"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.
Genre: Romance, Comedy (?)
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin | Park Jimin x Min Yoongi | Jung Hoseok (Jomblo Sejati) | PCY as Kim Chanyeol x BBH as Kim Baekhyun | Jung Yunho as Jeon Yunho x Kim Jaejoong as Jeon Jaejoong
Rated: T plus plus
Warning: Ambigu, typo tak tertahankan
.
.
Part X: Something in between
Kim Taehyung menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Ia lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jungkook, memeluknya erat dari belakang. Begitu selama beberapa saat hingga matahari mulai terbit.
"H -hyung, mataharinya terbit." cicit yang lebih muda. Sebenarnya ia merasa kikuk, sangat. Taetae hyung-nya mendadak diam begitu, padahal ia menjawabnya dengan jujur.
Jungkook tahu, kekasihnya mungkin kecewa, atau malah marah karena pengakuannya. Bagaimanapun, ia memang tidak pernah bercerita soal kejadian yang benar-benar ingin dilupakannya. Kalau tidak salah ingat, ia malah pernah bilang kalau ciuman pertamanya adalah Kim Taehyung. Mengingatnya membuat pemuda Jeon meremat lengan yang memeluknya erat.
Perlahan ia memutar tubuhnya agar saling berhadapan dengan sang kekasih. Niatnya, ia ingin menatap mata sunbae kesayangannya, lalu menjelaskan semua. Namun yang lebih tua memilih langsung kembali menenggelamkan wajahnya, kali ini di pundak Jungkook yang langsung membalas pelukannya erat.
"Hyung… jangan marah, ya?"
Taehyung terkekeh, hambar. Ia merasakan sepasang lengan kekasihnya memeluk posesif lehernya. Kim muda bergumam, "Begini dulu, sebentar saja."
Dan pemuda bersurai wine hanya bisa mengangguk. Bungsu Kim yang bicara dengan nada datar bukanlah pertanda yang baik. Lebih baik menurut saja. Ia hanya bisa mengeratkan pelukannya, merapatkan tubuhnya, mengabaikan matahari yang kian meninggi.
"Lagi-lagi melewatkan sunrise, hm?"
Bisikan bernada rendah tepat di telinga yang lebih muda sukses membuatnya hampir terlonjak. Ia belum berani menolehkan wajahnya untuk menatap sepasang manik kecoklatan yang selalu mampu menghipnotisnya. Jungkook terlalu takut, takut kalau-kalau sang kekasih benar-benar marah karena kejadian yang sudah lama sekali itu.
"Tak apa. Aku memiliki matahariku sendiri." gumam hoobae manis. Ia memberanikan diri untuk mendaratkan sebuah kecupan ringan di rahang sang kekasih.
"Apa itu artinya aku harus pergi sejauh seratus empat puluh sembilan koma enam juta kilometer darimu?"
Jungkook hanya menggeleng. Merasa sangat sangat kesal. Seingatnya, jarang sekali dirinya mengatakan hal-hal manis. Taetae hyung lah yang lebih sering melakukan itu. Dan ketika barusan ia mengatakannya, senior Kim malah membalasnya dengan sesuatu yang menyebalkan.
Mereka terdiam cukup lama. Bahkan punggung yang lebih muda mulai menghangat saat merasakan terpaan sinar matahari. Ia mengeliat tidak nyaman.
"Panas?"
Jungkook mengangguk ringan. Dan Kim Taehyung perlahan melepaskan pelukan di pinggang sang kekasih. Sepasang iris kecoklatannya menatap manik sekelam malam hoobae manis. Ia tersenyum.
"Jadi mengajakku makan di pinggir pantai?" tanya Kim muda sebelum terkekeh ringan. Sebelah tangannya merapikan anak rambut sewarna anggur milik kekasihnya yang tertiup angin. Ia memajukan wajahnya, mengecup pipi Jungkook singkat.
"Hyung marah padaku?" cicit yang lebih muda.
Bukannya menjawab, Taehyung malah menyentuhkan ujung telunjuknya ke bibir Jeon muda. "Kita bicarakan nanti. Sekarang kita makan, hm? Jadi, apa makanan yang kau sukai di sini?"
Perlahan, pemuda Kim membantu kekasihnya berdiri. Lalu membersihkan bagian belakang jeans Jungkook yang terkena pasir. Saat itulah dirinya menyadari sesuatu.
"Kenapa, hyung?" tanya Jeon muda saat telapak tangan sang kekasih diam saja menyentuh bongkah pantatnya.
"Tidak." gumam yang lebih tua. Ia menegakkan tubuhnya, membersihkan celananya sendiri, lalu melepas bomber yang dikenakannya. Dengan telaten, bungsu Kim melingkarkan lengan bomber-nya ke pinggang Jungkook, mengikatnya di samping sehingga bagian depan paha Jungkook, juga bagian belakangnya yang montok menggoda, tertutup sempurna. "Jangan dilepas."
"Eh? Aku terlihat seperti memakai rok." protes junior Jeon. "Aku tidak mau!"
Taehyung terkekeh, melingkarkan lengannya ke pinggang Jungkook, lalu menggiringnya untuk berjalan. "Salahmu mengenakan celana yang terlalu pendek. Ingat saat kubilang kau milikku? Aku benar-benar tidak mau bagi-bagi pada yang lain."
Jungkook menunduk malu dengan wajah yang merona. Ia semakin memerah ketika sang kekasih mencium pipinya gemas.
"Jangan bertingkah menggemaskan seperti itu di depan orang lain." bisiknya. Pemuda Kim melepas snap back yang tadi dipakainya terbalik, lalu memakaikannya kepada Jungkook sehingga wajah manisnya yang sedang menunduk tidak terlalu ketara.
Mereka berhenti disudut pantai, tempat beberapa orang berjualan jajanan. Kebanyakan berbahan dasar seafood, khas Busan sekali. Taehyung melihat-lihat, baginya tidak ada yang menarik karena satu-satunya yang ingin bungsu Kim makan saat ini adalah pipi tembam Jungkook.
"Bunny ingin makan apa?" tanya Taehyung, mereka sama-sama berjalan perlahan sambil melihat-lihat. Ia ikut berhenti ketika sang kekasih menghentikan langkahnya di dekat sebuah food truck berwarna kuning-merah.
"Hyung.." gumam yang lebih muda. Ia menatap seniornya, meminta persetujuan. Entah sejak kapan, Jungkook selalu meminta izin kepada Kim Taehyung jika ingin membeli sesuatu. Sedangkan pemuda Kim sudah memulai kebiasaan itu terlebih dahulu.
"Sosis?" pemuda bersurai pirang mengeryit. Ia memicingkan matanya, melihat menu berukuran besar yang dipajang di sisi truk. "Kau ingin makan sosis?"
Jeon muda mengangguk semangat. "Aku suka sekali sosis."
"Tidak." Kim Taehyung memutuskan. Ia menjawil hidung kekasihnya gemas. "Itu sosis daging sapi. Kita bisa membelinya di Seoul nanti. Bagaimana kalau membeli makanan yang lebih tradisional? Odeng misalnya. Pasti di sini mereka menjual odeng dengan rasa ikan yang lebih mendominasi."
Jungkook mencebikkan bibirnya. Walau begitu, kepalanya mengangguk. Mereka lalu menuju salah satu penjual odeng dengan Jeon Jungkook yang antusias memilih apa-apa saja yang ingin dibeli. Dalam hati pemuda Kim bersyukur kekasihnya mau menurut untuk tidak membeli sosis. Bukan apa-apa, hanya saja menu yang tertulis begitu mencurigakan, ukuran yang disediakan pun ambigu. Kim Taehyung tidak akan membiarkan kekasihnya memakan makanan tidak jelas seperti itu.
Jungkook ngotot ingin membayar lima belas tusuk odeng yang dibelinya. Ia bahkan tidak membiarkan sunbae pirangnya mengeluarkan satu won pun uang untuk membeli minuman. Semuanya Jeon Jungkook yang bayar. Kalau Kim muda tidak menurutinya, Jungkook mengancam tidak mau makan.
"Dasar kelinci keras kepala." gumam Taehyung saat kembali mendudukkan dirinya di pasir. Ia menarik lengan Jungkook, mendudukkan pemuda bersurai wine di depannya. Lengan kirinya langsung memeluk dengan sangat kasual pinggang yang lebih muda.
Mereka cukup jauh dari tepian pantai, namun tetap bisa menikmati pemandangan yang indah dengan semilir angin yang menerpa wajah dari tempat yang teduh.
"Hyuwng, nwanti jwaketmwu kwotwor kalaw akwu dudwuki sepwerti inwi." Jungkook sedikit mendongakkan kepalanya, semakin menyandarkan punggungnya ke dada bidang si pirang. Tangan kanannya memegang setusuk odeng yang tinggal setengah. Bibirnya sibuk mengunyah dengan lelehan saus di sudutnya.
"Telan dulu." Taehyung terkekeh, mengecup bibir sang kekasih, sedikit menjilat sudut bibirnya untuk menyapu noda saus di sana. "Nanti bisa dicuci. Lagipula menutupi apa yang seharusnya hanya dilihat olehku jauh lebih penting."
Dan Jungkook memalingkan wajahnya, merona saat itu juga.
Mereka berdua menghabiskan sarapan dengan Jungkook yang banyak bicara dan Taehyung yang banyak mencuri waktu untuk menyuapkan bagiannya ke mulut pemuda Jeon yang sibuk bercerita. Si pirang tersenyum lebar, merasa lagi-lagi sukses membuat kelinci kesayangannya banyak makan.
Setelah kenyang, Jungkook mengajak kekasihnya untuk berfoto. Lebih tepatnya, ia memaksa sang senior untuk berpose, sedang dirinya memperhatikan melalui layar ponsel pintar. Taehyung tersenyum melihat wajah serius hoobae-nya yang semakin manis saja. Ia selalu menyukai ekspresi serius kelinci gembulnya. Menurut pemuda Kim, Jungkook akan mengeluarkan aura manis sekaligus menggoda saat sedang menekuni sesuatu. Mungkin, ia akan mulai menabung untuk membelikannya kamera profesional sebagai hadiah ulang tahun September nanti.
"Sudah?" pemuda Kim bertanya, untuk yang ke-tujuh kalinya. Dan si surai anggur lagi-lagi menjawabnya dengan gelengan dang tangan yang bergerak-gerak mengarahkan yang lebih tua untuk bergaya. "Ayolah, aku juga ingin berfoto dengan kekasihku. Kau tega sekali menjemurku sendirian di sini."
Jungkook terkekeh, ia malah sibuk melihat-lihat hasil jepretannya tadi. Dan itu sukses membuat pemuda Kim mengeram kesal. Setengah berlari ia mendekati kekasihnya, lalu memeluknya erat dan mencium dalam pipinya yang semakin menggembung.
"Kau sudah punya aku yang asli. Kenapa lebih memperhatikan fotoku, hm? Apa dia lebih tampan dariku?" Taehyung mencubit gemas pipi sang kekasih sebelum menggigitnya main-main. "Kau ini benar-benar… bisa-bisanya membuatku cemburu kepada diriku sendiri."
Jeon muda tertawa renyah, berusaha menjauhkan ponselnya dari Taehyung yang mencoba meraihnya. Keduanya tertawa, bahagia, tanpa yang lebih muda tahu bahwa senironya masih menyimpan pertanyaan yang tak sanggup ia lontarkan.
.
.
.
"Oh, kalian sudah pulang?" tanya Yunho saat berpapasan dengan putranya, juga pemuda Kim di halaman. Ia dan sang istri sepertinya akan pergi ke suatu tempat.
"Appa mau kemana?" bukannya menjawab, sang putra malah balik bertanya.
Sementara Taehyung membungkukkan badannya untuk menyapa, lalu menunjukkan senyum lebarnya. "Selamat pagi."
"Pagi.." gumam Jeon Jaejoong menunjukkan seulas senyum tipis.
Kalau boleh jujur, hati pemuda Kim berdegup kencang karenanya. Senyum dari seseorang yang ia harapkan menjadi ibu mertuanya jauh lebih berharga daripada koleksi eyeliner ibunya sendiri.
"Eomma dan appa akan mengunjungi pabrik sebentar. Sepertinya ada masalah disana." jawab kepala keluarga Jeon sebelum ia berjalan ke samping rumah dan menghilang.
"Kalian sudah sarapan?"
"Sudah, Bi. Tadi Jungkook mengajakku membeli makanan di pinggir pantai." jawab pemuda pirang, masih dengan senyum sopannya.
Pria berambut coklat mengangguk perlahan. Ia mengeryitkan dahinya ketika melihat jaket terlilit di pinggang putranya. "Kookie? Kenapa kau memakai jaket seperti itu? Dan, astaga… itu warnanya putih. Kau mendudukinya? Pasti kotor."
Taehyung terkekeh saat melihat nyonya Jeon memutar putranya hingga ia melihat bagian belakang Jeon junior yang juga tertutup jaket. Tentu saja kotor karena putranya duduk di pasir dengan sang kekasih tanpa alas.
"Taetae hyung memaksaku memakai jaketnya." adunya dengan nada protes. Sepasang onyx-nya melirik sang kekasih, setengah mendelik, sebelum kembali menatap wajah sang ibu. "Aku bilang padanya akan kotor, tapi dia ngotot agar aku memakainya begini."
"Taehyung, kenapa kau menyuruh Jungkook memakai jaketmu seperti itu?"
Jungkook menjulurkan lidahnya ke arah sang senior, memasang ekspresi mengejek karena dirinya yakin, si pirang akan diomeli. Sementara pemuda Kim nyengir bahagia karena calon ibu mertuanya menyebut namanya dengan sangat fasih tanpa embel-embel -sshi. Baginya, itu sebuah penghormatan yang sangat besar. Ia akan selalu suka setiap kali nyonya Jeon melakukannya.
"Celana Jungkook pendek sekali. Aku tidak mau dia masuk angin, Bi." jawabnya memberi tekanan pada frasa masuk angin.
Setelahnya, Jaejoong menyingkap jaket yang menutupi paha putranya. Saat itu juga, ia menampar bokong Jungkook main-main.
"Eomma! Kenapa memukulku?"
Senior Kim selalu menyukai nada bicara kekasihnya yang sedang merengek protes. Menurutnya, itu sangat menggemaskan.
Belum sempat sang ibu menjawab, Yunho muncul dengan membawa sebuah sepeda. "Ada apa ini? Kenapa putraku merengek seperti bocah? Apa karena kekasihnya ada di sini?"
Kim Taehyung merasa dirinya akan mati bahagia saat ini juga. Calon ayah mertuanya mengakui statusnya sebagai kekasih Jeon Jungkook. Beliau mengucapkannya dengan lantang tanpa keraguan.
"Lihat apa yang dipakai putramu!" kali ini nyonya Jeon yang mengadu kepada suaminya. Ternyata ibu dan anak sama saja. Sama-sama suka merengek.
Ia menyingkap jaket putih di pinggang Jungkook, menunjukkan celana jeans anaknya yang hanya memiliki panjang hingga setengah pahanya. Bukan hot pants, tapi celana pendek itu terlihat benar-benar super ketat. Apalagi tubuh Jeon muda semakin berisi setelah pulang dari Seoul.
Yunho menggelengkan kepalanya, masih memegangi sepeda. "Kau ini. Sudah appa bilang tubuhmu itu bertambah gendut. Kenapa malah memakai celana itu? Untung Taehyung merelakan jaketnya untuk diduduki bokong gendutmu itu."
"Appa! Kenapa malah mengataiku gendut? Taetae hyung sedang di sini, kenapa kau melakukannya? Menyebalkan!"
Setelahnya, Jungkook masuk ke rumah dengan ekspresi wajah kesal. Langkah kakinya pun lebar-lebar dan dihentak-hentakkan dengan sengaja. Sepertinya dia ingin ketiga orang yang lebih tua tahu kalau dirinya sedang marah.
Ketiga lainnya yang ditinggalkan malah terkekeh melihat tingkah yang paling muda.
"Dasar. Putramu benar-benar genit sekarang." omel Jaejoong kepada suaminya. Ia mendapat cubitan gemas di pipi sebagai jawaban.
"Jangan begitu, kau dulu lebih parah dari Jungkook. Yang kau pakai malah hot pants dan kaos kedodoran. Itu terlalu sexy."
"Yun!" protes nyona Jeon. Ia seera membekap mulut ember suaminya, lalu dengan senyum canggung tercetak di bibir, Jaejoong melirik Taehyung. "Lupakan yang barusan, oke?"
Dan pemuda Kim hanya bisa tertawa canggung. "Paman dan Bibi jangan mengatainya begitu. Aku yang membuat Jungkook menggembul dengan diam-diam menyuapinya bagianku ketika kami makan bersama. Jadi tolong jangan mengejeknya seperti itu. Aku jadi merasa bersalah."
Kepala keluarga Jeon ikut tertawa, tak kalah canggung dari kekasih putranya setelah menyadari apa yang barusan lolos dari mulutnya. "Jangan sungkan, Tae. Kami hanya bercanda. Sejujurnya kami senang Jungkook terlihat lebih berisi begitu."
Jeon Yunho sangat kikuk. Taehyung mengetahuinya, namun ia hanya tersenyum simpul, mencoba menghormati calon mertuanya. Setidaknya, mereka berdua tidak lebih mesum daripada orang tua kandungnya.
Ah, sial. Pemuda pirang jadi ingat kejadian menyebalkan saat dirinya mencoba menghubungi ayahnya malam itu.
"Ah, sebaiknya kau menyusul Jungkook. Dia pasti sedang ngambek di kamarnya." gumam kepala keluarga Jeon saat melirik sang istri. Ia menuntun sepedanya keluar pekarangan. "Aku dan Jaejoong akan berangkat ke pabrik. Kau jangan sungkan."
Setelahnya, appa Jeon menaiki sepeda dengan eomma Jeon membonceng di belakang. Mereka berdua lalu pergi begitu saja. Mau tak mau, Taehyung tersenyum juga melihat kemesraan tuan dan nyonya Jeon di usia senja. Mereka benar-benar serasi.
Setelah beberapa saat, bungsu Kim masuk ke kediaman Jeon. Ia sempat mampir ke kamar mandi yang terletak di ujung untuk mencuci kaki dan tangannya sebelum masuk ke kamar sang kekasih.
"Kookie-ya.." panggilnya bersamaan dengan dirinya yang membuka pintu kamar dan melangkah masuk.
Sang kekasih memberengut. TV di kamarnya menyala dengan saluran yang berganti-ganti karena Jungkook terus-terusan memencet remote-nya asal.
Yang lebih tua langsung duduk di tepi ranjang, merapikan helaian sewarna anggur kekasihnya yang berantakan. Bomber dan snap back miliknya diletakkan di atas meja belajar dengan asal.
"Jangan cemberut begitu. Eomma dan appa-mu hanya bercanda. Mereka tadi bilang padaku kalau sebenarnya merasa senang melihatmu bertambah menggemaskan." pemuda Kim sangat berhati-hati memilih kalimatnya. Ia sungguh tidak mau ditedang keluar gara-gara salah bicara.
"Bilang saja aku gendut. Hyung juga berpikiran begitu kan?" Jeon muda membanting remote-nya di atas kasur. Ia mengambil ponsel miliknya, lalu membuka aplikasi sebuah permainan dan kemudian menyibukkan dirinya dengan itu.
Kim Taehyung diacuhkan.
Ia diam saja dan hanya memandangi wajah sang kekasih dari samping. Keduanya sama-sama diam. Jeon muda sibuk bermain game, Kim Taehyung sibuk memperhatikannya. Ia akan senyum-senyum sendiri saat wajah yang lebih muda berubah ekspresi karena melakukan sebuah kesalahan, atau mendapatkan bonus di game yang ia mainkan.
Jungkook sangat sadar dirinya diperhatikan. Selama hampir lima menit ia mendiamkan sang kekasih, dan ia tidak bisa bertahan lebih lama. Maka ia menolehkan wajahnya hanya untuk mendapati senyum kotak seniornya yang begitu memukau, senyum yang membuatnya jatuh ke dalam pesonanya.
"Sudah?" tanya yang lebih tua tanpa diketahui maksudnya oleh junior Jeon. Kedua lengan Taehyung terulur untuk memeluk sang kekasih. "Ternyata kau tidak bisa mendiamkanku lama-lama. Aku jadi senang."
"Aku tidak mau diam lama-lama. Nanti aku seperti vampire yang di drama."
Taehyung tertawa renyah. Sebenarnya ia ingin sekali lagi memperingatkan Jungkook untuk tidak menonton drama yang aneh-aneh, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat.
Ia mencium puncak kepala Jeon muda sebelum bicara, "Aku minta maaf kalau kau tidak menyukai tubuhmu yang semakin berisi. Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi aku selalu diam-diam menyuapimu makananku saat kita sedang bersama. Kau tahu? Aku suka sekali melihatmu makan, bagiku itu sangat menggemaskan. Kau memang bertambah montok, tapi aku sangat-sangat menyukainya. Apa aku harus menghentikan kebiasaanku menyuapimu?"
Jungkook balas memeluk pemuda bersurai pirang, menduselkan kepalanya ke dada bidang sang kekasih. "Aku tidak keberatan hyung terus begitu asalkan hyung berjanji akan tetap menyukaiku walau tubuhku menggembung seperti balon. Lagipula aku suka makan, dan aku juga suka saat hyung menyuapiku. "
Taehyung tertawa renyah, menganguk sebagai tanda kesanggupannya. "Apa makanannya semakin terasa enak kalau hyung yang menyuapkan?"
Jungkook mengangguk, tersenyum malu-malu.
"Tapi lain kali jangan menggunakan celana seperti itu, hm?" gumam yang lebih tua mengusap lembut pipi gembil Jungkook. "Itu terlalu ketat. Aku yakin kau juga tidak nyaman mengenakannya."
Kali ini Jungkook mem-pout-kan bibirnya. "Aku meninggalkan celana pendekku di Seoul. Hanya ada celana pendek untuk olahraga dan juga yang modelnya gombrang, seperti model bapak-bapak. Aku tidak suka."
"Aku saja sering memakai celana gombrang. Kenapa kau tidak mau memakainya? Lagipula kita hanya ke pantai, sayang. Dekat dengan rumahmu juga." balas senior Kim, ia mengeryitkan dahinya heran.
"Tapi hyung terlihat keren memakainya. Kalau aku yang pakai sangat tidak keren. Aku tidak suka."
Dan Kim Taehyung tertawa setelahnya. Ia memeluk gemas sang kekasih, menghujani pipinya dengan kecupan-kecupan ringan. "Lebih baik memakai celana seperti itu daripada menyiksa perut dan pahamu. Berjanjilah untuk tidak akan menyiksa diri hanya karena ingin tampil keren."
"Tapi…"
"Tidak ada tapi. Ingat bahwa Kim Taehyung akan selalu menyukai Jungkookie apapun yang terjadi? Kalau kau lupa, aku akan mengingatkannya lagi dan lagi sampai-sampai kau bosan mendengarnya." ucap Kim Taehyung final.
Jungkook mengajukan protes namun tidak didengarkan oleh yang lebih tua. Taehyung bahkan mengancam akan menyobek celana pemuda Jeon jika lain kali dia masih nekat memakai yang ketat-ketat.
Dasar posesif.
Kedoknya mengatakan agar Jeon Jungkook lebih nyaman jika menggunakan celana longgar, agar tidak mengganggu pernafasannya, agar tidak meyakiti perut dan pahanya. Padahal Kim muda hanya tidak ingin ada yang curi-curi pandang melihat bagian bawah sang kekasih yang begitu menggoda.
.
.
Taehyung kembali ke penginapannya sekitar pukul dua siang, setelah appa dan eomma Jeon kembali dari pabrik dan memaksanya ikut makan siang bersama. Sebenarnya ini rahasia, sebelum menjemput Jungkook pagi tadi, dirinya belum sempat mandi. Bukan apa-apa, dirinya hanya tidur terlalu larut gara-gara menelisik akun milik pegawainya, yang juga merangkap menjadi saingan dalam hal asmara, sekaligus orang yang sudah mencuri sebuah ciuman dari kekasihnya.
"Sial!" umpatnya kesal saat keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai trunks abu-abu. Ia langsung menghamburkan dirinya ke atas kasur, meraih ponsel pintar, lalu segera menghubungi seseorang.
Kalau mengenai Jeon Jungkook dan seorang bermarga sama seperti dirinya, yang sialnya lebih tinggi darinya, hanya ada satu orang yang bisa ditanyai.
"Hai, hyung. Ada apa menelfonku?" suara riang dari seberang menyapa gendang telinga Kim muda. Ia masih canggung mendengar dirinya dipanggil hyung oleh penyandang marga Park, entah apa alasannya.
"Jim, kau sedang luang?" tanyanya basa basi. Sebelah tangannya mengusak handuk kecil untuk mengeringkan kepala, sementara yang lain memegang alat komunikasinya.
Jimin terdengar sedang bicara dengan seseorang, kedengarannya dia minta izin kepada ibunya. "Maaf, hyung. Jam tujuh malam mungkin aku baru luang. Ibuku sedang ada perlu, dan aku harus berjaga di penginapan karena ada yang akan check in nanti sore. Kami belum tahu jam berapa tepatnya mereka datang."
"Baiklah, nanti aku ke rumahmu. Ada yang ingin kutanyakan." Taehyung memutuskan. Apapun yang terjadi, malam ini dirinya harus bertemu dengan Park Jimin untuk menanyakan hubungan sang kekasih dengan Kim yang itu. Tidak ada alasan lagi untuk menundanya.
"Kalau aku yang main ke sana, boleh tidak? Ayolah, hyung… aku bosan dengan rumahku. Ya? Ya? Ya? Boleh ya?"
Taehyung terkekeh. "Baiklah, langsung ke kamarku saja. Kau sudah pernah ke sini kan?"
Telinga pemuda bersurai pirang berdenging setelahnya. Hoobaentet bersorak girang keras sekali, dan senior Kim tidak sempat menjauhkan smart phone miliknya dari telinga.
"Nanti akan kubawakan kue. Eomma baru saja membuat banyak."
Pantas saja tubuh Jimin gempal berisi.
Kim Taehyung membayangkan dirinya berada di posisi Park Jimin. Pasti tubuhnya akan langsung menggembung karena eomma Park begitu sering membuat camilan. Waktu dirinya pertama kali berkunjung, ia juga disuguhi kue kering buatan rumah.
Mungkin, kalau Jungkook memiliki ibu seperti nyonyaPark, dirinya akan lebih cepat gembul. Untung saja nyonya Jeon tidak hobi membuat camilan, jadi dirinya bisa memiliki kesempatan untuk menggembulkan tubuh sang kekasih dengan tangannya sendiri.
.
.
Jungkook menonton televisi di ruang keluarga dengan malas. Usai makan malam, eomma dan appa-nya berbincang dengan beberapa penghuni guest house, sedangkan dirinya memilih untuk menonton lanjutan dari drama vampire yang waktu itu. Jeon muda baru ingat kalau hari ini tidak ada jadwal penayangan, dan dirinya berakhir dengan menonton acara televisi secara random.
Tangannya terulur meraih ponsel pintar, membuka akun instagram lalu senyum-senyum sendiri setelah melihat foto selca dirinya yang diunggah oleh sang kekasih. Jungkook berfoto sendiri dengan senior Kim yang sedang memakan setusuk odeng di belakangnya.
Dirinya yang memakai snap back menatap kamera, tersenyum lebar tanpa memperlihatkan sedikitpun giginya. Sementara sang kekasih tengah menoleh ke samping, memasukkan odeng ke dalam mulutnya.
Caption yang tertulis pun berhasil membuat Jungkook langsung men-tap dua kali layar sentuhnya, memunculkan ikon hati di foto unggahan kim_taemvan.
.
Kim_taemvan: when Bae owns ur everything, including ur cap, ur jacket, ur phone, and the most important, ur heart… he becomes ur world.
.
Jungkook menjadi satu-satunya yang ditandai. Maka ia memilah-milah foto sang kekasih yang tadi diambilnya. Rencananya, pemuda Jeon akan melakukan balas dendam.
Ia memilih foto sang kekasih yang tengah berdiri membelakangi pantai, merapikan helaian pirangnya yang tertiup angin sambil tersenyum lebar. Jungkook ingat betul saat itu Taetae hyung-nya mengeluarkan suara tawa dan memintanya untuk tidak mengambil gambar karena dirinya belum siap. Bahkan kedua mata indah pemuda Kim tertutup rapat karena angin yang bertiup membawa garam dan pasir lembut mengenai wajahnya.
Menurut Jungkook, sang kekasih tetap terlihat sempurna. Ia pun menandai senior kesayangan dan menambahkan sedikit catatan.
.
Jung_biscuit: even perfect isn't enough to describe him, kkkk~~
.
Lalu ia mengunggah foto sang kekasih. Jungkook menghabiskan waktu beberapa saat untuk men-scroll timeline-nya dan melihat apa saja yang teman-temannya unggah hari ini. Ia mengabaikan likes dan komentar-komentar yang masuk hingga ada sebuah akun yang sangat familiar baginya.
.
Kim_taemvan: I might be perfect, but I'm incomplete. You know the only one who can complete me? Yes, it's you, jung_biscuit baby
.
Dan Jungkook langsung memeluk bantal sofanya erat-erat, menggigitinya gemas sampai-sampai Yunho yang baru kembali langsung mengeryit heran.
"Kalau masih lapar, makanlah sisa makan malam tadi. Jangan menggigiti bantal begitu." omel sang kepala keluarga sebelum berlalu.
Sang putra mengabaikannya, ia masih memperlakukan bantalnya semena-mena dengan sebelah tangan yang membanjiri kolom chat-nya dengan Jimin. Jungkook mengirimkan kalimat-kalimat random. Bahkan terkadang hanya emoticon tidak jelas atau huruf ambigu.
Lima belas menit menunggu balasan, sahabat bantetnya tidak juga merespon. Alisnya mengeryit heran karena Park tinggi-badan-minimalis bukan tipe yang mengabaikan pesan, apalagi bila itu pesan dari Jungkook atau keluarganya.
Maka ia menelfonnya, sedikit khawatir kalau-kalau teman sekelasnya diculik karena ini baru pukul sembilan lebih, Park Jimin tidak mungkin tidur jam segini. Panggilan pertama tidak mendapat jawaban, begitupun dengan panggilan kedua. Namun seseorang mengangkat telfonnya di panggilan ketiga.
"Halo? Jungkook ya?"
Bukannya menjawab, Jeon muda malah balik bertanya. "Bibi? Kenapa Jimin tidak mengangkat telfonnya?"
Beberapa saat, pemilik surai wine hanya mendengar suara benda-benda bergesekan, kelihatannya bibi Park sedang melakukan entah-apa. "Jimin pergi keluar, dia lupa membawa ponselnya."
"Keluar?" Jungkook membeo. Tidak biasanya sang sahabat melupakan ponselnya begitu saja. "Kemana, Bi? Jam berapa dia akan pulang?"
"Ke tempat temannya. Katanya senior di kampus Kim siapa ya tadi namanya." Bibi Park diam untuk beberapa saat sebelum melanjutkan. "Oh, Kim Taehyung. Katanya dia akan menginap di sana, belum lama tadi dia menelfon rumah untuk mengabari."
Jungkook mengeryit. Jimin menginap di tempat kekasihnya? Kenapa tidak ada yang memberitahukan ini padanya?
"Waktu itu seniornya juga pernah main ke rumah. Mereka menghabiskan waktu lama sekali di kamar Jimin. Aku sudah menyuruh nak Taehyung menginap, tapi dia tidak mau. Katanya takut merepotkan. Dia benar-benar sopan. Andai saja Jimin nanti punya kekasih seperti -"
"Ya sudah, Bi. Terima kasih, selamat malam."
Jungkook menutup telfonnya segera. Ia bahkan tidak membiarkan bibi Park menyelesaikan kalimatnya. Buru-buru Jeon muda berjalan menuju pintu keluar dengan langkah lebar.
"Kookie, mau kemana?" tanya sang ibu. Ia baru saja dari bagian penerimaan dan memilih masuk rumah melalui pintu samping, bukannya melewati bagian dalam penginapan. Wajah putranya memerah dan ia merasa sungguh khawatir. "Kau baik-baik saja?"
"Tidak." potong Jungkook cepat, ia melewati ibunya begitu saja dan berjalan keluar rumah. "Aku mau ke tempat Taetae hyung."
"Jungkook! Ini sudah malam, besok pagi saja!"
Bukannya mendengarkan, Jeon muda malah setengah berlari.
Di pikirannya berkecamuk berbagai hal. Ia tahu Park Jimin dan Kim Taehyung cukup dekat. Walau tidak pernah memberitahukan secara gamblang kepadanya apa saja yang mereka bicarakan melalui pesan singkat, sang kekasih, juga Jimin pasti akan bilang padanya kalau mereka tidak sengaja bertemu di jalan atau berpapasan.
Tapi kenapa Taehyung tidak memberitahunya kalau ia pernah berkunjung ke rumah Jimin? Dan apa tadi kata bibi Park? Mereka menghabiskan waktu di kamar lama sekali!
Dan sekarang Jimin menginap di tempat kekasihnya?
Lebih parahnya, tidak ada satupun dari keduanya yang memberitahukan Jeon Jungkook mengenai kejadian-kejadian itu.
Mendadak ia merasa sangat marah. Dirinya saja selalu bilang kepada bungsu Kim kalau akan pergi dengan Jimin, atau siapapun. Apalagi saat Jimin menginap di apartemennya, atau sebaliknya.
Kenapa sang kekasih tidak bisa melakukan hal yang sama kepadanya?
Apa begitu sulit hanya untuk mengetikkan beberapa kata di pesan singkat untuknya? Sampai sebelum Jungkook makan malam dengan keluarganya, mereka saling bertukar pesan, bahkan voice note. Kenapa kekasihnya tidak bilang apa-apa?
Apa dia sengaja melakukannya?
Kenapa?
Nafas Jungkook terengah saat tiba di penginapan kekasihnya. Resepsionis menyapanya, namun Jungkook mengabaikan dan melenggang begitu saja melewatinya. Ia langsung menuju kamar sang kekasih.
Pikirannya kalut, sungguh. Entah mengapa ia membayangkan hal-hal yang dilakukannya dengan sang kekasih saat mereka bersama. Saling berpelukan, saling memberi kecupan… apa Taehyung dan Jimin juga akan melakukannya?
Kalau memang tidak begitu, mengapa Taehyung tidak jujur padanya jika memang sedang bersama Jimin?
Jungkook merasa dikhianati.
Ia mengetuk pintu kamar kekasihnya dengan asal. Sampai suara berat penghuni kamar yang terdengar kesal dan setengah menahan amarah terdengar.
"Sebentar!"
Pemilik mata obsidian tahu, si pirang membentak. Dan ia langsung menghentikan ketukan di pintu. Nafasnya masih memburu, wajahnya memerah, terlihat kacau. Dan saat pintu di hadapannya dibuka, ia benar-benar ingin menangis.
Kim Taehyung berdiri hanya mengenakan kaos tanpa lengan berwarna hitam dan celana pendek. Tubuhnya berkeringat, rambutnya berantakan, seolah ia baru saja melakukan kegiatan yang sangat melelahkan.
Kegiatan melelahkan seperti apa yang bisa dilakukan oleh dua orang yang berada di satu ruangan?
Jungkook hampir tidak pernah menonton film porno, tapi satu atau dua kali, ia pernah mengunggah dan menontonnya diam-diam. Di setiap wet dream yang dialaminya pun, semua berlatar sebuah kamar. Dan baik di film porno yang ia tonton ataupun mimpinya, semua selalu berakhir dengan keringat dan rambut yang acak-acakan.
"Kookie?" tanya yang lebih tua, terkejut. Jungkook datang malam-malam dengan hanya menggunakan celana pendek dan kaos berbahan tipis. "Apa yang kau lakukan malam-malam si sini?"
"Apa yang dilakukan Jimin malam-malam di sini?"
Taehyung mengeryit. Ia menoleh ke arah kasurnya, seseorang tengah berbaring di sana. "Jimin? Dia sedang tidur. Sepertinya kelelahan setelah main denganku tadi."
Jungkook menarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralisir degup jantungnya walau malah berakhir dengan suaranya yang bergetar. "Minggir!"
Taehyung bergeser sedikit, memberi akses sang kekasih untuk lewat, namun ketika ia menyadari air mata yang mulai meleleh menuruni pipi, juga langkah penuh emosi dan deru nafas memburu dari hoobae kesayangannya, pemuda Kim langsung mencekal pergelangan tangannya.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Lepas!" pekik Jungkook. "Aku mau menyeret Park sialan keluar dari kamarmu!"
"Jungkook, dengarkan aku." Taehyung mencoba menenangkan. Ia tahu sang kekasih sedang sangat marah, entah kenapa. Tapi perasaannya sungguh tidak enak. "Kau ini kenapa? Jangan tiba-tiba marah begitu. Katakan padaku apa yang terjadi."
"Kau yang bilang padaku apa yang terjadi! Apa yang kulewatkan selama ini? Jimin menginap dan kau tidak bilang apapun padaku. Dan apa-apaan itu? Kau menghabiskan waktu bersamanya dan aku tidak tahu! Sh -"
Taehyung tahu kekasihnya akan mengumpat, walau ia berhasil menutup rapat mulutnya sebelum kata itu berhasil keluar. Jungkook yang tidak pernah mengatakan kata-kata kasar, hampir meloloskannya begitu saja.
Ia bingung dengan apa yang terjadi. Namun satu hal yang dirinya ketahui, Jungkook harus ditenangkan terlebih dahulu, baru mereka bisa bicara baik-baik.
"Ikut aku." gumam yang lebih tua. Ia menyambar jaket yang digantungnya di balik pintu, menaruhnya di atas kepala Jungkook agar wajahnya yang kacau tidak terlihat, lalu selembut mungkin menyeretnya keluar kamar dan menutup pintunya dari luar.
"Jangan seenaknya mengusirku! Aku tidak mau pergi!" yang lebih muda menghempaskan tangan pemuda pirang ketika mereka berada di luar kamar. Matanya yang memerah dan berair menatap nyalang sang senior.
"Jeon Jungkook."
Jungkook meringis kesakitan saat kedua bahunya dicengkram kuat. Ia memejamkan matanya rapat. Entah bagaimana rasa takut itu mulai datang. Terakhir kali Taehyung mencengkeramnya seperti itu, ia menangis hampir seharian karena kejadian yang sangat tidak menyenangkan.
"Hitung sampai enam puluh. Kalau sampai hitunganmu habis dan aku belum kembali, kau boleh melakukan apapun yang kau mau, termasuk mengganggu Jimin yang sedang beristirahat. Tapi kalau aku kembali sebelum itu, kau harus menurut padaku. Mengerti?"
Jungkook tidak menjawab. Kepalanya kosong saat itu juga. Kalimat yang terlontar untuknya penuh dengan penekanan. Dan dirinya dianggap pegganggu oleh kekasihnya sendiri.
Pemuda Jeon tersenyum miris, merasa konyol karena banyak hal. Ia tidak menyetujui apapun, dan Kim Taehyung sudah menghilang dari hadapannya.
Ia tidak bisa berhitung. Kepalanya dipenuhi dengan Park Jimin, Kim Taehyung, dan apa yang keduanya lakukan sampai-sampai pemuda yang berstatus sebagai kekasihnya berpenampilan berantakan seperti itu. Mengandai-andai permainan seperti apa yang mampu membuat pemuda Park kelelahan hingga kekasihnya sendiri melarang Jungkook untuk mengganggunya.
Taehyung kembali dengan nafas terengah. Ia menggandeng tangan Jungkook, menyeretnya berjalan entah kemana. Jeon muda benar-benar tidak tahu kalau bungsu Kim berlari secepat yang ia bisa, memaksa resepsionis memberinya kunci sebuah kamar yang kosong.
Taehyung membawa Jungkook memasuki sebuah kamar, menyalakan lampu, juga pendingin ruangan di dalamnya. Setelahnya, ia perlahan mengajak sang kekasih duduk di tepian kasur.
Sebelah tangannya terulur membelai pipi basah pemilik surai wine, namun segera ditepis oleh yang lebih muda.
"Jangan sentuh aku." gumam Jungkook. Ia melempar asal jaket di kepalanya, lalu berdiri. "Jangan memperlakukanku seenaknya. Aku tidak suka."
"Jungkook." bujuk yang lebih tua. Ia mencoba untuk mengendalikan dirinya sendiri agar tidak terbawa emosi. "Kita bicarakan ini baik-baik…"
"Apa yang perlu dibicarakan baik-baik?" Jeon muda memicingkan matanya, menatap dengan sorot menuntut. "Lebih baik kau bicarakan baik-baik dengan Jimin-mu yang tidak boleh diganggu itu!"
"Astaga, Jungkook. Dengarkan aku." Taehyung ikut berdiri, kembali mencekal lengan kekasihnya, mencegahnya pergi. "Aku dan Jimin hanya me -"
"Hanya apa?" potong Jungkook cepat. "Kemarin kalian berduaan di kamarnya, hari ini dia menginap. Apa yang kalian lakukan sampai kau berantakan begitu dan dia kelelahan, hyung? Besok-besok, apa lagi yang akan kalian lakukan di belakangku? Bodohnya aku tidak tahu selama ini kalian sering bersama. Aku saja belum pernah menginap di sini, dan kau malah membiarkan Jimin tidur di kasurmu!"
Senior Kim tahu arah pembicaraan ini. Ia harus tetap tenang atau semuanya akan berakhir buruk. Maka ia menggenggam kedua tangan Jungkook, menarik nafas dalam-dalam serta menatap sepasang maniknya lekat. Dengan nada lembut ia berkata, "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Sayang, maafkan aku karena tidak bilang padamu. Tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan. Dengarkan aku baik-baik, kumohon."
Jungkook terdiam, malas menjawab.
Sementara pemuda bersurai pirang dengan sabar menungunya. Mengusap punggung tangan yang lebih muda lembut, mengecup keningnya cukup lama. "Baby, aku senang kau merasa cemburu. Itu tandanya kau mencintaiku. Tapi aku benar-benar sedih karena kau menuduhku melakukan itu. Apa aku terlihat seperti seorang lelaki brengsek yang akan mengkhianatimu?"
Jungkook masih terdiam saat sang kekasih semakin menatap lekat matanya. Hatinya terasa sangat nyeri. Jungkook tidak tahu pasti sebabnya, tapi melihat sorot terluka di binar kecoklatan sang kekasih membuatnya semakin ingin menangis.
"Kau tahu semua tentang aku. Orang tuaku, kakakku, teman-temanku. Kau tahu kenapa aku mengenalkan semuanya kepadamu?" tanpa menunggu jawaban Jungkook, bungsu Kim melanjutkan. "Agar kau tahu dengan siapa aku berkawan, apa saja yang kau lakukan. Dan jika suatu saat nanti aku menghilang, kau bisa meminta bantuan mereka untuk menghajarku."
Taehyung terkekeh. Menekan kedua tangan Jungkook hingga telapaknya masing-masing menelungkup pipi kanan dan kiri senior Kim.
"Jimin itu sahabatmu, teman terbaikmu. Aku dan dia tidak akan melakukan hal-hal seperti yang kau pikirkan. Jungkook, aku berjanji kepada ayahmu untuk selalu menjagamu. Apa aku terlihat seperti orang yang akan berkhianat?"
Pemuda Jeon masih diam. Ia bingung dengan apa yang dikatakan sang kekasih. Lebih bingung lagi karena pemuda bersurai pirang di hadapannya masih mampu tersenyum menenangkan padahal Jungkook sudah hampir memakinya.
"Whenever you doubt me, look at the mirror. You'll meet someone who knows me the best, and he'll tell you anything you wanna know about me." bisik Taehyung mencium lembut telapak tangan kanan Jungkook. Ia menggandeng lengannya lembut, membawanya ke depan sebuah almari dengan cermin besar. Taehyung membiarkan sang kekasih menatap pantulannya, sedangkan dirinya berdiri di belakang dengan sebelah lengan yang memeluk pinggangnya. "Katakan padaku, apa aku terlihat seperti seseorang yang bisa mengkhianatimu?"
Jungkook terdiam begitu lama. Ia menatap pantulan wajahnya yang kacau dengan mata yang memerah dan berair. Sesaat tatapannya beralih ke seorang pemuda pirang yang masih menunjukkan senyum harap.
Mereka belum mengenal lama, namun ia tahu betul seperti apa kekasihnya. Jimin yang sudah bersamanya sejak kanak-kanak juga, Jungkook hafal dengan perangainya. Namun hatinya seolah terasa sangat berat. Bibirnya bergetar saat berkata,
"Aku tidak tahu…"
.
Tenth lesson(s): "I might be perfect, but I'm incomplete. You know the only one who can complete me? Yes, it's you, baby."
"Whenever you doubt me, look at the mirror. You'll meet someone who knows me the best, and he'll tell you anything you wanna know about me." (END)
.
.
Wohoho….
Oh, iya. Lesson 8 itu terinspirasi dari Overcome -Nu'est. Tiger lupa bilang di chap 9 ahahaha…
Yang ngikutin Good Devil, Lucifer Fall! Tiger sempet post editan Lucifer!Tae di instagram Tiger.
Jelek sih… eheheh
Oh, ya. Terima kasih buat yang sudah add line dan ig, dan sudah repot-repot menyapa Tiger. Kalau pengen ngobrol jangan sungkan ya.. Tiger ga suka gigit kok. Ga kaya Kakak Taehyung.
.
.
Akhirnya, review juseyo…
Ig: kim_taemvan
Line: kimtaemvan
Love, Tiger
