"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.
Genre: Romance, Comedy (?)
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin | Park Jimin x Min Yoongi | Jung Hoseok (Jomblo Sejati) | PCY as Kim Chanyeol x BBH as Kim Baekhyun
Rated: T
Warning: Ambigu, typo tak tertahankan
.
.
Part IV: Something to Complain
Ruang makan keluarga Kim terlihat lebih penuh dari biasanya hanya dengan kehadiran seorang Jeon Jungkook. Kim Chanyeol, ayah Taehyung duduk di ujung meja berbentuk persegi panjang. Di sisi sebelah kirinya berurutan ada sang istri, lalu menantunya. Di ujung yang lain, berhadapan dengannya, duduk Namjoon yang tengah menyantap salad buah, sama seperti Taehyung yang duduk di sisi kanan sulung Kim. Namja bersurai terang duduk bersebelahan dengan Jungkook yang tepat berada di sisi kiri Chanyeol dan berhadapan dengan Baekhyun.
Jungkook menelan ludahnya dengan teramat sangat sulit. Bibirnya tersenyum kaku saat ibunda Taehyung tersenyum lebar ke arahnya, menunjukkan rectangle smile yang mirip dengan milik bungsunya. Pemuda bergigi kelinci itu menggigit bagian dalam bibirnya, melirik sang kekasih untuk meminta bantuan. Percuma, Taehyung malah menunjukkan senyum yang sama dengan nyonya besar, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya.
Padahal Jungkook belum selesai menyantap salad-nya, tapi sang calon mertua sudah memenuhi piringnya dengan mushroom fried rice, ayam renyah saus pedas, juga potongan besar roast beef. Jangan lupakan berbagai macam sayuran yang juga diambilkan untuknya. Makan malam keluarga Kim adalah makan malam dengan semua menu sudah tersedia di meja, walau nyatanya yang dihidangkan adalah masakan ala Eropa. Dan Baekhyun adalah tipe ibu yang mengharuskan nasi ikut serta dalam kegiatan makan tiga kali sehari. Tipikal orang Asia.
"Aku baru menyelesaikan kelas memasak untuk masakan Eropa. Kau harus mencoba semuanya." Baekhyun menjelaskan dan Jungkook semakin merasa canggung.
Demi apapun, piring makan Jungkook benar-benar sangat sesak. Bahkan piring Chanyeol dan Namjoon saja tidak sepenuh miliknya. Bagaimana bisa semua makanan di hadapannya masuk ke perutnya yang rata?
"Masakan eomma sangat enak. Kau harus menghabiskannya."
Pendusta.
Kim Taehyung pernah bilang padanya kalau masakan ibunya berancun. Tapi apa ini? Dia malah menyuruh Jungkook menghabiskan semua yang ada di piringnya. Apa Taehyung tega melihat kekasihnya mati kekenyangan?
"Tae, panggil ibumu Mommy kalau tidak mau dia menarik mobilmu."
Tuan besar memperingatkan, bibirnya tersenyum lebar saat mendapat kecupan lembut dari Baekhyun sebagai tanda persetujuan.
Modus. Kim Chanyeol melakukannya hanya untuk mendapatkan perhatian sang istri yang sejak tadi memanjakan Jungkook.
"Dengarkan kata Daddy."
Dan Taehyung hampir tersedak, begitu juga dengan Namjoon yang sudah mulai mengunyah nasinya. Cara ibu mereka memanggil sang ayah benar-benar janggal. Terdengar mencurigakan dan menimbulkan asumsi negatif. Tehyung kembali terbatuk.
"Hyung!" pekik Jungkook, ia segera mengambil gelas berisi air putihnya, lalu membantu sang kekasih untuk meminum. Sebelah tangannya terulur untuk mengusap punggung senior kesayangannya. "Hati-hati…"
Taehyung mengangguk, menunjukkan senyum ke arah kelinci manisnya. Diam-diam mata kecoklatannya melirik sang kakak yang juga tengah menatapnya di sela kegiatannya minum. Kini keduanya memasang ekspresi yang sama. Taehyung mengangguk saat pria yang juga merupakan dosennya memberikan isyarat mata.
Bungsu Kim berdehem sekali. "Ngomong-ngomong, berapa lama kalian akan berada di Korea?"
"Hmm." sang kepala keluarga nampak berpikir. Ia menaruh sendok dan garpunya, lalu memasang pose seorang detektif. Matanya melirik Baekhyun. "Menurutmu bagaimana, baby?"
Sulung Kim menginjak kaki adiknya, mendapatkan pelototan mata sebagai balasan.
'Dia keceplosan.' gumam Namjoon dalam hati saat membaca gerakan bibir adiknya yang tanpa suara. Setelahnya ia mengangguk dan memutar bola mata, menunjukkan bahwa ia memikirkan hal yang sama.
"Aku ingin Mommy berada di Korea terus, aku merindukannya." celetuk Seokjin yang meninggalkan makanan di piringnya dan malah kembali sibuk dengan cookies di toplesnya.
"Hyung, kau meridukan semua orang."
Mengangguk mantab dan tersenyum lebar, Jin mengacungkan jempolnya ke arah Jungkook. "Aku juga merindukanmu. Aku ingin memeluk semua orang kecuali Namjoon."
Jungkook terkekeh. Mereka kembali ngobrol sambil menghabiskan makan malam dengan Jungkook yang berkali-kali melayangkan tatapan SOS kepada Taehyung untuk membantunya menghabiskan makanan di piringnya, juga senyum kotak yang diberikan sang kekasih kepada pemuda Jeon sebagai penolakan.
Di lain sisi, Baekhyun tak pernah luput memanggil suaminya dengan sebutan daddy, dan sang daddy beberapa kali keceplosan memanggil istrinya baby. Tentu saja, Namjoon dan sang adik berkali-kali memutar bola matanya.
Pada saat yang lain, Namjoon harus bersusah payah membujuk istrinya agar menghabiskan makan malam yang sudah diambilnya sendiri. Baekhyun selalu tidak suka jika ada yang menyisakan makanan di piringnya, dan tingkah Kim Seokjin yang sedikit acuh pada piringnya malam ini sungguh membuat sulung Kim khawatir.
"Jadi, Jungkook berasal dari Busan?"
Jungkook mengangguk, ia menunjukkan senyum kelincinya yang manis kepada sang calon ayah mertua. "Appa memiliki pabrik pengalengan ikan di Busan. Bukan pabrik yang besar, sih. Tapi cukup terkenal di kalangan pecinta makanan laut. Sedangkan eomma mengurus home stay kami. Rumahku sangat dekat dengan pantai, jadi aku sering main di pantai kalau sedang liburan."
"Joonie, aku ingin liburan ke Busan." pekik Seokjin antusias. Ia akhirnya bisa menghabiskan makan malamnya dengan sedikit paksaan.
Namjoon mengangguk saja. "Nanti kalau liburan semester tiba, oke? Kau juga harus mengajukan cuti ke rumah sakit."
Sang istri menggembungkan pipinya, walau begitu ia mengangguk saat Namjoon mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Seokjin.
"Bagaimana kalau kita sekeluarga liburan ke Busan? Kita bisa sekalian mengunjungi orang tua Jungkook."
Dan Kim Taehyung kembali tersedak. Kali ini hingga ia terbatuk parah sampai-sampai sang kekasih panik dan berkali-kali mengelus punggung juga mengomelinya macam-macam.
Taehyung tersenyum, dalam hati mengumpat. Mengumpati ibunya yang seenak eyeliner tebalnya main memutuskan begitu saja. Sebenarnya bungsu Kim mendapatkan informasi dari Park Jimin bahwa ayah dari kekasihnya seperti seekor beruang, dan ibunya segalak singa. Sampai detik ini, sejujurnya Tae belum bisa memecahkan kode persilangan yang menunjukkan bahwa perkawinan silang antara beruang dan singa bisa menghasilkan seekor kelinci manis. Hukum Mendel sepertinya tidak berfungsi di sini.
Tapi bukan itu masalahnya.
Dengan perumpamaan beruang dan singa, Kim Taehyung sangat yakin bahwa orangtua Jeon Jungkook galaknya luar biasa. Untuk mengunjungi rumah kekasihnya saja pemuda bersurai jerami masih terus mengunpulkan nyali, dan Baekhyun bilang apa tadi? Memboyong keluarganya langsung untuk bertemu dengan orang tua Jungkook?
Tingkah nekat Kim Taehyung pasti menurun dari ibunya.
"Tidak, Mom. Liburan semester depan aku berencana untuk berkunjung ke sana sendirian. Well, mungkin bersama Yoongi hyung juga, tapi dia akan bersama Jimin. Jadi kalian tidak boleh mengganggu. Ini double date. Iya kan, Kookie baby?"
Pemuda Jeon tersenyum canggung. Sejujurnya dia belum mendengar rencana ini, tapi meng-iya-kan perkataan sang kekasih sepertinya akan lebih aman. Eomma dan appa-nya pasti akan sangat terkejut kalau keluarga kekasihnya berkunjung, padahal selama ini mereka tidak tahu kalau Jungkook memiliki seorang kekasih.
"Maaf, Mommy." Kepala bersurai wine mengangguk. Lalu tersenyum canggung menunjukkan gigi kelincinya. "Nanti akan kubawakan oleh-oleh, Mommy bisa memasaknya bersama Jin hyung."
"Hmm, karena double date adalah hal yang romantis, jadi aku mendukung kalian." gumam Seokjin melahap cookie terakhir dari toplesnya. Namjoon membuang nafas kasar melihat istrinya yang mendadak rakus, terutama kalau itu adalah makanan manis.
"Kalau begitu, kita biarkan mereka saja daddy. Lagipula kita bisa mengabiskan waktu liburan berdua saja di rumah."
Chanyeol mengangguk, mengusap lembut surai Baekhyun yang tersenyum malu-malu.
"Astaga, seharusnya kalian ingat umur kalian berapa." celetuk Taehyung mendatangkan tatapan protes dari sang ayah. Sementara ibunya memberikan tatapan galak kepada si bungsu.
"Aku sangat setuju dengan Tae. Seharusnya kalian jujur saja kalau ingin memainkan daddy kink secara terang-terangan."
Kali ini Baekhyun yang tersedak. Matanya mendelik ke arah sulungnya setelah batuknya reda. Ia memberikan isyarat agar Namjoon tutup mulut. Sementara itu, sang ayah hanya terkekeh ringan di sela kegiatannya minum.
"Mommy memang terdengar seperti sedang menggoda saat memanggil Dad." Seokjin menambahkan. Mata bulatnya menatap kedua mertuanya bergantian, lalu mengangguk beberapa kali. "Tapi tidak apa-apa, romantis di usia senja itu manis."
Chanyeol tertawa canggung. "Ayolah Jinnie, Dad and Mom tidak setua itu. Tapi kami memang romantis."
"Berarti bukan hanya aku dan Namjoon hyung yang menganggap panggilan daddy dari Mom terdengar kinky. Sebenarnya tujuan kalian menyuruh kami memanggil eomma dengan mommy dan appa dengan daddy hanyalah agar daddy kink yang kalian lakukan tersamarkan, benar? Sayangnya sebutan baby yang beberapa kali dilontarkan Dad obviously revealed tujuan asli kalian."
Chanyeol kembali tertawa. Ia mengusak kepala istrinya saat Baekhyun mencebikkan bibir dan menggembungkan pipinya. "Ayolah, Baekhee. Jangan cemberut begitu. Kau memiliki dua putra genius yang sudah dewasa, jadi wajar kalau mereka memikirkan itu."
"Well, aku tidak keberatan untuk memanggil kalian Dad and Mom asalkan kalian mengurangi kegiatan flirting di depanku." lanjut Taehyung dengan seulas senyum saat ia menatap bundanya.
"Seratus poin untuk Taehyung. I have no objections. Mungkin tidak apa-apa kalau kalian melakukannya di depan kami, tapi kalau sampai keceplosan ketika sedang di kantor atau di tempat umum, kalian akan jadi bahan obrolan."Namjoon melanjutkan.
Baekhyun langsung bangkit dari duduknya, berjalan menuju Namjoon dan si bungsu lalu memeluk keduanya yang sedang duduk dari belakang. Ia terlihat seperti ibu-ibu muda yang memeluk dua balita menggemaskan. "Mommy sayang kalian berdua."
Taehyung mengerang protes saat Baekhyun mencium gemas pipinya, ia bahkan mengeluh kalau dirinya tercekik namun sama sekali tidak berusaha melepaskan diri. Sedangkan Namjoon hanya terkekeh saat sang ibu mencium puncak kepalanya.
"Kalian benar-benar menggemaskan."
Jungkook terkikik geli, mengulangi kata 'menggemaskan' berulang kali sambil menaik-turunkan alisnya beberapa kali ke arah Taehyung. Namja bersurai jerami itu langsung menarik gemas pipi kekasihnya begitu bundanya berhenti memeluk.
"Kau bilang apa, kelinci nakal?"
"Awh… hwakhweeeh hwoooh (Aw, sakit hyung)."
"Lain kali tidak akan kuampuni kalau sampai memanggilku begitu lagi." gumamnya melepas kedua pipi tembem Jungkook. Taehyung lalu mengecup bibir sang kekasih yang mengerucut lucu.
"Tapi Tae benar-benar manis, benar kan Joonie?" Seokjin menambahkan. Ia memeluk sebelah lengan suaminya, lalu bergelayut manja. Sang suami memberi anggukan singkat.
"Ohh, ayolah. Berhenti melakukan ini."
Chanyeol terbahak. "Ingat saat dulu kau menunjukkan gajah kecil di lenganmu? Taetae kecil benar-benar manis dan menggemaskan. Coba sekarang kau tunjukkan lagi kepada Dad."
Bungsu Kim mendengus. Ia tahu dirinya manis dan imut, tapi serius! Kim Taehyung berhenti menjadi manis dan imut sejak dirinya lebih memilih minuman soda daripada susu rasa buah. Setidaknya, itu menurut Taehyung karena di mata sang kakak dan kedua orangtuanya, Kim Taehyung tetaplah balita manis yang sedikit nakal dan membutuhkan bimbingan.
Dan balita manis mereka memiliki kekasih seorang bayi.
"Aku juga punya gajah di pahaku. Kami pernah membuat video saat kami sama-sama menunjukkannya. Tadinya mau kuunggah, tapi hyung melarangnya." Jungkook terlihat antusias. Ia baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya. "Kata hyungie, aku tidak boleh menunjukkan bagian pahaku ke orang lain."
"Aigoo…."
"Jungkook, kau polos sekali."
"Jungkook, kau benar-benar manis. Tidak kalah manis dengan Taehyungie." tangan besar Chanyeol terulur untuk mengusap kepala calon menantunya yang tersenyum malu-malu sambil ber-ehehe ria.
"Ngomong-ngomong, Dad." ucap Jungkook bersamaan dengan Chanyeol yang menghentikan usapannya. Ia memandang serius pria tinggi berkaos buntung. "Daddy kink itu apa?"
"Hah?" mata bulat Chanyeol mengerjab beberapa kali, ia menoleh ke arah istrinya, mencoba memastikan kalau ia tak salah dengar. Istrinya membalas dengan tatapan dan senyum canggung. Putra sulung dan menantunya menunjukkan reaksi yang sama.
"Dari tadi kalian mengatakan daddy kink. Apa memanggil pasanganmu dengan sebutan daddy adalah daddy kink?" Jungkook menoleh ke arah Taehyung, lalu tersenyum lebar yang entah mengapa menghidupkan alarm tanda bahaya di kepala sang sunbae. "Should I call you 'daddy' instead of 'hyungie'? You often call me 'baby', tho… Sama seperti yang dilakukan Mom and Dad,'kan?"
Muka Kim Taehyung merah padam. Sementara itu sulung Kim berdehem beberapa kali untuk membersihkan tenggorokannya, sangat canggung. Seokjin mencubit kuat perut suaminya, sedikit menyalahkannya karena sang dosen adalah tersangka yang memulai obrolan dewasa di depan pemuda Jeon yang masih polos.
"Umm, kenapa hyungie diam saja?" Jungkook merasa benar-benar canggung saat semua terdiam setelah mendengar ucapannya. Sebenarnya ia merasa takut kalau sudah salah bicara di depan keluarga sunbae kesayangannya. Maka ia menoleh ke arah Baekhyun, bibirnya bergetar saat berkata, "Mom, apa aku salah bicara? Ma -maafkan aku…"
"Tidak, sayang. Kau tidak melakukan kesalahan apapun." tangan Baekhyun terulur. Ia setengah berdiri saat membelai pipi Jeon muda, kemudian tersenyum lembut. Setelahnya pria mungil itu melirik bungsunya. "Tae hanya sedang berpikir. Iya kan, Tae?"
"Mommy benar, Taehyung sedang mempertimbangkan itu. Kau jangan khawatir." Chanyeol menambahi. Tanpa sadar juga menambah beban untuk bungsunya yang masih kaget dengan permintaan sang kekasih yang begitu polos.
Sial.
Kalau begini sama saja mereka melimpahkan tanggung jawab untuk menjelaskan apa itu daddy kink kepada Jeon Jungkook pada Taehyung. Ingin menjelaskan yang sebenarnya mengenai arti dari frasa tersebut rasanya bukan hal yang tepat karena sang kekasih manis kelihatanya belum pernah mendengar itu. Jangan-jangan dia juga belum pernah menonton film porno. Jadi Taehyung sepertinya harus menjawab dengan cara lain.
"Hyung…" cicit Jungkook melayangkan tatapan anak anjing kepada senior Kim.
"Begini." Taehyung berdehem, lalu menunjukkan senyum kotaknya yang menawan, mencuri semua atensi hoobae manis yang memutar duduknya, dan langsung menghadap Tae. Diam-diam sepasang netranya melirik sang ayah dan ibu yang dengan seenaknya mengucapkan fighting tanpa suara dengan bahasa tubuh kekanakan yang pasti akan membuat Taehyung protes kalau dia tidak sedang terhimpit situasi.
Telunjuk kanan Taehyung menyentuh ujung hidung pemuda Jeon sebelum melanjutkan, "Apa menurutmu aku sudah pantas dipanggil, daddy?"
Jungkook mengangguk.
Sejujurnya Taehyung sedang menahan dirinya sendiri agar, setidaknya, tidak menggigit bibir kekasihnya yang terlihat sangat manis. Bagaimana bisa Jeon Jungkook menjadi begitu polos dan menggoda pada saat yang sama?
Bungsu Kim menggeleng ringan. "Kali ini kau salah, sayang. Kau lihat appa-ku?"
Jungkook menoleh untuk melirik calon ayah mertua yang tersenyum ke arahnya. Dua detik kemudian, Jeon Jungkook sudah kembali memberikan seluruh perhatiannya kepada sang kekasih.
"Seorang ayah harusnya terlihat seperti itu. Memiliki pekerjaan, bisa memenuhi semua kebutuhan pasangannya. Sementara aku?" Taehyung menghela nafas perlahan, mempertahankan senyum tipis di bibirnya.
"Tapi hyung beberapa kali membelikanku baju, juga menraktirku makan. Kau bilang tidak akan memberikan apapun kalau itu bukan dari hasil keringatmu sendiri. Apa aku memang tidak pantas memanggilmu daddy?" protes namja bersurai merah anggur. Ia mulai merengek dan mem-pout-kan bibirnya.
Baekhyun melirik Chanyeol, menyenggol lengannya seolah menyalahkan sang suami yang membiarkan anak-anaknya membicarakan hal vulgar di hadapan Jungkook yang masih sepolos bayi.
"Kubilang aku yang belum pantas mendapat panggilan itu." Taehyung mengambil nafas dalam, menggelengkan kepalanya ringan. Tangannya terulur mengusap pipi Jungkook, Tae memajukan tubuhnya untuk mengecup dahi sang kekasih. "Uang kuliahku, biaya hidupku sehari-hari… aku tentu belum bisa meng-cover itu semua. Bahkan mobilku saja dibeli atas nama mom dengan uang, dad. Dan kau tahu sendiri aku belum bekerja. Seorang ayah memiliki pekerjaan yang bisa menghidupi dirinya sendiri juga keluarganya. Appa-mu juga begitu kan?"
Jungkook mengangguk singkat.
"Apa aku sudah sekeren appa-mu?" seujujurnya ini pertanyaan yang mempertaruhkan nyawa. Apapun jawaban yang diberikan Jungkook, Taehyung harus benar-benar berusaha. Jika Jungkook mengatakan bahwa Taehyung sekeren ayahnya, maka bungsu Kim harus memikirkan alternatif lain untuk menolak permintaan Jungkook. Kalau kelinci manisnya mengatakan Kim muda tidak sekeren ayahnya, maka ia harus berusaha ekstra keras untuk mendapatkan affeksi Jungkook seluruhnya, sehingga dirinya terlihat sebagai namja paling keren sedunia di mata Jeon Jungkook.
Jungkook menggeleng.
Taehyung tersenyum kaku, sedikit kecewa, namun merasa lega. "Kelak, saat aku sudah sekeren appa-mu, atau bahkan lebih keren darinya, saat itulah aku pantas untuk mendapatkan panggilan itu. Mengerti?"
Jungkook mengangguk sambil terkekeh saat Taehyung mengacak gemas rambutnya.
"Lalu, daddy kink itu apa?"
Namjoon yang sudah hampir menghembuskan nafas lega harus kembali menahan nafasnya karena pertanyaan itu muncul lagi. Tentu saja, kalimat panjang lebar dari adiknya memang tidak ada yang menjelaskan tentang itu.
"Kau akan tahu saat aku sudah pantas dipanggil ayah. Tunggu saja."
"Benarkah?"
Taehyung mengangguk mantab, rectangle smile tercetak jelas di bibirnya. Sebelah tangannya mengambil gelas berisi air, lalu memberikannya kepada Jungkook untuk diminum. "Makanya kau harus tetap disampingku dan membantuku agar aku menjadi pantas untuk mendapatkan panggilan itu."
Namja bersurai wine mengangguk mantab. Dan hampir semua orang menghembuskan nafas lega, bahkan sang ayah dan bunda menggumamkan kalimat all hail to Taehyung Kim tanpa suara. Namjoon tersenyum bangga kepada adiknya, sementara Seokjin terlihat gelisah.
"Ngomong-ngomong." menantu keluarga Kim menatap satu per satu keluarganya, termasuk Jungkook. Ia menarik nafas dalam sebelum akhirnya terfokus kepada sang suami yang juga balas menatapnya. "Sepertinya Namjoon harus mulai terbiasa dipanggil daddy."
"Not you, too Jinnie… Jangan membuatku ingin memakanmu sekarang juga."
Seokjin mencebik. Ia langsung menunduk, terlihat kecewa dengan jawaban yang diberikan suaminya. Sementara Taehyung menginjak kaki kakaknya karena mulai membicarakan hal dewasa lagi.
"Ma -maksudku bukan aku." masih dengan pout di bibirnya, Kim Seokjin mendongakkan kepala, menunjukkan puppy eyes-nya kepada Namjoon. "Baby kita yang akan memanggilmu daddy. Aku hamil, Joonie."
"Ohh…" Namjoon menghela nafas lega. Ia sempat balas menginjak kaki adiknya sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangannya ke arah sang istri yang kini tersenyum lebar kepadanya. Matanya membulat, terkejut.
Dan semua orang terdiam.
Baekhyun yang pertama bereaksi. Ia memegang kedua tangan menantunya, membuat sang menantu menoleh ke arahnya. "Kau bilang apa, Jin? Kau bilang apa? Aku tidak salah dengar kan?"
"Tidak, Mom." pria yang berprofesi sebagai dokter itu menggeleng ringan. "Aku hamil, sebentar lagi kau akan menjadi seorang nenek."
"Aku benci terlihat tua, tapi memiliki seorang cucu adalah mimpiku sejak lama." Baekkhyun memekik heboh, dia langsung memeluk erat sang menantu. "Terima kasih, Seokjin sayang… terima kasih banyak."
Chanyeol tersenyum bangga. Ia mengusap punggung Baekhee kesayangannya sambil tersenyum lebar dan membisikkan kata terima kasih kepada menantunya. "Baek, jangan menangis. Kau tidak malu kepada calon cucumu, hm?"
"Aku tidak menangis." elak Baekhyun, ia masih memeluk erat Seokjin dan malah menguselkan pipinya ke pipi sang menantu. Kelihatannya dua orang ini memiliki kebiasaan yang sama.
"Hyung, kau tidak apa-apa kan?" ucap Taehyung saat menyadari kakaknya masih mematung dengan pandangan yang tak lepas dari figur pendamping hidupnya.
Mendengar itu, Jin perlahan melepaskan pelukan mertuanya, lalu beralih menghadap sang suami. "Namjoon?"
Bibir sulung Kim setengah terbuka, bergerak-gerak seolah ingin mengatakan sesuatu. Ia langsung menangkap tangan Seokjin saat pasangan hidupnya itu mengulurkannya untuk menyentuh pipi Namjoon.
"Kau keterlaluan karena memberikan kejutan disaat-saat seperti ini. Aku beruntung karena tidak sedang makan, aku beruntung karena tidak tersedak." gumamnya memeluk sang istri. Sebelah lengannya mengusap tengkuk Seokjin, sementara yang lainnya menggenggam tangan sang dokter, membuat Seokjin terkekeh mendengar celotehan ngawur yang digumamkannya. Namjoon mencium kening pendampingnya sangat lama. Bibirnya lalu beralih memberikan kecupan-kecupan ringan di telapak tangan Seokjin. "Terima kasih, sayang. Terima kasih banyak, kau benar-benar luar biasa."
Yang dipeluk hanya terkekeh ringan, lalu membalas pelukan suaminya. Seokjin membelai punggung Namjoon, ia bisa merasakan dengan jelas tubuh tegap itu bergetar.
Jungkook menggenggam sebelah tangan Taehyung, mencegah dirinya sendiri agar tidak menyela momen bahagia kedua orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Bibirnya tersenyum lebar.
"Kau ingin memberikan selamat, hm?" Taehyung menanggapi.
Jungkook mengangguk. Terlihat sekali kalau dia begitu antusias. Lengannya bahkan memeluk gemas lengan Taehyung yang langsung terkekeh melihat tingkah manis kekasihnya.
Jungkook memajukan wajahnya, berbisik kepada Tae. "Aku senang sekali."
Sementara itu Chanyeol sudah memeluk erat Baekhyun yang berkaca-kaca. "Kau melahirkan dua putra yang hebat, sayang. Aku juga harus mengucapkan terima kasih kepadamu."
Bukannya menunjukkan senyuman, Baekhyun malah mem-pout-kan bibirnya, mencubit perut sang suami sebelum menguselkan kepalanya di dada bidang Chanyeol. Baekhyun sangat bahagia, tentu saja.
.
.
"Aku senang sekali Jin hyung akan segera memiliki baby. Itu artinya aku akan memiliki keponakan yang manis."
Taehyung terkekeh mendengar celotehan hoobae manisnya. Bungsu Kim bertaruh, semanis apapun keponakan mereka kelak, itu tidak akan lebih menis dari Jungkook. Mereka tengah berjalan menaiki tangga menuju kamar Taehyung di lantai dua. Tae memutuskan untuk mengajak Jungkook ke kamarnya setelah memberikan selamat kepada Seokjin dan Namjoon. Ia beralasan ingin memberikan kesempatan untuk kakak dan kakak iparnya agar mereka memiliki waktu berdua, tapi kelihatannya kedua orangtuanya terlalu tidak peka dan malah menahan pasangan suami-istri itu di ruang keluarga.
"Ngomong-ngomong, ini untuk pertama kalinya kau masuk ke kamarku kan?" gumam Taehyung mereka sampai di depan sebuah pintu kayu berwarna putih di ujung lorong lantai dua. Tangan kecoklatan itu membukanya perlahan, "Selamat datang di kamarku."
Jungkook tertawa ringan saat pemuda Kim mempersilakannya masuk terlebih dahulu. Tentu saja, Jungkook langsung mengamati kamar kekasihnya begitu ia melangkahkan kaki. Malam ini dia akan menginap di rumah keluarga Kim.
"Jangan hanya melihat dari sini." gumam Taehyung menutup pintu. Ia lalu melepas sepatu, meletakkannya di rak pendek yang ada di sisi pintu, Jungkook melakukan hal yang sama. Tae memeluk pinggang kekasihnya begitu mereka selesai. "Kau boleh mendekati dan menyentuh apapun."
Begitu Tae menyelesaikan kalimatnya, Jungkook langsung setengah berlari mendekati almari besar di samping ranjang berukuran double di ujung ruangan. Di sebelah kanan ranjang ada meja belajar dan rak buku, di sebelah kirinya ada almari besar yang bersebelahan dengan almari lain berukuran setengah badan. Di sisi lain ada televisi dan peralatan bermain game. Kamar Taehyung terlihat sangat menarik dengan dominan warna abu-abu dan beberapa poster anime dan berbagai film menempel di sisi meja belajar.
Jungkook mengamati satu per satu koleksi action figure dari berbagai judul anime milik Taehyung yang memenuhi hampir tiga baris rak berlapis kaca. Di atasnya ada bermacam-macam miniatur kendaraan yang tertata rapi. Mata Jungkook berbinar, sejujurnya dia cukup terkejut melihat kekasihnya begitu sistematis dalam menata koleksinya.
"Banyak sekali. Kalau aku yang punya pasti sudah hilang satu per satu." Jungkook tertawa lepas.
"Mana bisa aku menghilangkannya, eomma bisa mengamuk kalau sampai ada yang hilang." Tae menangapi. Ia duduk di ranjang, mengamati Jungkook sambil tersenyum.
"Kau paling suka yang mana? Boleh kubuka?"
Namja bersurai pirang mengangguk ringan saat Jeon muda meminta izin untuk menggeser pintu kaca pada almarinya. "Sepeda motor berwara hitam."
Jungkook mengangguk, mengambil satu-satunya miniatur kendaraan beroda dua di sana. Ia mengamati sepeda motor hitam berbentuk kerenyang langsung membuatnya tertarik.
"Ducati Diavel, Namjoon hyung memberikannya sebagai hadiah karena aku menyelesaikan essay dari mata kuliahnya. Padahal aku sudah berniat untuk tidak mengerjakannya dan akan mengulang kelas karena terlalu sibuk mengurusi acara kampus, tapi akhirnya kuselesaikan karena dia sangat memaksa. Dan benda itu dia berikan di hari yang sama saat aku pertama kali bertemu dengan seseorang."
"Seseorang?" Jungkook menoleh ke arah seniornya dengan sorot mata menyelidik. Terlihat sekali kalau Jungkook tidak suka.
"Mau berkenalan dengannya?"
Yang lebih muda merasa ragu saat bungsu Kim tersenyum lebar sambil merogoh sakunya untuk mengambil ponsel pintar. Tapi toh Jungkook tetap melirik layar ponsel sang kekasih saat benda itu disodorkan ke arahnya, menunjukkan foto seseorang yang tengah menunjukkan duck face-nya.
"Aku mendapatkan itu di hari yang sama saat aku bertemu dengannya. Manis kan? Namanya Jeon Jungkook."
"Hyuuung!" mengerang protes, pemuda Jeon memeluk erat kekasihnya sambil memukulnya main-main. "Kau selalu menyebalkan, sangat menyebalkan, semakin menyebalkan."
Taehyung terbahak, ia balas memeluk gemas sang kekasih. "Aku juga sangat menyayangimu."
Pemuda bersurai kemerahan mendorong tubuh Taehyung, menindihnya sambil menarik kedua pipinya ke segala arah. "Rasakan."
Tae semakin tertawa. Ia menggelitik pinggang kekasihnya yang langsung berguling minta ampun. Saat itulah Jungkook melihat sebuah benda berwarna keemasan yang terlihat sangat menarik. Ia perlahan turun dari kasur, menaruh kembali Ducati milik kekasihnya, lalu berjalan memutar menuju rak di samping meja belajar.
"Iron Man!" seru Jungkook saat melihat beberapa figure pahlawan idolanya di rak buku sang sunbae. Ia langsung mengambil ponsel miliknya, menunjukkan case dengan tokoh yang sama. "Kau tidak pernah bilang kalau kau menyukainya juga!"
"Kejutan." menunjukkan cengirannya, Taehyung mendudukkan dirinya untuk menghadap sang kekasih. Dengan wajah kelewat serius ia berkata, "Ini rahasia, tapi aku adalah Iron Man."
Mengerutkan keningnya, Jungkook melempar ponselnya, menghantam paha kanan Taehyung yang langsung meringis protes. Untung saja tidak mengenai bagian yang lain. Sedikit saja lemparan pemuda Jeon bergeser, pasti masa depan-nya yang akan meraung kesakitan.
Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya, melainkan alat musik tiup berwarna keemasan yang Taehyung letakkan di samping rak bukunya, tergeletak di atas case berwarna hitam, tepat di bawah ring basket yang menempel di tembok. Jungkook mengambilnya.
"Ah, tadi aku membersihkannya, pasti lupa kusimpan."
"Kau bisa main saxophone?"
Taehyung terkekeh ringan. Ia lalu mengambil saxophone-nya dari tangan Jungkook. "Hanya sekedar bisa, aku tidak ahli. Lagipula sudah lama sekali aku tidak berlatih."
"Benarkah? Mainkan sebuah lagu untukku."
Jungkook terlihat antusias, ia bertepuk tangan lalu duduk di samping Taehyung. Bukannya melakukan apa yang diminta hoobae manisnya, Taehyung malah terkekeh dan menyimpan alat musik tiupnya di dalam case.
Jungkook menggembungkan pipi, merasa kesal.
"Ini sudah larut, aku tidak mau mengganggu yang lain. Bagaimana kalau gitar? Aku akan memainkan gitar, lalu kau akan bernyanyi."
Bibir yang lebih muda tersenyum lebar. Ia mengangguk antusias dengan mata berbinar.
"Biar kuambil dulu, gitarnya ada di bawah. Kau bisa mengganti bajumu dengan kaosku." Taehyung menunjuk almari pakaiannya dengan dagu. "Kau juga bisa menyikat gigimu saat aku pergi, jadi kau bisa langsung tidur kalau mengantuk."
Jungkook menurut, dan Taehyung segera keluar dari kamarnya untuk mengambil alat musik petik yang dijanjikan.
.
.
Chanyeol merangkul bahu Baekhyun yang bersandar padanya. Keduanya tengah menonton televisi di ruang keluarga, sementara Namjoon dan Seokjin sudah masuk ke kamarnya.
"Menurutmu, bagaimana Jungkook?" gumam pria ber-eyeliner. Kedua lengannya memeluk tubuh sang suami dari samping.
"Dia manis, kau saja kalah manis."
Chanyeol terbahak begitu merasaka cubitan kasar di lengannya. Ia mengerang minta ampun saat Baekhyun mulai mencubit bagian lainnya. "Baekhee, baby.. hentikan. Astaga, tubuhku bisa bengkak kalau terus-terusan kau cubit begini."
"Ini hukuman untukmu."
Sang kepala keluarga hanya terkekeh ringan, lengannya kembali memeluk tubuh mungil ibu dari kedua ptranya.
"Tapi Jungkook benar-benar polos, kecuali dalam hal berciuman. Tae pasti banyak mengajarinya." ucap Baekhyun pada akhirnya. "Aku tidak menyangka dia akan menanyakan itu kepadamu. Dan lagi.. dia ingin memanggil bungsu kita dengan sebutan daddy. Itu manis sekali."
"Dan aku lebih terkejut dengan reaksi Taehyung. Dia begitu tenang saat menjawab permintaan Jungkook. Aku tidak menyangka dia bisa sedewasa itu. Kalau aku yang harus menjawab, mungkin aku sudah menghancurkan kepolosannya."
"Tentu saja. Kalian pikir aku akan menjadi bayi selamanya?"
Sebuah suara menginterupsi obrolan tuan dan nyonya Kim. Keduanya terlonjak kaget dan langsung menoleh ke sumber suara. Mereka mendapati Taehyung berjalan dengan santai sambil membawa gitar dan sebuah botol minum berisi air putih.
"Kau mau membuatku terkena serangan jantung?" protes Baekhyun. Matanya melotot saat menatap bungsunya. Chanyeol terkekeh ringan.
"Kalian yang ingin membuatku mati muda dengan acting menyebalkan tadi. Astaga, kupikir aku akan benar-benar keluar dari keluarga Kim dan hidup bebas bersama Jungkook. Ternyata hanya sandiwara, aku kecewa."
Chanyeol menggeplak ringan kepala putranya yang langsung menunjukkan cengiran tanpa dosa. Bisa-bisanya namja bersurai pirang bicara sarkastik begitu kepada orangtuanya.
Mereka bertiga tertawa.
"Tapi serius, thanks for being so kind to my Jungkookie, Mom.. Dad… I'm more than grateful to know you accepted him." Taehyung memeluk kedua orangtuanya bergantian. Ia tersenyum begitu lebar.
"Tentu saja, soldier V. Kalau dia bisa mengambil hatimu, pasti orang itu adalah orang yang baik." balas Chanyeol. Ia mengacak rambut bungsunya hingga benar-benar berantakan.
"Oh, ayolah… aku akan sangat malu kalau Jungkook tahu panggilan itu."
"Hoo… Mommy akan memberitahukannya saat sarapan besok." Baekhyun tersenyum jahil dan Tae kembali melayangkan protesnya. Baekhyun menjulurkan lidahnya sebelum menyeret sang suami untuk masuk ke kamar sebagai jawaban.
Kim Taehyung sepertinya harus bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan terburuk dalam hidupnya, semua aib di masa labilnya akan terbuka di hadapan sang kekasih. Dan yang akan menjadi pelaku dari tindakan pembunuhan karakter terhadapnya adalah sang bunda.
.
.
Jungkook mematut dirinya di depan cermin. Ia mengeryitkan dahi saat melihat panampilannya. Kekasihnya sudah menyiapkan sikat gigi untuknya, juga sabun muka, kebetulan mereka berdua memakai brand yang sama. Jungkook sudah sangat siap mendengarkan alunan gitar sang kekasih. Ia mengambil asal kaos lengan panjang, juga sebuah celana pendek milik Taehyung, lalu memakainya.
Ia memutar dirinya, mencoba mengamati bagian belakang kaosnya. Setelahnya netranya melirik ke bagian paha. Jungkook menggelengkan kepala.
Ia langsung menoleh saat mendengar suara pintu dibuka. Taehyung segera masuk, meletakkan sebuah botol berisi air minum di meja belajarnya, lalu dengan hati-hati menyenderkan gitarnya.
"Sebentar." gumamnya santai. Tae lalu mengambil sebuah kaos dan celana, lalu masuk ke kamar mandi.
Jungkook kembali terheran. Bagaimana Kim Taehyung bisa biasa saja saat melihat keadaan Jeon Jungkook yang bisa dibilang tidak biasa?
Beberapa saat setelahnya, sang senior kembali dari kamar mandi, ia menggantung pakaian yang tadi ia pakai, bersebelahan dengan milik Jungkook. Dengan gerakan kasual, pemuda Kim mengambil gitarnya, lalu duduk bersandar di atas kasur.
"Hyung. Tidak ada yang aneh denganku?" Jungkook merentangkan kedua tangannya. Memutar tubuhnya sebanyak dua kali agar sang kekasih bisa melihatnya dengan jelas.
"Kau terlihat sexy dengan celana volley-ku saat SMA. Paling tidak, harusnya itu menutupi hingga setengah paha, tapi saat kau pakai…" Taehyung memasang pose seorang detektif, mengamati paha mulus hoobae-nya yang terkespos. "Seperti celana volley wanita. Mungkin karena pantatmu montok jadi celananya lebih terangkat dan terlihat lebih ketat."
Wajah Jungkook merah padam. Sejujurnya ini pertama kalinya ia mendengar kekasihnya secara terang-terangan mengatakan itu. Ini memalukan, tapi entah mengapa pemuda Jeon merasa senang. Bagaimanapun Tae barusan memujinya sexy.
Tapi bukan itu masalahnya.
"Kaosku. Bagaimana kaosku?" pertanyaan lebih spesifik dilontarkan. Jungkook menunggu saat senior Kim mulai mengerutkan keningnya, masih dengan pose detektif andalannya.
"Hmm… kebesaran?" Taehyung memastikan. Sebenarnya ia ingin berkomentar bahwa Jungkook dengan celana pendek super ketat dan kaos kebesaran yang hampir menutupi celananya benar-benar sexy dan menggemaskan, tapi sepertinya bukan itu yang ingin Jungkook tunjukkan. "Itu juga kebesaran kalau aku yang memakai, jadi wajar kalau kebesaran untukmu."
"Astaga…" Jungkook merasa kesal. Ia akhirnya menarik bagian leher dari kaosnya yang kelewat lebar. Jelas sekali kalau bagian itu digunting. Ia juga menarik sobekan di bagian pinggang sebelah kiri, juga lengan kanannya. "Apa yang kau lakukan dengan ini?"
Taehyung terkekeh. Ia menarik kekasihnya agar duduk di sebelahnya. "Itu hanya hobi masa laluku. Menggunting itu cukup menyenangkan."
"Hyung tidak pernah memakai yang seperti ini di kampus." Jungkook menarik bagian leher kaos hitam yang dipakai kekasihnya yang juga digunting. "Pasti karena ingin membangun image sebagai sunbae keren agar para hoobae tertarik kan?"
Taehyung tertawa, ia menarik hidung Jungkook gemas. "Mana ada yang seperti itu. Namjoon hyung akan membunuhku kalau aku memakai kaos seperti ini ke kampus. Lagipula memang ada beberapa dosen yang mengharuskan mahasiswa memakai pakaian rapi kan? Ripped jeans saja tidak boleh, apalagi ripped shirt."
Yang lebih muda mengangguk paham. Beberapa dosen senior memang tidak mengizinkan mahasiswa masuk ke kelasnya kalau mereka memakai ripped jeans, dan dosen Kim adalah bagian dari mereka, walau sejujurnya dia belum bisa dibilang senior.
"Lagipula aku sering memakai ripped t-shirt jika sedang main dengan Yoongi hyung. Memangnya kau tidak melihatnya di instagram-ku? Jadi, kau bukan stalker profesional?"
"Uhh, mana kutahu hyung memakai kaos sobek-sobek? Aku terlalu terpesona dengan wajahmu."
Dan Jungkook membungkam mulutnya rapat. Wajahnya kembali memerah parah setelah menyelesaikan kalimatnya barusan.
Taehyung tersenyum lebar, sebelah tangannya merangkul pundak Jungkook, menariknya dalam pelukan hangat. "Terima kasih, I love you, too."
Sebenarnya Jungkook ingin menyangkal, tapi tubuhnya bereaksi lain. Ia malah balas memeluk kekasihnya, menenggelamkan wajah memerahnya di dada bidang sang kekasih yang kini membelai kepalanya. Mereka sama-sama diam.
"Jadi.." bisik Taehyung setelah beberapa saat. Ia mencium pelipis kekasihnya. "Apa aku harus memainkan gitarku, atau kita akan tidur begini?"
Jungkook tertawa ringan, ia perlahan melepas pelukan, menegakkan tubuhnya setelah mendudukkan diri. Ia terlihat manis, memikirkan lagu apa yang ingin didengarkannya, namun belum sempat menemukan lagu yang diinginkan, Taehyung sudah terlebih dahulu memetik gitarnya.
"A Thousand Years?*"
Taehyung mengangguk, ia tersenyum saat menatap Jungkook sambil memainkan intro-nya. "Kau yang menyanyi."
"Eh?"
"Kau tadi sudah setuju, sayang…" Kim Taehyung menatap lekat kekasihnya. Ia menganggukkan kepala perlahan, memperlanbat petikan gitarnya, memberikan tanda agar Jungkook mulai bernyanyi.
"Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid
To fall…" Jungkook mulai bernyanyi, awalnya lirih dan terdengar ragu. Namun saat sang kekasih tersenyum puas dan menormalkan tempo petikan gitarnya, pemuda Jeon mulai percaya diri.
"One step closer…" Taehyung menyahut, tersenyum lebar sebelum bergumam. "Bersama."
Jungkook mengangguk dengan senyum lebar terukir di bibirnya.
"I have died every daywaiting for you
Darlin' don't be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more…."
Taehyung tersenyum. Matanya tak lepas dari gerak-gerik Jungkook yang terlihat manis saat menggerakkan kepalanya mengikuti irama saat bernyanyi, juga saat namja bersurai wine memperhatikan gerakan jari Taehyung yang memetik gitar dan tangan satunya yang menekan senar.
Mereka menikmatinya.
Sejujurnya ini untuk pertama kalinya Taehyung mendengarkan Jungkook bernyanyi secara langsung. Ia beberapa kali memergoki sang kekasih bersenandung ringan, atau menyanyikan potongan-potongan lagu. Hoobae-nya itu akan langsung berhenti bernyanyi, atau menyanyikan lagunya dengan suara yang sengaja dibuat cempreng dan lucu saat ia menyadari Taehyung memerhatikan.
Tapi kali ini, Jeon Jungkook benar-benar menyanyikannya dengan merdu.
"I have loved you for aThousand years
I'll love you for aThousand more…"
Mereka bersamaan menyelesaikan lagunya. Taehyung memainkan gitarnya selama beberapa saat sebelum menyudahinya. Mereka masih saling tatap untuk beberapa saat sebelum Taehyung meletakkan gitarnya di samping tempat tidur lalu mendekati Jungkook dan memeluknya.
"Suaramu bagus, merdu sekali."
Membalas pelukan bungsu Kim, Jungkook mendongak dan mendaratkan sebuah kecupan di dagu kekasihnya. "Suara hyung juga bagus, aku suka."
Taehyung terkekeh ringan. Ia menarik Jungkook, dan mereka berbaring dengan pemuda Jeon menjadikan lengan yang lebih tua sebagai bantal. "Lain kali kita buat video saat bernyanyi."
Jungkook mengangguk, menyamankan dirinya dalam dekapan hangat Taetae hyung-nya.
"Aku beruntung karena memutuskan belajar memainkan gitar setelah melihat Dad memainkannya. Aku jadi bisa mengiringi suaramu yang merdu."
"Apa Namjoon hyung juga bisa bermain gitar?"
Taehyung menggeleng ringan. "Dia bermain drum. Kalau Dad, dia bisa memainkan hampir semua alat musik. Sejujurnya aku mempelajari saxophone agar bisa memainkan, setidaknya satu alat musik, yang tidak bisa dia mainkan. Dad is my role model, surpassing him has been my goal since I was a kid. Kau bisa main alat musik?"
Jungkook mengangguk perlahan. "Sedikit bisa bermain gitar, sedikit bisa bermain piano, sedikit drum. Hmm… semuanya setengah-setengah. Aku bisa, tapi payah."
Taehyung terkekeh mengikuti Jungkook yang sudah terlebih dahulu tertawa. Bungsu Kim menarik wajah kekasihnya, memerangkap mata yang lebih muda dengan sorot teduhnya. "It's okay, if you came as an unfinished piece of puzzle, I'd be the one to complete. So are you, the last piece of my puzzle."
Jeon muda mengangguk, ia memejamkan matanya saat Taehyung mulai mengeliminasi jarak di antara mereka. Bibirnya tersenyum setelah sang kekasih mendaratkan sebuah ciuman lembut di sana.
"Hari ini aku sangat senang." kembali membuka matanya, kedua tangan Jungkook terulur untuk membingkai wajah Kim muda. "Aku mengenal keluarga hyung, aku tahu banyak hal tentang hyung yang belum kuketahui sebelumnya."
"Benarkah? Kupikir tuan stalker yang satu ini sudah tahu semuanya."
Namja berkulit susu mem-pout-kan bibirnya saat Taehyung menyentuh kedua telinganya dan memainkan anting yang ia pakai. "Aku belum tahu kalau hyungie mendapatkan mata dan senyum dari Mommy, juga telinga dan warna kulit dari Dad. Kalau diperhatikan, ternyata mata Taetae hyung bentuknya bulat, mirip punya Daddy."
Taehyung terkekeh, matanya memang tergolog besar, tapi dengan bentuk seperti itu, kebanyakan orang akan terperangkap dengan kesan tajam. Yah, walau tidak setajam milik kakaknya. Banyak yang bilang kalau dirinya lebih mirip sang ibu.
"Apa lagi yang kau ketahui hari ini?" Taehyung mendekap kekasihnya di dada, memejamkan matanya sambil membelai rambut Jungkook.
"Namjoon hyung mendapatkan lesung pipi dari Dad, juga tingginya, juga warna kulitnya."
"Warna kulitku dan Namjoon hyung menurun dari kakek. Kulit Dad tidak seeksotis kami berdua."
Jungkook mengangguk sambil terkekeh.
"Ada lagi?"
"Umm… seluruh koleksi hyung, juga hyung yang bisa bermain saxophone…"
"Ada satu lagi."
Jungkook mendongak, mendapati Taehyung yang juga tengah menatapnya. Ia membisikkan sesuatu sebelum memungut bibir kekasihnya dalam.
"We are getting one step closer."
.
Fourth Lesson(s):
"If you came as an unfinished piece of puzzle, I'd be the one to complete. So are you, the last piece of my puzzle."
"We are getting one step closer." (END)
.
.
(*) A Thousand Years -Sungha Jung. Yang ingin mendengarkan suara gitar yang dimainkan Kakak Tetet, dipersilakan mendengarkan A Thousand Years versi Sungha Jung. Bayangkan gitarnya dipetik Taehyung, lalu dibarengi suara merdu Jungkook *le Tiger meleleh sendiri
Akhirnya bisa update juga. Jadi sebenarnya Tiger sedang kesulitan meng-upload ffn dikarenakan membeli paket internet dari provider yang memblokir banyak situs, termasuk ffn, dan Tiger tidak mau membobol proxy lewat laptop karena beberapa alasan.Jadi, yah… begitulah. Baru sempat update sekarang.
Dan buat Guest yang tidak punya akun dan mengajukan request.
Well, sebenernya I don't usually take requests. Tapi anda sangat beruntung karena Tiger memang berencana untuk membuat cerita dengan cover mirip dengan ava 'pangeran dan gadis desa'. dengan male Jungkook, ofc. dan bukan itu cover yang akan dipakai. Sedikit bocoran, tulisan Tiger tidak bisa lepas dari Taehyung's promises, lies, faith, disappointment, and surprises (setidaknya menurut Tiger, hehe). Jadi mohon ditunggu ya.
Dan jangan lupa untuk membaca karya Tiger yang lain.
Untuk yang menunggu Leanan Sidhe, mohon sabar ya. Akan diupload dalam waktu dekat…
.
Akhir kata, review please…
I got a lil bit carried away in this chap
