Another Dimension : Change Destiny.

Disclamer : Semua karakter dalam fict ini bukanlah milik saya, jika ada yang bilang ini milik saya jangan pernah percaya.

Pair : — ?

Rate : Maybe M? Untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba Author pengen masukin lime / lemon.

Genre : Fantasy, Adventure, Supranatural, and etc.

Warning : OOC, OC, Typo, Mainstrem, Human!Naru.

Summary :

Naruto menikmati kehidupannya yang sekarang, semua usahanya terbayar lunas, terlebih setelah lewatnya PDS 4. Namun karena beberapa hal tidak terduga, Naruto terpaksa pergi dari dimensinya untuk menyelamatkan teman dan sahabatnya. Bagaimanakah kisah Naruto selanjutnya, akankah dia berhasil berhasil mengubah takdir yang menantinya, ataukah takdir yang sedang mempermainkannya?


Chapter 5 : Malam penyerangan!

Malam kian mencekam dengan angin dingin sebagai kawan. Awan bertabur kristal dingin di gelapnya langit mulai berkuasa atas sang rembulan, dan 12 sosok hitam dengan pendar merah dimatanya menyeringai penuh kearoganan pada sekumpulan makhluk dibawah sana.

Satu dari mereka kelihatan bersemangat namun harus tertahan, tatapannya yang semula menunjukkan dendam mendalam menjadi redup. Ya, dengan pandangan yang membosankan ia duduk di langit malam bersingahsana bangku hitam bak raja-raja dunia bawah.

"Heeh~ kau tidak lupa memberikan suratnya `kan?"

Satu sosok yang memiliki nama Takuma maju tanpa ragu, tubuh besar yang menimbun otot itu bersujud hormat pada orang yang bermimik bosan.

"Sudah saya sampaikan, Agrori-sama."

"Begitu ya." Dari genggaman keras sang tuan, sebuah miasma berwarna hitam masuk dan terkristalkan menjadi sebuah jarum dengan pendar kehitaman yang selaras dengan gelapnya malam, "Kalian semua turunlah, lakukan yang kalian mau ... tapi sisakan adik Sirzech untukku."

""Ha'i!""

Secepat sambaran petir. Jarum hitam dan ke-11 anak buahnya melesat masuk ke dalam kawasan iblis Sitri dan Gremory. Saat semuanya sudah memulai serangannya, dua penerus keluarga iblis ternama itu tidak tinggal diam

Rias dengan kekuatan penghancurnya memulai serangannya dengan kekuatan penuh, sedang Sona memberikan serangan yang tak kalah kuatnya dengan sihir airnya.

Mereka terus memberikan serangan yang kuat guna mengenai salah satu dari anak buah Agrori, namun bagaikan burung yang elok dalam menggepakkan sayap, mereka menghindarinya.

Pada akhirnya, ke-11 sosok hitam itu berhasil masuk ke teritori Gremory Sitri dan jarum hitam tadi pun jauh di tengah lapangan bola.

Sona dan beberapa budaknya tidak tinggal diam, dengan memadukan kekuatan secara bersama-sama mereka akhirnya memecah belah kekuatan lawan. Tapi itu tidak memberikan dampak yang banyak mengingat jumlah musuh lebih banyak.

"Rias, kami akan menangani yang ini .. bisakah kau menangani yang lainnya?"

Rias mengangguk menjawab pertanyaan Sona, memisahkan musuh sekarang ini kelihatannya masuk ke pilihan yang bijak. Tapi kurangnya informasi memaksa mereka menjadi super waspada.

"Hati-hati Sona, kita hanya perlu mengulur waktu sampai bala bantuan tiba."

"Aku mengerti Rias. Jangan menkhawatirkanku, kau juga punya musuh disini."

"Ha'i."

Dua sosok yang sedari tadi memperhatikan Rias dengan seksama kini menyeringai dari balik bayang tudungnya, "Adik Sirzech, sayang sekali tuan kami memberikan perintah untuk tidak membunuhmu. Jika saja tidak ... khu khu khu,"

Dengan konsentrasi yang meningkat dari waktu ke waktu, Rias membalas seringaian musuhnya dengan tatapan tajam.

"Kalian yang sudah melukai Kiba tidak akan ku maafkan."

Takuma melesat bagaikan angin dan membabat habis jarak di antara keduanya, tangan yang terbuat dari besi sekeras baja itu meluncur bagai peluru panas, "Dia hanya sebagai pemanasan, jangan terlalu dipikirkan."

Rias yang tak sempat membuat lingkaran sihir pertahanan pun menerima dengan telak pukulan kuat itu, tubuhnya yang menginjak masa puber terhempas hingga belasan meter ke belakang. Namun ...

"Apa hanya itu saja?" Rias berhasil menahannya dengan menyilangkan kedua lengannya.

Takuma menarik sudut bibirnya meremehkan, "Ini baru awal."

Kembali ia berlari menuju Rias guna memberikan serangan, namun hal yang sama tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Kali ini Rias sudah siap memberikan serangan, dengan sebuah lingkaran sihir berlambang Gremory ia melesatkan kekuatan penghancurnya.

"[Power of Destruction] `huh? Kau pikir itu akan mempan padaku!?"

Rias tidak mempedulikannya, energi iblis yang telah dikompres menjadi kekuatan penghancur itu tetap melesat tanpa ada kendala. Sama dengannya namun berbeda sisi, Takuma juga terus melesat hingga tinju dan sihir saling beradu.

Duaaaaar!

Wussss~ Kraaak!

"A-Apa yang―Ugh!"

Tangan Takuma yang berkomposisi dari besi itu menunjukkan tanda-tanda retak, seiring halnya perasaan sakit yang teramat sangat menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Dari pengamatanku, kalian pasti sudah menyelidiki kekuatan dari garis keturunan Gremory. Tapi pertarungan ini membuktikan kalau sekarang adalah kali pertama kalian melawan keluarga Gremory. Aku tidak akan kalah!"

[Iron Make : Repair]

Lengan Takuma yang sebelumnya retak akibat serangan ekstrim dari Rias kini menutup hingga besi yang menjadi lengan itu mengkilat layaknya baru keluar dari pabrik. Sang kakak menoleh kesamping dimana sang adik sedang bersiap dengan sihir-sihir khas keluarganya.

"Analisis-nya sudah selesai Nii-san. Aku akan ikut dalam pertempuran."

Kazuma memberikan sebuah kepalan pada Takuma dan sang kakak membalasnya dengan sebuah kepalan pula.

"Ayo kalahkan dia."

"Ha'i."

x-x-x-x-x

"Apa tujuan kalian menyerang?"

9 sosok yang berhadapan dengan peerage Sona saling berpandangan, jubah yang sebelumnya selalu digunakan untuk melindungi tubuh mereka kini tersingkap.

Dengan hilangnya jubah yang melindungi mereka terlihat dengan jelas siapa saja yang ada disana. 9 orang yang memiliki perawakan tinggi tegap dengan dua orang berjenis kelamin perempuan. Mata mereka berwarna merah menyala tanpa adanya setitik pupil.

Selain itu, mereka semua memiliki kesamaan, yakni tatoo dalam berbagai bentuk dan posisi. Ada yang terlukis di kepala, tangan, kaki, lengan, bahkan dada.

Semuanya memakai pakaian hitam ketat sebagai bagian dalam dan berbagai armor dengan bentuk yang bermacam-macam (Mimiliki kemiripan dengan Armor Balance Breaker karakter HS DxD-bebas bayanginnya). Namun ada satu di antara mereka yang memakai armor emas dengan dua cakar besar menyerupai sayap di punggung.

Orang dengan armor emas maju, tangannya yang kosong tiba-tiba memancarkan cahaya berwarna emas terang.

"Namaku adalah Zidal Vassago, tangan kanan sekaligus bawahan terkuat yang dimiliki Agrori-sama. Misi kami hanya satu, mengalahkan semua yang menghalangi jalan tuan-ku."

8 sosok dibelakangnya ikut maju ke dalam pertempuran. Dari armor yang mereka pakai muncul berbagai rune yang menghubungkan satu sama lain dalam bentuk dan warna yang berbeda.

"Sedangkan mereka adalah boneka-ku," Ucap Zidal, "Sekarang mari kita akhiri basa basi ini."

Semua boneka Zidal melesat maju. Bersamaan dengan dimulainya serangan mereka, armor yang sebelumnya memiliki warna sama (putih polos) kini mulai berubah sesuai dengan afinitas masing-masing.

Merah untuk api, biru gelap untuk air, hijau untuk udara, ungu untuk racun, dan seterusnya.

"Terima ... [Eight Puppet Divine]!"

"Salah satu dari 72 pilar ya, ini tidak mudah."

Melihat serangan yang mendekat tidak membuat Sona tergertak, keadaan ini memang tidak baik untuknya karena perbedaan jumlah yang besar. Tapi ada satu hal yang tidak perlu diragukan lagi.

Sona tidak akan kalah jika itu tentang 'Komando.'

Ia dengan ketenangannya mulai memberikan perintah pada Peeragenya. "Lakukan formasi A, pembagian sesuai dengan prioritas yang sudah ditentukan sebelumnya, dan jangan ada kesalahan."

Tsubaki, Momo, Reya, Tomoe, dan Tsubasa mengangguk paham. "Ha'i!"

Mereka membentuk fromasi dengan komposisi 2 baris. Barisan depan di isi oleh 3 orang yang dikiranya memiliki pertahanan ataupun mobilitas memadai seperti Tsubaki, Tsubasa, dan Tomoe.

Sedangkan barisan belakang di isi oleh mereka yang memiliki kemampuan sihir lebih tinggi dari yang lainnya yakni Sona, Momo, dan Reya.

Pertarungan dua kubu pun tidak terelakkan. Barisan depan yang secara langsung melakukan kontak fisik dengan musuh kini saling jual beli serangan.

Tsubaki yang kini menggunakan Naginata-nya bergerak dengan gesit di tengah pertempuran. Tebasan dan hantaman terus terlancar darinya guna menyerang boneka yang memiliki element api dan angin.

"Grrrr ..." kedua boneka itu menggeram.

[Fire Breath] [Wind Breath]

Kedua semburan api dan angin yang memiliki intensitas penghancur sama itu saling berlomba satu sama lain hingga resonansi antar keduanya terjadi. Mengakibatkan sebuah semburan api maha besar yang memiliki kekuatan untuk menghanguskan sebuah rumah berlantai tiga dengan mudah.

[Kasai Sora No Hōkō]

"B-Besar sekali," gumam Tsubaki tanpa sadar.

"Hahahaha .. Hahahahaha ... bwahahahahaha!" Zidal tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana kekuatan dari boneka-ku, sangat hebat `kan!"

Rasa puas yang mendalam masuk ke dalam diri Zidal ketika melihat ekspresi terkejut dari Queen keluarga Sitri. Sudah sejak lama ia memendam kekuatannya dari dunia bawah hanya untuk memberikan suatu kejutan yang menegaskan betapa mengagumkannya keluarga Vassago, dan inilah saatnya.

"Lakukan Tsubaki."

Tsubaki menyeringai hingga membuat paras ayu-nya menggelap layaknya kegelapan malam. Ini memang tidak seperti biasanya, namun belakangan Tsubaki punya kebiasaan seperti ini. Terutama saat sedang dalam fase 'tamu bulanan'.

"As you wish, my King."

Tidak takut ataupun gemetar, Tsubaki berdiri tepat di lintasan semburan api. Tangannya terbuka lebar dan sebuah cermin besar tercipta di hadapannya.

[Sacred Gear : Mirror Alice]

WOOOSSSSH!

"Cih."

Zidal mendecih penuh kejengkelan ketika semburan api maha besar dari dua bonekanya dibalikkan dengan kekuatan lebih besar dari aslinya. Alhasil serangan tersebut sukses menghanguskan dua boneka kesayangannya tersebut.

Di sisi lain, Tomoe dan Tsubasa mulai kesusahan melawan dua musuh secara bersamaan. Apalagi mereka berkali-kali melakukan kombo gabungan antara petir dengan air dan racun dengan tanah.

"Sona-kaicho?"

"Momo dan Reya bantu Tsubasa dan Tomoe."

"Ha'i!"

"Tsubaki, mundur dan bantu aku menghadapi type Lava dan Es."

"Baik!"

Mereka pun bergerak sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Sona, pertarungan yang memadukan kekuatan fisik dan sihir pun terjadi. Ketika barisan depan melakukan serangan, barisan belakang memberikan support dengan melancarkan serangan sihir.

Semuanya berjalan lancar seperti yang Sona rencanakan, meskipun musuh punya lebih banyak orang di pihaknya itu tidak menjadi masalah bagi penerus keluarga Sitri. Mungkin karena terlalu sulit mengatur 8 boneka secara bersaman dengan koordinasi berbeda, gerakan mereka menjadi lebih mudah diprediksi.

Kalau begini terus, kami pasti bisa mengalahkan mereka. Tapi yang jadi masalah ...

Sona melirik sekilas pada Zidal yang berdiri dengan angkuhnya.

Adalah dia.

Secepat gerakan [Knight], Tsubaki melakukan serangan bertubi-tubi menggunakan Naginata-nya. Tebasan sekuat [Rook] beberapa kali berayun membelah bola-bola es yang tertuju padanya.

Semuanya ia lakukan untuk mengalahkan boneka yang ber-afinitas es. Walaupun tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda lelah, ia tetap bertarung di sisi majikannya. Karena baginya, Sona adalah sosok yang sudah sepantasnya ia layani sampai kapanpun.

Meskipun salah satu pilar solomon yang menjadi musuh, kalau kalian berani menganggu keluarga Sitri ... aku tidak akan menahan diri!

Semuanya memiliki perasaan yang sama. Tomoe, Tsubasa, Momo, dan Reya. Mereka berusaha sekuat tenaga agar tidak mengecewakan majikannya yang berharga. Dulu mereka tidaklah lebih dari anak-anak yang kehilangan jalan, terasingkan, dan berakhir dengan keputus asaan terhadap hidup. Tapi dengan kebesaran hatinya, Sona memberikan kesempatan kedua pada mereka.

Sejak saat itulah mereka telah membuat janji dari hatinya yang terdalam bahwa mereka tidak akan mengecewakan majikannya, Sona Sitri.

Kami tidak akan membiarkan seorangpun berlaku seenaknya pada keluarga Sitri!

Di sela-sela pertarungan yang terjadi, Sona seolah mendengar perasaan tiap anggota peerage-nya.

Keinginan menang, kebangaan, harga diri, dan pantang menyerah. Semua perasaan positif itu memenuhi area pertarungan, saling beresonansi satu sama lain dan menjadi kekuatan yang tidak mudah di hancurkan.

"KAMI AKAN MENANG UNTUK SONA-KAICHO!"

Untuk alasan itu Sona menarik sebuah senyum tipis, sangat tipis sampai tidak ada yang menyadarinya.

Tapi alur pertarungan tidaklah bisa di prediksi.

"Kalian lebih baik dari yang ku pikirkan. Selamat! Kalian sudah membuatku bersemangat," Zidal mulai memasuki pertempuran. "Dan hadiahnya adalah pembantaian satu pihak!"

Iblis dengan rambut biru layaknya air itu melesat cepat ke dalam pertahanan Sitri. Ia pun memulai pertarungan yang sudah sejak tadi ia tunggu-tunggu.

x-x-x-x-x

Kreeets!

Grayfia terlonjak, begitu juga dengan Akeno. Setelah bertahun-tahun lamanya, mungkin ini adalah salah satu momen langka yang sangat tidak mungkin terjadi di masa tentram seperti sekarang, perbandingannya antara 1 dan 1 juta kemungkinan.

Dulu Grayfia sempat melihatnya, tapi tidak pernah ada dalam pikirannya kalau sang suami akan melakukan hal ini lagi setelah puluhan tahun berlalu.

Marah, frustasi, dendam, dan keinginan membunuh.

"Sirzech ..."

"Aku tidak akan membiarkanmu."

Wajah yang biasa menunjukkan ekspresi tentram dan menyejukkan itu kini mengeras, mata yang selalu memancarkan cahaya bersahabat itu kini tenggelam dalam kemarahan. Tangannya yang menggenggam surat mengepal keras hingga kertas bertuliskan tinta itu hancur menjadi abu. Serta aura penghancur yang normalnya selalu Sirzech sembunyikan dalam tubuhnya kini menguar dalam bentuk kabut tipis berwarna merah.

"Sirzech, tenanglah ..."

Grayfia dengan lembut menahan lengan Sirzech, hal tersebut sontak mengambil perhatian sang Maou Lucifer, "Ini semua salahku Grayfia ... aku harus menebusnya."

"Apa yang terjadi Anata?"

Dengan kelembutan yang dipakasakan, Sirzech melepaskan tautan lengan Grayfia. Lalu berjalan pergi melewati pintu ruang kerjanya. "Ini adalah dosaku, jangan ada yang ikut campur. Aku sendiri yang akan membereskannya."

Sirzech pun menghilang dalam lingkaran sihir keluarga Gremory, meninggalkan Grayfia yang dipenuhi tanda tanya.

"Akeno-chan ... bisakah kau menceritakan apa yang terjadi? Aku ingin mendengar semuanya dalam perjalanan ke dunia manusia."

"Tapi Sirzech-sama menyuruh kita untuk tidak ikut campur."

"Tidak apa-apa, aku yang akan bertanggung jawab. Lagipula ... ada kalanya Sirzech bertindak kekanakan, dan itu tugasku untuk mengatasinya."

"Baiklah."

x-x-x-x-x

Agrori duduk di singgahsananya dengan santai, kakinya ditekuk, dan kepalanya bersandar pada salah satu tangan.

"Sampai kapan aku harus menunggu, Sirzech." Gumamnya, "Kalau kau tidak cepat ... bukan hanya adikmu yang akan kubunuh, tapi seluruh mahkluk yang ada di kota kecil ini."

Matanya melirik bosan pada dua anak buahnya yang sedang bertarung dengan Rias.

.

"Iron Make : Tartaros Shield!"

Dari ketiadaan tercipta sebuah perisai besar dengan kelapa tengkorak sebagai pusatnya dan beberapa ornamen menyerupai sayap merpati sebagai penghiasnya. Kemunculannya yang mendadak berhasil menahan serangan penghancur Rias.

"Apa kau tidak punya trik lainnya? Seranganmu terlalu sederhana."

Rias mengatur nafasnya yang ngos-ngos'an, tubuhnya dipenuhi luka, dan bajunya sudah sobek disana sini. Belum lagi dengan staminanya yang mendekati batas sejak beberapa waktu lalu.

Keadaan pun bertambah buruk ketika serangan andalan klan Gremory miliknya tidak berpengaruh lagi. [Power of Destruction] yang seharusnya bisa memusnahkan apapun itu kini bisa di tahan oleh perisai besi karatan itu.

"Hah ... hah ... hah ..."

"Ada apa? Apa hanya segini saja kekuatan dari penerus keluarga Gremory?"

"Hah ... hah ..."

Rias mencoba untuk tetap berdiri tegak meskipun kakinya mulai terasa lemas.

"Aku ... hah ... belum menyerah."

Takuma menyeringai, ia mengeraskan kepalannya hingga menjadi besi baja. Sebuah pukulan pun ia lancarkan pada Rias, kemudian di susul dengan pukulan keras lainnya.

Sementara Takuma melakukan aksinya, Rias hanya bisa menahan rasa sakit disamping rasa lelah karena terlalu banyak menggunakan sihir. Ia ingin melawan balik, tapi kekuatannya sudah sangat tipis.

"Hahahahaha~! Ini kah kekuatan dari penerus keluarga Gremory yang terhormat itu? Pfft~ bahkan untuk berhadapan dengan Agrori-sama saja kau tidak memiliki kepantasan, dasar tomat!"

"Pfft~! jangan menyinggung itu, Nii-san. Aku tidak tahan mendengarnya."

Takuma menoleh pada adiknya yang tengah menahan tawa, "Oh ayolah Kazu. Kita sudah menunggu puluhan tahun hanya untuk moment ini, jangan membuatnya jadi membosankan."

"Hahahaha~! Terserah Nii-san saja. Asalkan tidak membunuhnya, aku akan ikut."

Takuma menyeringai setan, ia menarik rambut Rias kuat hingga suara rintihan kecil keluar dari mulutnya, "AGRORI-SAMA! IZINKAN SAYA MELAKUKAN ITU!"

Agrori tersenyum kecil dari langit, "Kau bisa merusaknya, tapi jangan membunuhnya. Kita masih memerlukan dia."

"Kau dengar itu jalang?" Kazuma mengangkat Rias tinggi, sedang tangan yang lainnya meremas dada besarnya kasar. "Aku akan memainkanmu sampai rusak! Kau sangat senang bukan, first time-mu bisa di ambil oleh salah satu dari 72 pilar, Hageenti Takuma!"

Rias tidak bergeming, walaupun tubuhnya gemetar ataupun harga dirinya dipermainkan, mata biru-nya tetap teguh akan keykinannya untuk menang.

"Aku jadi sangat bersemangat untuk merusakmu, Rias Gremory."

"Masih saja kau melakukan tindakan tidak bergunamu itu, Taku." Ucap seseorang.

Takuma pun menoleh pada asal suara itu, disana berdiri Zidal dalam keadaan lecet disana-sini tapi tidak parah.

"Oh Zidal, mana boneka-boneka kesayanganmu itu? Apa mereka sudah hancur? Pfft~ melihat dari kondisimu saja sudah jelas."

"Jangan membuatku marah," Ujar Zidal, "Mereka tidak seburuk kelihatannya."

... Di tempat Sona CS.

Tanah lapang yang biasanya di gunakan untuk kegiatan klub lari dan sepak bola itu porak poranda. Rumput hijau yang sengaja di biarkan tumbuh disana pun ikut hangus karena api.

Berserakan di sekitar lapangan, tubuh tidak sadarkan diri dari anggota Osis.

Keadaan mereka beragam. Ada yang terkena luka bakar di sekujur tubuh (Tomoe), membeku di batu es (Tsubaki), tergantung di pohon (Reya), pingsan dengan tubuh membiru terkena racun (Tsubasa), tidak sadarkan diri di tengah kawah (Momo), dan tergantung di dinding gedung sekolah dengan kedua tangan tertancap besi (Sona).

Tidak hanya dari keluarga Sitri, boneka-boneka milik Zidal juga ikut hancur dan tersebar di seluruh tempat.

Melihat hal ini, kelihatannya pertarungan berlangsung sengit antara Sona Sitri dan Vassago Zidal. Keduanya sama-sama berusaha keras dengan usahanya sendiri dan hasilnya adalah kemenangan untuk Zidal.

... kembali di tempat Rias.

Rias tidak mempercayai apa yang di dengarnya, teman masa kecil dan sosok dengan kemampuan meracik strategi master seperti Sona bisa kalah oleh seorang dari 72 pilar. Padahal perlu Rias akui, peerage yang di punya Sona tidaklah lemah.

"Hm ..."

Takuma menoleh kembali pada Rias, "Ada apa? Kau mau bicara apa?"

"..."

"Kalau mau bicara keluarkan dengan suara jelas, bodoh."

"..."

Hanya untuk membalas ucapan Takuma saja Rias sudah tidak memiliki tenaga, kesadarannya pun perlahan mulai meninggalkan dirinya.

"Ya sudahlah," Takuma berjalan menuju ke gedung olahraga, "Meskipun kau tidak sadarkan diri, ku yakin kau bisa merasakan kesenangannya juga."

"Tolong jangan lama Nii-san, kalau perkiraanku benar maka Sirzech akan datang setengah jam lagi."

"Oh ya, aku akan bermain cepat."

Kazuma tersenyum melihat kepergian dari kakaknya. Terkadang Takuma suka stress karena banyaknya beban yang di tanggung sebagai kakak, sekali-kali melepaskannya pasti akan bagus, begitulah pikirnya.

"Bom-nya akan siap kapan?"

"Untuk iblis biasa memerlukan waktu 1 minggu agar kekuatannya maksimal. Tapi yang kita bicarakan ini adalah Agrori-sama, kalau analsis-ku benar maka waktunya adalah 45 menit."

"Fufufu ... aku tidak bisa membayangkan seberapa besar daya hancurnya di dunia manusia."

"Mungkin akan membuat bumi tidak bulat lagi."

"Eh! Kau bencanda kan?"

"Tidak."

"Kalau begitu, kita dalam bahaya juga dong!?"

Jduak!

"Ittai! Kenapa kau memukulku, Kazu-yaro!?"

"Karna kau tidak berpikir jernih. Aku tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tapi sepertinya kau melupakan sebagian dari rencananya. Apa kau tidak mendengarkanku saat rapat tadi siang?"

Mendengar jawaban dari Kazuto, Zidal bergumam dan mengingat-ingat kejadian tadi.

"Detailnya kurang jelas sih, yang aku ingat hanya menyerang wilayah Gremory saja."

Kazuma memutar bola matanya bosan, melihat tingkah dari rekan seperjuangannya itu selalu saja membuat dirinya mendesah lelah. "Itu rencananya dari awal, tadi siang kau hanya tidur."

"Itu sudah tidak penting lagi."

Jelas penting bodoh, pikir Kazuma.

Ketika mereka tengah berbincang satu sama lain, sebuah suara menarik perhatian mereka. Dipikirnya itu adalah suara Rias yang 'kesakitan' karena permainan Takuma. Tetapi hal itu segera di bantah oleh tubuh Takuma yang tehempas kuat dan menghancurkan segelintir pohon di sekitar Kuoh Gakuen.

Kazuma bingung dengan apa yang terjadi, pikirannya masih mencerna apa yang terjadi. Tapi, saat ia mulai bisa mengerti situasinya, sebuah bayangan melesat cepat menuju arahnya.

"Siapa―"

Buagh!

Tidak sempat menyelesaikan ucapannya, Kazuma sudah terlempar kuat menembus pagar pembatas Kuoh Gakuen dan lenyap di seberang jalan.

Tepat setelah Kazuma terlempar, sebuah serangan kuat terlancar pada sosok yang berada di sampingnya -Zidal-.

Sekali lagi, serangan itu sukses mengenai Zidal tanpa sempat bereaksi dengan apa yang terjadi. Tubuhnya yang terlapis armor melayang ke samping dengan kecepatan tinggi dan menghantam bangunan klub kendo hingga membuatnya hancur.

Namun ...

... serangan itu belum cukup untuk menumbangkan dua iblis yang termasuk ke dalam 72 pilar.

Dari awan debu yang tercipta karena tabrakan pada daerah sekitar, Kazuma dan Zidal berdiri dengan keadaan yang berbeda –Zidal memiliki bekas tendangan dimukanya, sedangkan Kazuma memiliki sekumpulan perisai besi yang melindunginya-.

"Itu hampir saja."

"Tendangan yang bagus, tidak ku sangka ada orang sepertimu disini."

Sosok itu tidak menggubris ucapan kedua orangnya, karena dia sendiri punya hal yang ingin di tanyakan.

"Datang kesini dan memperlakukan senpaiku dengan buruk. Apa yang kalian inginkan?"

Kazuma memperhatikan sosok yang menjadi biang dari serangan barusan, dilihat dari pakaiannya sudah jelas kalau dia adalah murid disini. Rambut blonde dan mata merah menyala? Tidak biasanya ada orang jepang dengan ciri-ciri tersebut, apalagi dengan kekuatan fisiknya yang ada di atas kadar manusia normal.

Mungkinkah seorang iblis? Hmm ... bukan, dia tidak memiliki kekuatan sihir. Pemilik Sacred gear kelihatannya juga bukan, atau jenis manusia yang di anugrahi kekuatan? Sepertinya begitu. Fufufu, ini menarik untuk diteliti.

Membalas dengan senyum tanpa dosa, Kazuma berjalan mendekat "Sebenarnya aku punya pertanyaan yang sama. Datang kesini dan menganggu pekerjaan kami, apa yang kau inginkan?"

Beberapa saat berlalu semenjak Kazuma memberikan pertanyaan tersebut hingga kini Zidal sudah ada di sampingnya, tapi Naruto tidak membalasnya. Lebih jelasnya, ia tidak mau membalas. Melihat dari seberapa tenangnya lawan bicaranya merespon ucapannya membuat Naruto lebih waspada.

Kalau dihitung-hitung lagi, pengalaman hidup Naruto sudah lebih dari 30 tahun jika kehidupan sebelumnya ikut sertakan. Dengan pengalaman sebanyak itu, Naruto jelas mulai berpikir lebih baik dari sebelumnya.

Jika kita membicarakan Naruto pada saat di Shinobi Universe, barang tentu sekarang ia akan maju ke dalam pertempuran tanpa berpikir terlebih dahulu. Menyerang lawannya dengan segala yang ia punya seolah dirinya tidak memiliki batas kekuatan.

Tapi sekarang keadaannya berbeda. Kekuatannya terbatas, cakranya tidak sebanyak dulu, begitupula dengan kyuubi. Menilai dari sisa cakra yang ia miliki sekarang, Naruto hanya bisa masuk ke dalam mode cakra kyuubi tidak lebih dari 10 menit dan Rikudo mode kurang dari 3 menit.

Dan untuk melawan dua monster di depannya ini, kelihatannya memerlukan lebih banyak waktu.

Trimakasih, seharunya tadi pagi aku tidak memberikan 90% cakraku pada bushin hanya untuk latihan.

Sekarang kau menyingungnya. Sudah ku katakan untuk menyisakan setidaknya setengah dari total cakra untuk dirimu sendiri.

Kupikir akan baik-baik saja dengan kekuatanku sekarang.

Hanya karena kau bisa mengalahkan para iblis buangan bukan berarti semuanya dapat kau lawan dengan setengah-setengah.

Apa ini saat yang tepat untuk itu Kurama?

Aku hanya ingin membenarkan pemikiranmu yang masih kekanakan, kelihatannya pengalaman hidupmu belum bisa memberikan pelajaran untuk otakmu yang bodoh.

Hmp! Dilihat bagaimana pun aku ini masih ada pada masa puber, itu hal yang wajar.

Kurama melotot dari dalam tubuh Naruto, kesabarannya benar-benar terkuras kalau sudah berdebat dengan inangnya. Memang sifat Naruto sudah lebih baik dari saat di dunia shinobi, tapi keras kepala dan sifat tidak mau kalahnya malah semakin menjadi-jadi.

Terkadang ia sampai harus memberikan nasehat keras pada Naruto hanya agar di dengar. Tapi mengingat imej-nya yang seorang bijuu terkuat tak ayal membuatnya ogah-ogahan berbicara baik-baik pada Naruto. Alhasil, daripada mendengarkan ucapan Kurama, Naruto malah lebih sering berdebat dengannya.

Masa puber dua kali.

Kurama membalas dengan nada sarkatis.

Apa ada masalah? Tanya Naruto sedikit sinis dipikirannya.

Puber dua kali dan tetap 'perjaka'. Pffft ... Bwahahahahahahaha! Apa yang bisa kuharapkan? Jiraiya pasti sedang tertawa di akhirat sana karena melihatmu. Hahahahaha!

Blush!

Wajah Naruto seketika menjadi merah bak buah apel. Tidak bisa di sebutkan dia marah atau malu, keduanya memiliki 'wujud' yang sama sekarang. Tetapi melihat kondisi dan situasinya, Kazuma dan Zidal berasumsi kalau Naruto tengah marah akan sesuatu.

Menyinggung tentang 'perjaka' sebenarnya bukanlah hal yang patut di permasalahkan (di dunia shinobi). Tapi setelah bertumbuh dewasanya Naruto di lingkungan baru, ia mulai mendengar desas desus (rumor / isu / kabar angin / atau apapun kau menyebutnya) kalau kau masih perjaka sampai umur 30 tahun itu adalah hal yang memalukan.

Dan saat remaja adalah saat paling memungkinkan untuk 'melepaskannya', apalagi Naruto mengalami saat tersebut sebanyak dua kali. Seharusnya dia sudah melakukannya setidaknya satu kali di kehidupannya dulu (atau sekarang).

BERISIK! AKU TIDAK PEDULI TENTANG ITU SEKARANG!

Mencoba mengalihkan pembicaraan?

Sudahlah, kau mau membantuku atau tidak.

Oh, sekarang kau meminta bantuanku.

Ayolah Kurama, sekarang bukan saatnya.

Ha'i Ha'i.

Kurama yang sedari tadi bersimpuh malas dalam kegelapan mindset Naruto kini berdiri, siap melakukan pertarungan kapan pun.

Dengan kekuatanmu sekarang, seharusnya kau bisa melawan mereka berdua dengan (susah payah) mudah walaupun keduanya memiliki kelas sannin. Tapi ...

Ya, Naruto membalas dengan desahan malas. Orang yang di atas sana bukan perkara mudah, jika membayangkan kekuatannya ... seperti aku melihat 6 bijuu dalam satu sosok.

Huh, apa kau takut?

Kau sendiri?

Jangan meremehkan gelar Bakegitsune-ku!

Untuk beberapa alasan Naruto bingung harus merespon bagaimana. Menyebut dirinya sendiri adalah monster tentu saja mengartikan kalau dia punya kekuatan yang memang sepantasnya di sebut sebagai monster. Tetapi mengingat masa kecilnya, kata-kata 'monster' seolah menjadi momok tersendiri yang tidak bisa ia lupakan dalam hidupnya.

Dan Kurama tidak peduli dengan hal itu ...

Oh ayolah Naruto, kita sudah bertahun-tahun hidup bersama. Jangan mempermasalahkan hal kecil.

... begitu pula dengan Naruto.

Aye!

Kurama menyeringai, wajahnya yang memang sudah menakutkan sejak di dunia shinobi kini tampak lebih seram. Namun itu tidak membuat sosok Naruto gentar. Untuk alasan pribadi, Naruto merasa kalau ikatannya dengan Kurama adalah sesuatu yang aneh juga hangat.

Itu yang membuatnya tidak pernah bosan untuk berdebat dengan sang monster rubah.

(Percakapan di mindscape terjadi sangat cepat-anggaplah begitu-, jadi di dunia nyata itu seperti berlangsung beberapa detik)

.

Melihat gerak-gerik Naruto yang siaga pada kuda-kuda menyerang, Kazuma dan Zidal bersiap melakukan pertempuran.

Yeah, mereka tidak bisa bertarung setengah-setengah melawan Naruto. Melihat bagaimana dia dengan mudah membuat Takuma tidak sadarkan diri cukup membuat keduanya berasumsi kalau Naruto bukanlah sesuatu yang 'biasa'.

Seorang manusia dengan kekuatan besar, tanpa [Sacred Gear] atau pun sihir (Mereka gak bisa mengukur cakra tapi bisa merasakan) itu jarang, tapi bukannya tidak ada.

"Yang pertama membuat langkah dia yang menang!"

"Hei―!"

Zidal berlari cepat tanpa menghiraukan suara Kazuma, ia menciptakan aura berwarna ungu dan hijau di kedua tangannya. Pukulan pertama berhasil Naruto hindari, dilanjutkan dengan pukulan kedua dari Zidal. Namun kembali serangannya bisa dihindari dengan gerakan minim.

"Gerakan yang bagus, aku suka! Sekarang bagaimana dengan ini!?"

Mengarahkan kedua tangannya pada Naruto, aura yang muncul di kedua tangan Zidal semakin pekat.

[Buresu doku hebi]

Bagaikan semburan api seekor naga, racun dan udara saling bersatu dan melahap segala sesuatu yang ada di haluannya. Naruto yang memang berada di posisi sangat dekat (kurang dari 1 meter) jelas akan terkena serangan tersebut. Namun...

"!"

Naruto mentackel Zidal hingga jatuh, kemudian mendorong tangannya ke atas melalui lengan bawah Zidal (arahnya menjadi kebelakang –arah Kazuma.)

Pada kondisi ini, Zidal sama sekali tanpa pertahanan. Dan dalam sekali pukulan, tinju Naruto berhasil menembus pelindung dada hingga tulang rusuknya. Seharusnya dengan ini Zidal sudah berakhir riwayatnya, namun perasaan aneh menghinggapi kepalan Naruto.

Substitute?

"Kau harus lebih hati-hati. Dia bahkan bisa menembus lempengan besiku dengan sekali pukul."

"Sudahlah, tugasmu hanya memberikan support untukku."

Naruto menoleh ke sebrang, disana berdiri Kazuma dengan sosok Zidal melayang di atasnya.

"Berhubung Nii-san sedang tidak bisa bertempur, aku akan menerima permintaanmu."

"Okay!"

Secepat balasannya atas respon Kazuma, Zidal menciptakan dua lingkaran sihir dengan dua warna berbeda. Dari sana meluncurlah masing-masing satu ular dengan element es dan lava.

[Twin Serpent Underworld]

Gluph!

Naruto menelan ludahnya tanpa sadar ketika melihat ular berbasis element dengan ukuran menyamai Manda milik Orochimaru itu melesat ke arahnya. Ia ingin menghindarinya jika memang bisa, namun kakinya tidak mau bergerak.

"Fufufufu ... tidak semudah itu. [Iron Make : Sand Soul] adalah sihir perangkap, kau tidak akan bisa keluar darisana dengan mudah!"

Tepat di bawahnya, tanah yang menjadi pijakan Naruto berubah menjadi genangan pasir besi yang menariknya ke dalam tanah. Tidak terhenti disitu, pasir besi tersebut menciptakan semacam tentakel dan bergelayut di lengan Naruto.

Ini merepotkan.

Dengan keadaannya sekarang, Naruto tidak bisa melarikan diri dengan mudah. Apalagi dengan dua ekor ular yang tengah menuju padanya dengan kecepatan tinggi, sekali terkena dan tubuhnya akan hancur oleh lelehan lava atau membeku oleh dinginnya es.

Melihat musuh yang tidak lagi memberikan perlawanan, Zidal berteriak keras dengan ekspresi puas di wajahnya.

"MATILAH KAU, MANUSIA!"

Buuuuuum!

Awan debu mengepul setelah bunyi ledakan menghantam gendang telinga. Udara dingin bercampur panas menyebar ke sekitar dengan perasaan tidak nyaman. Daerah yang menjadi titik ledakan itu seketika porak poranda dengan beberpa cairan panas melelehkan tersebar ke sekitar.

Rerumputan mengering lalu hangus, sementara pepohonan menunjukkan tanda-tanda hitam arang sedikit percikan bunga api. Bangunan sekolah yang berada pada jarak relatif dekat itu pun terkena imbasnya, kelas yang tertata oleh bangku dan meja berhamburan dengan dinding yang berlubang.

Semuanya porak poranda, terutama Naruto. Tempatnya berdiri menjadi kawah sepanjang 30 meter, tanahnya menghitam dan ada beberapa tempat yang membeku karena serangan tadi.

Tidak di ragukan lagi, Naruto ikut hancur dengan tanah yang dipijaknya.

"Ini mudah, kau sangat lemah manusia! Atau mungkin aku yang terlalu kuat ... Bwahahahaha! Sepertinya memang begitu, benar `kan Kazuma?"

"Tidakkah kau pikir ini terlalu mudah?"

Jika analisis Kazuma benar, maka ada kemungkinan pemuda dengan surai pirang itu berhasil kabur dari serangan barusan. Mengingat ia juga merasakan ada perasaan aneh ketika sihirnya menahan Naruto.

"Jangan keras kepala, seharusnya kau juga paham kalau seranganku sudah menghabisinya."

Seharusnya memang begitu, namun ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya. Seolah ini tidak benar, perkiraannya tidak pernah meleset. Jika memang itu yang terjadi, maka ada yang salah dengan otak Kazuma.

"Tetaplah waspada."

"Phew~ kau ini—"

Ngiiiing ngiiiing ngiiiiiing ngiiiing!

Suara decitan terdengar keras, di susul dengan berkumpulnya angin sekitar langit. Saat mereka berdua melihat kesana, sebuah benda layaknya shuriken milik para ninja zaman dulu tercipta. Ia berputar sangat cepat hingga 4 ujungnya secara tak langsung terbentuk, dan yang membuatnya lebih 'wah' adalah warnanya yang orange menyala.

Kazuma melihat siapa yang membuatnya (meskipun sudah tahu), dia adalah Naruto. Matanya berwarna merah menyala dengan pupil vertikal dan sepasang gigi taring yang memanjang di mulutnya.

Melihatnya secara sekilas, Ia mengira Naruto sebenarnya adalah vampire yang blasteran dengan yokai. Yah, tapi bukan itu hal terpenting sekarang ini. Matanya yang sewarna darah itu menatap intens pada Zidal.

Ia tahu maksudnya dan segera ...

"Zidal—"

"!"

Ngiiiiiiiing! Wusssssh! Blaaaaaaaar!

Tapi peringatan tidak sempat keluar seluruhnya, shuriken dengan warna orange itu berhasil menerjang Zidal tanpa hambatan. Armor yang melapisi tubuh itu hancur berkeping-keping dengan teriakan menyakitkan yang tersamarkan oleh bunyi desingan serangan tersebut.

Pada titik ini seharusnya serangan barusan tidak memberikan efek buruk pada Zidal, mengingat tubuhnya yang adalah iblis kuat. Terlebih melihat efek serangannya yang tidak lebih buruk dari daya hancur jurus Zidal. Itu harusnya tidak apa-apa.

Namun ...

"Hei, kau tidak apa-apa?"

Setelah menerimanya dengan telak, Zidal tidak bisa berdiri lagi. Energi sihirnya yang mengalir diseluruh tubuh seolah hancur meskipun tanpa luka fisik yang kentara. Mungkin hanya imaginasi Kazuma saja, tapi Zidal benar-benar kehilangan seluruh sihir dalam tubuhnya.

Agrori yang duduk di singgahsananya menatap penuh minat. Melihat dua anak buahnya dikalahkan oleh seorang manusia adalah hal yang sulit terjadi. Tapi lihatlah sekarang, dia mengalahkannya seolah itu bukan apa-apa, dan tetap diam akan kemampuannya.

Tidak ingin musuh tahu lebih banyak huh? Yang terakhir tadi pasti adalah teleport. Lumayan lumayan~

Tidak membiarkan musuh mendapatkan momentumnya, Naruto kembali memulai serangan. Ia melompat pada Kazuma dan melakukan tendanan salto seolah waktu tengah mengejarnya.

Bam!

Kazuma menghindari serangan tersebut, dan itu hanya mengenai tanah.

"Kau bertarung dengan hebat, tapi masih terlalu na'if."

Naruto mengkerutkan alis akan ucapan Kazuma, 'Na'if?' pikirnya.

"Kau punya kesempatan untuk membunuh kedua rekanku, tapi tidak dilakukan. Mungkinkah ini pertarungan pertamamu yang sesungguhnya?"

Stap!

Naruto berhenti, ia manatap lurus pada Kazuma seolah berkata 'Pertarungan pertama? Tidak membunuh? Apa yang sedang kau bicarakan?'.

Iblis yang ditatap oleh Naruto menyeringai, ucapannya kelihatan benar. "Jadi benar ini adalah pertarungan pertamamu? Fufufu ... kalau begitu kuberikan sebuah pilihan padamu. Pergi dari sini atau mati dengan pemikiran na'if-mu."

"..."

"Jika memilih pergi dan tidak mencampuri urusan kami, kau bisa hidup normal seperti manusia kebanyakan. Tapi jika kau memilih untuk mati ... itu akan sangat di sayangkan."

Naruto tertawa pelan mendengar pernyataan Kazuma.

Sambil melambaikan tangannya ia berkata, "Sepertinya kau salah memahamiku. Aku tidak membunuh mereka bukan karena tidak bisa. Tapi karena alasan lainnya ... bisa kau anggap, aku ingin menghargai kehidupan itu sendiri. Apakah itu salah?"

Dengan tangan terkepal, Kazuma mengeliminasi jarak di antara mereka. "Itulah kenapa kau na'if. Orang yang bahkan tidak pernah melihat kematian di depan matanya sama sekali tidak punya hak berkata begitu. Kalian ... manusia yang selalu menganggap derajatnya lebih tinggi dari makhluk lainnya ... "

"Sementara kalian mengumbar birahinya pada lawan jenis setiap saat, Kami harus bertahan hidup dari keinginan kalian yang tidak terpuaskan itu sepanjang waktu."

Untuk suatu hal, Naruto merasa apa yang di ucapkan oleh Kazuma memiliki emosi yang mendalam. Dendam, kemarahan, kebencian, perasaan tidak puas, dan berbagai energi negatif lainnya. Ia tidak perlu masuk ke dalam mode cakra kyuubi ataupun rikudo mode-nya untuk mengetahui hal tersebut, ini sewajarnya ia pahami semenjak banyak hal yang sudah terjadi.

Lagipula banyak orang (sebenarnya mencakup makhluk hidup lain) punya alasan dari tiap aksi yang dibuatnya. Sebagai contohnya adalah Naruto sendiri, ia seharusnya tidak berada disini dan mengirimkan clon-nya pulang (mengajak Sena makan malam di rumahnya) karena bagaimanapun ini bukanlah urusan yang patutnya ia campuri.

Hanya saja ... Sekolah ini, terlebih orang-orang yang menuntut ilmu disini adalah sesuatu yang berhubungan dengannya. Ia tentu saja tidak bisa mengabaikannya, atau melihatnya sebelah mata terutama saat senpai yang dikenalnya dalam masalah.

Ia punya alasan yang cukup, dan dengan begitu ia tidak ragu pada apa yang dilakukannya.

Mungkin itu pula yang mendasari tindakan Kazuma, ia memiliki alasan kuat untuk melakukan ini. Bisa saja dikarenakan dendam, kebencian, atau pun sesuatu yang sangat buruk telah terjadi di masa lalunya.

Semuanya bisa menjadi kemungkinan karena di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar menginginkan kehancuran. Bahkan bagi seorang Uchiha Madara, dia melakukan segala kejahatan hanya untuk menghilangkan cakra di dunia karena menganggap itu sebagai akar permasalahan semua perang di dunia. Meskipun pada akhirnya ia hanya ditipu oleh Zetsu Hitam.

"Kau tahu!?"

Atensi Naruto kembali terfokus pada Kazuma, wajahnya tidak lagi setenang tadi. Segala emosi-nya tercurahkan lewat ekspresi kelamnya.

"Kami akan menata ulang semua hirarki di dunia ini. Dimulai dari menghancurkan Gremory, lalu dilanjutkan dengan pembunuhan massal para malaikat, dan di akhiri dengan pemusnahan umat manusia."

Untuk sesaat, Naruto terkejut dengan ucapan Kazuma. Namun segera ia menyampaikan pemikirannya.

"Setelah memusnahkan semuanya, apa yang akan kau lakukan?"

Kalau semua mahkluk musnah dari dunia ini, lalu apa yang terjadi setelahnya? Jika ini Obito (sebelum sadar), ia mungkin akan meng-genjutsu dirinya sendiri dan hidup dalam kebohongan selama hidupnya. Itu menyedihkan, tapi lebih baik daripada kesepian karena tidak ada orang lain selain dirinya.

"Aku ..."

Kazuma kelihatan sulit menjawab pertanyaan Naruto, faktanya ia hanya memikirkan tujuannya tanpa berpikir setelahnya. Asalkan tujuannya tercapai, maka tidak ada hal lain yang ingin dilakukan. Tapi tidak mungkin pemuda dihadapannya akan menyetujui jawaban itu, dan itu bisa berakibat pada perubahan atmosfir. Dalam kondisi terburuk, apa yang di ucapkan oleh Kazuma bisa berarti kemanangan atau pun kekalahan.

"Kau tahu? Aku bertarung atas apa yang aku percayai, tujuanku hidup adalah demi menyelamatkan sahabat dan teman-temanku. Tidak peduli seberapa banyak rintangan yang menghalangi, tujuanku tidak akan berubah. Dirimu mungkin sama denganku, bertarung atas apa yang dipercayai ... dan aku adalah rintangan yang harus kau lewati untuk mencapai tujuan itu. Begitu juga sebaliknya, oleh karenanya ... aku tidak boleh berhenti disini."

Aku harap kita bisa bertemu lagi, disisi yang sama.

Tangan kanan Naruto memancarkan cahaya berwarna orange khas dari perubahan wujudnya ke dalam mode cakra kyuubi. Semua auranya terkumpul di genggamannya, dan ia pun melayangkan pukulan penuh kekuatannya tepat ke perut Kazuma.

"Hoek!"

Wussssh! Buaaaaaagh!

Tanpa bisa menahan, Kazuma memuntahkan cairan dari perutnya ketika terhempas akibat pukulan Naruto. Ia menghantam bangunan sekolah hinga menghancurkan segala yang di lewatinya, ketika indra penglihatan dapat melihat melalui kegelapan malam, Kazuma sudah tidak sadarkan diri dengan mulut menganga.

Pemuda bersurai pirang itu melirik sekilas melalui sudut matanya Agrori yang tengah duduk dengan ekspresi tidak senang di wajahnya.

Naruto tidak tahu seberapa lama waktunya untuk mengalahkan ketiga orang barusan, mungkinkah sudah lewat dari 30 menit? Entahlah.

Masalahnya sekarang tinggal dua, orang yang duduk di langit sana dan 'bom' yang sempat dibicarakan antara pria armor emas dan Kazuma. Jika dia menurus orang ini, bisa saja memakan waktu sangat lama, tapi kalau mengurus bom-nya. Dia sendiri tidak tahu bagaimana menjinakkannya.

Melihat dari gelagat orang-orang ini, kekuatan mereka mirip seperti iblis tersesat, yang membedakan adalah intensitasnya. Kalau memang itu yang terjadi, maka masalahnya semakin bertambah.

Bom-nya dibuat dari sihir, dan Naruto sama sekali tidak paham dengan apa yang disebut sihir. Pengetahuannya sangat dangkal, itu pun sekedar hal umum. Referensinya pun sangat terbatas yakni dari film Har** Phot**r atau anime Fair* Tail.

Konsepnya sangat berbeda dengan sihir di dunia ini, sialan.

Naruto merutuki dirinya sendiri. Harusnya ia bertanya pada Kazuma dulu tentang bom itu, kenapa malah baru terpikir sekarang. Tepat ketika ia mulai kebingungan dengan pikirannya, sebuah tangan menepuk bahunya.

"Aku tidak tahu siapa kau, tapi terimakasih karena sudah melindungi tempat ini dan adikku."

Agrori yang mengetahui keberadaan pria disamping Naruto tidak bisa menahan seringaian setannya.

"Kau lama sekali Sirzech sampai kupikir membunuh adikmu akan sangat menyenangkan."

"Agrori!"

Seorang pria dewasa dengan rambut merah krimson berdiri disana, matanya tajam dan pakaiannya khas bangsawan-bangsawan yang ada di dunia game (Naruto kadang main game rpg).

Untuk beberapa saat, Naruto terperangah. Untuk beberapa alasan tertentu, orang ini mengingatkannya pada seseorang.

Rias Senpai?

Tapi pertanyaan itu segera ia buang jauh-jauh, ada hal yang lebih mendesak sekarang ini dari sekedar memperkenalkan diri satu sama lain.

"Apa kau bisa menggunakan sihir seperti mereka? Kau iblis `kan?"

Naruto bertanya tanpa mempedulikan kalau orang ini lebih tua darinya atau tidak. Memang kurang ajar, tapi siapa yang peduli.

Pria itu menoleh, "Begitulah."

"Kalau begitu, biar aku yang melawan orang bernama Agrori ini."

Sedikit tidak percaya, Sirzech mengernyitkan alis ragu. "Tidak, kau masih terlalu muda untuk melawannya. Lagipula yang punya urusan dengannya adalah aku."

Naruto memutar bola matanya bosan, "Aku tidak bisa menjelaskan dengan detail. Yang pasti disini ada bom sihir, kekuatannya bisa menghancurkan seluruh kota, aku tidak bisa menjinakkannya, dan waktunya kurang dari 15 menit lagi."

"Apa?"

"Aku akan menahan Agrori, sementara kau menjinakkan bom-nya. Kita harus bekerja sama, jika mengabaikan satu sama lain nyawa diseluruh kota ini bisa menghilang."

Sirzech diam mendengarkan ucapan Naruto. Ini adalah kali pertama semenjak puluhan tahun dirinya diberi arahan oleh seseorang. Dimasa lalu, peran ini biasanya di ambil oleh Agrori. Tapi sekarang ...

"Kita bahkan tidak saling kenal, dan kau memberikanku perintah. Siapa namamu anak muda?"

"Pentingkah itu sekarang?"—Naruto menarik seragamnyanya—"Aku murid sekolah ini."

Pria dengan surai merah itu awalnya tidak mengerti maksud Naruto. Tapi sekilas ia mendapatkan gambarannya. Keinginannya adalah melindungi tempat ini, mungkin itu dikarenakan bangunan ini adalah tempat yang penting untuknya (menuntut ilmu/bersenang-senang dengan teman). Disisi lain, ia juga tidak ingin identitasnya terlalu di umbar.

Mungkinkah Rias bahkan tidak tahu siapa anak ini?

"Baik." Jawab Zirzech setelah mempertimbangkannya.

Naruto mengangguk menanggapi ucapan Sirzech. Sirzech kemudian berniat pergi, tapi sebelum itu.

"Jangan berpikir mengalahkannya sendirian, kekuatannya adalah salah satu yang berada diluar nalar manusia."

"Tidak masalah! Kalau urusanmu sudah selesai temui aku di bulan."

Sirzech terdiam.

Apa yang barusan dikatakan pemuda ini? pikirnya. Menemuinya di bulan, maksudnya bulan yang itu kan? yang ada di langit? Atau mungkin tempat yang lain. Tapi mereka baru bertemu kali ini, seharusnya tidak ada kanta sandi atau pun kode isyarat tempat yang disebut 'bulan'.

Jika begitu, maka bulan yang dimaksud adalah 'bulan' yang semua orang tahu. Bahkan yang baru bertemu. Lalu artinya ... bulan di angkasa `kan?

[Kagebushin no jutsu]

Boff!

Sebuah klon Naruto muncul disampingnya. Kali ini Sirzech tidak terkejut lagi, setelah pernyataan 'bertemu di bulan' yang di ucapkan Naruto, hal seperti tidak akan memberikan banyak efek pada pikirannya.

Yang terpenting sekarang adalah menemukan dimana bom itu di tanam, lalu menjinakkanya. Kalau tahu akan begini jadinya, seharusnya Sirzech mengajak Ajuka untuk datang. Masalah rumus dan perhitungan adalah hal yang sangat di kuasai iblis bersurai hijau itu.

"Sirzech, jangan coba-coba kabur!"

Agrori murka ketika melihat orang yang ditunggunya berjalan menjauh. Ia sudah menunggu bertahun-tahun lamanya agar tiba saat ini, lalu dengan jiwa pengecutnya Sirzech malah pergi dari hadapannya.

Ini tidak bisa dimaafkan. Agrori merasa dipermainkan, dan itu semakin membuat amarahnya menjadi-jadi.

Segera tangannya menciptakan sebuah lingkaran sihir dengan huruf-huruf kuno di langit, besarnya mencapai seluruh sekolah dan dalam hitungan detik harusnya seluruh bangunan beserta yang ada sekitarnya hancur berkeping-keping.

"JANGAN MENGABAIKANKU!"

Namun sayangnya serangan itu harus terhenti, sebuah tendangan kuat mengincar lengannya dan membuat konsentrasinya hancur. Ia mendelik pada pelaku dari serangan tadi, (klonnya) Naruto tengah terjatuh setelah serangannya barusan.

Tapi bukan Naruto namanya kalau menyerah begitu saja, dengan sebuah handseal tetap di tangannya (klon) Naruto melakukan kagebushin berkali-kali di langit.

Boff! Bofft! Bofft! Bofft! Bofft! Bofft!

Ia melemparkan dirinya sendiri, menjadikan klon sebagai pijakan, lalu meleparkan klonnya dengan gaya membalas.

Ia melakukannya berkali-kali dengan gerakannya yang semakin cepat, dan dengan bayaknya klon di langit Agrori kebingungan harus memperhatikan yang mana.

"Aku sudah tidak ingin bermain denganmu lagi, segeralah enyah!"

[Greate Wave]

Gelombang berbentuk lingkaran hitam tercipta di sekeliling Agrori. Klon Naruto memandang was-was gelombang itu, ternyata benar seperti yang dipikirkan. Gelombang itu melebar dengan diameter berkali-kali lipat.

Tanpa bisa menghindarinya, tiap klon yang masuk ke dalam radius gelombang itu terserap masuk dan hancur menjadi serpihan kecil layaknya debu.

"Hmm ..."

Tidak bisa bernafas lega, setelah gelombang pemusnah Agrori lenyap Naruto muncul tepat di hadapannya. Tangannya yang gesit segera memukul wajah Agrori hingga pandangannya menghitam sesaat.

"SIALAN!"

Ia meraung marah, segera dicarinya sosok pemuda yang memukul wajahnya. Namun segala pemandangan telah berubah, mereka tidak lagi ada di langit Kuoh Gakuen. Melainkan tepat lain yang bahkan tidak ada di bumi.

"Ini ..."

"Ya ... ini di bulan."

To be continue ...


Author Note :

Terimakasih untuk kalian yang mau menjelaskan perbedaan NTR dan Cheating, saya sangat menghargainya, gak nyangka aja bakalan pada ngerespon :D

Kemarin saya search di mbah google dan beberapa komik h****i. Menyatukan semua pendapat dari reader dan referensi yang saya dapat, kesimpulannya NTR itu lebih parah dari Cheating.

Perbedaan keduanya ada di sudut pandang.

Jika Cheating itu kita ada di sudut pandang orang ketiga yang mana artinya kita berada posisi enak (Ex. Naruto adalah orang ketiga antara Sirzech dan Grayfia). Maka NTR itu kita ada di sudut pandang orang pertama yang artinya kita dapat bagian nyesek-nya (Ex. Naruto ngelihat Kiba dan Hinata hubungan badan).

Contoh lain dari NTR, gimana kalau gini. Kita punya pacar ... dia baik, perhatian, selalu ada waktu kita perlu sampai rasanya cintanya gak bakal luntur termakan umur. Tapi gak sengaja kita ngelihat dia pergi sama segerombolan laki-laki, terus ngelihat mereka berhubungan badan secara bergilir ... dan cewek yang lu cinta mati malah menikmatinya kayak lacur kepanasan.

Well ... saya pernah ngerasainnya di kehidupan nyata, dan itu gak bisa di ungkapin lewat kata-kata. *ah sorry malah curhat, ngebahas ginian selalu bikin baper.

Mungkin itu saja, saya sekarang ingin minta maaf karena update yang terlalu lama. Bukannya saya gak pengen ngelanjut cerita ini, tapi saya juga manusia yang punya kesibukan dan masalah dalam kehidupannya.

Dan sebulan belakangan saya terjerat beberapa hal sampai gak bisa menulis fanfict. After all, saya berterimakasih bagi kamu yang masih mau membaca fanfict saya sampai chapter 5, trimakasih.

Bakegitsune memiliki arti monster rubah.

Jangan tanya kenapa Naruto bisa nafas di bulan, jawabannya masih misteri seperti sama seperti Movie Naruto : The Last.


Pertanyaan.

Sebenarnya Naruto pernah gak sih bunuh orang?

Mizuki (akhirnya dikurung), Gaara (malah jadi teman akrab), Orochimaru (dibunuh Sasuke), Kakuzu (Dia emang ngehancurin 2 jantungnya, tapi Kakashi yang finishing), Nagato (Dia mati gegara pake jutsu rinne tensei), Zetsu (Ayolah, dia Cuma klon, boneka ataupun bidak 'tambahan' dalam perang. Secara pribadi aku ngelihatnya hanya boneka yang terlalu lemah—kena pukul sekali dan jadi pohon), Kabuto (dia sadar dan punya panti asuhan di Konoha), Kaguya (bukan dibunuh, hanya di segel), Madara (yang ngebunuhnya Hashirama kah? Atau ?)

Jadi, apakah ada yang tahu siapa aja yang Naruto bunuh? Kenyataannya, meskipun terkena rasengan milik Naruto ... kebanyakan dari mereka hanya tidak sadarkan diri atau terbang.


Balasan Review.

Bayu : Kalo gak kena remidi itu rasanya kek kehilangan setengah beban hidup :3 gak janji bisa rutin, soalnya saya juga masih banyak kekurangan (apalagi bagian battle-nya) sehingga kerap kali stuck di beberapa bagian seperti chapter ini u_u)

Laffayete : Makasih :D, gak bakal ada NTR kok ... saya juga gak suka NTR (untuk alasan pribadi), nyesek banget rasanya. Okay, Hoshimiya Sena itu karakter dari Big Order :3

Sinta Dewi468 : Kalau di segani → terkenal → banyak yang ngawasin → gak bisa bebas → kehidupan normalnya hilang xD. Naruto memang akan membantu fraksi lainnya disaat tertentu, tapi dia juga gak ingin terikat dengan mereka ... itu akan merepotkan dan menghalangi tujuan awalnya.

Tapi ... kalau ada yang menganggu dia, teman, keluarga, ataupun tempat dimana dia tinggal. Tentu saja Naruto gak bakalan diem aja.

Tamma D. Pratama : Oke, makasih ya ^_^)

Ryoko : Saya pake sumber wikipedia. Jangan di anggap serius, hanya sekedar kiasan aja kok :)

Niatnya begitu, mau bikin TTM sampai beberapa chapter kedepan sambil di bumbuhi sedikit insiden. Lagipula, menurutku cewek itu cukup sulit bilang 'cinta' ke orang yang disukainya, apalagi bagi mereka yang memang punya imej tinggi. Tsundere akut '3')

Gunther69 : Iya, chapter kemarin emang pendek. Padahal saya kira udah cukup panjang, eh ... pas dibaca lagi baru nyadar kalo word-nya pendek xD

Kuroneko : Ngelawan, tapi dia punya porsi sendiri. Jadi gak semuanya di lawan sekaligus (meskipun bisa, tapi Author juga pengen menonjolkan kekuatan lainnya) :3

Anymous-KUN : Char pair belom di tentukan. Tolong jangan bom rumah saya, ini cuman kost-an ... kalau dibom, perkaranya sama isi dompet saya (T_T) *dipaksa ganti rugi sama yang punya.

Dan trimakasih atas dukungannya ^_^)

Seneal : Iya, memang disengaja ... soalnya masalah ini lebih ke pihak fraksi iblis. Kan gak cocok, yang jadi musuhnya keluarga kan Gremory, eh ... malah bertarungnya sama Naruto duluan.


Sekian itu aja, trimakasih dan sampai ketemu di chapter depan ^_^