A/N: abaikan sub-judul chap ini yang rada absurd

,

"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.

Genre: Romance, Comedy (?)

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin | Park Jimin x Min Yoongi | Jung Hoseok (Jomblo Sejati) | PCY as Kim Chanyeol x BBH as Kim Baekhyun | Jung Yunho as Jeon Yunho x Kim Jaejoong as Jeon Jaejoong

Rated: T plus plus

Warning: Ambigu, typo tak tertahankan

.

.

Part VII: Something 'Bout You

(Makes Me Feel Like I'm Dangerous Man)

"Jungkookie…" bisik Taehyung lembut tepat di telinga kiri seorang namja bergigi kelinci yang tengah didekapnya. Sebelah tangannya mengusap lembut bagian belakang kepala sang kekasih sementara yang lain memeluk pinggangnya. "Sayang, dengarkan hyung, hmm?"

Menggeleng ringan, pemuda bersurai wine itu semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher pemuda Kim.

"Kau belum sarapan kan?"

"Tidak mau. Pokoknya di kamar."

Perlahan Taehyung menghela nafas. Kalau saja kedua tangannya tidak sedang sibuk, maka sudah pasti ia menjambak kuat rambutnya sendiri, bisa sampai botak juga.

Ia menyadari satu hal, mengajak Jeon Jungkook masuk ke kamarnya di penginapan agar si bunny bisa menenangkan diri adalah sebuah kesalahan besar. Anak tunggal keluarga Jeon langsung menguselkan dirinya ke tubuh sang senior, mengira mereka akan membuat adik bayi saat itu juga. Dan ia terus menempeli sunbae pirangnya sejak tadi.

"Baiklah, kita di kamar."

Taehyung bisa mendengarkan kekasihnya ber-ehehe. Ia pun memeluknya semakin erat. "Kita akan memesan melalui room service. Bagaimana?"

Yang ditanya kembali menggeleng. "Pokoknya membuat adik bayi!"

Kali ini bungsu Kim tidak bisa menahan helaan nafas kasarnya. Dan tanpa menunggu aba-aba, Jungkook melonggarkan pelukannya, ia tahu hyung kesayangannya akan marah kalau dirinya tidak menurut.

"Baiklah, kita sarapan. Tapi hyung tidak marah kan?"

Taehyung terkekeh, menunduk hanya untuk mendapati sepasang obsidian kekasihnya yang tengah mengintip melalui sela-sela poni sewarna anggur.

"Tidak marah. Tidak akan marah karena kekasihku sangat menggemaskan." gumamnya sebelum mencium dalam pipi kiri pemuda Jeon, menekannya hingga sang pemilik minta ampun.

Taehyung pun meraih gagang telfon yang disediakan di kamarnya, lalu menghubungi room service dan memesan makanan sesuai keinginan Jungkook.

Lima menit setelah mematung karena mendengar permintaan menakjubkan hoobae manisnya, Tae memutuskan untuk mengajaknya masuk ke kamar tempat ia menginap. Niatnya, agar Jeon Jungkook menjernihkan pikirannya yang tercemar entah-apa.

Jika penginapanmilik keluarga Jeon dan keluarga Park berkonsep semi-guest house dan diperuntukkan bagi para backpacker atau mereka yang ingin menghabiskan liburan dengan budget sedang menuju ke rendah, maka tempat menginap Kim Taehyung menempatkan mereka yang menginginkan fasilitas lebih sebagai target pasar. Konsepnya pun mengarah ke semi-hotel, atau bisa disebut penginapan mewah.

Jungkook tidak sempat meperhatikan apa saja yang ada di penginapan itu, ia sibuk memeluk erat kekasihnya saat berjalan, menguselkan kepalanya ke dada bidangnya, dan mengabaikan siapapun yang melihat mereka. Di dalam kamar, Taehyung terus-terusan membujuknya agar mau bercerita, namun yang diucapkan Jeon Jungkook hanya ingin membuat adik bayi sambil duduk di pangkuan pemuda bersurai pirang tanpa sadar bahwa bokong montoknya sukses menyiksa masa depan seorang Kim Taehyung.

Nampaknya adik kandung Kim Namjoon harus dianugerahi gelar sebagai Sang Pengendali Hormon karena ia berhasil melewati masa-masa siksaan itu tanpa membanting kekasihnya ke atas ranjang, atau menerjangnya, atau memakannya, atau apapun itu istilahnya.

Sekarang ini, pemuda Kim tengah tersenyum mengamati si gigi kelinci yang mengerucutkan bibirnya dengan pipi menggembung yang bergerak-gerak menggemaskan.

"Enak?"

Jungkook mengangguk sambil menunjukkan senyum manisnya. Ia pun kembali menikmati nakji bokkeum yang tinggal setengah. Taehyung terkekeh melihatnya, sesekali ia memakan gimbap atau makanan lain yang mereka pesan. Jungkook menginginkan gimbap, nakji bokkeum, kimchi dan jeongol untuk sarapan dan Taehyung mengabulkannya. Pelayan sampai meletakkan kompor kecil di atas meja bundar tempat mereka makan agar jeongol yang merupakan sup berbahan dasar hasil laut itu tetap panas.

"Kalau dilihat dari makanan yang kau pesan, kau begitu merindukan Busan."

Yang lebih muda kembali mengangguk. Tangannya terulur saat menyuapkan sepotong gurita ke arah sang kekasih. Taehyung tersenyum, lalu memakannya.

"Manis."

"Jangan bercanda, itu pedas." protes pemuda Jeon. Ia tahu senior menyebalkannya tidak suka makanan pedas. Jika ia menganggap manis sesuatu yang bahkan Jungkook anggap pedas, pasti sedang ada maunya.

"Soalnya aku makan sambil memandang kekasihku, jadi rasanya sangat manis." Taehyung menunjukkan senyum kotaknya, Jungkook cemberut sambil menahan rona di pipi.

"Kenapa masih ingin makan seafood? Padahal semalam eomma-mu memasak begitu banyak hidangan laut."

Checkmate.

Jeon Jungkook berhenti mengunyah.

Yang lebih tua membiarkannya selama beberapa saat sampai akhirnya ia mengulurkan tangan untuk mengusap pipi gembil Jungkook. "Jadi, ingin bercerita?"

Awalnya pemuda bersurai merah memilih diam, namun beberapa saat kemudian ia mengangguk. "Eomma memarahiku…"

"Karena?"

"Aku ingin pergi dengan hyungie. Tadi saat mau kesini eomma memarahiku lagi, dia bilang aku harus berhenti menemuimu."

Tae tersenyum kecut. Ternyata sampai begitu Nyonya Jeon tidak menyukainya.

"Lalu, kenapa kau tetap menemuiku?"

Jungkook terlihat marah saat Taehyung melontarkan pertanyaan konyol itu. "Kau tidak ingin aku menemuimu? Ya sudah, aku pulang saja."

"Hei." pemuda Kim mencekal lengan kekasihnya yang beranjak dari kursi. Ia menarikya perlahan, menuntunnya agar duduk di pangkuannya, berhadapan. "Jangan marah, aku hanya bertanya."

Pemuda Jeon memukul bahu senior Kim sebelum memeluknya erat. "I love you, tidak mau jauh-jauh dari hyung."

Pemilik surai pirang terkekeh mendengarnya. Kedua legannya melingkar di pinggang sintal Jungkook. "I love you, too. Tapi jangan bilang itu yang membuatmu ingin membuat adik bayi."

Jungkook menjauhkan wajahnya dari bahu Taehyung, ia menatap antusias sepasang mata coklat yang lebih tua lalu mengangguk mantab. "Kalau kita punya adik bayi, eomma tidak akan melarang lagi kan?"

Kim muda terkekeh, tangannya terulur mengacak rambut Jungkook, membuatnya semakin berantakan. Sejujurnya ia bingung harus menjawab apa. "Kau sangat menggemaskan."

Baru Jungkook akan protes, ia mendengar suara pintu kamar yang mereka tempati diketuk.

"Itu bukan eomma kan? Eomma tidak tahu aku disini kan?"

Perlahan Taehyung menurunkan pemuda semok di pangkuannya, ia lalu berjalan ke arah pintu. Sebelum membukanya, ia memberi isyarat agar sang kekasih duduk dengan tenang.

"Ya?" ucapnya saat mengetahui bahwa yang mengetuk pintunya adalah salah satu pegawai penginapan.

"Maaf, mengganggu, Tuan. Tapi ayah Anda baru saja menelfon, beliau memintaku untuk mengingatkan agar Anda bersiap-siap."

Taehyung mendengus lelah. "Ayolah, apa aku benar-benar harus ikut menyambut? Suruh saja general manager atau siapapun untuk menjadi perwakilan."

"Saya general manager, Tuan. Dan ayah Anda benar-benar melarang pegawai untuk menggantikan tugas ini."

"Astaga… aku akan siap dalam tiga puluh menit."

Wanita bersurai dicepol itu membungkuk dan mengucapkan terima kasih sambil menunjukkan senyum lebarnya sebelum undur diri.

Taehyung menutup pintu dengan kasar, lalu berjalan ke arah Jungkook dengan wajah bersungut-sungut.

"Kenapa?'

"Dad sangat menyebalkan. Semua ini gara-gara mommy."

Putra tunggal keluarga Jeon mengeryitkan dahinya, terlebih saat sang kekasih menubrukkan dirinya, membuat mereka berdua terjatuh di ranjang dengan Jeon Jungkook berada di bawah, dan Kim Taehyung menindihnya.

"Taetae hyung seperti bayi."

Terkekeh ringan, pemuda Kim menguselkan kepalanya ke dada Jungkook yang lumayan empuk, walau terbilang datar. "Baguslah, kau sudah punya bayi besar jadi tidak usah membuat adik bayi lagi."

"Uh!" keluh yang sedang ditindih, ia memukul keras punggung kekasihnya hingga mengaduh. "Pokoknya membuat adik bayi!"

Sang senior tertawa renyah, ia menjauhkan tubuhnya dari Jungkook, lalu berjalan untuk kemudian membuka almari pakaian. Dikeluarkannya sebuah setelan jas berwarna hitam, juga sepatu pantofel dengan warna senada. "Kita bicarakan nanti karena hyung harus bekerja, hm?"

"Bekerja?"

"Mom memintaku untuk menginap di sini, dan Dad memanfaatkan itu dengan menyuruhku menjadi perwakilan untuk menyambut seorag tamu. Rencananya akan kulakukan setelah pulang dari melihat sunrise bersamamu, ternyata kita malah disini." bungsu Kim terkekeh. "No big deal, kita bisa melihat sunrise lain kali."

"Kenapa hyung harus menyambut tamu disini?"

Jungkook mengamati kekasihnya yang menggantungkan pakaiannya di daun pintu, lalu pemuda bersurai blonde itu membongkar tasnya untuk mengambil trunks berwarna hitam.

Jungkook memalingkan wajahnya.

"Ini salah satu penginapan milik keluargaku, I suppose. Aku juga baru tahu semalam. Dad menyuruh karyawan menyiapkan jas, hair spray untuk menata rambutku, dan sebagainya agar aku bisa menyambut tamu ini dengan penampilan rapi. Kalau tidak salah, dia duta besar dari Thailand untuk Korea Selatan." Taehyung mendekati Jungkook dengan trunks di tangan kirinya, ia mencium gemas pipi kekasihnya yang bersemu. "Kau mau membantuku kan, sayang?"

Jungkook mengangguk kaku.

"Ya sudah, aku mandi dulu."

Lagi-lagi yang lebih muda hanya bisa mengangguk. Setelahnya Taehyung masuk ke kamar mandi dan menggumamkan sesuatu kepada dirinya sendiri.

"Little bunny menggemaskan. Melihat celana dalamku saja sudah memerah, bagaimana kalau melihat isinya? Begitu mengajakku membuat adik bayi? Yang benar saja…" Taehyung menggeram frustasi. Ia melirik bagian selangkangan yang sepertinya tidak sejalan dengan otaknya. "Kau, junior… jangan macam-macam!"

Oke. Kim Taehyung hampir gila karena permintaan polos seorang pemuda menggemaskan yang menjadi tersangka atas meningkatnya hormon yang sedang bertarung dengan akal sehatnya.

Tak lebih dari lima menit kemudian, Tae keluar dari kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk yang diilitkan di pinggangnya. Sengaja ia melilitkannya agak rendah agar garis V samar yang dibentuk oleh otot perutnya yang mulai nampak dapat terlihat jelas. Rambutnya basah, sebuah handuk yang lebih kecil tersampir di bahunya.

Di kamar mandi ada bathrobe dan dia keluar hanya menggunakan handuk di pinggang. Sebut saja Kim Taehyung kurang ajar, dan Jeon Jungkook bisa-bisanya bersemu melihat apa yang disuguhkan oleh kakak angkatannya itu.

Namja bersurai merah anggur benar-benar menunduk malu dan dengan susah payah mengalihkan pandangannya dari tubuh sang kekasih. Sialnya, ia melirik beberapa kali dan Kim Taehyung memergokinya.

Taehyung mengulum senyum. Tangannya terulur untuk mengambil kemeja putih yang ia gantung bersama jas dan celana bahan. Melihat itu, Jungkook reflek mencekal lengan berkulit eksotis yang terasa lembab karena habis mandi itu.

"Kenapa, bunny?"

"Ti -tidak…" pemuda Jeon mengutuk dirinya yang sudah berani pegang-pegang sunbae-nya yang setengah telanjang. "Se -sebaiknya keringkan dulu rambutmu agar tidak ba -basah."

"Basah? Apamu yang basah?"

Kim Taehyung dan kejahilannya yang terkutuk.

"Kemejamu, hyung. Bukan aku." yang lebih muda mem-pout-kan bibirnya saat melayangkan tatapan bingung.

Demi kaos bolong-bolong miliknya, Jeon Jungkook benar-benar menggemaskan!

Taehyung tertawa canggung. Ia lalu duduk di kursi yang tadi ia gunakan ketika makan. "Jadi, baby bunny akan mengeringkan rambutku?"

Jungkook mencebik mendengar panggilan itu untuknya, walau begitu ia melaksanakan apa yang diminta. Sebagai catatan, ia melakukannya sambil merona. Dan agar tidak ketahuan oleh kekasihnya yang super menyebalkan, ia berdiri di belakang Kim Taehyung.

"Apa kau membawa hair dryer?"

"Tidak, tapi kau bisa tanyakan ke room service."

Lagi-lagi menurut. Jeon muda benar-benar menanyakannya ke room service, dan mengejutkan… mereka memilikinya! Sebenarnya hanya Jungkook yang terkejut karena Taehyung tahu betul kalau peralatan mematut diri selalu tersedia di ruang karyawan karena di industri perhotelan, penampilan adalah hal yang penting.

Bungsu Kim memakai pakaiannya di hadapan Jungkook. Di. Hadapan. Jeon. Jungkook. Sementara pemuda bersurai wine itu menunggu hair dryer-nya.

Taehyung itu super kurang ajar. Dia dengan sengaja berlama-lama mengancingkan kemeja dan menaikkan resletingnya hanya untuk mendapati .reaksi kelinci manisnya yang terlampau menggemaskan.

Jungkook merona parah, untung saja tidak sampai mimisan.

Setelah mendapatkan hair dryer-nya, Jungkook menyuruh Taehyung duduk di depan meja rias, lalu mulai mengeringkan rambut pirangnya yang masih setengah basah. Mendapat perlakuan yang sangat lembut, pemuda Kim curi-curi pandang menatap bunny kesayangannya melalui pantulan cermin.

Sialnya, setiap kali Jungkook memergoki, malah Jungkook yang merasa malu dan mengalihkan pandangannya.

"Belah tengah?" Jungkook mulai menyisir rambut Taehyung setelah benar-benar kering. Sebelah tangannya memegang hair spray.

"Aku menurut saja. Kau hair stylish dan make up artist-ku."

Yang lebih muda terkekeh, ia akhirnya menata rambut kekasihnya dengan gaya kasual, sedikit membuat hair line di bagian kiri, namun tidak sepenuhnya mengarahkan poninya ke kanan. Ia membiarkan rambut kekasihnya jatuh menutupi sebagian dahinya, sedikit mengarahkannya ke kanan sehingga Taehyung terlihat semakin tampan. Menurut Jungkook.

Setelahnya, Jungkook membuka sebuah tas karton yang ternyata berisi peralatan base make up.

"Astaga, aku harus memakai itu? Tidak, sayang… itu untukmu saja. Aku sudah pakai lotion dan cream di kamar mandi. Itu cukup."

"Menurut." ucap Jungkook final. "Aku hair stylish dan make up artist-mu hari ini. Hyung tidak boleh membantah."

Ingatkan Kim Taehyung bahwa bayi kelincinya belajar cepat.

Akhirnya bungsu Kim hanya pasrah saat Jungkook mengoleskan sesuatu bertuliskan primer, CC cream, concealer, powder, bahkan Jeon muda memainkan eye shadow di kelopak matanya dengan tambahan eyeliner, plus sedikit bronzer tipis yang membuat rahangnya terlihat semakin tegas. Terakhir, Jungkook mengoleskan vaseline lip therapy.

"Sudah." sang make up artist bertepuk tangan melihat hasil karyanya. Kim Taehyung terlihat natural dengan hasil riasan Jungkook. Benar-benar natural, tidak ada yang berlebihan. Yang ada, Kim Taehyung semakin terlihat seperti pahatan patung dewa Yunani. Satu kata untuknya, sempurna.

"Aku berani bertaruh, pasti karyawan perempuan yang membeli semua ini. Kalau bukan, dia tidak akan membeli primer concealer dan bronzer."

"Kau saja tahu apa itu primer, concealer dan bronzer."protes Jungkook sambil membantu bungsu Kim yang berdiri merapikan jasnya.

"Aku tahu karena aku sempat bergabung di klub drama. Para pemain harus bisa make up untuk menyingkat waktu persiapan."

"Ya, ya, ya… terserah Aktor Kim saja. Pokoknya kau semakin tampan." gumam Jungkook tanpa sadar saat memasangkan dasi berwara maroon untuk Taehyung.

"Benarkah?"

Pemuda Jeon masih mengangguk.

"Apakah Jeon Jungkook semakin terpesona?"

Pemuda bermata bulat kembali mengangguk sambil tersenyum malu-malu, namun sedetik kemudian ia menghapus senyumnya, lalu menggeleng kuat. Taehyung tertawa.

"Coba kulihat." bisik yang lebih tua saat menarik dagu Jungkook. Tanpa aba-aba, ia menempelkan bibirnya ke bibir Jeon muda, mengulumnya lembut sebelum melumat bibir bawah dan bibir atasnya secara bergantian.

"Mmn…" gumam Jungkook saat membalas kuluman kekasihnya. Perlahan ia menjauhkan diri dengan memberi kecupan-kecupan ringan. "Tidak boleh mencium banyak-banyak, nanti riasan bibir yang sudah susah-susah kubuat jadi rusak."

Taehyung tertawa saat kekasih manisnya kembali menunduk malu-malu. Ia tahu Jungkook hanya beralasan agar dirinya tidak membuat bibir mungil si kelinci bengkak. Tae mengusap rambut merah Jungkook, mencium keningnya sembari membisikkan terima kasih.

"Maaf tidak bisa menemanimu makan sampai selesai. Aku pergi dulu."

Jungkook mengangguk, mengantarkan sang kekasih hingga ke depan pintu kamar.

"Kau bisa habiskan makanmu, atau hubungi room service untuk membereskannya. Kau boleh melakukan apapun di sini, berjalan-jalan atau melihat-lihat. Kalau ingin sesuatu, bilang saja pada pegawai, aku yang akan bertanggung jawab,"

"Iya, iya… hyung bawel." pemuda Jeon mengulum senyum. "Pergi sana. Jangan sampai tamunya sudah datang, kau malah belum muncul."

Yang lebih tua hanya mengangguk sebelum melangkah pergi.

Setelahnya, Jungkook setengah membanting pintu, lalu menghamburkan dirinya ke kasur, memeluk guling erat-erat, bahkan menggigitinya gemas. Ia berguling kesana-kemari sampai akhirnya terjatuh ke lantai.

"Astaga… Taetae hyung benar-benar seperti suami yang akan berangkat bekerja, dan aku istrinya." pemuda Jeon masih heboh, ia melanjutkan acara bergulingnya di lantai. Perlahan tangan kanannya terulur mengusap perut. "Tinggal membuat adik bayi dan semua sempurna, ehehe…"

Sementara itu, Taehyung mengusap wajahnya, ia mati-matian menahan senyumnya yang bisa jadi kelewat lebar. Hoobae favoritnya benar-benar polos dan menggemaskan. Ia bisa memastikan bahwa ide membuat adik bayi buka murni berasal dari pemikiran Jungkook sendiri. Yang jadi masalah sekarang adalah, siapa orang yang telah mengkontaminasi otak polos kelinci manisnya?

Tuan dan Nyonya Jeon sudah pasti tercoret dari daftar tersangka karena mereka menginginkan putranya tidak bersama Taehyung. Ide agar Jeon muda memiliki bayi dengan Taehyung tidak mungkin berasal dari mereka.

Park Jimin? Dia mendeklarasikan sebagai sahabat sejatinya Jeon Jungkook, bisa jadi dia mengusulkan itu agar sahabatnya bahagia tanpa memikirkan resikonya.

Min Yoongi? Pemalas, dan usulan memiliki bayi agar direstui memang terdengar instan.

Kim Seokjin? Sepertinya bukan tipe yang menyukai hubungan seperti itu.

Kim Namjoon? Hampir semua sastra klasik memiliki unsur seksual di dalamnya, dan Namjoon tipe yang membiarkan Taehyung melakukan hal itu sebelum menikah asalkan berhati-hati. Apa mungkin ia membiarkan adiknya menjadi seorang ayah sebelum menikah?

Sial.

Sepertinya Taehyung harus memasang benteng di sekitar Jungkook agar pemuda bersurai wine tidak bergaul dengan mereka-mereka yang sesat.

.

.

Jungkook memanggil room service untuk membereskan sisa sarapannya. Sebenarnya ia ingin menghabiskan semua hidangan, sayang sekali perutnya sudah tidak kuat. Jadilah ia memutuskan untuk menyudahi sarapannya dengan sisa di piringnya.

Ia membukakan pintu saat seseorang mengetuknya, dua orang masuk ke kamar untuk membereskan peralatan makannya. Di mereka ada wanita berpakaian koki yang menunduk sambil tersenyum. Jungkook membalasnya tak kalah sopan.

"Selamat pagi, saya kepala koki di sini. Bagaimana hidangan yang kami sajikan? Apakah ada yang kurang?"

"Ahh, selamat pagi. Masakannya enak, aku suka sekali. Kuah jeongol-nya juga benar-benar pas." jawab Jungkook. Ia begitu antusias menyatakan betapa ia menyukai masakan sang koki. Pandangan matanya jatuh ke name tag wanita di hadapannya, ia sedikit memicingkan mata.

"Lee Ji Eun?"

"Ya?" jawab koki tersebut masih memasang senyumnya, sementara itu Jungkook memicingkan mata, mengamati baik-baik yeoja di hadapannya.

"Ji Eun… noona?" gumamnya saat merasa ia mengenal sosok sang koki. Ia tersenyum lebar saat yakin dengan dugaannya. "Astaga, Ji Eun noona, ini aku.. Jungkook."

Awalnya Ji Eun terdiam karena bingung, namun setelah melihat gigi kelinci yang menyembul saat namja di hadapannya terseyum, ia seperti tersadar. "Jeon Jungkook? Adik kelasku saat senior high?"

Jungkook mengangguk cepat, ia terseyum semakin lebar.

"Sebentar." gumam Ji Eun. Ia beralih kepada dua orang yang membereskan peralatan makan untuk mengucapkan sesuatu. Setelahnya, ia kembali menghadap mantan hoobae-nya.

"Bagaimana kau bisa di sini? Maksudku, rumahmu kan di dekat sini."

"Kekasihku menginap di sini."

"Kekasih?" yeonja berwajah manis itu mengeryitkan dahi. "Tapi ini kamar Tuan Kim. Tunggu! Jangan bilang kau kekasihnya?"

Jeon muda menunjukkan cengirannya sambil mengangguk.

"Pantas saja pagi ini resepsionis heboh karena Tuan Kim membawa seorang pemuda yang menggelendot manja. Ternyata itu kau." Ji Eun tertawa renyah sementara Jungkook mencebikkan bibirnya, menahan malu karena pagi tadi, dia benar-benar sangat sangat manja.

"Ahh, aku harus kembali ke kitchen."

"Boleh aku ikut?"

"Aku tidak yakin…"

"Tapi Taetae hyung bilang aku boleh pergi kemanapun."

Sang koki tersenyum, lalu mengangguk. Kalau Tuan Kim mengizinkan Jungkook kemanapun, berarti tidak masalah kalau pemuda bersurai wine itu ikut ke kitchen bersamanya.

Jungkook pun mengambil ponselnya, lalu berjalan bersama sunbae-nya saat di senior high school dulu.

"Sebenarnya aku ingin bertemu dengan Tuan Kim Taehyung, tapi malah mendapatimu di sana."

"Hmm… kenapa noona ingin bertemu dengannya?" sejujurnya, Jungkook merasa cemburu. Apa kedua sunbae-nya itu saling kenal, atau bagaimana.

Mengejutkan, Ji Eun tersenyum penuh kekaguman, pandangannya menerawang saat berjalan. "Kau ingat isu yang terjadi saat kita sekolah? Tentang hotel yang akan didirikan di kawasan pemukiman?"

Yang lebih muda mengangguk. "Yang katanya akan mematikan usaha guest house warga?"

Kali ini Ji Eun yang mengangguk. "Kau sedang berdiri di hotel itu."

"Serius?" Jungkook menatap sekeliling. Ini sama sekali tidak terlihat seperti hotel bagi para konglomerat dengan berbagai fasilitas mewah bagi para orang kaya. Memang lebih mewah bila dibandingkan dengan guest house yang kebanyakan ada, namun tetap saja ini tidak semengerikan yang pernah ia bayangkan mengenai hotel mewah untuk para orang kaya. Ia masih ingat pendirian tempat itu sempat ditentang habis-habisan oleh warga sekitar dan entah bagaimana, pembangunannya tetap dilaksanakan saat ia mulai kuliah.

"Kudengar pemilik perusahaan, Kim Chanyeol sudah berusaha berkali-kali untuk menjelaskan kepada warga bahwa ia akan mendirikan penginapan yang tidak akan mematikan guest house di sekitarnya. Tapi warga tetap menentang karena meragukan hal itu."

Jungkook mengangguk saja. Sejujurnya ia tidak pernah tahu sampai sejauh itu.

"Sampai akhirnya beliau membawa ide untuk memberdayakan warga lokal sebagai pegawai di penginapan ini. Mereka diberi pelatihan bersamaan dengan dimulainya pembangunan tempat ini. Dan seperti yang kau lihat, aku bekerja di sini. Semua pegawai benar-benar warga sekitar sini."

"Tapi penginapan milik perusahaan ternama biasanya akan menerjunkan tenaga kerja profesional, lulusan sekolah kepariwisataan terkenal dengan berbagai sertifikat. Kenapa memberdayakan warga lokal yang tidak semuanya paham dengan dunia perhotelan? Bukannya akan menjatuhkan nama perusahaan kalau hasil kerjanya tidak maksimal?" sahut Jungkook cepat.

Ji Eun menjitak pelan kepala Jungkook. "Makanya diadakan pelatihan."

"Uh.. tapi tetap saja, sertifikat yang menunjukkan profesionalitas, lulusan sekolah ternama…"

"Kau bisa tanyakan itu kepada putra kedua keluarga Kim."

"Kim Taehyung?"

Ji Eun mengangguk. "Kudengar dia yang mengusulkan ide memberdayakan sumber daya manusia lokal. Padahal dia belum pernah berkunjung ke peginapan ini, tapi semua sudah mengenal namanya."

Tanpa sadar Jungkook tersenyum. Satu lagi yang ia ketahui tentang sunbae-nya yang menyebalkan, Kim Taehyung adalah orang hebat. Dan sebagai kekasih, ia merasa bangga.

Tanpa sadar, mereka sampai di bagian kitchen, dan sang kepala koki langsung dirubung oleh dua orang gadis yang terlihat sangat antusias.

"Bagaimana? Kau bertemu dengannya?" tanya seorang bermata bulat kecoklatan.

"Katakan, apa dia setampan yang dikatakan FO?" sahut satunya.

"Tidak ada Kim Taehyung, aku hanya bertemu kekasihnya." Ji Eun mendengus geli. Ia lalu menghadap ke arah Jungkook yang langsung menunduk malu-malu.

Saat itu juga, mereka mengerang kecewa, namun tetap antusias menanyai Jungkook banyak hal. Sampai sebuah suara menginterupsi dan menghentikan kegiatan mereka.

"Berhenti menggosip dan kembali bekerja. Tamu sudah datang dan Tuan Kim menyuruh kalian menyiapkan hidangan sekarang juga."

Jungkook menoleh dan langsung membulatkan matanya ketika mengenali wajah pemuda bersurai coklat yang mengenakan kemeja rapi, lengkap dengan jasnya.

"Yugyeom?"

"Jungkook? Kau pulang ke Busan? Kenapa tidak bilang padaku?" namja itu tersenyum lebar dan langsung memeluk Jungkook erat.

"Aku lupa." jawab Jungkook tanpa dosa, ia balas memeluk sahabatnya ketika sekolah dulu.

"Sudah kuduga, kalian akan seperti Teletubbies kalau bertemu." keluh Ji Eun yang langsung menggelengkan kepala. Kedua pemuda yang masih saling berpelukan itu tertawa renyah.

"Aku lupa memberi tahumu." ucap sebuah suara rendah dari arah belakang Yugyeom.

Namja bersurai coklat menoleh, begitupun dengan Jungkook yang masih memeluknya. Ji Eun dan kedua rekannya pun langsung memusatkan perhatian ke sosok bersurai pirang yang namapak tergesa-gesa.

Taehyung terdiam sejenak, mengamati lekat lengan kekasihnya yang merangkul kasual di pundak asistennya untuk hari ini, juga sebuah tangan yang melingkar di pinggang kekasihnya. Ia berdehem sekali sebelum kembali bicara. "Putri mereka alergi kepiting, so left out anything with crabs inside."

"O -oh!" pekik Ji Eun tanpa sengaja menyadarkan pemuda Jeon yang langsung melepas lengannya dari pundak Yugyeom.

"Pisahkan yang memakai kepiting." perintah Ji Eun yang langsung diikuti kedua rekannya. Mereka tampak sibuk menyingkirkan beberapa makanan yang siap disajikan. "Apa harus menyiapkan makanan pengganti untuk melengkapi ini?"

Taehyung mengamati beberapa masakan yang akan disajikan. Kokinya sudah memastikan tidak ada kepiting di dalamnya. "Kurasa itu cukup. Sajikan saja, dan kalian bisa beristirahat setelah ini."

Ji Eun dan rekannya mengangguk. Mereka pun membawa masakan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

"H -hyung…" cicit Jungkook. Kim Taehyung dalam mode serius memang selalu memiliki aura berbeda. Dan Kim Taehyung dalam mode serius yang melihatnya sedang merangkul seseorang terdengar seperti bencana.

"Yugyeom, kau kembali ke sana." gumamnya saat menatap tajam pegawainya. "Aku ada perlu sebentar."

Yugyeom mengangguk dan langsung melaksanakan tugasnya, meninggalkan Taehyung dan Jungkook berdua saja.

Taehyung menghela nafas, sementara pemuda bersurai wine menunduk dalam. Tanpa mengatakan apapun, yang lebih tua menarik tangan kanan Jungkook, memeluk pinggangnya erat dengan lengannya yang lain.

"Baru kutinggal sebentar, sudah memeluk namja lain." gumam Taehyung datar. Sejujurnya Jungkook merasa takut karena seingatnya, senior Kim tidak pernah bersikap seperti ini.

Apa Kim Taehyung cemburu?

Tunggu! Cemburu!?

Bukannya Taehyung belum pernah menunjukkan sikap cemburu?

Jungkook mendongak untuk memastikan raut wajah kekasihnya, dan ia langsung membelalak saat mendapati pemuda bersurai jerami tengah mengecup lembut telapak tangannya.

"H -hyung.." ucapnya lirih dengan nada bergetar dan pipi yang merona. "Yu -Yugyeom temanku saat sekolah, bersama Jimin juga. Aku hanya me -memeluknya sebagai teman, karena sudah lama tidak bertemu."

Tae mengalungkan lengan Jungkook ke bahunya, lalu memeluk erat pinggang kekasihnya sebelum menenggelamkan wajahnya ke pundak yang lebih muda, mengecupnya perlahan. "Jangan lakukan lagi. Aku hampir menghajarnya tadi."

Pemuda Jeon malah terkekeh, ia mengelus rambut kekasihnya. Sejujurnya aroma hair spray menjadi sesuatu yang selalu dibenci Jungkook, namun saat pacar menyebalkannya yang memakai, ternyata tidak buruk juga.

"Kau cemburu?"

"Apa aku harus berteriak dan mengatakannya di depan semua orang?"

Jungkook tertawa renyah. Kim Taehyung yang merasa cemburu terlihat menggemaskan seperti bayi. Rasanya ia ingin memiliki bayi sungguhan.

Taehyung mendorong tubuh mereka hingga pungung Jungkook menabrak tembok.

"Pokoknya jangan lakukan lagi." Tae memperingatkan sebelum memagut bibir mungil sang kekasih yang setengah terbuka.

"Mmnh.." lenguh yag lebih muda. Kedua tangannya meremat surai sang kekasih saat lidahnya dihisap kuat dan pinggangnya diremat. Ia memejamkan mata, membalas lembut ciuman kekasihnya yang menuntut.

Taehyung terus-terusan mengulum dan melumat bibir Jungkook, menghisapnya kuat. Namja bersurai red wine terpaksa menggeleng dan mengerang saat ia mulai kehabisan nafas, dan dengan setengah hati, Taehyung melepaskan bibir Jeon muda yang membengkak.

Mereka berdua sama-sama menetralkan nafasnya. Bungsu Kim mengecup puncak kepala Jungkook sebelum melepaskan pelukannya. "Aku harus kembali, kau jangan nakal lagi, hm?"

Jungkook mem-pout-kan bibirnya. Kedua tangannya bergerak lincah saat merapikan rambut sang kekasih yang barusan ia buat berantakan. "Menyebalkan."

"Mau kucium lagi?"

"Ish." pemuda Jeon memukul bahu Taehyung usai merapikan jasnya. "Kembali bekerja sana, jangan merepotkan Yugyeom."

Tae berdecak saat mendengar nama pemuda itu. "Dia asistenku, jadi aku akan membuatnya kerepotan."

"Hyung!" protes Jungkook yang dihadiahi tawa rendah Kim Taehyung sebagai jawaban. Ia semakin mencebik saat sang kekasih pergi begitu saja masih dengan tawa lolos dari bibirnya. "Dasar menyebalkan!"

Beberapa saat kemudian, Ji Eun kembali masuk ke kitchen bersama dua rekannya. Mereka bertiga berdehem tidak jelas, melirik Jungkook, namun segera mengalihkan pandangan ketika namja itu menyadarinya.

"Noona, ada apa?" ia bertanya pada akhirnya, sukses membuat yeoja mungil itu salah tingkah.

"Ti -tidak apa-apa. Hanya saja…" Ji Eun mendekatkan bibirnya ke telinga Jungkook. "Lain kali jangan bercumbu di tempat umum, kami tidak sengaja mendengarnya dengan jelas."

Oh, tidak.

Jungkook merona parah. Ia langsung kembali ke kamar Taehyung dengan langkah cepat.

.

.

Jungkook menghabiskan waktunya dengan berguling-guling di kamar, memakan camilan yang diantarkan seorang pegawai untuknya, yang katanya dibelikan oleh Taehyung, juga mengingat betapa menggemaskan bungsu Kim ketika cemburu.

Ia ingat ketika Namjoon dan Seokjin, juga Baekhyun dan Chanyeol mengatkan bahwa Kim Taehyung sangat menggemaskan, dan hari ini ia sudah melihatnya sendiri.

Dan usai mengingat betapa menggemaskan kekasihnya, wajahnya akan selalu memerah karena bayangan dirinya yang berciuman kembali melintas di kepala, lengkap dengan ketiga yeoja yang kemungkinan besar memergokinya.

Jungkook senyum-senyum sendiri usai mandi, ia mengenakan sweatshirt hitam kekasihnya yang bertuliskan crow tit dengan gambar burung kecil lucu di dada. Hobi baru Jeon Jungkook adalah memakai baju milik kekasihnya tanpa izin.

Ia menengok jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Ia mengambil ponselnya, terakhir membalas pesannya, sang kekasih bilang sedang berkeliling bersama tamunya, dan sejak pukul lima, Jungkook tidak mendapatkan pesan lagi.

Baru saja ingin kembali mengirim pesan, pintu kamarnya dibuka dan muncullah Taehyung yang menenteng jasnya dengan dasi longgar dan wajah yang kusut. Walau begitu, masih tetap tampan. Menurut Jungkook.

"Hyung." ucap yang lebih muda saat berjalan mendekat untuk mengambil jas kekasihnya dan membantunya untuk melepas dasi.

"Sial." Taehyung mendudukkan dirinya di kasur. Ia melepas sepatunya asal. "Berkeliling di pantai dengan pakaian seperti ini bukan ide yang bagus."

Jungkook terkekeh, ia perlahan memijit bahu pemuda Kim. "Pegal?"

"Sangat. Aku hampir mati mendengar pertanyaan mereka mengenai Busan. Untung temanmu itu bersamaku, dia yang menjawab semua karena aku hampir tidak tahu apa-apa."

Jeon muda tertawa renyah.

"Mandilah, setelah itu kita buat adik bayi."

Kepala Taehyung berdenyut sakit mendengar ucapan riang kekasihnya. "Bunny, tolong jangan bicarakan itu lagi."

Kekasihnya terdengar sangat malas dan Jungkook merasa tersinggung.

Sebegitu tidak inginnya kah Taehyung memiliki bayi dengannya? Tapi ini adalah cara agar orangtua Jungkook merestui mereka.

Apa Taehyung sebenarnya tidak ingin mendapatkan izin untuk berpacaran dengannya?

Membayangkannya, Jungkook jadi kesal sendiri.

"Hyung tidak menyayangiku?" protesnya dengan nada yang naik.

"Kook, aku sangat lelah, tolong jangan seperti ini."

"Tapi kenapa? Kalau memiliki adik bayi, eomma dan appa pasti akan setuju dengan hubungan kita. Apa hyung tidak mengingikan itu?"

"Astaga.. bukan begitu. Hanya saja -"

"Bilang saja kalau tidak suka!"

Taehyung menghela nafas berat. Suara Jungkook melengking keras dan itu sukses membuat kepalanya seakan mau meledak.

"Kita akan membicarakan ini nanti, aku mau -"

"Nanti.. nanti… nanti.. dari tadi hyung bilang begitu. Sekarang juga bilang nanti. Sampai kapan kau mau menghindar? Saat sudah menemukan yang lebih baik dariku? Oh, pantas saja… yang cantik-cantik banyak yang menyukaimu, aku tidak ada apa-apanya. Pilih saja satu dari mereka yang orangtuanya setuju, tinggalkan aku sesukamu!"

"Jeon Jungkook!" Taehyung sudah benar-benar kehilangan kesabarannya. "A deer shouldn't throw a tantrum on a worn out lion, he'll end up being eaten alive."

Dan tanpa berkata-kata lagi, Taehyung menubruk kekasihnya hingga mereka berdua jatuh ke lantai. Tanpa aba-aba, ia melumat bibir kekasihnya, menghisapnya kuat. Jungkook mengerang protes saat sang kekasih menggigit bibirnya, menelusupkan lidah dan mengobrak-abrik mulutnya kasar.

Kim Taehyung sedang sangat marah dan Jungkook mati-matian menggerakkan kepalanya agar ciuman tanpa perasaan itu terhenti. Kedua tangannya berusaha mendorong Taehyung, memukulnya asal. Namun yang terjadi adalah namja bersurai pirang yang mencengkeram dagu Jungkook, memaksa agar ciuman mereka semakin dalam.

Bahkan pemilik mata coklat itu tidak mempedulikan mata Jungkook yang mulai basah, atau saliva yang meleleh di sudut bibir kekasihnya.

Dengan asal, Taehyung menyudahi ciumannya, ia menarik bagian pundak sweatshirt yang dipakai Jungkook, lalu tanpa aba-aba menggigit lehernya sebelum melumat dan menghisapnya kasar.

"Hyu -akkhhh…"

Jungkook memejamkan matanya rapat. Ia mulai terisak saat Taehyung kembali menggigit-gigit kecil bagian yang sama. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan saat merasa dirinya benar-benar sudah tidak mengenal sosok yang kini menindihnya kasar.

Jungkook tidak mengenalnya.

Kim Taehyung miliknya adalah sosok yang lembut. Ia memang kadang menyebalkan dan seenaknya, tapi tidak pernah sekasar ini. Tidak akan pernah.

Ia bahkan masih menangis saat sang kekasih menyudahi aksi menandai-nya. Taehyung mengangkat lembut tubuh Jungkook sebelum membaringkannya di atas ranjang.

Setelahnya, Kim muda mencium kening Jungkook.

Jutaan perasaan berkecamuk di dada bungsu Kim saat ia melakukannya, termasuk sesal dan rasa bersalah ketika menyadari kekasihnya kini menangis.

"Maaf. Maafkan aku, sayang…" bisiknya lembut sebelum menjauhkan tubuhnya. Taehyung tersenyum lembut.

"Kau beristirahatlah, aku mandi sebentar." gumamnya sebelum pergi begitu saja.

Di dalam kamar mandi, Kim Taehyung benar-benar mengutuk dirinya sendiri atas apa yang ia lakukan. Ia sangat lelah, otaknya tidak bisa berfungsi dengan baik dan Jeon Jungkook memang sedikit menyebalkan dengan permintaannya membuat adik bayi dan suaranya yang melengking memancing emosi. Semuanya berjalan begitu cepat dan saat menyadarinya, Taehyung sudah berada di atas Jungkook yang sedang menangis.

"Kau benar-benar bajingan." ucapnya saat menatap pantulan diri di depan cermin. Ia mengacak rambutnya yang setengah basah penuh emosi. Jungkook pasti takut padanya sekarang.

Taehyung membutuhkan waktu lima menit penuh untuk menenagkan dirinya sebelum keluar dari kamar mandi dan menemui sang kekasih. Ia berniat untuk meminta maaf dan bicara baik-baik dengannya. Namun saat kembali ke kamar, ia tidak mendapati Jungkook di manapun.

Pintu kamarnya sedikit terbuka, dan saat itu juga, ia tahu bahwa kekasihnya pergi karena kesalahannya.

"You're so done, Kim Taehyung." gumamnya menertawakan diri sendiri.

.

Seventh lesson: "A deer shouldn't throw a tantrum on a worn out lion, he'll end up being eaten alive" (END)

.

.

Taehyung… kamu ngapain woy?

.

.

I'm in class right now, memanfaatkan wifi kampus untuk mengupload… jadi gabisa nulis pesan banyak.

But please let me know what you're thinking and feeling after reading this chapter. Thank you

.

Review please