,
"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.
Genre: Romance, Comedy (?)
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin | Park Jimin x Min Yoongi | Jung Hoseok (Jomblo Sejati) | PCY as Kim Chanyeol x BBH as Kim Baekhyun | Jung Yunho as Jeon Yunho x Kim Jaejoong as Jeon Jaejoong
Rated: T plus plus
Warning: Ambigu, typo tak tertahankan
.
.
Part VIII: Something to Wait
Kim Taehyung mengusap pipi kirinya, seolah tak percaya ia menatap seorang pria bermata rubah yang mengepalkan tangan kanannya kuat sampai urat-urat di lengannya terlihat. Pandangannya begitu menusuk, seolah bungsu Kim adalah hama mematikan yang harus segera dimusnahkan.
"Pa -paman Jeon…" gumamnya terbata. Sejujurnya ia masih bingung dengan apa yang terjadi. Selama setengah jam setelah Jungkook pergi, ia berusaha menjernihkan pikiran dan menenangkan diri, selanjutnya ia langsung berjalan menuju kediaman Jeon dan mengetuk pintu. Di luar dugaan, kepalan tinju pria yang diharapkan menjadi ayah mertuanya adalah satu-satunya yang menyambut kedatangannya.
"Pergilah, Tuan Muda Kim. Jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di sini, dan jauhi putraku."
Jantung pemuda Kim seolah tertohok. Tersirat begitu banyak sindiran dari cara kepala keluarga Jeon memanggilnya. Dan peringatan untuknya itu… mereka pasti salah paham.
"Paman, aku ingin bertemu dengan Jungkook, sebentar saja. Aku janji tidak akan lama."
"Dan melecehkannya?"
Taehyung bungkam. Kalau boleh mengaku, ia sangat merasa berdosa karena melecehkan kekasihnya.
"Aku… kami butuh bicara, Paman. Aku tidak ingin kesalahpahaman diantara aku dan Jungkook menjadi semakin keruh. Aku benar-benar ingin bicara padanya."
Baru saja mengambil nafas. Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Taehyung menoleh cepat, mendapati Jaejoong menatapnya penuh kebencian. Nafasnya terengah, mungkin karena habis berlari, mungkin juga karena telah menahan emosi.
"Pergi!" teriaknya setengah tertahan. Ia masih cukup waras untuk menyadari bahwa rumahnya menyatu dengan guest house dimana banyak orang menginap.
"Kumohon, aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar."
Yunho menggeleng singkat. Sebelah lengannya mencekal pergelangan istrinya, mengusapnya pelan sebagai tanda agar ia menjadi lebih tenang.
"Pergilah. Aku tidak ingin putraku bersama manusia bejat sepertimu."
Taehyung menunduk dalam. Ia merutuki dirinya sendiri yang bisa kehilangan kendali hanya karena merasa kelelahan.
Mungkin, memang dirinya harus lebih berusaha memantaskan diri untuk bisa diterima oleh keluarga Jeon.
"Maafkan aku." bisiknya lirih sebelum mengangkat wajahnya, menatap penuh sesal wajah Tuan dan Nyonya Jeon secara bergantian. "Tolong sampaikan maafku ke Jungkook. Aku juga meminta maaf kepada Paman dan Bibi karena membuatnya menangis. Aku akan kembali lagi besok, selamat malam."
Bungsu Kim membungkukkan tubuhnya dalam, lalu undur diri.
Ia berjalan lunglai. Rasanya benar-benar kehilangan arah. Sebelumnya Tae sudah berkali-kali mencoba menghubungi sang kekasih, namun tidak ada satupun pesannya yang dibalas, tidak satupun panggilannya yang diangkat. Sejujurnya itu lebih menyakitkan daripada jika panggilannya ditolak.
Ia merogoh sakunya, mengambil ponsel pintar dan membuka galeri. Foto terakhir mereka diambil oleh Jeon muda menggunakan ponselnya saat mereka dalam perjalanan ke Busan. Jungkook terlihat begitu ceria. Ia tersenyum lebar dengan mata yang berbinar. Sungguh sangat berbeda dengan Jungkook yang dilihatnya setengah jam yang lalu.
Tae mengacak rambutnya kasar. Baru saja akan mengumpat, ia melihat notifikasi untuk akun instagramnya.
J_minswag: wow kim_taemvan foto pertama di Busan
Taehyung mengeryitkan dahi. Seingatnya ia tidak mengunggah apa-apa. Foto pertama di Busan? Kim Taehyung bahkan belum sempat mengabadikan apapun begitu menginjakkan kaki di kota kelahiran Jungkook.
Maka ia menyentuh notifikasi tersebut untuk mengetahui foto apa yang dibicarakan oleh pemuda Park. Ia tercekat begitu melihat foto dirinya yang tengah terlelap. Taehyung tahu betul foto itu diambil di kamar Jungkook, dan dari pakaian yang dikenakan, ia menduga bahwa kekasihnya mengambil gambarnya di hari dimana mereka mengganti warna rambut.
Dan caption yang ditulis sang kekasih membuatnya seolah berhenti bernafas.
Jung_biscuit: in your heart, I stay. Ain't I, Prince?
Taehyung berani bersumpah kalimat yang barusan dibacanya bermakna ganda, namun dengan keadaan mereka saat ini, dengan fakta bahwa dirinya tidak ditandai dalam foto tersebut, ia bisa memastikan bahwa Jungkook sedang mempertanyakan kepada Kim Taehyung, apakah dirinya masih dicintai dan berada di urutan pertama di hatinya. Kata prince yang dipakai menunjukkan betapa pemuda bersurai wine meninggikan si pirang, memposisikannya di tempat yang seolah tak teraih.
Si pirang merasa payah.
Bukan dirinya yang tak teraih, melainkan Jeon Jungkook-lah yang berada begitu jauh dari rengkuhannya. Dan ketidakmampuannya membuktikan janji-janji manisnya selama ini membuat Jungkook merasa bersalah, membuat Jungkook merasa dirinya lah yang tidak pantas bagi putra bungsu keluarga Kim.
Kalau saja tidak ada Jimin, mungkin ia tidak akan mengetahui keadaan ini. Nanti, Taehyung harus mengucapkan terima kasih padanya.
"Park Jimin." gumam Taehyung dengan mata yang membola saat ia menyadari sesuatu. Ia langsung menoleh ke belakang, melihat seberapa jauh tempatnya berada dari rumah sang kekasih. Seingatnya, pemilik surai anggur bilang rumah Jimin ada di ujung jalan, maka ia memperhatikan sekeliling, membaca dengan saksama setiap papan penginapan yang ada. Sudut bibirnya terangkat naik saat membaca kata Park di salah satu papan. Ia berjalan cepat ke sana.
Park Jimin adalah sahabat Jeon Jungkook, jadi dia bisa meminta tolong padanya untuk, setidaknya, memastikan bahwa kekasihnya baik-baik saja.
Taehyung menanyakan keberadaan Park Jimin ketika seorang wanita paruh baya menemuinya di depan rumah. Dia bilang bahwa mereka adalah teman di universitas yang sama. Tak sampai lima menit menunggu di ruang tamu, sosok yang familiar berjalan menuju ke arahnya dengan senyum lebar dan mata yang menyipit.
"Sunbae? Kenapa tidak bilang padaku kalau ingin berkunjung?"
Taehyung hanya tersenyum. Namun begitu Jimin berada dalam jangkauannya, ia langsung menarik namja yang lebih pendek darinya itu, lalu berbisik.
"Jim, aku butuh bicara berdua denganmu. Ini penting."
"Kalau begitu, ke kamarku saja."
Mereka lalu berjalan ke kamar setelah Jimin berteriak kepada eomma-nya, memberitakan keberadaan dirinya selama beberapa waktu ke depan. Nyonya Park hanya menghadiahi senyuman dan satu nampan berisi dua gelas jus jeruk dan setoples kue buatan rumah.
Setibanya di kamar Jimin, Taehyung langsung mendudukkan dirinya di karpet, diikuti pemilik kamar yang juga duduk di karpet, meletakkan nampannya di tengah mereka berdua yang duduk berhadapan seolah benda itu adalah sesajen untuk melakukan ritual.
"Jim, apa kau besok luang?"
Yang ditanya nampak berfikir. Ia membuka toples kuenya, lalu memakannya satu. "Hanya membantu eomma di penginapan, tapi bisa ditinggal. Apa sunbae dan Jungkook ingin mengajakku jalan-jalan?"
"Sudah kubilang, panggil aku hyung saja." Taehyung menarik nafas dalam. Ia meneguk jus jeruknya sambil memikirkan apa yang harus ia katakan kepada hoobae-nya yang satu ini.
Menceritakan penyebab kesalahpahamannya dengan Jungkook kepada penyandang marga Park sama saja dengan bunuh diri. Karena jika junior Park tahu, senior Min pasti akan mendapatkan transfer informasi darinya, sama persis seperti data yang di-copy-paste. Dan jika Min Yoongi tahu, ia akan membocorkannya kepada Kim Namjoon. Namjoon tahu, ekuivalen dengan Seokjin tahu. Dan itu sama saja membangun jembatan ke neraka bernama kemarahan Kim Baekhyun. Pria penggila eyeliner pasti akan marah jika mengetahui tingkah bejat bungsunya.
Lamunan Taehyung hancur akibat remah kue kering yang mengenai wajahnya. Pelakunya adalah teman sekelas Jungkook yang mengibas-ngibaskan cookie yang sudah ia gigit di depan wajah Taehyung.
"Aku memanggilmu dari tadi. Kau kenapa, hyung?"
Satu fakta diketahui Kim Taehyung hari ini; mendengar Park Jimin memanggilnya hyung ternyata lumayan menggelikan. Untung saja ia tidak dipanggil oppa.
Lupakan.
Ada hal yang lebih penting dari itu.
"Jim, aku ingin minta tolong padamu."
"Apa itu, hyung?"
Taehyung memejamkan matanya selama dua detik, mencoba membunuh sensasi apapun-itu yang membuat bulu kuduknya meremang tiap kali pemuda Park memanggilnya hyung.
"Orang tua Jungkook tidak menyukaiku."
Jelas sekali terlihat, Park Jimin menahan tawa. Bahkan ia hampir menyemburkan jus jeruk di mulutnya.
"Aku tidur di penginapan milik keluargaku karena eomma Jeon tidak mengizinkanku menginap, bahkan menyewakan salah satu kamarnya untukku pun dia tidak mau."
"Kubilang apa? Ibunya Jungkook itu seperti singa dan ayahnya seperti beruang." si bantet mengangguk-anggukan kepalanya, seolah merasa bangga. "Tunggu! Kau punya penginapan di sini, hyung?"
Taehyung mengangguk singkat. Ia coba mengikuti omongan Jimin karena jika ia tergesa bercerita, bisa-bisa malah keceplosan bagian membuat adik bayi. Itu akan sangat berbahaya.
"Kau tahu penginapan yang dindingnya berpola kayu dan batu bata?"
"Oh, hotel milik perusahaan besar dari Seoul itu? Tempat Yugyeom bekerja?"
Taehyung mengangguk saja, dalam hati mengumpat saat mendengar nama itu terlontar begitu kasual dari bibir tebal Jimin. Sial. Ia jadi ingat lengan kurang ajar yang melingkar di pinggang kekasihnya tadi siang. Tapi itu bukan hal penting sekarang, jadi Taehyung akan menahan rasa kesalnya.
"Aku menginap di sana."
"Kau bilang itu milik keluargamu? Whoaaa… kau benar-benar keren!" si hoobaentet terus memuji Kim Taehyung yang keren. Ditambah informasi yang ia dapatkan setelah ngobrol dengan Yugyeom melalui line, yang mengatakan bahwa hari ini sahabatnya ketika SMA itu memiliki kesempatan untuk bekerja dengan calon penerus perusahaan yang kompeten, membuat Jimin semakin menggebu dalam memuji seniornya yang kadang sangat unik itu.
Senior Kim kesal setengah mati. Bukan karena pujian Jimin yang dilayangkan kepadanya, namun karena nama Kim Yugyeom yang sering nyempil di setiap kalimat.
"Jim.. aku kesini untuk minta tolong, ingat? Atau kau ingin aku memberitahu Yoongi hyung betapa bersemangatnya dirimu saat menyebut nama temanmu tadi? Aku bisa bayangkan dia akan merasa super kesal."
Park Jimin pucat pasi. Ia memilih bungkam.
Taehyung mengambil nafas dalam. "Jungkook marah padaku karena suatu hal, dan orangtuanya tidak mengizinkanku menemuinya karena, yah… mereka tidak suka padaku."
Tidak ada kebohongan dalam ucapannya, hanya ada beberapa hal yang sengaja tidak disebutkan. Sebenarnya alasan lain mengapa ia tidak menceritakan seluruhnya, selain merasa gengsi, adalah demi menghindari bogem mentah dari junior Park. Terakhir kali ia membuat Jungkook menangis, Jimin menghadiahinya dengan hantaman keras di rahang. Sebagai pengingat, sebelumnya ia sudah mendapatkan pukulan dari Namjoon dan tamparan Seokjin.
Satu pukulan lagi dan kejadian hari ini benar-benar perwujudan dari de javu. Rahangnya masih berkedut sakit, untung tidak lebam berdarah seperti kejadian waktu itu.
Jimin masih memperhatikan serius.
"Tolong besok berkunjunglah ke rumahnya. Pastikan dia baik-baik saja."
"Apa aku harus bilang kalau kau menitipkan permintaan maaf, hyung?"
Taehyung menggeleng ringan. "Kau cukup memastikan dia baik, Jim. Untuk masalah kami, aku harus meluruskannya sendiri."
Bungsu Kim serius. Ia tidak masalah jika Jeon kesayangannya masih marah karena yang dilakukannya tadi memang salah. Ia akan minta maaf saat mereka bertemu. Yang lebih penting baginya adalah memastikan bahwa kondisi psikis Jungkook baik-baik saja setelah mendapatkan serangan darinya.
Setelahnya mereka ngobrol sebentar. Jimin banyak bercerita tentang Min Yoongi kepada senior Kim, namun hal-hal yang ia tanyakan tak kalah banyak. Taehyung senang senang saja menjawabnya, hitung-hitung sebagai balasan atas bersedianya Jimin mewakili dirinya melihat keadaan Jungkook.
Taehyung meninggalkan rumah hoobaentet sekitar pukul sebelas malam, dan ia langsung tidur begitu sampai di kamar. Tentu kegiatan mencuci kaki, dan gosok gigi sudah ia lakukan.
.
.
Kim Taehyung benar-benar merasa seperti butiran debu selama tiga hari ini.
Pukul sepuluh di pagi setelah ia meminta bantuan Jimin, pemuda bermata sipit itu menemuinya di penginapan, mengatakan bahwa Jungkook ogah menemui siapapun dan dia juga tidak mau makan. Untungnya ia tidak pernah mengunci kamar, jadi siapapun bisa masuk. Bahkan Jimin yang berhasil masuk ke kamarnya hanya disuguhi dengan gundukan mencurigakan yang bersembunyi di balik selimut yang bergerak-gerak dan anehnya, bisa berbicara.
Kabar baiknya, gundukan itu mau menyambar snack coklat yang dibawakan pemuda Park, menariknya masuk ke dalam selimut.
Paling tidak perutnya terisi sesuatu.
Sialnya, Jimin juga ternyata memiliki janji dengan Yugyeom yang saat itu menempati shift dua dengan jam kerja pagi hingga sore hari. Sialnya yang kedua kali, si hoobaentet memberitakan padanya bahwa Jungkook sedang tidak enak badan. Tentu pegawainya yang satu itu langsung heboh dan berkoar akan menjenguk kekasih resmi dari Kim Taehyung.
Tentu Taehyung bergerak lebih cepat, namun apa daya calon ayah dan ibu mertuanya kembali menyuruhnya pergi.
Ia sungguh sakit hati. Apalagi saat keluar dari pagar keluarga Jeon, ia berpapasan dengan Kim yang lain. Dan Tuan dan Nyonya Jeon mempersilakan teman SMA putranya masuk ke dalam rumah dengan senang hati.
Kim Taehyung gigit jari.
Jeon Jungkook tidak mengisi daya ponselnya. Taehyung bisa memastikan itu karena semua panggilannya tidak tersambung, pesannya gagal terkirim, seluruh social media-nya tidak aktif. Ia mencoba menghubungi melalui telfon penginapan, dan hasilnya sama saja. Simpulan: nomor ponselnya tidak diblokir oleh sang kekasih dan ia bernafas lega.
Selama tiga hari, kunjungannya selalu ditolak.
Taehyung hampir meneguk botol kelima malam itu kalau saja ponselnya tidak berdering nyaring. Ia merasa hampir putus asa karena tidak bisa bertemu dengan kekasihnya yang super menggemaskan. Rasanya ingin membawa kabur Jungkook saja.
Dengan malas-malasan, ia mengangkat panggilan tersebut.
"Yo, soldier V! Bagaimana liburanmu?"
Hanya ada satu makhluk yang masih memanggilnya begitu hingga saat ini, dan orang itu adalah ayahnya sendiri. Taehyung menghela nafas lega, setidaknya bukan sang ibu yang menelfon.
"Tidak terlalu baik. Tuan dan Nyonya Jeon masih menganggapku musuh."
Chanyeol tergelak dari ujung sambungan. Si bungsu bisa membayangkan ayahnya terpingkal sambil memegangi perut. Dalam hati ia berdoa agar ayahnya terjungkal sampai kepalanya benjol.
"Dad, berhenti mengolokku. Aku hampir mabuk karena masalah ini, dan kau malah tertawa."
"Kau, apa?"
Oh.
Sial.
Kim Chanyeol terdengar sangat marah sekarang.
"Ibumu akan mengamuk kalau tahu kau minum-minum."
Taehyung memutar bola mata. Ia tahu dirinya yang paling payah di keluarganya ketika berurusan dengan alkohol. "Aku mabuk air mineral, Dad. Perutku hampir kembung gara-gara terlalu banyak minum. Lagipula pegawai di penginapan mendapatkan peringatan keras dari baby-mu itu. Mereka menjauhkan segala macam alkohol dariku, soju saja mereka tidak mau memberikannya padaku. Sial."
Kepala keluarga Kim kembali tertawa. "Baiklah, baiklah… harusnya aku tahu alasan Baekhyun memintamu menginap di sana. Dia pasti ingin megawasi putra kesayangannya yang manis."
"Ayolah, berhenti memanggilku manis."
Chanyeol terkekeh ringan sebelum mengambil nafas dalam. "Jadi, kenapa mereka tidak menyukaimu? Yah, mungkin saja kau mau bercerita kepada ayahmu yang lebih berpengalaman ini. Sebagai informasi, aku juga harus berjuang untuk mendapatkan restu dari Tuan Byun, kau tahu sendiri kakekmu bagaimana. Dan sebenarnya Namjoon juga harus bersabar untuk menunggu izin dari mertuanya."
"Apa Dad sedang bersama Mommy?" Taehyung menghela nafas lega saat ayahnya bilang dirinya masih berada di kantor, dan ibunya sibuk dengan Seokjin di rumah. Setidaknya, tidak akan ada yang heboh mendengar ini. "Rahasiakan ini dari Mommy, juga Namjoon hyung atau siapapun."
"Okay, Captain V!"
Taehyung terkekeh pelan. "Aku tidak tahu kenapa, tapi sejak pertama kali bertemu, Tuan dan Nyonya Jeon sedikit bersikap defensif, dan ofensif dalam waktu yang sama. Menjaga jarak. Ketika aku ditanya apa yang ingin kulakukan setelah lulus, ayahnya terlihat sedikit mencair, tapi ibunya tetap bersikap menyebalkan."
"Lalu?" Chanyeol menjeda beberapa saat. "Apa saja yang kau lakukan? Sikap seperti itu tidak bisa menghentikan langkahmu kan?"
Taehyung tampak ragu, ia meneguk kembali air mineralnya sebelum bicara. "Beberapa hari yang lalu aku melakukan kesalahan besar, Dad."
"Kesalahan?" sang ayah membeo, lalu menunggu selama beberapa saat sebelum bungsunya kembali bicara.
"Hari itu harusnya kami pergi melihat sunrise, tapi karena Jungkook meminta sesuatu sambil menangis, aku mengajaknya ke kamar agar dia menenangkan diri saja." pemuda bersurai pirang memejamkan mata selama beberapa saat. Ia memutuskan untuk bercerita karena, sungguh. Rasa bersalahnya benar-benar menjadi momok yang mengerikan selama beberapa malam ini. "Seharian aku menjalankan tugas yang Dad berikan, dan Jungkook berjalan-jalan di penginapan, bertemu dengan teman-temannya ketika sekolah. Semuanya terdengar menyenangkan."
"Ya, aku mendapat laporan dan GM kau bekerja dengan sangat baik. Kurasa kau memang kompeten di bidang itu." ada rasa bangga di nada bicaranya. Ia tahu soldier-nya yang dulu menggemaskan telah tumbuh dewasa menjadi pria yang siap membina rumah tangga.
"Saat itu aku sangat lelah, Dad. Berkeliling di sekitar pantai menggunakan pakaian formal, aku tidak terbiasa. Dan ketika aku kembali ke kamar, Jungkook menyambutku dengan permintaannya yang aneh lagi. Kupikir dia sudah lupa, tapi malah semakin memintanya." yang lebih muda menghembuskan nafasnya kasar. "Aku kelelahan, dia melakukan hal yang menyebalkan, aku kelepasan."
"Memang apa yang dia minta?"
"Membuat adik bayi."
Hening menyelimuti mereka berdua sampai akhirnya Kim Taehyung menjauhkan ponsel dari telinganya karena mendengar sang ayah terbatuk keras. Umpatan dimana kepala keluarga Kim merutuki kopinya menggema nyaring di telinga.
"Jungkook meminta itu?"
Taehyung mengangguk, mengabaikan fakta bahwa ayahnya bukan makhluk supernaturalyang bisa mendengar pergerakannya. "Kau tahu sendiri dia sepolos apa. Dia pikir dengan memiliki bayi, orang tuanya akan setuju. Dad, aku tidak bisa melakukan itu."
"Kenapa?"
Terdengar nada kecewa di sana, dan bungsu Kim semakin merasa kesal. Kesannya Chanyeol mendukung ide Jungkook untuk memiliki anak di luar pernikahan.
"Aku menghormati kedua orangtuanya, sama seperti aku menghormati Mom dan Dad. Aku tahu mereka sangat menyayangi Jungkook, mereka menjaganya baik-baik. Aku tidak mau merusak putra kesayangan Jeon. Itu sama saja mencoreng nama keluarga Kim. Lebih parahnya, sama saja dengan melecehkan seluruh keluarga Jeon. Aku terlalu mencintai Jungkook untuk bisa melakukan hal curang seperti itu. Kalaupun ingin mendapatkan lampu hijau dari Tuan dan Nyonya Jeon, aku akan mendapatkannya dengan cara yang terhormat."
Chanyeol terkekeh. "Aku selalu tahu bahwa kau adalah seorang anak yang bisa membanggakan."
"Tapi aku kelepasan, Dad. Malam itu aku sangat marah, aku menciumnya tanpa perasaan, membuat tanda di lehernya. Aku bisa mengendalikan diri setelah itu, tapi Jungkook sepertinya terlanjur takut padaku." sial. Rasanya Kim Taehyung seperti seorang bocah yang sedang mengadu. Biarlah, ia merasa butuh bercerita dengan seseorang. "Aku tidak bisa menghubunginya, orangtuanya tidak mengizinkan aku menemuinya karena sepertinya mereka melihat tanda di leher Jungkook. Mereka pasti membenciku. Dad, aku harus bagaimana?"
Tuan Kim mendengus geli. Taehyung tahu sang ayah tidak bermaksud mengejeknya, jadi ia memilih diam saja.
"Minta maaflah padanya. Jangan berhenti untuk mencoba menemuinya. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi jika kau berkunjung setiap hari. Pertama, mereka melihat kegigihanmu dan akhirnya memberi izin untuk bertemu Jungkook. Kedua, mereka akan muak melihat wajahmu dan akhirnya memberi kesempatan untukmu menemuinya walau hanya sebentar."
"Yang manapun tidak masalah. Yang penting aku bisa bertemu dengannya."
"Itu baru putraku."
Taehyung terkekeh ringan. Ia sadar betul ayahnya sama sekali tidak memberikan ide baru, namun entah mengapa beban di pundaknya seolah berkurang setengah begitu ia selesai bercerita. Setidaknya ia tidak merasa terlalu berdosa karena tidak bisa menjaga nama baik keluarga Kim. Sekarang yang harus ia lakukan adalah membersihkan kekacauan yang telah ia buat.
.
.
Hari berikutnya, Taehyung kembali berkunjung dengan mood yang baik. Tadi Yugyeom yang baru saja tiba untuk melaksanakan shift sore mangatakan bahwa ia baru saja mengunjungi Jungkook. Tidak masalah bagi Tae karena yang dikatakan Yugyeom selanjutnya membuat hatinya berbunga-bunga. Sang kekasih menanyakan apa saja yang dilakukan Taehyung di penginapan dan lain sebagainya. Pegawainya bilang, si kelinci manis tetap tidak mau makan dan hanya menyambar camilan ringan yang dibawakan. Roti dan kue pun dibiarkan jamuran begitu saja.
Taehyung kembali di tolak, oleh-oleh yang ia bawa kembali diabaikan. Namun ia tidak menyerah. Ia tersenyum ramah dan kembali mengutarakan keinginannya untuk bertemu Jungkook.
"Paman, aku tidak akan berhenti berkunjung. Aku tahu aku melakukan hal yang salah, karena itu aku ingin meminta maaf."
Yunho menghela nafas kasar. "Dengar, Kim. Istriku akan sangat marah jika kau berani menginjakkan kaki masuk ke rumah. Pulanglah ke Seoul, Jungkook akan baik-baik saja."
"Tidak, Paman." Taehyung membantah, berusaha sebaik mungkin agar tidak kurang ajar. "Jimin berkunjung setiap hari, dia bilang Jungkook belum mau makan. Tadi Yugyeom mengatakan hal yang sama. Aku hanya ingin memastikan Jungkook baik-baik saja dan memakan sedikit asupan karbohidrat. Aku tahu sebanyak apa dia bisa makan, dan sebenarnya aku tidak bisa membayangkan dirinya hanya memakan camilan tidak sehat selama beberapa hari ini. Paman, aku benar-benar khawatir. Kalau Paman mengizinkanku bertemu dengannya, aku janji akan membuatnya memakan makan malamnya."
Kepala keluarga Jeon memijit pelipisnya. Tamunya yang satu ini benar-benar keras kepala, namun ia salut juga dengan kegigihannya mencari informasi dari teman-teman putranya. Dari yang ia dengar dari Jimin, bocah itu juga mengatakan kalau ia diberitahu oleh Taehyung kalau Jungkook sedang sakit.
"Yun…" sebuah suara lirih terdengar dari dalam rumah.
Sang kepala keluarga menolehkan kepalanya, mendapati sang istri yang berjalan mendekat dengan wajah sendu. Ia langsung mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. "Kenapa, Boo?"
"Jungkook tidak mau makan. Dia demam tapi makan saja tidak mau, bagaimana bisa minum obat?"
Yunho melirik Taehyung sekilas. Pemuda itu masih saja melancarkan sorot penuh harap dari matanya.
"Paman, Bibi, kumohon izinkan aku bertemu dengannya. Aku akan membuatnya makan dan meminum obatnya, aku janji."
Yunho menghela nafas, sementara Jaejoong tampak begitu ragu. Ia marah, kecewa dengan apa yang, ia duga, dilakukan pemuda Kim kepada putranya, tapi kesehatan Jungkook jauh lebih penting dari semua itu. Lagipula ia sempat mendengar nama Taetae hyung digumamkan Jungkook ketika ia tidur.
"Setengah jam." gumam Jaejoong sambil memejamkan matanya. "Setelah itu kau harus keluar."
Taehyung mengangguk bersemangat. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya saat itu.
Ibunda Jungkook membawakan nampan berisi segelas air putih, secangkir susu dan semangkuk bubur kepada Taehyung, lalu menunjukkan kamar putranya.
"Ingat, hanya setengah jam." ujar Jaejoong sebelum meninggalkan Taehyung di sana.
Yunho yang berada di belakang teman putranya memberikan tepukan ringan di bahu si pirang sebelum menyusul sang istri.
Taehyung tersenyum lebar, ia mendapatkan lampu kuning.
"Jungkook." gumamnya dengan suara lembut. Ia mengetuk pintu yang setengah terbuka itu dengan susah payah. Benar kata Jimin, gundukan mencurigakan langsung menjadi pemandangan baginya. Taehyung tersenyum geli. "Hyung masuk ya."
Ia tahu kekasihnya menggeleng di dalam sana, namun pemuda Kim tidak peduli, ia sedikit mendorong pintunya dan masuk begitu saja. Sengaja ia membiarkan pintu terbuka karena ingin membuktikan kepada calon mertuanya bahwa ia tidak akan berbuat macam-macam.
"Hei." Taehyung menaruh nampannya di meja belajar Jungkook. Setelahnya ia menggerak-gerakkan plastik berisi snack, tepat di depan wajah Jungkook. "Hyung bawakan biskuit dengan krim vanilla kesukaanmu dan beberapa camilan lainnya."
Pemilik surai pirang menyeringai. Ia menarik dengan cepat camilan yang ia bawa begitu sebuah lengan keluar dari dalam selimut dan mencoba meraihnya.
"Kau boleh memakannya setelah menghabiskan makan malammu."
Tangan itu kembali masuk ke selimut, lalu kepalanya menggeleng cepat.
Taehyung terkekeh saat menarik kursi untuk duduk di sebelah ranjang single sang kekasih. Perlahan ia mengusap kepala yang masih berbalut selimut. "Kau tidak sesak nafas?"
Jungkook menggeleng.
"Tidak ingin makan?"
Lagi-lagi gelengan yang didapat.
"Tidak mau jika aku menghadiahkan figure Iron Man untukmu jika kau mau makan?" Taehyung tahu tawarannya menggiurkan, apalagi setelah melihat poster tokoh kesukaan sang kekasih yang menempel di beberapa sudut kamarnya.
Jungkook malah menggeleng semakin kuat. Yang lebih tua sudah berniat akan sangat bersabar hari ini. Ia tidak mau melakukan kesalahan yang sama.
"Tidak kangen padaku?"
Kali ini hanya sunyi yang menyelimuti. Jungkook tak lagi menggeleng, ia juga tidak mengangguk. Namun beberapa saat kemudian, sebuah suara lirih sukses membuat senior Kim tersenyum lebar.
"Kangen Taetae hyung."
"Kalau begitu, buka selimutnya, kita perlu bicara, Bunny."
Yang lebih muda kembali menggeleng, memaksa Taehyung menghela nafas berat.
"Aku berjanji kepada ibumu untuk membuatmu makan. Kalau kau terus seperti ini, aku tidak akan boleh berkunjung lagi." Taehyung mengusap lembut kepala Jungkook. "Kumohon, buka selimutnya. Tidak apa jika kau tidak mau bicara, asal kau mau makan. Ya?"
"Tapi aku jelek."
Pemuda Kim mengeryit. "Siapa yang mengataimu jelek? Jeon Jungkook-ku sangat manis dan menggemaskan."
"Aku jelek! Nanti hyung tidak suka."
Taehyung memijit pelipisnya dengan sebelah tangannya yang bebas. "Sayang, berapa kali harus kukatakan aku sangat mencintaimu? Apapun bentukmu, aku tetap suka."
Sejujurnya Kim Taehyung sudah setengah kesal. Dan saat itu juga, gundukan yang dicurigai berisi seonggok makhluk menggemaskan berjenis Jungkook mendudukkan dirinya, lalu menurunkan selimut hingga matanya terlihat.
Matanya sedikit kemerahan, kantung mata yang tidak pernah ada juga kini terlihat. Walau begitu, sepasang obsidian itu tetaplah menawan bagi pemuda Kim. Ia tersenyum lebar menunjukkan rectangle smile-nya yang menawan.
"Janji kau tidak akan meninggalkanku setelah ini?"
Taehyung mengangguk saja. Yang penting membuat mood Jungkook baik sampai akhirnya ia mau makan.
Perlahan Jungkook membuka selimutnya, dan Taehyung langsung memindai kekasihnya dari ujung rambut hingga ujung kakinya yang dilipat. Penyandang marga Kim mengeryitkan dahi. Sama sekali tidak ada bagian dari sang kekasih yang jelek.
"Kau memakainya!" pekik Jungkook menunjuk kaos putih bergambar boneka beruang yang kepalanya tertembus pasak. Taehyung menumpuknya dengan jaket kulit hitam yang ia kenakan di hari pertama mereka berangkat ke kampus bersama. Pemuda Jeon lalu menunjuk kaosnya sendiri. Kaos mereka sama, hanya berbeda warna. Dan itu adalah benda pertama yang dibelikan Taehyung untuknya, bersamaan dengan gelang sederhana yang ia pakai, juga kemeja denim yang tertingal di Seoul.
Taehyung langsung tersenyum dan mengacak gemas rambut sewarna wine milik kekasihnya. "Kau juga memakainya. Dan itu sungguh menggemaskan. Kau tidak jelek, sayang. Jangan mengatakan itu lagi."
Jungkook menggeleng pelan, mendongakkan kepalanya dan menatap Taehyung dekat-dekat. "Lihat wajahku, aku jelek."
Yang lebih tua hanya menggeleng ringan. Ia berani bersumpah tidak ada yang jelek dari wajah kekasihnya.
"Ini. Ini. Ini… banyak sekali. Aku jelek!" Jungkook mengerang frustasi setelah menunjuk-nunjuk beberapa bintik kemerahan di wajahnya.
"Astaga. Kau bilang wajahmu jelek hanya karena jerawat?"
Pemuda Jeon mengangguk mantab, dan sekarang Taehyung yang mengacak rambutnya frustasi. Setelah itu ia membingkau wajah pemuda bermata bulat dengan kedua telapak tangannya. "Berani kau mengatai kekasihku jelek lagi. Kau akan menyesal."
Ia lalu menggesekkan ujung hidungnya ke ujung hidung Jungkook, lalu terkekeh. "Kau sama sekali tidak jelek, sayangku… tolong jangan mengatakan itu lagi."
Jungkook hanya mengangguk dengan kedua tangannya yang meremat kaos sang kekasih.
"Maafkan aku, Kookie." bisik yang lebih tua lirih. "Maafkan sikapku kemarin, aku benar-benar menyesal."
Jungkook menegang. Ia meremat semakin erat kaos Taehyung, wajahnya menunduk dalam. "Kenapa membahasnya lagi? Aku jadi ingat kalau hyung tidak mau menyentuhku."
Hati pemuda Kim seolah diremat kuat.
"Apa hyung datang kesini hanya untuk mengingatkanku kalau aku tidak pantas membuat adik bayi denganmu?"
Taehyung menggeleng ringan. Ia mencoba menjelaskan dengan hati-hati. "Aku tidak ingin kita semakin salah paham. Aku mencintaimu, Jeon Jungkook. Sangat. Tapi kita tidak bisa melakukan itu, kita tidak boleh melakukannya."
"Kenapa?" yang lebih muda mengerang protes. Ia mendongakkan wajahnya, menatap sang kekasih dengan mata yang berkaca-kaca. "Bukannya membuat adik bayi sangat mudah? Kalau bukan karena hyung tidak mau denganku, lalu apa?"
Pemuda Kim memejamkan matanya sekilas lalu mengambil nafas dalam-dalam.
"Membuat bayi memang sangat mudah. Dan aku bisa saja melakukannya saat kau menginap di apartemenku untuk pertama kali. Apalagi keadaanmu yang mabuk gara-gara kue yang kau makan."
Tubuh Jungkook menegang. Yang diucapkan sang kekasih memang benar.
"Tapi aku tidak melakukannya." lanjut Taehyung lembut. "Aku sangat mencintaimu sampai-sampai aku tidak berani melakukan hal itu sebelum kita terikat di depan Tuhan. Aku menghormati kedua orangtuaku, aku tidak akan melakukan hal-hal yang membuat mereka kecewa. Aku juga menghormati orangtuamu, dan aku tidak akan merusak apa yang selama ini mereka jaga."
Pipi Jungkook menghangat saat bibir seniornya menciumnya lembut, sangat lembut.
"Memiliki adik bayi bukan jalan keluar dari masalah kita, kau tahu? Bagaimana kalau kau sudah mengandung anakku, lalu orangtuamu malah semakin membenciku karena aku begitu kurang ajar?"
Jungkook menggeleng ringan.
"Apa kau juga mau berhenti kuliah? Karena aku sangat ingin istriku yang sedang hamil beristirahat saja di rumah sambil melakukan kegiatan ringan."
"Tidak mau." ujar yang lebih muda.
"Aku juga merasa sedih, kau tahu? Aku juga merasa bingung harus bagaimana agar orangtuamu menerimaku. Tapi aku tidak akan melakukan cara kotor seperti itu, Baby. Kita tidak akan melakukannya. Kita tidak akan menjadi pengecut, mengerti?"
Jungkook enggan menjawab. Ia hanya menenggelamkan wajahnya ke dada bidang sang kekasih. Taehyung lengsung mengusap kepalanya lembut.
"I know it's hard, but please believe in me. Even if the moon and the stars leave the night, I'll still find you and hug you tight. Thus, you'll be alright."
Jungkook hanya mengangguk dan memeluknya semakin erat.
"Dan sikapku yang kasar saat menciummu, aku benar-benar minta maaf. Aku terlalu lelah dan tidak bisa mengendalikan diriku. Tapi aku bersumpah, aku hanya ingin melindungimu."
Jungkook terkekeh ringan. Ia menggelengkan kepalanya sebelum mendongak dan mengecup lembut bibir sang kekasih.
Sial.
Kim Taehyung merasa kecolongan start. Harusnya ia yang mencium duluan.
"Aku hanya takut hyung tidak menyukaiku. Sekarang setelah kau mengatakan semuanya, aku merasa sangat lega."
Taehyung memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya ke perpotongan leher dan bahu Jungkook. "Aku ingin memelukmu semalaman, tapi aku sudah janji hanya di sini sebentar dan akan membuatmu makan. Jadi sekarang kau harus habiskan bubur buatan ibumu, lalu makan semua camilan yang kubawakan, mengerti?"
Jungkook mengangguk, merasa amat senang. Ia meminta seniornya menyuapinya, sambil ia menceritakan apa saja yang dibawakan Jimin dan Yugyeom ketika mereka berkunjung, juga hal-hal yang mereka bicarakan.
Kim Taehyung berjanji kepada dirinya sendiri untuk memasukkan nama Kim Yugyeom ke daftar tami VVIP di pernikahannya kelak. Ia akan menunjukkan padanya bahwa Jeon Jungkook adalah miliknya seorang, dan mereka berdua sangat sangat serasi.
"Setelah ini, tidur. Eomma-mu bilang kau sedikit demam." ucap Taehyung menaruh mangkuk kosong di nampan, lalu membukakan roti basah untuk kekasihnya yang langsung dengan riang melahapnya.
Jungkook mengangguk saja. "Tapi aku sudah baikan setelah bertemu dengan hyungie, ehehe…"
Manis sekali. Taehyung selalu suka saat Jungkook tersenyum malu-malu dan menunjukkan gigi kelincinya yang mengintip lucu.
"Oh! Nyalakan televisi. Nyalakan!" Jungkook memekik heboh saat tak sengaja melihat jam di dinding kamarnya. Ia menyambar remote dan menyalakan televisi berukuran sedang di sudut ruangan.
Ia begitu fokus saat menonton siaran drama yang terlihat mencurigakan. Bagi Kim Taehyung. Judulnya aneh dan pemeran utamanya suka sekali minum darah.
"Itu apa?"
"Drama vampire. Mommy Baekki yang merekomendasikannya padaku."
Taehyung mengeryit saat melihat warning yang tertera setelah opening selesai. Disana tertulis angka dua puluh satu plus, juga kata darah dan adegan ranjang. Perasaannya mendadak tidak enak.
"Apa ada adegan membuat adik bayi di sana?"
Jungkook mengangguk mantab. Matanya tak lepas dari sosok berambut pirang yang menggendong tokoh bertubuh gembul di punggungnya. Menurut Kim Taehyung, mereka adalah pasangan kurang kerjaan yang berjalan di tengah hutan malam-malam tanpa membawa penerangan. Kenapa pula harus adegan gendong-gendongan?
Tapi bukan itu masalahnya.
Jungkook mengakui adanya adegan membuat adik bayi di sana.
"Tapi mereka tidak bisa punya adik bayi." Jungkook berujar sedih. "Kakak dari si pirang itu tidak setuju kalau adiknya berpacaran dengan vampire karena mereka berasal dari keluarga pemburu. Padahal vampire berambut hitam itu manis dan menggemaskan seperti aku."
Taehyung hanya bisa menahan dirinya agar tidak menarik pipi Jungkook saat namja berpipi tembam favoritnya memegang kedua pipinya yang menggembung dengan pose imut.
"Mommy Baek bilang, seandainya vampire itu bisa mengandung adik bayi, pasti keluarga si pirang menyetujui hubungan mereka."
Taehyung mengangguk-anggukkan kepalanya. Sampai ia menyadari sesuatu, "Tunggu. Mom bilang apa?"
Jungkook masih fokus dengan tontonannya. "Mom bilang, keluarga manapun akan menyetujui pernikahan pasangan yang sudah memiliki bayi. Makanya kalau tidak disetujui, buat adik bayi saja. Begitu…"
Kim Taehyung tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Ia menahan kepalan tangannya agar tidak berlari ke Seoul sekarang juga, dan meremukkan koleksi eyeliner milik ibunya.
Jelas sudah siapa yang meracuni pikiran kekasihnya yang polos.
Salah satunya adalah drama aneh tentang vampire-vampire-an yang dalam episode kali ini ber-setting di Busan. Dan yang paling penting adalah omongan menjerumuskan dari Kim Baekhyun.
Setibanya di Seoul, Taehyung benar-benar akan menuang eyeliner ibunya dan akan mengganti isinya dengan make up remover.
Lihat saja apa yang akan terjadi nanti.
.
Eighth lesson: "Even if the moon and the stars leave the night, I'll still find you and hug you tight. Thus, you'll be alright." (END)
.
.
Please don't forget kalau fic ini ada unsur komedi.
Jangan kaget kalau plot twistnya super konyol.
Dan apa-apaan drama vampire ga jelas yang ditonton Jungkook dan Baekhyun? Mencurigakan.
.
.
Please tinggalkan review
Salam cinta, Tiger
Maaf belum bisa balas pm karena masih sangat sibuk. Dan beberapa hari ke depan bener-bener ga akan bisa buka ffn. So gimme surprise with tons of reviews when I come back. Thanks a lot…
Oh, ada yang bisa nebak lesson kali ini terinspirasi dari lagu apa?
