"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.

Genre: Romance, Comedy (?)

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin | Park Jimin x Min Yoongi | Jung Hoseok | PCY as Kim Chanyeol x BBH as Kim Baekhyun | Jung Yunho as Jeon Yunho x Kim Jaejoong as Jeon Jaejoong

Rated: T plus plus

Warning: Ambigu, typo tak tertahankan

.

.

Part IX: Something to Confirm

Kim Taehyung keluar dari kamar Jeon Jungkook dengan jantung berdebar tak karuhan. Pasalnya, calon ibu mertua hanya memberinya waktu tiga puluh menit, dan ia menyelesaikan tugasnya untuk membuat Jungkook menghabiskan makan malam dan meminum obatnya hingga pukul sepuluh. Artinya, lebih dari dua jam ia berduaan dengan kekasihnya di dalam kamar. Taehyung sungguh tidak melakukan apapun selain duduk di tepi ranjang dengan Jungkook yang merengek minta ditemani karena bocah kelinci itu merasa patah hati. Tokoh favoritnya di drama vampire-vampire-an yang, menurut penuda Kim, sangat mencurigakan itu tewas mengenaskan setelah terkena peluru yang ditembakkan kakaknya sendiri. Jadilah Kim Taehyung baru bisa keluar setelah sang kekasih terlelap.

Ia berjalan membawa nampan dan peralatan makan yang kosong tak berisi. Si pirang sedikit terlonjak saat bertemu dengan Jaejoong setelah lima langkah berjalan dari pintu kamar Jungkook. Taehyung tersenyum canggung. "Ma -maafkan aku, Bi. Jungkook tidak membiarkan aku pergi karena dia merasa sedih setelah menonton drama."

Kim Taehyung bersumpah, wajah marah ibunya lebih menyenangkan ketimbang wajah datar Jeon Jaejoong yang kini ada di hadapannya. Pria bermata bulat itu tidak menjawab, ia hanya mengambil nampan di tangan Taehyung, lalu berjalan meninggalkannya.

Kim muda kicep. Namun perlahan senyum mengembang di wajahnya setelah ia mendengar kalimat terindah yang pernah terlontar dari bibir pria yang dijuluki singa oleh Park Jimin.

"Sudah larut. Kau boleh memakai kamar kosong di penginapan." gumam Nyonya Jeon sebelum menghilang di balik tembok. "Yun, tolong tunjukkan kamar untuk temannya Jungkook."

Taehyung mematung dengan bibir yang tersenyum kelewat lebar. Namun ia segera menggantinya dengan senyum ramah saat Tuan Jeon berjalan mendekat dan memberi isyarat agar Taehyung mengikutinya. Pemuda Kim membungkuk sok cool sebelum berjalan. Pencitraan.

"Terima kasih sudah membuat Jungkook mau makan." ujar Yunho setelah membukakan pintu kamar Taehyung, lalu memberikan kuncinya. "Sekarang beristirahatlah, besok jam lima ikutlah denganku."

"Baik, Paman." pemuda pirang membungkuk hormat. "Terima kasih banyak."

Setelahnya, Yunho pergi begitu saja, meninggalkan Taehyung yang langsung masuk ke kamar, membuka jaketnya, lalu memasang blank expression-nya tanpa bisa dikendalikan. Ia seolah baru ketiban durian tepat di kepala. Terkejut, bingung, bahagia… entahlah. Seolah otaknya jadi kosong.

Tahu-tahu dirinya sudah berguling di ranjang pendek yang disediakan. Taehyung senyum-senyum sendiri, merasa benar-benar senang karena bisa menginap di rumah kekasihnya, walau nyatanya mereka tidak tidur sekamar.

Ia menenggelamkan wajahnya di bantal, tengkurap. Tak lama, menggerak-gerakkan kakinya heboh seperti bocah lima tahun yang mendapat hadiah figurine di malam natal. Ia benar-benar sangat-sangat senang sekali karena calon mertuanya membiarkannya tinggal.

Pokoknya senang. Sedikit nervous juga karena besok pagi sepertinya ia akan menghadapi Jeon Yunho dalam pertarungan satu lawan satu.

"Oh! Gotta set the alarm!" pekik Taehyung. Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya, lalu memasang alarm pukul 04:00, 04:10, 04:20, 04:30, 04:40, 04:50, 04:51, :04:52, 04:53, 04:54, 04:55. Sangat berlebihan, memang. Tapi lebih baik berjaga daripada bangun kesiangan. Ia akan bersiap di depan kamar sebelum calon ayah mertuanya tiba di sana. Lagi-lagi usaha pencitraan.

Ia tak tahu apa yang akan dilakukan kepala keluarga Jeon padanya esok pagi. Apapun itu, jika demi mendapatkan restunya, akan Kim Taehyung jalani. Di lempar ke arena gladiator pun, Kim Taehyung akan dengan senang hati menyanggupi.

Ia mengganti pakaiannya dengan piyama yang disediakan di penginapan keluarga Jeon. Beruntungnya, di kamar mandi sudah ada sikat gigi, sabun, dan shampoo untuknya. Dengan kata lain, besok pagi ia bisa tampil beken saat menemui Yunho.

Niatnya Taehyung akan langsung tidur agar nempak segar di pagi hari. Nyatanya, hingga lewat tengah malam, ia masih berguling-guling tidak jelas di kasurnya. Bukan karena ranjangnya tidak nyaman, ia hanya merasa terlampau grogi. Dirinya butuh saran, sangat. Karena jauh di dalam hatinya, ia sungguh penasaran dengan apa yang akan dilakukan sang calon ayah mertua.

Jungkook bilang, keluarganya memiliki bisnis pengalengan ikan. Bagaimana kalau Kim Taehyung ditantang untuk berlayar di laut dan menangkap satu ton ikan untuk kemudian dikalengkan sendirian?

Bagaimana kalau ia diharuskan membersihkan seisi penginapan?

Taehyung benar-benar ingin tahu apa yang biasa dilakukan seorang ayah jika anak gadisnya membawa pulang pemuda yang ia cintai. Maka ia mengambil ponsel yang sudah diletakkannya di meja, menekan tombol dial setelah menemukan ayahnya di daftar kontak. Cinta mati ibunya itu mengaku pernah kesulitan mendapatkan restu dari kakeknya, mungkin Taehyung bisa belajar dari pengalaman ayahnya.

Tak menunggu berapa lama, ia mendengar suara berisik dari seberang. Taehyung megeryitkan dahi, curiga.

"Dad? Kau di sana?"

"Hai, kid. Aku sedang… sibuk."

Bungsu Kim memicingkan matanya. Suara ayahnya terdengar putus-putus. "Kau sedang bersama Mom?"

"Ya, ahhh.. begitulah."

Bulu kuduk si pirang meremang, baru saja ingin bertanya lagi, sebuah suara benar-benar membuat ia merasa malu memiliki orang tua seperti Kim Chanyeol dan Byun, sekarang Kim, Baekhyun.

"Mmhh.. Chan. Jangan lama-lamahh! Biarkan mmh Taehyung. Tutup sa.. ahh! Jangan biarkan aku bergerak sendiri.. Daddy… "

Kim Taehyung langsung mematikan ponselnya.

Sial.

Ia baru sadar kalau dirinya menelfon di saat yang sangat tidak tepat. Dan bisa-bisanya sang ayah mengangkat panggilannya jika ia sedang melakukan hal-hal tidak senonoh dengan ibunya. Orangtua macam apa mereka?

Ia jadi ingat, dulu Yoongi sering menggodanya dengan panggilan Byun Tae. Bukan tanpa alasan. Itu adalah hasil imajinasi liar Min Yoongi yang membayangkan jika Baekhyun menjadi seorang ayah dan tetap memiliki Taehyung sebagai putranya. Maka nama yang dimiliki pemilik surai pirang adalah Byun Taehyung. Panggilan ByunTae terdengar sangat pas, sekaligus mesum.

Ingin rasanya Taehyung mengumpat namun ia urungkan mengingat kamar di sebelahnya juga terisi pengunjung. Jadilah ia berusaha memejamkan mata dan menghapus bayangan nista di otak setengah polosnya.

Entah berapa lama ia terlelap, Kim Taehyung bangun dalam keadaan tubuh penuh keringat. Ia memimpikan dirinya ditantang balapan renang di laut lepas oleh kepala keluarga Jeon. Bungsu Kim ahli berenang, namun jika arenanya di samudera, ia juga akan pikir-pikir karena di daerah Busan, setahunya banyak ikan hiu. Setidaknya itu simpulan yang ia dapat setelah berkunjung ke aquarium raksasa di kota itu.

Ia membuka mata malas-malas, merasa heran juga kenapa alarmnya belum berbunyi. Maka tangannya terulur kesana-kemari, dan langsung menarik ponsel pintarnya begitu benda itu tersentuh. Taehyung mengeryitkan dahi saat tak mendapati paparan radiasi menerpa wajahnya ketika tombol power ia tekan. Perlahan ia membuka mata, dan umpatan halus langsung lolos dari bibirnya begitu ia menyadari ponselnya mati.

Pengaturan pada ponselnya membuat alarm tidak berfungsi ketika ponselpintar tidak dalam keadaan hidup.

"Sial." umpatnya merdu. Ia memang lupa menghidupkan kembali ponselnya semalam. Pupilnya makin melebar kala ponselnya yang kembali menyala menunjukkan angka 04:47.

Setelahnya, Kim Taehyung mandi kilat.

Ia keluar dari kamarnya dengan rambut setengah berantakan dan baju yang dikenakannya semalam sekitar pukul lima kurang beberapa detik. Mengejutkannya, Jeon Yunho sudah berdiri menunggunya.

Kim Taehyung tersenyum canggung. "Maaf, aku terlambat, Paman."

Yunho hanya terkekeh, lalu memberikan isyarat agar Taehyung mengikutinya. Mereka berjalan keluar pekarangan, berbelok ke arah kanan. Sekitar setengah jam berjalan dalam diam, mereka tiba di sebuah gedung besar yang berisik. Benar-benar berisik karena di dalamnya, mesin-mesin pengolah hasil laut tengah beroperasi.

Kepala keluarga Jeon masuk, lalu menyapa dan berbincang dengan beberapa pekerja. Taehyung yang mengikutinya mendapat tatapan menyelidik dari setiap orang yang ia temui, namun hanya bisa membungkuk hormat dan tersenyum ramah karena, sungguh. Ia tidak tahu kenapa Yunho membawanya ke pabrik ini.

"Jadi, bagaimana menurutmu?" gumam yang lebih tua tiba-tiba. Sepasang mata musangnya mengamati kaleng-kaleng kemasan yang mulai dimasukkan ke dalam kardus. Ia melirik teman putranya sekilas.

"Apa aku boleh berkata jujur?"

Yunho menoleh ke arah pemuda pirang, mengeryitkan dahi namun tak memberi penolakan atas permintaan pemuda Kim.

"Sebenarnya aku bingung kenapa Paman mengajakku kemari. Tapi setelah melihat beberapa pekerja, dan apa yang terjadi di pabrik ini, aku menarik beberapa simpulan." Taehyung tersenyum lebar. Ia menyejajarkan diri dengan calon ayah mertuanya, lalu ikut-ikutan mengamati kaleng-kaleng kemasan yang mulai ditata. "Pertama, Paman ingin menunjukkan padaku pabrik milik keluarga Jeon. Ternyata benar seperti yang dikatakan Jungkook. Tempat ini menakjubkan. Jujur aku belum pernah melihat pabrik pengolahan ikan seumur hidupku. Lalu, aku juga melihat betapa kerasnya orang-orang di sini bekerja. Aku bahkan tidak bisa membayangkan jam berapa mereka bangun karena saat aku tiba di sini, semua mesin sudah beroperasi. Mungkin aku salah menangkap maksud Paman, tapi aku jadi tahu bahwa dalam sebuah kaleng kecil berisi ikan olahan, adak banyak orang yang bekerja keras."

Yang lebih tua diam, sengaja tidak memberi tanggapan. Dan itu sukses menarik atensi Kim Taehyung, membuatnya tersenyum canggung dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

Taehyung tertawa hambar. "Beberapa dosen bilang caraku mengungkapkan gagasan memang sedikit berantakan, jadi maaf kalau Paman bingung dengan ucapanku. Terkadang Namjoon hyung sampai marah-marah karena tulisanku tidak terstruktur."

Mau tidak mau Yunho tertawa juga. Tangannya terulur dan secara sangat kasual mengacak rambut pirang bungsu Kim. "Kau benar-benar lucu seperti yang Jungkook bilang."

"Lucu?" Taehyung membeo.

"Dia bilang senior Kim lucu dan baik hati. Makanya aku dan Boojae tidak boleh galak padamu." kepala keluarga Jeon terkekeh. Ia kembali berjalan menuju bagian pabrik yang lain dengan Taehyung masih berjalan di belakangnya. "Jadi, sudah berapa lama kalian pacaran?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dan sukses membuat Taehyung hampir tersandung kakinya sendiri. Beruntungnya, ia bisa menyeimbangkan tubuhnya. Mengendalikan hormon saja Kim Taehyung ahli, apalagi hanya mengendalikan kesaimbangan.

"Sejak beberapa bulan yang lalu." jawabnya hati-hati.

Pria bermata rubah manggut-maggut sebelum kembali bertanya. "Kau tahu Jungkook terkadang bisa sangat kekanakan?"

"Dia menggemaskan." Kali ini Taehyung terkekeh ringan. "Awalnya aku tidak tahu, tapi lama-lama sifat itu terlihat, dan aku tidak keberatan. Sebenarnya dia bisa bersikap sangat dewasa."

"Hoo… begitu?" Jeon senior duduk di sebuah kursi di ruang istirahat setelah mengambil dua kaleng kopi dari almari pendingin. Ia memberikan satu untuk Kim junior. "Apa yang dia lakukan sampai-sampai kau bilang Jungkook sangat dewasa?"

Taehyung mengucapkan terima kasih sebelum duduk di sebelah Yunho. Ia membuka kaleng kopinya, lalu meminumnya sedikit. "Ini kejadian yang tidak menyenangkan. Jungkook akan langsung marah kalau aku mengungkit masalah ini."

Mereka lalu terdiam beberapa saat. Yunho menghargai privasi Taehyung, maka ia tidak akan mengusiknya kalau bocah itu tidak mau cerita. Namun nyatanya, yang lebih muda malah kembali membahasnya.

"Saat itu, senior yang dulu kusukai kembali dari luar negeri. Aku sudah bersama Jungkook dan aku benar-benar mencintainya, tapi aku tidak bisa melukai seniorku. Suasananya sedikit kacau dan Jungkook sangat terluka karenanya. Aku bingung harus bagaimana dan apapun yang dilakukannya saat itu mendorongku untuk segera mengambil keputusan." Taehyung tertawa ringan. "Kelihatannya dia memang hanya menangis dan mengatakan apapun yang ada di kepalanya, tapi bagiku, dia terlihat sangat dewasa dan menawan. Kalau aku berada di posisinya, mungkin mengatakan sepatah kata saja aku tidak akan berani. Tapi Jungkook berbeda… rasanya aku jatuh cinta lagi padanya. Aku ingin selalu melindunginya dan membuatnya tersenyum bahagia."

Usai menyelesaikan kalimatnya, wajah Kim Taehyung langsung memerah hingga ke telinga. Ia baru sadar bahwa dirinya sudah mengatakan hal-hal cheesy untuk kekasihnya, di depan ayah sang kekasih, sebuah pengakuan besar. Mengatakannya kepada Jungkook saja Taehyung tidak pernah, sekarang malah calon ayah mertuanya yang mendengarkan pengakuan cintanya.

Yunho terkekeh, beberapa saat kemudian, ia terdiam dan memasang wajah serius. "Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu, sungguh. Kalau benar kau mengagumi putraku seperti, kenapa malam itu dia pulang dalam keadaan kacau?"

Taehyung tahu betul, ini adalah inti dari pembicaraan mereka berdua. Mulai dari awal hingga sekarang, Jeon Yunho hanya ingin mengetahui apa yang terjadi malam itu.

"Aku minta maaf." gumamnya lirih. Mau tak mau Taehyung menunduk dalam, memainkan kaleng di tangannya yang tinggal isi setengah dengan gusar.

"Taehyung. Aku ingin kau jujur padaku." pria berambut coklat menarik nafas dalam. "Katakan apa yang kau lakukan padanya malam itu."

Taehyung mengangkat kepalanya, memberanikan diri untuk menatap kepala keluarga Jeon. Ia terlihat sangat serius. "Aku berusaha melindunginya, Paman. Tapi aku memilih cara yang salah, aku terlalu kasar padanya karena aku sangat lelah, aku tidak bisa berpikir dengan baik. Mungkin, aku memang keterlaluan karena menciumnya seperti itu. Tapi aku bersumpah demi apapun yang aku miliki, aku tidak melakukan lebih dari itu. Aku menghormatinya seperti aku menghormati ibuku. Karena dia adalah calon ibu dari anak-anakku, dan aku ingin kelak mereka juga menghormatinya seperti itu."

"Astaga…" Yunho memijit pelipisnya. "Kau benar-benar ingin menikah dengan putraku?"

Kali ini Taehyung mengangguk bersemangat. Wajahnya masih terlihat sangat serius. Ia bahkan tidak sadar telah melontarkan bagian mencium dengan fasih, tanpa sensor, walau tidak jelas mencium yang seperti apa.

"Aku tidak pernah bertemu dengan pemuda seberani dirimu. Sungguh. Yugyeom saja tidak mau mengaku sudah mencium Jungkook, padahal anak itu menangis keras karena perbuatannya. Dan kau… kau dengan sangat berani mengatakan semuanya."

Yunho menggelengkan kepalanya. Ia terdengar lebih santai dan bersahabat. Tanpa ia ketahui, ucapannya membuat Kim muda memasang ekspresi blank andalannya.

Bukan.

Taehyung bukannya terpaku dengan cara bicara sang calon ayah mertua yang lebih bersahabat. Hanya saja, ada sebuah kalimat yang sukses menyedot seluruh atensinya sampai-sampai pemuda Kim merasa pijakannya terombang-ambing bagai plastik bekas camilan yang terbawa arus sungai hingga terseret ke laut lepas.

Yugyeom saja tidak mau mengaku sudah mencium Jungkook, padahal anak itu menangis keras…

Yugyeom… mencium… Jungkook…

Kekasihnya pernah mengaku bahka Kim Taehyung adalah ciuman pertamanya, cinta pertamanya. Dan apa-apaan itu?

Yugyeom? Mencium Jungkook?

Kenapa Taehyung tidak pernah mendengar apapun dari kelinci manisnya?

"Sebaiknya kita kembali. Aku yakin istriku sudah selesai membuat sarapan."

Dan Kim Taehyung hanya mengangguk dengan tatapan kosong.

.

.

"Eomma…" panggil Jungkook lirih. Ia mengintip ibunya yang sedang memasak di dapur.

"Kemarilah." Jaejoong menoleh, lalu tersenyum. Sebelah tangannya memberi isyaratagar putra kesayangannya mendekat.

Dengan itu, Jungkook menghampiri sang ibu, lalu berdiri di sampingnya. Sebelah tangannya memegang sendok sup, lalu mengaduk masakan Jaejoong yang masih belum matang.

"Merasa baikan?"

Pemuda bersurai wine hanya mengangguk, membiarkan begitu saja telapak tangan ibunya menyentuh keningnya. Diam-diam ia memperhatikan wajah sang ibu yang mulai dihiasi keriput-keriput halus. Ia jadi ingat apa yang dikatakan kekasihnya semalam.

"Eomma." panggil Jungkook. Ibunya hanya ber-hmm sambil menata olahan cumi yang sudah matang di atas meja makan. Jungkook terlalu fokus dengan apa yang akan ia katakan sampai-sampai dirinya tidak sadar ada empat piring yang disiapkan.

"Maafkan aku…" cicit Jungkook pada akhirnya. Ia menghadap ke arah ibunya dengan sebelah tangan masih mengaduk sup. Bibirnya mencebik, merasa bersalah. "Beberapa hari ini aku bersikap menyebalkan. Taetae hyung bilang eomma dan appa sangat khawatir."

Jaejoong hanya terkekeh ringan. Setelahnya, ia memeluk putra kesayangannya, mencium keningnya sekilas sebelum berucap menenangkan. "Eomma memaafkanmu. Jangan diulangi lagi, ya? Eomma tidak mau kau sakit."

Jungkook mengangguk cepat. Sejujurnya matanya memanas karena ibunya begitu sabar menghadapi dirinya yang merepotkan. Namun, saat melihat sang ibu akan bertanya, mulutnya malah mengeluarkan kalimat-kalimat aduan. "Semalam Taetae hyung memarahiku. Katanya aku tidak boleh bersikap seperti itu kepada eomma dan appa. Dia bilang, tidak akan mau memainkan saxophone untukku kalau aku masih bersikap keras kepala."

Sang eomma tertawa renyah. "Jadi, Taetae bisa bermain saxophone? Dia bisa memainkan lagu apa?"

"Aku tidak tahu. Aku belum pernah dengar. Makanya dia mengancamku dengan itu kalau aku tidak baikan dengan eomma dan appa." Jungkook masih mengadu. Ia sungguh tidak terima jika senior Kim mengingkari apa yang pernah ia janjikan sendiri.

"Sudah. Jangan ngambek pagi-pagi begini. Sana mandi." Nyonya Jeon mendorong putranya menjauh. Sebelah tangannya menjawil kompor, mematikannya karena sup sudah matang. "Sebentar lagi appa pulang. Mandi, lalu kita sarapan bersama."

"Nanti saja. Aku masih ingin cerita." Jungkook merajuk, dan tidak ada yang bisa menghentikan ocehannya kalau sudah begini. "Semalam Taetae hyung mengomel. Katanya aku tidak boleh nonton film yang aneh-aneh. Kalau masih nonton drama ber-genre aneh, dia akan merusak televisi di apartemenku. Katanya, aku juga tidak akan diizinkan untuk bertemu dengan baby-nya Seokjin hyung kalau sudah lahir nanti. Itu kejam, 'kan, eomma?"

Pemilik surai coklat gelap hanya menggeleng maklum. "Mandilah, nanti kalau appa pulang dan kau belum mandi, jangan salahkan eomma."

"Tidak mau. Pokoknya aku mandinya nanti siang saja."

"Ya sudah." yang lebih tua menghela nafas pasrah. "Bantu eomma menata lauk dan sup-nya."

Putra tunggal Jeon masih ber-pout, tapi ia melakukan apa yang diperintahkan sang ibu. Jungkook begitu sibuk memindahkan sup dan meletakkan empat teh hijau di samping masing-masing piring sampai-sampai tidak menyadari ayahnya masuk ke ruang makan bersama seseorang.

"Tumben putramu rajin, Boo. Biasanya dia paling malas bangun pagi kalau sedang liburan. Apa karena kita kedatangan tamu?" goda Yunho. Jungkook memunggunginya, dan masih belum menyadari bahwa sang kekasih juga berada di ruang itu.

Sementara itu, Jaejoong tak menjawab sama sekali. Ia hanya terkekeh dan langsung duduk di kursinya, diikuti sang suami melakukan hal yang sama.

"Uh, biasanya aku bangun pagi." yang paling muda menoleh, langsung bungkam ketika mendapati sang kekasih yang tengah menatapnya tanpa berkedip. Kalau boleh jujur, penampilan Jungkook cukup berantakan. Rambutnya masih acak-acakan, dengan kaos yang ia pakai tidur semalam, kusut. "H -hyung, kau di sini?"

"Eomma sudah menyuruhmu mandi, tapi kau tidak mau. Ya sudah."

"Eomma!" Sepasang obsidian mendelik, menatap protes ibunya yang baru saja membongkar rahasianya. Pipinya mulai bersemu karena Taehyung terkekeh ke arahnya.

"Sudah, sudah. Jangan bertengkar di pagi hari. Lebih baik kita sarapan saja." Yunho menatap tamu-nya sebelum beralih ke sang putra. "Taehyung, kau duduklah. Kookie juga."

Kim muda menurut, diikuti Jungkook yang melakukannya dengan pipi yang menggembung dan bibir mengerucut. Mau tak mau, kecurigaan yang sempat hinggap di pikiran Taehyung mengenai hubungan Yugyeom dan kekasihnya, di masa lalu, mungkin… langsung menghilang seketika.

"Jangan cemberut." bisiknya mencubit ringan bibir sang kekasih yang terlihat menggemaskan.

"Aku sudah cuci muka dan sikat gigi."

Dan jawaban itu sukses membuat Kim muda menahan tawanya. Pasangan suami-istri Jeon terbahak karenanya. Jungkook benar-benar tidak ingin terlihat payah di depan senior Kim yang merangkap sebagai kekasihnya.

Setelahnya, mereka mulai sarapan. Jaejoong masih banyak bertanya mengenai rencana Taehyung setelah lulus dan alasannya ingin bekerja di perusahaan sang ayah. Nada bicaranya lebih bersahabat, dan itu membuat pemuda Kim lebih santai.

Pemilik surai pirang menjawabnya dengan jujur. Ia mengaku ayahnya bukan tokoh khayalan yang mampu mendirikan perusahaan raksasa hanya dalam sekejab mata. Perusahaan milik keluarganya dirintis oleh kakek buyutnya, dan perlahan berkembang hingga akhirnya menjadi besar seperti sekarang. Sejak kecil, Taehyung selalu berkeinginan untuk menjadi pemimpin perusahaan dengan Namjoon hyung sebagai bawahan, sehingga dirinya bisa bebas memerintah apapun kepada sang kakak. Konyol, memang. Tapi ia serius ingin melanjutkan usaha keluarganya, sekaligus mendirikan coffee shop impiannya.

Jungkook terbahak hingga tersedak saat mendengar alasan itu, dan Taehyung kelepasan meghukumnya dengan sebuah gigitan ringan di pipi hingga yang lebih muda mengerang protes. Keduanya langsung menunduk dengan wajah yang memerah sampai ke telinga saat mengingat bahwa mereka tidak hanya sedang berdua saja.

Taehyung pamit sekitar pukul delapan pagi setelah membantu kekasihnya mencuci piring. Yunho mempersilakannya untuk tinggal lebih lama namun pemuda Kim menolaknya dengan halus. Ia beralasan harus menemani tamu penting makan siang sebelum mereka meninggalkan Busan. Dengan jahil, ia menambahkan agar Jungkook memiliki waktu untuk mandi dan memebersihkan dirinya yang bau sebagai alasan.

"Aku tidak bau." protes Jungkook saat mengantar sang kekasih hingga ke pintu depan. Bibirnya mengerucut, matanya menatap nyalang pemuda pirang yang malah terkekeh santai.

"Kau memang tidak bau, tapi menggemaskan."

Dan Taehyung mendapat tarikan di kedua telinganya sebagai balasan. Bukannya marah, ia malah terkekeh ringan sambil menarik-narik kedua pipi Jungkook.

"Setelah mandi, aku menyusul hyung di penginapan, ya?"

Kim muda menggeleng ringan. Diusapnya kening sang kekasih penuh perasaan. "Hari ini kau habiskanlah waktu dengan appa dan eomma-mu. Mereka pasti meridukan putranya yang beberapa hari ini bertapa di dalam selimut."

Yang lebih muda mencebik kesal.

"Besok pagi, baru kita jalan-jalan setelah melihat sunrise. Aku akan menjemputmu, bagaimana, Kookie bunny?"

Jungkook mengangguk antusias. Setidaknya besok, ia bisa menghabiskan waktu seharian dengan Taetae hyung-nya. Lagipula, dirinya memang perlu waktu bertiga saja dengan ayah dan ibunya. Kim Taehyung benar-benar pengertian. Tipe suami idaman yang tidak egois.

"Kemari, kelinci manisku." Taehyung menarik sang kekasih ke dalam pelukannya. Untuk beberapa saat mereka terdiam dengan posisi itu di depan rumah keluarga Jeon. Kalau boleh jujur, di dalam kepala pemuda Kim, berputar rasa penasaran yang sempat terlupa. Baru akan membuka mulutnya untuk menyuarakan isi kepala, suara eomma Jeon yang nyaring memaggil putranya nyaring terdengar.

Jungkook terkekeh dan melepaskan pelukannya. "Aku akan menunggumu, hyung."

"Jangan lupa mandi." goda Taehyung sukses membuatnya mendapat cubitan keras di perut sebagai jawaban. Kurang dari satu detik setelahnya, ia merasakan sentuhan hangat di bibirnya. Hanya sekilas, karena saat ia akan membalas, Jungkook buru-buru menjauhkan tubuhnya dan menghilang di balik pintu.

"Terima kasih untuk semuanya, hyung!" pekik sebuah suara dari dalam rumah.

Sial.

Jeon Jungkook benar-benar menggemaskan. Kalau begini caranya, senior Kim bisa semakin kecanduan.

.

.

"Taehyung-sshi, kelihatannya kau perlu beristirahat. Maaf kalau saya lancang, tapi beberapa kali kau terlihat kurang sehat."

'Semua itu gara-gara kau, Kim Yugyeom!' Taehyung menjawab dalam hati. Bibirnya menunjukkan senyum profesional. Ia sedikit menyesal telah meminta saingannya untuk memanggil dengan nama depan yang ia miliki. Walau benar juga yang dikatakan pemuda yang, sialnya, lebih tinggi dari Taehyung itu. Sejak melaksanakan pekerjaannya tadi, Tae memang beberapa kali kehilangan fokus. Untung sekarang sudah selesai, jadi ia bisa langsung pergi tidur.

Tentu, setelah menyelesaikan urusan kecilnya dengan Yugyeom.

"Kurasa kau benar. Semalam aku meginap di rumah Jungkook, sejujurnya hampir tidak tidur." pemuda Kim mengulum senyum, merasa sangat bangga dengan jawaban yang ia lontarkan. Ia berharap pegawainya yang satu ini memikirkan yang iya-iya, atau setidaknya, merasa iri karena dirinya bisa menginap di rumah Jeon Jungkook. Tentu saja,

"Kau salah menginap di tempatnya." asisten bungsu Kim malah terkekeh, ia menunjukkan senyum kelewat lebar. "Jungkook akan bercerita sepanjang malam setiap kali aku menginap. Kadang aku harus membungkus kepalanya dengan selimut agar dia berhenti bicara."

Senjata makan Tuan.

Selamat, Tuan Kim Taehyung!

Kau baru saja melempar granat yang langsung ditepis oleh targetmu sehingga benda itu meledak tepat di wajahmu.

Berita baru baginya. Kim Yugyeom pernah menginap di rumah sang kekasih. Lebih buruknya, mereka sekamar.

Apa-apaan itu? Taehyung saja tidur di bagian penginapan keluarga Jeon.

Adik kandung Kim Namjoon benar-benar ingin berkata kasar.

"Kau menginap di kamar kekasihku?" sepasang mata elang si pirang menatap tajam asistennya. "Sering?"

"Tidak juga. Jungkook yang lebih sering menginap di rumahku. Dia paling suka menguasai kasurku."

Jeon Jungkook itu terkadang tidak peka, tapi dia akan selalu menyadari setiap mood Kim Taehyung turun. Dia akan sangat peka jika sang kekasih sudah menatapnya tajam, atau bicara padanya dengan nada datar. Tapi sepertinya, Kim Yugyeom jauh dari kata tidak peka. Dia sangat sangat sangat tidak peka sekali. Karena dirinya menjawab ucapan bernada datar bungsu Kim dengan senyum lebar dan tawa renyah yang menggema.

Ingin rasanya memecat pemuda itu sekarang juga. Ucapkan terima kasih kepada dirinya yang tidak memiliki wewenang untuk hal itu, sehingga ia tak bisa melakukannya kepada si menyebalkan Yugyeom.

"Ah! Maaf, Taehyung-sshi, aku akan kembali mengerjakan tugas-tugasku. Kau bisa beristirahat. Permisi."

Dan seenaknya saja dirinya pergi meninggalkan Kim pirang dengan sejuta spekulasi berkecamuk di dalam pikirannya.

Taehyung berjalan ke kamarnya dengan wajah yang terlihat kusut. Ia langsung melucuti pakaiannya, menyisakan boxer berwarna hitam dan langsung menenggelamkan tubuh lelahnya ke kasur.

"Jeon Jungkook." gumam si pirang memeluk erat gulingnya. "Berani kau membuatku cemburu lebih dari ini, kau akan sangat-sangat menyesal."

.

.

Pagi harinya, sesuai dengan waktu yang dijanjikan, Kim Taehyung memasuki pekarangan rumah keluarga Jeon dengan berjalan kaki seperti biasa. Kali ini tanpa oleh-oleh di tangan, juga tanpa rasa khawatir kalau-kalau dirinya akan kembali diusir. Appa dan eomma Jeon mungkin belum menerimanya sebagai kekasih putra mereka, namun setidaknya, bungsu Kim sudah mendapat perlakuan yang menyenangkan.

Taehyung melepas snap back putihnya, lalu sedikit merapikan bomber dengan warna senada yang membalut kaos abu-abunya. Ia juga memakai celana bahan berwarna pendek yang membalut kakinya hingga beberapa sentimeter di atas lutut, terlihat pas. Ia lalu mengetuk pintu beberapa kali.

Senyum canggung terpatri di bibirnya saat ia melihat sosok bersurai coklat begitu pintunya dibuka.

"Taehyung, masuk dulu saja. Kookie pasti masih lama." ucap Yunho ramah. Ia sedikit bergeser, memberikan akses bagi pemuda yang beberapa hari lalu selalu disuruhnya untuk pulang setiap kali bertamu.

"Terima kasih, Paman. Tapi aku tidak mau merepotkan. Lagipula aku sudah menghubungi Jungkook sebelum kemari. Dia bilang sudah hampir siap."

Yang lebih tua hanya terkekeh saja. Ia sadar Taehyung masih bersikap canggung di depannya, apalagi di depan Jaejoong. Mungkin, itu karena sikap mereka berdua terhadapnya. Kim muda jadi enggan merepotkan.

"Mungkin Jungkook sedang bingung memilih baju. Biasanya suka begitu kalau diajak pergi-pergi." kepala keluarga Jeon mencoba mencairkan suasana. Ia berjalan keluar dan ikut berdiri di depan pintu rumahnya bersama sang tamu.

Pemuda pirang tertawa renyah. "Jungkook tidak pernah begitu jika pergi bersamaku. Tapi dia akan benar-benar bingung dengan apa yang ia kenakan kalau aku mengajaknya mampir ke rumah orang tuaku."

"Dia pernah bertemu dengan ayah dan ibumu?" Yunho tertarik menanyakan hal itu lebih lanjut ketika Taehyung mengangguk. "Apa Jungkook bersikap sopan?"

"Sangat sopan."

Ayah Jungkook pikir, pemuda Kim bercanda saat mengatakannya, tapi ketika mendengar kalimat yang selanjutnya diucapkan Taehyung, mau tak mau senyum terukir di bibirnya.

"Ibuku sangat menyukainya, sampai-sampai ia mengambilkan banyak makanan untuk Jungkook hingga anak itu kekenyangan."

"Berhenti membicarakanku!" protes sebuah suara yang berasal dari dalam rumah. Beberapa detik setelahnya, sosok bersurai wine yang mengenakan kaos putih dengan gambar beberapa bintang berwarna biru muda keluar dari pintu. Bibirnya mengerucut lucu, kaki jenjangnya yang berbalut celana jeans yang dipotong pendek hingga sejengkal di atas lutut menghentak kesal.

Kedua pria yang tengah membicarakannya pun tertawa.

"Jangan cemberut begitu, bibirmu seperti habis dicapit kepiting saja." goda sang ayah. Tangannya terulur mengusak rambut bergelombang putranya. "Apa kalian akan sarapan di rumah?"

Jungkook menggeleng ringan. "Aku mau ajak Taetae hyung jajan street food di pinggir pantai."

"Baiklah kalau begitu, berhati-hatilah."

Keduanya lalu berpamitan. Dan bisa-bisanya, Kim Taehyung mengatakan hal ambigu kepada calon ayah mertuanya saat ia berjalan keluar dari pekarangan rumah keluarga Jeon.

"Aku akan mengembalikan Jungkook dalam keadaan yang lebih gendut."

Ia harus bersyukur karena Jeon Yunho menganggapnya guyonan, dalam hal yang positif. Kalau tidak, bungsu Kim pasti akan diusir lagi. Sedangkan Jungkook sama sekali tidak mendengarnya karena anak itu sudah berjalan terlebih dahulu.

"Jangan jauh-jauh, nanti kau diculik." gumam Taehyung yang telah kembali memakai snap back-nya. Mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertaut, pemuda bergigi kelinci di sebelah kiri.

"Habisnya aku senang bisa jalan-jalan dengan hyungie. Oh! Kita belum berfoto!" pekik yang lebih muda heboh. Ia langsung mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam saku, lalu menyentuh ikon kamera.

Baru saja akan menekan shutter, telunjuk kekasihnya terulur dan menyentuh ikon home sebelum selanjutnya membuka aplikasi instagram. Dengan lincah Taehyung memilih menu live video.

Ia mendelatkan bibirnya ke wajah Jungkook, mencium pipinya gemas dengan tangannya yang kini merangkul pundak yang lebih muda. "Biar semua orang tahu kita sedang kencan."

Pemuda Jeon terkekeh malu-malu. "Gelap, hyung. Wajah kita terlihat samar-samar."

"Yang benar?" Taehyung merebut ponsel pintar kekasihnya, masih dalam mode live dengan kamera yang menyorot mereka berdua. "Coba kau lihat wajahku, apa buram?"

Si hoobae manis menghentikan langkahnya begitu mereka menginjak pasir pantai, mengikuti sunbae-nya yang berhenti terlebih dahulu. Ia mengeryit heran, namun melakukan apa yang diminta; melihat wajah bungsu Kim.

"Tidak buram. Tapi di kamera, wajah kita tidak terlalu jelas."

"Coba perhatikan lagi, pasti buram."

Jungkook terheran dengan tindakan sang kekasih yang ngotot wajahnya buram. Maka ia semakin mendekat, menatap Taehyung lekat. Ia melewatkan seringaian yang terukir di bibir pemuda Kim setelah sepasang matanya melihat nama akun yang familiar.

Sebagai catatan, semalam Kim Taehyung menelisik sebuah akun yang sering memberikan komentar di akun instagram kekasihnya. Dan ia sangat kesal saat tahu bahwa akun itu adalah milik saingannya.

Begitu melihat si saingan muncul di daftar pemberi hati pada live video mereka, Kim Taehyung bersumpah akan menunjukkan bahwa Jeon Jungkook adalah miliknya seorang.

Maka begitu jarak wajahnya dan wajah sang kekasih cukup dekat, Taehyung melancarkan sebuah ciuman ringan di bibirnya. Ia melumat lembut bibir kelinci kesayangannya sebanyak tiga kali, sebelum kemudian melepaskannya.

"Kau benar, tidak ada yang buram. Yang ada hanya bibirmu yang manis."

Setelahnya Taehyung berlari meninggalkan Jungkook yang mengomel dan langsung mengejarnya. Ia sengaja memperlambat kakinya, membuat sang kekasih yang meraih lengannya langsung menyeret tubuhnya hingga jatuh.

Jemari Jungkook menggelitik pinggang kekasihnya sebagai balasan.

"Rasakan! Rasakan! Rasakan! Hyung menyebalkan! Menyebalkaaaan!"

Taehyung malah terbahak senang. Apalagi ketika kekasih menggemaskannya semakin bersemangat menggerakkan jemarinya, kini di pundak dan leher yang lebih tua, dengan bokong sintalnya menduduki perut Kim Taehyung.

Sebelah tangan Taehyung masih mengarahkan kamera ke wajah mereka berdua, sementara tangan yang satunya menarik tengkuk Jungkook mendekat ke arahnya. Ia mematikan siaran langsung itu pada saat yang tepat dan sangat ambigu, yaitu ketika bokong Jungkook terlihat menduduki bagian bawah perut Taehyung dengan kedua kaki yang lebih muda mengangkang lebar, juga wajahnya yang menutupi wajah Kim Taehyung, seolah mereka sedang berciuman.

"Dasar menggemaskan." gumam pemuda Kim menyentil kening Jungkook yang saat itu ikut tertawa juga. Ia lalu membantu kekasihnya untuk turun dari perutnya dan duduk di pasir pantai. Taehyung duduk di belakangnya, melingkarkan lengan di pinggangnya, lalu menumpukan dagunya di pundah junior kesayangannya.

Keduanya terengah karena terlalu banyak tertawa. Mereka sama-sama terdiam menghadap lautan lepas, menunggu matahari terbit. Bias-bias keemasan mulai terlihat dari ufuk timur.

Taehyung melirik wajah pemilik surai anggur yang tengah tersenyum lebar. Sejujurnya ia tidak yakin apakah ini merupakan waktu yang tepat. Ia tak ingin merusak momen indah yang mereka miliki, namun hati kecilnya benar-benar menjerit penasaran.

Kim Taehyung harus menanyakannya sekarang juga, atau ia takkan pernah bisa mengungkapkan isi hatinya.

"Baby. Aku ingin menanyakan sesuatu." bisik Kim muda tepat di belakang telinga Jungkook, bibirnya mengecup lembut sekali. "Berjanjilah untuk menjawabnya dengan jujur."

Pemuda Jeon mengangguk, ia lalu sedikit mendongak untuk melihat wajah sang kekasih.

Keheningan menyelimuti untuk beberapa saat sampai yang lebih tua memutuskan untuk kembali bicara. "Kau dekat dengan Yugyeom?"

Jungkook mengangguk, masih dengan wajah polosnya yang tidak tahu apa-apa.

"Apa dia pernah menciummu?"

Kalimat yang terlontar begitu saja itu sukses membuat yang lebih muda membulatkan matanya. Ia terdiam, entah apa yang ada di dalam kepalanya saat ini. Namun di mata Kim Taehyung, kekasihnya seolah meng-iya-kan pertanyaannya.

"Kookie, kau belum tahu satu hal." Taehyung menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan."I'm a very possessive man. I don't like to share what's mine. And you know what I really do not wanna share with others even tho I have to break my arms and my legs for it? It's YOU."

Taehyung bisa merasakan sepasang lengannya yang melingkar di pinggang Jungkook, diremat. Lembut, kelewat lembut seolah yang merematnya tengah merasa takut. Ia kembali mengambil nafas, mencoba menetralkan emosinya.

"Tapi aku ingin kau jujur padaku." gumamnya. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jungkook, siap menciumnya jika yang ditanyakannya tidak benar. Namun semua tak sesuai rencana saat pertanyaan itu terlontar kembali dari mulutnya, "Apa Kim Yugyeom pernah menciummu?"

Dan Jungkook mengangguk begitu saja…

.

Ninth lesson: "I'm a very possessive man. I don't like to share what's mine. And you know what I really do not wanna share with others even tho I have to break my arms and my legs for it? It's YOU." (END)

.

.

Duh Taehyung… cobaan datang silih berganti ya?

Harab bersabar, ini cobaan.

Dan selamat untuk Adik Jungkookie yang hari ini resmi lulus dari SOPA!

Semoga dapat hadiah sosis dari Kakak Taehyung~~

Bagi yang kemarin mengusulkan bagaimana Tiger menuliskan Hoshiki, makasih bangeeet... tandanya dikau membaca keseluruhan tulisan Tiger sampai ke titik koma-nya. Terima kasih banyaaak

.

Oh, find me on LINE: kimtaemvan

And instagramL kim_taemvan

Untuk line, mungkin akan jarang buka, tapi di ig, Tiger akan post editan foto, dan mungkin juga clue atau spoiler tersembunyi untuk ff tiger, yang manapun itu.

.

.

Ohoho, akhirnya, review please

Sayang, Tiger

Line: kimtaemvan

Ig: kim_taemvan

Buat yang belum baca Good Devil, Lucifer Fall! Silakan ditengok. Yang sudah, mari kita tunggu kelanjutannya.

Yang menanyakan Leanan Sidhe ….