"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.
Genre: Romance, Comedy (?)
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin | Park Jimin x Min Yoongi | Jung Hoseok (Jomblo Sejati)
Rated: T
Warning: Ambigu, typo tak tertahankan
.
.
Part III: Something to Show Off
Jeon Jungkook mematut dirinya di depan cermin. Bibir cherry-nya tersenyum manis ketika memperhatikan helaian sewarna wine yang kini menjadi mahkotanya. Pemuda kelahiran Busan itu sungguh merasa puas. Benar seperti yang dikatakan kekasihnya, warna itu benar-benar cocok dengannya, bahkan wajah susunya terlihat semakin fresh.
Ngomong-ngomong soal kekasihnya, pemuda Jeon teringat akan sesuatu, dan senyumnya mendadak pudar. Karena sesuatu yang dilakukan kekasihnya, Jeon Jungkook kembali benci menjadi pusat perhatian.
Pemuda yang memakai kaos putih ditumpuk kemeja kotak-kotak perpaduan warna hijau-hitam, dengan bawahan jeans hitam yang sobek di kedua lututnya itu mengetuk-ngetukkan 6-inch wheat boots-nya ke lantai. Mempertimbangkan apakah dirinya harus keluar dari toilet pria di ujung lorong dekat dengan kelas yang akan digunakan untuk jam berikutnya, atau menunggu dan masuk kelas sedikit terlambat demi menghindari menjadi pusat perhatian. Jungkook benar-benar bingung.
Dirogohnya saku celana untuk mengambil ponsel, lalu Jeon muda menyentuh ikon instagram untuk menge-check sesuatu.
"Taetae hyung menyebalkan!" gumamnya tertahan. Notifikasinya membludak, ia bahkan malas untuk men-scroll layar sentuhnya ataupun melihat siapa saja yang berkomentar dan me-mention akunnya.
Semua ini gara-gara tujuh hal.
Pertama, Park Jimin.
Kedua, Kim Taehyung.
Ketiga, dirinya sendiri.
Dan keempat hingga ketujuh, kembali kepada namja bernama Kim Taehyung.
Hari rabu malam, tepatnya malam setelah Jeon Jungkook mengubah gaya rambutnya, Park Jimin, pemuda yang dengan gamblang mendeklarasikan bahwa mereka berdua adalah sahabat sejati yang tak lekang dimakan zaman, mengunggah foto mereka berdua yang diambil di kantin waktu itu. Foto dengan pose normal dimana keduanya melakukan duck face dengan lengan yang lebih tua merangkul yang lebih muda. Fotonya sungguh terlihat biasa, pasalnya sejak sebelum menyandang status sebagai kekasih senior Kim, Jungkook memang sering mengunggah foto bersama Jimin, begitupun sebaliknya. Dan sesama teman saling merangkul sungguh hal yang sangat biasa. Yang tidak biasa adalah caption yang ditulis si bantet.
.
J_minswag: happy to becoming home again jung_biscuit … welcome back home
.
Sungguh banyak yang salah paham dengan kalimat ambigu yang dikutip Jimin dari salah satu lagu barat tersebut. Banyak yang menanyakan apakah hubungan Jeon Jungkook dan Kim Taehyung berakhir, apakah kini kedua pemuda Busan itu menjalin kasih dan lain sebagainya. Ditambah lagi, foto itu diunggah selang beberapa detik sebelum kim_taemvan meng-upload video pernyataan nistanya yang diam-diam diambil tanpa sepengetahuan Jungkook ketika keduanya di kamar Jeon muda waktu itu. Seniornya menambahkan caption yang juga kelewat ambigu.
.
Kim_taemvan: How to get a 'yes' from your sulking Bunny, jung_biscuit
.
Tentu saja Jungkook merasa kesal saat itu karena di video tersebut dia benar-benar terlihat manja, dan tanpa pikir panjang, Jungkook mengunggah salah satu foto Kim Taehyung yang sedang menaiki kuda-kudaan ketika mereka berkencan di Lotte World.
.
Jung-biscuit: a BABY who wanna be a daddy, cutie kim_taemvan
.
Katakanlah Jungkook sudah terlalu lama bergaul dengan bungsu Kim. Bahasanya yang ambigu benar-benar masuk hingga ke alam bawah sadar, membuat dirinya ikut-ikutan menjadi master dalam hal penggunaan kalimat bermakna kelewat banyak. Berbagai komentar masuk ke tiga konten yang diunggah oleh tiga akun dalam waktu yang berdekatan.
.
Astaga, apa Jungkook putus dengan Taehyung sunbae
Apa barusan itu Jungkook baru saja dilamar?
Mereka putus! mereka putuuuuuusss!
Tapi sunbae baru saja melamar Jungkook. How to get a 'yes', katanya
Taehyung bilang ingin menjadi daddy!? apa mereka sudah melakukannya? Apa setelah membuat video yang tadi mereka langsung melakukannya?
Jadi mana yang benar? Putus? Menikah? Atau Jungkook hamil?
Astaga… hamil?
Putus saja, kumohon….
Apa dia akan berhenti kuliah dan menjadi ibu rumah tangga?
Congrats Jungkook dan Taehyung
.
Dan lain sebagainya…
Untuk nomor keempat hingga tujuh yang diduduki oleh Taehyung, semua itu karena dia malah dengan santai menanggapi dengan 'terima kasih', 'doakan saja', dan 'Jungkook sangat manis ketika pouting' dan 'aku suka suara Kookie ketika bernyanyi', dan masih banyak lagi frasa ambigu lainnya
Hari ini hari Jumat, itu artinya, hari Kamis kemarin, Jungkook sudah melewati kehidupan nerakanya selama satu hari. Banyak yang melayangkan tatapan menyelidik dan penasaran. Ini lebih parah ketimbang saat pertama kali dia turun dari mobil sunbae-nya dengan mengenakan sweatshirt NIRVANA. Tingkat ketegangannya berbeda dan dia benar-benar merasa nista.
Beberapa teman sekelasnya bahkan sempat menanyai secara langsung, dan yang menjawabnya adalah Park Bantet Jimin. Pemuda Jeon bahkan tidak tahu harus bersyukur atau mengumpat karena Jimin, dengan gentle-nya menyuruh mereka berhenti mengurusi orang lain, namun ada saja yang mengartikan bahwa itu adalah tanda bahwa Jimin sangat mencintai Jeon Jungkook.
Ya. Park Jimin sangat mencintai bocah kelinci itu, dalam artian menganggapnya adik kecil yang sangat berharga dan tak rela jika Jungkook beranjak dewasa, atau semacam itu…
Untung saja, pemegang akun min_swaggi turut serta dalam memberikan keterangan terpercaya. Bersama j_minswag, dia menjawab beberapa mention mengenai status pemuda Park dan Jungkook dengan mengatakan bahwa apa yang ditulis Jimin semata-mata hanya menyiratkan kebahagiaan karena liburan semester nanti, keduanya akan pulang ke Busan.
Sedangkan untuk masalah lamaran, menikah dan bahkan kehamilan, belum ada yang bisa memberikan titik terang karena sejak mem-posting foto Taehyung naik kuda-kudaan, Jungkook tidak mengunggah atau menyukai, apalagi berkomentar apapun melalui akunnya.
Jeon muda mencebikkan bibirnya, pipinya menggembung, dan tangannya dengan kasar memasukkan ponselnya ke dalam saku. Masih setengah jam sebelum kelas dimulai dan Jungkook sudah sangat bosan berdiri di depan cermin toilet. Sebenarnya Jungkook ingin keluar dan membeli sesuatu di kantin atau bergabung dengan Jimin dan Yoongi, yang dengan ajaib sudah berbaikan dan dengan sangat mencurigakan bertambah lengket sejak hari Kamis kemarin.
Jungkook mengamati pantulan bilik-bilik di belakangnya melalui cermin. Ia membuang nafas lega karena toilet di ujung lorong di bawah tangga tempatnya berada saat ini memang sepi. Sebenarnya selalu sepi karena terkenal dengan keangkerannya. Untung saja Jeon Jungkook adalah pemuda pemberani, jadi berada di toilet angker sendirian bukanlah masalah besar.
Nyatanya, nafas pemuda bersurai wine tercekat ketika sesosok bayangan berbalut kain putih nampak berdiri di belakangnya. Bulu kuduknya merinding karena sensasi tertiup angin yang datang entah dari mana. Hampir saja Jungkook berteriak heboh kalau saja ia tidak melihat jaket soft pink berbahan leather yang ditenteng di lengan pemuda itu, juga tas punggung warna hitam yang disampirkan di bahu kanannya.
"H-hyung…" gumamnya diam-diam merasa lega saat obsidian kembarnya menangkap wajah pemuda bersurai pirang itu.
"Sudah kuduga kau di sini." balas Taehyung tersenyum, sebelah tangannya menutup pintu yang digunakannya untuk masuk, yang juga merupakan sumber dari udara yang dirasakan pemuda Busan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jungkook membalik badannya ke arah sang kekasih yang langsung menghadiahinya dengan pelukan di pinggang. "Hyung?"
"Aku merindukan kekasihku." yang lebih tua terkekeh, mengecup kening Jungkook singkat, lalu menatap lekat kedua matanya. "Kau sendiri?"
Jungkook nampak ragu. Bukannya menjawab, dia malah mengalihkan pandangannya ke segala arah. Apapun selain Kim Taehyung.
"Apa kau merasa risih lagi?" Jungkook mengangguk perlahan. Sebenarnya saat masih baru menjadi kekasih Taehyung yang mengunggah banyak foto keduanya, dia juga bersembunyi di toilet ini, dan saat itu Taehyung harus menelfonnya sambil setengah menahan emosi karena sudah setengah jam dia menunggu Jungkook di kantin namun pemuda bersurai jamur tidak juga datang.
Tapi kali ini, isu yang membuat Jungkook semakin populer sepertinya membuat Jeon muda sampai tertekan.
"Maafkan aku. Seharusnya aku memberikan jawaban yang serius, bukan malah kalimat ambigu seperti itu." Taehyung meletakkan jeket dan tasnya di sudut jejeran wastafel, setelahnya ia mengangkat tubuh kekasihnya, mendudukkannya di pinggiran wastafel. Pemuda Kim kembali memeluk hoobae yang posisinya menjadi lebih tinggi darinya, menenggelamkan wajahnya di dada Jungkook. "Aku benar-benar minta maaf."
Membelai kepala Taehyung, Jungkook balas memeluk. "Aku hanya sedikit gugup ketika mereka memandangku begitu. Padahal kau sudah mengajariku agar aku tidak nervous, tapi aku payah."
Tae mendongak, ia tersenyum saat mendengar kekehan halus lolos dari belahan bibir namja yang nanti malam akan diperkenalkan kepada kedua orangtuanya.
"Menyesal menjadi kekasihku?"
Tangan Jungkook menarik kedua telinga sunbae kesayangannya, hanya bercanda. "Berhenti menanyakan itu atau kutarik antingmu sampai telingamu berdarah."
Taehyung terbahak, sebelah tangannya menarik tengkuk Jungkook, lalu ia mendongak untuk mencium gemas pipi kirinya. "Baiklah, Tuan Putri. Apa lagi yang harus hamba lakukan untuk Tuan Putri, hm?"
Jungkook menggembungkan pipinya, memukul ringan bahu sang kekasih.
Hari ini memang Jungkook yang meminta Taehyung mengenakan jaket leather berwarna soft pink dengan berbagai macam pin kecil dan, menurut Jungkook, lucu telah ia sematkan sendiri di bagian krah dan sekitarnya. Hoobae manis ingin sunbae-nya terlihat manis, kata yang tidak disukai Kim Taehyung jika itu tertuju padanya. Pemuda Jeon sungguh ingin kekasihnya mendapat pujian manis karena dia kesal kepada Taehyung yang tambah memberikan pernyataan ambigu kepada Jin hyung yang bertanya kepadanya melalui sambungan telfon.
Jungkook kesal, makanya dia berniat untuk menghukum kekasihnya dengan sedikit mendandaninya.
Dengan dedikasi tinggi untuk namja kesayangannya, Kim Taehyung menawarkan untuk memakai anting sebagai tambahan, tentu saja Jungkook menyetujui dengan senang hati. Maka Tae memasang sebuah piercing yang dipasang di tindikan paling bawah sebelah kanan, seolah menghubungkan dengan tindikan di atasnya, membuat yang terlihat dari depan adalah bulatan kecil sempurna yang terpasang di keduanya.
Sedangkan yang sebelah kiri, Taehyung memakaikan dua anting berbentuk lingkaran kecil untuk kedua tindik terbawahnya. Tersisalah masing-masing satu tindik di kedua telinganya yang sengaja dibiarkan begitu saja.
Tanpa sadar Jungkook tersenyum melihat betapa sang kekasih berusaha menghibur dengan menuruti kemauannya.
"Kau suka?"
Pemuda bersurai kemerahan mengangguk, masih memegangi telinga bungsu Kim.
Tangan Taehyung kembali menarik tengkuk sang kekasih, lalu diraupnya bibir menggemaskan Jungkook. Mengecup ringan berulang-ulang dengan pemuda Jeon yang membalasnya sambil menahan seyuman. Kedua lengannya memeluk leher Taehyung sementara tangan kiri yang lebih tua menarik pinggang Jungkook agar tubuh mereka semakin menempel.
Tae melumat bibir bawah Jungkook yang mulai memejamkan mata, dihisapnya lembut sedangkan Jungkook menjulurkan lidahnya, menjilat nakal bibir atas Taehyung. Tanpa disadarinya, kedua kaki Jeon muda bertaut, mengunci tubuh sang kekasih, membuat keduanya semakin erat.
Hisapan pemuda Kim di bibir bawah kekasihnya terasa semakin kuat. Ia bahkan mengulum dan memainkan lidahnya seolah bibir sewarna cherry itu adalah permen yang sangat nikmat. Tangannya semakin menekan tengkuk yang lebih muda, ia lalu memiringkan wajahnya, membuat ciuman mereka semakin dalam.
Jungkook menahan lenguhannya saat senior nakalnya menghisap kuat lidahnya, mengulum kasar dan membuat lidah Jungkook menyentuh langit-langit mulut Taehyung, menggesek giginya yang rapi dan menimbulkan sensasi menyenangkan baginya. Tae menyeringai, ia mendorong lidahnya sendiri masuk ke rongga mulut Jungkook yang langsung menghisapnya kuat. Lidah mereka saling bertaut, bibir saling menghisap. Jungkook bahkan terengah dan hampir tersedak karena terlalu rakus, maka Taehyung perlahan menarik dirinya, mengubah hisapannya menjadi kecupan-kecupan lembut di bibir Jungkook.
"Mmn.. hyungie, hentikan."
Taehyung terkekeh, menjauhkan tubuhnya dari Jungkook yang juga sudah melepaskan tautan kakinya. "Hoo… tidak mau poppo?"
Jungkook menaikkan satu alisnya, Kim muda menyeringai. "Maunya french kiss?"
Dan wajah pemuda Jeon langsung memerah sempurna, membuat Taehyung terbahak dan dihadiahi pukulan di pundaknya.
"Kau manis." gumam Taehyung. Ia membantu kekasihnya turun dari wastafel, lalu menyambar jaket leather soft pink dan memakainya. Jungkook cemberut.
"Kenapa, Kookie-ah?"
Masih memasang wajah gambek, sang junior menarik-narik ujung jaket Taehyung, melirik celana panjang yang digulung, juga sepatu putih yang dipakai kekasihnya. "Kenapa hyung sama sekali tidak manis? Kenapa malah tampan? Ini namanya bukan hukuman…"
Tae terkekeh, tangannya dengan jahil memainkan kedua pipi Jungkook. "Makanya kau harus selalu ingat kata-kataku. Kubilang kau yang paling manis dan menggemaskan, dan itulah kenyataannya."
Jungkook tersipu, bibirnya mengulum senyum.
"Untuk masalah ini juga." Taehyung menempelkan kening mereka sambil memeluk pinggang Jungkook, memejamkan mata. "Kau tidak akan bisa berpura-pura tidak menyadari tatapan dan pertanyaan yang dilontarkan kepadamu, aku tahu itu karena aku juga mengalaminya. Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"
Jungkook menggeleng, masih dengan kening saling menyatu dan kedua lengannya yang memeluk pundak Taehyung.
"Kau ikuti saja permainan mereka. Melawan hanya akan membuatmu pusing karena apapun yang kau katakan, mereka tetap akan mengubahnya menjadi kalimat yang ingin mereka dengar. Manusia itu mendengar apa yang ingin mereka dengar, melihat apa yang ingin mereka lihat. Kebanyakan seperti itu, termasuk aku." Taehyung terkekeh. Ia sadar betul bagaimana Jeon Jungkook terlihat sebagai namja paling manis sedunia baginya, padahal Kim Taehyung belum yakin bahwa dirinya sudah pernah bertemu dengan sepersepuluh dari populasi kaum adam di bumi. Tapi bungsu Kim itu sangat yakin bahwa Jungkook-lah yang paling manis. Kalau untuk kakaknya, pastilah Kim Seokjin yang nomor satu. Manusia itu makhluk super subyektif.
Dan Jungkook menyadarinya, karena dia juga sama.
"Tersenyum saja saat mereka bertanya, anggap ucapan baik mereka sebagai doa." taehyung menjauhkan wajahnya, membuka matanya, menatap teduh kedua black pearl di netra Jungkook. "Nantinya aku akan melakukan seperti apa yang mereka katakan, melamarmu."
Jungkook tersipu, rona kemerahan muncul di pipinya.
"Menikah denganmu. Mengubah namamu menjadi Kim Jungkook."
Kali ini ia tersenyum lebar, menunjukkan gigi kelincinya malu-malu.
"Lalu… kau ingin memiliki baby, hm?"
Jungkook menggigit bibir bawahnya, mengangguk sambil menahan senyum dengan pipi yang semakin bersemu.
"Jadi nanti kau akan hamil, lalu setelah baby kita lahir dan sudah bisa berjalan, kita akan mengajaknya naik komedi putar." Taehyung terkekeh, mencium kening Jungkook yang entah mengapa merasa begitu bahagia ketika Taehyung mengungkapkan keinginannya. "Tapi sekarang kita lakukan secara perlahan. Aku akan memperkenalkanmu kepada orangtuaku."
Jungkook mengangguk. Entahlah, mendengar apa yang ingin dilakukan Taehyung bersama dirinya di masa depan membuat rasa gugup yang sempat menyelimuti Jungkook hilang begitu saja.
Dia siap bertemu dengan Tuan dan Nyonya Kim.
"Kuantarkan ke kelas."
"Terima kasih, hyung. Kau yang terbaik." dipeluknya tubuh Taehyung erat untuk beberapa saat sebelum mereka keluar dari toilet.
Dan pemuda Jeon benar-benar melakukan apa yang disarankan Kim Taehyung. Tersenyum.
.
.
Jam menunjukkan pukul setengah enam sore dan Jeon Jungkook masih berdiri di depan almari yang terbuka lebar. Hampir seluruh isinya dikeluarkan, terutama baju-baju yang dinilai sopan namun tidak terlalu formal. Kalau saja ada yang melihat keadaan kamar Jungkook saat ini, pasti mereka akan mengira bahwa apartemen pemuda Jeon baru saja kemasukan maling.
Jungkook mengeram, tangannya mengacak rambut yang baru saja dikeringkan. "Apa yang harus kupakai?"
Tangannya mengangkat sweater rajut berpola garis merah-hitam. Kesukaan Jungkook, tapi Taehyung tidak menyukainya. Katanya terlalu terbuka di beberapa bagian. Padahal yang dibilang terbuka oleh senior Kim adalah bagian favorit Jungkook, bagian sobek atau lubang seperti yang diakibatkan karena terlalu lama direndam dalam air sabun sehingga kain menjadi rusak. Itu keren. Tapi apa gunanya keren kalau Taetae hyung tidak suka?
Bungsu Kim saja melarangnya untuk memakai itu, jadi Jungkook jelas tidak akan menunjukkannya kepada Tuan dan Nyonya Kim.
Ia lalu beralih pada pakaian tanpa kancing dengan kain garis-garis hitam-putih, model sailor. Jungkook langsung melemparnya jauh-jauh. Terlalu bocah.
Kemeja putih polos… no. Terlalu formal dan terkesan kaku.
long-sleeves hitam dengan tulisan DONALD di bagian dada… keren dan sepertinya cocok. Tapi itu milik Taetae hyung yang ditinggalkan ketika menginap, jadi Jungkook tidak akan memakainya karena akan ketahuan.
Kaos oblong polos… Jungkook punya banyak, warnanya pun beragam. Tapi itu tidak akan sopan.
Beberapa pakaian lainnya terasa sangat tidak pas karena sungguh, jauh di dalam hatinya Jungkook hanya merasa kurang percaya diri. Bahkan ia sudah mengenakan gelang lucky charm pemberian Taehyung waktu itu, tapi entah mengapa rasanya kali ini tidak mempan.
"Uhh.. menyebalkan! Harusnya aku sering mengunjungi Hoseok hyung." Jungkook menghentikan tangannya yang akan kembali mengacak rambutnya kembali ketika mendengar ponselnya berbunyi.
Taehyung menghubunginya.
"Kookie, aku di depan apartemenmu. Kau sudah siap?"
Jungkook mencebikkan bibirnya, sepertinya dia tidak akan bisa bertemu dengan orangtua Taehyung malam ini. "Hyung pulang saja."
"Kau baik-baik saja? Bunny, apa kau kurang sehat? Aku akan naik, kau tunggulah."
Taehyung terdengar panik, Jungkook tahu itu. Mungkin karena suaranya yang bergetar.
"Sayang, kau baik-baik saja? Tolong katakan sesuatu."
Jungkook menggeleng, mengabaikan kenyataan bahwa Tae tidak akan bisa mendengarnya. "Kubilang hyung pulang saja. Aku tidak bisa pergi."
"Iya, nanti hyung akan pulang, tapi setelah bertemu denganmu." nafas Taehyung terdengar tak beraturan. Ia terengah, sepertinya karena habis berlari. "Aku di depan pintu."
"Hyung pulang saja, kumohon." Jungkook mulai merengek, dan sejujurnya Taehyung harus menahan kekesalan sekaligus kekhawatirannya.
"Tidak sebelum aku bertemu denganmu."
Jungkook tidak menjawab dan Kim Taehyung harus ekstra sabar agar dia tidak kelepasan dan membentaknya. Suara kelinci manisnya terdengar kacau melalui sambungan telfon, dibentak sedikit saja pasti akan menangis.
"Sayang, kumohon buka pintunya. Kalau kau masih tidak mau, aku akan mengunjungi kamar pemilik apartemen dan meminta kunci cadangan. Atau, kau malah mau aku mendobraknya?"
"Uhh…" Jungkook berfikir sejenak, Taetae hyung-nya terdengar serius dan dia tidak mau membuat pemilik apartemen ikut khawatir, apalagi opsi terakhir dimana kekasihnya akan menghancurkan pintu, dan dia harus menggantinya. Itu sangat mengerikan. "Tu -tunggu sebentar."
Taehyung terkekeh puas, dan dengan itu Jungkook memutus sambungan telfonnya, lalu berjalan keluar kamar menuju pintu depan apartemennya.
"Hyung." panggil Jungkook tepat di depan pintu, Taehyung ada di luar dan Jeon muda masih berharap kekasihnya mau langsung pulang tanpa mereka harus bertemu.
"Iya? Kookie, cepat buka pintunya." Suara Taehyung terdengar tidak sabar.
"Aku tidak bisa pergi."
Taehyung berdecak kesal, bukan karena kekasihnya berniat membatalkan janjinya, tapi karena lagi-lagi dia bersikap keras kepala dengan tidak mau membukakan pintu.
"Hitungan ketiga, kutendang pintunya. Satu… dua…"
Belum sempat pemuda Kim melanjutkan, Jungkook sudah buru-buru membuka pintunya. Membuat Kim Taehyung yang melihat keadaan Jungkook langsung melotot. Seketika ia mendorong namja bersurai red wine dan menutup pintu begitu ia juga sudah masuk ke dalam.
"Apa yang kau lakukan, hah?" suara Taehyung naik, alisnya berkerut. Dengan cekatan ia melepas hoodie hitam yang ia kenakan untuk menutup tubuh bagian atas Jungkook yang polos. Pemuda itu hanya memakai celana jeans warna hitam tanpa menggunakan atasan, dengan gelang pemberian Taehyung yang tidak pernah dilepasnya. Tentu saja Kim Taehyung khawatir kalau-kalau ada yang melihat tubuh mulus kekasihnya.
"Aku tidak bisa pergi." Jungkook menunduk. Dengan sangat berhati-hati, Tae menggandeng sang kekasih untuk masuk ke kamar, tentunya setelah pemuda Kim melepas sepatu.
"Jangan berwajah seperti itu, aku jadi khawatir."
Jeon muda menggelengkan kepalanya. Mereka sampai di kamar Jungkook, dan begitu melihat banyak pakaian berserakan di lantai, Kim Taehyung langsung tahu apa yang terjadi.
Kekasihnya bingung dengan apa yang harus dipakainya untuk bertemu sang calon mertua karena ingin memberikan kesan pertama yang menyenangkan. Jeon Jungkook benar-benar menggemaskan.
Taehyung menarik dagu Jungkook, mengecup bibirnya sekilas. "Kau percaya padaku?"
Jungkook mengangguk, memberikan senyumnya yang terlihat sangat manis.
"Eomma dan Jin hyung akan sangat sedih kalau kau tidak jadi datang hanya karena masalah seperti ini. Mereka sudah memasak makanan untukmu." tangan kanan Tae membelai lembut pipi kiri Jungkook. "Kau duduk saja, akan kupilihkan baju untukmu."
Dan seperti mantra, Jungkook menurut begitu saja. Taehyung dengan sabar memungut beberapa pakaian di lantai, mengamatinya. Ia bahkan menengok ke dalam almari untuk memenuhi janjinya memilihkan baju yang cocok untuk sang kekasih kenakan malam ini.
"Kau tidak mau pakai kaos? Aku saja pakai kaos." gumam bungsu Kim basa-basi. Ia masih memunggungi Jungkook yang mengamati kaos hitam lengan pendek yang melekat pas di tubuh Taehyung sambil menggeleng dan menggoyangkan kakinya sendiri.
"Nanti tidak sopan. Kalau Taetae hyung kan tuan rumah."
Taehyung terkekeh. Kekasihnya benar-benar menggemaskan. Sekilas Tae melirik Jungkook yang memakai celana ketat warna hitam, sepertinya tema malam ini memang serba hitam.
"Pakai ini, masukkan ke celanamu, jangan lupa gunakan belt." Taehyung bergumam, menyerahkan sepotong kaos oblong berwarna hitam, Jungkook mengeryit.
"Aku tidak mau pakai itu, terlalu ketat."
Bungsu Kim menarik pipi pemuda Jeon gemas, kelinci manisnya memang lebih suka memakai kaos kebesaran yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan ketimbang baju yang terlihat pas di tubuh montoknya. Ia lalu mengibaskan sepotong kain lain yang ada di tangannya.
Jungkook yang mengerti maksudnya langsung berdiri membelakangi sang kekasih, memakai kaos lengan pendek yang dipilihkan Tae, lalu sedikit menurunkan jeans-nya supaya bisa memasukkan kaosnya ke dalam celana.
Kalau boleh jujur, Taehyung mati-matian agar tidak lepas kendali dan meremas bokong sexy Jungkook yang mengintip malu-malu dibalik briefs merahnya saat Jeon muda menurunkan celana. Begitu montok dan menggoda.
"Sudah." Jungkook tersenyum lebar membuyarkan lamunan Taehyung. Kedua mata sang senior langsung mengerjab, lalu memperhatikan kekasihnya yang terlihat sangat sexy dengan celana ketat dan kaos ketat. Minta diterkam. Jangan lupakan belt yang melingkar di pinggangnya.
Taehyung berdehem, lalu menyerahkan sepotong kemeja lengan pendek berwarna hitam, gradasinya sedikit berbeda dengan kaos yang sudah dipakai Jungkook. Kaosnya terlihat lebih pekat. "Yang ini tidak usah dikancingkan."
Jungkook lagi-lagi mengangguk dan melakukan yang hyung kesayangannya katakan, dengan wajah penurut yang lucu.
Setelah selesai, Taehyung mengamati hasil karyanya, tersenyum puas. Lengan kemeja pemuda Jeon yang hampir sampai siku, serta kemeja yang panjangnya menutupi bokong penuh sang kekasih membuat Jungkook terlihat seperti memakai mini dress jika ditatap dari belakang, dan tentu saja ini hanya pikiran nista seorang Kim Taehyung.
Setelah mendapatkan anggukan dari Taehyung, Jungkook bergegas mengenakan make up tipis karena Taehyung menyarankan agar ia menggoreskan eyeliner di matanya. Eomma Kim sangat suka eyeliner.
"Bagaimana?" tanya Jungkook menghampiri kekasihnya setelah selesai mengaplikasikan riasan wajahnya.
Taehyung mengamati wajah Jungkook yang terlihat sempurna. Kulit selembut susunya terlihat pas dipadukan dengan warna shadow pilihannya yang menonjolkan liner tipis yang membalut bagian atas mata bulatya. Kim Taehyung tersenyum puas, lalu berkata, "Ada yang kurang. Tutup matamu."
Yang lebih muda mengeryit heran, namun segera menurut saat namja pirang dengan iseng melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lebih sepuluh menit. Jungkook mengikuti arah pandangnya.
Sejurus kemudian, Jungkook merasakan sensasi dingin menyentuh kulitnya, tepatnya di bagian telinga kanan. Ia sempat mengaduh, bersamaan dengan Taehyung yang berdecih karena kesulitan melakukan kegiatannya. Hal yang sama terjadi saat sensasi dingin menyentuh telinga kiri.
"Sempurna." gumam Taehyung mengecup pipi Jungkook, membuat penyandang marga Jeon membuka matanya lalu buru-buru bergerak menutup almarinya, menatap pantulan dirinya di cermin ukuran besar yang ada di pintu almari. Bibirnya bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu, namun berakhir dengan gumaman tanpa suara saat kedua pupilnya menangkap lingkaran sempurna yang bergelantung di masing-masing tindikan telinganya.
"Benda pertama yang kubeli menggunakan uangku sendiri." suara rendah Tehyung berbisik di telinga kanan Jungkook, bersamaan dengan sepasang lengan yang melingkar di pinggangnya. Setelahnya, Taehyung mengecup leher pemuda Jeon.
Namja bersurai kemerahan tersenyum lebar, menyuarakan tertawa lirih yang terdengar sangat merdu di telinga Taehyung.
"Jika sudah saatnya nanti, akan ada cincin perak yang menghiasi jarimu juga."
Jungkook berbalik, ia lalu memeluk erat Taehyung yang langsung tertawa senang. Ia hanya bisa memejamkan mata sambil terkekeh ketika kekasih manisnya mencium kedua pipinya berulang-ulang.
"Baby… kita akan terlambat." gumamnya sukses menghentikan aksi Jungkook yang langsung heboh mencari dompet dan smartphone-nya. Taehyung kembali memakai hoodie, dan setelahnya mereka berjalan keluar.
Jungkook sempat terkejut ketika menyadari sepatu yang sedang dipakai Taehyung sangat mirip dengan miliknya, bahkan persis. "Bog Sock?"
Taehyung mendongak, lalu mengangguk sambil menunjuk sepatu hitam dengan aksen putih miliknya. Jungkook menoleh ke rak sepatunya, menggeser salah satu pintunya, lalu mengeluarkan sepatu yang sama.
"Whoaa.. kau juga punya?" senior Kim menunjukkan senyum kotaknya lalu tertawa, sedangkan Jungkook yang sekali lagi menyadari bahwa mereka memiliki benda yang sama tanpa disengaja membuatnya merasa bahagia.
Kalau boleh jujur, Jungkook jarang memperhatikan pakaian yang dikenakan kekasihnya, apalagi sepatu. Karena mata kecoklatan Taehyung memancarkan pusat semesta seorang Jeon Jungkook. Dan onyx kembarnya seolah terhinotis untuk selalu tenggelam di dalamnya.
Mereka lalu berangkat dengan Taehyung yang menceritakan tentang eomma dan appa-nya. Dia bilang eomma-nya sedikit moody, tapi merupakan orang yang baik dan penyayang. Tipe yang suka bicara ketika makan. Taehyung menyuruh Jungkook untuk selalu melakukan apa yang ia katakan selama itu tidak memberatkan. Sementara appa-nya adalah sok cool, terlihat tenang namnun sekali topengnya retak, dia tidak akan berhenti tertawa. Sebenarnya tipe yang tidak suka bicara ketika makan, tapi juga merupakan suami yang takut istri. Jadi suasana makan pasti ramai.
Jungkook sempat bertanya apakah tidak apa-apa dia berkunjung dengan tangan kosong, dan Tae malah menegaskan bahwa eomma-nya tidak akan suka jika ada yang datang membawakan macam-macam. Ia bisa bernafas lega.
Sesampainya di kediaman Kim, gugup kembali menyapa Jungkook, namun Taehyung menggenggam tangannya, mencium dalam pelipisnya selama beberapa detik sebelum mereka masuk ke rumah sehingga rasa percaya diri kembali dalam genggaman pemuda Jeon.
"Aku pulang." ucap Taehyung dengan nada ceria menyapa keempat sosok yang duduk di ruang keluarga sambil ngobrol. Seokjin yang mengenakan sweater rajut berbahan wool warna navy tengah duduk sambil memangku setoples penuh cookies, Namjoon yang duduk di sebelahnya terlihat melas ketika beberapa kali ia memperingatkan istrinya agar tidak terlalu banyak makan, namun malah dihadiahi cubitan di pahanya yang hanya terlindung celana pendek abu-abu. Long sleeves hitam bertuliskan DONALD-nya pun ditarik berkali-kali oleh sang istri karena kesal. Jungkook benar-benar bersyukur karena dia tidak nekat mengenakan kaos lengan panjang milik kekasihnya karena sungguh, itu sama persis dengan yang dikenakan dosennya.
Di sofa lainnya dua orang; satu dengan perawakan mungil, memakai eyeliner tebal dengan rambut sewarna madu, mengenakan sweater biru muda dengan pola kelinci-kelinci putih. Pasti itu eomma Taehyung. Ngomong-ngomong bungsu Kim pernah mengenakan sweater yang sama ketika ke kampus. Seorang namja lain dengan perawakan gagah tinggi duduk menggelendot si mungil. Ia memejamkan mata seolah sedang tidur. Namjoon sampai harus melempar sebuah cookie coklat hingga mengenai kepala bersurai gelap yang disisir rapi ke belakang hingga benda manis itu jatuh mengotori kaos tanpa lengan dan jogger pants-nya. Pria itu berdecak kesal lalu mengeliat.
Mereka menyambut kedatangan Taehyung. Jin bahkan langsung meletakkan toplesnya dan menghamburkan diri memeluk Jungkook.
"Jungkook… hyung merindukanmu." gumamnya dengan nada ceria sambil menguselkan pipinya ke pipi Jungkook.
"Astaga, hyung, kau mulai lagi." protes Taehyung. Tangannya melepaskan lengan sang kakak ipar dari tubuh kekasihnya. "Biarkan kekasihku memberi salam."
Pipi Jungkook merona, disebut sebagai kekasihku oleh Taehyung di depan Tuan dan Nyonya Kim benar-benar membuatnya merasa dibutuhkan. Jungkook menghadap ke tiga orang yang masih duduk di sofa, ia membungkukkan badannya sopan, lalu tersenyum, sepasang bunny teeth-nya mengintip. "Selamat malam."
Namjoon mengangguk, membalas senyuman mahasiswa yang, mungkin, tak lama lagi akan berstatus sebagai adik iparnya.
Namja mungil ber-sweater pola kelinci berdiri. Ia sama sekali tidak tersenyum. Perlahan, ia berjalan mendekati Jungkook, lalu mengamati penampilan pemuda yang disebut-sebut sebagai kekasih bungsunya.
"Jadi… namamu?" gumamnya membuat Jungkook hampir tersedak.
"Eomma. Jangan melakukan itu."
"Ssttt!" mata sipit berbalut eyeliner itu mendelik, melayangkan tatapan membunuh. Ujung telunjuknya menyentuh bibir putranya, memberi peringatan agar namja bersurai pirang menutup mulutnya. "Katamu dia sangat manis, kau juga bilang kalau Irene tidak ada apa-apanya dibandingkan dia, aku jadi penasaran."
Jantung Jungkook berdetak cepat, dadanya terasa nyeri mendengar dirinya dibandingkan dengan seseorang yang pernah disukai kekasihnya. Apalagi itu dilakukan oleh yang disebut sebagai calon mertua.
Tangan Taehyung meremat pinggang Jungkook, yang entah bagaimana diartikan oleh Jeon muda sebagai penyemangat. Punggungnya juga mendapat tepukan menenangkan, mugkin itu dari Seokjin yang masih berdiri di sampingnya.
Maka Jeon Jungkook diam-diam mengambil nafas dalam, lalu menunjukkan senyuman terbaiknya. "Namaku Jeon Jungkook."
"Kim Baekhyun." gumamnya singkat.
Jungkook menundukkan kepalanya. "Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Kim."
Taehyung tidak suka ini, begitu juga dengan Namjoon. Jungkook berbicara terlalu formal, dan mendengarnya seolah menunjukkan betapa jauhnya mereka.
"Bagaimana kau bisa mengenal Tae?"
Langit sekelam malam di mata Jungkook melirik seniornya, lalu kembali menatap Nyonya Kim tanpa melunturkan senyum tulusnya. "Taetae hyung adalah seniorku di kampus. Dulu dia membantuku ketika masa orientasi. Setelahnya kami hanya berinteraksi melalui media sosial, tapi beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengannya di dekat toko kue, setelahnya kami mulai ngobrol."
Baekhyun mengangguk beberapa kali. Taehyung kembali mengajukan protes, meminta agar kekasihnya dibiarkan duduk terlebih dahulu, namun sang eomma malah mengancam akan memberhentikan uang kuliahnya kalau si bungsu masih cerewet.
"Jadi kau murid Namjoon?"
Jungkook mengangguk sopan, sebenarnya kegugupannya sudah berada di titik tertinggi.
Menyedekapkan tangan di depan dada, priaparuh baya yang masih terlihat sangat muda itu menoleh ke arah sulungnya. "Bagaimana prestasinya di kampus?"
"Aku tidak pernah memberi poin seratus, tetapi nilai Jungkook selalu berada di atas angka delapan puluh, selalu masuk tiga besar di kelasku. Pernah sekali dia mendapat tujuh puluh di semester lalu karena aku meminta analisa tiga puisi dan dia hanya mengumpulkan dua."
"Jadi, tipe yang pandai tapi malas mengerjakan tugas?" bibir Baekhyun menyunggingkan senyum mengejek. Jungkook langsung gugup dan menggeleng cepat, setengah tidak terima.
Taehyung berdecak kesal, tangannya kini mengelus punggung kekasihnya.
"Aku tidak berangkat karena sakit saat dosen Kim memberikan tugas, jadi temanku memberitahukan melalui pesan singkat, tapi dia salah ketik angka 3 dengan 2. Aku tidak bisa menyalahkannya."
"Namjoon?" Baekhyun mengkonfirmasi.
"Mereka datang menemuiku, bahkan menunjukkan isi pesannya. Tetapi aku harus meminta maaf, terutama kepada Jungkook karena aku tidak bisa mengubah nilainya begitu saja."
"Kupikir dia malas."
"Eomma." potong Taehyung cepat. Wajahnya terlihat menahan amarah. "Berhenti memperlakukan Jungkook seperti itu."
"Tae, kubilang diam kan? Apa aku mengajarimu untuk menyela ketika orang tuamu bicara?" Baekhyun menaikkan suaranya. Taehyung bersiap membuka mulutnya, namun Jungkook sudah terlebih dahulu meremat lengannya.
"Hyung… tidak apa-apa." gumamnya sambil tersenyum ke arah sang kekasih. Mau tak mau, bungsu Kim kembali diam, kini dengan tangan kanan yang bertautan dengan tangan Jungkook.
"Jadi, menurutmu Taehyung itu makhluk seperti apa?"
"Alien." Jawab Jungkook cepat dan langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Bahkan ia tanpa sadar menarik tangan sang kekasih juga. "Ma -maksudku, Taetae hyung itu unik."
Manik kembar Jungkook bisa melihat Namjoon yang menahan senyumnya, sementara pria yang disinyalir sebagai ayah Taehyung sudah memegangi perutnya dengan tawa tanpa suara. Seokjin sendiri memelototi sang suami yang langsung kembali memasang wajah datarnya. Taehyung… kelihatannya lebih peduli dengan perlakuan ibunya kepada sang kekasih daripada panggilan mesra dari pemuda yang dua tahun lebih muda darinya.
"Jelaskan." ucap Baekhyun cepat masih dengan wajah sepatnya. Sepertinya Jeon Jungkook benar-benar salah memilih kata.
"Umm.. hyung itu berbeda. Dia selalu melakukan sesuatu yang bisa membuatku tersenyum setiap kali aku merasa sedih, selalu memberiku semangat. Tapi terkadang menyebalkan dan membuatku kesal." tanpa sadar, senyum di bibir Jungkook mengembang. Ia membayangkan apa-apa saja yang pernah mereka lakukan bersama, dan itu sukses membuatnya semakin jatuh cinta. Ia memeluk sebelah lengan Taehyung. "Tapi apapun yang dilakukannya, aku tahu itu semua untukku. Aku benar-benar beruntung karena hyung memilih aku untuk menjadi kekasihnya."
"Kau mencintai putraku?"
Jungkook mengangguk.
"Tae, kau yakin dengan pilihanmu?"
Taehyung pun mengangguk penuh harap.
"Chanyeol, kemarilah. Kurasa kita harus menegaskan sesuatu kepada putra kita yang bandel."
Dan pria berbalut kaos buntung berdiri, mendekati istrinya, memeluknya dari samping. "Taehyung, kau tahu ibumu seperti apa. Jangan main api dengannya."
Kalimat pertama yang keluar dari bibir Tuan Kim seolah menghentikan nafas Jungkook. Dia melirik Taehyung yang melayangkan tatapan datarnya ke sang ayah.
"Kim Taehyung. Mulai detik ini, berhenti memanggilku eomma, dan suamiku appa."
Ucapan ibunda Taehyung seolah menjadi sembilu yang mencabik hati Jungkook. Matanya memanas saat merasakan lengan kekasihnya menegang sesaat.
"Hyung…" cicitnya lirih. Taehyung langsung mendekap pemuda Jeon dengan sebelah tangannya.
"Kau tahu kesalahamu?"
Taehyung diam, sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan appa-nya.
Tidak. Mencintai Jeon Jungkook bukanlah sebuah kesalahan.
Dan mata Jungkook mulai berkaca-kaca, ia bahkan sudah menyembunyikan wajahnya di dada kekasihnya, tidak peduli dengan fakta bahwa mereka tidak hanya berdua.
"Panggil aku Mommy." gumam Baekhyun sukses membuat Jungkook menolehkan wajahnya menatap Nyonya Kim yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Dan aku Daddy." imbuh Chanyeol.
Jungkook mengerjabkan matanya beberapa kali, memastikan apa yang barusan di dengarnya.
"Astaga, Kim Taehyung, you didn't get what Mom said?"
Bungsu Kim masih memasang ekspresi blank-nya, lalu Baekhyun dengan sangat terpaksa menarik hidungnya agar putranya itu tersadar.
"Jungkook benar, putraku seorang alien."
Namjoon terbahak di sofanya, diikuti dengan Seokjin yang berjalan ke arah Namjoon, memeluknya dari samping, lalu tertawa bersamanya. Setelahnya Chanyeol terpingkal sampai-sampai ia memukul-mukul pahanya sendiri saat tertawa.
"Mo -Mommy." gumam Taehyung mengerjabkan matanya. Setelahnya ia melirik Jungkook yang mendongak, menatapnya juga dengan posisi masih setengah menyembunyikan wajah di dadanya.
"Bagus." Baekhyun mengangguk puas. Tangan kanannya terulur mengusap keala Jungkook yang langsung menoleh ke arahnya. "Dan kau, kelinci manis, panggil aku Mommy juga."
Jungkook masih dalam mode bingungnya, namun Baekhyun dengan sabar mengusap kepala dan tersenyum ke arahnya hingga akhirnya bibir Jungkook bergerak.
"Mommy.. Baekhyun." gumamnya ragu sebelum mengulangi sekali lagi. "Mommy Baekhyun."
"Nah, aku senang kau mengucapkannya dengan benar." suara Baekhyun terdengar riang. "Sekarang lebih baik kita makan malam dulu karena aku sudah sangat lapar. Seokjin, kau harus makan yang banyak. Dan kau, Kim Taehyung… panggil aku Mommy, bukan eomma. Kalau tidak, kau akan mendapatkan yang lebih parah dari ini."
Baekhyun berjalan dengan menggandeng menantunya yang masih senyum-senyum sambil sesekali melirik ke arah Jungkook seolah mengatakan maaf, diikuti dengan Namjoon yang menggerutu sambil membopong setoples cookies milik istrinya, dan Tuan Kim yang masih belum bisa berhenti tertawa.
Sementara lutut Jungkook terasa lemas begitu keempat yang lebih tua sudah tidak terlihat. Taehyung bahkan harus menegakkan tubuhnya agar mereka beruda tidak tersungkur.
"Astaga, hyung…" Jungkook memegangi dadanya, tempat dimana jantungnya masih berpacu menggila.
"Aku sangat ingin mengumpat." keluh Taehyung. Ia memeluk tubuh Jungkook erat seolah seseorang akan mengambil kelinci manis itu darinya.
"I thought I ruined your world." Jungkook berbisik, membalas pelukan Taehyung dan menenggelamkan wajahnya di dada sang kekasih, menyamankan diri. Bayangan mengenai bungsu Kim yang dibuang dari keluarganya saat Baekhyun menyuruhnya berhenti memanggil eomma benar-benar mengerikan.
"No, Baby.. it's fine. Jangan pikirkan itu lagi."
Jungkook menggeleng, masih belum bisa menghilangkan bayangan itu. Dan saat rematan di punggungnya menguat, Taehyung tahu kekasihnya mulai menangis, entah karena pikiran negatifnya atau karena merasa bahagia setelah mendengarkan kalimat ibunya yang menyiratkan bahwa orangtua Tae merestui hubungan mereka.
"Kookie, dengarkan hyung, will you?"
Jungkook mengangguk.
"Even when the whole universe falls apart, I'll be fine as long as you're beside me because you're my one and only world."
Jungkook mengangguk, mengeratkan pelukannya, dan kekehan pelan lolos dari bibirnya. "I should be the one saying 'you're my world', hyung."
Taehyung tersenyum tulus, menjauhkan tubuh mereka berdua, lalu mengecup kedua mata pemuda Jeon yang memerah secara bergantian. "Perfect. We are the world for each other."
Jungkook mengangguk, lalu mengecup sekilas bibir pemuda pirang yang memiliki separuh jiwanya.
Mereka masih saling memberikan kecupan ringan selama beberapa saat tanpa menyadari keempat pasang mata yang mengintip dari balik tembok dengan berbagai ekspresi?
"Apa eyeliner Jungkook waterproof?"
"Ternyata mahasiswaku banyak yang liar."
"Tentu saja. Lihat dosennya seperti apa."
"Aigoo.. mereka manis sekali. Kalian lihat sepatu yang mereka pakai?"
"Kedua putraku memang pandai memilih menantu yang manis."
"Omo.. mereka berciuman panas sekali."
"Astaga… sejak kapan Jungkook-ku yang polos jadi begitu?"
.
Third Lesson: "We are the world for each other." (END)
.
Haihai chap ini kepanjangan ya? Ahahahah Tiger khilaf…
Anyway ada Tiga Hal yang akan Tiger bahas kali ini.
Satu. Tempat Tinggal. Jadi Taehyung tinggal di apartemen elit yang lumayan dekat dengan kampus, sedangkan Namjoon dan Seokjin tinggal di rumah orangtua Namjoon dan Taehyung (yang juga tinggal di sana, itupun kalau sedang berada di Korea). Taehyung ini anak tajir, Mommy dan Daddy-nya punya usaha yang menjanjikan. Nanti ada saatnya… Sementara Jungkook tinggal di apartemen sederhana yang lebih dekat dari kampus (jika dibandingkan dengan apartemen Tae, jadi setiap mau ke kampus, si alien pasti lewat) makanya sebelum jadian sama Tae, Kookie sering berangkat jalan kaki atau numpang mobilnya Jimin (apartemennya berjarak satu blok dari tempat Kookie)
Dua. Tinggi Tae berapa? Nah sejujurnya Tiger sempat browsing untuk mencari tahu dan hasilnya berbeda-beda. Beda sumber beda tinggi, dan Tiger putuskan di Sweet Lie dan Sweet Lesson tinggi Taehyung 179. Karena itu yang pertama nongol ketika Tiger cari melalui chrome. dan ada alasan lain juga yang bisa bikin Baekhyun ngambek.
Tiga. Kok END? Nah, di sini akan ada END di akhir setiap chapter karena Tiger memprogram setiap chapter seperti sebuah kejadian yang bisa membuat Taehyung dan Jungkook saling belajar. Kata END seperti menyiratkan 'selalu ada pelajaran yang bisa kau ambil setiap kau akan menutup matamu dan pergi tidur' atau 'ini adalah pelajaran yang bisa kau ambil hari ini'.
Daan… terima kasih banyak atas dukungannya. Jangan lupa fav, follow dan tentunya review… I love Taehyung *ditampol JK*
.
Akhirnya, Review please
Btw, Tiger habis ganti ava, ahahah
Itu Tae mirip banget sama Baekhyun
