Another Dimension : Change Destiny.
Disclamer : Semua karakter dalam fict ini bukanlah milik saya, jika ada yang bilang ini milik saya jangan pernah percaya.
Pair : — ?
Rate : Maybe M? Untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba Author pengen masukin lime / lemon.
Genre : Fantasy, Adventure, Suprantural, and etc.
Warning : OOC, OC, Miss-Typo, Mainstrem, Human!Naru.
Summary :
Naruto menikmati kehidupannya yang sekarang, semua usahanya terbayar lunas, terlebih setelah lewatnya PDS 4. Namun karena beberapa hal tidak terduga, Naruto terpaksa pergi dari dimensinya untuk menyelamatkan teman dan sahabatnya. Bagaimanakah kisah Naruto selanjutnya, akankah dia berhasil berhasil mengubah takdir yang menantinya?
Chapter 6 : Pertarungan di bulan Part 1.
x-x-x-x-x
Penampilan Agrori.
Dia punya tubuh berbentuk (Tegap, kekar, dan ideal – Gak kayak binaraga), tinggi semampai dengan kulit putih pucat, matanya berwarna hijau dengan pupil menyerupai kucing, dan rambutnya hitam panjang hingga mencapai punggung.
Untuk pakaiannya, Agrori memakai Hakama berwarna hitam dengan alas kaki berupa Zouri (Sejenis sandal tradisional jepang) yang dipadukan dengan kaus kaki berwarna putih. Untuk bagian atasnya ia tidak memakai pakaian (rapi) kecuali Kimono yang disandarkan pada bahunya. (Mirip seperti para Admiral di One piece dimana mereka menaruh jubah di bahunya.)
x-x-x-x-x
Mereka berdua —Akeno dan Grayfia— sampai di tempat tujuan, Kuoh Gakuen. Sebuah lembaga pendidik swasta tingkat atas yang baru tahun ini membuka pendaftaran bagi murid laki-laki. Tempatnya asri dengan fasilitas yang lebih dari memadai.
Mempunyai taraf pendidikan tingkat nasional yang bahkan di kenal sampai luar negri, setidaknya itu juga yang membuat banyaknya murid dari luar ikut mendaftar disini. Namun keadaannya sangat berbeda dari apa yang dibayangkan.
Ekspresi terkejut tidak bisa Akeno sembunyikan ketika melihat keadaan sekolahnya, ia tidak mempercayai kalau tempat yang digunakannya untuk menuntut ilmu siang tadi kini sudah berubah drastis.
Bangunan sekolah yang menghitam bekas ledakan, kelas yang porak poranda dengan dinding yang hancur, berbagai kawah dan pecahan es yang tersebar ke sekitar. Belum lagi dengan bau anyir dari cipratan darah di tanah. Hanya kerusakan yang bisa dilihat sepanjang jangkauan mata.
Akeno sudah memperkirakan kalau kerugian materil pasti ada, namun tidak separah ini. Dengan adanya Buchou dan Osis seharusnya hal ini bisa di minimalisir.
-!
Teringat akan majikan sekaligus sahabatnya, Akeno mengedarkan pandangannya.
Dimana Buchou dan Sona-kaichou?
Matanya memperluas jarak pandang, pupilnya bergerak kesana kemari penuh gelisah. Ia khawatir, dengan semua pemandangan mengerikan ini pikirannya dipenuhi rasa gelisah. Bagaimana keadaan Rias, apa yang sudah terjadi, apa mereka semua baik-baik saja, ataukah ada yang mati?
Akeno tak percaya pertanyaan itu muncul di kepalanya, dengan kekuatan Buchou dam Sona-Kaichou seharusnya ia tidak perlu mempertanyakan hal tersebut. Namun melihat keadaan sekitar tak ayal membuat perasaan gelisah terus tumbuh dihatinya.
Buchou ...
Greb!
Sebuah tangan halus menggenggam Akeno.
"Grayfia-san ..."
"Tenang Akeno, sihir mereka belum menghilang."
Menatap dari manik yang memancarkan kekhawatiran, Akeno melihat Grayfia. Ia cemas akan keadaan Kingnya, namun panik di saat seperti ini bukanlah hal yang baik. Beruntunglah Akeno karena ada Grayfia di sampingnya, kehadiran sosok yang lebih tua di sampinya memberikan perasaan tenang pada Akeno. Mungkin ini yang disebut sebagai aura Onee-sama? (Akeno dan Rias belum mendapat gelar Onee-sama di Kuoh).
"Ha'i, mereka pasti ada di sekitar sini."
Keduanya berjalan menuju lapangan bola, dimana aura iblis dengan kapasitas besar tengah berkumpul. Berharap ada sesuatu disana yang bisa menjadi petunjuk untuk menemukan keberadaan rekan dan sahabatnya.
Dan ternyata mereka benar, di tengah lapangan yang sudah berantakan dengan berbagai aksesoris khas 'kehancuran' berdiri Sirzech di hadapan sebuah kristal setinggi 1 meter dengan warna hitam legam.
Ia mengarahkan lengannya ke depan dan terus menyalurkan miasma berwarna merah ke benda tersebut. Berbagai rune / huruf kuno bergelayut di sekeliling kristal, masuk ke dalamnya dan menghilangkan aura hitam sedikit demi sedikit.
Berjalan mendekat penuh rasa penasaran, Grayfia berseru. "Anata!"
Suara Grayfia sukses masuk ke dalam indra pendengaran Sirzech, dan tanpa mengalihkan direksinya barang satu inci pun, Sirzech menjelaskan sesingkat mungkin.
"Grayfia dan Akeno, bisakah kalian pergi ke ruang UKS? Pertolongan pertama sudah diberikan, tapi itu tidak menutupi seberapa buruk keadaannya."
Dalam sekejap mereka paham maksud ucapan Sirzech. Meskipun memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya, Akeno segera pergi ke UKS untuk menemui majikannya. Tidak mempedulikan sang iblis keturunan Lucifuge yang tengah menatap Sirzech dalam maksud yang mendalam, meminta penjelasan sesingkat mungkin akan apa yang terjadi. Namun sebuah nama yang telah lama ditelan waktu terucap dari mulut Sirzech.
"Agrori."
Yah, yang di ucapkan oleh Sirzech tak lebih dari sebuah nama. Tapi itu cukup menjelaskan apa yang terjadi. Mengaitkan cerita Akeno dan reaksi Sirzech, Grayfia sudah memiliki gambaran kasar atas apa yang terjadi.
Seperti yang diharapkan dari seorang istri...
Berdiri di samping Sirzech, Grayfia ikut menyalurkan kekuatan iblisnya.
"Maaf karena tidak pernah membicarakannya ... Saat itu, aku tidak cukup kuat."
Sirzech menunduk, menyembunyikan rasa malunya di tengah kesadarannya dalam menjinakkan bom. Daripada merasa malu, Sirzech lebih mengasumsikannya sebagai perasaan bersalah. Dia gagal menjalankan tugasnya sebagai pemimpin di masa lalu, dan itu berakibat pada malapetaka dimasa ini, masa dimana adik dan para generasi iblis muda tumbuh.
Di saat rasa bersalah menguasai dirinya, suara dari Grayfia menarik kesadarannya.
"Aku tahu ..."
Sirzech menoleh, mendapati sang istri tersenyum lembut padanya dengan wajah yang begitu menawan.
"Kau sudah memendamnya begitu lama, dan selama itu pula aku menungumu siap mengatakannya ... tapi rasa bersalah selalu menahanmu, menghalangi tiap kata yang ingin kau ucapkan."
Keheningan menghinggapi keduanya.
"Sirzech ... Aku selalu mempercayaimu, sejak dulu sampai sekarang."
"..."
"Dan aku percaya ... di dalam hatimu Agori tetaplah seorang sahabat yang berharga."
"..."
"..."
"Trimakasih."
Serasa beban di pundaknya berkurang hingga puluhan kali lipat, Sirzech bersyukur karena Grayfia ada di sampingnya. Selama masa sulit ia selalu ada disisi-nya, menemaninya dalam segala rutinitas yang melelahkan, dan akhirnya takdir mempersatukan mereka dalam ikatan suci seumur hidup.
Membicarakan ini membuat Sirzech ingat alasan dia jatuh cinta pada Grayfia. Itu karena sifatnya yang sangat perhatian, serta pandangannya yang selalu bisa melihat segalanya dalam diri Sirzech. Itu mengkhawatirkan (karena tidak bisa bohong) sekaligus menghangatkan.
"Kembali fokus Sirzech, bom ini bisa meledak kapan saja."
"Ya."
x-x-x-x-x
Agrori memperhatikan daerah sekitar.
Tanah putih keabuan dengan taburan sedikit debu, bebatuan yang tidak biasa, langit yang hitam sempurna bertabur bintang, dan sebuah planet dengan warna yang begitu indah.
Tidak salah lagi, ini di bulan.
Ia menggerakkan tubuh untuk membiasakannya pada lingkungan asing. Segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, ada pun masalah yang ia alami yakni tidak ada oksigen. Namun dengan tubuhnya yang seorang iblis hal tersebut tidak akan menjadi masalah besar.
Hanya saja ...
Bagaimana caranya seorang manusia tidak mati di kondisi hampa udara?
Mengerti maksud dari tatapan Agrori, Naruto mengendikkan bahunya.
"Jangan tanya kenapa aku tidak mati, sampai sekarang ini masih menjadi misteri."
Dulu Naruto pikir keadaan di bulan tidak beda jauh dengan bumi. Sewaktu menyelamatkan Hinata dari Toneri segala sesuatunya terasa biasa. Ia bertarung dengan mudah layaknya di bumi, bahkan merasa sesak nafas pun tidak. Lalu ketika dilahirkan kembali ke dunia ini barulah ia sadar, ada yang tidak normal dengan tubuhnya.
Entah itu karena dirinya memiliki cakra yang notebenya tidak dimiliki orang biasa atau mungkin karena ia pernah melewati jalan rahasia milik Toneri (Jalan yang langsung menghubungkan bumi-bulan), dirinya kini memiliki kekebalan pada beberapa hal. Salah satunya adalah tidak memiliki masalah pada sistem pernafasan. Meskipun belum di coba untuk bernafas di dalam air, tapi fakta ia bisa bergerak bebas (tanpa baju astronot) di bulan adalah hal yang tidak bisa dipungkiri.
"Kau ini manusia yang menarik nak, aku sedikit tertarik denganmu. Bagaimana kalau kita anggap pertarungan ini tidak pernah terjadi, dan kau menjadi salah satu pengikutku? Itu akan menjadi penawaran yang sangat bagus. Hidup abadi dengan kekuatan yang tak terbatas." Tawar Agrori.
Biasanya Agrori tidak menawarkan seseorang menjadi pengikutnya. Karena sebaliknya, mengetahui keuntungannya membuat mereka memohon-mohon untuk dijadikan pengikut. Tak jarang pula Agrori memberikan syarat yang tak masuk akal, memerintahkan mereka melakukan hal diluar batas manusia, bahkan tindakan yang melebihi eksistensi iblis. Semua itu dilakukan untuk menyeleksi para bawahan yang loyal. Tetapi tidak ada yang mampu, semuanya gagal. Dan hanya iblis-iblis murni keturunan 72 pilar yang bisa memenuhi syaratnya.
Karena itu pula, jika seseorang mendapatkan tawaran secara langsung dari Agrori mereka seharusnya merasa bangga atau pun senang. Ini adalah momen langka yang bahkan tidak pernah Agrori bayangkan sendiri, 'menawarkan untuk jadi pengikut.'
"Aku menolak."
Tapi laki-laki itu menghancurkan ekspetasi Agrori, memperlakukannya dengan tak sedikit pun rasa hormat, dan mengenyahkan rasa tertariknya menjadi kemarahan.
Dengan pandangan yang dingin menusuk, Agrori menatap Naruto penuh kebencian.
"Kalau begitu jangan ikut campur urusan orang lain, nak. Tidak ada hal baik yang akan kau terima setelah semua perbuatan sok pahlawanmu."
10 buah lingkaran sihir dengan jari-jari 2 meter tercipta di atas Agrori, kemudian dari tiap serangan tersebut meluncurlah energi penghancur layaknya petir.
"Aku hanya melakukan sesuatu yang memang ku inginkan. Ini tidak ada hubungannya dengan tindakan sok pahlawan atau semacamnya."
Bum Bum Bum Bum!
Suara tanah yang berdentum karena ledakan terdengar, Naruto menghindari tiap serangannya dengan teliti. Ia melompat kesana kemari, berguling jika perlu, dan seminimal mungkin melakukan teleport. Ketika serangannya berhenti, Naruto membuka seragam Kuoh Gakuen dan melipat lengan sweater orange-nya.
Kedua lengannya di perban, dan di atas perban itu ada sepasang segel.
Kau tahu? Yang biasa tidak akan mempan pada orang ini.
Lalu apa? Ini masih lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Hmmmmmm ... apa kau sudah menghilangkan klon-mu?
Masih belum, 5 menit lagi.
Ya sudah, ku serahkan 5 menit ke depan padamu.
Semoga saja dalam 5 menit aku tidak mati.
Jangan pesimis Naruto, semua akan baik-baik saja seperti biasanya.
Biasanya kita tidak melawan orang seperti ini, Kurama.
Berhentilah mengeluh dan maju, Gaki!
Naruto memutar bola matanya bosan. Sejak dulu sampai sekarang panggilan kesayangan Kurama masih belum berubah, 'Gaki'. Memang kepribadiannya 'sedikit' kekanakan karena mengalami masa puber untuk kedua kalinya, tapi menyebut 'Gaki' pada orang yang umurnya sudah lebih dari 30 tahun? Naruto kira itu sangat tidak cocok.
Yah~ mungkin satu atau dua tahun lagi dia akan ..., Naruto terdiam.
... Itu tidak mungkin.
[Kuchiyose no Jutsu : Raiko Kenka]
Naruto menyentuh segel tersebut dan sebuah katana muncul di genggamannya.
"Kau juga sudah mengacaukan sekolahku. Tidak peduli kau seorang dewa atau pun Maou, aku akan mengalahkanmu!"
"Betapa egoisnya," Balas Agrori dengan ekspresi merendahkan.
Naruto menyeringai, "Manusia itu memang egois. Bahkan sejak masih dalam kandungan kami harus egosi demi bisa hidup, menyingkirkan pesaing (sperma) lainnya agar bisa bertahan, dan lahir ke dunia dalam ketakutan. Ironi, tapi itulah manusia ..."
Naruto melesat, mengayunkan katana-nya secepat kedipan mata. Bersamaan dengan kekuatannya yang mulai terkumpul, ia melepaskan sejumlah besar cakra pada katana miliknya. Serangan dengan daya hancur menyamai kekuatan super Sakura itu menghantam iblis tersebut, menciptakan suara keras memekakkan telinga di sunyi-nya keadaan bulan.
Dia ...
Naruto melebarkan bola matanya. Ia memang berpikir kalau serangannya tidak akan memberikan dampak kritis pada iblis di hadapannya. Tapi ini ...
"Setelah semua omong besarmu, hanya ini kemampuanmu?"
Tidak hanya memberikan dampak kosong, serangan Naruto bahkan bisa di tahannya dengan mudah. Lebih mengejutkan lagi adalah bagaimana cara Agrori menahannya. Ia menggunakan kedua jarinya untuk menjepit katana Naruto, seolah pedang khas jepang itu tidak lebih dari seutas lidi yang sangat ringan.
Kraaaak!
Katana milik Naruto langsung hancur seketika itu pula. Jika bisa, Naruto ingin menunjukkan perasaan terkejutnya. Namun karena kondisi yang semakin buruk membuat Naruto tidak punya waktu untuk hal tersebut. Ia harus memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Naruto juga tidak ingin mengkhawatirkan senjatanya, toh dia akan men-stok ulang senjatanya dalam waktu dekat. Masalahya sekarang adalah bagaimana cara dia menghadapi monster ini? Kekuatannya di luar perkiraan Naruto.
Haruskah aku menggunakannya sekarang ...?
Pertanyaan tersebut mendadak muncul di kepalanya. Dengan perbedaan kekuatan di antara keduanya sangat mungkin bagi Naruto kalah saat itu juga. Satu-satunya kesempatan ia bisa menandingi iblis keturunan murni tersebut adalah dengan menggunakan satu kartu AS-nya. Tapi sebuah firasat buruk dapat Naruto rasakan.
Mungkinkah Agrori bahkan belum menggunakan kekuatan penuhnya?
Naruto memunculkan sepasang kunai dan meleparkannya dalam jarak relatif dekat (2 meter). Lemparannya terasa mantap, apalagi dengan perpaduan cakra angin milik Naruto, serangannya pasti bisa membunuh seekor iblis liar dengan mudah.
Tapi Agrori? Rasanya tidak. Kunai yang menuju Agrori malah hancur menjadi serpihan debu sebelum mengenai target.
"Tch,"
"Kau sedang mempermainkanku?"
Wuuuusssh!
Muncul gelombang udara dari tubuh Agrori, semakin membesar dan menghempaskan Naruto kuat.
"Akh!"
Serangan Agrori berhasil Naruto tahan dengan menyilangkan kedua lengannya, namun gelombang kuat itu tetap mengenai bagian tubuhnya yang tak terlindung. Perut, bahu, kaki, dan tangannya berteriak kesakitan.
Naruto berdiri walau kedua kakinya (Sedikit) gemetar akibat serangan barusan, tidak sekalipun dalam dirinya berniat menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Ia bersiap, memasang kuda-kuda menyerang dan terus memunculkan senjata-senjata dari kedua segel di lengannya.
Boft! Boft!
Bermodalkan bantuan dari dua bushin di sampingnya, Naruto kembali berlari menuju Agrori. Satu klon-nya melemparkan belasan kunai secara berkala, namun sayangnya semua kunai menghilang sebelum sampai pada iblis berambut hitam tersebut.
Tidak kenal kata berhenti, kedua klon-nya melesat kemudian menciptakan sebuah rasengan besar yang di bawa bersamaan.
"Gaaaaaaaah!"
[Oodama Rasengan]
Agrori menarik sudut bibirnya merendahkan. Ia tidak habis pikir, meskipun kekuatan Naruto berada di atas manusia normal, itu bukan berarti dirinya bisa melawan eksistensi iblis yang memiliki kekuatan setara dengan dewa.
Menyedihkan.
Tidak tahu diri.
Bodoh.
Tidak, bahkan semua sebutan itu tidak pantas untuk Naruto. Kalau dari sudut pandang Agrori, Naruto bahkan tak lebih baik dari serangga. Ya, mungkin lebih cocok jika menggambarkannya seperti 'Serangga yang ingin melawan dewa.'
Oh tidak, itu bukan lelucon yang bagus.
"Lemah."
Dengan satu tangannya Agrori menahan rasengan Naruto. Walaupun tanpa merapalkan mantra tertentu, rasengan Naruto berhasil ia tahan dengan bermodalkan miasma yang keluar dari tubuhnya. Itu mengagumkan sekaligus merepotkan, tapi saat ini Naruto tidak punya waktu untuk tercengang.
"Hmm,"
Kedua klon Naruto tidak membalas ejekan Agrori, mereka hanya berdecak kesal sambil terus mendorong rasengannya ke depan, berharap tangan Agrori akan terluka atau lebih baik lagi—hancur. Tetapi Miasma yang membungkus tubuh Agrori bukanlah hal yang bisa di remehkan.
Eksistensi sebenarnya dari miasma adalah kekuatan unik yang notebenya merupakan milik iblis, biasanya digambarkan sebagai kekuatan iblis itu sendiri, tapi yang dimiliki Agrori sangat berbeda. Tidak hanya sebagai kekuatan penghancur, miasma-nya memiliki pertahanan yang lebih absolute dari pasir milik Gaara.
"Manusia yang sombong. Keberadaanmu tidak lebih dari seekor serangga dan kau berani melawan eksistensi dewa sepertiku. Setelah aku menghabisimu dan membunuh Sirzech, tujuanku selanjutnya adalah menunjukkan pada manusia-manusia tidak tahu diri seperti kalian ... siapa tuhan sebenarnya dari alam semesta ini."
Agrori menghilangkan Odama rasengan dengan kibasan tangannya. Begitu mudah sampai sulit di percaya.
—!
Itu di luar perkiraan, memang Rasengan Naruto tidak sekuat saat di mode senjutsu. Tapi levelnya jelas jauh berbeda dari saat ia berada di dunia shinobi.
Menghiraukan rasa terkejut, klon Naruto menggertakkan giginya.
"Kau bukan tuhan!" Klon Naruto menebaskan sebuah zanbato pada Agrori.
Agrori menarik sudut bibirnya, "Ketidak tahuan adalah berkah, eh."
"Apa maksudmu?"
"Kau akan mengetahuinya ... suatu hari nanti." Balas iblis tersebut dengan seringai memuakkan.
Secepat cahaya, sebuah energi iblis berbentuk petir merah menyambar kedua klon Naruto. Menyerang mereka hingga menjadi kepulan kabut tipis dan melesat menuju ke Naruto (asli) di belakang sana.
Bzzzzzttt! Duuuuaaar!
Ledakan dengan skala besar tercipta di tempat Naruto berada, awan debu khas permukaan bulan berhamburan kesana kemari sampai menutupi jarak pandang. Suara dentuman kecil terdengar nyaring di kondisi hampa udara.
Agrori membentuk senyum tipis.
"Itu belum cukup untuk membunuhmu, eh." Ujar Agrori sarkastik. " ... dan si pemeran utama akhirnya datang." Lanjutnya.
Dari kepulan debu yang mulai menipis, dua siluet berbeda postur tubuh berdiri tegap di tengah pusat ledakan.
Dua pemuda. Sebelah kanan memiliki rambut merah panjang dengan pakaian khas bangsawan, dan di sebelah kiri adalah Naruto dengan pupil yang sudah membentuk pola horizontal layaknya katak.
Mereka berdiri di atas sebuah bidang tanah dengan sekeliling telah berubah menjadi jurang.
x-x-x-x-x
Rias membuka matanya secara perlahan, merasakan pusing di kepalanya ia sepontan memegang kepalanya, dan seiring dengan ingatannya yang mulai tersusun, rasa sakit akibat pertempuran tadi kembali terasa.
Tadi kan ...
Iris dark-blue-nya menerawang langit-langit yang tidak biasa. Langit-langit yang sewarna dengan tirai putih membatasi jarak pandangnya, di susul dengan aroma khas obat-obatan yang sewajibnya tidak ada di dalam kamar-nya.
UKS?
Ia mencoba duduk dari posisi tidurnya, namun tangan yang sangat familiar menahan gerakannya.
"Akeno?"
Gadis yang telah menjadi Queennya selama beberapa tahun belakangan itu menatapnya khawatir.
"Jangan memaksakan diri Buchou."
"Aku tidak apa-apa—" Rias teringat akan pertarungannya, "—Bagaimana? Bagaimana dengan pertarungannya?"
"Selain Agrori, yang lainnya sudah dikirim ke Underworld. Jika pengadilan bertindak sesuai hukum, maka sudah bisa di pastikan mereka akan di kirim ke Tartaros." Ucap Grayfia yang muncul dari balik tirai.
"Grayfia-nee ..." Ujar Rias, "Tunggu ... kalau Grayfia-nee disini, berarti Onii-sama ..."
Grayfia mengangguk, "Sirzech sedang bertarung dengan pemimpin musuh."
Rias diam mendengar perkataan Grayfia. Melihat seberapa besar kekuatan anak buahnya cukup baginya untuk memahami kekuatan pemimpin musuh. Walaupun terkesan ceroboh, Rias tidak bisa menyalahkan tindakan kakaknya sendiri.
"Semoga Onii-sama tidak apa-apa."
"Ya."
Sedikit aneh rasanya mengkhawatirkan seseorang dengan gelar 'Overlord' seperti Sirzech, tapi Rias tidak bisa mengabaikan perasaan khawatirnya mengingat betapa mengerikan aura yang terpancar dari pemimpin musuh. Hal ini berlaku juga untuk Grayfia, orang yang pernah mengenal keduanya (Agrori-Sirzech) dengan dekat.
x-x-x-x-x
Agrori menyeringai pada Sirzech. "Akhirnya kau datang, SIRZECH!"
"Aku disini, Agrori." Balas Zirzech dengan ekspresi serius, ia menatap tajam Agrori seolah menumpahkan semua perasaan gelisah dalam dirinya. Sirzech selalu menganggap Agrori adalah sahabat sejatinya. Tapi sekarang ia adalah seorang Maou, pemimpin dari jutaan iblis yang hidup di underworld.
Sebuah perasaan pribadi bukanlah apa yang harus ia bawa dalam pertempuran.
"Ayo akhiri pertarungan puluhan tahun lalu ... disini."
.
.
.
To be Continue.
Author Note.
Saya minta maaf karena sudah menelantarkan cerita ini selama beberapa bulan. Selama waktu vakum itu pula saya kehilangan gairah nulis karena berbagai masalah. Jadi ini adalah update pertama saya setelah ... masa-masa gak semangat nulis.
Mohon maaf kalau chapter ini tidak memuaskan. Saya sadar kok kalau penulisan saya makin down dari sebelum-sebelumnya, jadi ini masih masa adaptasi saya dalam menulis kembali.
Oh iya, pertarungan di bulan sebenarnya cuman ada 1 chapter. Tapi berhubung sangat panjang, jadi author potong dalam beberapa part supaya mudah dalam sesi penyuntingan.
x-x-x-x-x
Sekilas Info.
Kuchiyose no Jutsu : Raiko Kenka adalah jutsu kuchiyose senjata milik Sasuke (sewaktu Sasuke vs Itachi) yang saya tanamkan pada karakter Naruto. Selain praktis, konsepnya juga mudah dipahami. Jika biasanya hewan yang di panggil, maka jutsu ini memanggil senjata. Hampir mirip dengan gulungan penyimpanan, hanya saja berbeda dimensi.
Mode Rikudou, Naruto menggunakan mode Rikudou yang versi akhir (Vs Madara mode Rikudou) dimana ia seperti memakai jaket berwarna orange plasma dengan warna hitam sebagai pelapis dalamnya, serta sebuah celana sebatas lutut. Saya tidak suka yang seperti jubah, karena menurut saya itu ribet dan hanya untuk pamer saja.
Satu lagi, Naruto tidak punya bijuu ekor-1 sampai 8, dia hanya punya Kurama di dalam tubuhnya. Tapi Naruto bisa menggunakan kemampuan 8 bijuu lainnya karena cakra pemberian ke-8 bijuu saat pertarungan melawan Kaguya (Walau tidak sekuat jinchuriki aslinya).
Balasan Review.
Guest (Yang menyebut saya munafik) : Jangan terlalu sensitif mas. Ini masih awal-awal jadi jangan menyimpulkannya sepihak. 'Dewa/Kami-sama' disini juga ambil bagian dalam pengembangan cerita *Opps ... ini rahasia. Tetapi saran saya buat mas Guest. Kalau memang mau nge-flame, setidaknya harus pakai akun asli ya ^_^) jangan jadi orang yang 'lempar batu sembunyi tangan.'
Laffayete : Saya juga gak suka kalau Naruto banyak ngomong. Tapi ... kalau semua di isi battle aja rasanya aneh. Jadi sorry kalau ada sesi 'khotbahnya' ^_^)a
Tamma : Saya sebenarnya bingung buat nentuin saat kapan Naruto keluar. Soalnya kalau identitasnya langsung ketahuan kan gak seru banget ~_~)
Bayu : Makasih, kalau Bayu terhibur saya juga senang ^_^
DAMARWULAN : Naruto disini memang lemah dan gak kuat (seperti yang di bayangkan). Tapi ada alasannya kok :3
Silent Reader-san : Anjir ... NTR-nya jangan di bahas atuh mas :v
Silent rider : Ini hanya fiksi mas, segala sesuatunya bisa saja terjadi asal authornya mau... hwahahahahaha xD
Author sebenarnya kurang yakin juga iblis bisa bernafas di ruang hampa atau tidak. Tapi mengingat Sirzech dan Agrori berada di tingkat lebih atas dari iblis Ultra Ultimate (kalau gak salah), Author pikir mereka bisa.
Maksud Author ... Sirzech kan Maou Lucifer yang memimpin Underworld. Masa' mati gara-gara gak bisa nafas? 0.0)a
DENITRIA : Saya juga gak rela kalau Rias di mainin T_T
KidsNo TERROR13 : Yoi, keduanya duet biar menang :3
Ryoko : Maaf kalau ada yang kurang, makasih dan review ^_^
Morfheus : Oke, saya juga senang jika mas senang ^_^
Ajidakangel : Hanya Agrori saja ya, soalnya dia itu yang bakalan kepake lama buat cerita ini ^.^
Ae Hatake : Masih dong, soalnya kan ini masalah Sirzech juga :)
Dxd : Kemarin udah down mas T_T maaf dah ngecewain, semoga tetep betah buat baca cerita saya ya ^_^)
Yamishin : Errr ... mas terlalu muji. Fict saya gak sebagus itu sampai bisa di bayangkan sebagai anime. Banyak kekurangan disana sini yang tentunya tidak terhitung jumlahnya.
Kalau sifatnya sih saya memang ingin membuat karakternya tidak 'terlalu' keluar dari sifat aslinya. Tapi apa mau di kata, saya bukan pengarangnya yang bisa membuat semuanya 'sama persis' seperti aslinya ^_^)
La vechiasignora : Bener mas ... itu jadi pengalaman terburuk sampai ane gak berani bikin hubungan serius ma cewek -,-
Paijo Payah : Makasih mas ^_^)
Namikaze Fansboy : Oh bener, Zetsu hitam mati dibunuh Naruto ya :o
rifaiuzukaki : Hehehe ... sebenarnya saya juga bingung bikin summary-nya gimana. Dari awal baca saya cuma main di fandom Naru x Dxd. O.O)a
Brengzeck 014 : Itu masuk kategori boneka mas xP. Mereka pun udah mati semua :v
Guest (Yang memberi saran alur) : Sorry mas, saya gak bisa bikin yang kayak begitu. Fict ini bakalan berfokus pada tujuan Naruto untuk menemukan 'sosok berjubah hitam' dan mengalahkannya. Tapi beberapa saran sepertinya akan saya pakai. Trimakasih ^_^)
Berabai : Itu pake teleport mas xD, konsepnya mirip seperti Hiraishin. Asalkan ada kontak fisik / penghubung semuanya bisa di transfer (terantung kuantitas tenaga yang dipunya).
Anymous-KUN : Saya kuliah kok '_', jadi gak kena K13 :p
Kemarin ada masalah yang membelit saya, tapi sekarang udah mendingan jadi bisa update lagi ^_^
Auliaprimarahman : Kerja samanya kurang kompak T_T
Ttpod : Iya, saya juga punya niat untuk masukin pair setelah Naruto dkk naik ke kelas 2. Saat udah cukup umur xD
DENITRIA : Pertama, Kakuzu punya 5 jantung. 1 jantung di bunuh pake chidori Kakashi, 1 jantung di bunuh oleh Shikamaru (perantara Hidan), 2 jantung di hancurin oleh Naruto, dan jantung terakhir di chidori lagi oleh Kakashi. :3
Born Dragoon : Jutsu Naruto masih sama seperti di dunia shinobi xD
Wew ... gak nyangka kalau balasan reviewnya bakalan sepanjang ini xD
Jawaban di chapter sebelumnya adalah 'PERNAH', Naruto beberapa kali melakukan pembunuhan dengan rasengannya. Salah satu yang saya ingat adalah ketika Gaara di culik oleh Akatsuki. Naruto yang awalnya kesusahan melawan Itachi akhirnya berhasil membunuh Itachi (Palsu—Anggota dewan Sunagakure) dengan Oodama Rasengannya :3
Bertanya pendapat.
Menurut kalian, seperti apakah sikap Ideal tokoh utama dalam menghadapi Harem? Apa gak peka dan jadi orang yang bodoh? Atau peka pada perasaan semua orang dan menerima mereka semua lalu menggilirnya layaknya playboy? Atau mungkin ... kalian punya pemikiran sendiri?
Oke, itu aja. Mau jawab alhamdulillah, gak dijawab juga gak masalah :3
Sukur-sukur kalau ada yang review ._.
