"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.
Genre: Romance, Comedy (?)
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin | Park Jimin x Min Yoongi | Jung Hoseok (Jomblo Sejati) | PCY as Kim Chanyeol x BBH as Kim Baekhyun
Rated: T plus
Warning: Ambigu, typo tak tertahankan
.
.
Part VI: Something to Worry
"Sudah semua?"
Jungkook mengangguk. Dengan itu namja bersurai pirang menutup bagian belakang bagasi mobilnya, lalu menuntun sang kekasih untuk duduk di kursi penumpang bagian depan, setelahnya ia berjalan memutar untuk duduk di kursi kemudi. samping kekasihnya.
"Yakin tidak ada yang tertinggal?"
Pemuda bersurai wine mengerucutkan bibir, bersandari di kursinya, lalu melipat tangan di depan dada. "Ini sudah kesepuluh kalinya kau bertanya seperti itu, hyung."
"Oh, ayolah… jangan marah. Aku hanya takut kau kelupaan sesuatu karena kau hanya membawa satu koper kecil." Taehyung mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut pemuda Jeon. Ia tersenyum kecil, sementara Jungkook malah menggembungkan pipinya sambil membuka salah satu snack yang Taehyung bawakan untuknya.
"Aku hanya bawa beberapa potong baju dan buku. Memangnya apa lagi yang perlu kubawa?"
Taehyung terkekeh. Ia sendiri sebenarnya hanya membawa satu backpack berukuran sedang yang tidak berisi penuh, juga tas berisi oleh-oleh yang dititipkan ibunya.
"Baiklah, kita nikmati perjalanannya." gumam yang lebih tua sambil memberikan kecupan ringan di pipi gembil Jungkook. Setelahnya ia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
"Harusnya naik, Train to Busan." gumam Jungkook sambil mengunyah camilannya. Sepertinya dia masih sedikit kesal karena senior kesayangannya ngotot ingin mengendarai mobil, padahal Jungkook menyarankan perjalanan kereta saja yang lebih cepat dan Taetae hyung kesayangannya tidak perlu lelah menyetir, tetapi yang dikhawatirkan malah mengajukan sejuta alasan yang membuat namja bersurai wine mau tidka mau menurut. Mengingatnya membuat Jeon Jungkook kembali cemberut.
"Jangan cemberut, manis."sahut Taehyung sebelum tertawa. Ia mengecup kilat bibir Jungkook yang mengerucut sambil bergerak-gerak lucu karena mengunyah. "Naik kereta banyak zombie-nya."
Dan Jungkook hanya membalasnya dengan cubitan main-main di paha kekasihnya.
Kim Taehyung dan Jeon Jungkook akan berangkat ke Busan.
Park Jimin tidak bersama mereka. Ia berangkat terlebih dahulu menggunakan kereta. Bukan apa-apa, pemuda bertinggi badan hemat itu hanya menunjukkan sikap tahu diri. Atau lebih tepatnya, ogah menjadi orang ketiga ketika Jeon Jungkook dan Kim Taehyung menikmati perjalanan mesranya.
Park Jimin tidak mau diabaikan.
Sepanjang perjalanan, Jungkook banyak bercerita mengenai kedua orang tuanya. Dan itu sedikit banyak sejalan dengan yang pernah dikatakan Jimin. Ayah Jeon terkenal disiplin. Ketika masih junior high, Jungkook bahkan harus sudah berada di rumah sebelum jam enam. Kalaupun ada urusan, si anak tunggal harus memberi kabar. Ketika senior high, Jungkook diberi kelonggaran. Selebihnya, ia adalah ayah penyayang yang terkadang overprotective. Orang ini adalah alasan Jeon Jungkook belum bisa mengendarai mobil.
Ibu Jeon lebih overprotective. Ia akan memastikan putranya makan tiga kali sehari, mandi yang bersih, tidak begadang dan lain sebagainya. Menurut namja bersurai merah, ibunya bahkan menelfon setiap hari pada awal perkuliahan dulu. Jungkook mengaku dia melancarkan ancaman bahwa dirinya tidak akan pulang ketika liburan jika sang ibu masih menelfonnya setiap hari. Dengan berat hati, ibunya menurut dan hanya menelfon di akhir pekan.
Sejujurnya Taehyung pernah mendapati kekasihnya menerima telfon dari sang ibu, dan mereka ngobrol sangat lama. Jeon muda saja sampai menguap beberapa kali dan hampir ketiduran.
Mereka berhenti di rest area sebanyak tiga kali. Alasan pemberhentian pertama karena Taehyung kelaparan. Ini hanya alasan abal-abal yang ia ajukan agar kelinci kesayangannya mau menemainya makan. Akhir-akhir ini memang Kim Taehyung sangat memperhatikan pola makan kekasihnya, dalam artian, ia akan berusaha memberi makan hoobae kesayangannya banyak-banyak, baik itu camilan, makanan berat, buah-buahan, apapun.
Mereka tiba di kediaman Jeon tepat sebelum makan malam. Dan Jungkook merasa sangat gugup. Pasalnya, dia hanya bilang akan pulang bersama seorang teman, jadi kedua orang tuanya tidak tahu bahwa Kim Taehyung berstatus sebagai kekasih putranya.
Taehyung tahu ini, dan dia tidak mempermasalahkannya. Sebenarnya ia juga merasa gugup, namun gengsinya cukup besar sehingga ia memilih bersikap tenang. Ini rahasia, saking gugupnya, Taehyung sampai menahan buang air kecil saat menyetir, makanya ia harus berhenti di rest area untuk kedua dan ketiga kalinya dengan alasan pergi ke kamar mandi..
"Berikan salam, eomma suka sama yang sopan-sopan."
Taehyung terkekeh, lalu mengangguk singkat. Mereka berjalan memasuki pekarangan Jungkook yang lumayan luas setelah memarkirkan mobil Taehyung di samping beberapa mobil yang berjajar di sisi halaman yang sepertinya memang diperuntukkan sebagai area parkir.. Bukannya berjalan menuju bagian depan yang tampak terang dengan papan Jeon's House di atas pintu, Jungkook justru mengajaknya berjalan ke arah kiri, menuju pintu lain yang berada di seberang halaman.
"Rumahmu ada di samping guest house?"
Jungkook mengangguk. Seingat Taehyung, yang seperti ini tidak sepenuhnya bisa disebut guest house karena para pengunjung tidak benar-benar berbaur dengan keluarga Jeon. Konsep guest house pada awalnya adalah rumah dimana pengunjung bisa menginap dan menjadi bagian dari sebuah keluarga; menggunakan dapur yang sama, ruang makan yang sama, dan sebagainya. Hanya saja, di era modern, penginapan seperti milik keluarga Jungkook lebih mudah dikelola.
Pemuda Jeon sempat bilang kalau mereka memiliki ruang tengah yang sangat luas, yang menjadi penghubung rumahnya dengan bagian guest house. Di sana biasanya mereka akan nonton televisi bersama atau sekedar ngobrol.
"Aku gugup sekali."
"Harusnya aku yang bilang begitu." gumam Taehyung menarik nafasnya dalam-dalam. Jungkook baru saja mengetuk pintu rumahnya, dan mendengar suara sang appa dari dalam.
"Appa!" teriak Jungkook heboh saat seorang pria membukakan pintu untuknya. Dia langsung menghamburkan diri, lalu memeluk pria berpakaian santai dengan rambut yang setengah basah. Hidungnya mancung dengan mata yang menyipit karena tersenyum lebar. Ia terlihat berwibawa dengan beberapa gurat tipis di wajahnya. Taehyung dengan lancang memperkirakan bahwa kepala keluarga Jeon berusia lebih tua dari mom dan dad-nya.
Sejujurnya, jika sang kekasih tidak memanggilnya appa, pasti Taehyung sudah menendang pria itu. Naman yang bisa dilakukannya kini hanya tersenyum dan menunduk hormat padanya.
"Aduh, kau ini semakin gendut saja. Oh, appa suka rambut barumu." pria itu tertawa, membuat putranya menggembungkan pipi, lalu melepaskan pelukan.
"Aku tidak gendut," elak Jungkook. "Taetae hyung bilang aku chubby dan sexy, bukan gendut."
Dan sang appa semakin tertawa. Baginya, gendut dan chubby tidak ada bedanya. Dalam hati ia bersyukur, jika anak semata wayangnya bertambah subur, itu berarti hidupnya menyenangkan di Seoul.
"Jadi, ini teman yang kau ceritakan?"
Taehyung kembali memasang senyumnya, lalu membungkuk hormat. "Selamat malam, paman. Aku Taehyung, Kim Taehyung."
"Jeon Yunho." kepala keluarga Jeon tersenyum. "Kalian masuklah, di luar dingin."
Jungkook mengangguk semangat, lalu menyeret lengan kekasihnya untuk masuk. Mereka sengaja hanya membawa koper Jungkook dan tas oleh-oleh untuk keluarga Jeon. Bagaimanapun membawa backpack milik Taehyung sama saja seperti menunjukkan bahwa pemuda Kim pasti akan menginap, padahal ia belum meminta izi, dan itu tidak sopan. Jadi recanaya ia akan meminta izin kepada keluarga Jungkook terlebih dahulu. Dengan asal berjalan riang ke ruang makan sambil menyeret kopernya. Tanpa aba-aba ia menaruh kopernya di dekat pintu, lalu mencomot tempura yang tersaji di meja bersama berbagai hidangan untuk makan malam lainnya, memakannya begitu saja.
"Kookie-ya, cuci tangan sebelum makan." gumam Yunho menyentil dahi putranya. "Tapi sebelumnya, panggil eomma-mu dulu. Barusan dia ke depan karena ada yang check out."
Yang disuruh mengangguk, lalu berjalan meninggalkan ruang makan, meninggalkan Kim Taehyung yang mati kutu berada satu ruangan dengan calon ayah mertuanya. Berdua saja. Padahal mereka baru beberapa detik kenal.
"Taehyung-sshi, duduklah setelah mencuci tanganmu." Yunho menunjuk salah satu kursi yang mengelilingi meja persegi panjang dengan dua kursi di masing-masing sisi kanan dan kirinya. Ia tersenyum ramah. "Jungkook sebentar lagi akan kembali."
"Terima kasih, paman." Taehyung lalu mencuci tangannya. Setelahnya, ia duduk dan meletakkan tas berisi oleh-oleh dari Baekhyun untuk orang tua Jungkook di kursi sampingnya. Tentu saja setelah tuan rumah duduk terlebih dahulu. Menurut ibunya, ini bagian dari sopan santun.
Yunho tersenyum sejak tadi, mungkin saja beruang yang dibilang Jimin terlalu berlebihan…
"Jadi, untuk apa seorang kakak tingkat ikut adik tingkatnya pulang kampung di saat liburan?"
… atau tidak.
"Maaf?" pemuda Kim mencoba sopan, sejujurnya dia memang sedikit tidak paham dengan pertanyaan Yunho. Namun perasaannya.
"Ayolah, Taehyung-sshi, kau pasti tahu apa maksudku. Putraku bilang, kau adalah kakak angkatnya di kampus, dan sebelumnya, dia juga tidak pernah menyebut namamu ketika bercerita. Jadi, kenapa liburan semester ini dia tiba-tiba mengajakmu pulang?"
Mati kau, Kim Taehyung!
Namja bersurai pirang tersenyum kaku, ia berdehem lirih. "Aku ingin mengenal Jungkook lebih dekat."
"Mengenal lebih dekat?" Yunho membeo.
Taehyung mengangguk, dalam hati merasa ditusuk-tusuk oleh tatapan tajam kepala keluarga Jeon yang seolah mengulitinya hidup-hidup. Baru saja akan mengatakan hal lain, suara Jungkook yang melengking menarik atensi mereka.
"Eomma, aku sudah kelaparan. Cepatlah sedikit." seorang pemuda bersurai merah menarik lengan seseorang berwajah manis dengan mata bulat seperti milik Jungkook. Rambutnya berwarna coklat gelap, hampir sama dengan warna rambut appa Jeon. Tubuhnya langsing dan dia terlihat -
"Jadi itu temanmu?"
-galak.
Taehyung berdiri dari duduknya, mengangguk hormat dan memberi salam kepada sosok yang melayangkan tatapan mengintimidasi padanya. "Selamat malam. Namaku Taehyung, Kim Taehyung. Senang berjumpa dengan Anda."
"Jeon Jaejoong." gumam eomma Jungkook singkat. Ia lalu duduk di sebelah suaminya menatap pemuda Kim dengan sorot menilai. Terlihat sekali.
"Ah, ini ada titipan dari eomma." Taehyung mengambil tas titipan ibunya, lalu menyerahkannya kepada Jaejoong yang menerima begitu saja. Kim muda mendapatkan gumaman terima kasih sebagai bonus.
"Nah, ayo kita mulai makan malamnya." Yunho berujar dengan senyuman setelah putranya duduk di sebelah sang tamu. "Taehyung-sshi, jangan sungkan."
Dan makan malam keluarga Jeon kali ini benar-benar meriah dengan Jungkook yang banyak bercerita tentang Taehyung, jalan-jalan mereka, dan lain sebagainya. Tantu dengan sedikit mengurangi bagian mesra walau kadang kelepasan. Yunho menanggapi singkat, sementara Jaejoong selalu berusaha mengganti topik pembicaraan. Keduanya sama-sama tidak terlalu nyaman dengan kehadiran Taehyung. Bedanya, sang appa masih tersenyum dan menunjukkan ramah tamah sebagai tuan tumah, dan istri-nya terang-terangan menunjukkan sorot mata yang seolah melubagi dahi pemuda Kim. Selebihnya, Jungkook lebih banyak diam ketika kedua orangtuanya mulai menanyai ini-itu kepada kekasihnya.
Taehyung merasakannya, bagaimana orangtua sang kekasih memberikan tatapan seolah mereka tidak menyukainya. Rasanya ingin kabur saja. Tapi kalau ia kabur, bagaimana Kim Taehyung akan mengantongi restu dari Tuan dan Nyonya Jeon?
"Jadi, Taehyung-sshi kalau sudah lulus kuliah ingin melakukan apa?"
Kim muda tersenyum ramah sambil meletakkan gelasnya, ia baru saja selesai dengan makan malamnya. Sejujurnya ini pertanyaan paling sensitif bagi mahasiswa tingkat akhir sepertinya. "Aku akan bekerja di perusahaan appa."
"Oh, bekerja di perusahaan milik orang tuamu?" Yunho membeo. Entah mengapa, Taehyung merasakan nada sinis di sana.
Sial.
Taehyung salah memilih kata, kalau seperti ini caranya, dia terlihat seperti anak manja yang hanya bisa minta ini-itu kepada orang tuanya. Bahkan pekerjaan pun masih menempel kepada mereka.
"Kakakmu saja menjadi dosen, kau tidak memiliki dream job selain yang disediakan orangtuamu?"
Disediakan orangtuamu.
Benar kan, mereka menganggap Taehyung manja.
Taehyung tertawa canggung. "Bukan seperti itu. Kalau ditanya, sebenarnya aku ingin sekali membuka coffee shop dengan perpustakaan yang bisa memfasilitasi kebutuhan membaca anak-anak dan orang dewasa. Bekerja di perhotelan menjadi salah satu jalan yang kupilih."
"Bagaimana bisa itu menjadi jalan untuk membuka coffee shop?"
"Dengan bekerja di sana, aku akan mengenal banyak orang; arsitek, investor, pengrajin kayu, pemahat patung dan lain-lain, bahkan tamu yang datang dari berbagai kalangan." namja bersurai jerami menarik nafas dalam. "Sejujurnya aku yakin banyak sekali coffee shop dengan konsep yang mirip seperti yang ingin kumiliki. Jadi, aku membutuhkan orang-orang ini agar konsep dan fondasi untuk coffee shop-ku benar-benar matang. Aku tidak mau setengah-setengah."
Rencananya belum terlalu matang, bahkan terkesan masih di awang-awang dan kurang terstruktur, kepala keluarga Jeon tahu itu. Walau begitu, ia tersenyum begitu lebar saat mendengar keinginan teman putranya. Taehyung memiliki keinginan dan tekad untuk mewujudkannya. Hal itu berbeda dengan ekspresi yang ditunjukkan priabertubuh langsing yang duduk di hadapan kekasihnya.
"Ah, ini sudah malam. Kurasa temanmu harus segera mencari penginapan dan beristirahat."
Pemuda bersurai wine mengeryitkan dahinya saat mendengar penuturan eomma-nya. "Taetae hyungie akan menginap. Dia tidur di kamarku."
"Tidak, Kook. Kasurmu sempit, dia tidak akan nyaman berada di sana." tutur Jaejoong.
"Kalau begitu menginap di guest house kita saja. Kata appa, tadi ada yang check out."
"Kamarnya belum dibersihkan."
"Tapi eomma…"
"Jeon Jungkook." tegas sang ibu dengan penekanan. Putranya langsung merengut.
"Appa…." ia mencoba merengek, minta bantuan kepada ayahnya, namun hanya menanggapi gelengan singkat.
"Tidak apa, Kook. hyung bisa cari penginapan di sekitar sini." pemuda bersurai jerami mengusak gemas kepala kekasihnya. Ia lalu beralih menatap kedua pria yang, semoga saja, kelak menjadi mertuanya, semoga saja. "Terima kasih untuk sambutan dan makan malamnya, benar-benar nikmat. Lain kali aku akan main lagi."
Taehyung menunduk hormat. Ia undur diri dan meninggalkan ruang makan dengan Jungkook yang mengikutinya, bahkan namja bergigi kelinci itu bersikeras untuk mengantarkan hingga mobil kekasihnya keluar halaman.
"Jangan cemberut begitu." Taehyung terkekeh, tangannya terulur melalui jendela yang diturunkan untuk mencubit bibir sang kekasih gemas begitu mereka sampai di jalanan depan rumah Jungkook. Putra tunggal Jeon sedikt menundukkan tubuhnya ke arah mobil, masih mencebik. "Mana senyuman manis untuk hyung, hm?"
Jeon muda malah semakin merengut. Kedua tangannya meremat lengan Taehyung, lalu menunduk dalam. "Maaf, hyung. Eomma dan appa tidak sopan padamu."
Yang lebih tua tersenyum lembut. Sebelah tangannya yang bebas mengusap puncak kepala Jungkook. "Jangan minta maaf, aku tidak apa-apa."
"Tapi mereka tidak biasanya begitu." hoobae manis mendongak, melayangkan tatapan anak anjing andalannya. "Mereka harusnya lebih sopan."
"Apa karena itu kau tadi lebih banyak diam saat mereka mulai bicara?"
Jungkook mengangguk pelan. "Aku sudah menginjak kaki eomma dan menendang lutut appa, tapi mereka malah semakin tidak sopan padamu."
Taehyung tertawa renyah. Rasa gemasnya terhadap Jeon Jungkook sungguh tak tertahankan, maka ia mencubit kedua pipi gembilnya, lalu mencium singkat bibirnya. "Dengarkan aku baik-baik."
Jungkook mengangguk patuh. Kedua lengannya mengalung di leher sang senior. Sejujurnya ini sebagai penebus atas rasa bersalah karena sikap kedua orangtuanya kepada Kim Taehyung jadi, walaupun ia harus mencondongkan tubuhnya dengan posisi yang tidak nyaman, bukan masalah.
Taehyung membalasnya dengan usapan di tengkuk. "Mungkin eomma dan appa-mu masih belum menyukaiku, tapi kita juga masih punya banyak waktu untuk meyakinkan mereka. Aku akan sangat berusaha. Kau tunggu saja hasilnya, ya?"
Yang ditanya malah menggeleng. "Aku tidak mau diam dan menunggu, aku akan berjuang bersamamu."
Taehyung terkekeh. Ia mengangguk sambil menatap lekat kedua onyx kekasihnya.
"Terima kasih, baby." gumamnya seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Jungkook. Kelinci manis memejamkan matanya, mengeratkan pelukan di leher sang kekasih. Ia sangat siap menyambut ciuman di bibir, namun yang ia dapatkan adalah sesuatu yang lembab dan hangat menyentuh keningnya sangat lama.
Taehyung mencium kening Jungkook.
"Besok, temani aku jalan-jalan. Aku ingin melihat sunrise bersamamu."
Pemuda Jeon mengangguk. Ia terkekeh ringan saat mendapati rectangle smile dari sunbae favoritnya.
"Rumah Jimin ada di ujung jalan. Keluarganya juga membuka guest house. Apa perlu kutelfonkan?"
"Tidak. Aku akan mencari sendiri. Biar berasa liburan." Taehyung tertawa renyah.
Ia lalu berpamitan sekali lagi kepada sang kekasih sebelum benar-benar meninggalkan kediaman keluarga Jeon. Ia masih memasang senyum tipisnya hingga saat berbelok di persimpangan, Kim Taehyung mengumpat habis-habisan setelah menepikan mobil.
"Saus tartar! Kepiting rebus! Kerang goreng! Saus tiram! Gurami bakar! Ayam saus kacang! Iga bakar! Steak wagyu! Es krim coklat! Churos! Bangtan Burger!"
Kim Taehyung mengacak surai jeraminya frustasi. Sesungguhnya ia ingin sekali mengumpat dengan berbagai macam kata-kata kasar dalam Bahasa Inggris yang ia kuasai jauh sebelum ia berkecimpung di dunia Sastra Inggris. Namun, karena rasa kesal dan marahnya disebabkan oleh Tuan dan Nyonya Jeon, alias pasangan yang sangat ia harapkan menjadi mertuanya kelak, mana berani Kim Taehyung mengumpati mereka? Jadilah nama-nama masakan yang lolos dari mulutnya.
"Bagaimana caranya agar aku mendapatkan restu mereka? Ini semua pasti gara-gara Mom yang seenaknya bermain drama waktu itu. Aku jadi kena karma sekarang." ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel pintar, lalu dengan tergesa menghubungi seseorang.
"Halo, Tae!" pekik suara dari seberang, membuat Kim muda refleks menjauhkan alat komunikasi itu dari telinganya. "Bagaimana? Kau sudah bertemu dengan orangtua Jungkook? Bagaimana mereka? Apa mereka menyukaimu? Mereka menyukaimu kan? Putraku yang tampan… mana ada orang yang tidak menyukaimu."
Taehyung tersenyum tanpa sadar. Hilang sudah rasa kesalnya saat mendengar ucapan antusias yang dilafalkan secepat shinkansen. Padahal niatnya ia ingin sedikit mengomel agar rasa kesalnya sedikit berkurang, tapi kalau begini caranya, mana tega Taehyung menghancurkan harapan orang yang telah melahirkannya itu.
"Aku baik, mom. Aku baru selesai makan malam dengan mereka."
"Benarkah? Seperti apa mereka?"
Kim muda terkekeh. Ia menghentikan menyandar di kursinya dan mengamati orang yang berlalu lalang. Ini masih pukul sembilan, tentu saja kawasan wisata masih lumayan ramai.
"Appa-nya bernama Jeon Yunho, dia berwibawa dan baik. Eomma Jungkook namanya Jeon Jaejoong, dia memiliki mata yang bulat seperti Jungkook, wajahnya juga manis. Walau kekasihku jauh lebih manis."
Baekhyun tertawa keras sekali. Taehyung terkekeh karenanya.
"Mana Jungkook? Mom ingin bicara padanya."
Senyum di bibir bungsu Kim hilang seketika. Ia bingung harus menjawab apa.
"Tae. Kau sedang tidak bersama Jungkook? Mom bisa menunggu kalau begitu. Ceritakan lagi tentang eomma dan appa Jeon."
Taehyung tertawa canggung, dan Baekhyun menyadarinya. Ia tahu betul ada sesuatu yang salah.
"Taehyung, kau menyembunyikan sesuatu dari Mommy?"
Yang ditanya menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya kuat-kuat. Ia tahu kalau dirinya tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dari Baekhyun. "Sebenarnya mereka tidak terlalu menyukaiku."
"Appa? Berani-beraninya… Berikan ponselmu pada mereka!"
"Mom, calm down. Mereka mungkin hanya kaget karena putranya membawa pulang kekasih yang sangat tampan, oke?" Jungkook memang belum mengungkapkan perihal status mereka dengan jelas di depan orangtuanya, namun Taehyung yakin kalau mereka sudah menyadarinya sejak pertama melihat bungsu Kim.
"Kau berbuat tidak sopan? Jangan buat Mommy malu dengan sikapmu."
"Aku sopan, Mom. Hanya saja…" Taehyung menggantung kalimatnya, bingung harus mengatakan apa. "Begini, Kookie itu anak tunggal, jadi anggap saja mereka sedang menilaiku. Semua orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, jadi…"
Lagi-lagi diam. Sejujurnya bungsu Kim ingin sekali bertemu dengan orang pertama yang memujinya tampan itu, orang yang selalu mengomel kalau mainannya hilang, orang yang selalu cerewet menyuruhnya belajar.
Ahh, Kim Taehyung benar-benar merindukan tepukan hangat di puncak kepalanya, tepukan dari sang bunda.
Terdengar helaan nafas dari seberang sambungan. "Mommy mendoakanmu dari sini, sayang. Kau berusahalah dengan baik. Jangan menyerah, oke?"
Taehyung terkekeh. Baekhyun tahu betul apa yang dipikirkannya, "Terima kasih, Mom. Kau yang terbaik."
Setelahnya, pemuda Kim menjauhkan ponselnya dari telinga hanya untuk melihat notifikasi pesan yang berasal dari Jungkook. Kelihatannya ia mencoba menghubungi Taehyung namun tidak bisa.
"Mom, sudah dulu ya. Jungkook menelfonku."
"Tunggu! Jungkook menelfonmu? Kau tidak di rumahnya?"
Taehyung tertawa lepas. "Tidak. Secara tidak langsung, eomma-nya tidak memperbolehkan aku menginap. Aku harus segera mencari penginapan di sekitar sini."
"Kau di kawasan pantai kan? Share location sekarang juga, biar Daddy carikan untukmu. Oh, dia sedang mengomel di meja kerjanya karena mendengar yang barusan Mom bilang."
Namja bersurai jerami hanya bisa pasrah menuruti kata ibunya. Ia bahkan bisa membayangkan ayahnya yang sedang sibuk, lalu Nyonya besar dengan seenaknya menambah pekerjaan sang suami untuk mencarikan penginapan. Daripada membantah dan menambah panjang pembicaraan, lebih baik ia menurut dan segera menghubungi Jungkook sembari menunggu kabar dari ibunya.
Maka setelah memutus panggilan dengan Baekhyun, ia langsung menghubungi kekasihnya.
"Ada apa, Kookie?"
"Kau lama! Menyebalkan!"
"Maaf, tadi sedang menghubungi Mom…." Taehyung memotong kalimatnya sendiri saat mendengar isakan dari seberang sana. "Jungkook, kau menangis?"
.
.
"Jadi, temanmu sudah pergi?" tanya Jaejoong begitu putra semata wayangnya masuk ke ruang keluarga. Ia langsung mematikan televisi dan memberikan isyarat kepada Jungkook untuk duduk di sofa, berhadapan dengannya.
Baru saja ingin membuat alasan agar bisa masuk ke kamarnya lalu tidur, sang appa memberikan perintah. "Jungkook, turuti ibumu."
Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas dan duduk. Wajahnya ditekuk, kelihatan sekali kalau kesal.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Yunho mencoba membuka percakapan. Ia tahu betul, dengan ini mereka bisa membicarakan pemuda yang tadi menjadi tamu mereka.
"Kenapa appa dan eomma bersikap seperti itu kepada Taetae hyung? Dia kan tamuku." protes Jungkook langsung mengerucutkan bibirnya. Ia marah, tentu saja. Kekasihnya diperlakan seperti itu. Jungkook diam bukannya tidak peduli, ia hanya sadar diri. Apapun yang dikatakannya akan mejadi boomerang yang semakin menyulitkan Kim Taehyung. Jeon Jungkook tidak pernah bisa melawan apa yang dikatakan orangtuanya, terutama sang eomma.
"Dia bukan teman biasa kan?"
Jungkook menunduk, ia meremat ujung kaosnya. Ia sangat menyayangi kedua orangtuanya, dan mereka pun jarang memarahi putra kesayangannya, kecuali ketika Jeon muda berulah.
"Jungkook.."
"Taetae hyung kekasihku."
Yunho menghela nafas berat, membuat Jungkook semakin menunduk dalam. Ayahnya tidak pernah mengatakan apapun jika ia berulah karena sang ibu yang akan banyak mengomel. Namun kali ini, sepertinya sang kepala keluarga akan ikut bicara.
"Apa yang appa bilang tentang pacaran?"
"Tidak boleh pacaran sebelum lulus." gumam Jungkook mengulangi kalimat ayahnya saat mewanti dirinya dulu. "Tapi appa, Taetae hyung itu -"
"Akhiri hubunganmu dengannya."
Bola mata Jungkook membulat, ia refleks mendongak, menatap Nyonya Jeon dengan mata bergetar seolah tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
"Dia anak manja, eomma tidak suka."
"Anak manja?" Jungkook membeo, ia melayangkan protes tak terima, tentu saja. "Taetae hyung tidak seperti itu, dia membantuku ini-itu, dengan sabar menghdapiku, bahkan beberapa kali membelikanku pakaian dan selalu memastikan aku makan teratur. Taetae hyung tidak manja… aku yang manja."
Suara Jungkook melemah, sepasang obsidiannya masih setia menatap sang eomma.
"Dan dia membanggakan itu?"
Jaejoong menjeda saat tak mendapatkan respon apapun dari buah hatinya yang nampak bingung dengan maksud kalimatnya.
"Dia bangga karena bisa membelikanmu pakaian dengan uang milik orang tuanya? Apa kau tidak sadar dia sangat bergantung kepada mereka? Mobil itu…" Nyonya Jeon mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan. "Aku yakin itu dibeli dengan orang tuanya. Semua fasilitas, pasti dari mereka. Dan dia mengajakmu jalan-jalan dengan menghabiskan uang mereka. Kau suka yang seperti itu? Kau ingin pria yang menjadi ayah dari anak-anakmu adalah pria yang selalu bergantung pada orang tuanya? Memalukan!"
Dada Jungkook bergemuruh. Ia sangat marah ketika ibunya sendiri mengatai Kim Taehyung seperti itu. Jungkook tahu betul seperti apa kekasihnya, dan walaupun terkadang ia sangat menyebalkan, tapi pemuda bersurai pirang itu adalah seorang yang baik. Yang terbaik untuk Jeon Jungkook.
"Dia tidak seperti itu." bela Jungkook, suaranya sedikit bergetar. "Hyung bilang dia tidak akan memberikan apapun untukku kecuali itu dari hasil kerjanya sendiri."
"Dan kau percaya begitu saja?"
Pertanyaan menusuk ibunya berhasil membuat Jungkook bungkam. Bukannya meragukan, ia hanya sadar bahwa pria bersurai coklat tua itu berada di titik dimana ia benar-benar Tidak menyukai Taehyung. Jungkook sadar, alasannya mungkin hanya karena Jaejoong belum mengenal sang kekasih, tapi tetap saja ia merasa kesal luar biasa.
"Sudahlah, Boo. Ini sudah malam, biarkan Jungkook istirahat dulu." Yunho merangkul pundak istri-nya, lalu mengecup lembut pelipisnya sebelum beralih menatap sang putra. "Kookie, beristirahatlah malam ini. Kita lanjutkan ini besok pagi."
Jungkook mengangguk singkat dan langsung berdiri, namun belum sempat berjalan barang satu langkah saja, eomma-nya kembali bicara.
"Pokoknya tidak ada yang namanya jalan-jalan dengan si Kim manja itu."
"Eomma!" protes Jungkook, nada bicaranya sedikit naik.
"Tidurlah. Jangan pikirkan apa yang dikatakan eomma-mu." Yunho mencoba menengahi, sejujurnya ia juga tidak terlalu menyukai keberadaan Kim Taehyung. Namun karena sang istri secara terang-terangan mengatakan itu kepada putranya, sebagai kepala keluarga ia harus bisa menengahi karena, sungguh! Saak Jeon Jungkook dan Jeon Jaejoong bertengkar, telinganya akan berdengung sakit. Akurnya juga lama. Jaejoong akan tidak mood memasak, sementara Jungkook akan ogah membantu beres-beres rumah. Dibaca: bencana untuk Jeon Yunho.
Namun sepertinya, sang putra malah ingin menyambut undangan perang ibunya. "Terserah eomma. Besok aku akan pergi pagi-pagi sekali untuk melihat sunrise dengan ke -ka -sih -ku."
Kepala Yunho berdenyut sakit. Boo tercintanya terkadang kekanakan, dan ia sadar sang putra jauh lebih kekanakan.
"Lakukan itu dan ucapkan selamat tinggal untuk sarapanmu."
"Oh, hai sarapanku yang bahkan belum dimasak… selamat tinggal karena besok aku akan sarapan berdua saja dengan Taetae hyung-ku."
"Jungko -"
"Jeon Jungkook." ucap sang ayah tegas memotong protes ibunda Jungkook. Ia sudah tidak tahan untuk diam. "Pergi ke kamarmu."
"Tapi, appa, eomma sangat -"
"Sekarang." ujar Jung Yunho final.
Jungkook melangkah dengan kaki yang dihentak-hentakkan menuju kamarnya. Ia kesal, marah, sedih, semuanya menjadi satu. Matanya terasa sangat panas, dadanya sakit. Padahal ia sudah sangat jatuh ke dalam dunia seorang Kim Taehyung, bahkan untuk merangkak menjauh sedikit saja tidak akan mungkin baginya, dan kedua orangtuanya malah melakukan ini kepada Jungkook.
Namja bergigi kelinci menyeret kasar kopernya masuk ke kamar, lalu membanting pintunya kuat-kuat sebelum menguncinya.
Setelahnya ia menghempaskan diri ke kasur, berteriak keras-keras setelah menenggelamkan wajahnya ke bantal. Jantungnya berpacu cepat, mendadak pikiran negatif hinggap di kepalanya.
Bagaimana kalau Taetae hyung tahu apa yang dikatakan eomma barusan?
Bagaimana kalau Mommy Baek tahu putranya tidak disambut baik oleh keluarganya, berbeda sekali dengan saat keluarga Kim menyambut seorang Jeon Jungkook?
Bagaimana kalau karena itu, Jungkook jadi tidak disukai.
"Hyung…" gumam Jungkook tanpa sadar. Ia sungguh tidak mau kalau ia dan sang kekasih harus berakhir seperti ini. Taehyung sudah berjanji bahwa mereka akan selalu bersama.
Jungkook harus menanyakannya sekali lagi, sekedar memastikan agar hatinya tenang.
Dengan tergesa ia mengambil ponselnya, melakukan panggilan untuk pemuda yang sangat dicintainya.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, -"
Jeon muda memutus panggilannya saat suara operator yang menyapa gendang telinganya, bukan suara rendah pemuda Kim yang begitu ingin ia dengar.
Ia mengulangi panggilan sebanyak lebih dari lima kali, dan seluruhnya dijawab oleh operator.
Nafasnya memburu, jantungnya berdetak semakin cepat. Jungkook merasa kesal, ia panik, ia marah, ia sangat membutuhkan Kim Taehyung. Hingga pada panggilan ke-tujuh, sebuah suara yang begitu familiar menyapanya.
"Ada apa, Kookie?"
"Kau lama! Menyebalkan!" pemuda bersurai merah menaikkan nada bicaranya. Ia merasa lega, sungguh. Namun entah kenapa perasaannya yang campur aduk membuatnya berteriak.
"Maaf, tadi sedang menghubungi Mom…."
Air mata membasai pipinya begitu saja, ia terisak saat itu juga.
Bagaimana kalau ketakutannya menjadi nyata?
Bagaimana kalau keluarga Kim tidak lagi menyukainya?
Ia mengambil nafas dalam-dalam, bingung ingin mengatakan apa saat kekasihnya menjeda. Namun belum sempat ia berucap, Taehyung kembali bicara.
"Jungkook, kau menangis?"
Ingin rasanya mengatakan tidak, tapi yang dilakukan pemuda bergigi kelinci malah mengangguk dalam, dan tentunya sang kekasih tidak tahu apa yang dilakukannya.
"Sayang, kau baik-baik saja 'kan?" Ada sedikit nada memaksa di sana, seolah mengharuskan Jungkook untuk baik-baik saja, padahal ia tidak.
"H -hyung."
Taehyung menunggu, ia tahu hoobae kesayangannya masih ingin bicara.
"Kau tidak membenciku kan?"
Kekehan ringan terdengar begitu menenangkan saat menyapa gendang telinga pemuda Jeon. Bagaikan tersihir, ia tersenyum begitu saja, masih dengan mata yang basah dan memerah.
"Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Jangan pernah melupakan itu, hm?"
Jungkook mrngangguk, memeluk erat-erat gulingnya.
"Sekarang tidurlah, sayang. Kau butuh istirahat." Yang dikatakannya serupa dengan yang diperintahkan orangtua Jungkook, membuat yang lebih muda kembali merengut dan merasa tidak enak.
"Hyung… answer me, please?"
"Sure, what is it."
Jungkook menarik nafas dalam-dalam. "Kau tidak akan meninggalkanku kan? You won't stop loving me, will you?"
Helaan nafas berat terdengar sesaat sebelum Kim Taehyung mengucapkan sesuatu yang menghangatkan hatinya. "Satu-satunya yang dapat membuatku berhenti mencintaimu adalah… When the sun melts the rock and drains the sea, that's the time for me to stop loving you."
Jungkook tersenyum dan memeluk erat gulingnya, ia tahu betul, batu tidak akan meleleh terkena sinar matahari. Laut juga tidak akan mengering walau setiap hari diterpa sinarnya yang begitu panas. Keduanya bukan hal yang mungkin terjadi.
Kim Taehyung berhenti mencintai Jeon Jungkook adalah hal yang mustahil.
"Terima kasih, hyung."
"Aku yang berterima kasih karena kau bersedia berjalan bersamaku." Taehyung menjeda selama dua detik. "Sekarang tidurlah, besok kita akan pergi ke pantai pagi-pagi sekali."
"Dengan satu syarat. Aku yang pergi ke penginapanmu, bukan hyung yang kesini. Aku tidak mau appa dan eomma mengatakan hal yang menyebalkan padamu."
"Baiklah, manis. Kau menang. Akan kukirimkan alamatnya nanti. Sekarang kau tidur."
"Selamat malam, hyungie. I love you."
"I love you too, kelinci manisku."
.
.
Taehyung berdiri di depan penginapannya lima belas menit sebelum waktu yang dijanjikan Jungkook. Bungsu Kim adalah seorang gentleman, ia tidak ingin kelinci kecilnya menunggu di cuaca sedingin ini. Ia memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan warna putih. Jaket berbahan jeans ia pakai untuk menghalau dinginnya pagi, kakinya dibalut sandal gunung berwarna hitam, sandal favorit yang biasa dia pakai jika bepergian ke alam terbuka dengan alasan lebih praktis kalau hujan. Di sakunya terselip ponsel dan dompet.
Beberapa saat kemudian, sebuah bayangan pemuda yang memakai kaos putih kebesaran, celana pendek, juga sepatu yang seluruhnya berwarna putih terlihat. Awalnya Taehyung mengeryit karena mengira itu adalah seorang pria mabuk yang baru pulang dari bar. Namun saat wajahnya terlihat sedikit lebih jelas, pemuda bersurai jerami tersenyum sangat lebar.
Ia melambai ke arahnya, "Jungkookie!"
Mendengar namanya dipanggil, Jungkook mendongak. Bukannya tersenyum, ia malah mengeluarkan air mata dan segera berlari ke arah sang kekasih, menubruknya kuat-kuat hingga yang lebih tua hampir jatuh terjengkang, memeluknya erat.
Taehyung memasang blank expression-nya, hanya tiga detik. Setelahnya ia panik karena bahu sang kekasih mulai bergetar hebat.
"Jungkook, hei. Sayang, kau kenapa."
Mendongak perlahan, yang lebih muda menunjukkan matanya yang sembab. Dan entah mengapa, perasaan pemuda Kim menjadi sangat tidak enak. Seperti ada sesuatu yang membuat kekasihnya menjadi sangat berantakan seperti ini.
"Hyung?" Jeon muda merengek. Taehyung berusaha tersenyum dan mengusap kepala hoobae-nya untuk menenangkan. Ia menunggu agar sang kekasih siap bercerita padanya. Tanpa ia kira, yang didengarnya malah satu frasa yang membuat jantungnya hampir berhenti bekerja.
"Hyung, ayo buat adik bayi. Please?"
.
Sixth Lesson: "When the sun melts the rock and drains the sea, that's the time for me to stop loving you." (END)
.
.
Adik Kookie, kamu kenapa woy? Malah ngaco….
Anyway, makasih buat yang setia menanti yhaaa… maaf banget molor. Tiger sedang sibuk dan lupa pamit.
Jangan lupa baca The Guy who Wears White Beard dan review yaaa.
Yang nunggu Leanan Sidhe juga mohon sabar, akan diupload dalam minggu pertama 2017.
Happy Ultah Kakak Taetae dan Selamat Tahun Baru!
.
.
Akhirnya, review please
Agar chap selanjutnya lebih semangat eheheh
