, namun itu bukanlah masalah yang sulit untuk di hadapi.

Dengan dua kedudukan yang menjadi tonggak kepemimpinan, mereka dapat melewati segala permasalah yang ada dengan mudah.

Tapi siapa menduga, kelompok yang terkenal akan kekokohannya ini mengalami keretakan disebabkan perselisihan dua kubu. Kubu dari Sirzech Gremory dan Agrori Eligos, mereka berpendapat kalau kelompok sebesar Anti-Old-Satan Faction haruslah dipimpin oleh satu orang saja.

Pada saat itu Sirzech tidak mempermasalahkannya dan dengan senang hati memberikan kursi kepemimpinan tunggal pada sahabatnya, Agrori. Tapi masalah tidak selesai disana saja, beberapa pendukung yang tidak menyetujui keputusan tersebut akhirnya melakukan penyelidikan guna mencari maksud sesungguhnya dari kepemimpinan tunggal tersebut.

Dan sebuah fakta terungkap ...

Agrori memimpin Anti-Old-Satan Faction bukanlah untuk memberikan kemerdekaan ataupun keebasan pada iblis, melainkan untuk menjalankan sebuah sistem pemerintahan yang lebih tirani daripada Old-Satan Faction.

Semua orang terkejut saat mendengar fakta tersebut, terutama Sirzech. Ia sangat mempercayai Agrori layaknya saudaranya sendiri hingga tidak tanggung-tanggung menyangkal segala tuduhan yang dilayangkan pada Agrori.

Tapi semua pemikirannya benar-benar salah, pada malam dimana semua orang tertidur ... Agrori melakukan pengkhianatan pada Sirzech dan sebuah perang saudara pun pecah di antara dua kubu.

Pertarungan yang sengit terjadi di antara keduanya selama 3 hari. Untuk pertama kalinya, keduanya bertarung dengan kekuatan penuh hingga nyaris membuat Underworld hancur kedalam kebinasaan.

Hasil dari semua pertarungan itu adalah kemenangan bagi Sirzech, dan tonggak awal kepemimpinan yang menjadi cikal bakal kebebasan Underworld saat ini.

Semuanya berjalan lancar hingga kedamaian dapat tercipta di Underworld. Tapi sejak saat itu tidak ada yang pernah mendengar kabar dari Agrori. Sirzech berkata kalau dia sudah membunuhnya, tapi banyak orang yang meragukan hal tersebut mengingat betapa Sirzech sangat dekat dengan Agrori.

.

Dibalik meja kerjanya, Sirzech duduk termenung memperhatikan sebuah foto yang menampilkan dirinya dan mantan sahabat baiknya, Agrori. Ini sudah 50 tahun berlalu semenjak kejadian itu. Banyak yang sudah berubah tanpa ada yang menyadarinya ...

"Grayfia, apa hari ini aku ada waktu luang?"

Seorang keluar dari sudut bayangan ruangan. Ia adalah Grayfia Gremory, istri sekaligus Queen Sirzech, "Tidak ada. Memangnya kenapa, Anata?"

"Begitu ya," Sirzech menutup lembar fotonya, kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti. Dan lalu membalikkan laporan dari Underworld secara perlahan tanpa menimbulkan suara yang berarti.

Jika melihatnya sekilas tidak akan ada yang sadar kalau Sirzech bertingkah aneh. Mereka mungkin beranggapan kalau Sirzech hanya kelelahan atau sedang tertekan akibat banyaknya hal yang harus diurus.

Tapi hal tersebut masihlah belum cukup untuk mengelabui seoran istri yang selalu ada di sisinya.

Tingkah Sirzech aneh, begitulah yang dipikirkan Grayfia. Biasanya lelaki yang memerintah Underworld ini akan sangat keras kepala hanya untuk mendapatkan hari libur, tapi belakangan menjadi lebih pendiam, dan lesu. Jadi ia menyimpulkan kalau hal ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan Sirzech sebagai Maou.

"Mungkin aku bisa membatalkan beberapa jadwal."

Atensi Sirzech yang sedari tadi fokus pada pekerjaan teralihkan pada Grayfia, "Arigatou ...," Ucapnya dengan sebuah senyum tulus yang terukir.

"Jangan sungkan, anggap saja sebagai balasan untuk se~ma~lam~" Balas Grayfia dengan nada menggoda penuh gairah.

Sirzech terdiam, ia mendongak pada Grayfia untuk sekedar memeriksa kondisi istrinya. Ekspresi Grayfia tidak banyak berubah―datar, tapi ada sedikit rona merah disana yang mau tidak mau membuat Sirzech mengingat malam penuh gairahnya dengan sang istri tercinta.

Blush!

"H-Ha'i."

x-x-x-x-x

"Hoaaam, ngantuknya~"

Hayama memperhatikan anak semata wayangnya, begitu pula dengan Reiko. Belakangan ini kebiasaan Naruto agak berubah. Jika biasanya Naruto akan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah untuk belajar atau pun membaca buku, kini ia menjadi lebih sering bermain di luar hingga larut malam.

Sebagai orang tua tentu saja mereka mengkhawatirkan anaknya. Bagaimana jika anak polos mereka sampai masuk ke pergaulan bebas yang tidak jelas? Bisa-bisa mereka berdua menjadi sosok orang tua yang gagal.

Dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mau gagal dalam menjadi orang tua!

"Naruto," Panggil Hayama.

Naruto yang tengah melahap rotinya itu menoleh pada Hayama. Mulutnya yang terisi oleh makanan itu tidak berkata apa-apa selain suara tabrakan antar gigi, namun matanya seolah mewakili pemikirannya. 'Iya, ada apa Otou-san?'

"Begini," Hayama menoleh sesaat pada istrinya hanya untuk mendapatkan dukungan, dan di balas dengan sebuah anggukan setuju. Ia tersenyum kemudian membuang nafasnya pelan, "Beberapa hari ini Otou-san dan Okaa-san perhatikan kau sering pulang malam, apa kau memiliki keperluan yang mendesak sampai pulang larut?"

"Ehm, tidak kok. Aku hanya menemani Sena-chan bermain beberapa hari ini."

"Sena-chan?"

Dan pada akhirnya Naruto menceritakan segela sesuatunya mengenai Hoshimiya Sena. Dimulai dari pertemuan mereka di pemakaman hingga saat-saat yang dihabiskan bersama untuk mengusir kesepian atau pun menghibur anak yang sudah yatim piyatu tersebut.

Well, Naruto tidak menceritakan bagian dimana ia 'melawan monster' ataupun saat 'berbicara dengan almarhum orang tua Sena' karena beberapa hal yang orang awam sudah pasti tahu.

"Anak yang malang," Ucap Reiko sedih.

"Nanti ajaklah dia makan malam disini Naruto. Okaa-san dan Otou-san ingin bertemu dengannya juga."

"Eh, memangnya tidak apa-apa?"

Hayama mengangguk, ia kemudian menoleh pada istrinya tercinta untuk sekedar meminta dukungan ataupun persetujuan, dan respon positif lah yang ia terima, "Tidak apa-apa. Ibumu kemarin membeli banyak makanan, jika hanya kita bertiga takutnya akan membusuk duluan. Jadi mintalah dia untuk membantu menghabiskan makanan kita."

Naruto tersenyum lebar, wajahnya yang mengantuk kini berseri, "Arigatou Tou-san, Okaa-san ... aku pasti mengajaknya."

"Ha'i ... sekarang cepat habiskan sarapanmu dan berangkat, Naruto."

"Tapi kan ini belum jam 7, Naru ingin bersantai di rumah sebentar lagi," Balas Naruto.

"Tidak ada tapi-tapian, kamarin kau bersantai-santai dan terlambat 'kan? Kalau Kaa-san sampai mendapat telfon dari sekolah karena kau terlambat lagi. Maka tidak akan ada lagi ramen untuk satu tahun kedepan."

"HA!? Kok begitu sih, Kaa-san? Lagian kemarin itu aku tidak sengaja, kejadiannya murni karena ketidak sengajaan."

"Apapun alasannya, Kaa-san tidak peduli."

"Ha'i."

Dan perdebatan singkat itu dimenangkan oleh ibu Naruto. Well, mau bagaimana pun, Naruto tidak mungkin bisa memenangkan perdebatan dengan ibunya. Alasannya jelas, karena ibu Naruto itu wanita ... dan wanita selalu benar.

x-x-x-x-x

Rias memperhatikan pantulan dirinya melewati cermin. Pakaian rapi dan anggun, rambut merah crimson, dan make-up yang natural. Seharusnya ini sudah cukup untuk mengeluarkan aura kewanitaannya. Tapi ...

Masih belum, pikirnya.

Dia merasa penampilannya belum cukup bagus, dan dengan bermodalkan beberapa pengetahuan dari majalan fashion bulanan, Rias kembali mengatur penampilannya.

Tujuannya melakukan ini tidak jelas, biasanya dia tidak akan memperhatikan penampilannya karena dirinya memang sudah cantik sejak dulu. Tapi ketika dia memikirkan jika hari ini Naruto (mungkin) akan makan siang dengannya seperti kemarin, perasaan gugup masuk ke hatinya.

Berkat semua perasaan gelisah tersebutlah, Rias melakukan hal yang sangat jarang ia lakukan 'berdandan'.

"Hufft," Rias menghela nafas, "Sebenarnya apa yang ku lakukan?"

Ia duduk di sisi ranjang, wajahnya memerah dan tangannya secara tidak sadar menyentuh organ yang di anggapnya sebagai jantung, 'Aku ini kenapa?'

Semenjak bertemu dengan Naruto kemarin siang, perasaan Rias menjadi tidak menentu. Beberapa hal terasa menggelitik namun hangat, dilain sisi juga memberikan dorongan yang sama kuatnya dengan keinginannya menjuarai rating game.

Aneh, begitulah pikir Rias. Apa mungkin ini perasaan suka? Tapi mereka baru bertemu sekali itu, mana mungkin perasaan sejenis itu bisa tumbuh dalam sekali pandang. Untuk semalaman Rias dibuat bingung akan kehendak hatinya sendiri, tapi ia memilih jalan aman dimana itu hanyalah sebuah perasaan yang umunya terjalin di antara teman.

Pada akhirnya, sampai sekarang Rias tetap gelisah karena perasaanya sendiri.

x-x-x-x-x

Seperti hari yang biasanya, semua orang melakukan kebiasaan sehari-hari, mulai dari bangun hingga berangkat kerja untuk yang bekerja dan belajar untuk pelajar.

Begitupula dengan Yuuto Kiba, sebagai seorang murid di sekolah bertaraf internasional seperti Kuoh Gakuen. Ia melakukan segala aktifitasnya tanpa gangguan yang berarti, namun semua kesehariannya itu kini seolah berubah secara drastis.

Jika biasanya dia akan pergi ke sekolahnya untuk menuntut ilmu ataupun mengikuti keiatan klub, hari ini ia tidak bisa melakukannya.

Dua sosok hitam yang sedari tadi terus mengawasinya kini beralih menjadi menghadangnya. Mereka tidak memiliki bau manusia, dan itu sudah cukup untuk menarik kesimpulan jika kedua sosok tersebut bukanlah manusia.

"Siapa kalian?" Tanya Kiba.

Kedua sosok tersebut tidak bergeming ataupun merespon, pandangannya yang semerah batu ruby tapi kosong bagaikan kegelapan itu terus saja memperhatikan tiap gerak gerik dari pemuda yang menyandang bidak [Knight] tersebut.

Meskipun tidak mendapatkan tanggapan, Kiba tidak bisa menghilangkan kuda-kuda waspadanya. Dirinya merasa terancam dengan kehadiran dua sosok bukan manusia tersebut, tapi mengeluarkan kekuatannya secara sembarangan juga bukan pilihan yang tepat.

Pada akhirnya ia memilih untuk melarikan diri sekaligus melihat respon dari dua sosok hitam tersebut. Dan sesuai dugaannya, kedua sosok itu menerjang dan mencoba mendaratkan sebuah pukulan telak.

Wusss...!

Pukulan tersebut hanya mengenai udara kosong.

"Aku tidak tahu apa tujuan kalian. Tapi jika kalian ingin membuat masalah dengan keluarga Gremory―"

[Sword of Birth]

Dari sebuah ketiadaan, muncul sebuah pedang di genggaman Kiba dengan pendar hitam menyelimutinya.

"―maka aku tidak akan tinggal diam."

Secepat kecepatan dewa (menurut Issei), Kiba melesat membelah udara guna mendaratkan serangan kritikal pada kedua sosok tersebut. Pedang bertabur kekuatan iblis itu berayun cepat. Namun tanpa memperdulikan dari akibat yang di terimanya, salah satu sosok tersebut menahan tebasan Kiba dengan lengannya.

Trannnkk!

Bagaikan menghantam sebuah besi baja, pedang milik Kiba malah terpental dan di ikuti dengan gemetar yang sangat di tangannya.

"Keras sekali."

"Pedang iblismu tidak sekuat yang aku pikirkan."

"Analisis-nya sudah selesai, Nii-san."

Membalikkan tubuhnya dengan gestur senang, sosok yang dipanggil Nii-san menyerukan ucapan kekagumam.

"Wah, hebat sekali Kazu!"

"Hehehe ... ini tidak seberapa."

Keduanya kembali fokus ke depan dimana Kiba tengah berdiri dengan penuh kewaspadaan. Dengan sekali tarikan dari keduanya, jubah hitam yang membalutnya lepas.

Dua sosok yang memiliki postur tubuh berbeda tersebut menyeringai kecil. Sosok yang berdiri di depan memiliki perawakan tubuh tinggi, besar, serta kuat. Kedua tangannya yang di penuhi otot itu berwarna hitam layaknya besi –tidak ... itu memang besi. Tubuhnya yang dibalut oleh pakaian seadanya itu kelihatan kekar dengan tatoo hitam yang nyaris membungkus seluruh tubuh bagian kirinya.

Wajahnya yang seperti model majalah itu nampak pucat dengan mata merah yang kosong, rambutnya yang sehitam tinta tidak rapi namun menegaskan kesan liar.

Berdiri di belakangnya, seorang pemuda dengan perawakan lebih kecil memberikan tatapan sinis. Tubuhnya yang berbalut dengan kaos bermotif tengkorak memberikan kesan liar dan berandalan, apalagi karena tubuh berkisaran 14 tahun itu memiliki tatoo aneh yang membungkus sebagian tubuh bagian kiri hingga mencapai sisi kiri wajahnya. Kesan berandalannya menjadi semakin kuat.

"Sebelumnya izinkan kami memperkenalkan diri, Namaku Haagenti Takuma."

"Dan aku Haagenti Kazuma, salam bertemu denganmu!"

Untuk beberapa saat, Kiba tidak percaya dengan dua sosok yang baru saja memperkenalkan dirinya tersebut. Alasannya karena marga yang dikenakan oleh keduanya, nama itu milik iblis yang dulunya pernah menduduki kursi kepemimpinan Underworld dibawah naungan Lucifer.

"Kalian dari 72 pilar solomon?"

Ya, marga tersebut adalah nama iblis bangsawan yang berdiri di salah satu dari 72 pilar raja Solomon beriringan dengan Gremory dan Sitri.

"Fufufu, apa kau terkejut?"

"Tapi bagaimana mungkin, bukannya keberadaan 72 pilar sudah nyaris musnah. Yang tersisan hanya Gremory, Sitri, dan beberapa pilar saja."

Seperti yang dikatakan oleh Kiba. Setelah pecahnya Great War, lebih dari 80% jumlah 72 pilar musnah dikarenakan betapa besarnya perang yang terjadi. Beberapa memang berhasil hidup, namun tidak lama mereka memiliki masalah yang sama, yakni keturunan.

"Setitik debu selalu punya rahasia dibaliknya. Jika kau hanya melihat sebuah fakta berdasarkan delusi semu yang tertutup oleh pemikiran duniawi. Tentu ... sebuah rahasia hanya seperti sebuah titik debu."

Takuma berlari menuju Kiba, tangannya yang bagaikan besi metal itu berayun keras menghantam tubuh bidak [Knight] Rias.

"Apa yang sedang kau bicarakan!?"

Trank!

Pedang Kiba beradu dengan lengan Taku, adu kekuatan pun tidak terelakkan. Kednuanya yang memiliki besi sebagai senjata utamanya itu terus menyerang bertubi-tubi tanpa memperdulikan keadaan sekitar.

"Kau tidak perlu banyak tahu."

Kini giliran sang adik unjuk kebolehan, ia dengan tangkasnya beradaptasi dengan pertarunan. Serangan demi serangan ia berikan meskipun tidak sekuat pukulan besi sang kakak. Namun pada satu keadaan tertentu, sang adik merapalkan sebuah mantra jurus.

[Iron Make : Drill]

Dari sebuah lingkaran sihir berwarna hitam keluarlah mata bor yang berputar kencang, benda yang memiliki komposisi berupa besi itu melesat cepat menuju Kiba.

"Sihir besi? Kalau begitu."

Kiba menghilangkan pedangnya dan berganti menjadi sebuah zanbato dengan ketebalan beberapa cm, ia mencoba menahan mata bor yang siap mengenainya tersebut. Namun ...

Nguuuuuuuuunng! Kraaak!

Kuat sekali, batin Kiba.

x-x-x-x-x

Akeno memperhatikan dengan senyum senang akan kelakukan Rias. Ketua yang biasanya jarang tersenyum itu kini malah cengengesan tidak jelas, alasannya hanya satu ... karena bisa makan siang dengan anak kelas satu yang bernama Naruto.

Ia tidak habis pikir. Bagaimana caranya ketua Penelitian Ilmu Gaib yang dipangil sebagai Great onee-sama itu bisa sebegitu senangnya dengan laki-laki bernama Naruto. Takdir kah? Atau hanya perasaan suka sesaat saja?

Oh iya, sebenarnya dari tadi Akeno memperhatikan suasana ruangan klubnya, dan ada yang terasa kurang.

"Akeno, apa kau tahu dimana Kiba? Dari pagi aku tidak melihatnya."

"Aku juga baru memikirkannya, Buchou. Apa dia sakit?"

Gadis dengan rambut putih yang sedari tadi memakan cemilannya itu juga ikut bicara, "Iblis tidak bisa sakit, Akeno-senpai. Pasti ada yang terjadi pada Kiba-senpai."

"Fufufu ... aku hanya bercanda, Koneko-chan,"

Gadis yang dipanggil Koneko itu tidak bereaksi banyak. Dari pada memikirkan hal yang tidak berada di jangkauannya, ia lebih memilih untuk menikmati teh hijaunya. Namun sesuatu tiba-tiba menganggunya.

"Rias-senpai, Akeno-senpai ... sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan."

Kedua Onee-sama itu saling pandang untuk beberapa saat, tapi tidak mengambil waktu lama keduanya sudah duduk di sofa, "Ada apa Koneko?"

"Begini ... sejak tadi pagi aku merasa ada yang aneh."

"Aneh bagaimana?" Desak Akeno.

"Aku tidak bisa menjelaskannya dengan jelas. Terasa seperti pertanda, tapi bisa jadi ini dari instingku saja."

Rias melipat kedua tangannya di bawah dada, wajahnya perlahan mengeras khas sedang berpikir, "Insting Nekomata, huh?" gumamnya.

Berbeda dengan Rias, Akeno memilih untuk mengelus puncak surai milik Koneko.

"Tenang saja Koneko-chan, kau tidak perlu memikirkannya."

"Hump."

Kini Rias memikirkannya, lalu mengaitkannya dengan beberapa hal hingga sebuah kesimpulan sementara dapat ia buat. Tapi itu masih jauh dari kata 'kesimpulan', untuk saat ini ia hanya akan menyebut itu sebagai 'asumsi'.

"Aku akan menghubungi Kiba dengan sihir."

"Ha'i Buchou."

Rias mulai membuat lingkaran sihir kecil dengan lambang keluarga Gremory sebagai pusatnya. Bunyi deringan suara layaknya handphone menggema dari lingkaran sihir tersebut.

Yah, mereka menunggu Kiba menerima panggilan tersebut. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik, sampai sebuah nada pelan memutuskan sambungannya.

"Tidak biasanya," Gumam Rias, "Aku akan mencarinya."

"Kalau begitu kami juga ikut."

"Ayo Akeno, Koneko!"

"Ha'i."

Druuuaaaaggh! Braaaaak!

"Apa yang―"

Sesuatu menghantam asrama tua yang digunakan untuk kegiatan klub Penelitian Ilmu Gaib, ruangan yang biasanya memiliki nuansa gelap itu kini menjadi terang akibat lubang yang menganga di langit-langit.

Yup, dalam kepulan debu yang menghalangi jarak pandang, Rias melesat cepat menghampiri 'tubuh' yang dikenalnya itu.

"KIBA!"

Teriakan keras dari Rias sukses menyadarkan Akeno dan Koneko dari kekagetannya, segera mereka menghampiri Buchou-nya. Dan betapa kagetnya mereka saat melihat 'tubuh' yang berada di pelukan Rias.

Kiba, yang berada dipelukan Rias adalah Kiba.

Anggota keluarga Gremory yang menjabat sebagai bidak [Knight] Rias itu kini tidak sadarkan diri. Tubuh yang biasanya bergerak dalam kecepatan tinggi itu sekarang dipenuhi luka.

Ya, seluruh tubuh Kiba yang biasanya memancarkan kebanggaan dari keluarga Gremory itu kini terlihat mengkhawatirkan. Luka-luka dari berbagai benda tercetak celas di tubuhnya, memar dan lebam memenuhi wajahnya, dan energi iblis yang kalanya disebut sebagai nyawa itu kian menipis.

Akeno tidak bisa berucap banyak, tangannya dengan reflek menutup mulutnya sendiri. Sedang Koneko terduduk di sisi senpai-nya tersebut dengan bola mata yang berair.

"Siapa yang melakukannya?"

"Fufufu ... senang rasanya ada yang bertanya."

Rias, Akeno, dan Koneko menoleh ke langit dimana dua sosok laki-laki penuh tatoo tengah berdiri tanpa kendala. Keduanya menyeringai dengan pandangan meremehkan.

"KALIAAAAN!"

Pada kondisi ini, Rias secara spontan mengeluarkan kekuatannya untuk membunuh kedua sosok itu. Namun serangannya seolah tidak memberikan efek apa-apa, keduanya tetap berdiri tanpa luka yang berarti.

"Ops, jangan terburu-buru, Gremory. Ini hanya pembukaan saja."

"Ya ya ya! Ini hanya pembukaan saja! Pertemupuran sesungguh akan dilakukan malam ini."

Akeno yang berusaha menahan Rias tertarik dengan maksud ucapan dua sosok tersebut, "Apa maksud kalian?"

Takuma menyeringai, "Malam ini ... Kota Kuoh akan hancur, dan semuanya akan dimulai disini! Di wilayah kekuasaan Gremory!"

"Nii-san tidak lupa dengan suratnya `kan?"

Takuma menoleh sesaat pada adiknya, lalu tertawa gugup, "Ahahaha ... mana mungkin aku lupa dengan pesannya."

Ia kemudian merogoh surat dari sakunya, "Jika kalian tidak keberatan, ketua kami punya pesan untuk Maou Lucifer."

Heeeeehhh~ dia jadi sopan, batin Author.

Koneko menerima surat yang jatuh kepadanya. Untuk beberapa saat Akeno, Rias, dan Koneko terfokus pada surat tersebut. Dan saat kewaspadaan mereka kembali lagi, dua sosok yang mengaku akan menghancurkan Kuoh sudah sirna.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi, pikir Akeno khawatir.

.

Sore itu pun Rias mengadakan rapat darurat dengan Osis Kuoh. Hal yang dibahas tentu saja tentang penyerangan yang akan dilancarkan oleh organisasi misterius yang tidak menyebutkan namanya itu.

Sedangkan Akeno pergi untuk menyampaikan pesan yang dititipkan oleh penyerang itu kepada Sirzech. Berbeda dengan Akeno dan Rias, Koneko juga memiliki tugasnya sendiri. Yakni membawa Kiba ke ruang perawatan keluarga Sitri guna mendapatkan penanganan yang lebih memadai.

Pada malam itu, sebuah api perang saudara kembali tersulut setelah beratus-ratus tahun padam. Dendam yang terpendam lebih dalam dari lautan muncul kembali ke permukaan dan sebuah roda takdir mulai berputar menuju ke masa depan yang tidak tentu. Akankah jalan ini menuju kepada kehancuran Kuoh Gakuen ... ataukah menjadi tonggak awal dari sebuah kebangkitan ...

.

Another Place.

Ruangan dengan desain yang bertujuan untuk menampung banyak buku itu kini sepi karena semua muridnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Meja yang biasanya terdapat sosok penjaga di belakangnya itu juga sudah kosong, dan hanya menyisakan sebuah kunci serta memo kecil.

Perpustakaan harusnya sudah ditutup sejak pukul 4. Tapi aku tidak tega menganggumu, jadi bertanggung jawablah!
Kunci perpustakaannya dan taruh kuncinya di ruang guru, murid kelas satu!

Pemuda dengan surai pirang itu membaca dengan khitmat memo yang di tujukan padanya.

"Haahhh~ ..." desahnya pasrah. "Harusnya sejak tadi bilangnya―ttebayo."

.

.

To Be Continue


Balasan Review!

Searfont Graffity : Baiklah, saya akan menjawab pertanyaanmu :3

Pertama, teknik unik melihat masa depan memiliki kurun waktu? Tentu saja punya, Naruto hanya bisa melihat maksimal 5 detik yang akan datang.

Namun ini juga tidak menutup kemungkinan Naruto bisa melihat masa depan beberapa menit / jam yang akan datang. Well, tapi ada persyaratan dan beberapa kondisi yang harus dipenuhi agar bisa melihat jauh ke masa depan (Dan itu akan sangat jarang dipakai, alasannya akan Author jelaskan setelah Arc ini selesai)

Kedua, Teleport sendiri punya batasan tersendiri layaknya hal lainnya. Konsepnya sama seperti 'Super Shoot dari Midoriyama―Kuroko no Basuke', jika jaraknya dekat maka teleport dapat dilakukan tanpa ada masalah (selama dalam jarak pandangan mata). Tapi jika jaraknya jauh, maka teleport tetap bisa dilakukan ... namun dengan jeda beberapa detik guna mengkonsentrasikan tujuannya.

Mungkin ini bisa menjawab pertanyaanmu ^_^)

Andre Iswandi : Harem ya ... hmmm ... saya pikir-pikir dulu deh, makasih atas sarannya, akan di tampung ^_^)

Aoi Rin Oukumaru : Well... Arc ini musuhnya bukan esper, tapi saya ada rencana buat bikin antago esper .. mungkin di beberapa chapter yang akan datang (^_^) Rosseweises terlalu dewasa buat Naruto (O.O) saya masih ragu mau ngasi Naruto pair siapa T_T)

Bayu : Ya bener! Saya sebenarnya pengen ngebangkitin suasana anak sekolah yang suka bercanda ataupun senang karena kegiatannya. Sebagian cerita ngebuat suasana sekolah itu membosankan (berangkat, makan siang, pulang, dan kerjaannya tidur) padahal sekolah itu punya daya tariknya sendiri ...terutama di jepang :3

Ada festival budaya, jalan-jalan tour, karya wisata, ikut remedi, liburan musim panas, kegiatan klub, lomba olahraga, dll. Memang sederhana, tapi justru ini yang bikin sekolah itu gak ngebosenin :3 (Maaf kalau ada yang tersinggung, gak ada niatan buat nyinggung kok u_u)

Laffayete : Setuju! Cerita yang ngebuka identitas dan kekuatan dengan cepat itu ngebosenin. Pada akhirnya, semuanya malah menjadi 'serba Naruto' .. kalo Naruto ngelakuin sesuatu pasti kesannya jadi 'wah' ... kadang bosen, tapi mau di apakan, belum ada yang punya solusi pasti ^_^)

Maaf kalau saya ambil scene-nya 1 tahun sebelum canon dxd. Alasannya sih biar ceritanya lebih mudah dikembangin, soalnya .. kalau udah ke Issei jadi iblis ceritanya gak bakal jauh-jauh dari ... pertunangan rias, ngelawan kokaibel, mentok sampai pengkhianatan Loki.

Sinta Dewi468 : Fraksi `ya? Saya juga bingung, Narutto mau memihak fraksi apa. Tapi yang jelas, Naruto akan membela apa yang dikiranya benar tanpa berpatokan pada desas desus tidak jelas yang menjerumus pada kebohongan.

Intinya, Naruto melakukan sesuatu berdasarkan apa yang dilihat ataupun dipercayainya tanpa memandang dari fraksi mana berasal. Bahkan jika itu adalah musuh, selama Naruto melihatnya sebagai orang yang benar .. jelas Naruto akan membelanya (^.^)a

Anymous-KUN : Pair belom di tentukan xD ... kira-kira bagusnya siapa ya? Oh dan satu lagi, NTR itu gimana? Kalau cheating (selingkuh) saya tahu ... tapi NTR bukannya lebih parah dari cheating ya?

Paijo Payah : makasih (^_^) tahu apa nih? :3

The Black Water : semoga ini masih masuk kategori soft (T_T)

Eidofansy : Iya, gak ada Kokabiel :3

Gunther69 : Dari awal niatnya cuma bikin sesuatu yang 'ringan', jadi emg gak ada niatan bikin kerangkanya hehehe ... maklumin ya *puppy eyes no jutsu aktif! ^_^)a

Author Note

Maaf updatenya pendek T_T

See you next chapter.