"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.

Genre: Romance, Comedy (?)

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin

Park Jimin x Min Yoongi

Jung Hoseok (Jomblo Sejati)

Rated: T

Warning: Ambigu, typo tak tertahankan

.

.

Part II: Something to Say

Park Jimin tampak begitu lesu. Sudah lebih dari sebulan sahabat sejatinya, Jeon Jungkook tak sudi berada di dekatnya. Di kelas, yang biasanya mereka selalu duduk bersebelahan di baris ketiga, Jungkook akhir-akhir ini memilih menempati barisan pertama. Ketika jeda kelas, dimana selalu mereka gunakan untuk nongkrong di kantin bersama dua sunbae beda spesies; yang satu beruang madu pemalas alias Min Yoongi si penggila kumamon, yang satu alien aneh alias Kim Taehyung. Kini Jimin hanya menghabiskannya berdua dengan senior yang merangkap sebagai gebetan-nya, Min Yoongi. Itupun kalau senior Min sedang tidak malas. Menurut informasi dari pemuda berkulit pucat itu, Jungkook merengek kepada Taehyung, memintanya untuk tidak bergabung dengan duo invisible. Ia berdalih ingin menghabiskan waktu berdua saja padahal aslinya, Jeon muda ogah bertemu dengan Jimin.

Pemuda berkulit tan menghembuskan nafasnya berat, Yoongi yang kebetulan sedang luang dan dengan baik hati mau menemani Jimin di kantin hanya memutar bola matanya malas. Jimin bahkan sudah menghabiskan satu porsi jumbo ramen pedas dan dua gelas jus jeruk, tapi tangannya masih saja, entah dengan sengaja atau tidak, mencomoti ayam goreng di piring Yoongi.

Kalau ada yang bilang kesedihan membuat seseorang tidak memiliki nafsu makan, hal itu tidak berlaku pada Park Bantet Jimin.

"Park Jiminie, kalau kau masih lapar, pesan sesuatu." Yoongi menepis tangan Jimin yang hampir mencuri jatah makan siangnya lagi. Yang diprotes hanya memasang wajah melas.

"Jungkook masih marah padaku, hyung."

"Dan itu tidak ada hubungannya dengan makan siangku. Salahmu sendiri main pukul Taehyung."

"Tapi aku sudah minta maaf." rengek Jimin. Senior Min menghela nafas, tidak menyangka persahabatan Jimin dan Jungkook sangat kekanakan, malahan seperti dua orang gadis yang kalau marah bisa saling mendiamkan, padahal masalahnya hanya sepele. Rebutan bias, misalnya.

Begitulah. Kim Taehyung yang bonyok bukan masalah yang besar buat Min Yoongi.

"Berhenti membicarakan bocah itu, ada aku disini. Bicarakan sesuatu yang menyenangkan saja." Yoongi menggerutu, lama-lama kesal juga jika hanya mendengarkan keluhan hoobae bantetnya.

"Tapi aku merindukannya."

Senior Min menghela nafas. Kali ini dia sungguh tidak bisa menolerir lagi. Dia lalu memindahkan piringnya ke hadapan Jimin, setelahnya dia berdiri. "Makan sepuasmu. Percuma aku menemanimu hampir setiap hari kalau yang kau bicarakan hanya Jungkook ini, Jungkook itu. Lebih baik aku pulang."

"Hyung!" pemuda Park setengah memekik, dia ingin mencegah senior yang sudah lama diincarnya agar tidak pergi. Tapi naas, perut Jimin terbentur sudut meja saat bergerak.

"Sialan." umpatnya sambil mengelus abs di perut. Jimin kembali duduk untuk meratapi nasibnya. Pertama, Jungkook pergi, lalu sekarang Yoongi yang meninggalkannya, dan keduanya disebabkan oleh kesalahan Jimin sendiri.

"Park Bantet bodoh." gumam sebuah suara membuat Jimin refleks menoleh, dan saat itulah senyum di bibirnya mengembang karena mendapati seseorang yang diklaimnya sebagai sahabat sejati tengah berjalan ke mejanya.

"Ju.. Jungkook…" Jimin setengah tergagap. Matanya berkaca-kaca mendapati pemuda berambut mangkuk menaruh nampan berisi semangkuk udon dan segelas jus strawberry di meja, lalu langsung duduk di hadapannya.

Jungkook tidak menjawab. Ia malah mulai menyantap makan siangnya dengan lahap, dan Jimin tidak mempermasalahkan itu. Dengan sabar pemuda Park memperhatikan kegiatan teman sekelasnya sambil senyum-senyum sendiri.

"Kau, tidak marah lagi padaku?"

Yang lebih muda bergumam tidak jelas. Jimin seenaknya mengartikan itu sebagai 'ya'.

"Sungguh?"

Kali ini ia mendapat anggukan singkat. Senyum namja Park semakin lebar, dia kembali mengamati kegiatan makan Jungkook dalam diam. Yang ditatap lama-lama merasa risih juga, dan pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali bicara.

"Tapi kau harus membantuku." gumam Jungkook sambil melirik Jimin. Yang lebih tua langsung mengangguk mantab, kelewat semangat sampai hampir head bang.

"Apapun." ucap Jimin penuh keyakinan. Jungkook lalu meletakkan sumpitnya, sedetik kemudian ia menatap sahabatnya dengan sorot mata serius.

"Akhir pekan besok, Taetae hyung mengajakku untuk bertemu orang tuanya."

Senyum di bibir Park Jimin menghilang. Kedua alisnya bertaut. "Hah?"

"Ayolah Chim, kau tidak tuli. Aku tahu itu."

"Tunggu, bukannya kau pernah berkunjung ke rumahnya?"

Jungkook mengangguk, raut wajahnya masih terlihat serius. "Waktu itu eomma dan appa Taetae hyung sedang di luar negeri. Cuma ada Namjoon hyung dan Jin hyung."

Jimin mengangguk paham. Ia berani bertaruh bahwa pemuda Jeon yang kembali melanjutkan makan siangnya sedang merasa gugup, sangat. Karena setahunya, Jeon Jungkook belum pernah pacaran, jadi bertemu dengan calon mertuanya pasti merupakan pengalaman yang sangat mendebarkan.

"Kurasa kau harus banyak bertanya kepada Taehyung sunbae mengenai apa yang disukai dan tidak disukai eomma dan appa-nya."

Yang lebih muda mencatatnya dalam hati. Hari ini dia kan pergi dengan kekasihnya dan sepertinya itu adalah kesempatan yang bagus untuk bertanya. Itupun kalau Jungkook tidak sibuk terpesona ketika mereka sedang bersama.

"Tapi saranku, kau jangan terlalu memaksakan diri. Jadi dirimu sendiri saja, asalkan sopan."

Jungkook mengangguk sambil tersenyum, Jimin mengulurkan tangannya untuk mengusak kepala Jungkook. Melihat reaksi Jeon muda yang hanya diam, jantung pemuda Park berdebar kencang. Ini artinya Jeon Jungkook benar-benar sudah memaafkannya.

'Selamat tinggal, makan siang sendirian….' ucapnya dalam hati.

"Kook, ayo kita selca. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mengunggah fotoku bersamamu."

Jungkook terkekeh, sepertinya dia memang benar-benar terlalu lama mendiamkan Jimin. Konyol memang, tapi Jungkook sangat kesal ketika Jimin melayangkan kepalan tangannya ke rahang sang kekasih yang sebelumnya sudah mendapat tonjokan dari Namjoon dan tamparan keras dari Seokjin dan seorang lagi yang Jungkook tidak mau sebut namanya.

Jimin berdiri dari kursinya, lalu duduk di samping Jungkook, merapatkan kursi mereka. Jimin yang hari itu memakai sweater rajut abu-abu dengan turtle-neck merangkul Jungkook yang memakai hoodie tanpa resleting berwarna merah. Keduanya berpose duck face dengan gigi yang sedikit terlihat. Mereka berganti pose beberapa kali, mulai dari berwajah sok cool sampai ke ekspresi yang sangat konyol.

Keduanya tertawa lepas, rasanya sangat lega. Jungkook bahkan mulai acuh dengan beberapa pasang mata yang melayangkan tatapan heran. Menjadi kekasih seorang Kim Taehyung membuatnya terbiasa menjadi pusat perhatian.

"Aku akan mengunggahnya nanti."

Jungkook mengangguk sambil menyeruput jus strawberry-nya. Ia lalu teringat sesuatu. "Chim-chim hyung, menurutmu apa warna merah cocok untukku?"

Jimin mengeryitkan dahi, namun bibirnya tersenyum lebar. Tersenyum karena sahabatnya memanggil Jimin dengan panggilan kesayangan, mengeryit karena pertanyaan Jungkook.

Pemuda Jeon mem-pout-kan bibirnya, ia lalu memegangi rambutnya, memberi Jimin clue. Pemuda Park yang masih duduk di sampingnya langsung melebarkan mata, sebelah tangannya mengacak rambut Jungkook gemas. "Kau akan melakukannya? Whoaa…"

"Taetae hyung bilang aku boleh melakukannya. Nanti kami akan pergi bersama, sekarang dia sedang ngobrol dengan Namjoong hyung."

Park Jimin mengacungkan jempolnya, membuat Jungkook nyengir semakin lebar. Mereka lalu berbincang ringan dengan Jimin yang sesekali mengacak rambut Jungkook gemas karena sungguh, ia merindukan namja yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.

Lengan kanan Jimin tengah merangkul pundak Jungkook saat sebuah suara berat menginterupsi kegiatannya bercerita mereka.

"Kubilang jangan biarkan orang lain menyentuhmu."

Jungkook tertawa ringan saat Taehyung berdiri di sampingnya, lalu menyingkirkan lengan Jimin sambil menunjukkan wajah kesalnya. Hoobae Park nyengir tanpa dosa. Senior Kim semakin mendengus, namun langsung menyeringai ketika teringat sesuatu.

"Yoongi hyung bilang dia marah padamu karena kau selalu membicarakan Jungkook. Kau tahu, Jim…" Taehyung sengaja menggantung kalimatnya, dia lalu membungkuk, melewati Jungkook demi mendekatkan wajahnya ke wajah Jimin, ujung hidung Jungkook menyentuh pipinya, dan dari manapun, ini terlihat seperti Jungkook sedang mencium pipi Kim Taehyung. "Dia sepertinya cemburu karena kau selalu membicarakan kekasihku."

Mata Jimin berbinar. Apa itu artinya Min Yoongi juga ada rasa padanya?

Kalau boleh jujur, selama aksi Jungkook yang mendiamkannya, Park muda malah sering ngobrol dengan senior Kim walau hanya melalui pesan singkat, dan sepertinya namja bantet itu sudah banyak keceplosan, terutama mengenai perasaannya kepada teman seangkatan sang senior.

"Saranku, kau harus segera mengutarakan perasaanmu. Kalau tidak, mungkin kau akan kalah dengan Hoseok." Taehyung menegakkan tubuhnya, meninggalkan wajah bimbang Jimin dan wajah Jungkook yang semerah tomat karena posisi mereka barusan, jangan lupakan sebelah lengan Taehyung yang memeluk pinggangnya saat membungkuk.

Setelahnya dia menarik Jungkook, menuntunnya berjalan meninggalkan Jimin yang tengah dilanda keraguan tanpa melepaskan pinggang sang kekasih. Ia tahu betul Jimin terlalu minder untuk menyatakan perasannya. Dan dengan kejamnya, pemuda Kim malah menakut-nakutinya.

"Hyung, kau mengerjai Jimin."

Taehyung terkekeh mendengar protes kekasihnya saat mereka memasuki mobil. Mereka berdua sama-sama tahu kalau Min Yoongi dan Jung Hoseok adalah saudara sepupu, dan mereka memang dekat, namun sungguh… not in a romantic way. Tantunya Park Jimin yang hanya pernah mendengar nama Hoseok tidak tahu hal ini.

"Salah sendiri pegang-pegang milikku." balas Taehyung mengecup singkat bibir Jungkook sebelum menyalakan mesin mobilnya. Jungkook tersipu.

"Hyung…" rengek Jungkook setelah beberapa saat mereka terjebak dalam keheningan. Taehyung terlihat berkonsentrasi dengan jalanan yang cukup ramai, dan pemuda Jeon sangat tidak betah didiamkan oleh kekasihnya. Sebenarnya Taehyung sedang memikirkan warna yang cocok untuk kekasihnya, juga dirinya.

"Hmm?"

Yang lebih muda mem-pout-kan bibirnya imut. Taehyung melirik dari sudut matanya, mengulurkan tangan dan mengacak surai kecoklatan sang kekasih. "Kenapa, Baby?"

"Umm.. menurutmu warna apa yang akan cocok untukku?" tanya Jungkook basa-basi, sebenarnya dia sudah membayangkan sebuah warna untuknya, namun jika senior kesayangannya mengusulkan warna lain, Jeon muda akan lebih memilih warna itu.

Apapun, asalkan Kim Taehyung menyukainya.

Taehyung tampak berpikir, dia memusatkan perhatiannya ke wajah sang kekasih ketika mereka terjebak lampu merah sambil memasang pose seorang detektif. "Hmm…"

Jungkook memiringkan kepalanya, terheran dengan apa yeng dilakukan Taetae hyung-nya. Sedetik kemudian, kedua tangan kekasihnya terulur untuk menarik kedua pipi pemuda Jeon.

"Awh… hyuuuung~" protes Jungkook. Kedua tangan Taehyung malah semakin menekan pipi Jungkook, meariknya kesana kemari. Pemuda Kim mengeram gemas dan Jeon muda semakin protes. Kejahilannya baru berhenti ketika lampu berubah hijau.

"Kau menggemaskan." kekeh Tae kembali menjalankan mobilnya. Hari ini mereka akan pergi ke salon untuk mengganti gaya rambut Jungkook, juga mewarnainya, sesuai dengan yang Baby Bunny-nya inginkan.

"Hyung menyebalkan. Pipiku sakit!" Bibir Jungkook yang mencebik malah semakin membuat Taehyung gemas. Sambil menyetir, sebelah tangannya kembali terulur untuk mencubit pipi kekasihnya hingga memerah.

"Aku juga mencintaimu, Bunny. Sangat!" Tae tertawa, sementara Jungkook merasa sangat kesal. Ia mengelus sebelah pipinya, memalingkan wajahnya dari sang kekasih yang malah tersenyum lebar menunjukkan rectangle smile yang menyebalkan.

Mereka menghabiskan waktu dalam diam sampai mobil Taehyung berhenti di depan sebuah salon yang katanya adalah langganan Taehyung sejak senior high school.

Taehyung keluar terlebih dahulu, lalu membukakan pintu Jungkook, mempersilakannya keluar. Namun yang dilakukan kekasihnya malah memalingkan wajah. "Aku mau pulang."

Kim Taehyung mendengarnya, nada bergetar dari gumaman hoobae kesayangannya. Sudut hatinya tercubit, sepertinya dia sudah menyakiti orang paling berharga untuknya. Menyakitinya untuk yang ke sekian kalinya.

"Baby…" Taehyung mencoba menarik wajah Jungkook, namun tangannya ditepis begitu saja.

"Sayang, maafkan aku." setengah berbisik, pemuda Kim mencondongkan wajahnya, perlahan ia mengecup sudut bibir Jungkook, membujuknya agar namja bersurai kecoklatan mau menatapnya.

Jungkook tampak ragu, namun perlahan matanya yang memerah bergerak melirik kekasihnya, ia menoleh, menunjukkan wajahnya kepada senior Kim.

"Astaga, maafkan aku, Kookie-ah." Tae menelungkup kedua pipi Jungkook, mengecup bagian yang memerah karena cubitannya berkali-kali. Sang sunbae benar-benar merasa bersalah sekarang. "Aku hanya terlalu gemas padamu. Sayang, aku sungguh tidak bermaksud."

Jungkook menggeleng, ia memegang kedua lengan Taehyung. Merengek, "Tapi sakit."

"Aku tidak akan melakukannya lagi." bisik Taehyung mengusap pipi Jungkook sayang. "Lain kali tidak akan kucubit, aku akan menggigitmu saja kalau gemas."

"Hyungieeeee~"

Taehyung terkekeh mendengar si Baby Bunny melayangkan protes yang, lagi-lagi, sangat menggemaskan. Apalagi ditambah dengan bibir manyun yang menggoda imannya. Perlahan ditariknya tubuh Jungkook, mengajaknya keluar dari mobil. Ia lalu menggandeng tangan kekasih manisnya.

"Jangan bertingkah menggemaskan kalau tidak mau digigit." bisik Tae menarik tengkuk Jungkook, membuat kepala bersurai kecoklatan itu menempel di pipinya. "Kau akan sangat cocok dengan warna red wine."

Mata Jungkook berbinar, bibirnya tersenyum lebar. Merah adalah warna yang diinginkannya, dan sang kekasih baru saja mengusulkan warna itu untuknya.

Mereka benar-benar berjodoh.

Jungkook yakin itu.

Dia langsung mengangguk mantab. Taehyung mencium pipinya gemas. "Aku juga boleh mengganti warna rambutku?"

Jungkook mengeryit.

"Kau akan lebih menyukainya, aku janji."

Yang lebih muda perpikir sejenak, kalau diingat lagi, warna rambut Kim Taehyung senada dengan warna rambut seseorang yang tidak disukainya, mungkin akan lebih baik kalau Tae mengganti warna rambutnya.

Jeon muda mengangguk.

"Kau tenang saja, kekasihmu akan terlihat semakin tampan." gumam Taehyung mengecup pelipis Jungkook saat seorang pria bertubuh tambun menghampiri mereka. Dia memperhatikan ketika pria itu menyapa Tae, lalu berbasa-basi.

"Kapten Bang, ini Jungkook, kekasihku." Taehyung menatap pria tambun itu, lalu meralih ke Jungkook. "Baby, dia adalah Bang Shihyuk, pemilik tempat ini. Kau harus memanggilnya kapten karena dia adalah Pejantan Tambun."

Jungkook mengangguk patuh, membuat Taehyung tertawa. Padahal niatnya bercanda, tapi namja yang dua tahun lebih muda darinya ini benar-benar kelewat menggemaskan. Polos seperti bayi.

Beberapa saat setelahnya, Taehyung berjalan meninggalkan mereka karena seorang pegawai lain yang akan menangani rambutnya sudah datang.

"Jadi, semalam Tae menghubungiku, dia bilang aku harus turun tangan sendiri untuk mengubah penampilan kekasihnya." Kapten Bang memasangkan cape ke tubuh Jungkook yang sudah duduk di kursinya. "Dia bilang akan membakar salonku kalau sampai hasilnya aneh."

Jungkook terkekeh. Awalnya dia pikir Kapten Bang adalah sosok yang kaku, ternyata lumayan ramah juga.

"Jadi, kau ingin mengganti gaya rambut seperti apa?"

"Um.." terlihat ragu, Jungkook menatap mata sang barber melalui pantulan cermin di depannya. "Taetae hyung bilang rambutku seperti mangkuk."

Bang Shihyuk menahan tawanya. "Jangan dengarkan, dia hanya bercanda."

"Aku tahu, tapi kesal."

"Karena itu kau ingin mengganti gaya rambutmu?"

Jungkook mengangguk polos. "Aku mau mewarnainya, hyungie bilang wara red wine akan cocok untukku."

"Kau tak perlu meragukannya. Taehyung sangat ahli untuk urusan memilih warna, aku yakin itu akan cocok untukmu."

Jungkook tersenyum lebar.

"Aku akan sedikit memendekkan rambutmu, menipiskan poninya agar tidak ada mangkuk lagi di kepalamu."

Lagi-lagi Jungkook mengangguk mantab. Dia sungguh antusias.

Setelahnya barber Bang mulai memainkan guntingnya. Mereka ngobrol ringan, kebanyakan membicarakan Taehyung. Kapten Bang bilang, sebelum mulai diwarna, rambut Taehyung memiliki tone yang sama seperti rambut Jungkook. Tentu saja pemuda yang baru pertama akan mewarnai rambutnya itu tersenyum senang. Entah sejak kapan menemukan kesamaan antara dirinya dengan sang kekasih mampu membuat Jungkook bahagia.

Jungkook hanya bertahan satu jam ngobrol dengan barber-nya, setelahnya dia tertidur. Bang Shihyuk yang menanganinya hanya bisa tersenyum maklum mengingat pemuda yang beberapa saat lalu menegaskan untuk tidak mau di-bleaching belum pernah menghabiskan waktu begitu lama di salon.

Taehyung selesai terlebih dahulu. Ia sengaja duduk di ruang tunggu tanpa mengatakan apapun saat seorang pegawai membangunkan Jungkook dan memintanya untuk berpindah agar rambutnya bisa dibilas. Ia sudah membayar semuanya dan tinggal menunggu Jungkook dengan memakai beanie hitam yang menutupi seluruh rambutnya. Tae akan memberi kekasihnya kejutan dengan penampilan barunya.

Lima belas menit setelahnya, ponselnya bergetar, Taehyung yang melihat nama Jungkook tertera di layar sentuhnya langsung mengangkat panggilan itu.

"Kenapa, Kookie?"

"Hyungie dimana? Aku sudah selesai." kekasihnya terdengar senang, Taehyung tahu itu. Pasti hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

"Aku juga sudah selesai. Aku duduk di ruang tunggu."

Kekehan merdu kekasihnya menyapa gendang telinga Taehyung. Beberapa detik berikutnya, Taehyung melihat seorang pemuda dengan hoodie merah berjalan ke arahnya. Tae merentangkan tangannya setelah kembali meyimpan ponselnya. Ia menyambut Jungkook dengan sebuah pelukan hangat.

"Bagaimana?" tangan senior Kim memainkan helaian rambut Jungkook yang berwarna merah gelap.

"Ehehe…" pemuda Jeon tersenyum semakin lebar, dia menguselkan kepalanya ke pundak Taehyung, memeluknya semakin erat. "Suka sekali."

Yang lebih tua terkekeh. "Kau semakin manis, aku jadi ingin memakanmu."

Jungkook melepaskan pelukannya, memasang pout andalannya sambil menahan senyum. Taehyung tertawa keras. Mereka lalu pulang setelah berpamitan kepada sang pemilik. Yang lebih tua mengatakannya berkali-kali, bagaimana ia menyukai warna merah gelap di rambut Jungkook, warna yang akan terlihat lebih terang ketika tertimpa cahaya matahari atau terkena bias lampu. Dan Jungkook semakin tersipu.

Kalau boleh jujur, Jeon Jungkook benar-benar seperti red wine di mata Taehyung. Elegan, menawan dan memabukkan. Tentu saja, membuat kecanduan.

"Hyungie, lepas beanie-nya. Aku belum lihat warna rambutmu." protes Jungkook untuk yang ke sekian kalinya. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dan Taehyung terus saja menggoda kekasihnya, mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan Jungkook melihat warna rambutnya yang baru.

"Pokoknya tidak. Hanya kekasihku yang boleh lihat."

"Tapi aku kekasihmu!" sahutnya cepat. Membuat Kim Taehyung tersenyum lebar, sementara Jeon Jungkook yang belum sadar dengan apa yang diucapkan masih memasang wajah kesalnya. Tangannya dilipat di depan dada, bibirnya manyun seolah minta dicium.

"Kau bilang apa, sayang? Coba diulangi sekali lagi."

"Kubilang, aku kekasihmu!" menautkan alisnya, Jeon muda menatap tajam Taehyung yang masih senyum-senyum tanpa melepaskan fokusnya dari jalanan yang ramai. Sesekali kekehan bernada rendah lolos dari sela-sela bibirnya.

"Tentu saja, Jeon Jungkook adalah ke -ka -sih Kim Taehyung."

Dan wajah Jungkook memerah sempurna. Sejujurnya dia sangat jarang mengatakan secara langsung bahwa dia adalah kekasih Taehyung, atau sebaliknya karena entah mengapa, kata kekasih selalu sukses membuat pipinya memerah. Dan barusan dia menyatakan bahwa dirinya adalah kekasih seorang Kim Taehyung dengan nada tegas yang melengking.

Taehyung terkekeh melihat rona merah di pipi Jungkook. Menggemaskan.

"Kau boleh melepas topiku kalau ingin melihatnya." gumam Taehyung, ia melirik Jungkook, tersenyum menenangkan sebelum kembali fokus ke depan.

"Tidak mau. Pokoknya hyung yang harus menunjukkannya padaku."

Tae mengulum senyumnya, diusapnya rambut sang kekasih yang masih menunjukkan pose ngambek-nya sambil memejamkan mata. Terlepas dari senyum dan antusiasme Jungkook hari ini, pemuda yang lahir tanggal satu September itu benar-benar mudah dibuat ngambek. Lebih mudah dari biasanya, terlalu mudah terpancing. Dan kalau Kim Taehyung tidak salah tebak, pasti itu karena semalam Jungkook terlalu excited sehingga tidak bisa tidur. Jadi yang lebih tua membiarkan kekasihnya berada dalam posisi itu, berharap agar dia tertidur pulas karena besok pagi mereka sama-sama memiliki kelas jam pertama. Lalu hari setelahnya, tepatnya di hari Jumat, Kim Taehyung akan membawa kekasihnya untuk menemui eomma-nya yang cerewet dan appa-nya yang sok cool.

Lima belas menit setelahnya, mereka tiba di apartemen sederhana Jungkook. Tae dengan perlahan menggendong kekasihnya di punggung setelah sebelumnya mengambil kunci apartemen di tas Jungkook, lalu menyampirkan tas itu di sebelah lengannya.

"Ngg.." pemuda Kim menghentikan langkahnya sejenak saat menaiki tangga, menunggu namja yang kini bersurai wine kembali tenang sebelum kembali berjalan.

Dengan sedikit kesusahan, Tae membuka pintu apartemen Jungkook, lalu dengan kurang ajarnya masuk begitu saja tanpa melepas sepatu, toh kekasihnya tidak akan tahu hal ini. Setelah bungsu Kim membaringkan tubuh Jungkook di kamarnya, barulah ia melepas sepatu Jungkook, membawanya ke depan lalu melepas miliknya sendiri, sekalian mengambil kunci yang masih menggantung dari luar.

Taehyung menghela nafas, menggendong Jeon Jungkook menaiki tangga ternyata cukup menguras tenaga. Tubuh kekasihnya lumayan montok, apalagi pahanya yang kencang itu… pemuda Kim sampai harus mati-matian menahan diri supaya tidak meremas bagian itu ketika menggendongnya tadi.

Dilepasnya beanie yang sedari tadi menyembunyikan rambutnya. Taehyung tersenyum miring ketika mengamati dirinya melalui cermin yang ada di kamar kekasihnya. Ia sedikit mendapat undercut dengan warna yang lebih gelap daripada bagian lainnya. Seratus persen ia yakin bahwa sang kekasih akan sangat menyukainya ketika bangun nanti.

Maka Taehyung berbaring di samping Jungkook, memeluknya gemas sambil sesekali menciumi kening Jungkook. Aroma pewarna rambut masih dapat ia cium samar. Sejujurnya namja bersurai terang itu tidak terlalu menyukainya, tapi karena aroma itu menguar dari rambut seorang Jeon Jungkook, Taehyung tidak mempermasalahkannya.

Dan Kim Taehyung terlelap dengan tubuh kekasih yang didekapnya erat.

Sekitar satu jam kemudian, Jungkook mengeliat, perlahan membuka matanya, mengerjab beberapa kali. Dan ia langsung menguselkan kepalanya di dada Taehyung begitu penciumannya menangkap aroma masculine yang selalu membuatnya hampir pingsan karena berdebar.

"Hyung… kenapa tidak membangunkanku." Jungkook memeluknya erat, menunggu tanggapan dari senior kesayangannya. Taehyung diam, dan itu membuat yang lebih muda penasaran.

Perlahan Jungkook mendongakkan kepalanya, dan jantungnya hampir melompat keluar dari rongga dada ketika obsidian kembarnya menangkap wajah Kim Taehyung yang sedang terlelap.

Sungguh, selama kurang lebih tiga detik, Jungkook merasa yang sedang memeluknya bukanlah Kim Taehyung, melainkan Adonis, yang konon merupakan seorang pemuda yang paling tampan.

Dadanya bergemuruh saat sebelah tangannya membelai surai kekasihnya yang kini berwarna pirang, broken blonde, dengan warna sedikit lebih gelap pada bagian undercut yang samar terlihat. Kim Taehyung benar-benar tampan. Dan wajahnya yang tertidur pulas benar-benar damai dan menenangkan.

Jungkook tersenyum.

"Harus kuabadikan." gumamnya pelan. Netranya menelusur kamarnya sendiri, mencoba menemukan ponselnya. Kalau tidak salah ingat, Jungkook menyimpannya di saku celana, jadi Taehyung pasti sudah mengeluarkannya dan menaruhnya di suatu tempat.

Benar saja, benda ber-case Iron Man itu tergeletak di atas meja di samping tempat tidur Jungkook, bersebelahan dengan milik Taehyung dan laptop yang masih terbuka, Jeon muda jarang sekali meninggalkan laptop dalam keadaan folded.

Dengan sangat perlahan, Jungkook mengulurkan tangannya, berusaha meraih smart phone-nya sendiri. Bagaimanapun ia harus mengabadikan gambaran seorang malaikat yang tengah terlelap.

Jungkook menggigit bibir bawahnya ketika tersenyum, ia sedikit menjauhkan tubuh dari wajah sang kekasih saat mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Kim Taehyung. Jungkook mengamati hasil jepretan-nya, tersenyum lebar, lalu mulai membidik lagi. Berkali-kali Jungkook bertingkah seperti seorang fanboy yang berhasil mencuri foto idolanya.

Jeon Jungkook memang seorang fanboy, fanboy yang kini berstatus sebagai kekasih idolanya.

"Hyung sangat tampan." Jungkook terkekeh, memeluk erat Taehyung dengan masih memegang smart phone di tangan kanannya, menguselkan kepalanya ke pundak Taehyung. "Mnn…"

"Kau sudah bangun?" gumam sebuah suara terdengar serak, suara khas bangun tidur.

Jungkook mengangguk, lalu sebuah tangan hangat mengusap tengkuknya. "Taetae hyung sangat keren. Seperti Adonis."

Taehyung terkekeh, diacaknya surai wine Jungkook. "Sungguh?"

Jungkook kembali mengangguk.

"Aphrodite dan Persephone pasti jatuh cinta padaku."

Tubuh Jungkook menegang seolah ia menyadari sesuatu yang gawat, Taehyung tahu itu. Dan dia sungguh sedang ingin menggoda kekasihnya hari ini. "Ahh.. para dewa pasti iri kepadaku. Sebentar lagi aku akan mati."

Jungkook tahu itu. Kisah tentang Adonis yangsangat tampan, sehingga dewi sekelas Aphrodite sampai jatuh cinta padanya, begitu juga Persephone. Bahkan keduanya sampai bertengkar hingga Zeus harus ikut campur dan menyelesaikan perselisihan. Para dewa merasa iri, dan pada akhirnya Adonis mati terbunuh oleh wild boar yang diutus oleh Artemis, atau mungkin dewa-dewa lainnya.

Pemuda bersurai red wine tanpa sadar menggelengkan kepalannya, memeluk Taehyung semakin erat, membuat Kim muda semakin gemas karena tingkahnya.

Jungkook tidak mau ada 'Aphrodite' atau 'Persephone', siapapun itu menjadi saingannya. Tidak boleh. Kim Taehyung hanya boleh menjadi milik Jeon Jungkook!

Taehyung terkekeh, sedikit banyak bisa membayangkan apa yang ada di pikiran kekasihnya. "Baby.. jangan memperlakukan Adonis seperti ini."

Dan Jungkook semakin menggeleng, Taehyung menahan tawanya.

"Hyung tidak boleh keluar rumah. Nanti banyak yang terpesona dengan hyung." Pemuda Jeon menjauhkan wajahnya, menatap Taehyung dengan sorot serius.

"Memangnya kenapa? Kita harus pergi kulaih, Kookie-ah."

Jungkook kembali menggeleng saat hazel Taehyung menatapnya tak kalah serius, yang lebih muda sungguh tidak menyadari bibir kekasihnya yang setengah terangkat.

"Kau bilang kau menyukaiku karena aku manis, bagaimana kalau ada yang lebih manis? Hyung pasti akan lebih menyukainya." Jungkook menunduk, bibirnya mencebik.

Taehyung terdiam selama beberapa saat sebelum kembali bicara dengan nada kelewat santai. "Well, sebenarnya ada yang lebih manis, dan sepertinya dia menyukaiku."

Si hoobae manis refleks mengangkat wajahnya, menatap sang sunbae dengan tatapan tak percaya. Baru saja kekasihnya memuji orang lain manis, lebih parahnya, dengan sangat blak-blakan namja bersurai blonde itu mengatakan bahwa entah-siapa-itu lebih manis dari Jungkook.

Hatinya terasa panas. Cemburu.

"Tapi ada seseorang yang sudah menyita seluruh perhatianku, jadi aku tidak peduli lagi pada yang lain." Taehyung terkekeh ringan, diciumnya lembut kening Jungkook. "Sudah kubilang, bagiku kau adalah yang paling manis, paling menggemaskan, paling kuinginkan. Ingat itu baik-baik, hm?"

Jungkook mengangguk dengan rona merah bertengger di pipi. Ia semakin erat memeluk kekasihnya.

"Yah… walau aku tahu aku sangat tampan, dan pasti banyak yang suka."

Pemuda Jeon melayangkan sebuah cubitan ke perut Taehyung, malah ditanggapi dengan gelak tawa.

"Menyebalkan."

"Aku juga mencintaimu, sangat."

"Bohong. Sebesar apa rasa cintamu padaku? Lebih memilih aku atau koleksi komikmu?"

Taehyung terkekeh. Hari ini Jungkook benar-benar manis. Dan sepertinya dia harus melakukan sesuatu yang akan membuat Jungkook bertindak semakin manis.

"Itu.. aku tidak bisa memilih."

Benar saja. Jungkook langsung cemberut, ia langsung memalingkan wajahnya. Dengan itu Taehyung mengambil, ponselnya, memegangnya dengan tangan kiri, merapatkan tubuhnya ke tubuh Jungkook yang masih berbaring membelakanginya.

Tae mulai merekam.

"Kookie, lihat kemari."

"Tidak." gumam Jungkook dengan nada kesal. Ia menepis telunjuk Taetae yang menusuk-nusuk pipinya usil.

Sementara itu Taehyung menatap front camera-nya sambil tersenyum. Bibirnya bergerak tanpa suara mengucapkan, 'My Kookie Bunny is sulking.'

"Come on, bae.. Look at me, and I'll tell you how much I love you."

Jungkook mendengus kesal, namun ia perlahan menghadapkan tubuhnya ke arah Taehyung karena sungguh, dia sangat penasaran. Mereka saling berhadapan dengan tangan kiri bungsu Kim yang terangkat ke atas, merekam. Jungkook tidak menyadarinya.

"I must say, my love for you isn't as much as the stars in the sky." Jungkook memasang ekspresi sedih. Setahunya, kalimat cheesy dan hiperbola adalah yang paling banyak dipilih oleh mahasiswa jurusan sastra untuk mengungkapkan perasaannya.

Dan bukankah seharusnya Taetae hyung-nya bilang kalau cintanya kepada Jungkook lebih banyak daripada jumlah bintang di langit?

"You know why?"

Jungkook menggeleng, masih dengan raut kecewanya. Sementara Taehyung memejamkan matanya, menggesek ujung hidung Jungkook dengan hidungnya.

"Cause the sky isn't mine, I also don't own the stars."

Jungkook mengangguk, berbisik., sejujurnya ia masih berharap. "Sorry, I know I'm childish."

"I'll tell you this.. about how much I love you." Taehyung menggeleng pelan, membuka matanya. "Jeon Jungkook, I love you with the 179 centimeters of my height and the 62 kilograms of my weight. I love you with all of me since my whole body is the only thing I own from the day I was born till the day I breathe my last breath."

Jungkook mematung sedangkan Taehyung tersenyum lebar. Beberapa detik setelahnya, yang lebih muda memeluk erat sambil merapalkan kata 'menyebalkan'. bungsu Kim terbahak, menghentikan kegiatannya merekam, lalu balas memeluk Jeon Jungkook.

Dalam hati ia mengingatkan dirinya sendiri agar mengunggah video pernyataannya barusan.

"Tidak ada Adonis yang memilih hidup bersama Aphrodite dan Persephone, yang ada hanya Kim Taehyung yang akan hidup bersama seseorang yang sangat dicintainya, Jeon Jungkook."

.

Second Lesson: "I love you with the 179 centimeters of my height and the 62 kilograms of my weight." -Kim Taehyung (END)

.

.

Ahahahah… Apa ini?

Semoga ini menghibur dan please leave some review agar Tiger makin bersemangat karena sejujurnya fav and follow tanpa review terkadang bikin baper.

Btw itu Jungkook modelnya kaya di jaman Haruman, masih polos sangat. Dan Tae di masa Wings, sensual gimana gitu, haha.

.

Akhirnya

Review Pleaseee