Chapter Summary:

Kim Taehyung merasa kekasihnya semakin menggemaskan, apalagi ketika mereka disibukkan oleh ujian... kehidupan.

.

"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.

Genre: Romance, Comedy (?)

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin | Park Jimin x Min Yoongi | Jung Hoseok (Jomblo Sejati) | PCY as Kim Chanyeol x BBH as Kim Baekhyun

Rated: T

Warning: Ambigu, typo tak tertahankan

.

.

Part V: Something to Feel

"Hyung…" gumam Jungkook tidak nyaman. Sejak sepuluh menit yang lalu, seseorang yang diyakini sebagai sang kekasih mengusik tidurnya, dan dia tidak suka itu. Pemuda bersurai red wine mengeryitkan dahi, tangannya setengah sadar menyingkirkan sesuatu yang menelusup di sela pahanya.

Bukannya berhenti, sesuatu yang ternyata adalah sebuah tangan itu malah beralih mengusap pantatnya yang hanya tertutup celana pendek yang terlihat ketat. Kelima jarinya mengusap, bergerak membentuk pola lingkaran di masing-masing bongkah pantat pemuda Jeon, tangan itu lalu sedikit meremasnya.

"Nggh…" erang Jeon muda kesal. Ia membuka matanya perlahan, sedikit mendongak hanya untuk mendapati sang kekasih yang masih terlelap dengan bibir setengah terbuka. Lengan kirinya menjadi bantal untuk Jungkook, di alam bawah sadarnya, tangan itu sesekali memainkan telinga atau rambut yang lebih muda. Setelah itu, bibir yang setengah terbuka akan bergumam tidak jelas. Sementara tangan kanannya melakukan hal nista.

Membelai paha Jeon Jungkook.

Membelai pantat Jeon Jungkook.

Meremas pantat Jeon Jungkook.

"Uhh.." keluh Jungkook saat mendapati sunbae yang merangkap kekasihnya masih tertidur pulas. Dengan malas ia memindahkan lengan Taehyung agar memeluk pundaknya, lalu Jungkook memejamkan mata.

Baru saja akan kembali tertidur, lengan itu sudah bergerak turun dan meremas pantatnya gemas.

"Mmn.. Bunny Koowkee.."

Tubuh Jungkook menegang, pipinya bersemu merah. Ia sungguh tidak tahu apa yang sedang diimpikan seniornya, tapi dengan gerakan tangan yang nakal, juga dengan namanya yang dilafalkan dengan suara rendah yang terdengar berdosa, pasti Kim Taehyung sedang memimpikan sesuatu tentang dirinya.

Pemuda Jeon memeluk erat sang kekasih, menenggelamkan wajahnya ke dada bidang namja bersurai jerami. "Hyung menyebalkan, jangan nakal."

Sungguh. Jeon Jungkook adalah pemuda polos yang jarang memikirkan hal-hal berbau mesum. Namun dia juga merupakan remaja normal yang jarang meleng ketika pelajaran, termasuk pelajaran biologi, tepatnya bab reproduksi ketika sekolah menengah atas. Tentunya Jeon muda tahu dengan yang disebut mimpi basah, dan hormon yang memicunya.

Jangan lupakan bahwa Jungkook juga memiliki hormon itu.

"Uhh, hyungie hentikan." gumamnya meremat kaos Taehyung. Ia menggigit bibir bawahnya saat tangan nakal Tae menelusup ke sela pahanya, lalu membelai paha dalamnya dengan jemari yang bergerak menggelitik. "Hyung…"

Susah payah Jungkook menyingkirkan tangan itu, setelahnya mendorong tubuh Taehyung agar pemilik kulit eksotis terlentang dan berhenti memeluknya.

Pemuda bergigi kelinci menghembuskan nafas lega. Ia lalu berguling ke pinggir ranjang untuk meraih ponselnya di meja, melihat jam yang menunjukkan pukul lima pagi, ia menghela nafas. "Lebih baik aku ke dapur saja. Siapa tahu aku bisa membantu maid yang sedang menyiapkan sarapan. Daripada diganggu oleh Taetae hyung yang menyebalkan."

Meregangkan tubuhnya, Jungkook lalu berjalan ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan mencuci mukanya. Setelah itu, dia berdiri di depan almari Taehyung, merapikan rambut dan pakaiannya. Ia mengeryit saat memperhatikan celananya.

"Ini sangat tidak sopan jika dipakai di luar kamar." gumamnya seraya membuka almari kekasihnya, mencari celana panjang.

Beberapa saat kemudian, Jungkook sudah berjalan menuruni tangga mengenakan kaosnya semalam, juga celana panjang gombrang model bapak-bapak yang entah bagaimana dimiliki Taehyung. Kakinya berbalut sandal rumah berwarna merah bata. Kim Taehyung yang ditinggalkan sendirian di kamar langsung berguling ke samping dan memeluk erat bantalnya begitu Jungkook menghilang di balik pintu.

"Sial. Jungkook-ku manis sekali. Untung dia pergi, kalau tidak, aku pasti sudah memakannya." gumam bungsu Kim heboh. Tangan kanannya memegang dada sebelah kiri, tepatnya di tempat jantungnya yang berdetak menggila bersembunyi. "Astaga… kenapa dia polos sekali."

Tae benar-benar merasa kekasihnya semakin hari semakin menggemaskan. Entah hanya perasaannya atau apa, tetapi tubuh Jungkook semakin hari terlihat kian montok dan menggoda.

Uhh. Kim Taehyung jadi panas-dingin memikirkannya.

"Tidak ada cara lain, aku harus bermain solo."

Dan Kim Taehyung berjalan tergesa menuju kamar mandinya untuk menuntaskan hasratnya yang bangkit akibat sang kekasih yang tanpa pertahanan tidur dalam dekapan seekor singa kelaparan.

"Akan kuselesaikan cepat, lalu kembali tidur." gumamnya sebelum memulai.

.

.

Kim Taehyung terbangun kembali saat mendengar pintu kamar mandi tertutup dengan cukup kasar. Niatnya, ia ingin langsung bangun, namun ketika netra setengah terpejamnya menangkap tubuh mulus Jeon Jungkook yang hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang sintalnya, Kim Taehyung memutuskan untuk menarik guling untuk menutupi wajahnya.

'Apa yang diakukan kelinci itu?' Taehyung bergumam dalam hati. Ia hampir mengumpat karena jantungnya berdetak kencang saat Jungkook berdiri membelakanginya dan sibuk mengobrak-abrik almari pakaiannya, entah mencari apa.

Bokong montok itu bergerak-gerak ringan mengikuti gumaman bernada lembut yang mengalun perlahan dari bibir pemuda Busan.

Terkutuklah Kim Taehyung yang berpura-pura tertidur saat sesosok malaikat setengah telanjang dengan polosnya melepas lilitan handuk di pinggangnya.

Dengan kurang ajar, tubuh berkulit putih susu itu berbalik, menghadapkan bagian depannya ke arah Taehyung, lalu berbalik lagi ke arah cermin sebelum mengangkat sebuah kain di tangan kanannya. Sepasang onyx-nya menatap dirinya sendiri melalui cermin, lalu tersenyum lebar. Untung saja yang lebih tua sudah menutupi wajahnya dengan guling, jadi ia dengan aman bisa mengamati.

"Ehehe… Taetae hyungie, pinjam celana dalam. Besok kukembalikan kalau sudah kucuci." gumamnya ceria seraya mengenakan celana dalam berwarna maroon milik kekasihnya. Sedikit terlalu ketat di bagian pinggang, tapi itu sungguh sangat sexy. Catatan: ini menurut Kim Taehyung.

Sebagai catatan tambahan, Kim Taehyung merasa beruntung karena telah bermain solo pagi tadi. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi saat sepasang matanya disuguhi kegiatan erotis seperti ini.

Setelahnya, Jungkook mengenakan pakaiannya semalam, tanpa memasang kemejanya, hanya celana panjang ketat dan kaos warna hitam.

"Hmm…" gumamnya saat mematut diri di depan cermin, tangan kanannya menepuk-nepuk ringan perutnya. "Sepertinya aku jadi gendut."

Taehyung terkekeh melihat kekasihnya yang memutar tubuh beberapa kali demi mengamati tubuhnya sendiri. Namja bermarga Kim menyerah, ia tak lagi bisa berpura-pura tidur.

"Kookie, apa yang kau lakukan?" ucapnya menurunkan guling dari wajahnya. Suaranya serak, khas oorang bangun tidur.

Yang dipanggil menoleh, ia berjalan mendekati ranjang, lalu mendudukkan diri di samping kekasihnya yang juga mulai duduk. Jungkook mengadu, "Hyung, aku jadi gendut."

Pemuda Kim tertawa renyah. "Sebelah mana yang gendut? Kau itu sexy."

Namja bersurai wine merona parah. Ia memukul bahu kekasihnya hingga sang kekasih mengaduh protes. Setelahnya, bibir cherry itu mengerucut dan pipinya langsung menggembung.

"Aku serius." gumam Taehyung memeluk Jeon muda. "Mana senyum untukku, hmm?"

"Ish…" kedua lengan Jungkook mendorong seniornya. "Hyung belum mandi. Jangan dekat-dekat."

Sang sunbae terbahak. "Ayolah, kau saja yang terlalu rajin. Untuk apa mandi pagi-pagi begini?"

"Aku bukan hanya sudah mandi." pemuda Jeon menyeringai. "Aku juga sudah makan bersama Mom, Dad, Jin hyung, dan Namjoon hyung. Kau satu-satunya yang belum sarapan. Dan sebenarnya, ini sudah jam sembilan."

"Hah?" Taehyung langsung mengedarkan pandangannya mencari ponsel, begitu mendapatinya, ia langsung menilik kombinasi angka di bagian atas layar. Pukul sembilan lebih empat belas. "Kenapa tidak membangunkanku untuk sarapan? Kau istri yang kejam, sayang."

Jungkook terdiam, bukan karena protes yang dilayangkan Taehyung, namun karena sang kekasih menyebutnya sebagai istri.

"Kookie?" tanya yang lebih tua menyadarkan lamunan Jungkook yang langsung berdehem untuk menghilangkan kegugupannya. Tak dapat dipungkiri wajah yang lebih muda memerah karena tersipu.

"Jin hyung ingin sarapan bersama, tapi tidak ingin melihat wajahmu."

Taehyung mendengus. Kakak iparnya yang sedang hamil mulai meminta yang aneh-aneh. Jangan-jangan sebentar lagi dia akan ngidam ingin melihat Kim Taehyung dan Jeon Jungkook menikah.

Yah, kalau yang itu… semoga saja.

"Tapi aku sudah mengambilkan sarapan untukmu karena Namjoon hyung bilang kau tidak boleh keluar kamar sebelum jam sepuluh. Aku takut kau akan kelaparan." Jungkook melirik nakas Taehyung. Di atasnya terdapat sepiring nasi dengan berbagai lauk, juga segelas air putih. "Semoga itu cukup."

Taehyung terkekeh. Tangannya terulur untuk mengusak rambut sang kekasih yang langsung mengerang protes. Namun entah mengapa, erangan itu berubah menjadi seringaian jahil.

Jeon Jungkook berdehem, lalu duduk dan menatap kekasihnya dengan sorot serius. "Soldier V, kau ingin makan dulu atau mandi dulu?"

Dan yang lebih muda terbahak setelahnya.

"Astaga, apa yang mom katakan kepadamu? Kemari kau kelinci nakal!"

Masih dengan gelak tawanya, Jungkook berusaha sekuat tenaga menghindari kedua tangan Taehyung yang mencoba menggelitiki perutnya. "Hyuuuung! Hentikaaaan! Ahahahaaaa…. Mommy bilang, dulu ahahaha kau terkena sindrom kelas delapan dan menolak untuk dipanggil Kim Taehyung. Kau bilang dirimu ahahahadalah soldier V, pasukan terhebat dari planet Victory."

Detik itu juga, Taehyung bersumpah akan menuang liquid eyeliner mahal milik sang bunda ke dalam wastafel.

"Menyebalkan." gumam Tae pada akhirnya. Ia menarik kedua pipi Jungkook hingga si pemuda kelinci berteriak minta ampun.

"Uhh, sakit." protesnya mengelus kedua pipi yang memerah. "Nanti kalau melar bagaimana?"

Taehyung hanya terkekeh, ia memeluk gemas tubuh berbalut kaos hitam itu. "Biarkan saja. Biar kau tambah gembul."

"Nanti aku terlihat gendut."

Sejujurya Jungkook tidak terlalu memperhatikan penampilannya. Ia tidak ambil pusing dengan berat badannya, tatapi setelah bertemu dengan seseorang yang hampir membuat hubungannya dengan sang kekasih berakhir, seorang yeoja cantik yang ia tidak mau sebut namanya. Jungkook merasa harus mematut dirinya agar selalu terlihat sempurna di hadapan seorang Kim Taehyung.

"Kuberitahu satu rahasia." gumam pemuda Kim tepat di telinga Jeon muda. Setengah menyeringai ia berkata, "Aku sangat suka pada yang gembul-gembul. Terutama kekasihku yang suka sembarangan membuka handuknya di hadapan singa yang sedang tidur."

Jungkook mendongak cepat. "A -apa yang hyung bilang?"

"Tidak ada." Taehyung terkekeh, ia beranjak dari kasurnya, berjalan menuju kamar mandi. "Hanya saja, aku melihat kekasih manisku mengamati tubuh telanjangnya di depan cermin. Itu sangat menggoda, kalau kau mau tahu."

Dan kedua pipi Jungkook serasa terbakar.

.

.

Pukul sebelas siang, mobil hitam milik Kim Taehyung berhenti di depan apartemen Jeon Jungkook. Pemuda pirang yang duduk di belakang kemudi diam saja, tanpa membukakan pintu untuk kekasihnya. Bahkan menoleh pun tidak.

"Hyung marah padaku?"

Taehyung tidak menjawab.

"Karena aku janji akan menemani Jimin pergi berdua saja?" melihat sang sunbae tidak memberikan jawaban apapun. Jungkook memasang wajah melasnya. "Baiklah, aku akan bilang Chim hyung kalau aku tidak bisa."

Dan Taehyung menghela nafas. Tanpa mematikan mesih mobilnya, ia menoleh ke arah sang kekasih dan mencondongkan tubuhnya. "Aku tidak marah padamu."

"Sungguh?"

Bungsu Kim tersenyum tipis. Tangannya terulur mengacak rambut sewarna anggur merah milik hoobae manisnya. "Aku hanya sedang kesal. Mom seenaknya saja masuk ke kamarku hanya karena kau berteriak. Dia bahkan menendang pintu kamar mandiku hingga jebol dan menjewer telingaku seenaknya."

"Ma -maafkan aku." Jungkook menunduk dalam.

"Bukan salahmu, mom yang harusnya bertanya terlebih dahulu, bukannya dengan seenaknya menuduhku telah melecehkanmu." sebelah tangan Taehyung mengusap sayang pipi kekasihnya.

Sedetik setelah Kim Taehyung menghilang di balik pintu kamar manidnya, Jungkook berteriak karena malu. Ia sungguh malu karena sang kekasih ternyata sudah bangun ketika ia bercermin tanpa busana. Baekhyun yang sepertinya mendengar itu langsung masuk ke kamar bungsunya. Saat mendapati Jungkook yang menutup wajahn dengan kedua tangan dan bantal yang terlempar hingga pintu kamar mandi, seenaknya saja ia menendang pintu tak berdosa itu dan menjewer telinga putranya hingga memerah parah.

Untung saja Jungkook langsung menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Kalau tidak, Taehyung mungkin sudah tamat terkena jurus hapkido ibunya.

"Kau akan pergi jam berapa?" Tanya yang lebih tua pada akhirnya. Ia mengecup singkat pipi Jungkook, membuat yang lebih muda mengulurkan tangannya untuk membelai telinga sang kekasih yang masih memerah.

"Jam enam. Jimin bilang ingin ke outlet J-Horse. Dia ingin tahu yang namanya Hoseok itu seperti apa. Ini semua gara-gara hyung yang menakut-nakutinya bahwa Hosoek hyung bisa saja merebut Yoongi hyung darinya."

Taehyung tertawa lepas. Hubungan Jimin dan sahabatnya memang sudah membaik, bahkan degan mencurigakan, mereka semakin menempel satu sama lain. Terlepas dari itu, sebenarnya namja bersurai pirang sungguh belum yakin dengan status hubungan mereka.

"Jangan pulang terlalu malam."

Jungkook mengangguk, mengalungkan kedua lengannya ke leher senior Kim, lalu memejamkan matanya.

"Dasar menggemaskan." gumam Taehyung sebelum menempelkan bibirnya ke bibir cherry Jungkook. Kedua tangannya memeluk pinggang sang kekasih sementara bibirnya mengulum lembut.

Kim Taehyung tidak akan melakukan yang lebih dari kuluman ringan atau otak sehatnya akan kembali membayangkan tubuh mulus kekasihnya.

Ia tidak boleh kelepasan.

Jungkook membalas kulumannya. Ia menghisap lembut sebelum menjauhkan wajahnya. "Hyung ada rencana apa weekend ini?"

Kim muda menggeleng ringan. "Kembali ke apartemen untuk mengerjakan take home test yang mulai diberikan oleh beberapa dosen."

"Ahh… aku jadi ingat kalau Namjoon hyung juga sudah memberi ujian, dan aku belum mengerjakannya."

"Nah, itu salah satunya. Punyaku harus dikumpulkan besok senin." ucap bungsu Kim menarik hidung kekasihnya.

"Umm… jadi akhir pekan ini tidak bisa main?"

"Fokus ujian, baby. Aku akan menghukummu kalau sampai ada nilai di bawah angka 80." gumam Taehyung sebelum mengecup hidung Jungkook.

Walau dengan berat hati, karena membayangkan dirinya tidak bisa bertemu dengan sang kekasih dan menghabiskan waktu bersama seperti akhir pekan biasanya, Jeon Jungkook melangkahkan kaki keluar dari mobil seniornya, dan sebelum benar-benar menutup pintu mobil, Jungkook mendengar suara rendah sunbae kesayangannya mengucapkan kalimat yang membuat detak jantungnya menggila.

"Liburan nanti aku akan ke Busan. Tidak ada Yoongi hyung, tidak ada double date. Hanya ada aku yang akan menemui orangtuamu."

.

.

"Jadi sainganku punya usaha seperti ini?" gumam Park Jimin sesampainya ia di depan sebuah outlet yang cukup ramai. Jungkook yang mendengarnya hanya bisa memutar bola mata. Sebenarnya dia ingin sekali memberitahukan kepada sahabat bantetnya kalau Yoongi dan Hoseok adalah saudara sepupu. Hanya saja, Jimin pelit sekali ketika ditanya perihal hubungannya dengan senior Min. Itu membuat Jungkook ingin membalas dendam dengan membiarkan pemuda Park merasa insecure dengan kehadiran sosok Jung Hoseok.

Mereka berdua turun dari mobil dan langsung disambut dengan senyum sejuta watt dari Hoseok yang saat itu berjaga di belakang meja kasir. Dia memang selalu turun tangan dalam urusan bisnis setiap kali memiliki waktu luang. Ia meminta salah satu pegawainya untuk menggantikan tugasnya, sementara ia sendiri langsung menghampiri Jungkook.

"Hai, Kook! Tumben kau tidak bersama Taehyung."

Kedua namja yang sudah saling kenal itu melakukan high-five.

"Aku bersama temanku. Taetae hyung sedang mengerjakan ujian take home."

Pemuda yang memakai kemeja lengan panjang berwarna hijau tua dengan desain santai, juga celana pendek bermotif army tersenyum ramah kepada namja yang berdiri di samping Jungkook.

"Ah, ini Jimin. Dia teman sekelasku, kami sudah berteman sejak kami masih di Busan."

"Hi, Jimin. Aku Jung Hoseok." Hoseok mengulurkan tangannya. Jimin langsung menjabat dengan menunjukkan senyum yang tak kalah lebar dari senyum pemilik J-Horse.

Jungkook yang melihat itu hanya bisa menahan kekehannya.

Park Jimin benar-benar all out untuk bertemu dengan rival-nya. Ia mengenakan jaket denim yang menumpuk kaos putih ketat yang dikenakannya. Bawahannya ripped jeans berwarna hitam. Ia juga mengenakan combat boots warna hitam. Sebuah topi berwarna putih menutupi surainya yang kini berwarna hitam.

"Kau keren." gumam Hoseok mengacungkan jempolnya ke arah pemuda Park. Yang diacungi langsung tersenyum lebar.

"Thanks, kau juga beken. Kemejamu bagus."

Serius. Jeon Jungkook merasa percakapan mereka seperti percakapan eomma-nya yang bertemu dengan teman lama atau semacamnya. Intinya, percakapan ala ibu-ibu. Dengan sengaja, namja bersurai merah meninggalkan kedua orang yang masih saling memuji itu. Bukannya apa-apa, Jeon muda hanya mau memberikan waktu kepada sahabat terbantet sejagad raya agar ia menyadari bahwa pemuda yang dianggapnya rival, sejatinya adalah sepupu dari senior yang ditaksirnya.

Jungkook langsung berjalan menuju ke deretan celana jeans yang dipajang di deretan belakang. Ia ingin membeli beberapa potong celana yang tidak terlalu ketat. Taetae hyung-nya bilang, sebaiknya Jungkook tidak mengenakan celana ketat.

Alasannya? Jungkook tidak tahu.

Sementara itu, duo beken asik berbincang dan memilah-milah potongan baju. Bermodal otak dagang yang sudah terasah selama beberapa tahun terakhir, Jung Hoseok menawari pemuda Park beberapa produk andalannya. Ia menawarkan jaket dengan warna sunset dan bayangan pohon kelapa yang nyiur melambai di tepi pantai.

Awalnya Jimin merasa ragu dengan jaket yang ditawarkan kawan barunya. Namun ingatannya yang sangat kuat tentang Min Yoongi membawa gambaran sebuah foto yang diunggah di akun instagram sang senior ke dalam otaknya.

"Yoongi hyung sepertinya punya kaos dengan gambar begini." gumamnya tanpa sadar saat membolak-balik jaketnya. Ia mengamati setiap sudut gambar pohon kelapa dan warna hangat yang sungguh menggoda untuk dibeli.

"Min Yoongi?" ulang Hoseok mendapat anggukan dari Park muda. "Kalau yang kau maksud adalah kaos lengan panjang berwarna cerah dengan potongan lengan bagian bawah berwarna putih, dia membelinya di sini. Sayang sekali kaos itu sudah sold out. Dan ini adalah potongan terakhir dari jaket dengan tema sunset by the sea."

"Aku ambil ini." sahut Jimin cepat. Bagaimanapun ia tidak mau kehilangan kesempatan memiliki sesuatu yang seragam dengan pujaannya.

"Ngomong-ngomong, Yoongi hyung tadi di sini."

Dan Park Jimin menoleh cepat. Sementara Hoseok memilah-milah deretan long sleeves di hadapannya.

"Katanya dia ingin menginap."

Oh. Jimin seolah ditampar oleh pikirannya sendiri. Jung Hoseok adalah rival, dan dia baru ingat itu. Kau genius, Park.

Dan sedekat apa hubungan mereka sampai-sampai Yoongi hyung sayang-nya ingin menginap segala?

"Ah, itu dia. Yoongi hyung!" namja berotak dagang memekik riang. Ia melambaikan tangannya ke arah belakang Jimin yang juga langsung mengikuti arah pandang pemuda Jung.

Ia tersenyum lebar begitu mendapati sang senior berjalan ke arahnya, diikuti Jeon muda yang senyum-senyum sambil menenteng dua buah celana berbeda warna.

"Yo, Jim. Kau di sini."

Yang disapa hanya ber-ehehe ria. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kau bilang mau mengerjakan ujian."

Mati kau, Park Jimin.

"Kenapa kau malah di sini bersama Jungkook?"

Wajah datar Min Yoongi serta tatapan menyelidik dari sepasang mata sipitnya sungguh membuat Jimin mati kutu. Tadi sore memang dia bilang akan menghabiskan waktu di apartemennya untuk mengerjakan ujian take home. Nyatanya, ia malah berbelanja.

Berdua saja.

Dengan Jeon Jungkook.

Mungkinkah Min Yoongi cemburu?

"Ahaha itu… " pemuda bertopi putih tergagap, ia melirik sahabatnya beberapa kali untuk meminta bantuan. Sialnya, Jungkook malah sibuk melihat-lihat baju. "Tadi Jungkook minta diantar untuk membeli celana. Katanya Taehyung sunbae melarang Jungkook untuk memakai celana ketat."

Terima kasih kepada Jeon muda yang kelewat cerewet hingga menceritakan segalanya kepada Jimin. Semuanya, termasuk adegan Kim Taehyung yang dijewer eomma-nya.

"Eh?" merasa namanya disebut-sebut. Jungkook langsung menoleh. Awalnya ia berniat protes, namun melihat tatapan melas dari si bantet, ia jadi tidak tega. "Habisnya Taetae hyung cerewet sekali. Tapi ujian yang harus dikerjakannya banyak sekali, jadi aku menyeret Jimin. Yoongi hyung marah ya?"

Yoongi menghela nafas panjang. Mana bisa ia marah setelah melihat tatapan anak anjing yang dilayangkan oleh kelinci di hadapannya? Yang ada, ia malah mengulurkan tangan dan mengacak surai wine Jungkook. "Lain kali, kau bisa menelfon sepupuku. Bilang saja baju seperti apa yang kau inginkan. Biarkan dia mengantarkan padamu."

Hoseok langsung melayangkan protes, tentu saja. Sejak kapan J-Horse menyediakan layanan delivery? Terlepas dari itu, ada sesosok bantet yang menatap pujaannya dengan mata membulat yang berbinar.

Yoongi hyung bilang 'sepupuku' saat mengacu pada Jung Hoseok.

Jimin tersenyum lebar sampai kedua pipinya terasa ngilu.

"Lebih baik kalian segera pulang dan mengerjakan tugas. Jangan sampai kalian mengerjakannya pada malam sebelum dikumpulkan."

Pemuda Park mengangguk patuh. Ia bahkan tak lagi mempermasalahkan senior Min yang akan menginap di rumah Hoseok. Toh, mereka sepupu, jadi tidak ada salahnya saling menginap. Dia saja pernah menginap di tempat Jungkook beberapa kali, begitu juga sebaliknya.

Malam ini, Park Jimin mendapatkan sebuah pelajaran berharga. Jangan percaya pada apapun yang dikatakan senior alien yang menjabat sebagai kekasih sahabatnya kecuali ada bukti konkret dari segala omongannya. Tambahan, Jeon Jungkook yang polos sangat penurut jika berhubungan dengan si alien, jadi jangan andalkan informasi darinya. Pemuda bergigi kelinci itu akan dengan senang hati bersekongkol dengan makhluk absurd sekelas Kim Taehyung kalau memang diminta. Tipe pasangan setia yang berbahaya bagi pemuda minim informasi sekelas Park Jimin.

.

.

Jeon Jungkook benar-benar disibukkan dengan ujiannya. Hampir seluruh ujian untuk mahasiswa jurusan sastra adalah ujian take home, dan biasanya, dosen akan memberikan ujian sebelum jadwal yang ditentukan oleh universitas. Sebagian mahasiswa dari jurusan lain akan mengolok mahasiswa sastra yang tidak memiliki waktu untuk bersantai sebelum ujian. Ucapkan selamat tinggal untuk minggu tenang. Namun, pada akhirnya, pasukan sastra yang akan tertawa di akhir karena pada ujian minggu kedua, sudah tidak ada ujian yang harus mereka kerjakan. Dengan kata lain, mereka akan liburan lebih awal

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Akhir pekan ini memang hanya ujian dari Dosen Kim yang harus dikerjakan Jungkook, dan sejujurnya ia sudah menyelesaikannya sejak beberapa jam yang lalu.

Minggu malam, dan ini masih pukul delapan malam. Namun sang kekasih benar-benar tidak menghubungi pemuda bersurai wine sejak kemarin kalau bukan Jungkook yang menghubungi terlebih dahulu. Itupun hanya dijawab seperlunya.

Jungkook tahu, Taehyung memiliki tiga ujian yang harus diselesaikan, tapi tepat saja… kangen.

Baru saja akan mengirimi pesan, sebuah notifikasi yang berasal dari akun instagram menarik perhatian pemuda bergigi kelinci. Ia langsung senyum-senyum sendiri setelah membuka pemberitahuan yang berisi akun kekasihnya menandai akunnya dalam sebuah foto.

.

Kim_taemvan: Sitting beside your….

.

Senyum Jungkook berubah menjadi pout, pipinya langsung menggembung begitu melihat foto yang diunggah sang senior menyebalkan.

Jungkook terlihat sedang serius menatap lurus ke depan, sementara di sampingnya, seorang pria yang memakai eyeliner tebal dan berpakaian rapi melirik ke arah kamera dengan wajah yang tak kalah serius. Kalau tidak salah ingat, saat itu Jungkook sedang nonton televisi bersama Baekhyun di ruang tengah.

Setelah insiden penjeweran oleh seorang ibu terhadap putra bungsunya, Jungkook menunggu Taehyung yang sedang mandi bersama Baekhyun yang menunggu sang suami. Kedua Kim senior itu akan pergi ke kantor untuk menemui investor kurang kerjaan yang berkunjung di akhir pekan.

Jungkook bahkan tidak sadar dirinya terlihat begitu tegang saat menonton Poror yang terpeleset salju. Dan untuk apa sang kekasih menguggahnya dengan caption yang mencurigakan.

Beberapa detik setelahnya, berbagai komentar mulai muncul.

J_minswag: kim_taemvan sunbae? U look a bit… different

Jin_dan_joon: aigoo~ SITTING BESIDE YOUR MOTHER-IN-LAW! Mom looks super swag, jung_biscuit juga manis. Aku suka kalian, untung tidak ada Tae-nya kkkk~

J_minswag: mwo? 'Tidak ada Tae'… lalu itu siapa?

Jung_biscuit: hate U kim_taemvan

Min_swaggi: itu kim_taemvan 's mom, taruhan denganku, dia terlihat spt si alien, versi normal. Wth with Ur face, jung_biscuit. (j_minswag)

Kim_taemvan: nice caption jin_dan_joon. Love you too jung_biscuit

J_minswag: astaga, bibi Kim terlihat masih sangat muda!

Jung_biscuit: aku nonton pororo, dia terpeleset, kasihan min_swaggi

Jin_dan_joon: 12 hours before your due date kim_taemvan min_swaggi no late submission. And, it's 24 hours b4 Urs jung_biscuit j_minswag

Jung_biscuit: aku sudah selesai, Sir jin_dan_joon

Kim_taemvan: akun selalu dipegang Namjoon hyung di saat yang tidak tepat

Min_swaggi: wtf

.

Jungkook terkekeh, ia berani bertaruh bahwa kedua seniornya sengaja tidak menandai akun yang detik itu dipegang Dosen Kim. Ia sebenarnya membaca beberapa komentar dari akun-akun teman sekelasnya, maupun teman sekelas kekasihnya, hanya saja, Jungkook enggan menanggapi.

Uhh.. rasanya jadi kangen kepada sunbae-nya. Mungkin menelfonnya sebentar tidak akan mengganggu aktifitas Taehyung. Lagipula barusan ia sempat mengunggah foto, jadi kemungkinan Taetae hyung sedang longgar.

"Hyung!" pekik Jungkook begitu nada sambungnya berhenti dan digantikan dengan suara gumaman dari seberang sana.

"Sebentar, aku pasang headset dulu."

Jungkook mengangguk, walau tentu sang kekasih tidak bisa melihatnya. Ia lalu melakukan hal yang sama, memasang headset pada ponsel pintarnya. Sementara itu, netranya terfokus pada layar laptop yang menampilkan komentar-komentar pada postingan sang senior.

"Sudah." ucap Taehyung dengan suara rendahnya. Samar-samar Jungkook bisa mendengar keyboard yang berbunyi. Pasti senior Kim masih berkutat dengan tugasnya.

"Sudah makan?" tanya Jungkook basa-basi. Tangan kanannya men-scroll tampilan di layar komputer lipatnya, sementara yang kiri memainkan kabel alat dengar yang dipakainya.

Taehyung menggumam singkat, Jungkook mencebik.

"Masih banyak ya?" Tanya Jungkook pada akhirnya. Kalau memang sang kekasih masih sibuk mengerjakan, mungkin lebih baik Jungkook menutup telfonnya saja.

"Tinggal ujian dari Namjoon hyung. Yang dua sudah selesai. Aku ngantuk sekali, semalam aku hanya tidur dua jam."

"Uhh…" Jungkook tidak bisa membantu, dan dia sangat kesal. "Semua dikumpulkan besok?"

"Tidak juga." Taehyung menjeda. Jungkook mendengar suara gesekan kertas beberapa kali sebelum namja bersurai pirang di seberang sana menghela nafas. "Yang dua dikumpulkan hari Selasa dan Rabu."

Kali ini Jungkook yang menghela nafas. Jelas-jelas tugas dari Namjoon hyung dikumpulkan besok, kenapa sang kekasih malah menyelesaikan kedua tugas yang due date-nya belakangan?

"Kangen…" gumamnya Tanpa sadar.

Taehyung terkekeh ringan. Padahal mereka tidak bertemu hanya selama beberapa puuluh jam, dan Jeon manis sudah mengeluh dengan rengekan yang menggemaskan.

"Makanya aku menyelesaikan semuanya, agar besok kita bisa kencan. Yah, walau hanya makan siang di kantin setelah aku mengumpulkan ujian kehidupan yang sedang kukerjakan ini." terdengar tawa bernada rendah dari ujung sambungan. "Besok kau ada ujian apa?"

"Ada dua ujian di kelas. Jam sembilan dan jam satu siang. Aku malas sekali. Untuk apa mengungkit-ungkit sejarah yang materinya banyak sekali? Memangnya move on sangat susah ya?"

Taehyung terbahak. Tanpa melihat pun ia tahu kekasihnya sedang menggembungkan pipinya kesal. "Belajar yang rajin."

"Iya… aku belajar kok."

Lalu mereka sama-sama diam. Jungkook sudah berpindah ke kasurnya dan memeluk guling. Ada aroma parfum Taehyung di sana, ia sangat suka. Diam-diam, Jungkook pernah menyemprotkan parfum kekasihnya ke gulingnya sendiri.

Agar berasa tidur dengan Taetae hyung.

Kekanakan dan sungguh menggemaskan.

"Kookie?"

"Hmm?" gumam yang lebih muda. Ia menghirup dalam-dalam aroma yang tertinggal di sana.

"Keep talking. I like your voice."

Pemuda Jeon terkekeh ringan. "Kau menyebalkan. Nanti tidak bisa konsentrasi, loh. Aku kan berisik."

"Mana ada yang seperti itu." Kim muda menjeda, mungkin ia terfokus pada pekerjaannya. "I like to hear your voice, it's like hearing the entire choir of angels singing."

Jeon Jungkook tersipu. Ia bahkan menenggelamkan wajahnya ke bantal, lalu berguling heboh tanpa menyadari sang kekasih bisa mengetahuinya dari suara berisik yang ditimbulkan. Jungkook sangat sadar, mendengar nyanyian malaikat bisa berarti dua hal; mungkin yang mendengarnya merasa bahwa ia sudah dekat dengan kematian dan seolah mendengar para malaikat memanggilnya, dan artian kedua adalah, orang yang mendengarnya merasa sangat nyaman dan dilindungi.

Kalau hal itu dikatakan oleh seorang Kim Taehyung untuknya, Jungkook lebih dari yakin bahwa maksudnya adalah yang kedua.

"Hyung menyebalkan."

"Aku tidak akan memungkiri itu. Kalau aku tidak menyebalkan, kau tidak akan jadi milikku saat ini."

"Aku tidak tahu harus bicara apa lagi."

"Bernyanyi saja untukku."

"Tidak mau."

Taehyung diam beberapa saat sebelum ia kembali berbicara. "Ceritakan padaku kisah Hamlet, atau Death of Salesman, Oedipus Rex, atau apapun."

"Kau ingin membuat otakku terbakar?"

"I wanna hear an angel singing."

Jungkook terus menolak dan Taehyung terus membujuk agar kekasihnya bercerita atau bernyanyi. Apapun itu asalkan Kim Taehyung tetap mendengar suara namja bersurai wine sementara ia sendiri menyelesaikan tugasnya.

Dan malam itu berakhir dengan Jungkook yang ketiduran karena lelah mendebat kekasihnya yang ngotot ingin mendengarkan suaranya.

.

Fifth Lesson: "I like to hear your voice, it's like hearing the entire choir of angels singing." (END)

.

.

Tiger mengucapkan banyak terima kasih untuk readers yang masih setia menunggu ff ini… ehehe. Jangan lupa baca ff I'm Home, yang tidak kalah abalnya dari ini *slap

Chapter depan, kita ke Busan ya. Oh, ya.. ada yang bisa nebak eomma sama appa-nya Jungkook siapa?

Dan entah mengapa Tae rada mesum di sini.. yha… mungkin dia sudah ngebet kawin, eh.. nikah sama Bunny.

.

Akhirnya, review please

I love you and thank you